Chanyeol, Baekhyun, Luhan lalu Sehun, itu adalah deretan yang berada di sofa panjang tepat di depan LCD yang sedang menyuguhkan sebuah film dimana perlu menghabiskan setengah jam hanya untuk memilih film mana yang ingin mereka tonton, dimana para gadislah yang sibuk beradu argumen untuk mempertahankan film yang masing-masing disukainya. Lalu berakhir pada film yang dipilih Baekhyun, dengan mengandalkan kalimat-kalimat seperti "Ini rumah gue, Ini Film gue, gue yang nyiapin cemilan buat dimakan pas nonton entar atau Ibu gue yang ngebayar tagihan listriknya" dan masih banyak lagi alasan-alasan kekanakkan yang Baekhyun lontarkan untuk mempertahankan film kesukaannya ditambah mendapat dengusan dari hidung mungil Luhan. Hanya ingatkan saja kepada Luhan untuk bertanya kepada Baekhyun nanti, siapa yang memiliki kepala sekeras batu untuk memaksa Luhan menginap di rumah yang mereka pakai untuk menonton.

Home Alone 2. Itu adalah judul film bergenre komedi yang dipilih otak kekanakkannya Baekhyun. Film tahun 1992 yang diproduksi oleh Hollywood sana. Menceritakan bocah laki-laki berumur 12 tahun yang berniat berlibur ke miami bersama keluarga namun harus menerima bahwa pesawat yang ditumpanginya bukan menuju ke miami melainkan ke New York, itulah jawaban untuk pertanyaan mengapa kau tidak boleh terpisah dari rombongan saat berlibur. Masalah tidak sampai disitu saja yang didapat oleh Kevin –pemeran utama, dia harus berurusan kembali dengan pencuri yang berhasil dipenjarakannya di seri pertama Home Alone karena mencuri dirumahnya namun berhasil kabur dari penjara lalu pergi ke New York. Beruntung di New York Kevin masih memiliki bibi dari pihak ibunya yang untungnya rumah bibinya tersebut kosong hingga membuat Kevin leluasa mengeluarkan segala kecerdikkannya demi menyelamatkan diri, lalu dimulailah aksi penyelematan Sang Bocah untuk melawan pencuri tersebut yang ingin membalas dendam padanya, aksi penyelamatan yang mengundang gelak tawa dari keempat remaja yang sudah berkali-kali menghela airmata disudut mata mereka. Gelak tawa antara terhibur dengan aksi Kevin juga miris terhadap pencuri tersebut. Dari wajah yang dilempari satu kaleng cat berisi penuh di tambah gaya dorong, tubuh yang penuh dengan cat karena menabrak lemari yang berjejeran cat beraneka warna hingga harus dipatuki puluhan burung sebab tubuh di lempari biji jagung lalu berakhir dengan pencuri tersebut ditangkap polisi. Baekhyun dan Luhan tidak tahu, apakah Kevin yang terlalu cerdik atau pencuri tersebut yang terlalu bodoh karena masih saja terkena jebakan yang Kevin buat persis seperti yang dilakukannya pada seri pertama, tapi Sehun dan Chanyeol tahu kalau semua itu hanyalah skenario olahan sang sutradara.

"Udahan ahh, bee. Nanti perut kamu sakit kalo kebanyakan ketawa" itu nasihat Chanyeol untuk Baekhyun yang berniat mengganti compact disk film home alone 2 menjadi home alone 3.

"Tapi, Chan"

"Udah jam 11 juga, Baek. Besok Lo bilang mau lari pagi di sekitaran taman depan komplek" –ini Luhan.

Baekhyun menganggukan kepala dengan ekspresi merajuk lalu Chanyeol mendekat untuk menyampirkan tangannya di sepanjang bahunya Baekhyun. Kedua anak manusia itu berjalan ke arah kamar Baekhyun. Tidur berdua satu ranjang dengan Baekhyun, berpelukan untuk menghilangkan suhu dingin akibat langit yang menangis tersedu di luar adalah pikiran bahagia milik Chanyeol sebelum Sehun menarik kerah bagian belakang kemejanya tepat di depan pintu kamarnya Baekhyun lalu berseru " Lo pikir Lo mau kemana ? Tidur ama Gue di kamar sebelah !. Enak aja Lo tidur berduaan ama Baekhyun, masuk berdua keluar bertiga Gue samurai batang Lo entar"

Chanyeol berbalik lantas mengangkat kepalanya untuk menunjukkan alisnya yang dinaikkan sebelah pada Sehun. "Gue heran ama Elo, Hun. Elo harusnya ngegunain ini jadi kesempatan ngedeketin Luhan, dia kan takut gledek. Manfaatin kesempatan yang ada, bukannya ngegangguin Gue yang mau pacaran ama Baekhyun"

"Heh ! Gue mending ngundur waktu jadian ama Luhan daripada Sepupu Gue pas keluar entar malah berbadan dua gara-gara hormon Lo"

Inilah yang menjadikan Baekhyun memberikan restunya untuk Sehun yang ingin menjadikan Luhan sebagai kekasih hatinya. Sebagai sahabat, Baekhyun merasa memiliki hak untuk menentukan calon kekasih yang baik untuk Luhan. Baekhyun sudah menganggap Luhan sebagai dirinya dalam tubuh yang berbeda. Luhan tidak akan berpikir dua kali untuk memutuskan apakah dirinya akan menolong Baekhyun atau tidak. Baekhyun masih ingat ketika dulu Luhan kelelahan mengurusinya saat sedang sakit hingga membiarkan tubuh Luhan berpeluh karena membeli obat di ujung jalan dekat komplek rumahnya dengan mengandalkan alas sandal dan aspal yang saling bergesekkan selama setengah jam lebih, membuat bubur, mengompres kening Baekhyun yang suhunya bisa mematangkan telur yang digoreng, yang terakhir Baekhyun memang berlebihan. Luhan bahkan rela absen dari sekolah hanya untuk mengurusi Baekhyun yang saat itu bahkan umur pertemanan mereka baru menginjak dua tahun. Hingga malam ketika Baekhyun sudah membaik dirinya mendapati Luhan yang tertidur di kursi makan dengan tangan terjulur sebagai bantal, tepat didepannya ada baskom kecil berisi air dingin yang didalamnya terdapat handuk kecil, handuk yang menjadi perantara untuk memindahkan panas di tubuh Baekhyun ke air tersebut. Sejak saat itu Baekhyun berjanji akan memberikan Luhan yang terbaik dari apapun yang dirinya bisa berikan, yeahh termasuk kriteria calon kekasih idaman.

"Kesempatan engga dateng dua kali, Bloon" Baekhyun tersadar dan Sehun menggeram untuk toyoran yang Chanyeol berikan pada keningnya.

"Sehun bener, Chan. Meskipun aku percaya kamu engga bakalan macem-macem di dalem tapi engga etis aja kalo kita tidur berduaan di satu ranjang"

Chanyeol mengumpat dan Sehun menyeringai. Tapi Chanyeol masih mencoba "Kamu juga takut gledek, Bee. Makanya aku mau nemenin kamu, tidur di dada aku yang bidang bakalan bikin kamu makin nyenyak tidurnya" –ini bukan rayuan.

Baekhyun menggigit bibirnya, pertanda mulai ragu akan keputusannya. Baekhyun lupa jika dirinya dan Luhan memiliki ketakutan yang sama, takut akan suara guntur yang menggema saat hujan lebat turun. "Aku juga engga mungkin ninggalin kamu tidur sendirian, Bee. Lebih engga mungkin lagi kalo aku tidur sama Luhan kan ?"

"Yaudah, Hun. Gue tidur ditemenin Chanyeol, Elo nemenin Luhan. Engga mungkin juga Lo ama Chanyeol satu kamar, yang ada entar Gue ama Luhan main kenceng-kencengan ngejerit"

"Tapi, Baek. Gue masih engga yakin kalo –"

"Udah, Hun. Gue yakin ke Chanyeol kaya Gue yakin ke Elo yang engga bakalan macem-macemin Luhan" Final, Chanyeol tersenyum dan Sehun terdiam lalu Baekhyun melanjutkan "Masalah kelar, sekarang Elo samperin Luhan terus temenin dia tidur, Gue yakin tuh anak sekarang lagi sibuk melukin bantal dipojokan sofa"

Chanyeol dan Baekhyun masuk ke kamar, menutup pintu namun tidak dikunci. Itu sebagai bukti kalau Chanyeol akan menjaga Baekhyun. Sehun berlari menuruni tangga untuk melihat Luhan dan benar saja apa yang dikatakan Baekhyun tadi. Sekarang ini, Luhan sedang duduk di sudut sofa dengan mata terpejam dan tangan yang meremas bantal sofa.

Sehun mendekat untuk menggapai Luhan ke dekapannya lalu penuh kelembutan berbisik "Sstt, ada Gue disini. Elo engga usah takut", menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Si Penakut langsung menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Si Pemberani. Tidak ingin peduli jika Sehun nantinya akan mengejek dengan senjata kejadian malam ini, Luhan justru bersyukur Sehun mau memberikan dekapan hangat untuk dirinya. Atas kebaikan Sehun malam ini, Luhan janji akan mengabulkan satu permintaan Sehun di kemudian hari.

"Elo mau tidur disini atau di kamar ?"

Tidur di ranjang pasti lebih nyaman daripada di sofa, "Kha..Kamar" Luhan menjawab namun tidak melepaskan pelukannya. Petir dan Guntur masih saling berlomba mendominasi hujan hampir tengah malam ini, itulah alasannya Luhan yang tidak ingin melepas leher Sehun meskipun hanya sedetik.

Sehun tidak munafik ketika hatinya tidak mengingkari apa yang otaknya pikirkan. Dia senang, senang mendapati malam ini Luhan tertidur didalam pelukannya. Sehun harus bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah menurunkan hujan di malam ini, lalu tidak melupakan mulut cerewet Sang Sepupu yang telah berhasil membuat Luhan memutuskan untuk menginap disini.

Besok sekolah libur, dengan alasan itu Sehun membiarkan kedua kelerengnya tetap bersinar. Memenjarakan sinarnya pada seraut wajah cantik juga manis tepat didepannya saat ini.

Sejak satu jam yang lalu Sehun disibukkan dengan aktivitas menenangkan Luhan yang tetap saja tidak bisa tidur sebab guntur masih terdengar memekakkan di telinga mungil Luhan, lalu mulut dan tangannya Sehun mulai bekerja. Membisikkan serentetan kalimat penenang seperti "Gue disini, Lu. Engga akan kemana-mana bahkan pas nanti Elo buka mata juga Gue janji Gue masih disini" , "Hujan tuhh sebenernya enak tau, kita bisa tidur lebih nyenyak dari biasanya karena suasananya senyap banget". Lalu tangan Sehun tidak berhenti mengelus punggung Luhan, memberikan kenyamanan melalui ujung jemari agar Si Cantik merasa nyaman tidur berbantal lengan kekar miliknya, bibirnya yang sesekali mendarat di kening Luhan pun dilakukan dengan tujuan menyalurkan perasaan tenang dari hatinya.

Posisinya terlalu intim memang Sehun akui. Tapi Sehun tidak ingin membohongi hatinya jika dia memang mengharapkan ini sejak satu tahun silam. Lalu ketika manik Sehun melihat pergerakan teratur ketika Luhan bernafas yang memberikan tanda bahwa gadis itu sudah tertidur, Sehun memberanikan diri mencoba merundukkan kepalanya dengan tujuan melabuhkan bibirnya pada pipi Luhan yang Sehun yakin benar tidak akan terjadi jika Sehun melakukannya saat Luhan dalam keadaan sadar. "Gue sayang sama Lo. Gue harap kita engga akan berantem engga jelas lagi ke depannya"

Lalu netranya Sehun pejamkan untuk menyusul Luhan tidur setelah kedua matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Hanya saja Sehun tidak sadar jika Luhan belum tertidur sepenuhnya hingga semua kalimat yang Sehun lontarkan berhasil membuat saraf auditori Luhan mengirimkan sinyal ke otak hingga apa yang dikatakan Sehun terekam di otaknya Luhan.

Lalu berjam-jam kemudian awan mendung yang menangis tergantikan oleh sinar matahari yang begitu hangat, hasil dari berputarnya bumi hingga kini cahaya matahari dapat dinikmati oleh ke-empat remaja yang nyatanya masih merasakan kenyamanan dari empuknya ranjang. Rencana lari pagi yang semalam di susun harus batal sebab mereka bahkan baru pulas saat dini hari tadi.

Luhanlah yang pertama kali menyambut hangatnya sinar yang matahari berikan. Hanya diam, diam yang berakibat otaknya kembali mengingat kejadian semalam, Sehun yang mengeluarkan isi hatinya.

Luhan hanyalah gadis biasa, yang juga bergetar jika ada laki-laki yang mengatakan rasa sukanya. Tapi yang mengatakan rasa suka itu adalah Sehun, lelaki yang setiap memiliki kesempatan untuk mengganggunya pasti akan dimanfaatkan dengan baik. Luhan hanya tidak ingin terjebak pada perasaan yang jika boleh dirinya terka hanyalah perasaan main-main dari seorang Oh Sehun.

Tapi, pertanyaan Baekhyun tempo hari yang mengatakan bahwa bagaimana jika Sehun memiliki perasaan padanya kembali datang menambah berat beban kinerja otaknya. Luhan mengangkat kepalanya untuk melihat rupa milik Sehun. Luhan akui Sehun memang memiliki rupa yang rupawan, bahkan jauh diatas rata-rata rupa teman di seantero sekolahnya, otaknya juga jauh dari kata bebal, tapi jika tujuan Sehun hanya mempermainkan perasaannya maka maaf saja, Luhan tidak akan memberikan hatinya kepada Sehun untuk dititipkan jika nantinya dikembalikan dalam keadaan hancur berkeping-keping.

Tangan Luhan terjulur untuk meraih pipi Sehun, ada binar ragu saat kedua matanya menatap wajah Sehun "Apa bener Elo beneran suka sama Gue ?, Gue cuma engga mau jadi salah paham sama perasaan yang Elo kasih, Gue engga mau terlalu berharap dan bikin Gue nantinya malah patah hati seandainya Elo cuma main-main, Hun"

Tangan Luhan turun menuju tempat semula namun harus terhenti tepat di dada Sehun karena sang pemilik dada sudah terjaga, jangan tanyakan bagaimana respon Luhan untuk hal itu. 'dhi..dia engga denger apa yang Gue bilang kan ?, ohh please nggak denger.. nggak denger..'

Sehun bergerak untuk memiringkan tubuhnya dengan tujuan agar berhadap-hadapan dengan Luhan. Dengan begini Luhan akan mengetahui bahwa Sehun menghargainya saat berbicara dengan Sang Gadis,karena berbicara dengan menatap lawan bicaramu adalah salah satu bukti bahwa kau memberikan perhatian atas apa yang diucapkannya.

"Gue sayang sama Elo, itu yang harus Elo tau. Di hidup Gue engga ada yang namanya main-main kalo soal perasaan, Lu. Kalo Gue bilang sayang berarti Gue beneran sayang, engga lagi ngada-ngada"

Pancaran mata Sehun begitu menusuk Luhan, terlalu dalam. Dan Luhan suka hal itu, maksudnya Luhan menyukai karena hal itu membuktikan bahwa Sehun memang tulus berbicara seperti itu sebab Luhan meyakini bahwa mata tidak akan pernah berbohong dan Luhan tidak melihat bahkan walau hanya setitik kebohongan di mata Sehun. Luhan terdiam namun matanya menyiratkan perintah agar Sehun melanjutkan apa yang ingin disampaikannya dan Sehun menangkap sinyal itu dengan baik hingga ia melanjutkan "Kalo Gue minta kita gencatan senjata, Elo mau ngabulin ? Gue mau cari perhatian dari Lo pake cara yang lebih manusiawi aja ke depannya, bisa ?"

'Jadi selama ini Elo ngegangguin Gue biar bisa deket sama Gue ? Biar bisa cari perhatian ke Gue ?"

"Lu, please say something"

Meskipun Sehun sudah menyuruh Luhan untuk mengatakan sesuatu, kendati demikian Luhan tetap membiarkan lem merekat di sela bibirnya. Si Gadis hanya memberikan anggukan kepala. Meskipun begitu, Sehun tetap merasa lega itu berarti Luhan setuju untuk didekati olehnya, yaa setidaknya itu anggapan Sehun atas jawaban yang Luhan berikan.

"Kita jalanin aja dulu, Hun. Gue janji Gue bakalan baik-baik sama Elo asal Elo juga engga akan rese ke Gue"

Sehun setuju lalu menganggukkan kepalanya untuk memberikan jawaban atas penawaran yang Luhan berikan, lalu Sehun sadar bahwa Luhan banyak menjadi incaran para siswa di sekolahnya, atas pemikiran itu Sehun juga mengajukan syarat seperti "Gue engga akan ngedeketin cewek manapun selagi kita deket, dan Gue harap Elu juga mau ngelakuin hal itu ke Gue, Setuju ?"

Luhan mengangguk pun tersenyum juga. Lalu Sehun mendaratkan kecupannya ke kening Luhan lantas membawa Luhan ke dekapannnya yang erat. Dalam hati kecilnya Sehun berterima kasih kepada Chanyeol yang menyarankan agar dirinya tidur dengan Luhan, dalam artian yang sebenarnya. Lalu Sehun juga tidak akan melupakan jasanya Si Cerewet, dengan mengikhlaskan kartu emasnya kehilangan saldo yang tidak sedikit Sehun akan terima jika itu bisa membuat dirinya bersama Luhan, seperti saat ini.

Lalu biarkan Chanyeol mengangkat kepalanya dengan bibir yang terbuka saat melihat Sehun dan Luhan berjalan turun secara bersamaan di anak tangga, tidak ada yang salah sebenarnya. Hanya seingat Chanyeol semalam Sehun menolak untuk tidur berdua dengan Luhan, lalu apa yang terjadi semalam sampai kedua anak manusia itu yang biasanya ribut justru sekarang sedang berangkulan mesra. Chanyeol harus mengintrogasi Sehun nanti, ya harus !.

"Heyy, Kamu kenapa sihh ? Laler masuk baru tau rasa nanti" Chanyeol berkedip, baru sadar jika dirinya beberapa saat lalu tidak membiarkan saraf motoriknya bekerja.

"Kamu liat itu, Bee"

Chanyeol merangkum wajah Baekhyun untuk memutarnya tiga puluh derajat dan respon Baekhyun jauh berbeda dari Chanyeol. Si Gadis Cerewet hanya memberikan seringaian jahil dengan mata memicing penuh godaan. Yeahh dia tau apa yang sudah terjadi pada dua manusia yang kini sudah duduk di sofa dimana letaknya berada tepat di depan dirinya dan Sang Kekasih, insting Baekhyun memang jarang sekali meleset.

"Udah jadian ?" –ini Baekhyun yang bertanya.

Luhan dan Sehun menggeleng, "Kita sepakat mau ngejalanin dulu aja, tapi kita juga engga bakalan deket sama cewe maupun cowo lain"

"Friendzone ?"

"Bukan gitu juga, Tiang" Lemparan bantal Chanyeol terima dari Sehun lalu ditambahi dengusan setelahnya, "Ini namanya PDKT" Sehun menjawab lalu melanjutkan "Gitu aja engga tau. Dasar kampungan !"

"Gue cuma nunggu kapan kita double datenya"

"You wish !" Baekhyun cemberut karena Sehun mengatakannya dengan sepenuh hati, "Gue kalo ngedate pengennya berduaan, Quality Time !"

Baekhyun sakit hati lantas batinnya berbicara 'Liatin aja entar pas kartunya Gue pegang. Gue kuras tabunganlu, Hun. Biar tau rasa !'

Berminggu-minggu terlewati semenjak Sehun dan Luhan berkomitmen untuk saling menjajaki, hal itu memang benar-benar dilakukan oleh keduanya. Sehun yang setiap hari menjemput Luhan untuk pergi ke sekolah maupun mengantarnya kembali ke rumah, menurut Sehun itu adalah salah satu komunikasi yang bisa dilakukan oleh mereka sebab jika di dalam perjalanan mereka akan membahas apa saja yang menurut mereka perlu untuk diketahui satu sama lain. Seperti Sehun yang membocorkan aibnya mengenai perasaan sukanya pada Luhan semenjak satu setengah tahun lalu, meminta bantuan kepada Baekhyun agar mendekatkannya kepada Luhan.

Begitupun juga dengan Luhan, Luhan tidak merasa malu menceritakan bahwa dirinya menyukai salah satu karakter dari kartun yang bernama Goku dalam serial kartun Dragon Ball, alasannya pun Luhan sampaikan kepada Sehun bahwa Goku adalah sosok yang pekerja keras, Luhan menjadikan Goku sebagai acuan dalam menginginkan sesuatu, karna Luhan percaya apapun yang seseorang inginkan dalam hidupnya pasti akan tercapai jika ia bekerja keras. Menurut Luhan memberitahukan hal-hal kecil seperti itu kepada calon pasangan justru membuat hubungan semakin erat.

Sehun dan Luhan pun tidak jarang keluar saat malam hari, mencoba kembali mengenal satu sama lain dengan baik. Sampai Sehun tahu bahwa Luhan alergi terhadap makanan yang berasal dari laut, begitupun Luhan yang mengetahui bahwa Sehun juga memiliki alergi, namun alergi terhadap binatang yaitu segala nama binatang yang bernafas dengan trakea, serangga.

Dan hampir setiap malam Sehun dan Luhan akan membiarkan kerongkongan mereka kering dengan ponsel sebagai media untuk mereka saling berbicara, berbicara hal-hal kecil atau berbagi bagaimana mereka melalui hari mereka masing-masing.

Mereka juga beberapa kali janjian untuk berkencan di suatu tempat dengan datang sendiri-sendiri, seperti saat ini. Sehun sudah sampai sekitar lima menit yang lalu di salah satu kedai yang menyediakan berbagai panganan berbahan dasar kopi lalu memutuskan untuk duduk di kursi berjajar membentuk garis horizontal yang letaknya tepat menghadap ke jendela kaca untuk menjadi penghubung dengan jalanan yang menyuguhkan pemandangan orang-orang hilir-mudik, pakaian yang casual dan sepatu sneakers menjadi pilihan Sehun untuk kali ini.

Kemudian sepuluh menit berlalu baru Luhan muncul dengan wajah penuh senyumnya. Sehun dapat melihat Luhan tampak cantik dengan rambut coklat madunya yang digerai, gaun berbahan jatuh sebatas lutut juga flat shoes yang sewarna dengan gaun yang dikenakannya –Hijau Toska, sling bag bertali tipis menjadi pelengkap pakaian Luhan saat ini, polesan alami kian menambah rupawannya wajah Sang Gadis.

"Elo udah lama ? Maaf yaa, tadi bisnya lama datengnya"

"Bukan Elo yang terlambat, Gue aja yang datengnya kecepetan"

Sehun tersenyum pun begitu juga dengan Luhan, lalu Luhan menyusul Sehun untuk duduk tepat di samping pemuda pucat tersebut. Si Lelaki sudah memesankan cappucino ice blend untuk Si Gadis, Luhan memang menyukai cappucino, informasi itu Sehun dapati dari percakapannya dengan Sang Gadis saat mengantar Luhan pulang ke rumahnya setelah bermain seharian di rumah Sehun.

Lalu lima menit kemudian datang sepotong tiramisu cheese cake dan sepotong puding kopi di piring kecil yang sudah di pesan Sehun sebelum Luhan datang. Sedetik kemudian mereka sudah bertukar celotehan untuk membunuh waktu sebelum mereka akan pergi ke suatu tempat yang Sehun janjikan akan menyenangkan untuk Luhan.

Kalau tahu Sehun bisa bersikap manis seperti ini, Luhan sedari dulu akan membuka hatinya untuk Sehun. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan yang memiliki sikap manis seperti ini ? katakan pada Luhan dan Luhan akan menendang bokongnya, Luhan penendang yang hebat ngomong-ngomong, jangan percaya pada wajahnya yang manis dan cantik, itu tidak cocok dengan kegemaran Luhan akan bola tendang, yeahh meskipun tetap saja jika anak perempuan bermain bola maka akan seperti gula yang dikerbuni semut dengan para perempuan yang menjadi para semutnya.

Waktu dua bulan Sehun pikir sudah cukup untuk mereka ambil sebagai masa pendeketan, Sehun juga mengerti bahwa perempuan memiliki keinginan untuk mempunyai status yang jelas, maka dari itu detik ini Sehun memberanikan diri untuk meminta Luhan sebagai kekasihnya.

Tangan Sehun terjulur untuk menggenggam jemari Luhan, pandangan matanya begitu dalam. Ibu jari Sehun bahkan dengan berani mengelus lembut jemari Luhan dengan lembut, kontras dengan detak jantung yang saat ini berdetak di dalam dada Sehun.

"Lu, kita udah lebih deket selama dua bulan ini. Elo juga tau kalo Gue engga main-main soal hubungan kita. Gue pengen Elo jadi pacar Gue, mau kan ?"

Sehun tidak akan tahu kalau jantung Luhan sama berdebarnya dengan milik Sehun. Luhan diam bukan karena tidak ingin menjawab, Luhan ingin menjawab namun dirinya harus lebih dulu menenangkan debaran jantungnya agar ketika Luhan berbicara nanti lidahnya tidak akan berbuat ulah.

"Lu, pleaseee.. jangan diem aja"

Luhan memejamkan matanya untuk menetralkan irama detak jantungnya yang menggila dengan tambahan mengeluarkan udara dari dalam dirinya melalui mulut secara perlahan dan itu cukup membantu untuk saat ini, lalu bibirnya mulai terbuka untuk menjawab.

"Sehun ?"

'Lhoo ?, itu bukan suara Gue'

Baik Sehun maupun Luhan serempak menoleh ke arah asal datangnya suara. Disamping kanan Sehun ada seorang perempuan yang memandang Sehun dengan tatapan berbinar juga penuh kerinduan, itu yang diterima oleh mata bening milik Luhan.

"Elo beneran Sehun kan ? Astaga, kangen banget Gue ama Elo" Lalu tanpa tendeng aling-aling perempuan itu mendaratkan bibir penuh dengan pewarna merah yang berasal dari lipstick ke pipi kanan dan pipi kiri milik Sehun secara bergantian. "Sombong Lo engga pernah bales chat dari Gue" Lanjut gadis yang memiliki rambut berwarna caramel baby light.

Pertanyaan di benak Luhan pun muncul, 'Siapa sihh nih cewe ? Temen ? Kalo temen engga mungkin pake cipika-cipiki mesra kaya gitu !"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Udah berapa lama eyke ngilang ? yaelah baru juga sebulan, engga ada yang kangen kan ? #nangis di ujung menara, siap lompat.

Ada yang review kalo sebaiknya pake bahasa baku, dan jawaban gue : honey, gue udah biasa pake bahasa baku cuma sekarang lagi pengen coba aja bisa apa engga nyelesain ff kaya gini yang pake dialognya non-baku, ini sebenernya tantangan buat gue, karena ff baku udah mainstream XD. Joss sekian.

Typo(s) ? Correct me ^^,

Ketemu lagi di next chap yaa,,

Jakarta, 081016

Sign

Hunhan Addict