Don't be afraid, Youngjae
chapter 2
.
.
.
.
.
.
.
Entah perasaan jinyoung sendiri atau bagaimana, youngjae terlihat berubah semenjak kejadian yang ada di taman bermain minggu lalu. Anak itu hanya murung sepanjang hari dari membuka mata hingga terlelap. Tidak ada tawa, teriakan, ataupun suara bising lainnya yang biasa memenuhi apartemen jinyoung.
Perubahan youngjae ini bukan hanya dirasakan oleh jinyoung, tapi mark juga. setiap hari menurut pengamatan mark, youngjae hanya sarapan, lalu masuk ke kamarnya dan tidur hingga hari menjelang siang, makan siang, lalu duduk di balkon sampai sore, lalu menjelang malam anak itu tertidur, tanpa bermain. Membuat mark dan jinyoung mengernyitkan dahi mereka setiap harinya
Hipotesa mark dan jinyoung sementara ini adalah karena perkataan bibi itu di taman padanya minggu lalu, Jinyoung sudah menceritakan kejadian itu pada mark malamnya saat youngjae terlelap. Tapi, yang menjadi pertanyaan disini adalah
Kenapa hanya karena ada orang yang mengatainya idiot, ia jadi sesedih ini?
Bukankah sebelumnya juga pernah terjadi hal seperti ini, tapi anak itu cuek tak perduli. Lalu sekarang?
"youngjae, makan ya? Nanti jae bisa sakit kalau tidak makan, sesuap saja" bujuk jinyoung yang sedang menyuapkan nasi di depan youngjae, tapi anak itu hanya diam, membuka mulut tidak, menolak pun juga tidak. Hanya sibuk menopangkan kepalanya di atas meja.
Jinyoung menatap mark, meminta tolong pada kekasihnya itu untuk membujuk youngjae. dan seakan tau maksud jinyoung menatapnya, mark meletakkan roti yang sedang ia makan lalu beranjak berjongkok di samping youngjae. dari bawah sini mark bisa melihat wajah lesu anak itu.
Mark mengelus poni youngjae, menyentil idung anak itu pelan hingga sang empunya menutup matanya. Sedikit meringis kesakitan. "apa ada yang mengganggu fikiran adikku ini, hm? Apakah itu roboto, doraemon, bolu, atau satang?" tanya mark mencoba menebak-nebak isi lamunan youngjae, tapi sepertinya, ia salah besar
Karena anak itu sama sekali tak bergeming. Tetap diam
"haaah" jinyoung yang sedari tadi diam menghela nafasnya berat, bahkan mark saja tidak mampu membuka mulut youngjae, ini memang benar-benar aneh, sangat sangat aneh.
"bagaimana jika kita buat perjanjian? Kalau jae mau makan dan minum vitamin, mark hyung akan belikan jae mainan apapun yang jae mau. Setuju?" tawar mark yang kalau sebelumnya menjadi penawaran jitu yang tak akan mungkin bisa ditolak youngjae, tapi, lagi, youngjae tak menggubris mark. bahkan anak itu memindahkan arah kepalanya menghadap jinyoung
Baiklah, mark menyerah. Ia kembali ke kursinya dan melanjutkan sarapan yang tadi tertunda, walaupun matanya tak lepas dari youngjae.
Jinyoung pun begitu, memaksa youngjae bukanlah suatu tindakan yang baik. Youngjae itu keras kepala, semakin di paksa anak itu akan semakin menjadi. So, lebih baik membiarkan youngjae pada dunia nya dulu daripada anak itu berontak dan berakhir melukai dirinya sendiri
"bagaimana, apa kau jadi pergi sekarang hyung?" tanya jinyoung di sela-sela mengoles rotinya dengan selai kacang, karena sibuk membujuk youngjae untuk makan ia sampai lupa pada sarapannya sendiri. Mark mengangguk. "hm, hari ini aku akan jadi sangat sibuk dan mungkin pulang larut malam, tak apakah jie?"
"tentu saja, kami tak akan diculik hyung, kau tenang saja"
"bukan begitu, hanya saja aku sedikit berat meninggalkanmu sendirian mengurus youngjae"
Jinyoung meletakkan rotinya di atas piring, lalu menggenggam tangan mark, mengelus punggung tangan yang selalu menopangnya ketika ia lelah. "semua akan baik-baik saja hyung, kau harus fokus pada proyekmu. Kalau ada apa-apa aku pasti akan menghubungmu"
Mark menarik sebelah tangan jinyoung yang sedang menanggur, kini kedua tangan mereka saling menggenggam. "harus. Kau harus menghubungiku ketika terjadi sesuatu, kalau tidak aku yang akan pulang setiap satu jam, understand?" jinyoung mengangguk. "hm"
Kriet
Decitan kursi menengahi percakapan mark dan jinyoung, mereka menoleh dan mendapati youngjae beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke kamarnya tanpa berbicara sepatah katapun. Anak itu masuk dan menutup pintu kamarnya, jinyoung berdiri, hendak menyusul youngjae tapi ketika ia berdiri mark yang masih menggenggam tangannya itu menariknya.
Jinyoung berbalik menatap mark, dan mark menggeleng. "biarkan youngjae sendiri, mungkin dia butuh ketenangan" jinyoung mendelik kesal.
"biarkan bagaimana? Ini aneh hyung, tidak biasanya youngjae seperti ini, aku khawatir padanya"
Kemudian mark berdiri. Tanpa melepaskan tangan mereka yang masih terkait. "aku mengerti, sangat mengerti. tapi menurutku, sekarang yang harus kita lakukan hanyalah membiarkannya, aku yakin dia akan seperti biasanya lagi, kau kan tau sendiri dia itu moody" jelas mark, yang diamini helaan nafas jinyoung
"baiklah, yasudah kau pergi sana hyung, nanti terlambat"
"jadi, aku sekarang diusir oleh kekasihku sendiri?" jinyoung tak perduli, ia lalu kembali duduk dan mengigit roti selainya. "jika itu bisa membuatmu pergi, maka jawabannya ya"
Dengan gemas, mark mengecup pipi jinyoung sekilas "kalau begitu aku pergi, bye mrs. Tuan" ujar mark jahil sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu
"mrs. Tuan katanya? Wth, aku belum operasi gender, yien bodoh" cerocos jinyoung dengan bibir penuh roti selai di mulutunya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
##
Jinyoung merebahkan tubuhnya lelah di atas sofa, membiarkan seluruh kakinya memanjang memenuhi ruang di sofa itu. kegiatan bersih bersih apartemen yang baru saja ia lakukan menguras tenaganya gila gilaan. Jinyoung jadi merasa sangat bersalah pada ibunya ketika dulu ia masih suka membuat rumah berantakan
Tangan jinyoung menggapai remot tv dan menyalakan benda flat itu hingga menampilkan acara musik, satu satu nya program yang amat sangat disukai youngjae baik dulu maupun 'sekarang'. Biasanya kalau tv sudah menyala dan menayangkan acara musik, youngjae akan datang darimana pun dan setia duduk di depan layar flat itu
Tapi sekarang? Setelah hampir setengah jam tv di nyalakan, belum ada tanda-tanda youngjae akan keluar dari kamarnya
Jinyoung menatap pintu kamar youngjae, merasa sangat heran dengan perubahan drastis youngjae. sungguh, ini adalah teka teki tersulit yang pernah jinyoung temui, bahkan lebih sulit dari kuis dadakan dari dosennya
"hoam" jinyoung menguap, rasa kantuk menyerangnya hingga kepalanya terasa berat. Wajar, ia tadi hampir menghabiskan waktu 4 jam hanya untuk membersihkan apartement nya. gila.
Dan jinyoung jatuh terlelap, membiarkan tv dalam keadaan menyala, dan pintu luar yang tidak terkunci sempurna
.
.
.
.
.
.
.
##
Mark, diruangan kerja pribadinya sibuk meneliti map yang kini ada di genggamannya, membaca beberapa tulisan laporan dari bawahannya dan sesekali mengamati skema perkembangan cafe yang kini berada di bawah kendalinya
Memang, status mark dan jinyoung masih mahasiswa tingkat akhir yang semestinya berfokus pada kelulusan mereka justru berinisiatif mendirikan sebuah cafe sebagai usaha sampingan mereka. bukan, bukan karena orangtua mereka tidak mampu menghidupi mereka lagi, tapi menurut jinyoung tak terlalu bergantung pada orangtua adalah sebuah kebanggaan dalam hidupnya, dan mark setuju dengan saran jinyoung
Maka, jadilah, sebuah cafe terletak di pinggiran jalan ramai kota dengan nama 'Sunshine's Cafe' berdiri.
"amazing, grafik pengunjung selalu merangkak naik setiap bulan. Aku memang benar-benar tak salah memilih karyawan" gumam mark, matanya masih fokus pada secarik kertas laporan yang ada di tangannya
Tok tok tok
Pintu ruang kerja mark diketuk dari luar. Dan mark tau, itu pasti karyawannya. "masuk" titah mark
Pintu terbuka, menampakkan sosok yang tadi mengetuk pintu itu. seorang pemuda dengan kemeja santai dan celana jeans abu-abu yang kini berdiri di hadapan mark dengan senyum terbaiknya.
"ada apa, jaehyung?" pemuda bernama jaehyung dengan kurang ajarnya duduk di kursi di hadapan mark. dan sepertinya mark tak terlalu mengambil pusing tingkah karyawannya itu. karena di cafe ini, tidak ada yang namanya formalitas atasan dan bawahan. Mereka semua yang ada di sini sudah seperti keluarga sendiri.
"hyung, apa aku bisa mengambil cuti 3 hariku besok? Ibuku datang ke seoul dan aku tidak mungkin membiarkannya sendirian dirumah" tanya jaehyung, dan tanpa berfikir lama mark mengangguk, menerima izin dari bawahan sekaligus adiknya itu.
"of course you can. Aku titip salam pada ibumu, kalau bisa bawa saja ibumu kesini."
"apa itu artinya ibuku bisa makan sepuasnya disini?"
"in your dream. Tapi kalau potongan setengah harga, apa kau mau?"
"why not? Hahaha"
Mark mendecih pelan.
"oh ya hyung, bagaimana kabar jinyoung hyung dan youngjae? mereka jarang ke cafe akhir-akhir ini" tanya jaehyung, tangan isengnya menata furniture mini yang ada di meja kerja mark. sungguh, park jaehyung harus diberi tutor untuk belajar sopan pada atasannya.
"baik, hanya saja jinyoung terlalu sibuk mengurus youngjae yang belakangan menjadi aneh"
Tangan jaehyung berhenti, matanya beralih menatap atasannya. "aneh? Lho, bukankah memang dia selalu begitu hyung?"
Mark mengangguk. " memang, tapi sekarang sangat aneh. Youngjae menjadi lebih gloomy dan pendiam, tingkahnya tak kekanakan lagi dan yang lebih mengkhawatirkan dia menghabiskan seluruh harinya di dalam kamar."
Jaehyung tampak sedikit berfikir. Ia mengenal youngjae sejak cafe ini dibangun, tentu jaehyung tau bagaimana kelakuan youngjae dan keadaan anak itu. mark dan jinyoung yang memperkenalkan youngjae padanya, dan first impression jaehyung terhadap anak itu adalah 'ceria'. Jadi mungkin aneh juga jika youngjae menjadi sedepresi itu
"hmm... aneh juga, apa kau sudah mencoba bertanya padanya hyung?"
Mark berdehem pelan. "hmm, tapi diaㅡ ah sebentar" mark menghentikan ucapannya lalu mengambil ponsel yang sedang bergetar di atas mejanya. Alisnya berkerut melihat nama sang penelfon, tanpa menunggu, ia menggeser tombol hijau.
"halo jinyoungie ada ap-"
"MWO? Kenapa bisa jinyoung-ah?"
"ah okay, just stay at there. Jangan kemana mana, tunggu aku kesana sayang. "
"just five minutes, oke?"
"hm"
Dan setelah panggilan berakhir mark terburu buru mengambil kunci mobilnya, bergegas meninggalkan ruangan kerjanya tanpa sadar bahwa jaehyung masih berada disana.
"hyung eoddiga? Apa yang terjadi?" tanya jaehyung bingung ketika mark sudah berada di depan pintu. Mark lalu berbalik, dan jaehyun dapat melihat rona kekhawatiran yang tersirat jelas di wajah atasannya itu.
"youngjae... hilang. Dia kabur dari rumah"
Dan setelah mengatakan itu, mark tuan menghilang dari pandangan jaehyung.
.
.
.
.
.
.
.
.
##
Jinyoung dilanda rasa panik dan cemas yang amat sangat sekarang, sedari tadi yang ia lakukan hanya mondar mandir di depan kamar youngjae sambil sesekali melirik arah pintu, berharap kalau kalau mark datang dan memeluknya saat ini. jinyoung kacau, sangat kacau
Jinyoung menyesal sudah sangat teledor tertidur begitu saja tanpa memperhatikan pintu sudah terkunci atau belum. Jinyoung merutuki kebodohannya yang tak mendengar suara youngjae saat anak itu pergi. Dan sekarang, youngjae pergi. Anak itu kabur entah kemana memanfaatkan kesempatan jinyoung tertidur dan pintu yang terbuka. Good boy, youngjae.
Padahal jinyoung hanya tertidur 10 menit, ia yakin itu. lalu saat terbangun jinyoung masih belum sadar. Dan barulah ia tau bahwa youngjae kabur setelah mengecek anak itu di kamarnya dan ternyata anak itu sudah tidak ada di dalam.
Satu satunya yang bisa jinyoung lakukan adalah menelfon mark, dan jadilah sekarang ia gelisah menunggu kedatangan mark.
"jinyoung-ah!" jinyoung langsung menyerbu mark yang baru sampai di depan pintu, memeluk erat kekasihnya, menumpahkan segala kegelisahan dan rasa khawatir yang sedari tadi menyelimutinya
"hyung... youngjae, dia kabur. Aku sungguh tak menyadari saat dia pergi, ini salahku. Aku lalai menjaganya. Aku teledor karena tertidur pulas begitu saja sedangkan pintu belum terkunci. Youngjae hilang karena aku hyung, ini semua salahku" cerca jinyoung di dalam pelukan mark. tampaknya, mark tak perlu bertanya apa-apa lagi sekarang karena kekasihnya sudah menceritakan semuanya sedetail itu
Mark mengusap punggung jinyoung, sesekali mencium puncak kepalanya. Memberikan ketenangan. "ssttt, ini bukan salahmu Jie. Ini murni kecelakaan. Jangan salahkan dirimu sendiri"
"tap-tapi hyung..."
"youngjae tidak akan kita temukan jika kita hanya disini saja. Sekarang, bersiap-siaplah. Kita akan pergi mencarinya. Youngjae pasti belum jauh dari sini."
Jinyoung mengangguk, membenarkan ucapan mark lalu berlari menuju kamarnya.
"hah~" mark menghela nafas berat. Mark kemudian mengambil ponselnya, mengetik angka '5' lalu mendial seseorang di seberang sana.
"kalian cari youngjae, dia kabur dari apartemenku. Kalau sudah ditemukan, jangan lakukan apa-apa. Cukup beritau aku dimana keberadaannya. Understand?" titah mark dingin. Lalu kembali menutup ponselnya. Bersamaan dengan jinyoung yang sudah keluar dari kamarnya
"sudah siap?" tanya mark
"h-um" jinyoung mengangguk.
"aku sudah menelfon bodyguard daddy untuk membantu kita mencari youngjae, tak apa kan?" tanya mark pelan. Pasalnya jinyoung agak sensitif dengan kata 'bodyguard'
"jika itu bisa membuat kita menemukan youngjae, itu tidak masalah"
Mark tersenyum, Lalu mereka beranjak pergi keluar apartement.
.
.
.
.
.
.
.
.
.##
Youngjae tak tau kemana ia harus pergi, bahkan ia sendiri bingung sekarang ia berada dimana. Yang pasti, di depannya kini hanya ada jalanan, mobil yang berlalu lalang, dan para pejalan kaki. Youngjae berjalan mengitari tepi jalan dengan baju kodok merah, sepasang sandal rumahnya dan topi berwarna senada bajunya.
Di sepanjang perjalanan, youngjae tak henti-hentinya memandang setiap pertokoan yang ia lalui. Kadang anak itu berhenti di depan sebuah toko kue, lalu kembali berjalan dan mematung di depan sebuah kedai ramen, lalu berjalan lagi dan begitu pula seterusnya dari satu bangunan ke bangunan lain
Sampai akhirnya, matanya terpaku pada sebuah toko mainan, dimana memamerkan boneka teddy bear ukuran jumbo di etalase kaca mereka. youngjae terpaku, tampak tertarik dengan boneka yang mirip teddy bear miliknya pemberian mark saat di taman bermain tempo hari.
"woah~" kagum youngjae, mulutnya menganga. Tanpa butuh waktu lama, youngjae melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko mainan itu
Di dalam toko, youngjae disambut dengan seorang pegawai pria. Memperhatikan youngjae, sedikit heran melihat penampilannya yang di luar nalar anak seusianya. "sedang mencari mainan, anak muda?" tanya si pegawai paruh baya.
Youngjae mengangguk, lalu berjalan mengitari toko. Bukan toko besar, hanya sebuah gedung kecil yang dipenuhi berbagai mainan di setiap sudutnya. Menjual berbagai macam mainan dari mulai robot hingga boneka. Youngjae memilih melihat lihat bagian boneka, tepatnya ke rak yang penuh boneka beruang berbagai ukuran
Mata sipit youngjae menelisik seluruh boneka satu persatu, hingga pandangannya terpaku pada boneka teddy yang sama persis dengan yang ada di etalase kaca depan tadi. dan dengan segali gerak, youngjae mengambil boneka itu, lalu memeluknya.
"ugh, hyungie~" ujar youngjae pada boneka yang ada di dalam dekapannya.
Dengan boneka teddy bear seukuran tubuhnya di dalam pelukannya, youngjae membawa boneka itu keluar dari toko, tapi sayangnya, saat sudah sampai di depan pintu keluar lengannya di cegat oleh pegawai yang sedari tadi memperhatikannya
''mau kemana, kasirnya bukan di luar" ujar si pegawai muda dingin, matanya mengintimidasi youngjae hingga membuat anak itu sedikit merasa takut. "u-uh?"
Si pegawai lalu menarik youngjae kasar ke meja kasir. Hingga menyebabkan sang empunya lengan meringis.
"mana uangmu? Sebelum membawa boneka itu keluar dari toko kau harus membayarnya terlebih dahulu" sang pegawai kasar itu mengadah tangan, memberi kode agar youngjae membayar.
"membayar?" tanya youngjae. ia lalu teringat perkataan jinyoung tentang pelajaran membeli sesuatu yang harus dibayar dengan uang. Langsung saja, youngjae mengambil uang yang ada di kantung baju kodoknya. "segini cukup?"
Melihat lembaran uang yang di keluarkan youngjae membuat pegawai itu tertawa. "HAHAHAH, hei bodoh. kau fikir kau sedang membeli sebuah permen?" ketusnya. Tanpa memperhatikan air muka youngjae yang sudah memburam
"tap-tapi, hanya ini uang yang jae bawa..." cicit youngjae, memeluk boneka teddy bear dalam rangkulannya semakin erat.
"kalau begitu kau tidak boleh membawanya pulang!" dengan kasar si pegawai itu merampas boneka itu dari youngjae dan berjalan menuju rak dimana boneka itu diletakkan tadi. youngjae, anak itu hanya diam meratapi 'bonekanya' yang dirampas itu
"pulang sana, kalau mau boneka ini kau harus membawa uang lebih banyak. Dasar anak idiot" ujar pegawai itu tanpa melihat ke arah youngjae. ia tidak tau, anak itu sudah mengeluarkan air matanya.
"hu-huks. Jae tidak idiot, h-huks. Paman jahat, paman sama sajaa dengan bibi itu. paman jahat! HUWEEEEEEEEEEEEEE" tangisan youngjae memecah keheningan toko, sang pegawai yang tadinya sudah berniat masuk ke dalam ruang karyawan berbalik menghampiri youngjae
"ya! Kau kenapa malah menangis, aish diamlah! Orang akan mengira aku berbuat jahat padamu" bukannya diam, youngjae malah menangis semakin keras. Si pegawai kalang kabut karena teriakan youngjae itu sangat berisik.
"YAK KAU!" si pegawai hampir saja menarik youngjae keluar toko kalau saja...
"ada apa ini?"
Seseorang kini sudah berdiri di depan pintu masuk toko, berjalan menghampiri si pegawai dan youngjae yang sedang menangis. "tu-tuan im"
"ada apa ini, paman han?" tanya pemuda itu sekali lagi, matanya memperhatikan youngjae, anak itu kini tengah berjongkok, menelungkupkan wajahnya ke lututnya.
"anak ini ingin mencuri boneka disini tuan"
"mencuri?" tanya si pemuda yang tampaknya pemilik dari toko itu, lalu ikut berjongkok di hadapan youngjae, menyetarakan tingginya dengan anak yang saat ini masih menangis.
"hei, apa benar yang dikatakan paman itu, kau mau mencuri?" tak ada nada kasar ataupun tuduhan dari bibir pemuda ini, hanya pertanyaan biasa dengan nada lembut. Tau di hadapannya bukanlah orang sejahat pegawai toko tadi, youngjae mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah basah dengan airmatanya sendiri
"aniya... kata jinyoung hyung, jae tidak boleh mencuri... jae mau membayar boneka itu tapi paman ini tidak mau menerima uang jae..." lirih youngjae takut takut menunjuk pegawai itu.
"benarkah itu, paman?"
"uangnya tidak cukup tuan im. Ia hanya membawa 100 won, sementara harga boneka itu—" ucapan si pegawai terpotong karena tatapan tajam yang di keluarkan tuannya, membuat nyalinya menciut. Sedangkan saat menatap youngjae, pria yang di panggil tuan im itu tersenyum hangat.
"nama mu,siapa?"
"Jae, Youngjae..."
"Youngjae? hm, mana uang youngjae, boleh hyung lihat?" tanya si pemuda, youngjae lalu menyerahkan uang yang dari tadi ia genggam. "ini..."
Pemuda itu mengambil uang youngjae, lalu menoleh ke pegawainya. "ambilkan boneka yang menjadi permasalahan itu" titahnya dingin. Sedangkan si pegawai hanya diam dan menurut, mengambil boneka incaran youngjae lalu menyerahkannya pada pemuda itu.
"nah, karena youngjae sudah membayarnya. Boneka ini sekarang milik youngjae, ayo ambil" ujar sang pemuda lembut, menyerahkan boneka teddy bear jumbo pada youngjae, yang tentu saja di terima anak itu dengan senang hati.
"WAAAA! Hyungieeeee!" girang youngjae, dengan wajah yang masih basah karena air matanya, memeluk boneka itu erat, sesekali menenggelamkan wajahnya pada mainan berkapuk itu.
Si pemuda im, tersenyum, menatap youngjae yang girang dengan mainan barunya, dan seperti lupa bahwa semenit yang lalu anak itu menangis keras. Benar-benar menggemaskan, batin sang pemuda.
'youngjae, jika ada yang berbuat baik pada kita, jangan pernah lupa untuk mengucapkan terima kasih, arrachi?' suara jinyoung tiba-tiba terngiang di otak youngjae, anak itu kemudian menengadah, menatap wajah pemuda baik hati yang memberikan boneka itu padanya.
"emh, hyung. terima kasih" ujar youngjae tulus, disertai senyuman bodohnya hingga matanya tenggelam. Pemuda itu, mendecih geli. Tangannya terangkat mengacak-acak surai hitam youngjae.
"tidak masalah, nama hyung jaebum. Youngjae bisa memanggil apapun yang youngjae mau"
"baiklah, bummie hyung"
Bummie? Oh, rasanya jaebum baru kali ini mendengar ada orang yang memanggil namanya semanis itu. youngjae kembali sibuk menciumi boneka teddy bearnya. Semakin menambah kadar gemas jaebum pada anak itu.
"apa jae suka ice cream? Kalau jae mau, kita bisa makan ice cream yang ada di dekat sini. Bagaimana?" mata sabit youngjae berbinar dikala mendengar jaebum mengatakan ice cream. Tentu saja, tanpa penolakan anak itu mengangguk semangat.
Jika segala sesuatunya menyangkut tentang ice cream, youngjae mana bisa menolak.
"baiklah, kajja!"
.
.
.
.
.
.
.
.##
"bagaimana ini hyung, kita sudah ke setiap sudut kawasan ini, tapi youngjae sama sekali belum ditemukan" ujar jinyoung kalut. Tangannya sudah dingin, sangking cemasnya. Ia dan juga mark kini sedang mengitari wilayah yang ada di sekitar apartemen mereka dengan mobil, mata mereka jelalatan ke setiap sudut dan jalan, tapi masih tidak bisa menemukan keberadaan youngjae.
Mark menoleh kesamping, sebelah tangannya menggenggam tangan jinyoung erat dan mengelusnya. Memberikan sedikit ketenangan pada kekasihnya itu. "calm down baby, sebentar lagi kita pasti bisa menemukan youngjae. bodyguard daddy juga sedang mencarinya"
"aku hanya takut terjadi sesuatu padanya, hyung" lirih jinyoung, matanya kembali ke menelusuri trotoar di pinggir jalan.
Drrt drrrt drrrt
Jinyoung langsung melihat ponsel mark yang bergetar. "bodyguard daddy" kata mark memberitahu jinyoung siapa yang menelfonnya
"cepat angkat hyung" mark langsung mengangkat panggilan itu. "bagaimana, apa kalian sudah menemukan youngjae?" ujar mark tanpa basa basi, jinyoung yang berada di sampingnya langsung menatap mark dengan harap harap cemas
"hm, kerja bagus. Kalian cukup jaga dia dari jauh, ingat. Jangan mendekatinya. Aku akan segera kesana" mark lalu mematikan sambungan. Menoleh ke arah jinyoung yang menunggu nya bicara
"bagaimana hyung?"
"mereka sudah menemukan youngjae, dia sekarang sedang berada di kedai ice cream bersama seorang pemuda."
Jinyoung terbelalak, matanya membolah. "heh? Siapa orang itu hyung?"
"aku tidak tau, mereka tak mengenalnya. Tenang saja jie, mereka akan menjaga youngjae jika pria itu berani macam – macam padanya. Sekarang, kita kesana"
Jinyoung memilih untuk diam, membiarkan kekasihnya fokus pada kemudinya,karena mark sudah melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan menggila.
.
.
.
.
.
.
.
##
Jaebum masih sibuk menatap youngjae yang sedang menikmati ice cream di hadapannya. Sangking seksamanya ia mengamati youngjae sampai ice cream miliknya sendiri tak ia sentuh sama sekali. Karena bagi jaebum sekarang, tingkah youngjae jauh lebih manis dari ice cream vanila yang ia pesan tadi.
"nyamm~ ugh ice cream nya enak sekali bummie hyung!" ucap youngjae, dengan mulutnya yang masih penuh dengan ice cream. Sangking penuhnya menyisakan cairan krim manis itu di pinggir bibirnya, jaebum terkekeh.
"pelan-pelan youngjae-ya, ice cream nya tidak akan lari kok" jaebum mengambil sapu tangan miliknya, lalu membersihkan bibir youngjae yang terkena ice cream. Sedangkan youngjae masih sibuk menyuapkan ice cream ke dalam mulutnya
Baru 1 jam mereka saling mengenal, tapi jaebum merasa bahwa ia sudah sangat dekat dengan youngjae. entahlah, jaebum sendiri tidak tau kenapa, tapi perasaanya seketika menjadi hangat ketika melihat wajah youngjae yang sedang tersenyum. Apalagi tadi, ketika pelayan kedai memberikan ice cream mereka, youngjae kegirangan dan seulas senyum menyapa wajahnya. Membuat hati jaebum menghangat begitu saja
"hyung, ice cream nya bisa meleleh loooh kalo dibiarkan begitu saja!" suara youngjae menyadarkan jaebum dari lamunannya, jaebum juga baru sadar ketika ikut melihat ke gelas ice creamnya, makanan manis itu sudah setengah meleleh di dalam gelasnya. "hyung sudah kenyang, untuk youngjae saja kalau youngjae mau"
Mata youngjae berbinar. "jinjja?! Jae mau dong!" youngjae menggeser gelasnya yang sudah kosong, lalu menarik gelas jaebum. Lagi, menyuapkan ice cream ke dalam mulutnya seolah ia tidak merasakan kenyang sama sekali
"bagaimana? Apa youngjae masih sedih?" tanya jaebum, pasalnya youngjae tadi bercerita padanya kalau anak itu sedih dengan olokan pegawainya yang mengatakan youngjae idiot.
"ani! Sekarang ada teddy bear, lalu ice cream. Woaaaahhhh bummie hyung baik sekali! Jae sayang bummie hyuuung, bummie hyung sama seperti jinyoung hyung dan makeu hyung."
Jaebum tak bisa menahan senyumnya, lagi –lagi youngjae menyamakannya dengan kedua orang yang youngjae bilang adalah orang yang sangat berarti untuk anak itu. jinyoung, dan mark. hm, rasanya kedua nama itu tidak asing lagi ditelinga jaebum..
"youngjae-ya, daritadi youngjae menyebutkan nama jinyoung hyung dan mark hyung, mereka siapa?" tanya jaebum pelan, berusaha tak terdengar mengintograsi di telinga youngjae.
Youngjae menghentikan suapan ice creamnya, meletakkan sendoknya kedalam gelas lalu beralih memeluk boneka beruang big size yang sedari tadi ada di sampingnya. "jinyoung hyung dan makeu hyung itu orang paling baaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkk sedunia. Mereka sangat menyayangi jae, mengurus jae, selalu ada di samping jae kalau jae sakit terus mereka..." youngjae menghentikan kalimatnya sendiri ketika ia sadar, dia sudah keluar dari rumah tanpa seizin jinyoung
Jaebum mengernyit, menatap youngjae yang tiba-tiba terdiam. "youngjae...?"
Youngjae menatap jaebum memelas, membuat alis jaebum terangkat sebelah. "ada apa hm?"
"jae... jae nakal hyung, jae pergi diam diam tanpa izin dengan jinyoung hyung, jinyoung hyung pasti sekarang mencari jae, huweee jae jahat pada jinyoung hyung huwwwwweee" youngjae tiba tiba menangis, membuat jaebum panik sendiri. Buru-buru jaebum pindah duduk di samping youngjae, merangkul youngjae dan mengusap kepala anak itu.
"ssst sst sttt jae-ya jangan menangis"
"huweee jae mau pulaaanggggg"
Jaebum mengeluarkan dompetnya, meletakkan beberapa lembar uang dan bill di atas meja, lalu memasukkan kembali dompetnya. "iya, iya, kita pulang. Youngjae tau kan dimana rumah youngjae?" tanya jaebum, dibalas anggukan dari youngjae.
"baiklah kalau begitu ayo kit—AW!"
"YAK APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU!"
Jinyoung mengamuk memukul jaebum, jaebum menghalau pukulan pukulan jinyoung dengan tangannya agar tak mengenai wajahnya
"jie! Jie stop it baby! Jangan memukul orang sembarangan" mark langsung memeluk jinyoung dari belakang, menarik kekasihnya agar menjauh dari jaebum. "tenang baby... tenang"
"tapi hyung! hyung lihat sendiri! Youngjae menangis dan itu pasti karena pria ini!" cerocos jinyoung, menunjuk jaebum yang masih menutup wajahnya.
"e-eh, aniya jinyoungie hyung, bummie hyung bukan orang jahat" youngjae, yang sudah diam dari tangisnya berdiri memeluk jinyoung. Jinyoung mengusap punggung youngjae sayag, mengecupi pucuk kepalanya berkali kali.
"benarkah begitu, youngjae" tanya mark disamping jinyoung, youngjae mengangguk di dalam pelukan hyung tersayangnya. "u-uhm."
Mark tersenyum, menatap jinyoung dengan tatapan jailnya. "tuh, kamu dengar sendirikan jie?"
Jinyoung mengerucutkan bibirnya sebal. "ya habis youngjae menangis, jadi aku kira dia ㅡ"
"... mark? jinyoung?" mark dan jinyoung menoleh ke arah jaebum, dan alangkah kagetnya mereka ketika mereka sudah melihat dengan jelas wajah pemuda yang tadi dipukul oleh jinyoung.
"JAEBUM/JAEBUM HYUNG?!"
.
.
.
.
.
.
.
.##
Hoho, sorry for the late update. I'll (maybe) update this story asap! Just review ya!
