"Oh My Ghost"

'

Chapter 4

'

By : Ochandy/Ananda

'

Disclaimer : ©Boboiboy All Elemental & Friends

(Boboiboy hanya milik Monsta/Animonsta Studio)

Konsep cerita beserta alurnya Ocha yang punya *face-calm

'

Warning : Typo, OOC, GaJe, GaNyam, Alur berantakkan, Kalimat berbelit beserta hama pengganggu lainnya :v

'

Holla... Come back again with Ocha yang unyu-unyu ini *megang pipi (Readers : -_-)

Maaf ya Ocha udah lama gak nongol dan menelantarkan fic GaJe ini *pundung

Ocha mau ngucapin beribu Terimakasih buat Readers yang mau ngebaca, ngereview, ngasih kritik dan saran pokoknya Ocha berterimakasih banget *jungkir balik ditempat. O iya, Readers yang lain kemana? Ane liat traffic viewnya mencapai 933 orang, kok yang ngereview dikit ameet *mangap. Okeedah dari pada kelamaan nunggu yok kita baca chapter terbaru yang makin ancur...

'

Happy Reading...

'

~O.o.O~

"Bebas dan hidup tenang..."

~O.o.O~

Author POV...

Dini hari, setelah pemakaman sang kakak tertua...

Jam menunjukkan pukul 03.00 waktu dimana kebanyakkan orang masih terlelap dengan mimpi indah mereka.

"Hoaam..." seorang pemuda menguap lebar, dirinya segera duduk dengan mata yang masih terpejam. Dikuceknya mata perlahan sambil mengumpulkan kepingan-kepingan nyawanya nan tengah bercerai-berai. Kelopak mata pemuda itu terbuka, menampakkan iris biru shapirenya nan sayu. Lingkaran hitam menghiasi matanya, entah terlalu lelah atau terlalu depresi?

Diliriknya jam dinding sejenak, otaknya tengah berfikir untuk apa dia bangun sepagi ini?

"Pukul tiga? Oh yang benar saja..." dia kembali meringkuk dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Kelopak matanya kembali menutup sebelum akhirnya...

Ting!

Lampu imajiner bersinar terang di kepalanya. Pemuda penyandang nama Taufan ini segera bangkit dan tak lupa seringaian jahil yang tercetak di wajahnya.

Dirabanya bawah kasur dan menyambar sebuah toa biru langit. Pemuda ini tersenyum lalu bergegas menuju kamar kembarannya yang lain.

~Oh My Ghost ~

"Waaaaa... Singa kena bius!" pekik Taufan tertahan, pemuda ini terpaku ditempat setelah melihat yang kembaran termuda kedua tengah tertidur dengan tidak elitnya.

Kepala di lantai, kaki terkangkang di atas kasur, pinggul ala Nyai Ronggeng, rambut acak-acakkan, tangan melambai, iler yang mengalir sepanjang Sungai Nil dan mulut yang tertanganga seolah mengundang nyamuk untuk membuat sarang.

"Ini si Api atau si Valak Nyungsep?" batin Taufan.

"Wooy Api! Api! Banguuun... Ada kecoa di mulut lo..." pemuda ini berteriak tepat di telinga sang kembaran.

"APAAAA?! KECOA! MAMPUUS AKU KEMAKAN HUWAAAA..." Api langsung berdiri dan berlari kesana kemari. Taufan cekikikkan melihat tingkah sang adik.

Taufan mengulurkan kakinya dan...

Jeduaar...

Api tersandung dengan tidak elitnya, dagunya lebam akibat mencium lantai duluan.

"Hadoooy sakitnya..." ringis Api meraba dagunya. Taufan hanya mengacungkan jarinya membuat tanda peace.

"Kak Taufan ini, kalau ngebangunin orang itu baik-baik dong!" pemuda beriris jingga ini segera duduk disamping Taufan.

"Apa?" tanyanya.

"Apa apanya?" tanya Taufan tidak mengerti.

"Ada apa gerangan kakakku yang gila ini membangunkan orang dini hari" Api memplototi kakaknya itu ala Valak-face.

"Ayo kita bangunkan petir merah..." bisik Taufan membuat Api terbelalak memikirkan sesuatu. "Eh bukannya kak Hali..." belum selesai Api bicara, Taufan segera menyelipnya.

"Kak Halilintar masih tidur, ayoo..." pemuda beriris biru shapire ini mengeluarkan toanya membuat mata Api berbinar.

"O iya, ayo kita bangunkan si petir merah!" Api langsung ngacir keluar meninggalkan Taufan yang cengo.

5 menit sepeninggalan Api...

"Ayo... Kita ganggu dia!" Api datang dengan panci yang diikat kepinggang, tempat pengukus yang dijadikan topi dan sepasang sendok sayur di kiri-kanan tangannya.

"Ayo..."

~Oh My Ghost~

Duo Super Jahil ini mengendap memasuki sebuah ruangan bernuansa merah hitam. Mereka saling pandang dan menyeringai jahil melihat gundukkan di balik selimut merah tersebut.

"Kau sudah siap Jendral Api?"

"Siap, laksanakan!"

Taufan memberi kode kepada Api agar berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk.

Pemuda beriris biru ini mengaktifkan toanya. Api mulai bersiap dengan drum kw-nya.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..."

Mereka bersiap dan...

"BANGUN... BANGUUUN..."

TANG... TARARANG... TRANG... TRAAAANG...

"BANGUUUN KAK HALI BANGUUUUUN..."

DRUM... TRAK... PRANG... TRAK... TANG...

"Banguuuuuun! WOY KEBO JEJADIAN BANGUN..."

PRANG... TAK... PRANG... PARANG... TAK... DUM...

"KAK HALILIN... (TUM TAK DRANG PRANG TRANG) BAAAANGUUUUN... (TUM... DRAM... CRANG... PRETAK...) BANGUUUUN!"

Dum... tararak... Tum... Prang... Srang... Drum... Dum tak dum dum tak... Prang... PRAAAAAAAAANG...

Taufan berhenti berteriak dengan toanya itu disusul Api yang menabuh panci sekuat tenaga di akhir. Bayangkan saja, berapa berisiknya disana.

Pemuda bernama Taufan ini mengatur nafasnya yang tak karuan, Api berusaha menghilangkan dengung di telinganya.

"Tumben kak Halilintar gak respon..." gumam Api. "Iya juga ya, biasanya kak Hali akan melempar kita dengan bantal atau langsung menendang denggan mata melotot." Taufan bicara dengan mode berfikir.

"Kalau begitu..." Taufan meletakkan toanya ke lantai. Api melepas atribut pancinya dan...

Hap... Duagh...

Mereka menghambur meloncat ke gundukkan tersebut. Mereka segera menyingkap selimut tersebut dan menemukan...

Sebuah bantal guling...

Taufan berdiri sebentar dan menghirup nafas panjang. Dia teringat akan hal kecil...

Dia minta izin ikut lomba...

Kabar buruk...

Kedatangan jenazah...

Pemakaman...

Taufan terdiam, tubuhnya bergetar hebat, lelehan kristal bening kembali membasahi wajahnya.

"Kak Halilintar..." suaranya menyerak mengingat kepedihhan itu. Air mata terus membanjiri pipinya.

Api tersentak, raut wajahnya berubah suram. Pemuda beriris jingga ini merebahkan dirinya ke kasur sang kakak tertua. "Menjengkelkan, kenapa kita bisa lupa? Hiks... hiks..." Api menyembunyikan wajahnya dengan bantal.

"Bodoh" gumam siluet tembus pandang yang memperhatikan mereka sejak tadi. Siluet itu tersenyum dan tanpa sadar setitik air jatuh dari pelupuk matanya.

"Kalian bodoh..."

"Apa aku harus tertawa atas tontonan band cempreng yang selalu membangunkanku dipagi hari? Kalian berdua, kalian tak pernah jera nampaknya. Sudah seribu satu cara yang kalian praktekkan saat membangunkanku. Tambah lama suaramu semakin cempreng Taufan... Bahkan aku lupa suara aslimu yang sebenarnya cukup merdu. Api, dentuman permainanmu itu selalu bagus, tak peduli itu drum sungguhan, galon air, panci, baskom dan benda lainnya. Maaf aku tak bisa hadir keperlombaanmu esok hari. Maaf jika aku selalu memelintir tangan kalian saat berbuat jahil padaku..." banyangan itu nampak seperti orang bodoh yang tengah merutuki nasibnya.

"Kak Halilintar, aku hiks... aku... maaf kalau aku selalu mengganggumu dipagi hari, maaf aku bukan adik yang baik selama ini... maaf..." Taufan menggigit bawah bibirnya. Kenapa dia lupa kalau kak Hali sudah pergi meninggalkannya, kenapa rutinitas jahilnya seolah tak bisa ia tinggalkan?

Api masih menutupi wajahnya dengan bantal, sungai air bening mengalir deras membasahi pipinya, tangisnya tak lagi terdengar dan fikirannya larut mengenang sang kakak yang telah tiada.

Krriieeet...

Suara decittan pintu terdengar nyaring. Nampaklah sesosok laki-laki tua yang tengah memandang mereka iba. "Taufan... Api... kembalilah ke kamar kalian, jangan buat bunyi festival lagi... kasihan tetangga kita..." ucapnya.

"Tok Aba..." lirih Api.

"Aku mau tidur disini saja..." sambungnya. "Aku juga..." sahut Taufan merebahkan diri ke samping Api.

"Ya sudah... Tidurlah, nanti kalian terlambat sekolah..."

"Apa kita boleh libur?" tanya Api.

"Tidak, jangan terus di rumah, nanti kalian larut dalam kesedihan yang tak berujung itu. Sekarang tidurlah..." Tok Aba menutup pintu kamar meninggalkan Api dan Taufan yang terdiam.

~Oh My Ghost ~

"Gempa... Taufan... Api... Air... Kalian sudah selesai belum? Nanti sarapannya dingin..." panggil seorang kakek tua dari lantai bawah.

"Sudah Tok..." sahut keempat saudara itu dari anak tangga. Penampilan mereka saat ini? Berantakkan.

Rambut kusut masai, kantung mata yang melingkar, seragam keluar separuh, dasi kepanjangan, kancing baju yang melekat tidak sesuai dan penampilan mereka sukses seperti anak berandalan di film-film.

Tok Aba ternganga melihat penampilan sang cucu yang seperti diterjang badai. "Ya ampun cucu atok, ada apa ini? Kenapa berantakkan sekali..."

"Cepat rapikan seragam kalian..." titahnya.

"Nanti di sekolah, sekarang kami makan dulu ya Tok, hampir telat nih..." Taufan segera duduk di meja makan diikuti semua saudara lainnya yang segera duduk.

Pemuda beriris biru shapire ini menatap kursi kosong dihadapannya. Kursi yang dihuni sang kembaran tertua yang selalu ia goda saat makan. Kini kursi itu kosong tak berpenghuni...

"Woy Taufan buruan makan, ngelamun segala!" ucap Air jengkel.

"Panggil aku kakak..." Taufan memandang sang adik sambil menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.

"Tidak akan..." Air menyudahi acara makannya dan menaruh piringnya ke bak cucian.

"Heh..." Taufan ngambek seraya memanyunkan bibirnya.

"Sudah jangan bertengkar tadi kalian bilang hampir telat..." lerai sang kakek.

"OH TIDAAAK..."

"Pamit dulu Tok, assalamu'alaikum..." ucap mereka serempak lalu menyalimi tangan sang kakek.

"Wa'alaikumsalam..."

~Oh My Ghost ~

Keempat pemuda ini berjalan gontai menyusuri koridor sekolah, pakaian mereka sudah dirapikan saat ke toilet tadi. Beberapa siswa menatap mereka prihatin.

"Kami turut berduka Boboiboy..." ucap seorang siswi pada mereka. Gempa hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.

Keempat pemuda ini akhirnya sampai di depan kelas mereka. Para murid yang beraktivitas langsung terhenti melihat saudara kembar itu masuk.

"Turut berduka cita Boboiboy..." ucap teman sekelasnya serempak yang dibalas anggukkan kecil oleh empat saudara ini.

Taufan dan Api segera duduk dengan tampang lesu, Air duduk sendiri karena teman sebangkunya HalilintarHalilintar, sudah tiada... Gempa duduk disamping Fang yang tengah menopang dagu.

Yaya POV...

Mereka berempat masuk sekolah... Kantung mata hitam melingkari mata mereka. Penampilan pun jauh berbeda, sedikit kusut dengan seragam yang dikancing asal-asallan ya walaupun sudah masuk kategori rapi. Tapi tetap saja kusut.

Sorot mata mereka bahkan meredup, seolah tak ada lagi semangat disana.

"Gempa..." panggilku, sang pemilik nama menoleh dengan muka datar tanpa ekspresi.

"Ada apa Yaya?" tanyanya singkat.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku ragu.

"Seperti yang kau lihat..." Gempa menguap perlahan, mata keemassan itu nampak memerah, mungkin akibat terlalu lama menangis.

Err... Sekarang aku benar-benar bingung mau bicara apa.

"Mereka berubah ya..."

"Gempa tak lagi tersenyum, Api dan Taufan murung, Air? Anak aqumarine itu bahkan tak terdengar deru nafasnya..."

Halilintar berdiri disampingku dan aku mulai terbiasa dengan kemuncullannya yang selalu mendadak.

"Kau benar..." gumamku pelan, membuat siluet bermata saga itu mengangguk.

"Kau bicara dengan siapa Yaya?"

"Eh aku? Errr... sedang bergelut dengan fikiran sendiri..." pemuda beriris biru aqumarine itu menatapku tajam.

"Ada yang aneh dengan bajuku?"

"Bukan, tapi rasanya aku kenal siluet yang berdiri disampingmu itu..."

Air... Kau bisa melihatnya...

Ku lihat Halilintar terkejut lalu menghilang begitu saja.

"Air, kau sungguh bisa melihatnya?" tanyaku girang.

Pemuda itu tak menjawab, dia menghampiriku perlahan. Wajahnya memucat bak mayat, Air berdiri tepat dihadapanku.

Dia tersenyum sejenak...

"Apa itu tadi kak Halilintar...?" suaranya bergetar, tersirat harapan dalam nada suaranya.

"Air, kau baik-baik saja?" pemuda itu memegangi kepalanya, tatapannya kosong. Wajahnya semakin pucat saat mengalihkan pandangan ke pintu kelas, tempat roh Halilintar berdiri.

"Kak Hali..."

Bruuk...

Tubuhnya tumbang dihadapanku, beruntung aku sempat menahannya agar tak jatuh ke lantai.

"AIR!" pekik saudara-saudaranya.

"UKS... UKS... Ayo cepaat!" seru Gempa panik, Taufan segera membopong sang adik dibantu oleh Api. Suana kelas sedikit riuh akibat insiden tadi.

"Kalian tetap di kelas, tunggu guru masuk..." ucapku berlari menyusul kembaran Boboiboy.

~Oh My Ghost ~

Skip to UKS...

Ku lihat Gempa mondar-mandir di luar ruangan pemeriksaan, Taufan yang frustasi mengacak rambutnya dan Api yang menangis.

"Bagaimana Gempa?" yang ditanya hanya menggeleng lemah. Pintu ruangan terbuka menampakkan seorang petugas kesehatan yang memeriksa Air.

"Bagaimana keadaan adik saya?" tanya Gempa.

"Adikmu, Air... Dia overdosis obat penenang sehingga membuatnya pingsan, efek lainnya dia akan berhalusinasi seperti cerita kalian tadi..."

"Tapi dia baik-baik saja kan?"

"Ya... Sebentar lagi dia akan sadar, aku tinggal dulu..." petugas kesehatan itu berlalu.

"Overdosis obat penenang? Kalian memberi Air obat penenang?" tanyaku.

"Aku bahkan tak tahu dia minum obat penenang..." racau Taufan.

"Dapat dari mana dia benda itu?" sambungnya.

"Mungkin dari apotek di ujung jalan... Kemarin dia bilang padaku ingin beli obat maag karena perutnya sakit. Ternyata dia melenceng..." Api berhenti menangis dan segera masuk ke ruangan Air disusul Gempa dan Taufan meninggalkanku sendirian.

"Dasar bego... Dia kira obat penenang akan menyelesaikan kesedihannya aapa? Ku kira dia benar- benar melihatku tadi, ternyata hanya halusinasi." Halilintar kembali muncul disampingku.

"Adikmu sepertinya menggila karena kau pergi..." gumamku membuat dia menoleh.

"Mereka bahkan tidak seceria dulu lagi..." sambungku membuat roh Halilintar mengernyit.

"Ya, ini semua salahku..."

"Aku yang membuat senyuman Taufan menghilang..."

"Aku yang membuat Api murung..."

"Aku yang membuat Air semakin pendiam..."

"Dan aku yang membuat Gempa tak sehangat dulu..."

Halilintar tertunduk lesu sambil terus menyalahkan dirinya.

"Bukan salahmu, tapi karena mereka masih membutuhkanmu..." Halilintar menoleh sekejap, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Dan aku berjanji akan segera menemukan jasadmu..."

Bersambung dengan gajenya :v

Sekali lagi Ocha minta maaf karena lama update...

Ocha juga mau ngasih tau kalau ada typo paling fatal di chapter satu, itu sebenarnya Yaya udah SMA tapi malah aku buat pertandingan sains tingkat SMP kan aneh -_-

Kalimatnya Ocha masih berbelit kaya piton ya?

O iya, alurnya makin absurd disini... Lagi gak fokus.

Readers tau? Sebenarnya udah Ocha ketik kemaren, tinggal di post dan ketikkan Ocha itu kagak kesimpen hwueeee *nangis.

Oke dah Ocha mau ngucapin Terimakasih buat para Readers yang berkenan nge review dan ngasih kritik saran...

Umh... Waktu itu ada yang nanya, jawabannya...

1. Umur berapa? Kelas? (Umur 15 tahun lebih dikit dan OTW kelas X)

2. Nama Facebook? (Harus dikasih tau emang? *plaaak... Cari aja di kolom search Ochandy pasti yang ketemu akun Febrina Firarosla Ananda)

Tau ah gelaaap... Terimakasih kritik sarannya...

Jadi... Ada yang berkenan nge review dan ngasih kritik saran lagi?

Ocha tunggu...

See you next chapter ;)