Andreas mengambil sebuah buku, lalu membacanya, menyimpannya lagi, mengambil buku kembali, dan akhirnya ia menyerah pada buku ke dua puluh.

Sekalipun membacanya berulang-ulang buku-buku di sini tidak menghasilkan sama sekali.

Tubuhnya merosot, menyandarkan kepalanya pada rak-rak dibelakangnya, lalu memejamkan mata untuk menenangkan dirinya sendiri.

Demi apapun.. tidak adakah yang bisa membantunya?

"Kau menyerah, Pak tua?" suara yang sangat familiar dipendegarannya. Suara yang paling ia sukai di dunia ini.

"Aku bukan Pak tua," gumam Andreas dengan mata yang tetap terpejam.

"Dimataku kau terlihat seperti kakek tua," tukas gadis ini seraya ikut mengambil tempat tepat disamping Andreas. "Semangatmu buruk. Jauh lebih buruk dari kakekku yang sudah tiada tiga abad yang lalu,"

"Bahkan kakekku masih bersemangat untuk berperang diumurnya yang senja,"

"Aku tidak peduli," sahut Andreas acuh.

"Cih.. bilang saja malu. Malu mengakui bahwa kau memang kakek tua, hahaha.." dan tawa terdengar dari mulut gadis ini.

"Walaupun tua. Aku tetap tampankan, Claryn?" tanya Andreas pada gadis disampingnya seraya menatap wajah gadis itu.

Dan Claryn yang linglung hanya diam saja. Otaknya tidak berfungsi dengan baik seketika.

"Nona Lee? Kau baik-baik saja?" ucap Andreas seraya melambaikan tangannya di depan wajah Claryn. "Aku tahu, aku mempesona. Tapi tidak perlu menunjukan wajah bodohmu seperti itu."

Claryn mendapat kesadarannya. Bodoh?! Yang benar saja!

"Tutup mulutmu, Andreas Kim. Atau aku akan mengirimmu ke neraka!" dan tawa Andreas meledak diperpustakaan yang sunyi karena ucapan gadis itu.

OoO

"Kau harus di rawat beberapa lagi. Yak! Hwang Rara, dengarkan aku!" teriak Chanyeol pada Rara yang mengabaikannya. Gadis ini tengah sibuk membereskan barang-barangnya.

"Berikan aku alasan mengapa aku harus di sini?" tanya Rara bersidekap dada menunggu jawaban pria itu. Dan nihil pria ini tidak menjawabnya sama sekali.

Chanyeol hanya mengusap tengkuknya. Ia bingung harus menjawab apa.

Tidak mungkin Chanyeol memberi tahu alasan sebenarnya bukan? Memberi tahu gadis ini bawa di luar sana ada seorang penyihir wanita gila sedang mencoba membunuh gadis ini.

Huh.. itu tidak mungkin. Yang ada gadis ini bisa koma di tempat jika mengetahuinya.

"Aku sudah sehat. Tidak perlu berlama-lama di tempat ini," Rara berjalan melewati Chanyeol dengan santai. Hingga langkahnya terhenti karena sebuah tangan yang menahan pergelangan tangannya.

"Baik, kau boleh pulang. Tetapi dengan satu syarat,"

Rara menaikan alis kanannya. "Syarat?" tanya gadis ini dengan tatapan tidak mengerti.

Chanyeol menghembuskan napas kasar. Ia tahu ini juga bukan ide baik, bahkan ide ini terdengar gila. Tapi ini satu-satunya cara. Mau tidak mau gadis ini harus mau.

"Kau harus pulang keapatermantku. Kerumahku. Sampai batas waktu yang aku tentukan," ekpresi gadis berubah. Apa-apaan? Mengapa ia harus melakukan itu? batin Rara kesal. Dan ketika ia membuka mulut pria ini sudah menyela begitu saja.

" Dan aku tidak menerima penolakan." Tukas Chanyeol dengan seringainya ketika melihat ekpresi masam dari gadis ini.

OoO

"Oh ayolah, Hyung.. mengapa kau sangat lama?!" desah Chanyeol karena ia merasa bahwa hal ia lakukan saat ini seperti sia-sia.

"Sebentar lagi. Kau duduk manis saja," suruh Andreas seenak hatinya.

Chanyeol mendengus kesal. Tapi tetap melakukan hal yang Andreas suruh.

Chanyeol duduk di bangku yang bersebelahan dengan jendela, dan pemandangan dari jendela itu mengarah kepada taman depan rumah Andreas.

"Bunga Edelweis. Rara sangat menyukai bunga itu," gumam Chanyeol saat melihat salah satu bunga yang mengisi halaman rumah Andreas.

Andreas tersenyum samar di tengah kegiatannya ketika mendengar gumaman pria itu. Cahaya apa yang gadis itu ciptakan sehingga membuat seseorang yang sudah dianggap adiknya ini menjadi seseorang yang berkepribadian hangat?

"Ini, tehnya sudah jadi. Kau coba, dan beri tahu apa yang kau rasakan," ujar Andreas seraya menyodorkan secangkir teh kepada Chanyeol. Sedangkan Chanyeol menatap teh itu prihatin.

Teh? Yang benar saja? Fisiknya saja sudah seperti air cucian yang bercampur macam-macam zat. Tidak berselera hanya untuk melihatnya. Chanyeol bergidik ngeri membayangkan rasa dari teh itu.

"Diminum dahulu. Setelah itu baru kau boleh berkomentar dengan ekspresi menyebalkanmu itu!" Chanyeol hanya tersenyum menampakan barisan giginya. Hah.. Hyung-nya yang satu ini peka sekali.

"Ada efek sampingnya?" Andreas menggeleng.

"Kau menggeleng tanda tidak ada atau tidak tahu?!" seru Chanyeol seraya menunjuk cangkir teh.

"Tidak tahu.." jawab Andreas santai. Chanyeol langsung mendorong cangkir itu menjauh.

Mencicipi teh itu? Tidak. Terimakasih. Chanyeol masih sayang dengan jiwanya.

"Minum!" perintah Andreas. Dan mendorong cangkir itu mendekat kembali ke arah Chanyeol. Chanyeol menggeleng angkuh tanda ia menolak. "Park Chanyeol!"

"Mengapa tidak kau sa-"

"Ah.. kalian sangat lama. Sini biar aku yang mencicipinya!" tukas Claryn yang tiba-tiba sudah mengambil tempat disamping Chanyeol. Dan meminum teh itu dalam satu tegakkan. Chanyeol menatap wanita disampingnya kagum.

"Woah.. Noona, kau keren sekali!" tukas Chanyeol seraya memberi dua jempol pada gadis disampingnya. Berbeda dengan Andreas yang menatap gadis ini ngeri. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan gadis ini?

"Bagaimana?" tanya Andreas yang juga tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.

"Apa teh ini di buat untuk suatu hal?" tanya Claryn pada Andreas. Andreas mengangguk. "Apa?"

"Mendeng.." ucapan Andreas terhenti oleh Claryn

"Chanyeol, Rara mencarimu," ujar Claryn memberitahu seraya mempertajam pendengarannya. Bermaksud ingin tahu dimana tempat gadis itu mencari Chanyeol. "APA?! KAU SUDAH GILA MENGAJAK GADIS ITU KEAPATERMANTMU?!" teriak Claryn tidak percaya seraya menoleh kearah Chanyeol yang berada disampingnya.

Tapi sayang saat itu terjadi, pria itu sudah menghilang. Kekuatan teleport membuat Chanyeol bisa menghilang sesuka hatinya.

"Anak itu pasti sudah gila!" dengus Claryn yang masih tidak percaya, "Sebenarnya apa pengaruh dari minuman beracunmu ini, hah?!" tanya Claryn menatap Andreas garang.

"Sesuai yang aku harapkan. Ternyata berhasil," ucapan pria ini tidak membantu sama sekali.

Claryn, memutar bola matanya jengah. "Tuan Kim.. aku bertanya padamu apa pengaruh dari racun yang baru aku minum ini?"

"Itu bukan racun. Pengaruh dari teh itu, apa kau tidak menyadarinya?" Claryn menatap Andreas tidak mengerti.

Andreas menghembuskan napasnya. "Bolehkah aku bertanya sejak kapan kau bisa mendengar dari jarak jauh? Dan sejak kapan Chanyeol menjadi tuli untuk hal itu?" tanya Andreas yang memperjelas segalanya. Dan seketika seulas senyum terukir di bibir mungil Claryn.

"Ah.. aku tahu. Teh ini mengambil kemampuan orang disekitarmu?" Andreas mengangguk.

"Wah.. ternyata teh yang seperti air cucian itu berpengaruh sangat keren.." tukas Claryn seraya menatap cangkir teh yang kosong, lalu setelah itu menatap kearah Andreas. Dan setelah itu ia bisa melihat tatapan tajam dari pria itu.

"A-aku bercanda. Hehehe.." tawa paksa Claryn.

"Tapi mengapa Chanyeol masih bisa menggunakan kekuatan teleportnya?!"

OoO

"Chanyeol? Chanyeol-ah? Park Chanyeol? Dimana kau?" panggil Rara beruntun seraya mencari Chanyeol di setiap ruang di apartemant.

"Chanyeol-ah.. kau di kamar? Aku masuknya," ucap Rara meminta izin.

Memasuki kamar pria itu dan melihat sekitar hingga ia merasa menemukan suatu hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Park Chanyeol..eh ruangan apa ini? Seingatku dulu tidak ada ruangan ini?" tanya gadis ini ketika melihat sebuah ruang tersembunyi di balik sebuah lukisan besar di kamar Chanyeol.

Pintu ruangan itu tertutup, dan dari dalam ruangan itu terpancar sinar merah yang tiba-tiba menjadi sangat terang, lalu kembali seperti semula.

Dan pintu ruangan itu terbuka, gadis ini melangkah mundur. Semakin pintu itu terbuka, semakin jauh langkah gadis menjauhi.

"Rara?"

"AAAAA!" teriak gadis ini terkejut seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Yak! Mengapa kau berteriak?! "

"Siapa kau?!" tanya gadis ini yang masih tetap menutup wajahnya.

"Ini aku, Park Chanyeol! Apa kau melupakanku dalam waktu satu jam? Cih, ternyata kebodohanmu di luar dugaanku!" dengus Chanyeol tidak percaya.

"Ah.. ternyata kau," gadis ini mengehembuskan napas lega dan menurunkan kedua tangannya. "Aku kira siapa.."
"Memang siapa lagi yang menepati ruangan ini kecuali aku?!" tanya Chanyeol. Rara mengusap tengkuknya. Ya memang siapa lagi kecuali pria itu.

Mungkin dia hanya melindur, hingga melihat yang tidak-tidak. Batin gadis ini membenarkan perkataan Chanyeol.

Chanyeol yang menyadari ekspresi Rara yang berubah. Gadis ini menundukan kepalanya seraya mengusap tengkuk. Itu artinya; ada suatu hal yang menganjal pikiran gadis ini. Chanyeol sudah hapal betul tingkah gadis ini.

Terjadi sesuatu selama Chanyeol pergi. Dan gadis ini bingung bagaimana harus memberitahunya.

"Hwang Rara.." panggil Chanyeol bermaksud bertanya. Gadis ini mendekat ke arah Chanyeol, lalu menarik pergelangan tangan pria itu. Berjalan keluar dari kamar, hingga akhirnya mereka berhenti tepat di balkon apatermantnya yang di dekat di ruang tv.

"Sini. Di sini," ujar Rara seraya menunjuk lantai yang sedang ia pijak. Chanyeol menatap gadis ini tidak mengerti. Apa yang maksudnya disini?

Rara menghembuskan napas. "Di sini, tadi ada seseorang di sini," Rara kembali menunjuk lantai.

"Seorang pria. Aku tidak tahu ia masuk dari mana. Tetapi wajah kalian sangat mirip. Aku pikir itu saudaramu. Ya, walau aku tidak tahu pasti. Tapi kalian benar-benar mirip! Hanya berbeda di warna rambut saja. Dan ketika aku ingin memberi minum, pria itu menghilang," jelas Rara. Lalu Rara kembali menatap Chanyeol.

Dan merasa itu pilihan yang salah karena setelah itu ia melihat wajah Chanyeol yang menegang dengan rahang yang terkatup.

Demi Detektif Kogoru Mouri yang selalu tertidur, wajah Chanyeol sangat menyeramkan saat ini!

OoO

"Sepertinya kau baru saja melakukan kunjungan keluarga," ucap Lenata pada seorang pria yang saat ini berdiri disampingnya dengan tangan yang sedang mengiris apel dihadapannya. Sedangkan pria itu hanya tersenyum simpul.

"Merasa bahagia? Ya, anggap saja ini hadiah atas kebebasanmu," lanjut Lenata seraya menyuapkan seiris apel. Tetapi apel itu sudah lebih dahulu di gapai oleh pria disampingnya. Dan dengan seenaknya memakan tanpa izin.

"Kau berbeda jauh dengannya. Setidaknya ia masih mempunyai sopan santun," dan pria disampingnya tertawa.

"Aku tidak perlu sopan santun untuk membunuh," ujar pria ini santai.

"Ya, kau benar.."

"Dan.. acara kunjunganku berjalan dengan buruk karena aku tidak bertemu dengannya,"

"Kakak yang malang. Bahkan adikmu sendiri tidak ingin melihat wajahmu," ejek Lenata.

"Ya.. walau tidak bertemu. Setidaknya aku mendapatkan gantinya. Kau tahu apa?" tanya pria ini pada Lenata. Sedangkan Lenata hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Aku– bertemu –dengan–si –pembawa–cahaya," lanjut pria itu dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan. Tangan Lenata seketika berhenti melakukan aktifitasnya.

"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Lenata.

"Aku hanya menitipkan salamku pada adik kecilku yang sudah lama melupakannku. Sepertinya ia tidak tahu bahwa adikku mempunyai saudara kembar. Itu terlihat jelas dari ekspresinya,"

"Jangan dekati gadis itu!" ucap Lenata dengan penuh penekanan.

"Mengapa? Jika aku bisa membunuhnya Senra akan memuji kesetianku," Lenata bangkit dari kursinya, dan dengan cepat mengarahkan pisau yang ia genggam tepat di leher pria itu.

"Karena jika kau menyentuh gadis itu. Akan aku pastikan kau akan pergi menyusul gadis itu. Jadi, pada akhirnya tidak ada pujian dan penghargaan untuk jasadmu!"

"Dia milikku. Senra memerintahkanku untuk membunuhnya. Hanya aku yang boleh membunuhnya. Tanpa seizinku, akan ku pastikan orang bernasib sama dengan apel itu." peringat Lenata lalu menjauhkan pisau itu.

"Jadi ingat itu, Elden Park!" dan Lenata melangkah menjauhi pria itu –Elden- kakak dari teman lamanya Chanyeol.

"Kau tidak akan membunuh gadis itu. Kau terlalu pengecut untuk melakukan hal itu,"

"Kita lihat saja nanti," ucap Lenata tanpa melihat atau menghentikan langkahnya.

"Kau menyukai adikku, Park Chanyeol. Dan kau tidak akan berani merusak hal yang membuatnya bahagia. Kau pikir aku idiot?" tanya Elden. "Lihat, kau bahkan menghentikan langkahmu ketika aku menyebutkan namanya," senyum kemenangan menghiasi wajah Elden.

"Kau memang harus benar-benar belajar sopan santun, Elden Park."

OoO

"Kau hobi membuat orang pingsan ya?" tanya Claryn dengan nada mengejek. Lalu mendapat sikutan dari pria disampingnya –Andreas. "Apa?! Aku benar bukan?!" pria disampingnya menggeleng tanda bahwa itu tidak benar.

"Kenapa kau membawa kesini? Ku pikir kau ingin menjauhkan gadis ini dari ingatan masa lalunya,"Ujar Andreas membuka suaranya ketika keheningan terjadi diantara mereka berempat –termasuk gadis yang pingsan itu-. Sedangkan yang di tanya hanya diam. Pria ini terus menatap gadis yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Lalu menggeleng sejenak.

"Aku harus membawanya, Hyung. Tidak ada pilihan lain. Elden sudah bebas, dan aku tidak ingin ia mengancam gadis ini," jawab pria ini.

"Apa tidak semakin berbahaya? Kau memasuki wilayah yang mudah di gapai oleh si iblis itu, Chanyeol," Chanyeol mengangguk. Ia yakin ini akan baik-baik saja. Chanyeol bangkit dari ranjang yang sedari tadi ia duduki. Lalu menatap kedua orang dihadapannya.

"Aku harus pergi." Alis Andreas dan Claryn bertaut. Menatap Chanyeol bertanya.

"Kembali ke apatermant. Ada yang harus aku urus, dan..." ucapan Chanyeol mengantung. Lalu menatap gadis yang terbaring itu sendu.

"Tolong jaga ia. Aku mohon. Demi penungguanku selama ini, aku mohon jaga ia."

OoO

Chanyeol menatap pria dihadapannya dalam keheningan di antara mereka. Pikirannya berkecamuk harus melakukan apa pada pria dihadapannya.

"Kau datang lebih cepat dari dugaanku," seringai terlihat jelas dari wajah Elden. "Karena gadis itu?"

"Apa itu penting?" tanya Chanyeol pada Elden. Seringai itu masih terpasang dengan baik di wajah pria itu.

"Kau sudah berubah, adikku," tukas Elden seraya memutar telunjuknya disekitaran bibir gelas.

Chanyeol berusaha untuk tidak menanggapi ucapan Elden.

"Kau bahkan tidak menanggapi ucapanku. Apa kau tidak rindu dengan, Hyung-mu ini?" Chanyeol mendengus. Yang benar saja ia merindukan iblis dihadapannya ini. Buat apa merindukan seseorang yang tega menghabisi keluarganya sendiri.

"Lupakan tentang kata rindu. Aku lebih menginginkan kau kembali ke neraka,"

"Sekalipun kau sudah berubah menjadi si penyihir baik. Tetap saja jiwa kegelapan masih tersisa didirimu. Jangan sia-siakan hal itu. Senra masih membutuhkanmu," Chanyeol tersenyum miris. Begitu besarkah eksistensinya di dunia kegelapan hingga mereka selalu memintanya kembali?

Ini beratus-ratus tahun berlalu dan mereka tetap sama. Memintanya kembali ke dunia yang sudah ia janjikan tidak akan pernah ia datangi.

"Hapus saja harapan itu mulai saat ini. Aku tidak akan kembali. Ratusan tahun yang lalu, sekarang, atau yang akan datang, " ujar Chanyeol dengan nada mengejek. "Jadi berhentilah berharap mulai saat ini,"

"Kau merelakan keluargamu untuk gadis sialan itu?" pertayaan Elden sukses membuat Chanyeol mengepalkan tangannya.

"Ini tidak ada hubungannya dengan gadis itu," Chanyeol menjeda ucapannya.

" Dan jangan pernah menyebutnya seperti itu." peringat Chanyeol penuh penekanan.

OoO

"Bunga Eldeweis? Bagaimana bisa?" gadis ini menatap pohon Eldeweis dihadapannya tidak percaya. "Ini bukan di puncak gunung," Rara menyentuh bunga yang dapat ia gapai.

"Demi Chanyeol yang tinggi menjulang. Bunga ini hanya ada di puncak gunung!"

"Apa yang sedang kau lakukan?" Rara menghentikan aktifitasnya. Lalu berbalik menghadap seseorang yang sepertinya bertanya padanya.

"Kau siapa?" tanya Rara.

"Aku pemilik rumah ini. Perkenalkan, namaku Andreas," pria dihadapan Rara seraya mengulurkan tangan.

"Namamu bukan Andreas. Namamu Junmyeon bukan? Kim Junmyeon? Tapi orang sering memanggilmu Suho. Karena kau memiliki sifat malaikat," lalu mengelengkan kepalanya pelan. Tersadar dari ucapannya yang melantur.

Hah.. kenapa kebiasaan aneh ini keluar?

"Maafkan aku. Ini suatu keanehan dalam diriku. Terkadang aku bisa berbicara di luar apa yang aku pikirkan. Sekali lagi maafkan aku," Rara menundukan kepalanya beberapa kali tanda ia meminta maaf.

"Tidak apa. Itu bukan suatu keanehan.." Rara menatap pria dihadapannya aneh. Bukan suatu keanehan? Yang benar saja.

"Kau sudah ketemu rupanya. Chanyeol mencarimu sedari tadi. Hah.. harusnya kau melihat wajah paniknya karena tidak menemukanmu," ujar seorang wanita dari balik punggung Suho.

Sedangkan seseorang yang disebutkan namanya hanya berjalan dengan bersidekap dada disamping gadis itu. Ah.. jangan lupakan wajah muramnya. Wajah yang paling Rara benci dari pria itu.

"Hallo namaku Claryn. Woah.. kau sangat cantik. Pantas Chanyeol mengilaimu secara berlebihan," blushh. Semburat merah terlihat di pipi Rara. Sedangkan Claryn hanya tersenyum melihat perubahan ekspresi gadis itu.

"Lihat. Kuping Chanyeol sama merahnya dengan wajah Rara." Ucap Suho seraya menunjuk telinga Chanyeol.

"Noona, Hyung. Berhentilah. Ini tidak lucu," dengus Chanyeol seraya berjalan ke arah Rara. Lalu, menarik pergelangan gadis itu paksa, dan menjauhi kedua orang menyebalkan itu.

"Hati-hati, Rara! Jika ia macam-macam tarik saja kuping caplangnya. Setelah itu dia pasti akan diam," teriak Claryn ketika melihat Chanyeol membawa masuk gadis itu kembali ke rumah.

"Hentikan. Apa kau tidak melihat mereka sudah seperti buah ceri saat ini?"

"Biarkan saja. Ini pembalasannku karena Chanyeol selalu usil padaku."

OoO

Chanyeol menatap gadis duduk dihadapannya gusar. Demi semua sumpah konyol yang selalu gadis ini ucapkan, gadis dihadapannya ini membuatnya merasa ingin melemparkan diri ke jurang. Ia mencari ke segala tempat setelah tahu gadis ini menghilang dari kamar yang gadis itu tempati.

Chanyeol bangkit dari tempat duduknya.

Tapi ini juga karena kebodohannya. Ia melupakan bahwa gadis ini sangat menyukai bunga Eldeweis. Jadi tidak mungkin gadis ini berdiam diri jika ada bunga yang gadis ini gilai dihadapannya.

Rara meneguk ludah perlahan. Tatapan Chanyeol padanya sangat horror, ia tidak tahu apa yang sedang pria itu pikirkan.

"Jangan lagi-lagi membuatku seperti ini," pria itu membuka suara.

"Aku hanya berkeliling. Dan kulihat tidak terjadi apa-apa pada dirimu," komentar Rara seraya melihat pria yang berdiri dihadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Chanyeol mendengus. Tidak apa-apa bagaimana? Ia bahkan sampai berpikir tidak-tidak ketika tahu gadis ini menghilang.

"Apapun itu jangan seperti lagi. Kau membuatku khawatir,"

Blush.

Semburat merah kembali menghinggapi wajah gadis ini.

"Chanyeol-ah. Kita ada dimana?" tanya Rara mengalihkan pembicaraan lalu bangkit dari kursinya. Berjalan mendekati jendela, lalu menyadarkan kedua tangannya yang di lipat di jendela sebagai penopang dirinya.

"Aku tidak pernah tahu ada bunga eldeweis yang bisa tumbuh dipekarangan rumah. Ini sangat ajaib kau tahu?" ucap Rara seraya menoleh ke arah Chanyeol. Chanyeol mengangguk. Setuju dengan ucapan gadis itu.

"Sebenarnya dimana kita?" tanya Rara kembali. Merasa pertanyaan sebelumnya diabaikan.

"Diduniaku," jawab Chanyeol yang kini sudah berada disampingnya. Rara memutar bola matanya.

"Duniaku dalam versimu sama dengan duniaku juga bukan?" Rara menengadahkan kepalanya. Melihat pria yang berbeda dua puluh centi darinya.

Dan menyesal karena seketika ia menjadi amat sangat sulit mengapai oksigen.

"Aku tahu, aku tampan," Chanyeol menoleh kearah gadis itu dan menyadari betapa kecilnya gadis ini. Gadis ini terlihat kecil dan rapuh. Tapi, Chanyeol akan mengangkat ucapannya jika ia melihat kehidupan sebelumnya dari gadis ini.

"Aku tahu, aku juga cantik. Kau tidak perlu menatapku seperti itu," ucap Rara membalikan ucapan Chanyeol. Menyadarkannya Chanyeol dari lamunan. Sedangkan gadis itu hanya tertawa pelan melihat tingkah pria itu. Dan kembali menatap taman dihadapannya.

"Iya, kau memang cantik. Seperti musim semi saat ini.." dan untuk kesekiankalinya wajahnya kembali memerah. Demi apapun ucapan pria itu tidak bisa di filter dulu ya? Dan posisi berbalik menjadi Chanyeol yang tertawa.

"Ini sedang musim panas, seharusnya. Tapi mengapa di sini musim semi?"

"Karena ini duniaku. Duniaku berbeda dengan duniamu," Rara mencibir. Sampai kapan Chanyeol akan berbicara tentang dunia pria itu dengan dunianya.

"Chanyeol aku tidak bercanda."

"Aku juga tidak." Rara kembali menatap pria itu. Meminta penjelasan. Dan yang ia dapat hanya pria itu yang menarik pergelangannya.

.

.

.

.

Mind to review?