Hello~~ author kembali... terimakasih yang sudah mereview author harap semakin banyak supaya author lebih semangat ngebuatnya, jangan jadi silent rider ya.. hargailah karya orang lain jangan Cuma menikmati #ceilah
Well well... yang kangen exo k angkat tangan? Akkh..aku kangen banget si sehun dia bias no 1 author, setiap hari mantengin internet supaya bisa dapet kabar dia, sedih denger dia cedera tapi keliatannya kemarin malem tangannya udah gakenapa napa haha..
Rame juga liat instagram gara gara postingan kris, what the fuck he say mean? Tapi kocak juga sih asli..kasian juga luhan kena spam karena komenan dia wkwk
lagi sirik siriknya sama fans LA yang bisa ngevideo mereka deket banget..author juga mauuuu... terutama mau sehunn... ah udahlah ya curcolnya
selamat menikmati...
Luhan terdiam tak membalas atau menolak pelukan kai, pikiran dan hatinya berkenyamuk membuat kepalanya berdenyut pening,dia hanya diam bahkan ketika pelukan kai semakin mengerat tubuhnya,matanya terpejam merapat seolah sedang melawan luka yang semakin lebar karena perlakuan kai, tangannya terkepal erat disamping tubuhnya seolah mempertahankan dirinya agar tak bergerak seinchipun, tak ingin membalas pelukan namja ini
Kai terus memeluk luhan, menelusupkan wajahnya pada bahu luhan menyesap aroma luhan yang sangat dia rindukan, matanya ikut terpejam menahan sesak yang teramat menerima respon luhan yang hanya diam tak membalas pelukannya, tapi meskipun begitu kai tetap memeluk luhan tak peduli asalkan kerinduannya tersampaikan, dia memang egois terlampau egois
"lepas kai" kata pertama yang keluar dari bibir luhan setelah beberapa menit mereka hanya diam, kai tak menjawab tapi juga tak menuruti kemauan luhan, dia tetap kekeh memeluk gadis itu, tangan luhan terulur mendorong tubuh kai tapi tak menghasilkan pergerakan berarti
" aku menyayangimu" kai berujar lirih tepat ditelinga luhan
" aku menyayangimu mawarku" sekali lagi suara parau yang lirih itu membuat tubuh luhan bergetar, dia merasakan bahunya basah, kai menangis..lagi.. luhan bisa merasakan kai juga menderita karena perasaan mereka tak berbalas takdir, kejadian beberapa bulan lalu seolah terulang.. dimana mereka sama sama menangis saat mereka sama sama memutuskan berpisah.
" aku tau.. tapi bisakah saat ini... kau adalah sahabatku bukan luhan gadis yang aku sayangi, aku membutuhkanmu" kai berbicara lirih tangisnya belum berhenti, dia ingin mengeluarkan semuanya, selama beberapa bulan ini dia menahan kesakitannya sendiri, tak ada tempat bersandar atau sekedar mencurahkan kesakitannya, selama ini tempat itu selalu tersanding untuk luhan, hanya gadis itu yang dulu selalu jadi tempat bersandarnya, tempat dia mengeluarkan segala isi hatinya, selalu menjadi saksi kelemahan seorang kim jong in, selalu memberikan ketenangan yang tak terucap untuknya
Ucapan kai itu membuat pertahanan luhan goyah, matanya memerah tangannya terulur membalas pelukan kai, membiarkan air mata yang ditahannya meluncur mulus menjawab ucapan kai,air mata yang seolah memberikan jawaban bahwa dia juga sama menderitanya dengan kai bahkan lebih dari yang namja itu bayangkan, menderita karena mereka sama sama harus menghapus paksa perasaan mereka, bersikap seolah mereka sudah tak saling menyayangi , menghancurkan setiap keping keping kenangan yang mereka buat, semua itu mereka lakukan karena mereka terlampau tau takdir tak lagi menginginkan mereka bersama.. mereka hanya manusia biasa yang setelah berjuang untuk bertahan akhirnya menyerah
" jangan menangis" luhan mengusap punggung tegap kai, memberikan kehangatan yang sangat kai rindukan setengah mati
" kau juga.." kai melonggarkan pelukan itu, menghapus jejak air mata di wajah luhannya, tangan luhan otomatis juga terulur melakukan hal sama
" kau dulu janji tak akan lagi menangis, kau namja " luhan kini berani menatap kai langsung, dia tersenyum menampilkan eyesmilenya pada kai
" aku tak menangis dihadapan orang lain selain kau" ujar kai jujur sambil balas tersenyum
Luhan menghela nafas mendengarnya, dia memijat pelipisnya dan memilih duduk kembali, kai tersenyum dan ikut duduk disampingnya, kai terus memandang wajah luhan, luhan yang terus diperhatikan risih
" berhenti menatapku brengsek" luhan mengibas ngibaskan tangannya didepan wajahnya menyuruh agar kai sedikit menjauh darinya, senyuman kai semakin lebar inilah respon luhan yang dia rindukan, umpatan umpatan yang selalu luhan pakai untuknya, mungkin terdengar bodoh tapi baginya mendengar luhan seperti itu, seperti kembali pada saat saat mereka dulu bersahabat.
" tetaplah seperti ini lu" kai berujar tulus
" aku sudah bilang sebelumnyakan.. aku masih belum bisa seperti dulu jika perasaanku masih sama" senyuman di bibir kai memudar mendengarnya, selama ini memang dialah yang memulai, sebisa mungkin dia terus menghubungi luhan, tapi luhannya lah yang sejak pertama menghindarinya, dia hanya tak ingin dilupakan, inginnya meskipun dia tak bisa memiliki luhan, dia bisa terus bersahabat dan menjadikan luhan sandarannya #kailoegoisbanget-_-
Luhan memandang wajah kai dalam, mencoba memberikan pengertian pada namja tan itu
" kai.. aku mohon semakin kau seperti ini, semakin sulit aku melepasmu"
"tapi aku menyayangimu dan kau juga menyayangikukan lu, kita bisa seperti dulu..
" Kau ingin kita seperti apa? Seperti dulu saat apa? Pure sahabat, hubungan tanpa status, atau saat kita berselingkuh huh?" ucapan kai terpotong oleh luhan yang berusaha meredam emosinya
Bibir kai terkatup mendengar nada emosi luhan, jika boleh jujur dia memang ingin tetap berhubungan seperti pacaran dengan luhan, bahkan meskipun dia dan luhan memiliki kekasih dia tetap ingin memiliki luhan
" lu kau tau maksudku" kai menggenggam tangan luhan lembut, menyalurkan perasaanya untuk yeoja itu
"mian kai.. aku tak bisa" luhan menatap pergelangan tangannya yang kini di genggam kai, menolak menatap wajah namja itu
" wae?" kai bertanya menuntut
" berhenti membuat siklus yang sama kim jong in, berhenti menyakiti orang lain dan diri sendiri , berhenti berpacaran lalu selingkuh denganku, berhenti menjadikanku pelarian seperti dulu..berhenti " luhan kembali menangis tepat dihadapan kai, membuat namja itu memalingkan wajahnya tak ingin melihat luhan menangis
"luhan.."
"kita bukan anak kecil lagi kai, kita sudah memilih, kau memilih melepasku, membahagiakan orang tuamu, dan aku sudah memilih apa yang kupilih sekarang, mau atau tidak kita sudah ada dipilihan ini, kita tak bisa lagi berjalan mundur, mengertilah.. jangan egois seperti ini " nada luhan melunak, tatapannya kini sudah teralih lagi menatap riak air didepan mereka
" aku mengerti..aku tau..hanya aku tak siap jika kau seperti ini, aku tak ingin dilupakan" nada bicara kai naik namun sedikit bergetar dan parau
" maaf kai tapi itu resiko dari pilihanmu"
"..."
"..."
Luhan menoleh kearah kai, tersenyum menatap wajah kai yang sangat amat menyiratkan kepedihan dari ucapannya, dia tak bisa mundur dia harus selesaikan semuanya disini, dia harus kuat melihat kainya sakit karena ucapannya, dia harus menahan diri agar tak memeluk namja ini sekarang , dia hanya tak ingin siklus ini terus beranjut, tak ingin nantinya akan banyak hati yang terluka karena mereka, cukup dia dan kai lah yang merasakan sakit karena takdir ini
" aku.. ini yang terakhir kalinya, aku masih menyayangimu, tapi setelah saat ini aku akan melupakanmu,ani..aku harus melupakanmu,menghapus perasaan itu, menganggap kenangan itu hanya kenangan yang tak harus ku ingat ingat lagi,aku harus menghilang dari hidupmu, atau kau yang tak harus hadir dihidupku, cuma dengan begitu aku bisa hidup normal seperti beberapa tahun lalu sebelum aku mengenalmu, dengan begitu aku tak lagi bergantung dengan keberadaanmu, begitupula kau, mianhae aku tau ini menyakitimu tapi kau tau perasaankupun tak lebih baik darimu sekarang" luhan menghela nafas setelahnya, kai terdiam masih tak merespon semua perkataan luhan, dia mengeratkan dirinya, menahan hatinya yang seolah hancur karena keputusan gadis itu, dilupakan oleh gadis yang disayangi bukan perkara mudah, hatinya berdenyut sakit, udara disekitanya seperti menipis, dia merasa sangat menyedihkan sekarang
" sampai kapan?" hanya dua kata itulah yang terucap dari bibirnya
" sampai aku berhasil melewati semua itu, sampai nanti kita bertemu kembali, kita sudah saling menatap dengan perasaan yang berbeda dari sekarang, sampai kau dan aku tak lagi memiliki perasaan ini"
" saat itu tiba.. janjilah untuk tetap jadi sahabatku" kai menatap deereyes luhan dalam, mencoba menerima keputusan gadis itu, dia harus menerimanya karena dialah yang mengawali semuanya, dialah yang sejak pertama menginginkan perpisahan terpaksa ini. Luhan membalasnya dengan senyuman tulus bukan senyuman palsu seperti kemarin, senyuman ini benar benar tulus dari hatinya, dia mengangguk mengiyakan permintaan kai, luhan beranjak berdiri dari duduknya, kai mendongak menatapnya
" ya..saat itu tiba xi luhan adalah sahabat kim jongin" luhan sempat mengacak surai hitam kai lalu berbalik berjalan meninggalkan namja itu, kai masih merenung menatap punggung luhan yang semakin menjauh dari pandangannya, tangannya terulur kerambut bekas acakan (?) luhan tadi, luhan kembali berbalik menatap kai, dia menunduk 90' pada kai dan melanjutkan langkahnya, kai yang melihat itu tersenyum tulus, tak peduli akan jadi apa nantinya keputusan ini yang harus dia lakukan hanya menjalankan semua yang luhan katakan tadi
"ya.. sampai berjumpa lagi mawar, sampai berjumpa lagi belahan jiwaku"
Dengan diantar chen, xiumin, dan tao sore itu luhan sudah sampai didepan apartement sehun, masuk dengan mudah karena dia tahu password apartement namja cingunya itu, moodnya mendadak baik sejak kejadian tadi, sebenarnya berkat sehun yang tadi sempat memberi pesan kalau dia sudah diperjalanan pulang, mungkin sehun akan sampai sangat larut, luhan hanya beharap semoga semuanya sesuai perhitungan.
Kini dia sibuk membuat adonan kue untuk sehun, sebisa mungkin membuat sesuai dengan selera sehun, tart yang tidak terlalu manis, karena sehun tak terlalu suka manis, menunggu beberapa menit sampai tart itu sudah siap di hias, dengan telaten luhan menghias tart itu sendirian, memberikan warna warna kalem yang sehun suka, dan memberikan ucapan saengilcukhae di pinggirnya, tartnya hampir selesai, dia menatap puas hasil karyanya itu 'tidak buruk' setelah lama mengamati hasil karyanya sendiri barulah dia memindahkannya ke lemari dingin, luhan menatap jam dingding yang sekarang menunjukan pukul 8 malam, dia membulatkan matanya karena tak sadar sudah malam, dia telah menghabiskan waktu empat jam hanya untuk membuat tart, dia bahkan belum mandi segeralah dia menuju kamar mandi dan mandi disana, semua persiapan beres jam 11 malam, luhan sudah mematikan semua lampu hanya menyisakan lampu temaram berwarna kebiruan dikamar sehun, tak dihiraukan kantuk yang mulai menyerangnya, dia masih sabar menunggu sehun meskipun angka telah menunjukan pukul 12 tepat, dia mendesah kecewa karena sehunnya belum juga datang, tapi dia tak menyerah dan tetap terjaga menunggu kekasihnya itu
Suara pintu terbuka,dan langkah kaki yang sangat dia kenal membuat luhan tersenyum segeralah dia mengambil tart dan berdiri tepat didepan pintu kamar sehun, hatinya berdegup kencang gugup, dia bahkan tak pernah membuat hal seperti ini saat bersama kai atau chanyeol
Luhan melihat pergerakan engsel pintu yang terbuka
" saengil cukhaemnida..saengil cukhaemnida..saranganeun sehun oppa..sangilcukhaemnida"
Sehun terkejut melihat luhan dengan kue tart ditangannya, dia tersenyum saat sadar kalau ini adalah surpise ulangtahunnya, luhannya terlihat cantik dengan diterangi lilin dari tartnya itu, nyanyian luhan yang lembut seolah obat untuk lelahnya , dia merindukan gadis cantik ini
" oppa ya.."
" gomawo chagy" sehun tersenyum tulus memandang wajah wanitanya itu, tangannya terulur mengacak surai hitam luhan, dia terkekeh melihat gadisnya yang tersenyum sangat manis sekarang
" kau suka?" luhan memandang sehun dengan deereyesnya, suasana yang temaram membuat mata itu lebih terlihat bersinar untuknya, sehun mengangguk masih tersenyum tak dipikirkannya lagi tubuhnya yang lelah sekarang, hatinya sangat senang dengan kejutan sederhana ini
" ayo..ayo..duduk..da..." luhan dengan tangan yang penuh berjalan kesofa dikamar sehun menyuruh sehun untuk duduk disampingnya, sehun menurut menyimpan ransel dan kopernya, lalu duduk disamping luhan
"ayo make a wish time !" luhan dengan ceria memandang sehun, namja itu terkekeh melihat ingkah menggemaskan luhan
"ara..ara.."
"tutup mata dong.." luhan menyuruh sehun lewat isarat dagunya, sehun tersenyum dan menutup matanya, permintaannya hanya satu agar luhannya tetap disampingnya, tetap miliknya sampai maut menjemput keduanya, saat matanya terbuka dia langsung dihadapkan pada wajah cantik luhan yang tersenyum, senyuman yang membuat luhan sangat cantik dimatanya, senyuman yang paling dia sukai didunia ini, dia meniup lilin sambil tetap memandang luhan
" kau cantik" luhan merona mendengar pujian kekasihnya itu
"aku tau.." luhan menjulurkan lidahnya, sehun lagi lagi mengacak surai hitam luhan
" em..kalau kau lelah potong kuenya besok aja" luhan menaruh kue itu di meja kecil didekat situ
" mana bisa begitu.. yeojaku ini pasti sudah menyiapkannya susah susahkan" sehun mendekat kearah luhan menggenggam tangan mungil luhan
" tapi kau lelah" luhan mengelus wajah sehun lembut, terlihat jelas dari kantung mata sehun yang menggelap, luhan mengusap bagian itu memajukan wajahnya mengecup lembut bawah mata sehun yang menghitam, sehun tersenyum dengan tindakan luhan tadi
" tak apa.. aku benar benar ingin mencicipi kue itu"
Luhan mengalah dan mulai memberikan sehun pisau khusus potong kue tart itu, sehun dengan telaten memilih daerah mana yang tepat agar tak terlalu merusak kuenya, dia berjanji dia akan menghabiskan kue yang terlihat enak ini besok
" ini enak"
" jincayo?" luhan menjawab dengan semangat, sehun mengangguk dan memakan kembali kuenya, kuenya benar benar pas dilidah sehun
" gomawo" sehun lagi lagi berterimakasih dengan mulut yang penuh tart, luhan mengelap sudut bibirnya yang terkena sedikit krim
"chenmaneyo oppa"
" harusnya tadi kau bersihkan dengan bibirmu"
Akhh
luhan mencubit perut sehun gemas
" kau ganti bajulah..aku akan simpan kue ini di lemari pendingin" luhan beranjak membawa tart itu ke dapur
Sehun terus tersenyum sambil mengganti baju, tak sadar jika luhan sudah kembali dan cengo dengan ekspresi sehun yang tak biasa itu
" kau kesambet?" luhan berbicara sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur
" aku senang lu" sehun beringsut mendekat kearah luhan sambil menyeringai
" kadonya mana?" sehun menengadahkan tangannya kedepan luhan seperti anak kecil, luhan memiringkan wajahnya
" aku lupa membawanya" luhan berujar polos memandang sehun lalu nyengir dan berpose v sign dengan tangannya " mian hehe..."
Sehun kembali pokerface
"aku mau sekarang" setelahnya dia menyeringai, tangannya terulur mengelus payudara luhan dari luar piyamanya, luhan merolling eyes malas mengerti maksud namja di sampingnya itu
" kau tak lelah hm.." luhan menusuk nusukan telunjuknya pada pipi sehun
" aku tak mungkin lelah jika bermain denganmu"
"pervert"
" kau suka kan?" sehun langsung melumat bibir kissable itu, luhan hanya pasrah menerima perlakuan sehun yang kini sudah nakal karena tangannya sudah meraba perut dan naik ke payudaranya, tangan luhan sudah meremas rambut sehun,tapi dia segera mengakhiri itu dan menatap sehun
"biar aku yang bermain" luhan berujar sensual dihadapan sehun, sehun hanya tersenyum miring, luhan langsung menciumnya ganas duduk dipangkuannya yang setengah tertidur,tangannya tak berhenti bermain pada kedua payudara sintal gadis itu,terkadang tangannya yang lain akan meremas bokong luhan, dia biarkan lidah luhan yang masuk ke mulutnya, tapi tetap tak membiarkan gadis itu mendominasi perang lidah mereka, ciuman luhan terus merambat ketelinga sehun menjilatnya lalu beralih keleher sehun terus turun bahu sehun lalu, dan mencium dengan sensual tulang klavikula sehun, mengigitnya seduktif, luhan berhenti pada aktivitasnya menatap sehun yang sekarang kebingungan kenapa gadisnya itu berhenti
"asin.. kau asin sehunniee" luhan mengecap bibirnya beberapa kali, sehun memberengut mendengarnya
"lanjut besok saja ah..kalau kau sudah mandi" mata sehun melebar
" yak mana bisa begitu..kau sudah setengah jalan"
Luhan tak mendengarkan dan berbalik ketempat asalnya tadi
" lanjut besok..sekarang kau tidur" ucapnya final berbalik membelakangi sehun, membuat sehun mengerang
" xi luhan"
"hm.."
Akhh..
Luhan memekik saat sehun mendekapnya tiba tiba dari belakang, sehun sudah menjilat bagian leher belakang luhan, tangannya meremas keras payudaranya, luhan akhirnya pasrah mendesah dibawah sehun membiarkan sebagian tubuhnya di jamah oleh kekasihnya itu, meskipun akhirnya sehun harus menahan dirinya agar tak memasuki luhan.
Luhan mengucek ngucek matanya, seperti pagi pagi yang lalu dia terbangun dengan tangan sehun yang memeluknya posesiv, luhan beranjak pelan pelan tak ingin membangunkan sehun, namja itu pasti sangat lelah pikirnya, tapi tiba tiba sehun sudah membantingnya kembali ketempat tidur, dia sudah ada diatas tubuhnya, dia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya memenjarakan luhan dibawahnya, sehun tersenyum kearah luhan yang sekarang mengerejapkan matanya karena belum sadar apa yang terjadi tadi
" Yak.. kaget tahu" luhan berteriak tepat dihadapan muka sehun yang sekarang masih tersenyum kearahnya
" morning dear" bukannya menjawab sehun malah mendudukan wajahnya mendekatkan bibir mereka dan mengecup bibir luhan
" ya..ya..sekarang lepaskan aku" luhan ingin beranjak dari posisi itu tapi sehun malah memeluknya lagi
" bogoshipo luhaniee" sepertnya sehun benar benar sedang manja sekarang
" kau sudah mengucapkannya lebih dari cukup sejak semalam oppa" luhan masih coba melepaskan pelukan sehun yang semakin posesiv itu
" kau tak merindukanku eoh?" sehun menempelkan kedua dahi mereka menatap mata luhan menuntut, luhan terkekeh tak menjawab, dia tentu sangat merindukan sehun
" sudahlah.. aku mau masak kau cepat mandi"
" hari ini mau apa?" sehun masih tak melepaskan luhan, dia ingin berlama lama seperti ini dengan luhannya
" mau apa? Kau harus istirahat sayang" luhan mengelus pipi sehun lembut
" kencan di lotte word gimana? Bukannya itu maumu seminggu yang lalu" Sehun mengecup lagi bibir luhan sambil menatap manik luhan yang terpejam menikmati perlakuannya
" kau tak lelah hm?"
" untuk mu aku tak pernah merasa kelelahan chagi"
Luhan mendengus mendengar kalimat manis itu, membuat sehun tak kuasa mencubit gemas pipi luhan
" geureu.. gimana yang sedang ulang tahun aja deh.. bebas" luhan memiringkan wajahnya sehun terkekeh mendengarnya, lalu mengecup kembali bibir luhan
" sekarang lepaskan aku dan cepat mandi"
" morning kiss?"
" apanya yang morning kiss -_- dari tadi kau terus menciumku"
" itu dari ku untukmu bukan sebaliknya" luhan merolling eyesnya malas
" yak..kenapa kau mendadak manja begini" luhan memukul pelan dada sehun
" yang ulang tahun bebas" sehun terkekeh melihat reaksi menggemaskan luhan
" manja..
chupp~~
luhan langsung mengecup bibir sehun, sehun yang tak ingin menyianyiakan kesempatan melumat bibir luhan, luhan melotot kearah sehun mendorong tubuh sehun keras, namja itu mengerti dan tertawa kencang melihat luhan yang sekarang menghentak hentakan kakinya keluar kamar.
" ne omma.. gwanchana lulu bisa jaga diri"
"ne.."
" arraseo.."
" nado sarangeo"
Sehun melirik kearah luhan yang sedang sibuk dengan smartphonenya, dia sendiri sedang sibuk menyetir, luhan menghela nafas
" wae hm?" tangan satunya terulur mengelus rambut luhan
" omma dan appa tak jadi pulang minggu ini" luhan mengerucutkan bibirnya menatap kearah sehun
" aku sendirian di rumah"
" mau kutemani?" luhan memicingkan matanya membuat sehun terkekeh mengerti
" itu imbalannya"
Aww..
Sehun berteriak kesakitan karena luhan memukul punggungnya
" pervert"
Sehun pasrah diseret luhan kesana kemari, tangan satunya menggenggam segelas bubble tea, begitu pula luhan, baginya ini kencan yang menyenangkan melihat wajah luhannya tersenyum bahagia seperti sekarang, luhannya benar benar terlihat cantik
" hei..ayo naik itu" luhan berhenti dan menunjuk roller coster yang sekarang riuh dengan teriakan teriakan
" ku tak takut? " sehun sangsi bukan karena dia takut, hanya dia khawatir pada luhan
" ani.." luhan dengan mantap mendongak kearah sehun
" khaja oppa..khaza" luhan lagi lagi menarik sehun kearah antrian yang lumayan panjang itu, mungkin karena ini hari libur jadi banyak yang sedang berlibur juga
" antriannya panjang.." luhan bergerak gerak seolah menghitung panjangnya antrian, sehun menyesap bubble teanya mengelus rambut luhannya sayang, tak jarang dia memberikan deatglare pada namja namja genit yang menggoda luhan, memberi tahu mereka kalau luhan miliknya lewat gesture tubuhnya, sedangkan luhan terlihat tak peka dan asik dengan dunianya, kadang dia akan mengeratkan genggamannya pada sehun dan berteriak gemas melihat badut badut atau orang dengan kostum disney kesukaannya yang bertingkah lucu menurutnya.
" kalau kau takut kau bisa tutup matamu"
" ani..ani..ini menyenangkan" luhan mencoba menoleh kearah sehun yang sekarang sedikit terhalang oleh pelindung di kanan dan kiri bahunya
Aaakkkkkkaahhhkkkk..
Teriakan teriakan itu berasal dari bagian depan dan belakang mereka, sehun menoleh kearah luhan khawatir, satu tangan mereka berpegangan erat, kekhawatirannya berkurang saat dilihat luhannya malah terlihat menikmati permainan ini, luhan tertawa tawa lucu yang membuat sehun gemas, saat mereka ada dipuncak luhan akan membulatkan mulutnya lalu tertawa lagi, tak peduli jika roller coaster ini melaju dengan kecepatan yang cepat, dia benar benar gadis unik.. dan sehun benar benar menikmati pemandangan luhan yang seperti ini.
" akk..ini menyenangkan sehunniiee"
Mereka terus bermain main, mencoba berbagai wahana yang tak kalah menegangkan seperti tadi,hari sudah menjelang sore mereka memutuskan istirahat di kedai es cream, luhan terlihat asik mengemut es cream coklat strowberry begitupula sehun, dia terus memperhatikan gerak gerik luhannya
" kau senang?"
"sure... gomawo oppa"
Sehun mengelus rambut luhan, yang sekarang sudah menjadi kebiasaannya
" ayo berfoto oppa" luhan menarik sehun mendekat mengambil smartphonenya dan mengambil photo mereka berdua, sehun yang tak kuat dengan tingkah menggemaskan gadisnya itu akhirnya mengecup pipi luhan
" aku mencintaimu"
Langit sudah berubah menjadi merah kekuningan, sebentar lagi matahari tenggelam dan sehun tak akan melewatkan moment indah ini, dia menarik luhan untuk naik bianglala, memeluk luhan erat saat mereka sudah berada hampir dipuncak
" kau tau lu..aku benar benar merindukanmu"
" nado oppa.." sehun mengecup kepala luhan lembut, luhan memejamkan matanya menikmati moment ini, menerima limpahan kasih sayang sehun yang membuatnya semakin mencintai namja ini
" aku akan cari apartement di daerah mu"
"eh?" luhan menoleh kearah sehun yang kini menatap langit jingga, bianglala ini berjalan lambat sehingga mereka lebih lama berada diatas
" aku akan mulai magang di rumah sakit didaerahmu"
" jincayo?" luhan memekik senang mendengarnya
"tapi...ko bisa?" lanjut luhan lagi
" aku berhasil mempercepat pendidikanku"
"aakkh..cukahe sehuniie" luhan memeluk sehun dari samping, namjacingunya ini memang jenius, ini baru tahun kedua dan dia hampir selesai dengan studi kedokterannya daebak
Sehun tersenyum membalas pelukan luhan, membawa kepala luhan ke dadanya lalu mengecupnya lagi " karena itu...
Luhan menengadah menatap sehun bingung karena tak melanjutkan ucapannya
" tinggalah bersamaku" untuk detik detik pertama luhan masih mengerejapkan matanya polos membuat sehun gemas melihatnya
"eh,,mworago?" luhan kaget dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari sehun membuat sehun mengerang dan menarik kembali luhan kepelukannya
"tinggal bersamaku di apartement"
" kau melamarku?" luhan masih dengan mata membulat memandang sehun, yang dibalas senyuman oleh namja tampan itu
" aku serius.. omma dan appa sudah setuju mereka akan menemui orang tuamu, tapi sebelum itu aku harus menunggu jawabanmu"
" hun.."
" aku sudah bilang aku akan membuktikan ucapanku dulu"
" .."
"..."
"kau kenapa?" sehun khawatir melihat luhan yang malah terbengong, sekarang mereka sudah tepat dipuncak bianglala ini akan berhenti beberapa menit lalu berjalan turun
" ish.. kenapa ga ada romantis romantisnya sih.." luhan berdecak memukul lengan sehun yang membuat namja itu cengo, tapi kemudian terbahak dan mengacak surai hitam luhan lagi
" kau mau dilamar seperti apa hm?" sehun sekarang berjongkok didepan luhan, membuat dia bisa melihat luhan yang dibelakangnya ada background langit jingga yang cantik, luhan merona saat tangan sehun terulur mengelus pipinya lembut
" jujur aku tak memiliki persiapan apapun" lanjut sehun lagi menatap tulus mata luhan
" well..kau tau aku tipe seperti apa" luhan terkekeh mendengar sehun
" ya..aku tau" luhan menundukkan kepalanya menatap sehun
" so?" sehun menatap dalam mata luhan, berharap penuh kalau niatnya akan diterima, luhan sendiri tersenyum kearahnya, menatap balik manik tajam tapi lembut sehun, dia mengangguk setuju membuat senyuman dibibir sehun merekah, dia mendekatkan bibirnya
" sarangheyo"
" nado sarangheyo oppa"
Mereka kembali menyatukan bibir mereka di kelilingi langit jingga yang cantik, menjadi saksi bisu dari penyatuan mereka menuju langkah yang selanjutnya, luhan sudah memilih mencintai namja ini sampai akhir, begitupula sehun, dia akan terus mencintai luhan, hanya luhan gadis yang selalu menjadi tulip putih untuknya, memberikan kehangatan tersendiri untuk hati dinginnya.
" kau mau makan apa?"
Mereka kini diperjalanan pulang kerumah luhan, tapi sepertinya mereka memutuskan untuk makan malam diluar karena sehun tak ingin melihat luhan memasak, dia tau gadisnya itu pasti kelelahan
" em.. aku tiba tiba ingin ayam" luhan menaruh telunjuk dibibirnya dan memiringkan kepalanya, posisi yang sangat lucu untuk sehun, dia terkekeh melihat betapa menggemaskannya luhan
" ok..ayo..ayam bukan ide buruk"
Tbc
sejujurnya cerita ini 70% nyata haha.. tapi memang sebagian besar juga karangan author karena itu author sebenernya masih bingung soal ending ceritanya, jadi yang mau ngasih saran reviewnya ditunggu.
Semoga kalian bisa mengambil pelajaran dalam kisah ini
