Desclaimer©Masashi Kishimoto
But
The Story REAL by me.
Sakura Of The SunHaruno Sakura
Uchiha Sasuke
WARNING!
Miss typo . Alur berantakan . OOC .
AU. DLL
Don't Like Just don't read.
Big Thanks for my Riviewers, to all favs and followers.
Thankyou so much.
Chapter 3
is
Begin..
.
.
.
.
Kirigakure, 16. 23 pm.
"Aku tahu orang yang kita hadapi. Bukankah tidak masalah jika kita melenyapkannya lebih awal. Ini sangat menyenangkan.. HAHAHA" suara baritone serak memenuhi ruangan itu sampai seseorang menghentikan tawa menyeramkan tersebut.
"Ketua"
"Dia menyadari pergerakan kita" sang informan membungkuk rendah kepada seseorang yang duduk dalam kursi kekuasaan. Sang ketua, begitu mereka para 'pengikutnya' memanggil dengan sekejap memicingkan matanya.
"Sial!. Pastikan mereka tidak berbicara satu patah katapun. Aku benci berhadapan dengan bocah tengik sepertinya. Aktifkan peledaknya saat mobilnya dekat dengan bocah tengik itu"
"Ta-tapi ketua mereka..
"aku tidak peduli dengan mereka, hanya dua pilihan. Uchiha Sasuke lenyap atau mereka yang lenyap! jangan biarkan Uchiha mendapatkan orang-orang bodoh itu terlebih dahulu" informan tersebut mengangguk samar dan berlalu dari hadapan Sang Ketua. Dan sesaat sebelum meninggalkan ruangan itu sang informan juga berujar.
"Ada satu hal lagi yang mereka sampaikan. Uchiha Sasuke bersama seorang gadis disana. Gadis itu berseragam KHS" terlihat sang ketua mengernyit. Apakah gadis itu adik dari Uchiha Sasuke? jelas bukan. Uchiha hanya mempunyai dua bersaudara dan keduanya laki-laki. Lalu siapa, kekasihnya? Ha sangat menarik, batinnya menyeringai.
"Harusnya aku tak meminta amatiran seperti mereka untuk membuntuti bocah tengik itu! ".
"Brengs*k! "
PRANGG
Pria itu memecahkan guci pas kecil yang berada di samping mejanya. Ia menggeram, marah dan juga penuh ambisi.
.
.
.
.
.
Konoha,
Sakura memejamkan matanya. Kedua tangannya mencengkram sabuk pengaman dengan erat. Ia sangat ketakutan, laju mobil ini sangat cepat tetapi mobil yang berada di belakangnya juga tak kalah cepat.
"Ambilkan handphone ku! " seru Sasuke setengah berteriak ditengah laju kecepatan mobil yang dikendarainya.
Sakura menggeleng ia terlalu takut bahkan hanya sekedar untuk membuka mata.
"Aku tidak mau.. aku takut" cicitnya dengan suara meringis.
"Ck! " Sasuke berdecak. Handphone yang disimpan didashboardnya telah jatuh dan berada disebelah kiri pedal gas. Ia tidak mungkin mengambilnya sendiri karena tidak ingin beresiko mobilnya menabrak apapun dan membiarkan mereka yang masih membuntutinya merasa menang. Sakura adalah harapannya tetapi gadis itu hanya berteriak dan ketakutan.
"Cepat ambilah!".
Dengan tangan gemetar Sakura melepas sabuk pengaman dan satu tangannya berpegangan kepada salah satu sabuk yang terbebas untuk kemudian beringsut kebawah kemudi. Sedangkan tangan yang lainnya meraba-raba setiap pojokan bawah dashboard dan dapat!.
Tapi ia sedikit kesulitan untuk kembali keposisi semula karena cepatnya laju mobil. Kakinya yang menekuk sulit untuk kembali lurus dan mencapai kursi. Serta mobil yang berbelok mengakibatkan terjadi benturan kepala pink Sakura pada pintu mobil.
JDUGG
"Aww! " Sakura meringis, kepalanya berdenyut dan ia merasakan mual.
"Kau tidak apa?"
Sasuke membantu Sakura untuk bangkit dengan tangan kirinya sedangkan matanya fokus menghadap badan jalan.
Setelah Sakura kembali keposisi semula, kini Sasuke mempunyai masalah baru. TrafficLight. Lampu merah dan banyak kendaraan yang sedang berhenti.
"AWAS! Kau gila, kita akan menabrak mereka! " Sakura berteriak ketakutan.
"Cih! "
Sasuke membelok tajam dan mendapatkan jalan alternatif, sayang jalannya tak semulus jalan yang ia lewati seperti beberapa saat lalu. Jalan yang dipenuhi daun berguguran dan semakin jauh semakin jalanan ini tidak beraspal. Kanan dan kiri jalanan hanya ditumbuhi pepohonan tinggi menjulang. Tidak terlihat lampu jalan tidak terlihat pula perumahan warga. Ia sudah sangat jauh meninggalkan kota.
Sasuke berpikir keras, ia panik dan juga berusaha mencari jalan keluarnya. Ia ingin mendapatkan orang yang telah membuntutinya secara hidup. Tapi bagaimana caranya? Jika ia berhenti dari aksi saling kejar ini maka dipastikan ia tidak akan selamat. Orang-orang itu akan dengan senang hati menabrak mobilnya sebelum ia keluar dari sana.
Andai saja ia mengaktifkan signal darurat sejak awal yang menghubungkannya dengan software komputer milik ANBU yang berada dalam pengawasan beberapa anggota ANBU dan Nara Shikamaru adalah salah satunya.
Ia melirik kearah Sakura, gadis itu masih meringis akibat benturan tadi.
"Sakura! Kau bisa menghubungi anggota ANBU. Cari Nara Shikamaru!".
Dengan jantung berdegub serta rasa pening yang bersarang dikepalanya ia mulai mencari kontak Nara Shikamaru ini sangat sulit, jalanan yang tidak mulus membuat semuanya bergerak tak karuan.
Sasuke melihat mobil sedan hitam masih mengejarnya.
Mata Sakura sedikit berbinar, ia sudah menemukan kontak Nara Shikamaru. Sakura hampir mendial nomor tersebut tapi sesuatu terjadi pada mobil sedan hitam yang berada dekat dengan ujung bagasi mobil Sasuke ini.
DUAARRR
Mobil sedan itu meledak membuat mobil Sasuke juga ikut terpelanting dan berguling ke sisi kiri bahu jalan.
"Kyaaaaaa.. / AAAA"
Mobil berguling-guling terjun kebawah. Namun juga tidak curam hanya berkisar 8 sampai 9 meter dari jalanan.
Mobil berhenti berguling dengan posisi semula.
Sasuke meringis semua tubuhnya masih terasa kaku tapi pening dikepalanya terasa hebat. Ia menoleh, mendapatkan Sakura yang tak sadarkan diri.
Tangannya terulur mencoba membangunkannya tapi Sakura tak kunjung membuka matanya.
Syukurlah, denyut nadi serta nafasnya masih ada batin Sasuke merasa lega.
Oh tidak!
Sasuke mulai panik ketika melihat percikan api yang keluar dari mesin mobil yang sudah setengah ringsek ini.
Dengan sigap ia membuka sabuk pengamannya dan juga sabuk milik Sakura.
Setelah berhasil ia mendapati pintu mobil yang terkunci.
'Sial' rutuknya dalam hati.
Dengan sisa tenaganya, ia menendang pintu mobil tapi tidak berhasil.
Oh sial. Percikan api semakin merambat.
Ia meraih sebuah dongkrak yang selalu tersimpan dibelakang dan segera memecahkan kaca depan mobilnya.
Sasuke keluar terlebih dahulu setelah membersihkan sisa-sisa kaca yang masih bersarang menggunakan jas yang dililitkan pada tangannya.
Sasuke meraih belakang kepala Sakura serta kedua lututnya dan menggendongnya keluar dari mobil.
Nafas Sasuke memburu, ia membawa Sakura menjauh dari mobil.
DUARRR
Mobil meledak beberapa detik setelahnya. Sasuke bersandar pada batang pohon yang cukup besar untuk melindunginya dan juga Sakura dari ledakan. Sasuke menghela nafas panjang setelahnya.
.
.
.
.
.
Markas ANBU, pukul 08.55..
Para anggota ANBU sibuk seperti biasa. Jika mereka menyadari sesuatu pasti mereka merasakan hal yang ganjal.
Ketua mereka tidak ada ditempat, padahal Sasuke selalu datang tepat waktu.
Naruto yang menyadari pertama kali langsung menghubungi sahabat ravennya tersebut. Tapi hanya operator yang selalu menjawab panggilannya. Nomor Sasuke tidak aktif.
"Apa dia bangun kesiangan? Hh.. Uchiha Sasuke kurasa tidak mungkin.. "
Naruto merasakan tepukan pada bahunya dan mendapati Sai disana.
"Oh Sai.. Selamat pagi" Sai tersenyum dan membalas sapaan Naruto.
"Kukira kau mempersiapkan rapat? " Sai bertanya dengan wajah ramahnnya seperti biasa.
"Iya.. tapi Teme belum datang. Kau tahu dia kemana? " Sai menggeleng pelan.
"Tidak ada kabar, nomornya tidak aktif semenjak malam tadi. Aku berusaha menanyakan berkas rapat hari ini. E-mailku juga tidak dibalas".
Naruto semakin menautkan alisnya. Pasalnya Sasuke adalah orang yang telaten dan tidak pernah meninggalkan handphonenya untuk pekerjaan. Rapat dimulai pukul sebelas dan jika pukul sepuluh nanti Sasuke belum juga datang maka Naruto akan menyusul kemansion megahnya.
"Baiklah Sai, kabari aku jika kau mendapatkan kabar dari Sasuke"
"Baik"
.
.
.
Sementara itu disebuah perbukitan Timur Konoha..
Kedua insan berbeda gender tersebut tertidur dengan menyandar pada batang pohon besar. Tidak, hanya Sasuke yang menyandar sebenarnya sedangkan Sakura beralaskan daun merah momoji serta berbantal tas miliknya tak lupa juga jas Sasuke yang membalut sebagian tubuhnya.
Sasuke membuka perlahan kelopak matanya dan seluruh tubuhnya terasa nyeri sekarang.
Lalu ia melirik Sakura, keadaan Sakura juga tidak jauh darinya. Memar pada dahi lebar dan beberapa luka kecil pada tangan, kaki dan bawah matanya.
"Bangunlah, Sakura.. sakura"
Sasuke menepuk-nepuk pelan pipi putih Sakura. Sakura menggumam tidak jelas.
"Enggh.. Kaa-san" Sasuke mencoba membelai rambut Sakura kemudian.
"Sakura"
Sakura POV.
Ugh.. Seluruh tubuhku terasa nyeri. Bahkan mataku saja terasa berat untuk sekedar melihat siapa yang memanggilku dari tadi. Kaa-san?
Bukan. Ini suara laki-laki. Aku juga tidak berada dikasur empuk milikku.
Belaian ini sangat hangat, sama ketika Kaa-san membelaiku.
Aku mecoba membuka kelopak mataku yang berat ini. Samar cahaya mulai terlihat, aku berusaha untuk menyesuaikan dengan mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku memutar kembali adegan-adegan yang terjadi sampai aku bisa berada disini dalam otakku. Dan oh, ledakan. Aku merasakan ledakan seperti tepat dibelakangku. Aku masih hidup kan?
Sekarang aku sudah terbangun dengan Sasuke berada disampingku. Tenggorokanku rasanya mengering.
"S-Sasuke? " cicitku lemah.
"Hn.. Kau tidak apa?" tanyanya sembari membawaku terduduk.
Aku mengangguk pelan.
"Aku haus.. " ucapku lirih.
"Aku rasa didekat sini ada sungai. Kau bisa berdiri? " aku mencoba berdiri perlahan, tapi demi koleksi heels milik Ino tubuhku limbung dan hampir menyentuh tanah sebelum tangan kekar Sasuke merangkulku. Aku sudah sangat lemas, letih dan juga berantakan. Berantakan dalam artian yang sebenarnya. Lihatlah almamater seragamku sobek, rambutku kusut, dan wajahku entahlah bentuknya seperti apa sekarang.
"Naiklah.. " Sasuke berjongkok dihadapanku, kurasa ia sedang menawarkan punggungnya yang lebar itu kepadaku. Disaat seperti ini kenapa pipiku memerah? Aku segera naik kepunggungnya.
"Tunggu! tasku.. " ucapku pelan dan Sasuke segera mengambilkan tasku dan memberikannya kepadaku.
Hening. Tidak ada yang memulai percakapan disini. Tapi aku salah detik selanjutnya Sasuke mulai berbicara walaupun (masih)dengan intonasi dan wajah yang datar.
"Kau tidak mengalami cedera yang seriuskan? Katakan padaku jika kau kesakitan, jangan dipendam" ujarnya.
Aku menggeleng pelan dan sangat senang ketika Sasuke perhatian.
"Tidak Uchiha-san..
"Pangil aku Sasuke, kau seperti memanggil ayahku saja" aku terkekeh pelan.
"Ne, Sasuke.. Hmm Sasuke-kun? Bagaimana kalo Sasuke-kun saja?hihi " Sasuke mendengus "Hn.. terserah"
"Apa aku berat? " jujur saja aku sedikit penasaran, Sasuke menggendongku seperti seringan bulu dia juga tidak kesulitan dengan langkah kakinya.
"Hn. Kau sangat berat" jawabnya disertai kekehan pelan. Aku mencubit otot tangannya yang kekar dan ia hanya berdecak.
"Enak saja, bahkan aku tidak memakan apapun sejak kemarin" Sasuke terus melangkah tanpa menghiraukan celotehanku. Tapi aku sungguh melihat bibir tipisnya dari samping yang tersenyum.
Sakura POV End.
.
.
.
Kediaman Haruno,
"Benarkah Ino-chan, Hinata-chan juga tidak tahu? "
Ino menjawab disebrang telpon sana
"Benar Baa-san, aku sedang bersama Hinata dia juga tidak tahu"
"Oh.. Saki. Ino-chan kumohon beritahu Baa-san ya jika kau mengetahui keberadaan Saki. Baa-san sangat mengkhawatirkannya"
"Huum Baa-san aku pasti akan beri tahu Baa-san.. "
"Terimakasih Ino" dan sambungan telpon pun terputus. Mebuki merasakan pundaknya dirangkul dengan hangat.
"Bagaimana ini Kizashi-kun. Dimana Sakura sebenarnya? " Kizashi juga tidak tahu dimana Sakura. Andai saja ia menjemput Sakura kemarin, Kizashi berujar dalam hati. Tapi penyesalan kan selalu datang terlambat.
Kizashi hanya bisa menenangkan istri tercintanya itu. Ia mengusap-usap pelan punggung ringkih ibu dari anak gadisnya yang tengah hilang ini.
"Tenanglah Mebuki. Kita tahu, Sakura anak yang cerdas ia tidak mungkin melakukan hal-hal aneh. Dia adalah anak kita" dan Mebuki terisak dalam dekapan kizashi.
.
.
.
Sasuke benar. Setelah berjalan beberapa meter mereka menemukan sungai disini, sungai yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu dalam. Airnya jernih sehingga mereka bisa melihat kehidupan dibawah air yang terlihat sangat segar dan menggoda itu.
Sasuke menurunkan Sakura perlahan dan Sakura yang tidak sabaran segera berlari untuk menyentuh air ia benar-benar tidak merasakan tubuhnya sendiri yang begitu lemas saat melihat air.
Sasuke hanya bergumam dan tersenyum tipis melihatnya.
"Segar! ini sangat segar" gumam Sakura ditengah kegiatan meminumnya.
Sasuke menghampirinya dan bergabung untuk merasakan kesegaran air sungai itu.
Setelah keduanya membersihkan diri, mereka terduduk dibawah pohon besar yang menjulang serta rimbun.
"Sasuke-kun, kita ada dimana? Kapan kita pulang? Kau tahu Kaa-san dan Tou-san ku mereka pasti mengkhawatirkan aku.. hiks.. aku ingin pulang.. hiks" dibalik topeng datarnya Sasuke kini gelagapan mendengar suara isak gadis bermata emerald disampingnya ini.
"Anggotaku akan segera menemukan kita, bersabarlah" jeda sesaat sebelum ia melanjutkan "kenapa kau tidak membawa ponselmu?" tanya Sasuke kemudian.
"Kan aku sudah bilang, ponselku tertinggal dikamarku.. hiks"
"apa kau tidak punya kekasih? " pertanyaan Sasuke sukses membuat Sakura berhenti terisak.
"Apa?" sepertinya Sasuke salah menanyakan pertanyaan.
"Ck! Bukan itu maksudku. Maksudku jika seseorang mempunyai kekasih biasanya ia tidak akan meninggalkan handponenya" Sakura menaikkan alisnya heran. Sasuke sedang menyindirnya karena tidak mempunyai kekasih? Wajah Sakura berubah cemberut.
"Huh.. terserah aku" jawab ketus Sakura bersedekap.
"Memangnya kau punya kekasih? Aku rasa kau juga tidak, gadis-gadis tidak akan mau dengan orang jelek dan mirip ayam sepertimu" ucapan Sakura membuat Sasuke melongo. What the hell? Hanya orang yang sudah almarhum saja yang berkata Sasuke jelek. Para gadis berteriak mengantri seperti hendak mengambil pembagian sembako setiap jam makan siang hanya karena ingin melihat Sasuke walaupun mereka tidak diijinkan masuk restauran. Gadis gulali ini benar-benar. Sasuke kesal sebenarnya tapi sudahlah, apa untungnya memperdebatkan hal konyol seperti ini dengan gadis pink disebelahnya dalam keadaan seperti ini didalam hutan?
Detik selanjutnya Sasuke menoleh dan melihat Sakura tertawa sampai-sampai ia memegangi perutnya.
Tidak bisa dipungkiri, ia lega sekali relung hatinya menghangat mendapati gadis yang terisak tadi kini tertawa lepas. Sakura mentertawakan dirinya. Ya, walaupun fakta dan takdir itu tidak bisa mengubah bahwa Uchiha Sasuke adalah makhluk yang super tampan batinnya narsis.
"Ne, Sasuke-kun.. aku lapar"
"ha? "
.
.
.
.
.
Kepala Kepolisian Jepang Hatake Kakashi melenggang masuk kedalam markas ANBU tanpa adanya pemeriksaan. Ya siapapun juga tahu dia Kepala Polisi Jepang dan memiliki hubungan baik bahkan bukan sekedar baik tetapi ia anggap hubungan persaudaraan dengan anggota ANBU terutama Uchiha Sasuke dan juga Uzumaki Naruto. Mereka berdua pernah menjadi anak didiknya selama dalam masa karantina akademi militer. Itulah mengapa ia sangat dekat dengan Sasuke dan Naruto.
Kakashi hendak menuju lift saat sebuah suara yang familiar memasuki gendang telinganya.
"Kakashi Sensei! " Kakashi berbalik dan Naruto mengangkat tangannya pertanda salam.
"Hm.. kebetulan sekali aku bertemu denganmu sekarang" alis Naruto terangkat.
"Apa ada sesuatu yang penting? " Kakashi hanya mengangguk perlahan. Keduanya berjalan menuju ruang santai tempat favorit Kakashi dan sejumlah anggota ANBU jika sedang berkumpul.
"Sasuke belum datang Sensei" Naruto melanjutkan, membuat Kakashi berhenti melangkah.
"Kenapa? apa hari ini hari liburnya? " gelengan pelan menjadi jawaban Naruto.
"Aku tidak tahu, mungkin ada urusan"
"Baiklah.. aku kesini akan menyampaikan laporan tadi pagi.. Aku ingin Shikamaru, Sai, dan juga Sasori ikut bergabung"
"Baiklah Kakashi sensei"
Setelah Naruto, Shikamaru, Sasori dan juga Sai hadir Kakashi mulai memberikan informasi mengenai alasannya mendatangi markas ANBU.
"Tadi pagi aku mendapatkan laporan dari warga jika di sebelah perbukitan timur terjadi ledakan. Warga sendiri tidak melihat langsung karena mereka takut akan segala hal. Jadi aku mengirimkan tim menuju kesana untuk melakukan evakuasi dan juga penyelidikan" Shikamaru mengangkat tangannya dan Kakashi pun memeberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara.
"Bukankah daerah Timur Konoha tidak ada pabrik industri, kimia bahkan bisa dikatakan tidak ada sektor pembangunan apapun. Pemukiman warga juga tidak ada, hanya lahan dan bukit. Lalu ledakan itu? " Kakashi mengangguk mengiyakan dan yang lainnya semakin terheran.
"Iya benar. Timku berusaha menyelidiki itu, dan aku meminta kepada kalian untuk ikut dalam penyelidikan ini. Para saksi juga melihat sebelum adanya ledakan di Timur Konoha terdapat aksi saling kejar, mereka mengaku jika mereka melihat dua mobil hitam saling kejar memasuki jalan alternatif menuju Timur. Tidak ada yang mengenali plat" semuanya terfokus pada Kakashi dan mengangguk.
Drrtt.. ddrrtt
"tunggu sebentar.. ".
Handphone milik Kakashi. Segera saja Kakashi mengangkat panggilan itu dengan berdiri sedikit menjauh dari ketiga anggota ANBU tersebut.
"Sai apa kau sudah mendapatkan kabar dari Teme? " Sai merilekskan tangannya.
"Tidak, bukankah kau akan menyusulnya? "
"Jadi Sasuke tidak ada? " tanya Sasori heran. Naruto menoleh sekilas dan mengangguk.
"Benar Sai, tadinya seperti itu. Tapi seperti yang kau lihat, Kakashi Sensei ada disini" Sai hanya mengangguk sedangkan Shikamaru hanya mendengarkan percakapan sekilas dari rekan-rekannya ini.
Kakashi berbalik dan segera menduduki kursinya kembali.
"Kalian harus ikut aku kelokasi" semua anggota ANBU mengernyit bingung.
"Kenapa Sensei? "
"Ledakan itu berasal dari sebuah mobil. Dan kalian tahu, timku baru saja memberi kabar jika mereka menemukan rompi ANBU milik Sasuke. Dua mayat yang tidak berbentuk sudah ditemukan"
ketiganya sukser melotot tidak percaya. Tapi untuk lebih jelas mereka juga harus melakukan pemeriksaan sendiri.
Ketiganya langsung menuju tempat kejadian perkara.
.
.
.
.
Sakura memajukan bibirnya pertanda cemberut.
"Kau kan ketua Devisi ANBU, kenapa menangkap ikan saja tidak bisa?".
Sasuke saat ini tengah berada ditengah sungai yang dalamnya hanya sebatas lututnya saja. Celana satin hitam mahalnyapun ia gulung namun tetap terkena air. Ia berusaha menangkap ikan dengan menggunakan tombak kayu yang ia buat. Tapi sayang, hampir satu jam ia tidak mendapatkan satu ikanpun dan ia hanya mendapatkan omelan dari gadis yang mengaku sangat lapar tersebut. Kadang Sakura juga akan mentertawakan dirinya yang hampir terpeleset. Sasuke berdecak sebal. Ikan disini ukurannya kecil, jadi semakin susah jika ditombak. Sasuke juga semakin kesal karena gadis gulali ini tidak bisa diam.
"Ikan disini sangat kecil, tidak bisa jika menggunakan tombak" ucap Sasuke setengah frustasi.
Ditengah kefrustasiannya mendapatkan ikan serta rengekan dari gadis musim semi yang kelaparan itu Sasuke melihat dari balik bebatuan jika ada segelintir udang berhilir mudik. Kenapa ia tidak menyadarinya dari tadi? CK!
Tapi tetap saja, sangat susah jika ia hanya menggunakan tangan kosong apalagi tombak untuk mendapatkan beberapa udang berukuran sebesar jari kelingking itu.
Sasuke keluar dari sungai dan mencari sesuatu.
"Berikan kaos kakimu" Sakura melihat kearah Sasuke lalu kekaos kakinya.
"Untuk apa? "
"jangan banyak bertanya, berikan saja dan kau akan makan setelah ini" Sakura menuruti permintaan Sasuke, ia membuka kaos kaki berbahan stockingnya dan menyerahkannya kepada Sasuke.
"Kaos kakiku tidak bau! " ujarnya dengan sedikit kesal, pasalnya Sasuke memperlakukan kaos kakinya seperti seonggok telur busuk. Sasuke hanya berdecak pelan, sebenarnya ia hanya sengaja ingin membuat Sakura kesal. Lalu ia merobek kaos kaki yang mendapatkan hadiah cubitan dari Sakura pada lengannya dan menyambungkannya dengan ranting sehingga menyerupai jaring.
"Akan aku ganti nanti, dasar cerewet".
Dan yap! Sasuke berhasil mengumpulkan beberapa udang tersebut membuat Sakura kegirangan.
Mereka membakarnya dan kemudian menyantapnya. Sakura tidak menyangka jika udang ini rasanya sangaaaaaat lezat. Ia bahkan memakan lebih banyak udang yang seharusnya menjadi bagian Sasuke.
"Sakura"
"Hm?"
"Ini milikmu" Sasuke menyerahkan kalung milik Sakura. Dan Sakura berbinar menerimanya.
"Kalungku! "
"Hn, kau sangat ceroboh"
"Sasuke-kun berapa lama lagi kita disini? Mungkin kita bisa berjalan menyusuri jalanan" Sasuke menatap Sakura seperkian detik dan membuat pipi Sakura merona tipis karenanya.
"Tidak bisa, itu terlalu jauh kau juga sedang terluka" Sakura akhirnya mengangguk pasrah.
"Bersabarlah" tanpa sadar tangan kekar Sasuke terulur membelai sisi wajah Sakura dan menatapnya lekat. Ia membawa kepala pink Sakura dalam dekapannya.
Sakura hampir tertidur dalam dekapan hangat Sasuke jika saja ia tidak mengalami hal semacam mimpi aneh sebelum tertidur.
Hutan. Pria bermasker biru. Gadis berambut pirang. Sekolah. Hutan lalu kembali ke sekolah.
Sakura tersentak seketika membuat Sasuke berusaha menyadarkannya. Kini Sakura terlihat pucat dan gelisah membuat Sasuke panik.
"Kau tak apa? " Sakura tidak menjawab tidak pula menggerakkan kepalanya seperti biasa. Ia hanya terdiam dan air matanya mengalir begitu saja..
"Sara.. " gumam Sakura pelan tapi Sasuke mendengarnya dengan jelas. Mata Sasuke melebar, ia dengan jelas mendengar Sakura menggumamkan nama seseorang yang pernah mengisi hatinya dimasa lalu. Kemudian Sakura tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
To be continue...
Author Note : Halo minna, chap ini sebenarnya sangat panjang tapi tiba2 filenya ke apus. So jadi harus puas dengan segini aja. Oh iya, minna author punya kesibukan di dunia nyata jadi gak bisa terus menerus update story ini dengan tepat waktu. Jadi, author mohon sebesar-besarnya untuk mengerti. Pokoknya terimakasih banyaaaakk sebanyak-banyaknya dari aku.
Balasan Riview :
gitazahra:
Halo salam kenal juga^°^.. Terimakasih buat riviewnya jangan bosan-bosan ya.. dan buat cerita kedepannya kita lihat aja nanti biar pada penasaran :v. Aku update tergantung situasi..
Uchiha Jidat :
Halo terimakasiiihh.. ngomong2 iyaya kok aku baru ngeh sama penulisan kata leb? padahal sering banget aku nulis fiksi pake setting ruangan lab dan nulisnya juga lab bukan leb, mungkin author lagi lelah :v.. nah kalo Forehead author merasa terselamatkan^^ tapi untuk kapital aku rasa udah benar kok mungkin minna-san salah lihat hanya ada satu forehead yang aku lupa tidak memakai kapital^^.. terimakasiihh jangan bosan yah buat ngoreksi kesalahan author lainnya di next chap
hanazono yuri, AngelDewi : Terimakasiiihh,, oke^°^
Sri334, Younghee Lee :
Let's see.. Terimakasiiihh udah mampir.. nah ini dia, aku sempat dilema sama penulisan Uciha or Uchiha.. tapi kalian sangat teliti, untuk next chap aku pastikan bakalan ubah penulisannya.
Hyuugadevit-Cherry :
Terimakasiihh.. oke^°^
daisaki20 :
Baik Daisaki-san!^^
Hoshi Riri, Riri, Guesst :
Halo.. terimakasih yaa untuk cerita kita liat aja nanti.. btw nama kita sama Riri #GakNanya :v
Guest : siiiiiaaaappp! shirazen :
Sasuke 25 th sedangkan Saki masih kelas 3 SMA, sekitar 8 th jarak umur mereka. Terimakasiihh^^
KendallSwiftie : Halo jugaa^^.. terimakasih kalo suka.. haha kita lihat yah nanti
Nurulita-san : halo^^ terimakasiihh...
