You're special, Youngjae
Chapter 1

.

.

.

.

.

.

##

"jae-ah, ayo bangun" ini sudah kali kesepuluh jinyoung membangunkan youngjae yang masih bergelung dengan selimutnya. Kalau hari ini mereka tidak kemanapun jinyoung tak akan seniat ini membangunkan anak itu, tapi ia dan mark punya rencana untuk membawa youngjae bermain di luar

Semalam sebelum tidur, mark dan jinyoung merundingkan banyak hal hingga berujung kesepakatan akan membawa youngjae liburan seharian penuh. Awalnya ide mark itu ditolak mentah-mentah oleh jinyoung karena ketakutannya kalau-kalau youngjae mengamuk di jalan ataupun pada kemungkinan terburuk, orang lain akan memandangnya sebelah mata

Membayangkannya saja jinyoung tak mau, apalagi kalau sampai kejadian? Jinyoung tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau itu terjadi

Tapi ya memang dasar mark tuan, si perayu nomor satu dengan segala kata-kata manisnya, mampu membujuk dan mematahkan berbagai alasan yang jinyoung keluarkan sebagai penolakannya. Maka diputuskanlah, bahwa hari ini mereka akan membawa youngjae bermain di salah satu taman bermain fenomenal di negeri mereka, lotte world.

Dengan jaminan, jika terjadi sesuatu nantinya maka mark harus bertanggung jawab.

"youngjae, ayo bangun sayang, kita sarapan lalu pergi bermain" bujuk jinyoung, tapi youngjae tetaplah youngjae. dalam keadaan normal atau abnormal sekalipun anak itu memang tidak bisa lepas dari kebiasaannya yang sangat sulit untuk bangun tidur

"jae ngantuk hyuuung mimpi jae belum selesaaai huhu" anak itu membolak balikkan badannya cepat, bentuk aksi protesnya karena jinyoung sudah menganggu tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam, youngjae kembali memeluk gulingnya tanpa memperdulikan jinyoung. Hah, kalau begini hanya ada satu cara yang bisa jinyoung perbuat agar youngjae bersedia bangun tanpa harus diseret.

"kalau begitu, jinyoung hyung akan meminta mark hyung agar membangunkan jae. Mau?" jinyoung mundur, sedikit menghentakkan kakinya kelantai agar youngjae bisa mendengar langkah kakinya, Berpura-pura keluar kamar. Walaupun sebenarnya tubuh jinyoung sama sekali belum keluar dari kamar itu, ia hanya mundur lalu jalan di tempat dengan hentakan kaki yang cukup kuat

Dan benar saja, tanpa harus diseretpun youngjae seketika terduduk di atas kasurnya. Menyebut nama mark disaat seperti ini memang sangat berguna, apalagi untuk membangunkan youngjae. jinyoung sendiri tidak tau apa yang terjadi diantara mereka berdua, yang jelas ini adalah suatu keuntungan telak untuknya

Youngjae, anak itu mengerucutkan bibirnya. duduk bersila sambil berkacak pinggang menatap jinyoung sebal. Sedangkan yang ditatap hanya mengulum senyumnya sambil berdiri di depan pintu. "wae jae-ya. Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?"

Bukannya menjawab, youngjae justru memainkan bibirnya sendiri. "mbrrrrrr mbrrrr mbrrrmbrrrmbrrmbrrrmbrr" ya begitulah bunyi yang keluar ketika youngjae menggetarkan bibirnya. jinyoung lalu mendekati youngjae, mengacak surai hitam adiknya gemas.

"sekarang waktunya mandi, nah jae mau kan mandi sekarang?" youngjae menggeleng. Tapi, itu tidak masalah bagi jinyoung, karena sekarang ia sudah punya senjata baru, menggunakan nama mark sebagai pancingan

"arraseo~ kalau begitu hyung akan memanggil mark hyung kesini lalu dia akan..."

"angdweyo! Jae tidak mau makeu hyung kesini dan memaksa jae mandi, aniya aniya aniyaaa" secepat kilat youngjae melesat menuju ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya, masuk ke dalam bath tub berisi air hangat yang memang disediakan jinyoung untuknya tanpa mengunci pintu atau sekedar membuka piyama tidur yang melekat di tubuhnya.

Selagi youngjae mandi –atau bermain air lebih tepatnya—, jinyoung membuka lemari dan mengeluarkan beberapa helai pakaian yang nantinya akan di pakai youngjae. selesai menyiapkan pakaian, jinyoung mengambil tas punggung yang selalu dipakai youngjae dan memasukkan mainan,obat, dan beberapa keperluan lain milik anak itu ke dalam tas.

Saat hendak membuka laci kecil tempat penyimpanan kaus kaki, entah tidak sengaja atau lupa jinyoung malah menarik laci yang paling bawah dimana ia menyimpan semua barang-barang youngjae dulu ketika anak itu masih normal. Mata jinyoung lalu terpaku pada ponsel youngjae yang selama 2 tahun tak pernah di sentuh oleh pemiliknya. Jinyoung mengambil ponsel itu, mencoba menghidupkannya walaupun ia sendiri tau, ponsel itu tak mungkin hidup karena—

"Mwoya!?"

Jinyoung kaget bukan main, bukan karena ponsel itu tak menyala. Tapi justru sebaliknya, benda itu hidup dengan daya yang terisi penuh. Seingat jinyoung ia tidak pernah sekalipun mencharge ponsel itu sejak dua tahun yang lalu. Berarti hanya ada satu kemungkinan.

'mungkin youngjae yang menchargenya. Lagipula, ia tidak tau cara mengaktifkannya, jadi apa yang perlu ku cemaskan?' batin jinyoung menenangkan dirinya sendiri. Jinyoung kembali menatap layar ponsel youngjae, bibirnya tersenyum tipis ketika ia melihat gambar yang menjadi walpaper ponsel itu

Sebuah foto self camera dimana youngjae tersenyum ke arah kamera, dan berada di dalam rangkulan si bastard yang juga ikut tersenyum. Mereka, tampak sangat bahagia

Kalau saja si bastard itu tidak membuat youngjae seperti ini, jinyoung tak mungkin membencinya sampai ke ubun-ubun. Orang itu, bajingan itu, adalah orang yang dulu berjanji padanya akan menjaga youngjae sampai akhir hayatnya. Tapi apa yang orang itu perbuat? Dia malah mencampakkan youngjae begitu saja, dan berakhir dengan youngjae mengalami trauma seperti ini.

Demi apapun, jinyoung sangat membencinya. "jika aku bertemu denganmu, aku tak akan segan segan untuk membunuhmu"

"membunuh itu apa hyung?" ponsel yang ada di genggaman jinyoung hampir saja terpental jika ia tidak buru-buru menggenggamnya erat. Kehadiran youngjae yang tiba-tiba membuat jinyoung terkejut. "a-ah ani,lupakan. Jae sudah selesai mandinya?"

Youngjae mengangguk, membiarkan air dirambutnya turun membasahi wajahnya. "uhhm! Dingin hyung, brrrr"

Jinyoung lalu mematikan ponsel youngjae dan meletakkannya kembali ke dalam laci, mengunci laci itu lalu menghampiri youngjae. mengelap seluruh tubuh anak itu dengan handuk yang tersampir di bahunya

"ayo pakai bajunya"

Jinyoung sedikit bersyukur karena youngjae tak bertanya macam-macam tentang perkataannya barusan. Ia akui, ia sangat ceroboh. Dan untuk kedepannya jinyoung tak akan membuka celah sedikitpun untuk membiarkan youngjae mengingat si bastard itu. lalu berakhir dengan mengukir luka pada hati youngjae yang terlanjur penuh goresan di setiap jengkal permukaannya.

Karena sekarang, kebahagiaan youngjae adalah prioritas utama bagi jinyoung.

.

.

.

.

.

.

.##

Lotte world, salah satu destinasi menyenangkan terfavorit di korea selatan. Tempat dimana para wisatawan lokal maupun turis asing menghabiskan masa masa liburan mereka hanya sekedar mencoba berbagai wahana ataupun berjalan-jalan menikmati pemandangan yang disediakan. Seperti tiada hari tanpa pengunjung, tempat ini selalu dipenuhi ratusan orang yang mencari kesenangan mereka sendiri

Termasuk mark, jinyoung, dan juga youngjae yang kini sedang berjalan di sekitaran wahana bermain. Dengan youngjae berjalan lebih dulu di depan lalu diikuti jinyoung dan juga mark yang saling bergandengan di belakang membuat mereka tampak seperti sebuah keluarga kecil bahagia yang sedang menikmati masa liburan.

Youngjae, dengan baju kodok berwarna kuning cerah kesukaannya mengamati setiap inchi tempat itu, mulutnya menganga ketika melihat berbagai wahana menyenangkan yang sebenarnya bukan di tujukan untuk orang se-usianya. "waaaa kudanya berjalan!" serunya heboh.

Jinyoung, pemuda bersweater biru itu memeluk lengan mark yang ada di sampingnya, tatapannya tertuju ke depan, dimana youngjae sedang memuja apapun yang dilihatnya. Anak itu, entah kenapa selalu membuat jinyoung gemas dan ingin sekali memeluknya ketika melihat apapun yang ia lakukan. Jinyoung sendiri tidak habis fikir, bagaimana bisa keluarga choi menyia-nyiakan anak seberharga youngjae begitu saja.

"youngjae sangat menggemaskan dengan baju itu, wah kau benar-benar calon ibu sempurna jinyoungie. Tidak salah aku memilihmu" jinyoung mendecih mendengar kalimat cheesy yang keluar dari bibir mark.

"dasar pemuda LA, apa disana kalian semua diajarkan untuk merayu seperti ini?" mark tak kuasa menahan tawanya ketika jinyoung mengungkit-ngungkit kemanisan bibirnya dengan negara asalnya. Tangan kanan yang awalnya ia gunakan untuk di peluk jinyoung kini beralih fungsi, melingkar dengan indahnya di pinggang jinyoung, seolah menunjukkan pada siapapun disana bahwa park jinyoung itu miliknya, milik Mark Tuan

"apa itu terdengar seperti rayuan? Padahal aku mengatakan yang sebenarnya,sih"

Jinyoung merotasikan kedua bolamata nya jengah, tidak, dia bukanlah bottom yang mudah merona jika ada yang merayunya. "terserah padamu sajalah"

Karena terlalu asyik mengobrol, mereka sampai tidak sadar bahwa youngjae menuntun mereka ke sebuah wahana komedi putar. Anak itu berdiri di depan pagar pembatas wahana dengan ekspresi muka takjub. Melihat youngjae yang hanya diam, jinyoung dan mark kemudian berjalan mendekati anak itu.

"jae, ada apa? Kenapa berhenti disini?" ujar jinyoung, mengelus rambut youngjae sayang.

Youngjae menunjuk komedi putar dengan jarinya. "itu hyung, kudanya berputar, jae mau naik itu hyuung jae mau naik kuda berputaar" Seru youngjae antusias, di pandangnya kedua orang yang selama ini selalu menjaganya itu dengan muka memelas

"jae sungguh mau naik itu?" tanya mark, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala youngjae. "baiklah, ayo kita masuk" ajak mark melepaskan rangkulannya dari pinggang jinyoung lalu menarik youngjae masuk kedalam. Diikuti jinyoung di belakangnya.

Youngjae berusaha naik ke atas kuda-kudaannya tapi selalu gagal, mecoba lagi, gagal lagi. Anak itu menghentakkan kakinya kesal sambil menunjuk nunjuk kepala kuda buatan yang ingin ia naiki. "yak! Kenapa jae susah sekali naik ke badanmu eoh? Apa kamu tidak mau bermain dengan jae"

mark dan jinyoung hanya mengamati youngjae dari pinggir wahana. Melihat youngjae kesulitan naik ke badan kuda, mark langsung beranjak menghampiri youngjae yang berbicara sendiri dengan kuda mainannya. "susah ya naik nya? naiklah ke punggung hyung" ujar mark, menundukkan tubuhnya agar youngjae mudah menjangkau punggungnya

hup. Tanpa banyak penolakan, youngjae sudah melingkarkan tangannya di leher bawah mark. "kudanya jahat hyung, masa youngjae tidak boleh naik ke badannya, dia tidak mau berteman dengan jae, jae sedih" celoteh anak itu saat mark membantunya duduk di atas wahana. Setelah memastikan posisi youngjae aman, mark menarik tangan youngjae agar anak itu memegang tiang pegangan

"kalau kuda nya jahat, youngjae harus baik padanya. Kalau youngjae baik nanti kudanya akan baik juga pada youngjae. nah sekarang, pegang tiang ini kuat-kuat ya? Jangan sampai lepas, nanti youngjae bisa jatuh. Mengerti?" terang mark pada anak itu. youngjae mengangguk.

"uhm!"

Jinyoung berdiri di pinggir wahana, tanpa sengaja mata jinyoung menatap segerombolan para ibu yang juga berdiri di seberang mereka, sama seperti ia dan mark para ibu itu juga menunggu anak mereka yang sedang bermain di wahana yang sama dengan youngjae. mereka memandangi youngjae dengan tatapan yang entah kenapa membuat hati jinyoung panas, sesekali mereka saling berbisik sambil menunjuk ke arah youngjae. lalu tertawa

Hanya orang bodoh yang tidak tau bahwa mereka sedang membicarakan dan mentertawakan youngjae. namun jinyoung berusaha acuh, baginya, selama mereka tidak menyakiti youngjae ia tidak akan peduli. Toh, nanti mereka juga lelah sendiri. Fikir jinyoung

Merasa wahana itu sudah sedikit bergerak, mark langsung pergi dari sana dan menyusul jinyoung yang sedari tadi berada di pinggir wahana. Mereka berdua kini berdiri menunggui youngjae yang sudah tampak menikmati dunianya sendiri. Mark sesekali melambai ke arah youngjae disaat anak itu menatap mereka. Tapi tidak bagi jinyoung yang masih mengamati gerak-gerik para ibu disana

"ada apa, sayang?" tanya mark di sampingnya ketika ia melihat jinyoung terdiam memandangi entah apa itu mark sendiri tidak tau. Jinyoung langsung menolehkan kepalanya ke samping, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada mark. "nothing"

Mark mengangguk, tak mau bertanya lebih lanjut. Mereka kembali memfokuskan diri pada youngjae, wahana sederhana itu terlihat sangat menyenangkan rupanya di mata anak itu. buktinya saja sekarang youngjae sangat excited ketika kuda yang ia naiki berputar ataupun bergerak naik turun

Tujuan mereka kesini adalah membuat youngjae bahagia, jadi, jinyoung berusaha menyingkirkan hal-hal yang akan merusak kebahagiaan anak itu. makanya, ia terlalu malas dan tidak mengambil pusing para ibu itu.

Tapi tampaknya, itu tidak akan berlangsung lama...

.

.

.

.

.

.

.##

Puas dengan komedi putar, ternyata tidak membuat youngjae lelah. Dengan riang anak itu menarik kedua hyung kesayangannya dari depan, sedangkan sepasang kekasih yang tangannya ditarik begitu saja oleh youngjae hanya berjalan mengikuti kemana anak itu membawa mereka tanpa mengeluh atau bertanya.

Selagi youngjae menikmati waktu bermainnya, mana mungkin jinyoung dan mark tega mengacaunya. Jadi, mereka membiarkan youngjae melakukan apapun asal tidak sampai melukai dirinya sendiri dan orang lain

Youngjae ternyata menarik mereka ke tempat taman bermain dimana dipenuhi oleh anak kecil. Disana tidak ada wahana seperti tadi, hanya perosotan, ayunan, bak pasir, dan mainan lainnya yang ditujukan untuk anak kecil. Dahi jinyoung mengerut bingung melihat tempat itu.

"jae-ah. Kenapa jae kita kesini?" tanya jinyoung, mark rupanya juga bingung. Karena sekarangpun ia melihat sekeliling mereka yang hanya ada anak kecil dan orangtua mereka. Youngjae melepaskan genggamannya pada mark dan jinyoung. "eheheh jae mau main disini hyung, disini seru, disana tidak asyik"

Jinyoung menarik youngjae ke dalam rangkulannya, entah untuk keberapa kali pada hari ini ia mengusap rambut youngjae. "tapi disini membosankan, mainan nya diam saja. Kalau disana kan semua mainan bisa bergerak. Kita kesana saja ya jae?" tawar jinyoung menunjuk ke arah wahana lain, tapi youngjae menggeleng, bersikukuh untuk tetap berada disini

"angdwaeyo! Jae mau disini saja, disini banyak teman, banyak temaan" tanpa menunggu izin dari jinyoung, youngjae langsung berlari menuju perosotan dan naik ke atas tangga. Ada beberapa anak kecil disana, tapi sepertinya mereka tidak mempermasalahkan keberadaan youngjae.

Jinyoung menatap cemas, hanya youngjae, remaja yang bermain di taman ini dan selebihnya anak kecil semua. Jinyoung takut nanti youngjae akan di cap aneh ataupun di ejek oleh anak anak disana. Ditatapnya mark yang masih setia berdiri di sampingnya kesal. "hyung kenapa diam saja sih? Harusnya hyung membantuku membujuk youngjae pergi dari sini"

Lagi dan lagi mark hanya tersenyum, jinyoung tau kekasihnya itu pasti akan berkata 'tidak apa jinyoung' atau 'semua akan baik baik saja'

"bukankah kau sendiri yang mengatakan tujuan kita kesini untuk membuat youngjae senang? Jadi untuk apa kita pergi jika anak itu justru merasa senang disini" benar kan, pantas saja youngjae begitu nurut pada mark. kekasihnya itu memang selalu menuruti semua permintaan youngjae tanpa tau resiko di balik permintaannya.

Jinyoung menggigit bibir dalamnya. "tapi, tempat ini bukan tempatnya" jinyoung terdiam. Merasa kalimatnya sedikit kasar pada youngjae. dan untungnya anak itu terlalu jauh bermain disana hingga tak bisa mendengar ucapannya. mark paham maksud jinyoung.

"benarkah? Tapi bagiku semua tempat adalah tempatnya. Karena dia tidak ada bedanya dengan kita jinyoung"

"tapi..."

Belum selesai jinyoung membuka suara bibirnya sudah dipegang oleh mark. lebih tepatnya menarik. "apa tidak haus bicara terus hm? Mau dibelikan minuman?" tanya mark, tangannya masih setia menarik bibir jinyoung hingga pemuda manis itu terlihat seperti bebek. Jinyoung yang diperlakukan seperti itu hanya mengangguk, karena jujur saja tenggorokannya memang sedikit kering.

"baiklah, tunggu disini tuan putri, minuman akan segera sampai di depan mata anda" mark melepaskan tangannya dari bibir jinyoung dan melesat pergi,meninggalkan jinyoung yang mengusap bibirnya pelan.

'apa? Tuan putri katanya? Apa dia lupa kalau aku ini berkelamin laki-laki?' cibir jinyoung dalam hati.

Jinyoung kembali melihat youngjae, anak itu ternyata sudah pindah haluan bermain pasir di bak pasir. Akhirnya jinyoung mengalah, membiarkan youngjae bermain lalu duduk di kursi yang disediakan disana. Jinyoung menumpukan berat badannya pada sandaran kursi.

Youngjae terlihat sangat senang dengan pasir-pasir itu. jinyoung bisa melihat senyum anak itu yang tak pernah terlepas dari wajahnya walaupun butiran pasir itu membuat matanya perih. Ada sedikit perasaan bersalah dalam benak jinyoung karena sebelumnya ia hanya mengurung youngjae di dalam apartemen tanpa memperkenalkan dunia luar pada anak itu

Jujur, itu karena keegoisan jinyoung. Ia tidak mau kalau sampai orang suruhan keluarga choi ataupun keluarga youngjae lain melihatnya dan membawa anak itu pergi dari jinyoung. Sungguh, ia masih sangat ingin bersama anak itu.

Sekarang youngjae tidak sendirian, ada seorang anak laki-laki yang duduk di depan youngjae dan ikut bermain. Mereka berdua serius membangun istana pasir. Melihat youngjae yang senang bermain dengan anak laki-laki itu membuat jinyoung sedikit berfikir. Kalau youngjae menginginkan seorang teman, ya, teman sepermainan atau 'teman sepermainan'

Kejadian begitu cepat ketika anak laki-laki itu merebut mainan yang ada di tangan youngjae dan merampasnya begitu saja. Youngjae marah, lalu mendorong anak kecil itu hingga tubuhnya terjungkal kebelakang. Jinyoung melihat anak kecil itu menangis, dan selanjutnya sesosok wanita paruh baya tergopoh-gopoh menghampiri kedua anak berbeda usia itu

Perasaan jinyoung seketika menjadi tidak enak. Jinyoung memilih beranjak dari bangku dan ikut menghampiri youngjae. dari kejauhan jinyoung bisa melihat wanita itu seperti berbicara pada youngjae, namun anak itu hanya menundukkan kepalanya, hampir menangis.

"jae-ya, ada apa?" tanya jinyoung, berjongkok menyamakan posisinya dengan youngjae yang masih terduduk di atas pasir. Keberadaan jinyoung tidak diindahkan oleh youngjae karena nyatanya anak itu masih menundukkan kepalanya, semakin dalam

"apa anda mengenal anak ini?" merasa ada yang berbicara padanya jinyoung menoleh dan mendapati seorang wanita yang sedang memeluk anak laki-laki yang di dorong youngjae tadi, wanita itu menatapnya marah

"ya. Dia adik saya" jawab jinyoung sopan

Wanita itu mendengus. "heh, ajarkan pada adikmu yang tidak waras dan idiot ini untuk tidak bersikap kasar pada orang lain. Apa kau tau dia baru saja mendorong anakku dengan keras" ujar wanita itu, tangannya menunjuk ke wajah youngjae

jinyoung menganga, tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita di depannya ini. "sebelumnya saya minta maaf jika adik saya berbuat kasar pada anak anda. Tapi sepertinya anda salah bicara, adik saya tidak seperti apa yang anda katakan"

mendengar youngjae dicemooh seperti itu mana mungkin jinyoung tak marah, ia marah, sangat marah. Hell, dia dan mark saja tidak pernah sekalipun berkata seperti itu pada youngjae. Namun kepala dingin jinyoung berusaha meredam kemarahannya agar tak membentak wanita yang ada di hadapannya ini.

"bertingkah kekanakan padahal tubuhnya seusia anak sma, atau mungkin dia memang benar anak sma itu kau bilang bukan idiot? kalau di tidak gila, mana mungkin dia bermain di taman khusus anak-anak dan kasar pada anak kecil"

Cukup. Jinyoung tak tahan mendengar ucapan pedas dari wanita itu pada youngjae. "dengarkan saya, nyonya. Sekali lagi saya tekankan. Adik saya ini tidak gila, dia hanya mengalami trauma. Beginikah sikap seorang ibu yang mempunyai anak kecil? Harusnya anda tau, walaupun dia seperti ini tapi dia juga anak yang punya perasaan. Dimana naluri keibuan anda, pantaskah anda disebut seorang ibu?" ujar jinyoung datar, tangannya menunjuk ke mainan yang ada di genggaman tangan anak wanita itu

"mainan itu milik adik saya, tapi melihat anak anda yang sepertinya sangat menginginkannya sampai merampas dari tangan adik saya, membuat saya kasihan dan berfikir orangtuanya pasti tidak mampu membelikan untuk nya. Jadi, saya akan sangat ikhlas memberikan nya pada orang yang membutuhkan. Terimakasih"

Satu kelemahan jinyoung, ia tidak bisa menahan kata-kata kasarnya jika sudah marah. Masih untung jinyoung sadar kalau orang yang dia hadapi adalah wanita yang lebih tua darinya. Jika tidak, mungkin jinyoung akan kelepasan memukul pipi wanita itu

Jinyoung membantu youngjae yang sedari tadi diam menunduk untuk berdiri, anak itu pasti sedih. Fikir jinyoung. Tanpa menoleh atau sekedar pamit pada wanita yang baru saja berdebat dengannya, jinyoung membawa youngjae pergi dari sana menuju bangku tempatnya duduk tadi. kening jinyoung berkerut, mark belum kembali.

Jinyoung mengambil ponsel di sakunya, mengetik beberapa kata dan mengirimnya ke kontak mark. setelahnya ia menyimpan ponsel itu kembali.

"ayo youngjae, kita makan ice cream" ajak jinyoung menggandeng tangan youngjae yang masih menunduk diam.

To: Mark Tuan
from: Park Jinyoung

Hyung, kau tidak perlu kembali ke tempat tadi. Langsung saja ke sebuah kedai ice cream yang tak jauh dari gerbang utama, kami berdua sedang menuju kesana

.

.

.

.

.

.

.

.##

"jae-ah, ice creamnya kenapa dilihat saja? Tuh kan, ice creamnya meleleh"

Kini youngjae dan jinyoung sudah berada di kedai ice cream, niat awal jinyoung mengajak youngjae kesini untuk membuat suasana hati anak itu membaik. Tapi nyatanya malah sebaliknya, youngjae hanya memandangi ice cream tanpa berniat makanan favorite nya sama sekali. Anak itu terlihat sedih

Aneh, jinyoung menatap youngjae yang bertingkah aneh. Biasanya jika youngjae sedih atau kesal ia akan memberontak marah atau menangis kencang. Bukannya jinyoung mau youngjae berbuat anarkis tapi melihat youngjae yang hanya diam termenung seperti ini malah semakin membuat jinyoung bingung.

Youngjae yang sedih seperti sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang psikis nya terganggu. Jinyoung justru melihat ekspresi youngjae sekarang sama dengan ekspresi sedih youngjae 2 tahun yang lalu sebelum anak itu gila

'apa ini sebuah kemajuan, atau jangan-jangan youngjae perlahan akan sembuh?' batin jinyoung sedikit berharap.

"hyung..." jinyoung tersadar dari lamunannya ketika youngjae tiba-tiba memanggilnya. Bahkan hanya mendengar nada suara lirih anak itu jinyoung tau, ada yang sedang difikirkannya.

"ya, kenapa jae-ya?"

"apa itu idiot? apakah itu buruk? Apa benar kalau jae ini bodoh?" tanya youngjae, matanya menuntut jawaban pada jinyoung.

"e-eh? Mengapa jae bertanya seperti itu?"

Youngjae mengerucutkan bibirnya imut, walaupun rona matanya masih kosong. "bibi itu bilang kalau jae ini idiot, anak idiot. jae bodoh dan gila. Apa itu benar hyung? apa benar jae ini gila dan bodoh?"

Demi apapun jinyoung ingin sekali kembali ketaman, menemui wanita itu dan mencabik bibirnya hingga mirip dengan gambar hantu jepang yang pernah mark tunjukkan padanya. "jae tidak usah memikirkan perkataan bibi itu ya. jae sama sekali tidak idiot, bodoh, apalagi gila. Bibi itu saja yang tidak tau kalau jae ini sebenarnya anak yang sangat hebat" jelas jinyoung, lalu beranjak pindah dan duduk di samping youngjae, merangkul anak itu agar bersandar padanya

"bibi itu juga bilang kalau jae tidak pantas berada di sana karena jae berbeda, maksudnya apa hyung?"

Jinyoung menarik youngjae dari rangkulannya, memegang kedua bahu anak itu. kini, dirinya dan youngjae saling berhadapan hingga jinyoung dapat melihat raut kusut youngjae yang sudah ia anggap adik kandungnya sendiri. "jae dengarkan hyung, ya? Jae bukannya berbeda, tapi, jae itu special. Jae itu istimewa. Tak ada yang bisa menyamakan jae dengan orang lain. Ingat, jae itu istimewa, bukan berbeda" jinyoung mengusap pipi gembul youngjae lembut, selembut hati orang yang ada di hadapannya kini

Youngjae mengangguk, walaupun sebenarnya ia tak terlalu paham maksud dari perkataan jinyoung. Tapi anak itu bisa merasakan beban berat yang mengganjal di dadanya terlepas begitu saja, menyisakan perasaanya yang sudah meringan. "gomawo hyung, jae tidak paham sih maksudnya tapi jae sudah lega, tidak tau karena apa pokoknya lega"

Jinyoung kembali membawa youngjae ke dalam pelukannya, mencium ujung kepala youngjae yang menguarkan aroma wangi shampoo yang dipakai anak itu tadi pagi.

Tentang perkataannya, jinyoung tidak berbohong sama sekali, ia jujur. Youngjae memang anak yang sangat special yang dikirimkan tuhan ke muka bumi ini, bukan karena ketidaknormalan nya, melainkan karena hatinya. jinyoung sudah mengenal youngjae jauh sebelum anak itu merasakan apa itu cinta. Karena itulah jinyoung tau, baik normal ataupun abnormal, youngjae adalah youngjae. seorang anak yang memiliki hati selembut kapas, dan tingkah semanis lolipop.

"ada apa ini, apa aku melewatkan sebuah pelukan?" mark yang tiba-tiba datang menginterupsi kedua orang yang sedang berpelukan, mark kemudian duduk di kursi yang jinyoung duduki sebelumnya. jinyoung terlihat enggan untuk melepaskan pelukannya pada youngjae walaupun mark sudah datang, buktinya ia dan youngjae masih saja berpelukan, malah semakin erat.

"darimana saja kau hyung? bilangnya mau beli minuman, apa kau membelinya di busan?" oh astaga, jinyoung terdengar seperti seorang istri yang sedang mengomeli suaminya yang telat menjemputnya di sekolah anak mereka. sangat manis di telinga mark. "ada sesuatu yang menarik perhatianku, tapi kenapa kalian tiba-tiba berada disini, apa youngjae sudah bosan bermain disana?"

Jinyoung menghela nafasnya. "ada sedikit masalah disana yang membuat mood youngjae memburuk, jadi aku membawanya makan ice cream. Tapi tampaknya ice cream bukan lagi moodboster nya sekarang, kau lihat, youngjae membiarkan ice creamnya meleleh tanpa disentuh sama sekali" jelas jinyoung, ia tidak berniat menceritakan kejadian sebenarnya sekarang, mungkin nanti setelah mereka sampai di apartement

mark menatap youngjae yang masih di pelukan jinyoung. "benarkah? Wah kalau begitu, tamu kita datang di saat yang tepat"

Youngjae melepaskan pelukannya dari jinyoung, bukan apa apa, ia hanya takut mengantuk dan nanti akan menyusahkan mark yang harus menggendongnya. Well, walaupun childish youngjae masih mempunyai sedikit logika untuk berfikir, sedikit.

"tamu?"

"yes, lemme introduce our new friend, taraaaa" dari bawah meja, mark mengangkat sebuah boneka teddy bear berukuran sedang. Memberikannya pada youngjae yang tentu saja diterima anak itu dengan senang hati

"WOAAA teddy beruang!" youngjae memeluk bonekanya girang, bergoyang ke kanan dan kekiri. "makeu hyung, teddy boleh kubawa pulang kan?"

Mark mengangguk. "tentu saja"

"horrreee! Sekarang jae ada teman tidurnya, kkk"

Jinyoung akhirnya tau alasan keterlambatan mark yang katanya ingin membeli minuman, hah, dirinya hampir saja berburuk sangka pada kekasihnya itu. jinyoung benar-benar merasa beruntung memiliki kekasih yang sangat perhatian seperti mark disampingnya. Dan demi apapun, jinyoung tidak akan melepaskan mark untuk alasan apapun.

"baiklah, bisakah kita pulang sekarang? Hyung rasa teddymu itu harus segera berkenalan dengan coco dan kamarmu, jae" youngjae mengangguk, langsung saja tanpa berbasa basi anak itu berdiri, berjalan keluar cafe begitu saja dengan boneka besar yang ada di pelukannya

"loh, kita baru bermain satu wahana jinyoungie" tanya mark ketika jinyoung berdiri dan hendak menyusul youngjae.

"aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi di wahana yang lain, kejadian apa itu nanti akan aku ceritakan di apartemen" mark mengangguk, ikut berdiri dan berjalan beriringan dengan jinyoung

seperti biasa, mark dan jinyoung berjalan di belakang membiarkan youngjae terlebih dulu melangkah di depan mereka. Menjaga anak itu kalau-kalau terjatuh nantinya. Seperti apa yang selalu mereka lakukan selama 2 tahun belakangan ini.

Baiklah, jinyoung akan mencatat dalam memorinya kalau ini adalah kali terakhir ia membawa youngjae ke taman bermain seperti ini, kedepannya ia tidak akan melakukan hal yang sama kedua kalinya.

Kecuali jika ia membooking seluruh wahana ini untuk youngjae tanpa ada seorangpun yang bisa menganggu anak itu lagi

Terdengar arrogant memang, tapi, sekali lagi. Apapun akan jinyoung lakukan untuk kebahagiaan youngjae, walaupun harus membuatnya bangkrut sekalipun.

Karena kebahagiaan anak itu, lebih berharga dari seluruh harta yang ada di muka bumi ini.

.

.

.

.

.

.tbc

What is this? Kenapa baru ch 1 udah absurd, lah lah wwk. Terimakasih untuk review kalian di prolog, aku senang kalau kalian juga senang dengan ff ini. ayo, kita kerjasama, aku yang ngetik naskah ff, kalian yang ngetikin review nya, otte?