Setelah sampai di korea, mereka langsung menjalani aktivitas seperti biasa jarang jarang mereka berkomunikasi karena jadwal yang sibuk kuliah terkadang sehun hanya mengirimkan pesan singkat atau menelephon sesekali di malam hari setelah tugasnya selesai, meskipun begitu hubungan mereka kian dekat, xiumin dan tao bahkan beranggapan kalau sehun adalah namjacingu luhan, luhan hanya tersenyum merespon kedua orang itu yang mendadak heboh saat melihat rupa sehun yang sangat tampan menurut mereka.
Saat ini luhan ada kelas kimia, tapi karena dosen yang berhalangan hadir jadilah kelasnya ribut
" aku dan dia hanya sahabat" ujar luhan tanpa menoleh kearah dua sahabat yang tak penah bosan mengintrogasinya sejak kepulangannya dari perancis, mata dan tangannya tetap sibuk mengerjakan tugas kimia yang dosen berikan
" aku tak percaya" tao menimpali
" kau bodoh atau apa ? sehun jelas jelas terlihat menyukaimu lebih dari sahabat" kali ini xiumin yang berbicara sambil memakan bakpau makanan kesukaannya..ayolah bahkan pipinya tak jauh beda dengan makanan itu gembul dan lucu, karena itulah luhan dan tao sering memanggilanya baozie
" dia memang seperti itu sejak dulu"
" bahkan aku dan baozie onnie juga bisa melihat itu, tatapan sehun ke kamu itu bukan lagi tatapan sahabat tau"
Luhan menghela nafas jengah dengan kedua sahabatnya itu, harus berapa kali dia bilang jika dia dan sehun hanya bersahabat tak lebih, meskipun tak bisa dipungkiri adanya sehun saat ini seolah memberikan kenyamanan khas untuk luhan, tapi dia masih terlalu takut untuk tahu apa yang dia rasakan sebenarnya
" kau harus move on dari kamjong itu luhanah" xiumin sebagai orang tertua diantara mereka selalu memberikan nasihat yang sama padanya
" yup..dan aku rasa sehun sangat bagus untuk dijadikan pilihan"
" jadi kalian ingin sehun jadi pelarianku gitu?" luhan kali ini mendongak kearah sahabatnya itu
"hei..memangnya kau tak menyukainya sedikitpun..akh maksudku sebagai seorang yeoja kau tak menyukai namja tampan kaya dan baik hati sepertinya..kau tak sebodoh itukan xi luhan"
" molayo~~ aku tak tahu apa aku menyukainya sebagai namja atau sebagai kakakku saja.."
"eng" tao mengerutkan dahi bingung dengan jawaban ambigu luhan
" well.. kau taukan dulu aku dan kai juga bersahabat tapi ternyata setelah kita putus hubungan kami tak seperti dulu meskipun aku dan dia sama sama memutuskan untuk bersahabat lagi.. aku dan dia sama sama canggung dan semakin menjauh seperti sekarang..aku hanya tak ingin itu terjadi padaku dan sehun..aku hanya tak ingin lagi ditinggalkan "
" lu..dengar aku pikir kau menyukainya, hanya kau terlalu takut mengakuinya.. berhenti menutup diri dari lelaki yang menyayangimu hanya karena si kamjong item itu "
" kalian terlihat cocok percayalah, kau hanya perlu membuka hatimu untuknya"
"bagaimana bisa begitu..aku bahkan tak tahu perasaan sehun sebenarnya padaku..lagian untuku move on itu tak harus aku menjalin kasih dengan lelaki, cukup dengan keberhasilan ku melupakan kai.. itu udah bisa disebut move on buatku, aku juga bukan gadis yang bisa jatuh cinta hanya karena fisiknya, aku perlu waktu lama untuk bisa memutuskannya"
" hah.. mau berapa lama kau tetap kukuh pada prinsip moveon mu itu" tao memutar bola matanya malas setiap kali luhan membicarakan prinsip moveonnya itu
" pertanyaannya.. sampai kapan kau baru akan berhasil melupakan kai hm?" xiumin bertanya pada luhan, yang membuat luhan tergagap sendiri, sampai sekarangpun selama 6 bulan ini tak pernah sehari pun luhan lupa memikirkan namja itu
" tuhkan kau tak bisa menjawab.." tao kali ini bicara sambil mencontek tugas milik luhan yang baru selesai dikerjakan luhan
" aku yakin pasti bisa melupakan kai.. aku tak ingin jadi yeoja jahat yang menjadikan sehun pelampiasanku dari kai, biarkan aku menghapus perasaaan ku dulu sampai hatiku benar benar kosong, dan siap menerima namja lain, aku ingin saat aku menjalin kasih lagi semuanyanya yang aku rasakan dimulai dari nol"
" lulu..lulu" xiumin menggeleng betapa keras kepalnya sahabatny ini, dia memang mengerti kenapa luhan jadi seperti ini, mempunyai pikiran seperti itu karena kesakitan yang selama ini dia rasakan, karena perasaan ditinggalkan,membuatnya seolah sangat hati hati untuk memilih namja, membuatnya seolah menutup diri dan itu membuat xiumin khawatir, sudah banyak namja yang ditolak luhan dengan alasan yang sama, tapi untuk sehun xiumin yakin dia namja yang baik untuk luhan, xiumin yang baru mengenalnyapun bahkan bisa melihat seberapa tulusnya cinta sehun untuk luhan, xiumin juga yakin luhan bukan gadis bodoh yang tak bisa mengartikan semua perlakuan sehun untuknya,gadis itu hanya takut dengan ketakutannya sendiri,
xiumin dan tao termasuk orang yang tahu betapa terpuruknya luhan karena kai, gadis yang mereka tahu gadis yang kuat tak pernah menangis, gadis yang mereka sebut berhati batu karena luhan tak pernah menangis dan tak pernah mengeluh dalam kondisi apapun tapi waktu itu untuk pertama kalinya luhan datang ke kelas dengan mata bengkak, memeluk mereka dan menangis.. dari situ mereka tahu seberapa rapuhnya gadis ini, sebesar itukah cintanya untuk kai, sampai bisa merobohkan batu dihatinya,, sebesar itukah sayangnya sampai dia sendiri tak bisa menahan tangisnya.. mereka selalu berusaha membuat luhannya kembali, bukan luhan yang terlihat kuat tapi akan langsung rapuh saat semuanya berbicara tentang kai, mereka menyayangi luhan.. terlalu sayang rasanya jika luhan terus menangisi namja yang bahkan mungkin tak pernah memikirkannya lagi.
" setidaknya cobalah dengan membuka hatimu luhanah" tao tersenyum tulus memberikan nasihat untuk sahabatnya ini, luhan tersenyum sama tulusnya..dia tahu kedua sahabatnya ini sangat menyayanginya..
" BAOZIEEE NUNAAAAA"
Suara cempreng didepan pintu sukses membuat seisi kelas menoleh pada namja yang dengan wajah troll khasnya yang sekarang melambai lambaikan tangannya bodoh, xiumin menundukan wajahnya malu melihat kelakuan namja cingunya, sedangkan luhan sweedrop melihatnya, sedangkan tao? Dia sudah tertawa ngakak melihat xiumin yang malu karena ulah si chen trol itu. Seisi kelas kembali fokus pada apa yang mereka kerjakan tak lagi menghiraukan namja yang memang sudah sering keluar masuk seenaknya ke kelas mereka
" annyeong nuna" chen sekarang sudah ada didepan xiumin, xiumin mendongak memasang wajah datar
" ada apa?" xiumin menimpali sambil membereskan bukunya, rupanya dia sudah selelsai mencontek tugasnya
" ayo pulang bersama aku punya 2 tiket menonton film malam ini..bagaimana..mau ya nuna" chen menggoyang goyangkan badannya seperti anjing yang meminta makan pada majikannya, tao dan luhan hanya memperhatikan pasangan yang menurut mereka absurd ini.
" jika kau tak berhenti melakukan hal bodoh.. aku menolaknya "
" nuna..jahatnya pada namja cingu sendiri" chen mengerucutkan bibirnya yang sebenarnya tak pantas untuk namja seusianya, xiumin hanya meliriknya sebentar
"gereu..gereu.. aku akan diam tak banyak tingkah tapi malam ini kita nonton.. ya..ya..ya..nunana ya..pleaseeee" xiumin menghela nafas pelan mau bagaimana lagi sifat troll chen memang sudah mendarah daging, tapi meskipun begitu sebenarnya dia sangat mencintai namjanya ini " ara..ara.. khaja..lu, tao aku pergi dulu ya ngurus anak ini..by by" xiumin menarik lengan chen yang membuat senyum dinamja berwajah kotak itu semakin lebar, akhirnya dia pergi meninggalkan luhan dan tao, tao cengo melihatnya dia tak habis pikir bagaimana duo orang itu bisa bersatu padahal banyak sekali perbedaan diantara mereka
" aku masih tak habis pikir bagaimana mereka bisa pacaran" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya
"untuk beberapa kasus hubungan itu bukan mencari sisi yang sama taoya.. seperti seleting.. mencari sisi yang beda baru bisa bersatu, chen dan xiumin memang selalu berbeda dan terlihat mustahil jika bersatu, tapi justru bagi mereka perbedaan itulah yang bisa membuat mereka bersatu"
" aku..kapan ya bisa menemukan namja yang cocok" tao mengerucutkan bibirnya lucu
" aku iri nih..xiumin punya chen.. kau juga ada sehun yang selalu disampingmu aku? Aih..kenapa aku jadi jomblo ngenes gini sih" dia mengacak panjang hitamnya, luhan tertawa melihatnya
" tunggu saja..semua ada saatnya zizi ,semua gadis memiliki satu pangeran dihidup mereka"
Sehun baru saja selesai praktek anatomi, tubuhnya lelah karena sebenarnya dari kemarin dia belum tidur, laporan, presentasi, atau tugas lainnya yang menumpuk seolah tak memberikan waktu dia untuk beristirahat..itulah resiko mahasiswa kedokteran , menjadi dokter adalah cita citanya sejak kecil tepatnya sejak saat itu saat dia berumur 5 tahun saat ditolong oleh seorang gadis kecil
FLASHBACK
" sehuniee..mainlah keluar jangan terus mengurung diri dikamar sayang.. disini tidak buruk" ibu sehun mengetuk pintu kamar anak semata wayangnya tersebut, mereka baru saja pindah rumah tapi sehun kecil marah karena dia tak ingin meninggalkan rumah lamanya, mereka pindah karena memang ayahnya mulai membuka cabang perusahaan baru disini, sehun kecil hanya mendengus dan membuka pintu kamarnya, ibunya berjongkok mensejajarkan dirinya dengan sehun
" sehun anak ibu yang tampan.. kenapa hm?"
" aku tak betah ibu.. " sehun memeluk ibunya kebiasaan dirinya saat dia kesal
" makanya mainlah diluar..disana banyak anak anak seusiamu bermain..sana pergilah"
" aku tak mengenal mereka ibu" sehun berujar dengan wajah datar
" makanya kau harus kenalan dengan mereka" sungmin mengelus lembut rambut anaknya
" sana..mainlah" sungmin menyuruh sehun pergi keluar rumah, dia khawatir karena sejak kemarin sehun tak ingin keluar rumah karena asing dengan lingkungan barunya, karena tak ingin membantah sehun akhirnya mengikuti permintaan ibunya, dia mulai berjalan keluar rumah, berjalan disekitar kompleks, yah banyak memang anak anak kecil seusianya yang bermain tapi sehun memang tak terlalu suka bergaul sahabatnyapun hanya suho sepupunya, dan disinilah dia di taman sederhana di sekitar komplek rumahnya, dia hanya duduk diam menatap segerombolan anak yang sedang bermain bola tanpa niat membaurkan diri dengan mereka.
" seokjin oppa ya.. lempar padaku " seorang gadis berteriak dengan tampilan yang tidak bisa disebut bersih karena bajunya kotor disana sini rambutnya yang pendek membuatnya seperti namja, dari penampilannya bisa dipastikan kalau gadis itu tomboi, sehun memperhatikan gadis itu mendengus melihatnya
"AKHH"
Sebuah bola berhasil mengenai mata kiri sehun, membuat gadis si penendang bola itu mengkerut takut karena bersalah, akhirnya dia berjalan mendekati sehun bermaksud meminta maaf
" mianhae..aku tak sengaja"
Gadis itu menunduk takut didepan sehun, sehun menatapnya tajam meskipun masih kecil sehun memang selalu menatap orang dengan tatapan tajam nan dinginnya itu, temannya yang lain dan hampir semuanya namja mengikuti, berdiri dibelakang luhan,
" mianhe" ujar mereka kompak
Sehun masih menatap tajam gadis didepannya yang sudah berani padanya
" kau..aish..ini sakit tahu..lihat bengkak..tanggung jawab" sehun menunjuk kejam padanya, gadis itu akhirnya mengangguk dia melirik seokjin temanya yang kini mengambil bola disampingnya " oppa lanjutkan saja permainannya ya..aku harus tanggung jawab dulu" gadis itu menatap teman temannya, menatap mereka dengan tatapan polos yang lucu
" hati hati ya..dia seperti anak baru,aku tak pernah melihatnya,berteriaklah kalau dia macam-macam" seokjin membisikannya pelan sebelum menyusul yang lain kembali bermain,gadis itu hanya mengangguk, tatapnanya beralih pada sehun yang masih menatap tajam dirinya
"ayo..iku aku" akhirnya gadis itu menarik lengan sehun
" lepass" sehun memang tak suka jika disentuh oleh orang asing
"yak..kenapa kau menyebalkan" gadis itu akhirnya berteriak didepannya
" kau yang menyebalkan"
"aku kan sudah minta maaf.. aku juga mau tanggung jawab"
"tak perlu menyentuhku"
" iya..iya.. ayo ikuti aku..aku akan mengobati lukamu dirumahku"
Sesampainya dirumah gadis itu, sehun langsung disuruh masuk rumahnya kosong
"kemana orang tuamu"
"kerja" gadis itu masih kesal kelihatannya
"kau tunggu disini.." gadis itu berjalan kedapur setelahnya dia membawa handuk kecil dan baskom yang berisi air dingin
" mau apa kau" sehun memandang ngeri melihat gadis itu mulai mendekatkan dirinya padanya
" kata ibuku kalau bengkak.. cukup dikompres dengan air dingin diamlah..aku akan mengkompres matamu"
"biar kulakukan sendiri" sehun merebut handuk itu mencelupkan handuknya lalu menaruhnya di mata kiri
" ish..sini biar aku yang melakukan..bukan seperti itu caranya" gadis itu masih dengan telaten mengurus sehun yang hanya diam menatap wajahnya
" siapa namamu"
" xi luhan, karena kita sudah berkenalan kita berteman sekarang..yey..bertambah lagi teman lulu" gadis itu sekarang tersenyum , menampilkan gigi kelincinya pada sehun, sehun menatap gadis didepannya merasa tertarik
"siapa bilang aku ingin berteman denganmu"
Luhan mengerucutkan bibir lucu kesal dengan namja didepannya, tapi tak menjawab pertanyaannya memilih tetap merawat mata kiri namja itu
" kenapa kau bisa tahu cara melakukan ini"
" aku ingin jadi doktel,,jadi harus tahu hal seperti ini..nah selesai.. matamu jadi tak terlalu bengkak" dengan suara lucunya luhan tersenyum lagi didepan sehun, kali ini sehun mengakui dia menyukai senyum gadis didepannya
" gomawo"
" kau anak baru dikomplek ini ya"
"hm.."
" kau benar benar tak mau jadi temanku" luhan mengerajapkna matanya polos menatap namja yang lebih tinggi darinya, sehun tak kuasa menolak kekuatan mata itu dia akhirnya mengangguk
" baiklah aku temanmu sekarang"
" yeyyy.." tanpa sadar luhan kecil memeluknya, membuat debaran aneh didada sehun, entah dorongan apa sehun mengecup bibir luhan kecil, luhan terkaget kaget sebelum mencerna semuanya sehun berbalik dan berlari keluar rumah karena malu
" aku..harus pulang lain kali kita main lagi" sehun berteriak segera berlari keluar, wajahnya sudah merona karena luhan, dia harus segera kekamarnya dia pikir ini memalukan baru kali ini dia merasa sekonyol ini.
Luhan mengerucutkan bibirnya lagi " tapi aku belum tahu namanya" ujarnya entah pada siapa melupakan kejadian ciuman tadi, dia memang terlalu polos wkwk
FLASHBACK END
Sehun tersenyum mengingat memori kecil itu, memori sederhana yang selalu diingatnya sampai sekarang, yah.. gadis kecil itu adalah luhan, luhan orang yang sama yang dia cintai sekarang, tapi sebelum gadis itu tahu namanya, sebelum gadis itu bisa bermain dengannya besoknya gadis itu sudah pindah rumah, sehun akhirnya merutuki kebodohannya karena dia tak memperkenalkan namanya,,
Setelah beberapa tahun berlalu saat dia berkunjung kerumah chanyeol, dia melihat seorang gadis yang mirip gadisnya, tatapannya matanya,,mata yang dulu berhasil meluluhkan es dihatinya,gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai luhan sepupu kris yang juga sahabatnya dan tetangga chanyeol, sehun sempat kaget tapi dia berhasil menutupi keterkejutannya, luhan tak ingat dirinya.. dia memaklumi itu karena kenangan kecilnya dan luhan sangat singkat, dia juga tak mengungkitnya..dia ingin semuanya dimulai lagi.. membiarkan memori singkat itu hanya dia yang simpan..
" aku tak mengerti kenapa takdir seolah mempermainkan perasaanku"
Luhan masih memikirkan obrolannya tadi dengan tao dan xiumin soal sehun, yak..dia memang merasakan akhir akhir ini namja itu memperlakukannya spesial, awalnya dia tak ambil pusing..tapi debaran aneh dijantungnya membuatnya mau tak mau tak bisa memikirkannya, luhan tak pernah seperti ini sebelumnya, saat bertemu chanyeol, berpacaran dengannya dia tak pernah segugup itu saat menatap mata chanyeol, atau saat dia berciuman dengan kai yang notabenenya orang yang dia cintai (menurutnya) dia tak pernah merasakan jantungnya berdetak keras seperti saat dia menatap mata sehun, seperti saat dia dipeluk sehun, atau saat sehun mengecup keningnya.. terkadang luhan juga ingin melihat sehun seolah keberadaan namja itu seperti air untuknya , setiap melihat sehun seolah tubuhnya ingin bersandar di dada bidang sehun,selalu ingin melihat sehun tersenyum untuknya, menghirup aroma khas sehun ah..sekarangpun dia bisa gila karena memikirkan perasaanya
" apa ini cinta? Apa aku mencintai sehun? Tuhan..berikan aku petunjuk.. aku tak ingin salah lagi mengartikan perasaanku tuhan..aku tak ingin tersakiti lagi "
TBC
