Desclaimer Masashi Kishimoto

But

Story REAL by me.

Sakura Of The Sun

Sakura Haruno

Uciha Sasuke

WARNING!

Miss typo, alur berantakan,AU,OOC dll

Don't Like? Just Don't Read !

.

.

Big Thanks To All Readers To My Reviewers

Favs and follower.

.

.

Chapter 2

Is

Begin.

.

.

.

.

Suara cekikikan terdengar dari balik kamar seorang gadis merah muda. Entah apa yang ada dibalik kepala pinknya, tubuhnya yang ia rebahkan diatas kasur berukuran sedang miliknya.

"khkhk.. aku puas sekali. Siapa suruh dia begitu menjengkelkan, dan seenaknya saja menyentil dahiku" Sakura masih terus cekikikan tidak jelas mengingat wajah kesal Sasuke karena ia memanggilnya dengan sebutan 'Tuan Ayam es'. Kadang ia akan tertawa lepas mengingatnya kembali. Mengerikan.

Sakura POV.

Uciha Sasuke. Ugh, dia pria dewasa yang sangat sangat sangat tampan tetapi dia juga sangat menjengkelkan. Ah, kenapa aku jadi memikirkan Sasuke seharusnya yang aku pikirkan adalah bagaimana aku harus memulai 'penyelidikanku' untuk arwah gadis disekolah yang bernama Haruki Sara.

Hm, kurasa besok aku harus mengendap-ngendap keruangan kurikulum vite. Mungkin disana aku akan menemukan sesuatu.

Apa aku harus membicarakan ini dengan Ino dan juga Hinata?

Jujur saja, aku tidak ingin membuat kedua sahabatku terseret masalah nantinya. Oke! Aku akan bergerak sendiri kalo begitu.

Tanpa sadar aku meraba bagian leherku, tapi terasa hampa. Oh tidak. DIMANA KALUNGKU?

Tidak. Tidak. Itu tidak boleh hilang. Itu aku dapatkan dari buyutku, dan kata Tou-sanku kalungku itu sangat berarti sehingga buyutku sangat menginginkan aku untuk memakainya dan aku sudah memakainya sedari kecil. Tapi kemana kalung itu sekarang? Setiap sudut kamar sudah aku periksa tapi hasilnya nihil. Oh Kami-Sama.

Aku segera melompat dari ranjangku dan berlari keluar untuk mencari Kaa-san.

"Kaa-san! Kaa-san.. " aku berlari menuruni tangga untuk segera sampai dimana Kaa-san berada.

Kaa-san datang dari arah dapur saat aku memanggilnya dan membuatnya terkejut.

"Ada apa Saki. Kenapa kau berteriak? " Kaa-san menatapku intens sedangkan aku terpogoh-pogoh menghampirinya.

"Kaa-san. Apa Kaa-san melihat kalungku?" kulihat dia sangat heran.

"Tidak sayang. Bukankah kau memakainya setiap saat? " aku mengangguk dengan wajah yang gelisah, bahkan hampir menangis.

"Huum.. tapi sekarang tidak ada. Aku juga tidak tahu dimana dan kapan kalungku terjatuh aku tidak pernah melepasnya Kaa-san" ungkapku dengan lirih.

Kaa-san menghampiriku lebih dekat serta merangkulku dengan hangat.

"Stt.. tenanglah. Kalungmu pasti akan kembali. Kau ingat pesan dari Neneknya Tou-san dan juga Kaa-san? " aku menggeleng lemah dan Kaa-san membawaku untuk terduduk disofa ruang tamu. Terjadi keheningan sesaat sebelum Kaa-san melanjutkan.

"Beliau berkata kepada Tou-sanmu jika takdir tidak akan pernah lepas dari yang dikehendaki. Seperti keistimewaan yang kau miliki ini. Dan apa kau ingat sewaktu kecil kalungmu beberapa kali hilang tetapi pada akhirnya akan kembali kepadamu berarti itu masih milikmu. Takdir kalung itu masih bersamamu" ucap Kaa-san panjang lebar seraya mengusap kepalaku lembut.

"Tapi dulukan Kaa-san yang sering menemukan kalung itu untukku karena aku tidak bisa diam sehingga kalungku terjatuh" aku mengatakan itu dengan tertawa kecil karena mengingat bagaimana nakalnya aku sewaktu kecil.

"Huh jangan bersedih lagi. Kaa-san yakin kalung itu pasti akan kembali. Nah.. Tidurlah sayang, besok kan harus sekolah" aku mengangguk setelah aku mengucapkan oyasumi kepada Kaa-san dan berjalan menuju kamarku dilantai dua.

Sakura POV End.

.

.

..

.

Konoha High School pukul 07. 12...

"Sakura-chan? Kenapa murung, apa kau sakit? " gadis berhelaian indigo berusaha mengguncang pelan tubuh gadis pink yang duduk dikursi disebelahnya tersebut. Hinata, gadis bersurai indigo tersebut nampak terheran dengan sikap aneh sahabat pinknya sejak ia datang kesekolah beberapa menit yang lalu. Sakura hanya menggumam pelan. Ia juga tidak tahu kenapa ia jadi tidak bersemangat seperti biasanya.

"Hinata-chan kalungku hilang.. " ungkap Sakura dengan nada lirih. Hinata terkejut dan faham sekarang, mengapa Sakura terus murung.

"Mungkin kau menjatuhkannya disuatu tempat Sakura-chan. Apa kau ingat? " hanya gelengan pelan sebagai pertanda jawabannya.

"Tidak Hinata-chan. Aku tidak tahu dan tidak mengingatnya" Hinata mencoba menghibur dan menenangkan Sakura dengan tangan yang mengelus punggung Sakura lembut.

Kemudian seperti mengingat sesuatu Sakura segera bangkit membuat Hinata juga ikut bangkit karenanya.

"Hinata! Apa kau mau membantuku? " Hinata merasakan dirinya sekarang mengangguk tanpa sadar. Ia yakin Sakura sedang serius sekarang ia bahkan tidak memanggilnya dengan suffix chan seperti biasa.

"Aku perlu bantuanmu untuk menemukan data tentang seseorang.. " kemudian Sakura seperti tengah berpikir tentang sesuatu hal yang entahlah Hinata juga tidak mengetahuinya.

"Tentang seseorang? Siapa dan apa dia orang yang berada disekitar kita Sakura-chan? " Sakura lagi-lagi hanya menggeleng lemah.

"Tidak seperti itu. Tapi ini menyangkut tentang penglihatanku akhir-akhir ini" Sakura mencoba menerawang ingatannya kembali ketika melihat Haruki Sara yang berada dikoridor sekolah. Mata Hinata langsung membola tatkala mendengar penuturan Sakura.

"Apa kau melihat tentang sesuatu lagi Sakura-chan? " dan kali ini Sakura mengangguk yakin.

"Maka dari itu, kau harus membantuku Hinata. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan kau maksudku kalian berdua dalam masalah ini..

"Masalah apa maksudmu, apa maksud dari tidak melibatkan kami berdua Forhead?! "

Ino datang dengan raut sejuta kebingungan. Hinata hanya mengendikan bahu serta gelengan pelan saat Ino menatapnya. Sakura kembali duduk disusul dengan kedua sahabatnya. Kemudian Sakura mulai menceritakan apa yang ia alami.

"Itukah sebabnya kau sering merasa lemas akhir-akhir ini? " kedua alis Ino bertaut. Kenapa Sakura tidak menceritakannya dari awal?

"Sudahlah Ino yang terpenting sekarang kita harus menemukan informasi mengenai siapa itu Haruki Sara. Sepertinya kita akan membutuhkan ruangan kurikulum vite nanti istirahat. Bagaimana menurut kalian berdua? "

keduanya kompak mengangguk dan tersenyum bersama. Inilah persahabatan.

.

.

.

.

Sedangkan dikediaman mansion Uciha pukul 08. 37...

Terlihat sang Uciha yang berwibawa tengah membangunkan seonggok(? ) makhluk kuning jabrik disofa mewahnya dengan menendang-nendang kaki si Naruto yang menjuntai bebas kebawah. Sang Uciha berdecak sebal. Bagaimana tidak? Naruto sudah dibangunkan dengan berbagai cara tetap saja tidak berhasil membangunkan sahabat kuningnya tersebut. Naruto tidur atau mati? batin Sasuke kesal.

Sasuke menemukan Naruto tertidur disofa ruang tamunya semalam. Ya, memang Sasuke dan Naruto sudah membuat perjanjian kan untuk pergi ke club malam itu jika saja Sasuke tidak bertemu dengan makhluk pink yang berani cemberut kepadanya.

Memikirkan tentang gadis SMA tersebut membuatnya terkekeh pelan. Ayolah Uciha, ini saatnya misimu untuk membangunkan kerbau kuning bukan saatnya memikirkan gadis aneh bin imut berwarna pink itu.

Kini Sasuke sudah berpakaian lengkap seragam khas ANBU dengan rompi berwarna hijau gelap serta kaos hitam berlambangkan ANBU membalut tubuh atletis miliknya. Jam menunjukkan pukul 08. 46 dan ia tidak ingin terlambat sampai ke markas pusat gara-gara sahabat dobe-nya ini. Seringai tipis muncul di wajahnya.

"Dobe, jika kau tidak bangun dalam tiga detik pangkatmu akan aku cabut dan kau akan kembali menjadi Genin bersama anggota baru! "

satu

.

dua

.

ti

Dengan sekejap Naruto langsung berdiri. Mata merahnya ia kucek serta berkedip beberapa kali.

Sasuke memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana berbahan satin mahal.

"Cepat mandi jika kau tidak ingin lembur untuk setahun kedepan! " perintah Sasuke mutlak.

"Baiklah baiklah teme jangan mengancamku seperti itu, lagipula salahmu sendiri tadi malam keluar tanpa mengajakku..

Kini tatapan Sasuke menajam. Narito bergidik karenanya dan segera berlari kedalam kamar mandi. Sasuke memijit pelipisnya, sahabat dobe-nya itu benar-benar.

Kedua orang yang memiliki peranan penting didalam jajaran devisi ANBU tersebut segera meluncur kemarkas pusat. Ini saatnya bekerja kembali.

Naruto merasakan ketidaknyaman saat bokongnya mendarat dikursi depan mobil Sasuke, seperti ada yang mengganjal.

Ia mencoba merabanya dan menemukan sebuah kalung dengan ukiran rumit namun terkesan feminim. Ini kalung milik perempuan.

Otaknya langsung mencerna dengan apa yang ditemukannya ini, ohh jadi Sasuke-teme berkencan dengan perempuan semalam sehingga tidak mengingat janji pergi ke club semalam? batin Naruto.

Sasuke melirik dengan sudut matanya. Tumben sekali Naruto tidak berbicara. Sasuke yang penasaran menolehkan kepalanya dan heran melihat Naruto sedang memegang benda dengan tatapan heran.

"Hei teme, kalung siapa ini? "

Naruto mengayunkan kalung emas putih tersebut dengan tatapan Naruto penuh selidik.

"Kau menemukannya? "

bukannya menjawab Sasuke malah balik bertanya.

"Iya. Disini aku menemukannya" tunjuk Naruto tepat ditempatnya ia duduk saat ini.

"Oh aku tahu ini pasti kalung milik gadis yang berkencan denganmu semalam bla bla bla...

sedangkan Naruto berceloteh tentang berbagai pemikiran tak masuk akalnya. Sasuke sepertinya telah menemukan siapa pemilik dari kalung tersebut.

"akhirnya kau berkencan dengan perempuan juga teme. Aku kira kau tidak suka kepada perempuan"

"diamlah dobe!. Berikan kalung itu kepadaku! " Naruto tidak ingin mencari masalah dalam hidupnya segera saja memberikan kalung itu kepada Sasuke.

.

.

.

Sasuke POV

Aku kembali bekerja keras. Dan yang masih menjadi beban pikiranku kali ini adalah kasus besar yang membuat negara menjadi resah karenanya. Bandar besar narkoba yang sejak dua bulan lalu belum berhasil menemukan titik terang. Mereka sangat lihai serta menyelesaikan aksinya dengan rapih sehingga kami sedikit kesulitan. Bukan hanya bandar narkoba saja, tetapi bandar ini juga memiliki jaringan mafia hingga membunuh banyak pihak termasuk Mentri Keamanan Jepang dua tahun yang lalu.

Informasi ini kami dapatkan dari seorang kurir narkoba yang berhasil ditangkap polisi lantas diserahkan kepada badan ANBU, namun nahas sebelum informasi cukup kami dapatkan kurir tersebut nekat gantung diri dengan menggunakan kabel yang berada ditoilet.

Tapi aku tidak akan menyerah, ini semua harus berakhir. Kukira dia seorang yang mempunyai kekuasaan hingga memiliki banyak jaringan yang merugikan negara.

Aku mendial nomor sekretarisku Shimura Sai.

"Beri kabar kepada semua ketua anggota Divisi. Besok kita harus mengadakan rapat" perintahku kemudian. Terdengar seruan penyetujuan dari sang sekretaris.

Aku memijit pelipisku karena dirasa pekerjaan kali ini akan berat.

Aku harus menyegarkan diriku sejenak dengan meminum kopi.

'PUK'

Sesuatu terjatuh saat aku hendak bangkit untuk mengambil kopi. Kalung gadis gulali.

Jika hari-hari sebelumnya aku menyelesaikan pekerjaanku hingga larut malam, namun kali ini entah mengapa aku ingin cepat berakhir pada jam empat sore nanti.

.

.

.

.

Waktu istirahat tiba digunakan ketiga sahabat yang mempunyai surai berbeda tersebut dengan mengunjungi ruangan khusus untuk data seluruh siswa KHS.

Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan ketiga gadis cantik ini untuk menbobol ruangan yang dianggap rahasia tersebut karena sang penjaga ruangan Shizune sensei sedang berada dikantin bersama para Sensei lainnya.

"Psstt.. Hinata kau jaga disini ya, aku yakin para sensei tidak akan curiga dimanapun ketika mereka melihatmu Hinata" Ino berbisik kepada Hinata dan langsung mendapatkan persetujuan dari gadis bermata perak tersebut.

"Huum.. kalian cepatlah, kita hanya punya waktu sekitar tiga puluh menit saja" sekarang giliran Sakura dan Ino yang mengangguk.

"Ganbatte! "

Sakura dan Ino segera masuk untuk mencari profil Haruki Sara.

Kini rak-rak berjejer dengan kumpulan data semua siswa KHS dari awal didirikannya sampai saat ini.

"Hmm Forhead, memangnya Haruki Sara itu siswi dari angkatan tahun berapa?" Sakura menggeleng dan Ino sukses melongo. Bagaimana tidak? Lihatlah rak-rak besar berjejer dengan ribuan profil siswa hanya dengan dibatasi tahun dari angkatannya saja. Mereka tidak mungkin kan mencarinya satu persatu?

"Lalu aku harus mencarinya mulai dari mana? Oh tidak Sakura kau ini" Sakura menunjukkan wajah memelasnya. Bagaimana dia tahu, andai saja arwah Haruki Sara itu memberinya petunjuk lain.

"Aku tidak tahu. Kita cari saja. Cepat" hanya helaan nafas yang terdengar dari Ino.

Mata Sakura memejam. Ia mencoba tenang dan berdoa.

"Mohon bantuannya Sara-san" ucapanya dalam hati.

Tiba-tiba saja seperti ada angin aneh menghampiri ruangan itu.

Ini jelas-jelas sangat aneh. Pintu tertutup begitupula dengan jendela. Lalu angin ini dari mana datangnya? .

Ino meringkuk mendekati Sakura karena ketakutan. Sedangkan Sakura tersenyum tipis.

'BRUKK.. BRAKK'

File-file berjatuhan dengan sendirinya, Ino semakin meringkuk ketakutan dibalik punggung Sakura. Sedangkan Sakura hanya menyilangkan tangan didepan wajahnya.

"Apa yang terjadi Sakura? "

"Aku tidak tahu Ino. Tapi aku merasakan keberadaannya" Ino menutkan alisnya.

"Siapa yang kau maksud? "

"Sara.. Dia seperti ingin menunjukkan sesuatu" mata Ino melotot sempurna.

"Aku takut.. "

"Tenanglah.. "

Pintu terbuka dan masuklah Hinata dengan keadaan panik karena mendengar grasak-grusuk didalam.

"S-Sakura-chan Ino-chan. Apa yang terjadi, kalian baik-baik saja? " Hinata menghampiri Sakura dan Ino yang berada dipojok pintu.

Sakura mengangguk.

Salah satu file yang terjatuh terbuka dengan sendirinya dengan ketiga pasang mata yang menyaksikannya.

"I-itu.. " tunjuk Hinata.

Angin berhenti. Ketiga gadis cantik itu masih bernafas dengan memburu menyaksikan kejadian aneh itu terutama untuk Hinata dan Ino. Ini pertama kali mereka menyaksikan langsung kejadian berbau gaib seperti ini.

Sakura mencoba mendekati file yang terbuka itu dan berniat untuk mengambilnya sesaat sebelum sebuah suara mengagetkan ketiganya.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! "

.

.

.

.

.

Tok tok tok..

"Masuk! "

Sasuke menghentikan kegiatannya meneliti rangkaian kejahatan yang dilakukan bandar mafia yang belum diketahui identitasnya tersebut. Ia melirik pintu dan munculah seorang Agen Informatika genius khusus yang dimiliki ANBU dengan IQ mencapai 200, Nara Shikamaru.

"Bukankah rapat diadakan besok? "

"Ya, tapi aku membawa sesuatu yang lebih penting dari rapat besok"

"duduklah" Shikamaru mengikuti intruksi Sasuke dan duduk dikursi yang berhadapan dengannya.

"Ini.. " Shikamaru menyerahkan map merah yang didalamnya banyak berisi foto serta keteranganya. Sasuke menerima map tersebut dan mengernyit.

"Biar aku jelaskan" ucap Shikamaru kemudian.

"Ini adalah bukti foto saat kurir itu sedang bertransaksi. Foto-foto ini diambil dari kamera pengawas disebuah supermarket. Ada seseorang yang bersamanya, kau lihat yang memakai baju hitam itu kurir sedangkan yang memakai hoodie biru adalah kurir yang lain. Yang diduga akan mengantarkan heroin kepada ketua mereka. Aku juga coba mencari CCTV terdekat dikawasan itu, di sebuah pinggiran jalan CCTV milik motel . Dan benar saja" lalu Shikamaru menunjukkan foto lainnya.

"Lihatlah pria yang menggunakan hoodie biru itu berjalan kearah seseorang disebuah mobil, tapi sayang kacanya terlalu gelap. CCTV tidak merekam jelas wajahnya. Tapi bisa jelas merekam plat nomer mobil tersebut yang berasal dari Kirigakure" jelas Shikamaru panjang dan lebar. Sasuke berpikir keras.

"Jadi menurutmu, dalang dari semua kekacauan ini adalah orang yang berada di Kirigakure? " Sasuke bertanya dengan wajah datarnya seperti biasa, namun jelas sarat akan pemikirannya.

Shikamaru mengangguk yakin, punggung lebarnya ia sandarkan pada kursi.

"Kita juga mempunyai bukti lain, tapi aku tidak tahu apa ini bukti keterlibatan perusahaan besar asal Kirigakure disana terlibat atau tidak. Didalam kartu ATM kurir yang berhasil kami tangkap terdapat aliran dana secara berskala dari perusahaan itu. Ini sangat mencurigakan kita patut untuk mengembangkan penyelidikanya terhadap opiniku barusan. Bagaimana? "

"Besok kesempatan kita untuk mengembangkan penyelidikan" Sasuke mengambil beberapa foto dan punggungnya juga ia sandarkan pada kursi.

"Hh.. Mendokusai"

.

.

.

Ruang Kepala Sekolah KHS.

"Kalian pikir apa yang kalian lakukan disana. Apa kalian tidak memiliki norma sopan santun? " jelas sekali nada kemarahan yang diperlihatkan Kepala Sekolah Sarutobi Hiruzen kepada ketiga gadis yang dipergoki Ibiki Sensei sedang mengobrak-ngabrik ruangan khusus kumpulan data seluruh siswa KHS.

Ketiganya menunduk.

"Ini semua salahku Sarutobi-Sama. Mereka berdua hanya mengikuti perintahku saja mereka tidak bersalah" Sakura mencoba mencoba membela kedua sahabatnya yang tengah menunduk.

"Apa yang sebenarnya kalian cari? "

"tidak ada yang mencoba menjawab? Baiklah hukuman untuk ketiganya dengarkan ini baik-baik.

"Tapi Suratobi-Sama mereka...

"Sudahlah Sakura, kami tidak apa-apa"

Sakura menatap kedua sahabatnya dengan penuh salah. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal menyeret mereka berdua kedalam masalahnya. Kedua sahabatnya mengangguk, mereka mencoba untuk tak membuat Sakura jadi merasa sangat bersalah. Mereka hanya akan melakukannya bersama-sama.

"Hm! " Sarutobi berdehem mencoba memutuskan obrolan batin ketiga gadis dihadapannya ini.

"Selama satu bulan kedepan kalian harus membersihkan seluruh fasilitas sekolah setelah pulang sekolah, termasuk seluruh kelas. Satu hari satu ruangan fasilitas yang harus kalian bersihkan. Hukuman dimulai hari ini, kalian kembalilah kekelas dan jika kalian berbuat seperti ini atau hal onar lainnya. Maka aku akan mengedarkan surat panggilan kepada orang tua kalian" ucap Sarutobi dengan tegas. Ketiganya terkejut karena ancaman dari kepala sekolah barusan dan mengangguk menyetujuinya.

"Ha'i Sarutobi-Sama".

Ketiganya berlalu meninggalkan ruangan kepala sekolah yang telah mereka cap sebagai ruangan angker terlarang sekarang.

"Hinata, Ino aku minta maaf tak seharusnya aku melibatkan kalian seperti ini. Aku.. " ucap Sakura penuh penyesalan.

"Ssstt.. Sakura sudah aku bilangkan kau tidak usah meminta maaf. Lagi pula aku tidak keberatan asal kita melakukannya bersama-sama" Ino mengatakannya dengan tulus ia tersenyum. Hinata juga tersenyum dan merangkul kedua sahabanya.

"Ia Sakura-chan. Apa yang kita lakukan ini tidak termasuk dalam kenakalan ataupun kejahatan. Kita hanya akan membantu" Hinata menambahkan.

Sakura ikut tersenyum bersama kedua sahabatnya seraya mengucapkan Terima kasih.

Tapi dengan sekejap saja raut wajah Sakura menjadi murung.

"Ada apa lagi Sakura-chan? "

"Kita tidak berhasil mendapatkan data tentang Sara... "

"Kita bisa mendapatkannya dengan cara yang lain" hibur Hinata. Ino tersenyum misterius.

"Kalian tenang saja, kita tidak gagal. Ayo, kalian ikut aku" ucap Ino seraya menyeret kedua sahabatnya menuju tempat yang dituju olehnya.

Mereka sampai di belakang ruangan leb, Sakura dan Hinata hanya heran kenapa Ino membawanya kemari. Dan setelah Ino mencari-cari sesuatu, ia akhirnya berhasil menemukannya.

"Ini dia.. " Ino menyerahkan sebuah buku usang itu kepada Sakura.

"I-ini... bagaimaa bisa Ino"

"Jadi ceritanya..

#Flasback

Ino POV

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! "

Aku terkejut mengetahui Ibiki Sensei menemukan kami dengan keadaan ruangan yang sangat berantakan. Kami bertiga hanya gelisah dan pasrah ketika sensei galak ini memergoki aksi kami.

"Kalian ikut aku! " perintah Ibiki Sensei yang membuat bulu kudukku merinding.

Ibiki Sensei berjalan terlebih dahulu kemudian disusul dengan Hinata Sakura dan terakhir adalah aku.

Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kurikulum vite itu, aku melihat buku yang terbuka dengan sendirinya tersebut dan kembali untuk mengambilnya. Aku menyembunyikannya dibalik punggungku dan ketika aku melewati ruangan leb aku melemparnya kesembarang arah tepat kebelakang ruangan leb.

Ino POV End

#FlashbackOff

"Nahh.. seperti itu" Ino berkata dengan bangga.

"Waah.. kau hebat Ino-chan" puji hinata.

"Hmm.. aku memang hebat! " lalu ketiganya tertawa pelan.

.

.

.

.

.

Setelah menyelesaikan tugas membersihkan ruang olahraga, mereka selesai pukul empat. Hinata dijemput oleh kakaknya sedangkan Ino melenggang dengan mobil mini coovernya. Sedangkan Sakura seperti biasa, duduk sendiri dihalte menunggu bus kesayangan datang.

Sasuke menyeringai tipis. Tidak sia-sia ia pulang tepat waktu hari ini. Dan apa yang dicarinya ternyata sudah berada ditempat. Makhluk pink itu duduk sendirian di halte dengan kedua kakinya yang mengayun-ngayun pelan.

Tin Tin Tin.

Sasuke mengklakson dan Sakura pun menoleh.

Sakura bangkit dan mendekati mobil mewah Sasuke.

"Tuan Ay-eh maksudku Uciha-san. Kenapa ada disini? " seru Sakura dengan ceria tidak dipungkiri Sakura merasa sangat senang bertemu kembali dengan pria tampan dan juga gagah ini.

"Masuklah" ucap Sasuke datar yang membuat mood Sakura menjadi hilang.

"Huh.. kau kan bisa menyapaku terlebih dahulu" Sakura melipat kedua tangannya didada. Ya Tuhan Sifat Tuan Ayam es ini memang tidak berubah.

"Ada sesuatu yang akan aku tunjukkan kepadamu" alis Sakura menukik mendengarnya.

"Apa? "

"cerewet, cepat masuk! " titah Sasuke datar membuat Sakura kembali mengerucutkan bibirnya namun tetap mengikuti perintah Sasuke.

"Sebenarnya kau akan membawaku kemana? Kau tidak akan menculikku kan? " alis Sasuke menukik tajam mendengan penuturan Sakura barusan. Dengan enggan Sasuke memberikan identitas name-tag nya kepada Sakura. Mata Sakura sukses membelalak ketika membaca sederet hurup itu.

"J-jadi kau Ketua Devisi ANBU?" Sasuke mengendikkan bahunya acuh.

"Hn, aku tidak mau menculikmu" Sasuke berucap dengan malas.

"Kenapa tidak mau? " what hell, kenapa Sakura bertanya hal konyol seperti itu.

"Hn karena kau banyak makan" ucap Sasuke enteng yang dibalas pukulan pelan pada bahunya dari Sakura setelah terdengar seruan 'Kau menyebalkan' dari gadis musim semi tersebut.

Sasuke menyadari sesuatu. Dia terus mengamati dari balik kaca spion membuat Sakura bertanya mengapa ia melakukan hal itu terus menerus dari tadi.

'Sial' Sakura mendengar jelas umpatan yang keluar dari bibir seksi Sasuke.

"Ada apa? "

"Hanya benalu"

"A-apa? Benalu? Apa maksudmu? " Sakura benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Sasuke.

"Pasang sabuk pengamanmu. Sekarang! " mobil masih melaju dengan kecepatan sedang saat ini.

"Lihatlah kebelakang, sedan hitam itu terus mengikuti kita" dan kali ini Sakura benar-benar panik. Kenapa mereka dibuntuti?

"Kau sudah siap? " tanya Sasuke yang entahlah Sakura tidak mendengarkannya ia hanya fokus kepada mobil yang tepat berada dibelakangnya. Sasuke menginjak pedal gas sehingga laju mobilnya menjadi secepat kilat.

"Kyaaaa... "

.

.

.

To be continue...

Author Note :

Hai minna semua author mau ngasih ucapan terimakasih dengan tulus untuk kalian yang menjadi readers apalagi yabg nyempetin rievew ngefavs ngefollow itu semua membuat author senang dan semangat buat publis next chap. Tapi maaf minna yang sempetin rievew kali ini author gak sempet bales tapi percayalah author slalu baca riview kalian berulang-ulang mungkin di next chap author akan balas.

Untuk chap ini author sangat butuh dukungan untuk publish ke chap 3...so

Any review please ?

Sign,

Rynda