Desclaimer©Masashi Kishimoto

but

Story REAL by Me.

Sakura Of The Sun©Aurynda

Haruno Sakura

Uchiha Sasuke

WARNING!

OOC, AU, Typo(s) dll

Don't like don't read

Chapter 5

Let's begin!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"HEY! BERHENTI!.. "

Sasori terus mengejar sang pelaku pemotret ilegal dengan langkah panjang dan cepat yang dipergokinya bersama Sakura.

Sedangkan Sakura ia berteriak, tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ia begitu panik.

Sakura mencoba mengikuti Sasori yang sedang berlari tak memikirkan tubuhnya sendiri sebagaimana mestinya ia diharuskan beristirahat setelah kepulangannya.

"Sasori-san! "

Sedangkan Mebuki dan juga Kizashi yang telah masuk kedalam rumahpun mendengar kegaduhan yang terjadi segera bergegas keluar.

"Apa yang terjadi Kizashi-kun! Kemana Sasori-san dan juga Saki, mengapa tadi mereka berteriak?! " Mebuki sangat resah, baru saja ia merasa lega karena Sakura baik-baik saja pasca keterlibatannya dalam ledakan di Timur. Dan sekarang apa lagi?

"Kau tenang dulu sayang, hah aku benar-benar tidak tahu! " Kizashi yang kebingunganpun tidak tahu harus melakukan apa, Sakura dan Sasori sudah menghilang dari pandangannya, entah kemana.

"Oh iya sayang, bukankah kita mempunyai kontak dari Uzumaki Naruto, anggota ANBU yang kemarin menghubungi kita?! "

"Ah iya! Sebentar! " Mebuki berlari masuk kedalam rumahnya dengan tergesa.

Segera saja ia mencari nomor Uzumaki Naruto yang sudah tertera dalam ponsel miliknya. "Ah, ini dia! " gumamnya.

Mebuki segera menghubungi Naruto.

Markas pusat ANBU..

Naruto dan yang lainnya baru saja menyelesaikan rapat dadakan pasca kepulangan Sasuke.

Ia mendapati ponsel yang bergetar disakunya, Sasuke tak menghiraukan Naruto yang telah berhenti melangkah untuk menerima telpon.

Alis Naruto terangkat, nama Ny. Mebuki tertera dalam layar ponselnya.

"Halo, Uzumaki Naruto disini! "

"Naruto-san! " pekik Mebuki disebrang sana.

"Iya ini denganku, ada apa Nyonya Mebuki? "

"Kumohon kemarilah! Sesuatu telah terjadi dan sekarang Sasori-san bersama Sakura sedang mengejar seseorang! " Naruto semakin heran dan bingung, ia berjalan menuju ruangan Sasuke berada tanpa mematikan ponselnya.

"Baiklah Ny. Mebuki,memangnya Sasori dan juga Sakura sedang mengejar siapa?! " Sasuke yang sedang menulis sesuatu segera menoleh cepat ketika Naruto menerobos memasuki ruangannya.

"Aku tidak tahu. Aku masuk dan Sakura berteriak, dia tidak ada sekarang! " pekik Mebuki meracau.

Sasuke bangkit untuk kemudian menghampiri Naruto yang sedang memperlihatkan raut serius namun juga terlihat gusar.

"Ada apa dengan Ibunya Sakura, Dobe?! "

"Baiklah. Aku segera kesana!". TUT. Naruto mengakhiri sambungan telponya.

"Kita harus kerumah Sakura-chan sekarang juga Teme! "

"Kenapa? Sesuatu terjadi? " Naruto mengangguk yakin dan melangkah cepat disusul dengan Sasuke.

Sasori berlari cepat mengejar sang pelaku. Pelaku pemotret yang menggunakan jaket hitam dan memakai kaca mata itu tak mensia-siakan kesempatan ketika ada bus yang berhenti dan akan segera melaju.

"Berhenti kau! " teriak Sasori yang berada beberapa puluh meter dari pelaku.

"Sial! " rutuk Sasori karena bus yang ditumpangi pelaku kini sudah melesat.

Sasori membungkuk dengan deru nafas yang memburu serta keringat yang menetes dari dahinya.

"Sasori-san!" seru Sakura kemudian.

BRUKK.

"AWW.. "

Sakura tersungkur begitu saja membuat lututnya memar dan mengeluarkan darah.

Sasori menghela nafas dan segera menghampiri Sakura yang masih dalam posisi terduduk.

"Kenapa kau mengikutiku?! " ujar Sasori seraya memapah Sakura.

"Hah.. Aku hanya ingin mengetahui siapa itu! " sahut Sakura meringis.

"Aku tidak berhasil menangkapnya. Sial! Dia begitu cepat!" rutuk Sasori.

Dengan perlahan Sasori memapah Sakura yang berjalan dengan terseok-seok akibat cedera yang menimpa lututnya.

"Kenapa pria itu memotret kami? " tanya Sakura ditengah ringisannya.

"Entahlah, yang jelas ini semua bukan kabar yang bagus! ".

"H-hey turunkan aku! " jerit Sakura saat tiba-tiba Sasori membawanya dikedua tangan kekarnya.

"Kau berjalan dengan lambat, diamlah! " ujar Sasori datar.

"Huh.. Tapi kan kau bisa berbicara dulu kepadaku, aku sangat terkejut tahu?! " Sasori tidak menghiraukan rutukan gadis merah muda ini, ia tetap berjalan tenang.

Mata elang Sasuke mimicing tajam melihat siluet dari kejauhan, dua sosok yang dikenalnya sedang berjalan menuju kearahnya dengan si gadis yang berada dalam gendongan pria bersurai merah tersebut.

Sasuke dan Naruto berlari cepat menghampirinya.

"Sasuke-kun! " jerit Sakura membuat telinga Sasori berdengung mendengarnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?! " desak Sasuke.

Sasuke menautkan kedua alisnya melihat Sakura.

"Berikan padaku! " titah Sasuke kemudian. Tentu saja Sasori mengerti apa yang dimaksud dengan perintah 'berikan'. Ia mendekatkan tubuh mungil Sakura kepada Sasuke, dan Sasuke segera mengambil alih tugas Sasori. Sakura hanya terbengong saat dirinya berpindah lengan, sama halnya seperti keadaan Naruto.

"Uhukk" gurau Naruto.

"Seseorang memotret kami, tapi aku rasa dia hanya memotret Sakura!" jelas Sasori sesaat setelah ketiganya melanjutkan langkah mereka.

"Kau mengejarnya dan tak berhasil?!" ujar Naruto. Sasori hanya berdecak sebagai jawabannya.

"Yang jelas, dia tidak mungkin lari jika tidak melakukan kesalahan. Dia melakukannya untuk seseorang" gumam Sasuke.

"Kenapa bisa seseorang itu memotretku?! " cicit Sakura. Sasuke hanya balas dengan mengendikkan bahu tegapnya membuat Sakura sangat kesal.

'Tuan Ayam ini lebih parah daripada mahkluk merah itu! ' rutuk Sakura didalam hati.

"Memangnya apa yang kau lakukan hingga seperti ini? Dasar ceroboh! Dokter menyuruhmu untuk beristirahat! " ujar Sasuke setengah kesal saat mereka hampir sampai didepan halaman restoran Ayahnya Sakura yang kini sedang tutup.

"Jangan marahi aku! Aku kan hanya ingin mengejarnya juga! " Sasuke menghela nafasnya sesaat.

"Terserah" ujarnya kemudian.

Mebuki dan Kizashi segera menyambut putri pink mereka yang bersama Sasuke dan langsung merawat luka Sakura.

Atas kejadian ini, ANBU terutama Sasuke menyimpulkan bahwa ketua mafia serta gembong narkoba ini mulai beraksi melawan Badan Keamanan Negara Jepang dikhususkan untuk para ANBU.

Teror bom dan mata-mata telah diketahui, lantas apalagi kedepannya jika tidak segera diberantas?

Untuk saat ini, ketiga ANBU masih berada dirumah kediaman Haruno. Mereka mendebatkan tentang apa yang diinginkan pelaku dengan memata-matai Sasori? atau mungkin Sakura?.

"Jangan konyol Naruto, tidak mungkin jika dia hanya fans dari Sakura! " geram Sasori. Pasalnya, Naruto brulang kali mengatakan jika lelaki yang memotret itu ialah fans dari Sakura.

"Ah.. Aku kan hanya mengemukakan pendapatku, apa salahnya?!".

"Diamlah kalian berdua! Kalian kembalilah kemarkas, laporkan kejadian ini kepada Kakashi dan juga kepada Shikamaru agar bisa diselidiki lebih lanjut! " titah Sasuke.

"Baik" jawab Sasori.

"Memangnya kau mau kemana, Teme?" tanya Naruto dengan curiga.

"Aku akan tetap disini dan memastikan semuanya! Kau mengerti!? " decak Sasuke sebal.

"Ah seperti yang sudah kuduga! Ayo Sasori! " seru Naruto membuat Sasuke tambah merasa kesal.

Beberapa saat setelah kepergian Sasori dan Naruto. Mebuki membawakan tiga gelas teh serta beberapa kudapan manis untuk disuguhkan.

Mebuki kebingungan mendapati hanya ada Sasuke yang berada diruang tamu kediaman Haruno ini.

"Loh, Naruto-san dan juga Sasori-san kemana?! " tanya Mebuki seraya meletakkan nampan yang dibawanya diatas meja.

"Aku menyuruhnya untuk membuat laporan dimarkas! " setelah terdengar seruan 'Oh' dan Mebuki hanya mengangguk mendengarnya.

"Saki sedang berganti pakaian, sebentar lagi pasti turun!" kini giliran Sasuke yang mengangguk.

"Aku akan memasakkan sesuatu untukmu, silahkan kau nikmati saja tehnya" ujar Mebuki.

Sasuke hanya menyesap teh yang dibuatkan untuknya tanpa menyentuh sedikitpun kudapan yang berada dihadapannya. Karena memang Sasuke tidak begitu menyukai makanan manis.

Sesaat setelahnya ia mendengar cicitan Sakura yang berusaha memanggil ibunya.

Sasuke bangkit untuk menghampiri Sakura, karena tidak mungkin ibunya mendengar suara Sakura disaat Mebuki sedang 'bertarung' didapur.

Sakura berada didekat tangga atas dengan kedua tangannya menyangga pada pintu kamarnya. Ia ingin kebawah untuk menemui Sasuke, tetapi ia merasa sangat ngeri menuruni tangga dengan kondisi lutut selepas cedera.

"Hn? "

Sakura terkesiap. Ia memanggil ibunya, bukan Sasuke. Ugh, dia merasa malu sekarang.

"S-Sasuke-kun! Dimana Kaa-sanku?! " Sasuke tidak bergeming. Ia hanya menatap Sakura yang saat ini sedang mengenakan piyama tidur pink dari atas sampai bawah.

"Apa yang kau lihat! " seru Sakura menyilangkan kedua tangannya didada.

"Memangnya apa yang bisa aku lihat? " ujar Sasuke santai tanpa tahu perkataannya tersebut membuat kepala Sakura memerah karena malu dan juga kesal.

"Kemarilah! " ucap Sasuke seraya menuntun Sakura menuruni tangga.

Sasuke mendudukan Sakura perlahan disofa.

"Kau benar-benar tidak mengenalinya?! " tanya Sasuke kemudian. Sakura menggeleng tanpa bersuara. Tentu saja ia tahu maksud dari pertanyaan Sasuke ini.

Seakan teringat sesuatu, Sasuke seperti menimang apakah ia harus menanyakan ini kepada Sakura atau tidak. Ini waktu yang pas.

Sakura yang melihat Sasuke terbengong hanya bingung. Ia sama sekali tidak mempunyai bahan obrolan untuk saat ini.

"Sakura? "

"Hm? "

"Apakah kau mempunyai seorang teman bernama Sara?! " Sakura setengah terkejut mendengar pertanyaan Sasuke. Ia harus menjawab apa? Memang Sakura menganggap Sara sebagai teman sekarang, tetapi teman yang tanpa bisa disentuh dan diajak mengobrol. Lalu bagaimana ia menjelaskannya?.

"Iya. Aku memiliki teman bernama Sara. T-tapi tidak. Aku hanya mengetahui namanya saja! " cicit Sakura.

"Apa maksudmu dengan tidak? " desak Sasuke.

Sakura menghela nafas pasra. Susah untuk menjelaskan.

"Maksudku dia adalah seorang arwah! " ucap Sakura. Sasuke tidak terlihat terkejut seperti dugaan Sakura sebelumnya. Kenapa Sasuke tidak mengatakan bahwa ini konyol seperti waktu itu?.

"Apakah Sara yang kau maksud adalah Haruki Sara? " dan pertanyaan Sasuke kali ini sukses membuat mata Sakura melebar. Tepat sekali.

"I-iya. Kenapa kau?" gumam Sakura ditengah keterkejutannya.

"Jasadnya tidak pernah ditemukan, sejak 8 tahun yang lalu" ujar Sasuke pelan. Sakura membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Pernyataan Sasuke membuat fakta baru mengenai teka-teki arwah Sara yang selama ini menghantui Sakura. Ternyata benar, pasti ada yang tidak wajar mengenai kematian Sara.

"Sejak kelas 2 SMA, kami begitu dekat. Kami menghabiskan waktu di belakang kelas saat jam istirahat dan pulang bersama. Suatu hari, Sara mendapatkan jadwal piket, dia juga menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu. Saat itulah aku terakhir kali bertemu dengannya! Aku sangat menyesal kenapa aku tidak menunggunya saja waktu itu? "

"Ada yang bilang ia diculik, ada juga yang mengatakan ia dibunuh. Tapi untuk apa? Sara orang yang baik, siapa yang tega melakukan ini kepadanya! Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya. Aku juga tidak tahu" ujar Sasuke panjang lebar.

"Percayalah Sasuke-kun.. Aku selalu melihat Sara disekolah, dan dia seperti ingin menunjukkan sesuatu kepadaku. Aku tidak tahu apa itu, untuk itulah aku mencuri buku tahunan milik sekolah" kedua alis Sasuke menaut. Apa katanya tadi? mencuri?

"Kau mencuri?! " selidik Sasuke.

"Tidak ada cara lain! " kemudian Sakura menggapai tasnya yang tergeletak disamping sofa. ia merogoh buku usang disana.

"Ini. Aku mencuri ini untuk mengetahui data tentang sara. Nanti juga akan aku kembalikan! " Sasuke membuka buku usang tersebut. Kenangan akan masa sekolah yang menyenangkan sampai sosok Sara menghilang dan merubah semuanya.

Sasuke memperlihatkan dirinya yang menjadi bagian buku usang tersebut.

"Lihatlah! Aku satu angkatan dan satu kelas dengannya.. "

"Aku tidak menyangka jika Sasuke-kun kenal dengan Sara, bahkan sangat dekat dengan beliau! Selama ini hanya aku dan kedua temanku yang mengetahui ini. Kami berencana menjadi detektif untuk kasus ini" gumam Sakura.

"Oh iya! Kenapa tiba-tiba Sasuke-kun percaya padaku?! " Sasuke menoleh kepada Sakura.

"Ada suatu hal yang membuat aku mempercayaimu" ungkap Sasuke.

"Besok aku akan membawamu kesuatu tempat. Rumah Sara! " lanjutnya. Sakura mengangguk pelan.

Dan tak lama Mebuki dan Kizashi sudah berada diruangan yang sama untuk makan malam bersama Ketua Devisi ANBU tersebut.

.

.

.

.

.

.

KHS 07. 10 am...

Sakura memasuki gerbang sekolah dan melambaikan tangannya kepada sang ayah yang berada didalam mobil untuk kemudian segera bergegas meninggalkan sekolah.

Pagi ini terasa sangat aneh bagi Sakura. Bagaimana tidak? Lihatlah semua siswa KHS melihat kearahnya sekarang.

Sampai didepan pintu kelasnya, Sakura dikagetkan dengan suara cempreng dari sahabat blondenya tersebut.

" Sakuraaaaaa! " teriak Ino langsung menubruk tubuh Sakura.

"S-Sakura-chan! " susul Hinata.

"Lepaskan Ino! Aku tidak bisa bernafas! "

"Forehead! Kau tidak masuk selama tiga hari dan langsung menggemparkan sekolahan! " kedua alis Sakura menaut.

"S-Sakura-chan ada diberita, dan ledakan di Timur! " dan Sakura pun menghela nafas pasrahnya. 'Oh, jadi ini yang menyebabkan semua siswa memusatkan perhatiannya tadi kepadaku, tapi aku benci menjadi pusat perhatian! ' ujar Sakura membatin.

"Ayo Forehead! Ceritakan, bagaimana bisa kau terlibat dan berada di Timur! Andai saja kau ikut aku waktu itu, ini mungkin tidak akan terjadi! " telinga Sakura semakin memanas sekarang, Ino dan Hinata mendesaknya tanpa henti dengan pertanyaan-pertanyaannya. Mau bagaimana lagi selain menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya ini dengan pasrah.

"Untung saja lukamu tidak terlalu serius. Tapi kakimu masih kurang baik! Dan asal kau tahu saja, Gaara menanyakanmu kemarin! " bisik Ino.

"Gaara-kun pasti khawatir! " lanjut Hinata.

"Sudahlah kalian berdua! Jangan mengada-ngada, aku merasa pusing saat ini" sergah Sakura menelungkupkan kepalanya dikedua tangannya.

"Memangnya siapa yang mengada-ngada.. " gumam Ino.

" Ino-chan sudah. Sepertinya Sakura-chan butuh ketenangan sekarang" lerai Hinata mengusap punggung Sakura.

Gaara memasuki kelas 12-A, tasnya yang masih bertender dibahunya menandakan ia belum memasuki kelasnya di 12-C. Ia langsung menemui Sakura dikelasnya selepas mendengar kabar Sakura masuk hari ini.

"Pssttt.. Jidat! " bisik Ino mencubit pelan lengan Sakura.

"Diamlah Ino! " gumam Sakura serak.

Ino hanya tersenyum miring melihat Gaara mendekati bangku mereka. Tapi Ino memutuskan berpindah kursi ketempat Hinata setelah kontak mata dengan Gaara tadi.

"Hm! " Sakura terperanjat mendengar deheman seorang lelaki berada percis didekatnya. Ia mengadahkan kepalanya dengan mata memerah serta rambut terurainya yang sedikit berantakan.

"Ugh! Gaara-kun sedang apa kau disini? " dengan rasa malunya Sakura mencoba bersikap tenang.

"Aku senang kau baik-baik saja! Aku kemari untuk melihatmu, memangnya untuk apalagi? " Sakura menjadi kikuk sendiri sekarang. Ia mencoba tersenyum saat Gaara menatapnya intens.

Dulu sekali, Sakura tidak merasa canggung seperti ini jika berada dekat dengan Gaara. Malah sebaliknya, Sakura merasa nyaman dan ingin selalu dekat dengan pemuda berambut merah dengan lingkar hitam disekitar matanya yang membuat pemuda ini semakin mempertajam garis wajahnya yang cool.

Sewaktu Gaara dan Sakura duduk dibangku kelas 2 SMP, mereka terlibat kisah seperti kebanyakan gadis dan pemuda seusianya yang menjalin sesuatu hubungan 'cinta monyet' begitu orang dewasa menyebut kisah percintaan mereka waktu itu.

Keduanya seperti dimabuk cinta, tidak ingin berjauhan satu sama lain. Tetapi setelah mereka lulus dan mencari SMA pilihan mereka masing-masing, Gaara memutuskan untuk menerima beasiswa bersekolah di sekolahan Suna untuk pelatihan khusus sepak bola.

Sakura tidak mungkin menghalangi jalan Gaara, dan Gaara juga sangat menginginkan impian ini sejak lama. Maka pengorbanan atas hubungan merekalah yang menjadi korbannya.

Mereka memutuskan hubungan percintaan mereka dan sepakat untuk menjadi teman saja. Hingga pada kelas 11, Gaara pulang dan bersekolah di KHS.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja" Gaara tertawa pelan melihat Sakura menunduk membuat Sakura menolehkan kepalanya pinknya pada Gaara.

"Kenapa?! " tanya Sakura terheran.

"Aku juga baru tahu jika kau sedang menjalankan hukuman dari Sarutobi-Sama.. " Sakura seperti ingin menceburkan dirinya sendiri kesumur saking malunya sekarang.

"Ugh, i-itu iya" tiba-tiba Gaara menempelkan tangannya diatas kepala Sakura dan mengacak pelan rambut pink miliknya.

"Sampai jumpa nanti, Sakura" pamit Gaara.

Jam untuk sekolah sebenarnya sudah lewat dari 15 menit yang lalu, tapi tidak untuk ketiga gadis berbeda surai tersebut.

Mereka tentu saja tidak melupakan status mereka saat ini sebagai siswa penerima hukuman dari Sarutobi-Sama selaku Kepala Sekolah KHS.

Ino serta Hinata mengernyit tatkala melihat gelagat Sakura yang sedikit gusar dan sangat terburu. Bukan tanpa alasan Sakura bersikap seperti itu, ia hanya mengingat janjinya untuk ikut bersama Sasuke kesuatu tempat.

"Ehm.. Sakura-chan! Kau ada masalah? " tanya Hinata disela kegiataannya mengelap kaca.

Sakura yang kebagian membersihkan papan tulis segera menoleh. Sakura mengangguk sebagai jawabannya.

"Aku sangat terburu-buru. Aku punya janji dengan seseorang! "

"Dengan siapa? " tanya Ino.

"Pokoknya seseorang! Makanya aku harus cepat" Ino dan Hinata mengangguk pasrah, biarkan saja Sakura menjadi target narasumber wawancara keduanya besok.

Kali ini giliran ruangan kelas 10-2 yang mereka bersihkan. Letaknya juga tidak jauh dari gerbang sekolah, oleh sebab itu Sakura selalu menoleh kearah gerbang setiap satu menit sekali. Rencana pertemuannya dengan Sasuke memang berhubungan dengan Sara, tetapi Sakura tidak akan menceritakannya kepada kedua sahabatnya itu karena tidak ingin melibatkan mereka lebih jauh.

"Selesai! " seru Sakura kegirangan.

"Ino, Hinata! Aku pergi! " ujar Sakura seraya berlari keluar.

"E-eh Jidat! Jangan berlari nanti kau jatuh... Haah dasar Forehead! " teriak Ino mengingatkan.

Hinata tertawa cekikikan melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

Sakura terperanjat kala sebuah suara klakson menuju kearahnya. Tetapi itu bukan Sasuke, klakson motor ducati hitam milik Gaara.

"Perlu tumpangan? " tanya Gaara.

Sakura menggeleng pelan "tidak Gaara-kun, aku sedang menunggu seseorang.. " kedua alis Gaara menaut.

Sepengetahuannya, Sakura tidak pernah dijemput kala pulang sekolah. Ia juga sering menolak seseorang yang mengajaknya pulang bersama seperti Gaara. Dan Gaara berfikir jika seseorang itu adalah ayahnya, karena bagaimanapun setelah apa yang dialami Sakura kemarin membuat siapapun merasa khawatir apalagi kedua orang tuanya.

"Baiklah, aku akan menunggumu sampai orang itu datang kalo begitu? " Sakura mengangguk dan tersenyum.

Tak lama, mobil Porsche silver berplat hitam muncul dan berhenti persis didekat Sakura serta Gaara berdiri saat ini.

"Sudah datang. Terimakasih Gaara-kun, sudah mau menemaniku! Sampai jumpa besok! " ujar Sakura segera memasuki mobil tersebut.

Gaara membalas dengan anggukan kepalanya.

'Bukan ayahnya, lalu siapa? ' batin Gaara berbicara.

"Siapa itu? " tanya Sasuke sarkatik, terdengar nada sedikit tidak suka.

"Maksudmu Gaara-kun? " entah mengapa Sasuke sangat tidak menyukai panggilan Sakura untuk pria yang tadi.

"Hn" jawab Sasuke datar.

"Dia temanku" dan entah mengapa perasaan Sasuke kini sedikit lebih lega mendengar jawaban gadis yang berada disampingnya ini.

Setelah terlibat obrolan yang sangat sedikit itu, keduanya memutuskan untuk menciptakan keheningan selama perjalanan. Namun didalam hati, Sakura berteriak histeris tentang gelagat Sasuke yang menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap Gaara, ya meskipun tidak secara langsung. Apa artinya Sasuke sedang cemburu? batin Sakura bersorak.

Ditambah stelan Sasuke yang membuat siapapun meleleh dibuatnya. Hanya mengenakan kaos putih dibalut jaket hitam dan celana jeans hitam membuatnya terlihat semakin cool.

Kurang dari setengah jam, mereka sampai disebuah perkarangan rumah yang terlihat agak menyeramkan.

Tembok-tembok tertutupi oleh banyaknya tanaman yang merambat serta ilalang tumbuh sangat lebat seperti dipadang ilalang.

"Sasuke-kun? " Sakura meringis melihat rumah ini.

"Ini rumah Sara. Setelah Sara dinyatakan meninggal keluarganya berpindah ke Kirigakure. Mereka meninggalkan rumah ini begitu saja.. " terang Sasuke.

Sakura sangat heran melihat ada kakek tua berbaju putih memasuki rumah itu.

Yang lebih mengherankan, kakek tua itu melihat kearahnya terlebih dahulu sebelum memasuki rumah.

"T-tungggu! " serunya berlari keluar dari mobil. Sasuke segera mengikuti Sakura berlari.

"Sakura! "

GRREB.

Sasuke langsung menahan pergelangan tangan mungil Sakura setelah mencapainya.

"Apa yang kau lakukan? " tanya Sasuke intens.

"Ada seseorang yang masuk kedalam rumah itu! " alis Sasuke menukik, tidak mungkin ada orang yang datang kerumah angker seperti ini.

Tetapi rasa penasaran yang amat besar membuat Sasuke sedikit demi sedikit melangkah untuk mendekati pintu rumah yang tergembok rapi.

"Kau lihat, rumah ini dikunci dari luar. Tidak mungkin ada orang masuk" cetus Sasuke.

"Sungguh Sasuke-kun. Aku melihatnya, aku juga merasakan energi yang sama ketika Sara dekat denganku seperti di ruangan kurikulum vite waktu itu.. " gumam Sakura.

Akhirnya Sasuke mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis musim semi tersebut.

"Mundurlah.. " titah Sasuke.

1

2

3

BRAK.

Sasuke menendang daun pintu yang terlihat sudah rapuh tersebut. Sekali tendangan tidak berhasil, setelah beberapa kali percobaan pendobrakan itu dilakukan, akhirnya pintu terbuka dengan gembok yang sudah terlepas disana.

Tidak ada yang berubah dari isi rumah ini semenjak sembilan tahun terakhir Sasuke memasukinya. Hanya saja, sebagian perabotan sudah tidak ada dan sebagian lagi tertutup kain putih dengan debu yang sangat tebal. Sarang laba-laba terlihat dimana-mana.

Sakura masuk dengan langkah pelan, kini perasaannya sulit untuk diartikan. Rasa pengap serta degupan jantung yang kencang terus mengiringi langkahnya.

Sasuke berjalan didepan tak jauh dari dirinya.

Dalam waktu yang sangat cepat, sesuatu terjadi kepada Sakura.

"Sakura! "

Sakura P. O. V

"Sakura! " aku mendengar Sasuke-kun memanggilku. Tapi aku tidak bisa menemukannya. Kemudian suaranya menghilang. Oh tidak, Sasuke-kun tolong aku. Aku sangat ketakutan. Tapi dimana aku?

"Sara! Makan dulu jangan langsung berangkat! " suara seorang perempuan paruh baya yang kini terdengar olehku.

"Tidak Bu! Aku bawa bekal saja, makannya bersama Sasuke-kun! " seru seorang gadis berambut pirang pudar.

Oh Kami-Sama! Itu Sara!.

Aku percis berada didepannya sekarang. Dia sedang memakai sepatunya dengan terburu. Dan HAP! Sara melewatiku begitu saja, dia tidak melihatku yang jelas-jelas berada di depannya?

Aku mengikuti langkahnya dan tiba disekolah setelah kami menaiki bus. Sungguh, jantungku sekarang ingin keluar dari dadaku. Apa yang terjadi padaku sekarang?

Sara memasuki kelas untuk menyimpan tasnya, kemudian Sara mengeluarkan buku bergegas keluar kembali dan menuju perpustakaan. Aku melihat tanggal yang berada dikelasnya, hari rabu tanggal 19 September 2007!

Dari kelas Sara menuju keperpustakaan harus melewati beberapa ruangan seperti ruangan komputer dan lab.

Sara berhenti didepan pintu lab ketika ia mendengar bisikan seseorang. Sara nampaknya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan seseorang didalam lab tersebut. Ugh, aku tidak mendengar dengan jelas. Sara mengintip dibalik kaca yang sejajar dengan kepalanya, dan alangkah terkejutnya Sara mengetahui bahwa seseorang yang berada didalam lab tersebut juga melihat kearahnya. ia ketahuan.

Sara berlari keperpustakaan begitupun denganku.

"Tidak mungkin... " gumam Sara yang terdengar olehku.

"Sara, apa yang terjadi? " aku mencoba untuk mengetahui peristiwa barusan dan itu hanya sia-sia. Sara sama sekali tidak mendengar dan melihatku.

"Sara! " aku berusaha dan tetap hasilnya sama.

"Sara! /Sakura! " aku menoleh cepat karena aku mendengar suara seseorang yang begitu aku kenal memanggil kami berdua.

"Sara! /Sakura! " dan tiba-tiba saja semuanya menggelap. Aku menarik nafasku mencoba melonggarkan dadaku dari pengapnya keadaanku sekarang.

"Sakura! " satu tarikan nafas dan aku membuka kedua mataku. Sasuke-kun!

"Sakura? "

GREB.

Aku menangis dan langsung menerjang tubuh tegapnya karena aku sangat senang ia berada didekatku sekarang.

"Sudah.. tidak apa-apa" gumam Sasuke mengeratkan dekapannya.

Sakura POV End.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kumogakure, 16.55 pm..

Kumogakure adalah kota kecil yang berbatasan langsung dengan Konoha serta Kirigakure.

Letaknya yang strategis karena tidak ada keanggotaan satuan polisi yang bertugas didaerah yang sebagian besar berupa hutan lebat ini membuatnya sering dijadikan tempat untuk bertransaksi barang haram dari sejumlah mafia. Setidaknya begitulah keterangan dari warga yang tinggal didekatnya.

Dan untuk membuktikannya, Shikamaru mengadakan riset khusus bersama Sasori dan juga kedua anggota ANBU Lee serta Kiba untuk mencari kebenaran dari cerita-cerita masyarakat.

Shikamaru dan anggota ANBU mendirikan basecamp ditempat yang tersembunyi hingga memudahkan untuk melakukan pengintaian dan juga peralatan yang lainnya untuk disimpan disana.

"Jalur ini sering dilewati transportasi dari perusahaan C'Lord, kalian harus memasangkan kamera pengawas dititik yang terbuka namun juga sangat aman. Bila perlu, kita harus menanam pelacak kedalam truk-truk itu.. " intruksi dari Sasori selaku Leader dalam tim untuk rekan-rekannya. Sasori kali ini didapuk menjadi ketua tim pengintaian.

Semua anggota termasuk Shikamaru mengangguk yakin.

"Bagaiman Shikamaru? Kita bisa memulainya sekarang? "

"Kita hanya menunggu konfirmasi dari server pusat, yah seperti yang kau ketahui disini sangat minim signal.. " Sasori mengangguk dan menyalakan headset kecil yang bertengger ditelinganya.

"Lee! Sisirlah jalur utara dan Kiba kau jalur selatan, kita bertemu kembali disini satu jam lagi. Aku ingin pekerjaan kita kali ini sangat rapi, tak ada pergerakan yang mencurigakan!Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. "

"Baik! "

"Baik! "

"Baik! "

Keempat anggota ANBU berpencar untuk melakukan tugasnya masing-masing menyisir wilayah dijalur yang sering dilewati truk-truk besar milik perusahaan C'Lord.

Tapi, bukan truk pengangkut material yang dibawa yang mereka curigai. Melainkan praktek terselubung yang terjadi berhubungan dengan sindikat mafia kelas atas seperti pejabat atas C'Lord dan para petinggi aliansi yang bernaung dan bekerja sama dengan perusahaan raksasa itu.

Shikamaru terlihat memasangkan semacam alat penangkal signal diatas pohon dan mulai merangkai peralatan kesayangannya disana.

Bertepatan dengan itu ada sebuah truk tangki melewatinya. Shikamaru bersembunyi dan dengan sigap menodongkan pistol sebagai kewaspadaannya. Hanya lewat, tidak ada yang bisa dicurigai dari truk tangki tersebut.

Perkiraan Shikamaru salah. Sekitar 1 kilometer keselatan dari titik keberadaan Shikamaru, truk tangki tersebut berhenti. Kiba mengencangkan sebuah kamera pengawas dalam dahan harus berhenti sejenak karena mendengar truk yang berhenti.

Ia bersembunyi dibalik pohon, segera saja ia menghubungi Sasori untuk melaporkan truk tangki yang sangat aneh ini.

"06, Kiba disini! . Truk tangki baru saja berhenti 10 meter dariku. Aku tetap dalam posisi waspada. Roger! "

"Roger! Tetap perhatikan! "

Seperti perintah awal, semua anggota berkumpul dititik utama basecamp mereka kecuali Kiba. Kiba bertugas mewaspadai pergeragakan awak truk yang dirasa sangat mencurigakan tersebut. Untuk apa selama puluhan menit truk itu berhenti ditengah hutan dan awak sopir diketahui tidak melakukan pergerakan apa-apa?

Sasori, Shikamaru juga Lee mengawasi lewat kamera pengawas dan berkoordinasi dengan Kiba.

"Titik utara clear! " lapor Lee.

"Apa yang sebenarnya dia sedang lakukan? "

"Supir itu tidak tertidur, apa artinya dia sedang menunggu sesuatu yang lain? " ucap Shikamaru.

"07 disini! Kiba, sebutkan posisimu! "

"10 meter dari target, Leader! "

"Terlalu Jauh! Pasang pelacak audio. Roger! "

"Roger! "

Kiba berusaha mendekati truk dengan mengendap-ngendap. Sopir yang bertubuh tambun dan berkepala pelontos itupun tak menyadari jika Kiba berada di samping luar pintu truk dengan posisi bertiarap. Tangan Kiba terjulur dan menempelkan alat pelacak audio disana.

Setelahnya, Kiba kembali mengendap-ngendap ketempat persembunyiannya.

"06, Clear! "

"Balik ketitik awal. Roger! "

"Roger! "

"Bagaimana Shikamaru, kau mendengar sesuatu? "

"Tidak ada percakapan.. "

Kiba tiba dibasecamp 5 menit kemudian. Keadaan sekarang semakin menggelap karena matahari tergantikan oleh bulan.

Akhirnya, setelah menunggu hampir satu jam. Truk-truk besar mulai terlihat. Bukankah ini aneh? Jika mengangkut hasil material pada malam hari?.

"Sasori, kau harus mendengar ini! " Shikamaru menyerahkan headset yang terhubung dengan audio yang terpasang ditruk tangki itu.

'Kenapa tidak sekarang saja, Pal? '

'Perbatasan banyak sekali aparat, aku tidak bisa leluasa bergerak disana! '

'Ketua pasti murka! Aku tidak berani pulang hari ini'

'Kalo begitu kita lakukan sekarang, Pal!

'Apa semua jalur aman? '

'Sejauh ini aku rasa masih aman. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku, kita lakukan sekarang'

'Berapa gadis yang kau bawa kali ini, Rooster? '

'Cukup banyak, lima orang dan dua diantaranya masih perawan! '

'Bagus, Ketua tidak akan murka jika kita berhasil membawa mereka padanya'

Fakta baru terkuak, bahwa mereka juga melakukan penculikan terhadap gadis? . Kasus kali ini membuat ANBU tercengang. Benar-benar jaringan yang sangat kejam dan berbahaya.

"Target mulai beraksi. Persiapkan diri kalian, misi kita tidak hanya melakukan pengintaian tapi kita juga akan menyelamatkan para gadis itu. Cek senjata kalian" ketiga anggota mengangguk patuh.

.

.

.

.

Konoha, 18. 23 pm..

Gadis musim semi itu meletakkan botol minuman mineral dimeja.

Sasuke datang membawa sup krim ayam hangat dikedua tangannya.

"Kau masih lemas. Makanlah.. " wajah Sakura masih mengkerut mengingat hal detail yang mungkin saja menjadi bahan investigasinya terhadap Sara dari peristiwa sore tadi.

Ia memang belum menceritakannya kepada Sasuke, tetapi Sasuke kini mulai faham apa yang sebenarnya telah Sakura alami. Ini bagian dari dunia supranatural.

"Rabu 19 September 2007.. " gumam Sakura lemah.

Sasuke tertegun, bukankah hari dimana Sara menghilang?

Sasuke mencoba tenang. Banyak artikel diinternet yang mempubliskan misteri hilangnya Sara pada 2007 silam kan? Mungkin saja Sakura membaca salah satu artikel tersebut. Begitu pemikiran Sasuke.

"Seorang pria diruangan lab.. Aku tidak melihatnya" Sasuke terkejut bukan main.

Sasuke POV

Seseorang didalam lab?

Sara pernah mengatakan hal ini dulu, dan aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya waktu itu.

#Flashback

"Sara! " aku terus memanggilnya karena bel sudah berdering. Tasnya sudah tergeletak dimeja sedari tadi, tapi dia tidak terlihat batang hidungnya.

"Sara! " itu dia. Sara baru saja keluar dari perpustakaan dengan sangat terburu-buru. Apakah Sara belum mengerjakan tugas?

"Sasuke-kun! Seseorang didalam lab-

"Kenapa kalian masih diluar! Masuk! " titah dari Haruma Sensei yang tiba-tiba sudah berada dibelakangku.

"Ha'i.. " aku segera berjalan seraya 'menyeret' Sara kedalam kelas.

Keadaan Sara sangat berbeda. Ia cenderung diam dan tak mau berbicara saat dikelas. Padahal dia adalah orang terbawel yang ada disekitarku. Dan meskipun sedang ada Sensei yang mengajar, Sara akan tetap berceloteh.

Hingga akhirnya bel tanda berakhir jam pelajaran sekolahpun berdering. Sara dijadwalkan piket pada hari ini. Sebenarnya aku akan bertanding basket di sekolah Shibuya sekarang. Tapi aku khawatir dengan Sara.

"Cepat pergilah Sasuke-kun, kalo kau terlambat kau tidak bisa menjadi pemain inti kan? "

"Hn, nanti saja setelah kau selesai.. "

"Ini sangat lama, cepat sana-

"Sasuke! Kita pergi satu rombongan! " seru Jugo.

"Tuh'kan? Cepat sana! "

"Kau yakin? "

Sara mengangguk dan aku percaya kepadanya. Aku pergi meninggalkan Sara..

#FlashbackOff

Sakura menyesap teh hangat yang dipesan, tatapan matanya masih kosong dan jaketku yang masih bertengger pada tubuhnya seolah-olah 'menelan' dirinya. Mata emeraldnya memerah karena menangis tadi. Tapi kenapa ia terlihat sangat cantik saat ini, hidung mungilnya sedikit memerah serta bibir khas cherrynya yang memerah. Aku sudah tidak waras? Aku menggeleng pelan untuk menetralisir perasaanku yang seperti ini disaat keadaan yang tidak tepat.

"Apa maksudmu Sakura? " kepala Sakura mengadah kepadaku. Manis.

"Aku bertemu Sara dan juga kau tadi.. " cicitnya.

Ya tentu saja kita sudah bertemu sejak aku menjemputnya di sekolahkan?.

"Diperpustakaan sekolah, 19 September 2007.. " lanjutnya.

"Apa!? " kedua tangan Sakura menyangga pada meja dan itu menjadi kebiasaannya saat ia membicarakan hal-hal serius, setahuku.

Sakura mengangguk lemah dan mulai menceritakan yang ia alami hingga seperti ini.

"Sara melewati lab ketika dia akan keperpustakaan, saat itulah Sara mendengar bisikan yang membuanya terkejut dan juga ketakutan. Sara berlari keperpustakaan kemudian kau memanggilnya.. " ujar Sakura dengan suara lemahnya. Matanya yang sayu menatapku penuh keyakinan.

Sakura menyaksikan kejadian itu? Dia berada disana saat itu? Bagaimana bisa?

"Sayangnya aku tidak bisa mendengar dan melihat siapa pria diruangan lab tersebut.. " lanjutnya kemudian.

"Aku tidak pernah melihatmu dulu saat disekolahan kami.. " ucap apa yang ada dipikiranku saat ini.

Sakura menatapku intens seakan banyak sekali misteri yang dia ingin sampaikan kepadaku.

"Dengar.. Aku sudah menduga ini sebelumnya. Kau tidak mempercayaiku! Saat aku berada dirumah Sara, aku mengalami semacam 'perjalanan' menembus waktu. Aku berada di tanggal 19 September 2007, aku juga melihat Ibunya Sara!" ini dia. Sakura tidak berada disana ketika ia berumur 8 tahun kan, tidak ada anak kecil berambut pink saat itu, mana mungkin? Jadi dia 'baru saja' ada disana, disekolahku 9 tahun silam.

Aku diam berkonsentrasi dengan apa yang diucapkan gadis ini. Sara yang membawanya kesana. Sara ingin memperlihatkan sesuatu mengenai misteri tentangnya melalui Sakura.

"Jika kau tidak percaya, aku bisa menyebutkan letak semua barang yang ada dikelasmu pada 2007 silam.. " aku tetap diam padahal aku sudah mempercayainya, aku ingin menunggu Sakura menunjukkan apa yang dilihatnya memang benar adanya.

"Meja berjajar kearah horizontal dengan empat meja setiap baris, Sara menaruh tasnya dibarisan kedua berdekatan dengan jendela dan kalender berada dimeja guru.." sudah. Aku menggenggam tangannya dengan erat "Aku mempercayaimu, semua yang kau katakan tepat. Maaf" dia menggeleng dan tersenyum.

"Hari ini secara pribadi aku membuka kembali kasus Sara 9 tahun silam, dan kau maukan menjadi partnerku? " ujarku dengan tulus. Ia tersenyum manis dan mengangguk setelahnya.

"Habiskan supmu.. " Sakura mulai menyuap kuah sup krim yang masih mengepul itu dan menghentikan kegiataannya karena ponsel yang berada ditasnya berdering.

'Siapa? ' batinku.

"Moshi-moshi.. Gaara-kun, ada apa? "

'Gaara? Sial! Untuk apa simerah itu menelpon Sakura? '

"Sasuke-kun! Kenapa kau melamun.. "

'Ini gara-gara simerah itu pasti' tentu saja dalam batinku.

"Hn, kemarikan ponselmu" kulihat wajahnya menekuk sesaat tapi ia tetap menyerahkan ponselnya.

"Kau sedang apa? " tanyanya.

Aku memprogram ponsel miliknya agar terhubung dengan GPS milikku. Kemanapun sakura pergi, aku akan tahu.

"Aku mencatatkan nomorku disana, hubungi aku jika ada sesuatu" dia mengangguk patuh.

"Kita pulang sekarang, jangan menerima telpon dari siapapun yang akan mengganggu istirahatmu nanti! " dia mulai cemberut lagi dan aku menyukainya.

"Meskipun itu telpon darimu? " skak mat. Aku gelagapan karena memang itu yang ingin aku katakan tanpa mengatakannya.

"Hn, kecuali aku! " tegasku masih dengan tampang 'sok' tenangku.

"Kenapa? " argh! Kenapa dia cerewet sekali.

"Karena sekarang kita adalah partner dan kau tidak boleh membantahnya. Satu lagi, jangan cerewet!. "

Sasuke POV End.

To be continue...

A/N : Hai minna :D #watados. Pertama author mau minta maaf dulu untuk keterlambatannya dengan alasan yg sering author bicarakan. Author senang membaca review, dari kalian semua tpi kali ini author gak bisa balas maaf minna.. untuk chapter 5 ini semoga kalian puas, dan author juga masih membutuhkan review dari kalian.

So, any review please?

Sign,

Aurynda.