Sakura hampir tertidur dalam dekapan hangat Sasuke jika saja ia tidak mengalami hal semacam mimpi aneh sebelum tertidur.
Hutan. Pria bermasker biru. Gadis berambut pirang. Sekolah. Hutan lalu kembali ke sekolah.
Sakura tersentak seketika membuat Sasuke berusaha menyadarkannya. Kini Sakura terlihat pucat dan gelisah membuat Sasuke panik.
"Kau tak apa? " Sakura tidak menjawab tidak pula menggerakkan kepalanya seperti biasa. Ia hanya terdiam dan air matanya mengalir begitu saja..
"Sara.. " gumam Sakura pelan tapi Sasuke mendengarnya dengan jelas. Mata Sasuke melebar, ia dengan jelas mendengar Sakura menggumamkan nama seseorang yang pernah mengisi hatinya dimasa lalu. Kemudian Sakura tak sadarkan diri.
. .
.
.
.
.
.
Desclaimer©Masashi Kishimoto
but
Story REAL by me.
Sakura Of The Sun
Haruno Sakura
Uchiha Sasuke
WARNING !
Miss Typo. OOC. AU. Alur berantakan. DLL
Don't Like? Just don't read!
Chapter 4
is
Begin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
Perbukitan Timur Konoha,
Setelah mendengar atasan mereka terlibat dalam ledakan yang terjadi di Timur, ketiga anggota penting ANBU serta Kepala Kepolisian Jepang Hatake Kakashi langsung meluncur ketempat kejadian perkara.
Tidak butuh waktu lama bagi tim forensik yang dibantu anggota ANBU ini memeriksa mayat yang diduga salah satu pengendara mobil dan bisa saja itu adalah mayat Uchiha Sasuke.
Tapi beberapa saat yang lalu, tim bisa bernafas lega karena hasil DNA serta golongan darah dari kedua mayat tersebut bukanlah Uchiha Sasuke.
Ya, tentu saja ini juga menjadi perkiraan Naruto dan yang lainnya. Jika Uchiha Sasuke tidak akan mati semudah itu. Sebagaimana hasil penyelidikan, kemungkinan besar jika mereka adalah salah satu anak buah bandar narkoba yang mulai terusik karena gerak-gerik mereka telah tercium oleh tim ANBU, begitulah hasil analisis dari Nara Shikamaru. Dan sekarang ini, semua tim sedang memeriksa puing-puing sisa ledakan untuk memperkuat spekulasi mereka.
Seperti penemuan plat yang berasal dari Kirigakure.
"Bagimana Shikamaru, kau menemukan sesuatu? tanya Sasori yang berada tepat dibelakang punggung Shikamaru.
"Coba kau perhatikan itu" Shikamaru menunjukkan sekumpulan berkas yang terbakar.
Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa yang masih bisa terlihat membuat Sasori sedikit kebingungan.
"Kau sudah melihatnya? " Sasori menggeleng.
"Aku tidak mengerti" ucap Sasori kemudian.
"Ini sebuah logo perusahaan, tetapi sebagian lagi sudah terbakar. Akan tetap aku bawa untuk penyelidikan selanjutnya" dan Sasori mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Shikamaru. Memang sisa berkas tersebut tak ubahnya seperti debu, tapi dengan kegeniusan Shikamaru, debu yang terbakar itu jika diperhatikan dengan seksama akan meninggalkan guratan sisa yang diduga sebagai logo sebuah perusahaan asal Kirigakure.
Sedangkan Naruto dan Sai memeriksa mobil yang tidak jauh dari tempat Shikamaru dan sasori. Beberapa anggota polisi Pimpinan Kakashi juga terlihat berhilir mudik disekitarnya.
"Benar, ini mobilnya Teme! " ucap Naruto dengan raut serius. Sai mengangguk mengiyakan.
"Tapi kurasa Sasuke tidak sendirian. Ini.. " Sai menyerahkan kancing yang ditemukannya kepada Naruto,kancing berwarna coklat yang ditengahnya berlambangkan huruf kanji KHS.
"Kau kira ini sebuah nama perusahaan atau apa Sai? "
"Kurasa bukan perusahaan, Konoha High School mungkin? "
"Ah, kau benar. Kenapa aku tidak ingat? Tapi, apa yang dilakukan siswa KHS bersama Teme?" dan sekarang kepala Sai menggeleng sebagai jawabannya.
Sementara disisi lain Kakashi sedang memberikan intruksi kepada salah satu anggotanya.
"Kita memerlukan anjing pelacak. Arashi, kuserahkan padamu" Arashi dengan sigap memberi hormat.
"Baik Kakashi-sama, secepatnya!"
Kakashi menghampiri Naruto dan juga Sai yang sepertinya tengah memperdebatkan sesuatu. Ditengah langkahnya, Kakashi menemukan penjepit rambut kecil berwarna pink. Kakashi memungutnya dan menaikkan alisnya bingung.
"Naruto, Sai. Apa yang kalian temukan disana? " kedua lelaki yang memiliki surai berbeda tersebut menoleh pada Kakashi dan keduanya pun berdiri.
"Kami menemukan kancing milik siswa KHS Sensei" siswa KHS, bagaimana bisa? Batin Kakashi berujar.
"Kalian yakin?" Sai mengangguk dan Naruto menyerahkan kancing yang ditemukannya kepada Kakashi.
"Kurasa bukan siswa, tapi seorang siswi!" Kakashi meyakinkan keduanya.
"Coba kalian lihat apa yang aku temukan" Kakashi memperlihatkan hasil penemuannya itu.
"Penjepit rambut?" ujar Naruto bingung.
Lalu Kakashi memanggil salah satu tim anggotanya yang bernama Konohamaru.
"Konohamaru!" Konohamaru yang sedang membantu mengumpulkan potongan tubuh mayat itu segera menoleh.
"Ya Kakashi-sama?" Kakashi segera menyerahkan kancing itu kepada Konohamaru.
"Aku ingin kau mencari tahu lambang dari kancing ini berasal dari KHS atau bukan"
"Baik" Konohamaru segera membawanya kedalam mobil tim kepolisian yang didalamnya tersedia peralatan untuk penyelidikan.
.
.
.
.
.
.
"Sakura! Sakura... " Sasuke menepuk-nepuk pelan pipi Sakura yang basah. Saat ini pikirannya sedang kacau. Sasuke seolah mengenang kembali bagaimana kisah hidupnya 9 tahun yang lalu.
Sakura menggumamkan nama Sara. Siapa Sara yang Sakura maksud? Apakah benar Sara yang Sasuke kenal, Haruki Sara? Batin Sasuke berbicara.
Sasuke langsung mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang bersemayam dalam pikirannya, yang harus dilakukannya sekarang adalah membawa Sakura kemanapun agar segera mendapat pertolongan. Ia heran, bagaimana ia merasa begitu panik melihat Sakura dalam keadaan seperti mayat hidup, pucat serta dingin.
Sasuke segera membawa Sakura dipunggungnya. Ia tak lupa membawa tas hitam milik Sakura.
"Bertahanlah!" gumam Sasuke ditengah langkah lebarnya.
Guk! Guk!
Dua anjing lacak berjenis Labrador Retriever menghampiri Sasuke.
"Teme!..
Sasuke mendengar jelas suara cempreng sahabat pirangnya itu.
Naruto, Sasori serta tiga tim anggota kepolisian terlihat.
"Yokatta.. siapa dia Teme?" Naruto sekarang yakin, jika siswi KHS itu adalah gadis yang berada dipunggung sahabat ravennya tersebut.
Sasuke menghela nafasnya pendek, bahkan sekarang ia tidak dalam keadaan ingin berbicara barang sepatah katapun. Ia hanya ingin Sakura mendapatkan perawatan.
"Nanti saja Dobe! Dia butuh perawatan sekarang" tanpa banyak pertanyaan lagi, Naruto segera mengambil alih tas yang dibawa Sasuke dan Sasori menawarkan diri untuk membawa Sakura saja karena Sasuke terlihat begitu lelah. Tapi sepertinya sang atasan tidak mengijinkannya.
Setelah berjalan setengah berlari selama 30 menit, mereka sampai di base dan Sasuke masih bungkam. Ia berteriak untuk menyediakan mobil medis untuknya, sang supir Uzumaki Naruto dengan cekatan mengemudikan mobil berjenis Porsche hitam metalik.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah ledakan yang terjadi di kawasan Timur Konoha, seluruh tempat kini dalam pengawasan ketat Badan Kepolisian. Pengawasan menjadi tiga kali lipat dari yang biasanya dan ini membuat sejumlah mafia serta bandar narkoba menggeram marah.
"Kita tidak bisa menyelundupkan heroin ini. Pengawasan dilakukan diberbagai tempat di Konoha, apalagi daerah perbatasan, akan sangat sulit" ucap sang informan kepada ketua.
"Kita akan merugi jika tak dilakukan dalam kurun waktu 24 jam! Sial! Kalian benar-benar tidak becus !"
"Maafkan kami ketua!" dua kurir yang datang bersama informan tadi bersimpuh meminta ampun.
Pria bermata bak ular itu menyeringai.
"Akan aku maafkan jika kalian bisa melakukannya! Bawa itu kepada Mr. Pray bagaimanapun caranya!" ujar pria itu dengan nada penuh penekanan. Kedua kurir tersebut mengangguk patuh.
"Baiklah Orochimaru-sama" pria yang dipanggil Orochimaru tersebut tertawa seram seraya bergumam ditengah tawanya.
"Kita untung besar! HAHAHA..
Orochimaru seperti tengah memikirkan sesuatu sesaat setelah sang informan setia mengantarkan kedua kurir handalnya keluar.
"Ada apa Ketua? Apa yang sedang kau pikirkan? " sang informan tetap berdiri meskipun tersedia dua kursi yang berada disampingnya.
"Aku harus menyelesaikan sesuatu di Konoha besok, bertemu Mr. Pray dan bertemu kawan lama.. " Orochimaru menyeringai membuat siapa saja yang melihatnya membuat bulu kuduk merinding.
Siapa yang tidak menyangka, dibalik sosoknya yang membawa pengaruh cukup besar untuk perekonomian Kirigakure dari hasil perusahaan yang ia kelola ternyata Orochimaru adalah ketua mafia dan juga bandar narkoba yang telah meresahkan negara.
Tentu saja ia memiliki kekuasaan dengan banyaknya pundi-pundi uang yang berhasil diraihnya. Tak heran jika Badan Keamanan Negara sampai tidak mengetahui aksi liciknya. Lihai dan juga pandai memanipulasi keadaan membuat para kurir besutan Orochimaru tak pernah ada yang tertangkap. Pengecualian untuk kurir yang baru bergabung beberapa bulan yang lalu.
Orochimaru memerintahkannya untuk melakukan transaksi di Konoha. Namun nahas, sebelum transaksi heroin yang berjumlah ratusan juta yen itu berhasil, sang kurir tertangkap kepolisian Konoha hingga akhirnya ia tewas bunuh diri didalam toilet ketika anggota ANBU akan mengintrogasinya.
Setiap 'pegawai' yang berada dibawah naungan Orochimaru akan melakukan sebuah upacara penyumpahan.
Dimana setiap anggota baru bergabung, ia harus rela menyerahkan semuanya untuk menjadi jaminan termasuk keluarganya.
Tentu Orochimaru tidak akan bertindak gegabah, satu kesalahan maka keluarga menjadi sasarannya.
Itu pula yang terjadi dengan kurir yang tertangkap di Konoha.
Jika ia membocorkan secuil apapun informasi mengenai aksi busuk dari Orochimaru, maka keluarganyalah yang menjadi korbannya.
Maka tak ada kesempatan baginya hingga ia rela melakukan aksi bunuh diri saja ketimbang istri serta anaknya yang menjadi korban kekejaman Orochimaru.
.
.
.
.
.
.
.
Rumah Sakit Konoha, 20. 43 pm.
Seperti perkiraannya, setelah Sasuke melakukan perawatan ia disuguhkan dengan banyaknya pertanyaan oleh wartawan dadakan seperti Naruto dan yang lainnya.
Sebenarnya Sasuke menolak jika ia harus dirawat, toh luka yang ia dapat tidak seberapa, hanya luka ringan. Tapi dengan segala peraturan ANBU-nya mau tidak mau ia harus melakukan perawatan.
"Hey Teme, ayolah ceritakan kepadaku mengenai Sakura. Aku tau dia pacarmu, tapi kenapa kau tidak pernah memberitahukan ini kepadaku! Hah, pantas saja setiap kali aku mengenalkanmu dengan para gadis cantik, pasti kau akan menolaknya! " Sasuke mendengus sebal. Apalagi yang ada diotak si kepala kuning ini? Tapi tunggu! Pacar? Ya, semua orang kini menganggap jika Sakura adalah kekasih dari Sasuke. Sasuke tidak pernah memberikan klarifikasi pasti mengenai Sakura, jadi pantas saja jika semua orang menganggapnya begitu.
"Diamlah Dobe! Biarkan aku tidur, keluarlah kau berisik!" Naruto langsung merengut kesal, sangat sulit memang mengorek apapun tentang wanita yang berhasil mendapatkan Uchiha bungsu ini.
"Kau memang tidak setia kawan Teme, seharusnya kau tunggu aku sampai aku mendapatkan gadis yang paling seksi dan cantik... " Sasuke memang tidak mendengarkan perkataan dari sahabat dobenya itu. Ada yang lebih penting didalam pikirannya saat ini daripada harus meladeni percakapan yang tidak jelas dari sahabatnya itu.
"Kau kira aku tidak bisa mendapatkan gadis SMA? itu adalah hal yang kecil unt..
"Dobe! Bagaimana dengan orang tua Sakura? " Naruto langsung menghentikan celotehan panjangnya, jadi daritadi Sasuke tidak mendengarkannya? Batin Naruto kesal.
"Hahh.. yah, sesuai perintahmu. Aku mengabari orang tuanya dan mengatakan jika Sakura baik-baik saja serta menyuruhnya datang besok saja."
"Hn. Keluarlah!" Naruto seketika langsung melongo ditempat, apa-apaan itu?
"Keluar Dobe!" Naruto segera melarikan diri keluar.
Sasuke merenung, mengapa bisa ia menjadi sangat panik melihat wajah pucat gadis pink tersebut. Sampai kini, Sakura masih terbaring lemas dikamar perawatan dengan selang infus menancap dipergelangan tangan kirinya serta beberapa luka yang sudah tertutupi perban.
Sasuke sendiri berada dikamar perawatan yang bersebelahan.
Sasuke segera beranjak turun dari ranjangnya. Ia berjalan menuju ruang Sakura berada.
Dari apa yang dialami Sasuke dua hari yang lalu, para anggota ANBU tidak ingin kejadian serupa menimpa atasannya lagi. Sehingga beberapa ANBU berjaga didepan ruangan termasuk Sasori.
"Sasuke?! Apa kau memerlukan sesuatu?"
"Hn, tidak. Aku hanya ingin menjenguknya.. " otak Sasori langsung bekerja cepat, ia mengangguk faham dan membiarkan Sasuke masuk kedalam ruangan Sakura tanpa banyak pertanyaan lagi.
Langkah panjang Sasuke membawanya mendekati sesosok makhluk pink yang kini tengah terbaring. Dengan lembut ia membelai pipi putih Sakura.
Hatinya masih bergejolak, kenapa Sakura memanggil nama Sara?
Apakah ini ada kaitannya dengan keistimewaan yang Sakura miliki? Batin Sasuke bertanya. Meskipun pada awalnya Sasuke tidak mempercayai Sakura yang bisa melihat makhluk gaib, tetapi ia juga tau jika Sakura memang tidak berbohong ketika ia mengatakan melihat 'wanita penyebrang' itu.
Rasa kantuk menyerang saat Sasuke masih bergelut dengan pemikirannya sendiri. Ini pasti efek dari obat yang ia minum tadi.
Sasuke bergerak menuju sofa panjang dan berbaring disana.
Pagi hari menjelang. Sinar matahari belum nampak sepenuhnya, Sasuke berusaha terbangun dan merenggangkan sedikit otot-ototnya yang kaku karena berbaring disofa yang lumayan membuatnya merasa pegal. Seketika ia menjadi panik, bagaimana tidak? Sakura tidak ada ditempat!
Namun, detik selanjutnya ia mendengar suara kucuran air dari toilet dan membuatnya bernafas lega. Pintu toilet terbuka, memunculkan sesosok kepala pink disana.
"E-eh Sasuke-kun, kau sudah bangun?"
"Hn." Sakura memutar matanya, selalu jawaban yang sama.
Sakura beranjak menuju ranjangnya dan duduk diatasnya, kakinya menyila menghadap kearah Sasuke berdiri saat ini.
"Kenapa kau melepas infusnya?" Sasuke bertanya dengan intonasi seperti biasanya membuat Sakura merengut.
"Aku kesulitan membawanya ketoilet" jawab Sakura dengan rengutannya.
"Kau bisa membangunkan aku. " Sakura menggeleng "Aku tidak perlu memakainya lagi!"
"Keras kepala! " ucap Sasuke seraya mengacak rambut merah muda Sakura.
"Tadinya aku akan membangunkanmu saat aku lapar. Tapi syukurlah kau sudah bangun, kau tau aku sangat kelaparan! " Sasuke tersenyum tipis, kelakuan Sakura memang selalu membuatnya merasa ingin tersenyum, dan sekarang ia membutuhkan sedikit hiburan.
"Kau selalu lapar setiap bangun tidur" pipi Sakura menggembung kesal.
"Mau bagaimana lagi, aku memang kelaparan"
"Hn, pantas saja kau sangat berat. Kecil tapi berat" Sakura langsung merengut kesal, ia menarik bantal dan melemparkannya kepada Sasuke.
Hup! Sangat mudah menangkap bantal yang dilemparkan Sakura bagi Sasuke.
"Aku tidak berat!" Sasuke terkekeh pelan dan segera menangkap guling yang hampir dilemparkan Sakura.
"Sebentar lagi suster akan mengantarkan makanannya" wajah Sakura semakin merengut.
"Pasti makanan rumah sakit, aku tidak mau! Ayolah Sasuke-kun berikan aku udang goreng dan anmitsu saja yah. Ah aku juga mau umeboshi!" alis Sasuke menaut.
"Makan bubur hangat akan baik untukmu.. "
"Aku kan tidak sakit! Tidak mau! Pokoknya aku mau udang, aku bisa mencarinya sendiri" Sasuke langsung memberikan tatapan tajamnya, memang dasar keras kepala!
15 menit kemudian..
"Aku lebih suka udang bakar buatanmu, tapi ini juga sangat enak hihi.." Sasuke hanya mendengus, Sasuke menyantap pelan roti isi telur dan satu mangkuk sup hangat miliknya. Mereka menyantap sarapannya di sofa.
"Oh iya Sasuke-kun, dimana kau menyimpan tasku?" Sakura bertanya ditengah kegiatannya mengunyah udang.
Sasuke meletakkan sendok sup dan menatap Sakura.
"Kenapa kau selalu mengkhawatirkan tasmu? " Sakura mengerjapkan matanya, ia kelihatan bingung sekarang. Tidak mungkinkan jika Sakura mengatakan didalam tasnya ada buku tahunan milik sekolah yang ia curi bersama kedua sahabatnya?
"I-itu karena ada catatan pelajarannya, memangnya apa lagi?" kedua tangan Sasuke bersedekap, ia tahu Sakura sedang berbohong.
"Hn. Benarkah?" Sasuke mencondongkan kepalanya kepada Sakura dan Sakura pun dengan spontan memundurkan kepalanya. Jarak keduanya semakin dekat, lihatlah pipi putih milik Sakura pun berubah menjadi pink sekarang.
"I-iya! Buku catatan pelajaran, sekarang dimana tasku?! " Sasuke kembali keposisi semula sedangkan Sakura menghela nafasnya.
"Ada didalam mobil"
Pintu terbuka dan terlihat seorang wanita bersurai coklat pudar serta pria bersurai pink pucat memasuki ruangan dengan langkah yang cepat.
"Saki.. oh anakku! "
"KAA-SAN! TOU-SAN! "
Sakura langsung melompat dan menerjang ibu dan ayahnya, Sasuke tak bisa menyembunyikan senyumannya saat melihat mereka.
"Sayang.. kau baik-baik saja kan? Mana yang sakit..
"Tidak Kaa-san, Saki baik-baik saja." saat Mebuki dan Sakura tengah sibuk dengan pembicaraannya, Kizashi menghampiri Sasuke. Ia menepuk pelan bahu tegap Sasuke dan tersenyum.
"Terima kasih. Aku sudah tahu siapa kau. Hahh.. aku sangat terkejut saat mengetahui jika berita ledakan di televisi itu ternyata melibatkan Sakura."
"Aku tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini, aku sangat menyesal" gumam Sasuke.
"Aku sudah melihat putriku baik-baik saja sekarang. Berkunjunglah kerestoranku, aku akan menghidangkan makanan terlezat yang pernah kau makan! hahaha ini gratis.. " Sasuke tersenyum tulus dan menggerakkan kepalanya untuk mengangguk, satu bebannya sudah hilang sekarang.
Disi sofa yang lain, anak dan ibu ini seperti tidak bisa dipisahkan
"Kaa-san lihatlah! Kalungku sudah kembali! " Sakura memperlihatkan kalung kesayangannya.
"Hm.. Benarkan kata Kaa-san. Dimana kau mendapatkannya? "
"Sasuke yang mendapatkannya"
"Seperti yang Kaa-san katakan, takdir kalung ini masih bersamamu. Atau mungkin, kalung ini juga membawa takdir lain untukmu.. Seperti Sasuke" mata Mebuki mengerling kepada Sasuke.
"Kaa-san.. Jangan memulai! "
"hihihi..
Tok. Tok.
"Ohayou.. Aku akan memeriksa pasienku" seorang dokter masuk dengan map biru berada ditangannya.
DEG!
Entah mengapa tiba-tiba saja hati Sakura merasa sakit ketika melihat dokter itu. Ia gelisah, pucat dan keringat dingin merembes dari pori-pori kulitnya.
"Saki kau tidak apa? Apa yang terjadi? "
Sasuke seperti de javu, ia melihat Sakura seperti ini kemarin.
Sakura segera tersentak, ia menggelengkan kepalanya pelan.
Ia berjalan ke ranjang dibantu oleh ibunya. Dokter beriris hitam itupun segera memeriksa Sakura menggunakan stetoskop.
"Kau melepas infusnya" Sakura mengangguk pelan. "Kapan? " dokter berkacamata itupun menulis sesuatu dalam catatannya.
"Satu jam yang lalu.. " gumam Sakura pelan, ini sangat mengherankan Sasuke serta kedua orang tua Sakura. Beberapa menit yang lalu, Sakura masih ceria dan bercanda bersama ibunya, lalu kenapa sekarang seperti ini?
Sang dokter hanya mengangguk santai. "Baiklah, nona Sakura kau boleh pulang hari ini juga. Istirahatlah yang cukup dan jangan terlalu memikirkan sesuatu" kemudian dokter itu tersenyum tipis dan meminta kepada orang tua Sakura agar memprhatikan kondisinya dirumah nanti.
"Ayo, ganti pakaianmu sayang"
"Ha'i..
"Aku harus menyelesaikan sesuatu, anggotaku akan mengantarkan kalian" Sasuke melangkah keluar setelah berpamitan dan kedua orang tua Sakura hanya mengangguk saja, toh mereka tahu kesibukan seperti apa Sasuke dan jabatan kerennya itu. "Tunggu Sasuke-kun, tasku bagaimana? " Sasuke mengacak surai pink Sakura dengan gemas hingga Sakura hanya berdecak. "Aku kan sudah bilang, tasmu ada dimobil. Dasar cerewet! " Sakura hanya tertawa kecil melihat raut wajah Sasuke yang sedang kesal, ia memang sengaja sedikit menggoda Sasuke yang berwajah datar bak papan tulis tersebut karena sejujurnya ia sedikit tidak rela harus berpisah dengan Sasuke. "Sudah siap? " tanya Sasori setelah kepergian Sasuke. Ketiganya kompak mengangguk. Sasori mengantarkan mereka dengan mobil Porsche yang sebelumnya digunakan Sasuke. "Siapa namamu? " pertanyaan Sakura membuat Sasori menoleh ditengah kegiatan menyetirnya. "Sasori.. " ucap Sasori singkat membuat Sakura cukup sebal. Apakah para ANBU semuanya sama seperti Sasuke si manusia datar? Batin Sakura. "Kau tahu, ketika pertama kalinya aku bertemu denganmu ku kira kau itu senpaiku" alis Sasori menaut. "Kenapa? " "Karena wajahmu terlalu imut untuk ukuran para ANBU"
"Ck! " Sasori terkekeh pelan. "Jangan hanya melihat dari wajahku saja, aku adalah sniper kebanggaan milik ANBU"
"Huh. Kau sombong sekali! " ucap Sakura dengan sebal, ternyata Sasori dan Sasuke itu sama saja! Sasori terkekeh kembali. Setelah sampai Sasori membukakan pintu untuk Sakura dan juga orang tua Sakura, yang memunculkan ide jahil dikepala pink Sakura. "Waahh.. kau sangat baik sekali. Aku merasa seperti tuan putri saja, hihi.. " Mebuki dan Kizashi hanya menggeleng melihat kelakuan anak gadis mereka. "Saki, berhenti menggodanya.. dan kau Sasori-san terimakasih, apa kau mau mampir terlebih dahulu? " Sasori sedikit tersenyum dan menggeleng. "Aku harus segera kembali." Mebuki hanya mengangguk.
Mebuki tidak bisa memaksa Sasori untuk sekedar minum teh, Kizashi serta Mebuki terlebih dahulu memasuki rumah. "Terimakasih.. sampai jum.. CKRREK! Sasori melihat seseorang dibalik tembok yang membidikan foto kearahnya bersama Sakura. Sang pelaku yang tertangkap basah segera melarikan diri. Dengan cekatan ia langsung berlari mengejar pelaku pemotret itu. "HEY! BERHENTI!.. . . . . .
.
.
.
.
.
.
.
Suasana restoran yang tidak terlalu ramai adalah pilihan yang pas untuk melakukan 'diskusi' nya dengan seorang client. Bahkan Orochimaru menyewa ruang privat khusus yang disediakan restoran mewah yang berada dipusat perkotaan Konoha. Dua boddyguard berpakaian serba hitam berjaga didepan pintu masuk.
"Kau menyukainya Mr. Pray? " Orochimaru menyesap sedikit wine miliknya. "Hm, aku selalu puas dengan kerjasama ini.
Tapi aku sedikit kecewa, mata-mata mu tak berhasil. Misi kita gagal bahkan sebelum waktunya dimulai" Mr. Pray meletakkan gelas berisi wine yang sama dengan Orochimaru perlahan. Orochimaru dengan santai mengelap bibirnya menggunakan serbet. "Aku masih punya banyak rencana. Tidak usah khawatir, perusahaan kita akan aman kerjasama kita juga akan tetap lancar dengan keuntungan yang sangat besar!". Mr. Pray mendecih, ia menyunutkan rokok dan menghisapnya.
"Jangan hanya membual Orochimaru!Saat peledakan di Timur, Kau tahu apa akibatnya jika ANBU berhasil sedikit saja mencium pergerakan kita. Maka habislah kita". Orochimaru tertawa meremehkan "kau takut? " Mr. Pray hanya mendengus sebal. "Aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk jika itu terjadi, dan bocah tengik seperti ANBU tidak boleh diremehkan" Orochimaru memicingkan matanya dan menggebrak meja.
"Maka itu tidak boleh terjadi! Aku tidak akan membiarkan para bocah tengik seperti mereka menghancurkan kekuasaanku! " Orochimaru menggeram marah. "Sekarang kau yang terlihat ketakutan Orochimaru" "Itu tidak akan terjadi! Tidak. Akan. " ucap Orochimaru penuh penekanan.
Mr. Pray bertepuk tangan dan mengangkat gelas wine miliknya. "Ya. Untuk kesuksesan kita! " kemudian Orochimaru juga mengangkat gelasnya untuk bersulang. Takberselang lama, seseorang dibalik pintu mendatangi meja keduanya.
"Aku datang" Orochimaru mengisyaratkan dengan gerakan kepalanya untuk menyilahkan duduk.
"Apa yang kau bawa untuk menyenangkanku Bluess" Seseorang yang dipanggil Bluess mengeluarkan beberapa berkas, terlihat seringai menghiasi wajahnya.
"Seseorang yang mungkin akan membuat pekerjaan kita lebih mudah" Orochimaru mendengus merehkan.
"Apa yang kita harapkan dari gadis SMA sepertinya? "
"Dia akan menjadi alat untuk kita, saat kemungkinan terburuk itu terjadi. Haruno Sakura, kekasih Uchiha Sasuke".
Mr. Pray menuangkan wine kedalam gelas dan menyerahkannya kepada Bluess, ketiganya lalu bersulang.
.
.
.
.
.
.
Rapat dadakan diadakan setelah kepulangan Sasuke dari rumah sakit siang ini.
"Aku ingin laporan dari hasil penyelidikan di Timur Konoha" ucap Sasuke dalam anjungannya dengan berwibawa.
Shikamaru berdiri dan mengirimkan file yang terhubung pada server komputer yang berada didepan masing-masing anggota. Semua anggota memfokuskan pandangannya terhadap objek.
"Bisa kau jelaskan?" Sasuke berujar.
"Ini adalah hasil analisa yang berhasil aku kembangkan. Sebuah logo perusahaan berasal dari Kirigakure, perusahaan besar yang bergerak dalam bidang ekstraktif serta agraris, perusahaan ini juga membantu perekonomian Kirigakire menjadi stabil. Ledakan di Timur, apakah mungkin berasal dari perusahaan ini? " Shikamaru menunjukkan logo yang telah terbakar dengan modifikasi rancangan ulang miliknya.
"Sangat cocok dengan logo ini! " kertas abu sisa pembakaran itu kini terbentuk sempurna.
"Mengapa bisa perusahaan sebesar itu terlibat? " pertanyaan Naruto mewakili seluruh pemikiran anggota yang berada disana.
Sasuke berdiri untuk menjelaskan.
"Perusahaan besar yang menyimpan kebusukan, penggelapan, mafia serta bandar narkoba berasal dari sana. Berkedok perusahaan ekstraktif dan agraris, mereka berhasil melakukan penyelundupan, yang membuat kita sedikit kesulitan mengembangkan penyelidikan kasus ini sebelumnya. Mereka juga memasok dana untuk keanggotaan militan yang mereka rekrut sendiri. Bahkan mereka berani membunuh Mentri Keamanan Jepan dua tahun lalu, ini cukup menjadi bukti atas segala kekejaman yang mereka perbuat! " tegas Sasuke.
"Lalu bagaimana dengan orang yang bergantung pada perusahaan itu, disisi lain bukankah dengan adanya perusahaan itu perekonomian Kirigakure menjadi terbantu? " ujar Sai.
"Itu benar. Tapi kita juga tidak membenarkan sisi buruk yang lainnya. Untuk itulah misi ini dilakukan, kita tidak perlu menebang pohon karena beberapa buahnya membusuk, yang hanya kita lakukan ialah kita harus membuang bagian buah yang busuk itu saja! ".
Seluruh anggota mengangguk yakin.
"Aku ingin misi kita kali ini dengan formasi tim yang lengkap. Naruto kau atur semua tim! "
"Baik! "
"Sai, aku ingin kau mem-backup data yang berhasil Shikamaru dapat! "
"Baik! "
"Ini semua akan dimulai...
.
.
.
.
To be continue..
Author Note : Hai minna, pertama-tama author mau minta maaf untuk ketelatan publishnya. Tapi author kan sudah memperingati itu hehe. Dan untuk balasan review, Kok rasanya cerita ini mirip sama DOTS dan the master's sun? Hah iyakah? kalo dipikir2 iya juga yaa, tapi author sama sekali tidak berpikir gitu kok kan diatas ditulis gada inspirasi sama sekali REAL by me. untuk pertanyaan yang lain balasnya nanti yaa :v author takut telat berangkat kerja.
oh ya gimana untuk chapter 5 author butuh dukungan review setidaknya 15+, apa kalian sanggup minna?
#kabur
sign,
Aurynda
