Pada dasarnya, Tuhan selalu adil pada umatnya. Saat beliau mengambil sesuatu dari hambanya, maka beliau akan menggantinya, dengan sesuatu yang lebih indah. Ketika beliau menurunkan cobaannya, maka terdapat hikmah di dalamnya. Tak semua cobaan akan memberikan kesedihan yang mendalam, adapula cobaan yang akan membuat semua tersadar akan kebesaran-Nya.
.
.
.
.
.
My Life.
Chara © MK
Rated : T
Naruhina slight Sasusaku slight Saino.
Warn : Typo, Eyd, alur mungkin cepat.
.
.
.
.
.
Terinspirasi dari '1 litre of tears'
.
.
.
.
.
.
Chapter 2 : Pengorbangan Hyuuga Hiazhi.
Hyuuga Corp 15 tahun yang lalu.
Jam terus berdenting menandakan waktu terus berputar. Dua insan manusia dengan wajah kembar identik, tengah mendiskusikan sesuatu. Mereka tampak serius, keduanya adalah Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hiazhi. Si kembar penerus klan Hyuuga.
"Hiashi! Kita harus memasarkan produk ini!" si bungsu, Hiazhi menyentak, seolah tak terima.
"Tidak bisa! Produk ini sudah di ambil alih oleh para tetua." Hiashi dnegan pikiran matang, mencoba menyangkal keinginan saudara kembarnya.
"Kau itu lebih tua dariku, tapi pemikiriranmu, tak lebih dari seorang bocah naïf. Kita ini sudah modern! Aku yang menciptakan produk itu! Itu hasil kerja kerasku!" lagi-lagi Hiazhi menyuara dengan lantang.
Tubuhnya yang tenang, namun sorot matanya penuh dengan penekanan. Dia tak mau menyumbangkan kerja kerasnya, untuk para tetua. Karena dia tahu, sekali diserahkan, maka dia tak akan mendapatkan serecehpun dari hasil kerasnya. Padahal istrinya sedang sekarat di rumah sakit dan Neji, masih kecil.
"Jangan berpikir egois Hiazhi, ini juga untuk kepentingan klan." Mata bulan milik mereka terus beradu, seolah menyatakan sebuah mereka peperangan.
"Kau melupakan sesuatu. Hiashi. Istriku sekarat dan tak ada seorang pun dari kelompok tetua yang membantu kami. Kau bilang untuk kepentingan klan? Kheh, omong kosong. Para keparat itu, berlidah tajam. Jika memang benar, untuk kepentingan klan, apa istriku bukan bagian dari klan Hyuuga?"
Hiazhi tersenyum miring, mengingat keadaan yang selalu menjatuhkannya. Dirinya merasa malu, untuk membiayai istrinya saja, dia tak mampu. Meminta sereceh uang pada tetua, dirinya tak diberi. Apa ini adil dan sesuai dengan omong kosong yang mereka katakan?
"Ini hanya perasaanmu, Hiazhi. Bukankah tetua sudah memberikan sejumlah uang padamu?"
Hiashi, mengingat betul, tetua mengatakan padanya bahwa mereka sudah memberikan sejumlah uang pada Hiazhi.
"Ya, memang betul aku mendapatkan uang, tapi.. Sudahlah. Kau pasti akan mengerti jika suatu saat kau mengalami hal yang sama denganku."
Hiazhi pergi dan menghilang dari hadapan Hiashi. Ini juga kesalahan Hiashi, kenapa dia harus menyerahkan proyek itu? Kalau saja dia tak menyerahkan proyek itu, mungkin dia akan mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya.
Hiashi mendunduk dalam penyesalan, ini kesahalan terbesar dalam kehidupannya. Andai saja, dikepalanya tak dipenuhi impian yang berakhir kegagalan, mungkin istri adiknya sudah sehat sekarang.
.
.
.
.
Hari terus berlalu hingga, kabar bahwa istri Hiazhi hamper ditendang dari rumah sakit, terdengar ketelinganya. Hiashi tak menyangka, tak mungkin Hiazhi membiarkan istrinya tanpa pembiayaan. Ini pasti tak beres. Mungkinkah ini berhubungan dengan para tetua?
Hiashi bergegas pergi menuju ke rumah saudara kembarnya, meninggalkan sang istri dengan perut yang mengembung besar dan seorang putri kecil. 3 jam perjalanan yang ia lalui dengan mobil, namun tak kunjung sampai, karena macetnya kota.
Setelah memutar arah kemudi berkali-kali, akhrinya Hiashi sampi di kediaman saudara identiknya. Pintu rumah yang tak terkunci, membuatnya masuk dengan bebas. Disana, dia menemukan patner kerja Hiazhi, Ko, tengah mengetuk pintu kamar Neji.
"Ada apa, Ko?"
Ko menoleh menghadap Hiashi dan membungkuk sebentar.
"Neji tiba-tiba berlari dan mengunci dirinya dalam kamar."
Hiashi mengalihkan pandangannya dari Ko dan mencoba mendobrak pintu kamar Neji.
Bruk!
Pintu kamar telah berhasil dibuka dan keadaan Neji lebih mengenaskan daripada biasanya. Matanya membulat, kulitnya semakin tampak pucat, dan darah mengalir dari area bibirnya.
"Neji!"
"Okaa-san~"
Grep!
Neji terhuyung saat dia berusaha berdiri, dan berakhirlah dalam pelukan sang paman. Badannya juga terasa panas. Jas yang dikenakan Hiashi menjadi kotor karena darah.
"Kumohon, selamatkan Okaa-san dari para tetua. Mereka ingin m-mem.. bu-bunuh kaa-san~"
Setelah itu, bocah berumur 7 tahun yanga ada didekapan Hiashi, mulai tak sadarkan diri. Hiashi menyerahkan Neji kepada Ko dan mulai mencari tempat terbaring lemah istri Hiazhi berdasarkan alamat yang dia dapatkan dari Ko.
.
.
.
.
.
.
Langkah kakinya yang lebar membuat lorong ini terasa pendek untuknya, namun semua itu terlambat. Hiashi terlambat, tubuh saudara iparnya sudah tak bernyawa, pergelangan tangannya telah mengeluarkan darah. Sebuah penyiksaan kah?
Saat dia keluar untuk melaporkan keadaan ini, dia berpapasan dengan seorang utusan tetua. Dia tak menyadari, sesuatu akan berakhir lebih mengerikan daripada ini. Hiashi melangkah menajuhi lorong rumah sakit dan bergegas ke mobilnya. Dia melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke sebuah kantor polisi.
Suara derap kaki terdengar ramai, para polisi yang tengah bertugas malam ini, sedang melakukan pesta kecil atas keberhasilan mereka. Namun Hiashi tak perlu berpikir panjang dan menyelam dalam puluhan orang itu.
Seorang polisi yang menjadi pusat pesta, merasa ditarik oleh seseorang.
"Hiashi! Ada apa?" suara pelan Kakashi malah menajdi perhatian para polisi, suara gemuruh tepuk tangan, kini berganti menjadi ketenangan yang mencekam.
"Sebelumnya, maafkan aku telah mengganggu pesta kalian. Tapi, aku harus melaporkan hal ini. Adik iparku tewas secara tak wajar, tangannya seperti tersayat. Saudara kembarku, hilang tanpa jejak. Keponakanku mengalami kekerasan. Kumohon bantu kami!"
Hiashi membungkuk kepada para polisi yang ada di sekelilingnya. Pikirannya terlalu panas, untuk berpikir. Kalau tanpa bantuan polisi, mungkin dia telah membunuh para tetua itu sekarang. Tapi kalau dia membunuh, bukankah sama saja antara dia dan mereka?
.
.
.
.
Hiashi pulang dengan tenang, dia sudah tahu keadaan Neji baik-baik saja, karena Ko dan beberapa bawahan Kakashi telah menjaganya. Sekarang dia cukup pulang, merasakan dekapan sang istri, lalu merencanakan kedepannya.
10 meter dari kekediamannya, dia melihat orang-orang berkerumun. Perasaannya mulai tak enak, jangan sampai keluarganya kenapa-kenapa. Namun perasaannya semakin berkecamuk, dia turun dan mendapati sang istri dengan baju compang-camping dan Hinata yang pingsan dalam pelukan sang istri.
"Hikaru!"
Haishi berteriak menyadarkan sang istri dari tangisan pilunya.
"Anata.. rumah kita.. Hiks.. Mereka.. Hiks .. para orang suruhan yang melakukan ini.. Hisk."
"Tenanglah."
"Ya, memang betul aku mendapatkan uang, tapi.. Sudahlah. Kau pasti akan mengerti jika suatu saat kau mengalami hal yang sama denganku."
Suara Hiazhi berdatang ke kepalanya.
Sekarang aku tahu maksudmu, Hiazhi. Mereka akan tetap menghancurkan keluarga kita, meski kita mengabdi pada klan kan? Karena satu hal, mereka ingin orang lain berpikir, bahwa semuanya dimulai dari para tetua dan kita hanya bisa melanjutkan.
.
.
.
.
.
.
Seminggu sesudah kejadian itu, Hiashi yang kehilangan tempat tinggalnya, berpindah ke rumah saudara kembarnya, serta merawat Neji. Hari ini dia berencana membeli beberapa pakaian yang habis dilalap sijago merah.
Setelah turun dari mobil, dia menemukan Hiazhi yang berdiri dengan gaya coolnya dan menenteng sebuah tas.
"Yo! Sudah lama tak berjumpa, Hyuuga Hiashi."
Hiashi tercengah sementara dengan keadaan ini. Adiknya muncul dan menodongkan sebuah berkas kepadanya. Apalagi dengan potongan rambut seperti para boyband, semakin membuatnya tercengang. Belum selesai, sekarang adiknya memindah posisi menjadi dibelakangnya dan memberikan sebuah senyuman.
"Selamatkan keluargamu dan jaga Neji. Kutitipkan hartaku yang paling berharga, setelah Neji, rancangan jam tangan yang paling indah. Dan jaga Hinata, mungkin dia akan menjadi korbannya setelah ini."
Hiashi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Meski aku tak mengerti, kenapa Hiazhi repot-repot mengucapkan kalimat keramat seperti itu, aku akan selalu menjaga keluargaku dan mengabulkan impiannya dan impianku.
Hiazhi menempelkan tubuhnya pada Hiashi dan memeluknya erat.
"Aku akan melihatmu dari sana, saudaraku."
Hebusan pelan terasa di leher Hiashi. Dia membalas pelukan erat sang saudara. Tak perlu melihatku dari sana, kau bisa melihatku darisini.
Saat Hiashi melepaskan pelukannya, baru sadarlah dia. Darah mengalir deras dari punggung sang adik. Dia melihat kearah depan dan menemukan seorang utusan tetua menyeringai kerahanya dan mengegas penuh mobilnya.
"HIAZHI!"
"Hiashi!"
Mendengar namanya dipanggil, Haishi menoleh kesumber suara, meskipun air matanya mengalir deras dari rembulan yang ada diwajahnya. Dia tak peduli, meskipun nanti dia ditertawakan karena menangis, dia tak akan malu. Ini tangisan untuk adiknya, hanya untuk Hyuuga Hiashi.
"Jangan bilang.." Kakashi menjeda kalimatnya, mencoba memahami keadaan.
"Kau telat lagi Kakashi. Dia sudah tiada."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Terimakasih untuk Salsabilla12, Si Hitam, AlvinosztaHolicajhaselalu, BrotherHeart, Aru Hasuna 2409, RiriHime.
Maaf Hipu belum bisa bales review, tapi untuk secepatnya akan Hipu bales. Dan entah kenapa fic ini menjadi gajeness. Ini efek dari hipu yang kehilangan ide dan omongan beberapa orang dipasar membuat saya mengikutkan pembicaraan mereka kesini.
Ada sebuah misteri diakhir cerita ini ketika hiashi bilang "Kau terlambat lagi, Kakashi. Dia sudah tiada."
Menurut kalian, kenapa Hiashi mengatakan itu? Cobalah untuk menerka dan kamu akan mendapatkan kelanjutan dari cerita ini.
Dan maaf sebesar-besarnya, kalau hipu memboat kalian bosan dengan cerita aneh ini.
Akhir kata,
Mind to RnR?
