"Oh My Ghost"
'
Chapter 3
'
By : Ochandy/Ananda
'
Disclaimer : ©Boboiboy All Elemental & Friends
(Boboiboy hanya milik Monsta/Animonsta Studio)
Ocha cuma nulis ceritanya aja...
'
Warning ! GaJe, Typo, Tak sesuai EYD, OOC, gak nge fell dll.
'
Halo... Kembali lagi bersama saya author aneh yang kadang *piip* /disensor\ gak jadi ah... ini Ocha bawa chapter baru yang kayaknya gak nge fell banget + bahasanya tambah ancur... Daripada denger ocehan Ocha yang sepanjang tali monyet (?) yuk langsung aja :D
'
Semboyan Halilintar ane ganti jadi...
'
Happy Reading...
~O.o.O~
"Kapan aku bisa bebas dari alam dunia ?"
~O.o.O~
Gempa POV...
"Gempa... Bisa kau kesini sebentar ?"
"Iya kak Hali... Ada apa ?" Tanyaku bergegas menuju ruang keluarga yang dihuni sosok berupa sama dengan iris saga yang kadang sedikit 'berbahaya'.
Aku segera duduk disampingnya, sedikit terkejut memang... Kenapa kak Halilintar menyandarkan kepalanya ke bahuku ?
"Kak Halilintar sakit ?" Tanyaku cemas, ku raba keningnya yang tertutupi poni itu perlahan. Dia menepis tanganku segera lalu menggeleng.
"Boleh aku bertanya ?"
"Tentu..." Jawabku singkat, apa yang ingin dia tanyakan ? Pelajaran sejarah ? Mungkin... Kak Halilintar memang jago dipelajaran Fisika, Kimia, Matematika, dan Olahraga... Namun, jangan berikan celotehan memuakkan seperti sejarah padanya.
"Kalau misalnya nanti, kakak meninggal... Apa kau mampu menjaga keluarga kecil kita ?"
Deg...
Deg...
"A... Apa ? Kakak meninggal ?" Entah mengapa rasanya kepalaku memusing tujuh keliling.
"Ya ampun Gempa... Jangan dianggap serius napah ? Kakak kan sudah bilang, kalau misalnya... Apa kau mampu ?" Dia menatapku miris sambil memelukku erat.
"Aku menyayangimu adik kecil... Aku takut mentalmu tertekan bila nanti aku pergi..." Bisa ku rasakan jaketku basah oleh tangisan tak bersuara milik kakak.
Kenapa kakak begini ? Apa ada yang mengacaukan fikirannya di sekolah ? Apa ada orang yang mengguna - gunanya hingga seperti ini ? Oke itu tadi berlebihan.
"Kakak... Kak Halilintar gak boleh ngomong gitu... Gempa masih butuh kakak... Gempa masih butuh teman curhat dan teman untuk menenangkan Gempa jika mimpi buruk melanda..." Ujarku dengan suara serak. Rasa - rasanya aku ingin menangis sekarang.
Kak Halilintar mengendurkan pelukkannya sambil tersenyum tipis. "Izinin kakak pergi besok ya..." Ucapnya seolah meminta restu.
"Gak, kak Hali gak boleh pergi besok... Hiks... Hiks... Kak Halilintar gak boleh pergi... Gempa masih sayang dan butuh kakak..." Tangisku histeris. Mendadak raut wajah Halilintar kebingungan, kepalanya yang tak gatal pun harus menerima eksekusi dari para jari yang kurang kerjaan.
"Loh ? Kok Gempa nangis ? Kakak cuma minta izin ikut lomba marathon besok" Ucapnya. Tangisku terhenti, entah mengapa rasanya aku malu sekali...
"Umh... Egh... Anu, errr..." Ku pastikan pipiku sudah semerah udang rebus gara - gara malu - maluin.
Kak Halilintar terkekeh kecil sambil mengusap kepalaku. "Kakak sayang Gempa..." Dia kembali memelukku namun kali ini pelukkannya lebih hangat.
"Gempa juga sayang kakak..."
~O.o.O~
Aku bodoh... Kenapa saat itu aku mengizinkannya ? Kenapa ? Argh... Kak Halilintar, kenapa kau pergi secepat ini ?
Ku pandangi Tok Aba, Api, dan Air tengah tertidur pulas disamping ranjang. Mungkin mereka kelelahan menangis.
"Kyaaaaaaaaaaaaa..."
Suara teriakkan siapa itu ? Ku bergegas turun dari kasur lalu menyambar sandal yang ada dan bergegas menuju sumber suara.
~O.o.O~
Di kamar kak Halilintar ? Kok ada suara Yaya ? Ngapain dia ?
"Driit..." Ku buka pintu perlahan menampakkan sosok perempuan berhijab pink ini bergidik ngeri menatap dinding kamar yang kosong melompong.
"Kau tidak apa - apa Yaya ? Kau kenapa ?" Gadis itu hanya cengo bingo menatapku aneh lalu segera mengangguk secepat mungkin.
"Itu tadi, umh... err... ada anak cicak ih... geli" Katanya sambil menepuk - nepuk lengan bajunya. Aku hanya ber - oh ria dan dibalas hembussan nafas lega darinya.
Ku berjalan mendekatinya, lalu memperhatikannya dari atas ke bawah berkali - kali.
"Errr... Kau k... kenapa Gempa ? A... ada yang salah ?" Ucapnya sedikit gugup.
"Tanganmu kenapa ? Kau sedang menggenggam sesuatu atau digenggam sesuatu ?" Tanyaku berhati - hati. Sontak saja gadis itu terbelalak lalu menggoyang - goyangkan tangannya seperti melepaskan genggaman seseorang.
"O... Ehm... Ti... Tidak, tanganku hanya sedikit lecet karena tergores piala yang ku bawa tadi..." Jawabnya tersenyum kikuk.
Mataku mengedarkan pandangan keseluruh arah dan sesuatu di cermin pakaian menarik perhatianku. Bayangan Yaya terpantul dari sana. Namun, ada sebuah bayangan lagi yang berdiri tepat dibelakang Yaya, bayangan hitam nan amat kelam.
Ku pandangi Yaya kembali dan anehnya, tak ada apapun yang berdiri dibelakang gadis itu. Ku lihat lagi cermin, disana bayangan hitam itu masih ada. Ya Tuhan, apa sosok yang ada di cermin itu ?
"Gempa... ? Kau melihat sesuatu ?" Tanya Yaya.
"Ya... Sesuatu yang berdiri dibelakangmu lewat cermin, tapi tak terlihat oleh mata biasa" Sahutku, mungkin Yaya paham apa maksudnya.
"Kau melihat apa di cermin ?" Tanya gadis itu penasaran.
"Sosok bayangan hitam yang berdiri tepat dibelakangmu" Ku lihat cermin sekali lagi.
"Namun aku tak bisa melihatnya tanpa pantulan cermin..." Sambungku sambil melihat Yaya kembali.
"Kau k... kenal siapa sosok itu ?"
"Hn..."
"Maksudku apa dia masih berwujud sosok hitam ?" Tanya Yaya.
Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya, kembali ku pandang cermin. Sosok itu hanya menampakkan matanya yang merah bercahaya seperti...
Tunggu...
Merah bercahaya ?
Ruby manik ?
Merah ?
Warna mata itu hanya milik kak Halilintar seorang. Tapi... Tidak mungkin itu dia. Perlahan bayangan itu memutih dari bawah menampakkan sepasang kaki yang memakai sepatu olahraga hitam dengan motif merah menyambar dan tali merah. Lalu celana olahraga berwarna hitam dengan garis - garis merah menyala dari samping kiri - kanannya.
I... Ini...
"Kakak yakin pergi dengan baju ini ?"
"Tentu Gempa..."
Apa - apaan ini ? Perlahan bagian atas bayangan itu menampakkan jaket hitam lengan panjang dengan motif merah menyala serta resleting yang dipakai separuh menampakkan kaus merah tipis didalamnya.
Kak Halilintar ?
Sosok itu melihat ke arahku. Dia menampakkan wujudnya yang seutuhnya.
"Gak mungkin... Gak mungkin..."
"Gempa ! Gempa ! Kau melihat apa ?" Teriak Yaya histeris.
"Kak Halilintar..." Gumamku mendekati cermin tersebut. Di... dia... tersenyum tipis ke arahku. Mendadak wajahnya dialiri cairan merah pekat yang banyak, separuh mulutnya robek menampakkan gigi gerahamnya. Dia tertawa dengan mata mendelik yang memutih.
"Ti... Tidaaaak... !" Teriakku histeris. Dadaku serasa ditikam ribuan jarum, sesak sekali.
Bruuuk...
~O.o.O~
Yaya POV...
"Gempa... Gempa... Kau kenapa ?" Tanyaku merangkulnya, tadi dia mendadak ambruk setelah melihat cermin. Ya ampun, apa dia melihat Halilintar tadi ?
"Dia hanya kaget melihatku..."
"Eh dasar kakak kurang ajar, udah tau adik - adikmu sedang frustasi kau malah menampakkan wujudmu..." Teriakku memandanginya yang sedang berjongkok dihadapan Gempa.
"Enak aja... Aku cuma bercanda kok..."
"Terus kau melihatkan dirimu dalam wujud apa ?"
"Dalam wujud ini" Kata Halilintar ketus.
"Tapi seperti ini..." Sambungnya sambil merubah wujudnya menjadi berdarah - darah dan mulut terkoyak yang tertawa.
"Astagfirullah..." Kagetku.
"Apa ? Lucu kan ?"
"Eh mata kamu itu rabun ayam ? Jelas - jelas muka kayak zombie dibilang lucu..."
"Eh enak aja kamu ngomong... Muka ganteng kayak Edward Cullen ini dikatain mirip zombie !" Teriaknya naik darah seraya merubah wujudnya kembali normal.
"Hello ? Masih gantengan Vampir itu kelles dari pada kamu yang kayak hantu kena sensor... !"
"Apa kau bilang ?"
"Hantu kena SENSOR... !"
"Kau ini ?!"
"Ah... Sudah - sudah... Dari pada berdebat gak jelas mending aku merawat Gempa..."
"Gempa cuma pingsan pe'a ! Dia bukan sakit... Gak perlu dirawat nanti juga sadar sendiri"
"Sama aja tau !" Ku membopoh pria yang pingsan ini ke atas kasur milik Halilintar. "Badannya panas sekali..." Ucapku sambil menyentuh keningnya.
"Kau punya kotak P3K Halilintar ?"
"Dibawah laci" Jawabnya singkat sambil membuang muka lalu duduk disamping Gempa.
Ku ambil kotak P3K itu lalu mencari kain untuk kompres. "Jaga Gempa atau kau ku kubur hidup - hidup... !" Ancamku sambil pergi keluar.
"Cih... Aku kan sudah MATI..." Teriaknya.
~O.o.O~
Selesai mencari air hangat untuk kompres aku kembali menuju kamar atas. Separuh pintu kamar masih terbuka menampakkan Halilintar yang berbaring disamping Gempa menangis ?
Apa ?!
Halilintar ?!
Menangis... ?!
"Gempa... Maaf kakak sudah menakut - nakutimu... Maaf kakak gak bisa lagi menjagamu... Maaf kalau kakak gak bisa menepati janji kakak kalau kita akan pergi jalan - jalan setelah kakak pulang marathon... Maaf... Hiks... Hiks..." Halilintar mengusap kepala Gempa perlahan lalu memeluknya erat.
Aku segera masuk dan seolah tak tahu apa - apa. Halilintar segera membenamkan wajahnya di bahu Gempa.
Ku basahkan kain kompres dengan air hangat lalu menempelkannya ke kening Gempa. Melepas topinya sambil menaruhnya ke samping tempat tidur.
"Gempa... Gempa... Ayo bangun... Sadarlah Gempa" Ucapku menepuk - nepuk pipinya sambil mengoleskan minyak kayu putih disekitar lehernya.
"Kau menyukai Gempa ?"
"Eh... ?"
"APA KAU MENYUKAI GEMPA ?"
"Eh... Kenapa kau bertanya seperti itu Halilintar ?"
"JAWAB !"
Kenapa dia bertanya hal itu padaku ? Untuk apa ? Lagi pula siapa yang menyukai Gempa ?
"Tidak... Aku tidak menyukai Gempa..." Jawabku ketus sambil meneruskan acara untuk menyadarkan pria yang pingsan ini.
"Salah satu diantara kami ?"
"Maksudnya ?" Tanyaku bingung tak mengerti arah pembicaraan ini.
"Hm... Apa kau 'mungkin' menyukai salah seorang diantara kami ?" Ulang Halilintar memperjelas pertanyaannya. Aku hanya manggut - manggut sambil terkekeh pelan.
"Tidak seorangpun..." Jawabku membuatnya mengernyit luar biasa.
"Benarkah ?" Nada sinis terdengar dari mulutnya. Halilintar beranjak duduk sambil menatapku tajam.
"Ya..."
"Lalu tipe pria idamanmu seperti apa ?"
"Aku ? Pria yang sholeh, baik, pendiam, penyayang, ya meski rasa sayangnya itu tak perlu diungkapkan secara langsung... Kurang lebih sepertimu..." Jawabku membuat Halilintar terdongak.
"Kau bilang seperti 'aku' ?" Tanyanya memastikan.
"Ya... Tapi tidak JUTEK & JUDES seperti gaya bicaramu..." Ucapku sukses membuat Halilintar cengo karena terlanjur keGeeRan.
"Cih... Kau menyebalkan !" Dia memandangku kesal.
"Egh..." Gempa menggeliat membuat Halilintar mengalihkan kelopak mata yang tertutup itu menampakkan iris coklat karamel yang meneduhkan.
"Gempa kau sadar ?" Ku bantu pria ini duduk lalu memberinya segelas air putih. "Ayo minum dulu..." Dia menenggak air itu hingga habis lalu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ada apa Gempa ?" Tanyaku memulai percakapan. "Tadi aku melihat kak Halilintar di cermin" Ucapnya sendu.
"Mungkin kau hanya berhalusinasi... Kita harus belajar ikhlas Gempa... Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan meninggal. Kita bahkan tidak bisa mengetahui kapan ajal akan menjemput. Mana Gempa yang ku kenal ? Gempa yang selalu tegar dan optimis ? Jika kau terus - terussan seperti ini, Halilintar pasti akan kecewa... Mungkin kakakmu tak bisa lagi berada disampingmu tapi aku yakin dia selalu ada untukmu... Separuh jiwanya ada di hatimu..." Gempa terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"Kau benar... Terimakasih Yaya" Dia memelukku erat. "Eh ?" Ku balas pelukkan itu sambil mengelus punggungnya perlahan.
"WOY PELUKKANNYA JANGAN LAMA - LAMA... BUKAN MUHRIM !"
"Eh... Sudah ya Gempa, kau harus ikhlas" Aku mengendurkan pelukkannya. Gempa hanya tersenyum manis lalu terkekeh.
"Maaf tadi aku main peluk orang" Dia terlihat malu seraya menggaruk kepala. "Iya, tidak apa - apa..."
Driit...
Pintu kamar terbuka menampakkan seorang kakek tua yang tersenyum. "Gempa... Yaya... Ayo turun pemakamannya akan segera kita mulai" Ajaknya.
"Baik Tok Aba..."
~O.o.O~
Author POV...
Kalian pernah mendengar kalimat ini ?
Manusia tercipta dari tanah, mereka pun tinggal di atas tanah dan suatu saat mereka akan kembali menjadi tanah.
Paham dengan maksud kalimat itu ?
Janganlah sesekali kalian menyombong hanya karena harta, pangkat, rupa bahkan sampai membeda - bedakan derajat semata karena kehidupan duniawi. Hidup ini tak abadi kawan, hanya sesaat... Walaupun kau presiden, menteri, pejabat, orang kaya dan lain sebagainya, jika nanti kau mati meninggalkan dunia kau tetap akan dimasukkan kedalam tanah.
Ingat ke dalam TANAH !
Selepas kepergianmu, orang - orang hanya mengenangmu. Mereka tidak akan menemanimu hingga ke dalam tanah yang sunyi itu. Hanya amalanmu yang senantiasa menemanimu sampai kemanapun.
Saat kau masuk ke lubang nan sempit itu, saat kau dikuburkan. Para cacing, ular, kalajengking, dan mikroorganisme lainnya akan membusukkan jasadmu, memakan dagingmu, tanpa peduli apapun pangkat dan derajatmu selama di dunia.
Itu karena segala sesuatu yang berasal dari tanah, akan kembali kepada tanah, dan akan menjadi tanah. Itu semua telah menjadi ketetapan Tuhan.
Semua orang berkumpul di tepi liang lahat. Tok Aba, Gempa, dan Taufan masuk kedalam liang sebagai penyambut jenazah. Api, Air dan Fang berdiri di tepi liang menurunkan jasad yang terbungkus kain kafan itu dari keranda mayat.
Dengan hati - hati, Fang, Api dan Air menurunkan jenazah yang langsung disambut oleh Tok Aba, Gempa dan Taufan. Mereka pun meletakkan jasad itu kedalam lubang lahat yang telah disediakan, menghadapkan kepala sang mayat ke arah kiblat. Lalu menutupnya dengan bilik - bilik papan.
Tok Aba, Gempa, dan Taufan keluar dari liang lahat. Setelah itu dengan perlahan mereka menutupi kembali liang tersebut dengan tanah. Empat saudara itu terisak pelan sambil terus memasukkan butiran - butiran tanah dengan cangkul. Setelah cukup, mereka memadatkannya lalu sedikit membuat bumbungan ke atas (pertanda kuburan baru). Tok Aba dengan berat hati menancapkan sebuas nisan marmer berukir...
NAMA : BOBOIBOY HALILINTAR
TANGGAL LAHIR : 03 - MARET - 1999
WAFAT : 23 - APRIL - 2016
Pemakaman dilakukan dengan khidmat. Seorang Ustadz memimpin do'a bersama. Para saudara kembar tak mampu membendung air matanya. Api memeluk Taufan erat sambil menangis histeris. Air bersandar dibahu Gempa, wajahnya pucat pasi sekali membuat Gempa khawatir.
Yaya ? Gadis ini hanya diam, batinnya bergejolak antara ingin memberi tahu itu bukan jasad sang kembaran tertua atau tidak. Arwah Halilintar berdiri tepat dihadapan Yaya, membuat gadis ini terdongak seraya melempar senyum miris.
"Menyedihkan... Mereka bahkan tidak bisa mengetahui kalau itu bukan jasadku" Halilintar tertawa kecut lalu menghilang dihembus angin.
"Maaf Hali, ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu mereka" Gumam Yaya menitikkan air mata.
Bersambung...
Kyaaa... Chapter ini kalimatnya masyaallah, berbelit belit...
O iya maaf juga buat non - muslim...
Ciaaattt...Tambah absurd aja cerita ini, penyusunan kalimatnya makin ancur *plaaak / pundung...
Cerita ini JAUUUUH... dari kata SEMPURNA...
Silent Readers ? Kasih jejak dikit dong *ngarep...
Sorry chapter ini berantakkan *menurut ane* kurang nge - fell, kurang greget gimana gituh... Chapter ini juga kurang begitu panjang...
Maaf... Maaf ya, terlebih dan terkurang Ocha minta maap *nangis bombay
Kritik & saran diterima dengan sepenuh hati ASALKAN BAHASANYA SOPAN & SANTUN !
Reviewnya ane tunggu :)
See you next chapter :D :) ;)
