Declaimer Masashi Kishimoto

but

The Story REAL by Me.

Sakura Of The Sun.

Uchiha Sasuke

Haruno Sakura.

Warning!

AU. Alur berantakan. OOC

Umpatan. Banyak Typo. Monoton dll.

Don't Like? Just don't read.

.

.

.

Chapter 6

Is

Begin...!

.

.

.

.

.

.

.

.


Kumogakure, 22. 34 pm...

Empat anggota ANBU berusaha memperbanyak bukti, kewaspadaan terus ditingkatkan selaras dengan pengintaian mereka terhadap kawanan yang berkumpul dihutan Kumogakure karena mereka tidak bisa sembarangan melintasi perbatasan yang dimana disana terdapat banyak sekali aparat.

Ini tentu saja sangat merugikan mereka, tapi ini keuntungan bagi ANBU untuk mensabotase pergerakan mereka dan melakukan investigasi lebih jauh terhadap gembong mafia besar ini.

Dengan rentan waktu berpuluh-puluh menit berlalu, para ANBU belum melakukan aksinya untuk menyergap awak truk yang diduga sebagai pekerja di C'Lord corp.

"Leader, kita tidak bisa menunggu lagi! Pelaku berada didepan mata kita!" seru Kiba.

"Tidak semudah itu Kiba, kita harus melakukan mediasi, jika tidak berhasil terpaksa rencana B kita lakukan, " ujar Sasori.

"Mereka pasti akan terkejut melihat kita mengepungnya seperti ini, cara mediasi tidak akan berhasil menurutku, " ucap Shikamaru.

"Baiklah, Tim! Lee, aku tugaskan kau melindungi korban saat kontak senjata terjadi, "

"Baik, Leader! "

"Kiba dan Shikamaru, kita akan melakukan pengepungan disegala arah, diperkirakan saat ini pelaku hanya 4 sampai 5 orang saja, kita tidak tahu pasti kekuatan serta perlawanan mereka nanti dan pastikan alat komunikasi kita tetap berjalan lancar, "

"Baik! " "Baik! "

"Baik, Leader! ".

Akhirnya dalam waktu yang tepat mereka berempat bergerak mengikuti intruksi dari Sasori.

Semua bergerak senyap. Lee dan Shikamaru mengendap-ngendap membuka truk box yang diduga didalamnya berisi gadis sekapan yang tadi dibicarakan oleh pelaku.

Hanya bermodalkan obeng serta alat khusus,Shikamaru dengan cekatan membuka kunci trukbox. Lee bersiaga melindungi Shikamaru dengan senjata laras panjang yang selalu setia bertengger dikedua tangannya.

KRRKK ..

"Berhasil!"

"Kau bahkan hanya perlu tiga puluh detik untuk membukanya,Shika!" sahut Lee.

Trukbox terbuka dan terdengar ringisan gadis yang sepertinya mulutnya tersumpal. Klik. Lee menghidupkan senter hingga penerangan didalam menjadi lebih baik.

"Sial! Bagaimana bisa para bandot seperti mereka menculik para gadis!" umpat Shikamaru . Lee hanya menggeleng pelan merasa iba dengan kelima gadis yang diikat secara bersamaan dan mereka menangis.

"Sstt..diamlah! Kami tidak akan menyakiti kalian. Kami akan membebaskan kalian, kalian mengerti?" kelima gadis dengan berbeda surai tersebut mengangguk diam.

"Lee, aku butuh pisaumu," ujar Shikamaru seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil pisau lipat yang selalu Lee bawa.

"Kubilang ini sangat berguna, cepat."

Lee dan Shikamaru mempercepat pekerjaan mereka. Pasalnya, diluar sana terdengar suara hantaman yang lumayan keras.

"Lee! Tetap lindungi kami," seru Shikamaru diikuti anggukan mantap dari Lee.

"Kalian tetaplah bersama, tetap dibelakang kami dan tunggu intruksi ,sedangkan kami akan mengawasi terlebih dahulu," kelimanya mengangguk dengan wajah penuh harap.

"Ayo Lee!"

Shikamaru beserta Lee keluar terlebih dahulu, diawasinya setiap titik dan mereka mendapati satu orang bertubuh tambun juga plontos sudah terkapar ditanah disamping trukbox.

Sementara ditempat yang tidak jauh dari keberadaan Lee dan Shikamaru. Sasori serta Kiba berusaha melumpuhkan tiga dari 4 kawanan yang diduga bagian dari mafia yang berkedok sebagai supir truk yang bekerja diperusahaan C'Lord. Satu orang telah berhasil Sasori lumpuhkan karena berusaha menembakkan pistol kepada Kiba yang berada dihadapannya. Hanya terlihat dua orang yang kini berusaha mengambil senjata dalam truk mereka.

Kontak senjata tidak bisa dihindarkan lagi.

Sasori dan Kiba bersembunyi dibelakang pohon pinus tua yang digunakan untuk tameng mereka.

"Sial! Mereka mempunyai banyak senjata! Benar-benar sialan!" umpat Kiba.

"Aku tidak melihat yang satunya lagi, kemana dia?," ujar Sasori ditengah bisingnya suara tembakan dari kedua pelaku.

"Kau benar. Mereka hanya dua orang! Ah sial, kuharap dia akan mati tersandung!"

"Ck! Sudah berapakali kau mengumpat hari ini Kiba," sahut Sasori.

"Cih!"

Kiba menembak disisi kanan sedangkan Sasori disisi Kiri.

Para gadis yang telah bebas diarahkan menuju barak dimana markas sementara ANBU dibuat.

Suara hujaman peluru terdengar jelas hingga menciptakan ketegangan dan ketakutan diantara mereka. Lee berusaha menenangkan mereka setelah menggiring kelimanya menuju barak.

"Disini aman. Kalian tunggulah," titah Lee. Tentu saja para gadis menuruti semua perintah ANBU. Mereka sangat ketakutan dan berharap ANBU segera memulangkan mereka.

Shikamaru mulai mendekati arena perang dan mulai membidik sasaran.

"Lumayan! Sasori dan Kiba tidak bisa bergerak. Tapi sekarang kalian yang tidak akan bergerak," ujarnya seraya membidikkan tembakan tepat kearah pelaku yang bersembunyi dibalik truk.

Senyap dan tepat. Kedua pelaku sudah berhasil dilumpuhkan. Dan ketika itupula kepala bersurai merah menyembul

dibalik pohon pinus yang banyak sekali bekas peluru yang menghantam dahannya.

"Cih! Kukira mereka kehabisan stok peluru."

"Sangat merepotkan. Sniper ANBU tidak bisa berkutik," ujar Shikamaru sarkatik. Sasori mendecih. Baginya Shikamaru datang disaat yang tepat. Karena memang pelaku tidak membiarkan Sasori dan Kiba untuk membalas tembakan barang sekalipun.

"Satu orang lolos," lanjutnya.

"Merepotkan. Kita tidak bisa menikmati liburan akhir pekan mulai detik ini!"

.

.

.

.

Sakura POV.

Huffh..Aku sudah berguling kekiri dan kekanan tapi tidak bisa tertidur. Apalagi peristiwa tadi sore sangat menggangguku,seakan ada banyak pasang mata yang melihat kearahku sekarang padahal inikan kamarku,tidak ada orang lain ,ya selain aku sebagai pemilik kamar ini. Jaket hitam yang menggantung dipintu mengingatkannya akan sesosok pemilik dari jaket tersebut. Sangat hangat dan perhatian. Aku blushing dengan hanya mengingatnya saja.

Energiku benar-benar seperti terkuras saat dimana aku mengalami peristiwa tadi sore. Seharusnya aku sudah bisa tertidur karena rasa letih ini,namun mataku tidak bisa. Ya, aku harus melakukan sesuatu agar bisa tidur!

Minum susu coklat hangat? Kaasan sudah menyeduhkanku susu tadi. Makan ramen? Tidak. Mataku melirik ponsel yang tergeletak diatas nakas. Aku berpikir apakah Sasuke-kun sudah tidur? Kulihat jam masih menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan keberanian yang aku kumpulkan, akhirnya aku memutuskan untuk mengirimnya pesan. Err, aku hanya bosan. Itu saja.

To : Uchiha Sasuke

'Oyasumi'.

Sent. Haahh..aku merasa lega. Wajahku sangat terbakar saat ini, ugh pasti Sasuke-kun mengira aku sedang merindukannya atau aku seorang gadis yang centil. Arg! Pesanku sudah terkirim dan tidak mungkin di-cancle. Bagaimana ini?

Sedetik kemudian, aku hampir melompat dari ranjangku saat ini karena merasa kaget. Ponselku berbunyi dan itu panggilan dari Sasuke-kun!.

Aku segera menjawab panggilannya.

"Moshi-moshi Sasuke-kun,"

"Hn. Kenapa kau belum tidur?," ucapnya penuh dengan penuntutan.

Aku menghela nafasku sejenak. Sasuke-kun terdengar sedang marah. Ugh bagaimana ini, pasti aku sudah mengganggunya.

"E-etto..aku hanya belum bisa tidur. Baiklah aku akan segera tidur,sampai jumpa Sasuke-kun-"

"Hn. Oyasumi Sakura. Cepatlah tidur," jawab Sasuke dengan suara sedikit melemah.

Tanpa sadar aku mengangguk dan mematikan panggilan telponnya. Wajahku sangat merah!

'Oyasumi Sakura. Cepatlah tidur' hanya kata-kata seperti itu yang Sasuke-kun ucapkan dan terdengar sangat perhatian itu semua cukup menjadi mantra pengantar tidurku dengan senyuman disepanjang malam ini.

Sakura POV end.

.

.

.

Markas ANBU.

"Sasori sudah melapor,Teme?," tanya pria kuning jabrik yang saat ini sedang berkutat dengan laptop miliknya.

"Tidak. Aku rasa mereka sedang melakukan sesuatu sekarang,"

"alat kontak mereka juga berjalan dengan lancar, aku harap mereka berhasil." Sasuke mengangguk mengiyakan.

Keduanya berfokus untuk memantau para rekannya yang sedang melakukan misi diperbatasan kota Kumogakure ditengah malam ini.

Drrrt..

Ditengah kegiatannya,Sasuke melihat jika ponselnya bergetar pertanda pesan masuk. Ia menaikkan sebelah alisnya melihat siapa pelaku yang mengirimnya pesan tengah malam seperti ini. Sakura?ungkapnya dalam hati.

Tanpa ragu Sasuke segera mendial nomor gadis musim semi tersebut. Tak sampai tiga detik panggilannya terjawab.

Sasuke POV.

'Moshi-moshi Sasuke-kun..'

"Hn. Kenapa kau belum tidur?," ucapku penuh penekanan. Aku sudah menyuruhnya agar langsung beristirahat setelah aku mengantarkannya pulang tadi.

Naruto merubah mimik wajahnya saat tahu jika aku sedang berbicara dengan Sakura diponsel.

'E-etto..aku hanya belum bisa tidur. Baiklah aku akan segera tidur sampai jumpa Sasuke-kun-'

"Oyasumi Sakura. Cepatlah tidur.." ucapku dengan sedikit lembut. Jujur saja aku sedikit merasa bersalah kepada Sakura karena nada ucapanku seperti seorang yang sedang marah. Aku hanya mengkhawatirkanya saja, dia sangat lelah tadi. Aku menyunggingkan sedikit senyumanku, dasar gadis keras kepala.

"Teme..bagaimana hubunganmu dengan Sakura-chan?," tuh kan. Dengan raut wajahnya yang berbinar Naruto-dobe pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memojokkanku. Dan sejak kapan jika Naruto-dobe memanggil Sakura seperti itu? Sok dekat sekali.

"Hn" kulihat Naruto-dobe menyerah jika aku sudah mengeluarkan mantra ampuhku untuk mengacuhkan celotehannya.

"Naruto. Menurutmu, mengapa ada seseorang yang diam-diam memotret Sakura?," tanyaku dengan tenang dan serius agar si kuning jabrik didepanku ini tidak bersikap konyol saat aku berbicara mengenai Sakura.

"Jika bukan fans,kemungkinan dia adalah mata-mata," jawabnya santai.

"Mengapa harus Sakura?,"

"Karena dia...mungkin dia terlihat selalu bersamamu atau karena dia pacarmu? Aku tidak tahu!," ungkapnya seraya mengendikkan bahu.

Aku berusaha mencerna pernyataan Naruto. Mengapa kali ini aku sependapat dengan Naruto-dobe. Jika mata-mata,maka benar Sakura adalah bagian dari target mereka. Tidak bisa seperti ini, aku harus segera menghentikan aksi mereka sebelum hal yang lebih jauh terjadi.

Memang akhir-ikhir ini aku selalu merasa gelisah, tapi aku tidak tahu penyebabnya. Dan Sakura, kuakui dia sedikit ceroboh. Aku mengkhawatirkannya! Hn.

Sasuke POP end.

Jam diruangan sudah hampir menunjukkan pukul 3 dini hari. Naruto terkantuk-kantuk hingga kepala kuningnya mempentur layar laptop miliknya. Ia segera membuka matanya, dan mencari atau melakukan apapun agar tidak merasa mengantuk. Mulai dari bermain game hingga memakan ramen yang entah sudah ke-berapa cup. Berbeda dengan Sasuke, ia lebih tenang mengerjakan suatu berkas yang membuatnya terjaga sampai detik ini. Mereka mengerjakan pekerjaan lain dibandingkan menyebutnya dengan lemburan, yaitu mengawasi rekan mereka yang sampai saat ini tidak ada laporan dan semua komunikasi di Kumogakure terputus. Mungkin pengaruh signal dan juga cuaca buruk disana, pikir mereka.

Alat komunikasi kembali menyala membuat Naruto dan Sasuke bergegas menghubungi Sasori selaku Leader dalam misi kali ini.

Sasuke berjengit dengan laporan yang Sasori tuturkan. Mereka melumpuhkan tiga orang pelaku dan meloloskan satu orang pelaku. Dan yang membuat Sasuke sangat terkejut ialah pembebasan lima gadis yang hendak dibawakan kepada ketua mereka. Sasori cs akan pulang membawa kelima gadis sekapan. Ini kasus yang luput dari pantauannya, jadi selama ini mafia ini juga menculik dan memperdaya para gadis?.

Memang tidak menutup kemungkinan untuk bandar dan juga mafia melakukan kejahatan dengan memperdaya gadis. Tapi mereka mempunyai kekuasaan, tentu saja ini akan mudah jika mereka hanya ingin 'membeli' semua wanita tanpa harus menculiknya. Tentu hal ini menimbulkan kecurigaan yang lainnya. Kasus yang benar-benar rumit. Belum lagi kasus Sara yang membuat kepala Sasuke semakin berdenyut dibuatnya, ia akan memperjuangkan janjinya untuk tetap membuka kasus hilangnya Sara 9 tahun lalu.

Tak terasa fajar menyingsing begitu cepat. Para ANBU yang melakukan misi telah kembali,plus kelima gadis yang diperkirakan masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Sasori sebagai kapten tim dihadapkan dengan Sasuke selaku Ketua ANBU Level A untuk melakukan rincian laporannya.

"Jadi, pengangkut hasil material hanya kedok semata dan mereka melakukan transaksi termasuk gadis-gadis itu?," ujar Sasuke memcahkan keheningan yang terjadi beberapa detik yang lalu.

"Ya, awalnya tim tidak akan melumpuhkan pelaku. Tetapi pelaku mempunyai banyak senjata dan melakukan perlawanan. Mereka menyekap para gadis dan berusaha membawanya kepada 'Ketua', kami memiliki banyak bukti dan melakukan operasi sesuai prosedur," ungkap Sasori.

Tok! Tok!

Shikamaru datang membawa kotak dan sejumlah data-data.

"Apa aku melewatkan bagian terpenting?,"

"Hn," sahut Sasuke.

"Mendokusai. Harusnya hari ini aku bersantai di dibelakang halaman rumahku," ujarnya malas.

"Ck!."

"Kami meminta kepada pasukan ANBU wanita untuk mengurus gadis-gadis. Semua gadis berasal dari desa-desa pesisir. Satu diantaranya mengaku jika ia pernah bekerja disuatu tempat yang sangat aneh, ia memutuskan untuk berhenti. Dua hari setelah berhenti, ia menjadi korban penculikan. Bukankah ini sangat aneh?" tukas Shikamaru.

"Hn, kita masih membutuhkan gadis itu untuk menyelidikan selanjutnya. Apakah mereka merasa tertekan berada disini?,"

"Kurasa tidak, mereka merasa aman," ucap Sasori.

"Baiklah, aku ingin gadis itu bertemu dengan seseorang. Siapa nama gadis itu?,"

"Matsuri,"

"Ya, besok."

.

.

.

.

Kirigakure,

Malam yang sangat hitam dan berkabut di Kirigakure.

Perusahaan C'Lord yang menjulang tinggi nampak tidak menghentikan aktivitas barang sedetikpun. Pemimpin C'Lord pun tak luput mengawasi pekerjanya. Dengan wajah penuh kemarahan ia melemparkan map kuning yang sebelumnya dibawakan oleh asistennya.

Jelas Orochimaru sangat marah, map kuning itu menunjukkan laporan dari grafik keuangan dan investasi yang diperoleh C'Lord satu bulan ini. Dari data yang didapat, perusahaan mengalami grafik menurun yang cukup anjlok untuk saham dan keuangan.

"KENAPA INI BISA TERJADI !" Murka Orochimaru.

Yugao sang sekretarispun hanya menunduk takut. Ia tidak berani berhadapan langsung dengan Orochimaru saat seperti ini. Kemarahan Orochimaru adalah neraka baginya.

"Kenapa dengan mereka! Bukankah mereka mendesak untuk bisa berinvestasi diperusahaanku! Tapi apa sekarang?!" geram Orochimaru.

"Ha'i Orochimaru-sama. Mereka langsung mengundurkan diri setelah tahu jika C'Lord mendapatkan surat pengusutan dari Konoha khususnya dari Badan Keamanan Konoha. Ini mengakibatkan grafik saham dan keuangan kita takut-

"Hentikan! ANBU penyebab dari semua ini? Cih! Jadi mereka sudah mulai mencurigai perusahaanku?!"

"TIDAK AKAN KUBIARKAN! Baiklah, jika itu yang mereka inginkan aku akan bergerak bahkan sebelum mereka sempat berpikir, bocah tengik sialan!" PRANGG!

Orochimaru melemparkan guci mahal koleksinya hingga tak berbentuk. Yugao hanya diam menunduk dan sangat ketakutan.

"Keluar!" Yugao berlari keluar meninggalkan atasannya yang amat sangat murka itu.

"Brengs*k!"

Ternyata Orochimaru salah, ia berpikir jika perusahaannya akan tetap aman disamping 'pekerjaan' kotornya yang sebenarnya menjadi kedok utama dari perusahaannya ini. Tapi sekarang, ANBU bahkan akan memulai menginvestigasi perusahaannya.

Telpon berdering ketika Orochimaru akan melampiaskan kemarahannya terhadap benda-benda malang yang berada dihadapannya. Dengan kesal ia tetap mengangkat telpon sialan itu,begitu pikir Orochimaru.

"Ada apa!, Hidan?!"

"Kau pikir apa yang terjadi? Kau katakan jika perusahaan akan tetap aman! Tapi apa, ANBU akan mengaudit perusahaanmu!" Bentak Hidan disebrang sana.

"Ini hanya masalah kecil. Aku akan membereskannya segera,kau jangan khawatir!"

"Cih! Kau mengatakan itu ribuan kali kepadaku! Kuharap kali ini kau tidak membual. Jika tidak, aku akan menarik semua uang dan sahamku!"

DREGG!

Dengan kasar Orochimaru membantingkan telpon, kemarahannya kali ini sangat bukan main-main. Orochimaru menggeram dan berjanji, jika ia akan segera menghabisi ANBU.

Belum lagi rasa kemarahan yang amat membara dalam jiwanya mereda, Orochimaru harus menelan pil yang sangat pahit mengetahui beberapa bawahannya telah dilumpuhkan dan merampas gadis-gadis miliknya.

"ANBU SIALAN!"

.

.

.

Kamis sore adalah hari yang sangat melelahkan bagi gadis bersurai merah muda ini. Selain jadwal sekolah berolah raga dan memulai jam ekstra kulikuler yang terisi dengan kegiatan-kegiatan melelahkan. Tak lupa juga hukuman yang sedang ia derita bersama kedua sahabatnya Hinata dan Ino. Kini ketiganya duduk beralaskan rumput alami ditaman sekolah bermandikan matahari sore dan angin yang sangat menyejukkan. Seperti kebanyakan gadis remaja lainnya,mereka juga tak luput membicarakan hal-hal ringan khas remaja.

"Aku tidak akan pergi kesalon hari ini, aku akan pulang dan tertidur sampai besok!," seru Ino.

"Hey Pig, kau akan terlihat seperti pig saat kau terbangun nanti," ledek Sakura seraya tertawa.

"Iss Jidat, awas kau yah," Sakura menjulurkan lidahnya mendengar gerutuan Ino. Hinata hanya tertawa ringan melihat kedua sahabatnya yang selalu seperti ini.

"Aku merasa bosan dengan semua pria yang ada disekolah ini. Tidak ada yang menarik,hahh andai saja aku berada disekolahan para model pasti semua siswanya sangat cool dan tampan kyaaaa~" jerit Ino dengan nada centilnya. Sakura hanya sweetdrop sedangkan Hinata meringis pelan. Ino setiap saat hanya membicarakan pria tampan dan tampan saja.

"Kurasa kau harus segera pulang dan tidur saja,Pig!"

"Hah kau ini Jidat, apa kalian tidak ingin setiap hari dikelilingi pria-pria tampan?." mata Ino berbinar ketika menceritakan tampannya model-model yang berada disekolahan khusus model. Sakura nampak tidak mempedulikan obrolan gadis blonde yang selalu tentang pria tampan. Hinata terlalu polos dan selalu mendengarkan apapun yang dibicarakan Ino. Sakura memejamkan mata mencoba merasakan rileks dengan tiupan angin yang melambai diparasnya.

'Sakura...' ia membuka matanya mendengar bisikan yang jelas bukan suara Ino maupun Hinata. Ino sibuk berbicara dan Hinata sibuk mendengarkan. Jadi, siapa?

'Sakura...' apakah ia sedang berhalusinasi sekarang? Sakura mencoba menengok kedua sahabatnya dan bertanya kepada mereka.

"Hinata Ino, kalian mendengar seseorang memanggilku?," keduanya menggeleng.

"Sakura-chan terlalu banyak melamun," gumam Hinata. Ino mengangguk membenarkan.

"Mungkin saja," Sakura menjawab singkat dengan sedikit senyumannya.

'Tapi suara ini, Sara. Ini suara Sara' batin Sakura.

"..chan...Sakura-chan!" Sakura tersentak dari lamunannya. Hinata menepuk pelan bahu kirinya dan hanya melihat Sakura intens. "Kau melamun lagi," ujar Hinata.

"M..maaf,"

"Kenapa meminta maaf, sebaiknya Sakura-chan segera pulang. Sakura-chan bisa ikut denganku, Kakakku sudah menunggu disana,"

"Iya Jidat. Atau kau bersamaku saja, jangan menolak aku mohon," pinta Ino. Sakura mengangguk kepada Ino dan meminta Hinata untuk pulang saja terlebih dahulu bersama kakaknya.

"Nah..beginikan lebih baik."

Hendak saja Sakura beserta Ino melangkah menuju area parkir mobil mini coover milik Ino, getaran ponsel Sakura menghentikan langkah keduanya. 'Sasuke-kun?' batin Sakura. Ia meminta Ino untuk mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu sedangkan ia bisa mengangkat panggilan dari Sasuke.

'Kau dimana? Aku ada didepan gerbang sekarang,' cecar Sasuke tanpa memberi kesempatan kepada Sakura untuk sekedar mengatakan 'Halo'.

"A-iya Sasuke-kun kau ada didepan gerbang? Aku akan kesana!" Sakura segera mendekati mobil Ino yang kini siap keluar dari area parkir dan mengatakan kepada Ino jika ia tidak akan pulang bersama dengannya. Ino sangat ingin tahu alasan Sakura untuk tidak pulang bersamanya dan Sakura mengatakan jika ia sudah dijemput oleh seseorang.

Sakura masuk kedalam mobil Porsche hitam milik Sasuke. Dan mendapatkan tatapan yang sangat intens dari sang pemilik mobil.

"Aku datang kerumahmu dan Ibumu bilang jika kau belum pulang. Memangnya apa yang kau lakukan, ini hampir jam 6 sore!" cecar Sasuke. Sakura hanya terdiam beberapa saat setelah ia mendudukan diri disamping Sasuke.

"Aku mengikuti ekskul dan mengerjakan yang lainnya, itu sangat melelahkan dan kenapa kau selalu memarahiku?," ringis Sakura ditengah kecemberutannya.

Sasuke menghela nafas, mengapa ia seperti harus memarahi Sakura yang tidak pulang tepat waktu. Lagipula Sakura memang anak SMA yang pastinya banyak kegiatan setelah jam sekolah selesai. Ada sebuah hal yang membuat Sasuke harus melakukan itu kepada Sakura, perasaan takut atau khawatir. Mungkin.

"Kau partnerku dan kau sangat ceroboh, itu membuatku.. hn sudahlah!"

'Partner' batin Sakura.

"Aku hanya ingin kau bertemu seseorang," jelas Sasuke singkat. Sakura tidak bisa menolak, bahkan Sasuke sudah mengantongi izin dari Mebuki untuk menggondol anak gadisnya ini.

"Siapa? dan kita akan kemana?," tanyanya.

"Jangan cerewet. Nanti juga kau akan tahu," jawab Sasuke.

"Huh, kau membuatku penasaran."

"Hn, ini lebih bagus daripada harus membuatmu kelaparan."

"Aku memang lapar!"

Mereka sampai digedung 12 lantai dan merupakan markas dari satuan organisasi ANBU. Sakura sangat tercengang, ia sama sekali tidak menyangka jika ia akan dibawa ke markas ANBU. Tapi untuk apa? Apakah ini ada kaitannya dengan Sara? ujarnya membatin. Sasuke yang sangat terlihat cool mengenakan seragam khas ANBU namun sedikit berbeda dengan para ANBU yang Sakura temui disetiap langkahnya,mungkin ini menunjukkan jika Sasuke adalah Ketua dari ANBU. Lihat saja, setiap anggota ANBU yang berpapasan akan sangat mengsegani Sasuke layaknya seorang presiden. Tapi lagi-lagi Sakura merasa menjadi pusat perhatian. Seakan ia bisa merasakan semua tatapan orang dibalik punggungnya.

Sasuke mendatangi seseorang dibalik meja operator entah untuk apa. Sedangkan Sakura hanya berdiri kaku menunggunya berbicara dengan seorang wanita petugas disana. Ugh, sesungguhnya Sakura merasa haus dan ia tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa ia kelaparan.

"Ayo."

Sakura POV.

"Ayo." Sasuke kemudian menuntunku menuju suatu ruangan yang akupun belum tahu. Kami berada dilantai 9 dan melewati banyak sekali ruangan dengan para anggota ANBU yang sedang berkutat dengan komputernya. Sampai diujung lorong, ruangannya sangat berbeda dari yang aku lihat. Ini seperti ruang tertutup. Sasuke menekan bel dan seseorang dibalik pintu telah membukanya. Apa, seorang gadis? Apa dia kekasih Sasuke?. Hah aku merasa sangat ingin berteriak. Selama ini Sasuke sudah mempunyai kekasih?!

"Masuklah," ujar Sasuke seperti biasa. Aku masuk dan mendapati ada dua orang gadis lainnya yang sedang berhadapan dengan seorang anggota ANBU wanita. Kenapa banyak sekali gadis disini?.

"Kemarilah, dan perkenalkan ini Matsuri. Matsuri ini Sakura," pungkas Sasuke. Aku bersalaman dengan Matsuri dan memamerkan senyuman terbaikku. "Sakura.." ungkapku. Dia membalas senyumanku dengan ramah "Matsuri.." gumamnya.

Aku melihat Sasuke yang sedang bersidekap dihadapan kami berdua, dan sesungguhnya aku tidak tahu mengapa Sasuke harus mengenalkanku kepada kekasihnya. Ugh, aku sangat jengkel aku ingin sekali menjambak rambut situan ayam es ini. Sasuke melirikku dan sepertinya ia faham jika aku sangat kebingungan. Ia berkata "tunggulah.." kepada Matsuri. Sasuke mengajakku kesebuah sofa dengan pemandangan kota Konoha dibalik kaca.

Aku meringis dan sangat jengkel, wajahku mungkin saja berubah jadi angry birds saat ini. Aku duduk dengan hentakan yang lumayan menyita mata elang si tuan ayam. Ia terus menatapku dan aku membalasnya dengan tatapan datar dan entah sejak kapan aku memajukan bibirku.

"Hn?," kata ambigunya itu kurasa dia menanyakan apa yang terjadi dengan sikapku sekarang. Aku bersidekap dan menajamkan mataku. Dia benar-benar harus diberi pelajaran karena telah berani bersikap seperti itu kepadaku.

"Kau mengajakku kesini dan kau mengenalkanku pada kekasihmu! Memangnya kau mau memamerkan jika kau sudah punya kekasih kepadaku? Hah, aku tidak percaya. Ternyata kau adalah pria mata keranjang, sudah punya kekasih tetapi tetap saja kau memperlakukan gadis lain dengan sangat perhatian!" Cup. Sasuke mencium pipiku. Seketika aku bugkam sementara pipiku sudah berubah warna dari merah terang menjadi merah gelap. Mungkin saja suaraku terdengar sangat keras, disekeliling ruangan orang-orang memelototi kami berdua. Apa-apaan mereka, mereka tidak berhak menguping! Sasuke baru saja mencium pipiku!

"Kau tahu kenapa aku mengajakmu kesini?," aku menggeleng pelan.

"Matsuri. Dia pernah bekerja untuk seseorang, dia bekerja dirumah yang tidak berpenghuni disebuah pulau. Pekerjaannya sangat aneh, setiap bulan purnama menjelang ia diharuskan menyiapkan rumah itu kemudian ia akan pulang dan diminta kembali lagi tiga hari setelahnya. Matsuri sangat curiga, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melihat seperti apa saat dirinya pulang. Matsuri melihat seorang gadis yang berteriak, gadis itu kemudian menghilang. Matsuri pergi dan berhenti bekerja. Tapi dua hari setelahnya,ia diculik dan timku berhasil membebaskannya kemarin. Penculikan berkaitan dengan mafia besar yang sedang kami selidiki,"

"Tunggu Sasuke-kun. Jadi apakah ini ada kaitannya denganku?," aku memberanikan diri mengajukan pertanyaan itu kepada Sasuke-kun karena aku benar-benar tidak mengerti.

"Iya, kau dan juga Sara," jawabnya.

"Sara...apakah dia.."

"Setelah aku mendengar cerita dari Matsuri, instingku seolah berpusat pada Sara. Penculikan yang sangat tenang dan tidak meninggalkan jejak."

Ya ampun! Aku berharap terjun saja dari sini. Mengapa aku tidak berpikir jernih dahulu. Ini sangat memalukan Kami-sama.

"Hn, bagaimana menurutmu? Satu hal, aku tidak mempunyai kekasih tetapi aku suka jika aku mempunyai kekasih yang sangat cerewet dan juga sangat pencemburu," ujarnya datar.

"Aku tidak pencemburu!," Ups. Sasuke terlihat menaikkan alisnya dan menyeringai menatapku.

"Apakah artinya kau?," kenapa dengan mulutku ini. Ugh!

"Sudahlah kau benar-benar menyebalkan. Matsuri, aku ingin berbicara dengannya!" Sasuke lagi-lagi terseny- tidak dia bukan tersenyum melainkan menyeringai kepadaku. Lihat saja nanti! Ia berdiri dan menumpukan tangan kanannya diatas kepalaku dan mengacak rambutku. Tuan ayam es. Setelahnya, ia berlalu dan berbincang kepada Matsuri hingga akhirnya Matsuri berjalan kearahku. Dan aku tidak menemukan Sasuke diruangan ini sekarang.

"Hai Sakura-chan,mm bolehkan jika aku memanggilmu seperti itu?" sapa Matsuri ramah. Aku membalasnya dengan anggukan dan tersenyum sumringah. Karena perasaanku saat ini sangat lega. Apa yang aku pikirkan! Aku menggelengkan kepalaku memikirkannya.

"Tentu saja! Dan aku akan memanggilmu Matsuri-nee, bagaimana?"

"Terserah kau saja Sakura-chan. Kau tahu kemarin hidupku sangatlah mengerikan, sampai ANBU menyelamatkanku dan mereka," Matsuri menunjuk kepada empat gadis yang sedang melakukan kegiatan berbeda.

"Sebelumnya aku pernah bekerja disebuah pulau. Penandangannya sangat indah, tetapi juga sangat menyeramkan karena aku tidak melihat satu orangpun disana,hanya ada rumah dari majikanku. Aku sangat takut, tetapi aku butuh uang dan gaji dari aku bekerja disana sangat besar. Setelah beberapa bulan, aku sangat curiga dan mendapati tingkah janggal dari pemilik rumah. Dia selalu membawa gadis, tetapi ketika pulang gadis yang dibawanya selalu hilang. Ia tidak pernah kembali pulang dengan membawa para gadis itu," ceritanya dengan serius. Aku bisa merasakan emosi yang ada dimata Matsuri. Aku berusaha menenangkannya dengan meraih tangannya tapi sesuatu yang sangat jelas melintas didalam pikiranku.

'Sakura...' 'Sakuraa..'

Hutan . Pria bermasker . Jeritan suara gadis dan aku sangat takut. Sara! Aku melihat pulau yang suram dan seorang pria yang sepertinya sedang melakukan ritual didepan api dengan banyak bunga, Sara disana dengan ikatan ditangannya dan mulai menjerit-jerit.

Sejak kapan pipiku sangat basah. Dan Matsuri menepuk pelan pipiku, "Sakura-chan..kau baik-baik saja?" nafasku memburu dan sangat sulit untukku mengungkapkan keadaanku kepada Matsuri.

"A-aku mengerti sekarang.." gumamku.

"Ada apa Sakura-chan?" tanya Matsuri panik. Insting Sasuke sangat benar, kasus yang diceritakan Matsuri ada kaitannya dengan Sara. Kami-Sama. Sara tersenyum dia sedang melihatku sekarang.

"Aku akan memanggil Ketua Sasuke sekarang..

"Tidak Matsuri, aku baik-baik saja. Terimakasih kau sudah menceritakannya kepadaku, sekarang bolehkan aku permisi sebentar?,"

"Tidak, aku yang akan pergi dari sini. Kau beristirahat saja Sakura-chan.." Matsuri sangat pengertian, aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepadanya.

'Siapa pria bermasker itu?' aku memutuskan untuk keluar dari ruangan ini, aku ingin bertemu dengan Sasuke-kun. Tapi aku tidak tahu dimana dia. Oh iya, ini tidaklah sulit Sasuke-kun seorang Ketua ANBU dan sepanjang lorong ini ada sebuah petunjuk menuju ruangannya. Dengan langkah cepat aku menyusuri ruangan yang sempat aku lewati bersama Sasuke-kun. Itu dia, aku semakin mempercepat langkahku dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu aku menerobos masuk.

"Sasuke-kun.." seketika aku menyesal dengan kecerobohanku, Sasuke dan tiga orang lainnya yang aku tahu dia Naruto, Sasori serta seorang yang berambut hitam dengan kulit yang pucat berada dihadapan Sasuke.

"Oh. Sakura-chan?" ucap Naruto.

"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang kalian boleh pergi,"

Setelah ketiganya keluar aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk segera menghampiri Sasuke-kun.

BRUKK . Aku memeluknya dan menangis, ini benar-benar diluar kendaliku. Sasuke balas memelukku dengan belaian tangannya yang begitu hangat.

"Aku tahu...

.

.

.

.

.

To be continue..


Author note : Hah akhirnya bisa update juga. Terimakasih bagi yang masih mau mengikuti fiksi abal ini. Dan tentunya bagi semua Readers, Followers,Favs dan semuanya yang udah sempetin review itu semua sangat-sangat membantu.

Oh iya, maaf untuk kekecewaan kalian karena updatenya sekarang semakin ngarreet banget . aduh keterlaluan ya. Maaf ya minna pokoknya maaf.

Bagi yang ingin berteman dengan author adakah diantara kalian yang akan mengAdd akun fbku nanti kita bisa share bareng dan kalian bisa ngeluarin uneg2 kalian selama ini. Maklum saja Author jarang buka jika Fb mungkin setiap hari buka *toko keleus buka tiap hari :3. Yasud ini akunku

Fb : Rintari S (bagi yg mau berteman aja ? ゚リノ)