Sehun sudah menungguku di sebuah restoran Italia ditengah kota. Dia menggunakan jas hitam dengan kemeja putih. Dia melambaikan tangannya ke arahku.

"Terima kasih," bisiknya.

Aku tersenyum menanggapi pernyataannya. "Sudah kewajibanku,"

Chanyeol dan Jongin tertawa ditelingaku. Aku memang sengaja tidak melepaskan earchip untuk berjaga-jaga. Siapa tau jaksa sialan itu ternyata masih mengenaliku.

"Itu mereka datang," bisik Sehun.

Aku mengikuti pandangan Sehun. Pandangannya menuju tepat ke pintu masuk. Benar. Jaksa itu sudah disana. Dia masih benar-benar sama seperti semalam. Kuharap dia tidak mengenaliku. Dia datang bersama dengan wanita modis yang kuduga sebagai istrinya.

"Santai saja," Jongin menginterupsi ditelingaku.

"Bukannya Kris bilang Jaksa itu tidak akan mengenalimu," tambah Chanyeol.

Aku mendesah pelan.

"Selamat malam. Tuan dan Nyonya Oh," wanita itu menyapa kami. Tangannya terulur kearahku. Aku menyambutnya dengan kaku. "Kau sungguh cantik,"

Aku tersenyum. "Terima kasih," bisikku.

Jaksa Yoon memandangiku dengan aneh. Aku benar-benar merasa gugup sekarang. "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Sial," umpat Jongin.

Aku memasang ekspresi berfikir. "Jika Anda pernah berurusan dengan Kim Fashion Ent., mungkin Anda mengenal saya. Saya bekerja disana," aku memasang senyum. Senyuman manis, bukan senyuman menggoda seperti semalam.

Jaksa Yoon menimang-nimang sejenak. "Maaf sepertinya tidak,"

Aku tersenyum dan suara Jongin mendesah lega.

Tepat pukul sebelas malam kami sudah sampai di rumah. Masih ada waktu dua jam sebelum tugas dimulai. Semoga malam ini Sehun tidur lebih awal karena aku tak berminat meracuninya lagi. Sebenarnya meracuni Sehun membuatku sedikit khawatir. Bagaimanapun dia orang baik, walaupun perangainya aneh.

Sehun memasuki kamar saat aku berusaha menggapai resleting gaun di belakang tubuhku, seperti orang bodoh karena tanganku tidak sampai. "Kau butuh bantuan?" tanyanya.

Aku memutar badanku, menghadapnya. Mataku menatap tubuhnya yang bertelanjang dada dengan hanya menggunakan celana pendek hitam. Memandang pahatan tubuh itu dengan takjub. Badan Sehun cukup bagus untuk pria seusianya. Otot-otot perutnya sudah terbentuk dengan baik. Begitu pula otot di kedua lengannya, tidak terlalu besar, namun tampak cocok dengan tubuhnya.

Aku penasaran apakah Oh Sehun hebat diranjang. Jika dilihat dari bentuk tubuhnya, dia sepertinya rajin berolahraga. Dia pasti tidak akan cepat lelah. Lalu bagaimana jika tubuhnya yang tampak lembut itu bersentuhan denganku. Aku bertanya-tanya bagaimana jika tubuh Sehun berkeringat. Mungkin dia akan semakin tampak seksi dengan rambut basah dan tubuh telanjangnya yang lengket.

Oh, apa yang kupikirkan.

Kugelengkan kepalaku beberapa kali, berusaha menjauhkan fantasi-fantasi liarku tentang tubuh Sehun yang menggoda. Sehun mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban sementara mungkin aku tampak bodoh sekarang karena memandanginya terlalu lama.

"Tolong buka ini," aku menyerah, akhirnya.

Sehun menarik resleting gaunku turun hingga pinggang. Dia membantuku meloloskan gaunku melewati bahu. Tapi sedetik kemudian bibirnya sudah mengecupi bahuku lembut, dia menyesapi aroma tubuhku. Aku mengejang. Bibirnya terasa panas dan basah.

Aku mengerang. Sentuhannya benar-benar berbeda. Sehun benar-benar bisa melumpukanku hanya dengan sentuhan.

Kecupan-kecupannya semakin naik menuju leherku, itu membuatku bergidik geli. Sehun menyisihkan rambutku yang menghalangi ciumannya, kebelakang. Dengan lembut dia mengecupi leher kananku, lagi dan lagi. Tangan Sehun berusaha menurunkan gaunku di bawah sana. Dia begitu cekatan dan lembut disaat bersamaan.

Seperti terhipnotis, aku tidak bisa bergerak. Jujur saja aku menikmati kecupan-kecupan Sehun yang memabukkan. Sehun benar-benar pandai melakukan hal ini. Bahkan aku tidak merasa dilecehkan sekarang.

Tentu saja Sehun adalah suamiku.

"Sehun," ucapku lirih. Menghentikan aksi tangannya yang mulai menjamah area sensitif di perutku.

Tapi tangan Sehun kembali menelusuri perut dan pinggulku. Aku mendesis. Memang aku menginginkan sentuhan Sehun lebih jauh lagi.

Sehun mengecup telingaku. "Kau tau, semenjak perjodohan ini aku sudah tidak berhubungan dengan wanita lain," bisiknya pelan diujung telingku. Aku mencoba menahan desahan yang sudah sampai di ujung lidah.

Aku terkekeh. Merasa tahu kemana arah pembicaraan ini. "Aku tahu," balasku.

Lalu suara tawa meledak ditelingaku. Chanyeol, Jongin, dan Kris sama-sama menertawaiku. Bahkan aku bisa mendengar Kyungsoo dan Baekhyun terkekeh menahan tawa. Aku masih belum terlalu paham, karena sentuhan bibir Sehun tak membiarkan otakku untuk berpikir lebih jauh.

"Kau masih punya waktu jika kau mau melakukan hal itu dulu sekarang," suara Jongin terdengar disela tawanya, membuatku tersadar sepenuhnya.

Oh sialan. Aku belum melepas earchipku. Bagaimana aku bisa kelepasan. Dengan cepat kutekan tombol diliontinku, mematikan sinyalnya.

Sehun masih terus menciumi bahu dan leherku, semakin lama semakin keras. Dia mulai menghisap leherku, dan itu membuatku mendesah ringan. Sepertinya aku akan kehabisan waktu jika dia benar-benar akan melakukannya.

Tapi menolak Sehun bukan hal yang mudah. Sentuhan Sehun benar-benar membuatku melayang, Membuatku kecanduan. Dia sungguh lembut dan menggairahkan disaat bersamaan, dia panas, membuatku panas juga. Bagaimana aku bisa menolaknya jika tubuhku saja menginginkannya.

Aku menginginkanmu, Oh Sehun.

"Apa kau keberatan?" Sehun membalikkan tubuhku, menatap mataku dalam. Kemudian tersenyum ringan. Bibirnya mulai mengecupi dada atasku yang setengah terbuka. Aku sudah hampir telanjang di depannya sekarang, hanya underwear saja yang menempel ditubuhku.

Lakukan Sehun. Aku tidak keberatan, sama sekali tidak. Bahkan jika Sehun melakukannya, ini juga bukan yang pertama untukku. Aku menginginkanmu Sehun. Sama seperti kau menginginkanku saat ini.

Aku mengerang saat Sehun menghisap dada atasku, tidak pelan, namun juga tidak sakit. "Tidak," bisikku, menjawab pertanyaannya.

Sehun menyeringai lalu membasahi bibir bawahnya, kedua tangannya mengangkat tubuhku lalu menjatuhkanku di ranjang. Sehun menindih tubuhku, menempelkan tubuhnya yang panas. Aku mengamati wajahnya dari dekat, nafasnya memburu begitu pula denganku. Tanganku bergerak menyentuh wajah pucatnya, menelusuri wajahnya dengan jariku, sungguh aku baru menyadari Sehun memiliki wajah sesempurna ini. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh menutupi dahinya. Menambah kesan seksi pada pria ini, dia sempurna malam ini.

Kyungsoo benar. Pria ini sungguh seksi.

Sehun mengecupi jari-jariku yang tadinya bermain dihidungnya. Mata kami kembali bertemu. Tatapannya tampak lembut. Sehun yang ini sangat berbeda dari Sehun yang biasanya. Dia tersenyum, hanya sedetik, kemudian bibirnya sudah melumat bibirku.

Aku terkesiap, belum pernah merasakan ciuman seperti ini. Ciuman Sehun panas dan lembut disaat bersamaan. Aku benar-benar tidak bisa bergerak. Aroma khas Sehun memenuhi indra penciumanku. Ciumannya sudah menjadi candu untukku. Kelembutan bibirnya membuatku ingin lagi dan lagi. Tidak ada kata cukup dalam merasakan bibir Sehun.

Lembut, basah, dan manis.

Aku kalah. Sentuhan dan ciuman Oh Sehun melumpuhkanku.

Telingaku berdengung. Kris sialan. Dia pasti mengingatkanku untuk tidak bermain-main karena aku mematikan sinyalku. Kumohon Kris biarkan aku terlambat untuk malam ini saja. Biarkan aku menikmati sentuhan Sehun lebih lama lagi.

Tidak. Aku akan kehilangan pekerjaanku.

Sehun masih menciumiku dengan lembut. Ciumannya turun menuju dada dan perutku. Tanpa sepengetahuannya, kurogoh tasku. Mengaduk-aduknya mencari obat bius yang selalu kubawa kemanapun. Obat bius itu terhubung dengan jarum mikro. Aku harus menghentikan Sehun sebelum sentuhannya benar-benar membunuhku.

Maafkan aku Oh Sehun. Sekali lagi.

Aku menusukkan jarum kecil itu di lengan atas Sehun. Dia meringis dan mengumpat pelan. Dengan cepat kuraup bibirnya dan aku menciumnya dengan kasar.

"Luhan," bisiknya. Dia melepaskan bibirku, menatap mataku dalam-dalam.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku berpura-pura.

Sehun mulai mengerang memegangi kepalanya. Matanya sudah tampak tak fokus sekarang. Dia sedikit mengerjapkan matanya, berusaha mengendalikan kesadarannya. Sehun berusaha kuat untuk tetap sadar. Tapi itu akan mustahil.

Kubalikan tubuhnya agar tak menindihku.

Sehun mengerjapkan matanya kembali. Dahinya berkerut menahan sakit. "Apa yang kau lakukan?"

Aku tersenyum menatapnya dengan lembut. Kukecup kedua matanya yang terpejam, matanya basah. "Kau baik-baik saja Sehun. Kau akan baik-baik saja. Aku menyayangimu," bisikku lembut, berusaha menenangkannya.

Aku tak tau apakah aku benar-benar menyayanginya. Aku tak tau.

Sehun masih berusaha membuka matanya. Dengan lembut kuusap kepalanya, membelai rambut gelapnya. "Siapa kau sebenarnya Luhan?" Sehun mengerang dan kemudian benar-benar tak sadarkan diri.

Aku menghembuskan nafas panjang. Merasa bersalah karena harus kembali membius Sehun. Telingaku berdengung kencang.

Aku kembali menyalakan sinyal. "Sebentar brengsek. Aku harus menidurkannya," umpatku.

Jongin tertawa kencang. "Maaf mengganggu malammu sayang. Tapi kami sudah menunggu,"

Dengan cepat bergegas memakai memakai baju dan turun melalui lift. Kris masih memberikan instruksi di telingaku. Chanyeol sudah menungguku di depan dengan mobil sport berwarna hitam.

Mobil siapa lagi yang dia curi kali ini.

Aku membuka pintu mobil itu dan membantingnya kasar. Aroma asap rokok langsung tercium. "Kau mencuri mobil siapa? Baunya busuk,"

Chanyeol tertawa. "Ada yang menumpang tadi,"

Aku tertawa mengejek. "Pelacur mana lagi yang kau tiduri? Haruskah aku bertanya pada Baekhyun?"

Chanyeol meninju lenganku. Tidak pelan. "Hanya mengantarnya. Sebatas itu saja,"

Chanyeol menepikan mobilnya di depan sebuah bar. Cepat-cepat dia turun dan membukakan pintu untukku. Tangannya melingkari pingganggku, jari-jarinya menelusuri punggungku yang terbuka. Perlahan meremas pinggangku. "Brengsek tanganmu,"

Chanyeol menyeringai. Tangannya masih disana. Sekarang dia sudah menciumi leherku. Beberapa penjaga tersenyum melihat kelakuan Chanyeol. Si mesum Park Chanyeol. "Apa kau menolakku karena kau sudah bersuami, Nyonya Oh Luhan yang terhormat?" aku hanya mendesis.

Kucoba mendorongnya menjauh, tapi mustahil. Chanyeol menarikku ke sebuah sofa panjang. Dia mengangkat dan mendudukkanku di pangkuannya. Dia mulai menciumi dada bagian atasku. "Chanyeol," desisku, lebih tepatnya menahan desahan.

"Bukankah kita pernah melakukan yang lebih dari ini?" Chanyeol menyeringai dan terus menciumi dadaku dengan ganas. Ciumannya semakin terburu-buru.

Tapi dia benar. Aku pernah tidur dengan Chanyeol sebelumnya. Beberapa kali dengan Kris, Jongin, dan Suho. Bahkan aku pernah meniduri Kim Jongdae, adik Kris. Kami melakukannya bukan atas dasar cinta. Hanya atas dasar kebutuhan. Jujur saja Kris tidak mengijinkan kami mempunyai kekasih. Tapi begitu Baekhyun dan Kyungsoo bergabung dalam tim ini, Kris baru mengijjinkan mereka berhubungan. Sedangkan aku harus terjebak dengan pernikahan sialan itu.

Aku mendesah ringan saat Chanyeol menghisap perpotongan leherku. Dia menyeringai. "Berhentilah menggodaku. Apakah kau ingin aku mengaktifkan liontinku sekarang. Kurasa Baekhyun akan senang mendengarku mendesahkan namamu," aku tertawa. "Oh Park Chanyeol," desahku ringan.

Chanyeol mendengus, kemudian melepaskanku. "Dasar jalang,"

Seorang pria mendekati kami. Suho. "Dasar Park Chanyeol. Masih saja menggoda istri orang," Suho tertawa dan Chanyeol menurunkanku dari pangkuannya.

Senyuman Suho tampak seperti malaikat, senyuman itu mampu menipu semua orang. Karena tidak ada orang yang akan mengira bahwa didalam senyuman malaikat itu ada iblis yang terpendam. Sesosok iblis yang kejam, yang tidak segan-segan membunuh siapa saja yang mengusiknya.

"Mereka sudah sampai?" tanya Chanyeol. Tangannya sibuk memasang penyadap dibalik gaunku. Gerakannya begitu cepat. Jika orang melihatnya, mungkin mereka akan berpikir Chanyeol sedang menggerayangi tubuhku.

"Baru saja," Suho menekan layar diponselnya. "Sudah terhubung. Dengar luhan ini akan berbahaya. Kau tidak akan mendengar kami. Tapi kami mendengarmu. Lewat penyadap ini. Liontinmu juga tidak akan kau gunakan. Jika ada bahaya–"

"Aku mengerti," potongku. Suho dan Chanyeol saling berpandangan.

Aku melambaikan tangan ke arah mereka dan berjalan menuju ruangan tertutup di lantai dua. Ruangan itu dijaga oleh dua orang berjas hitam. Mereka menghadangku. "Kau dilarang masuk, nona,"

"Tapi aku sudah ada janji dengan Tuan Lee," aku tersenyum.

Salah satu diantara mereka menelepon. "Siapa namamu?"

"Kim Hyeri,"

Pria tersebut meminta kartu identitasku, memeriksanya sebentar dan mempersilahkanku masuk.

Aku berhasil mendapatkan sidik jari Lee Hyukjae digaunku. Walaupun pria itu harus menyentuhku. Kadang aku merasa risih dengan diriku sendiri. Karena banyak pria yang menyentuhku, aku sudah seperti pelacur.

"Kau tampak murung," ucap Chanyeol. Dia memandangiku sekilas lalu pandangannya kembali focus mengemudi.

Aku menggeleng. "Aku baik-baik saja,"

Chanyeol menurunkanku di depan apartement Sehun. Dia mencium bibirku sekilas. "Istirahatlah. Kami tidak mengganggumu malam ini,"

Aku tersenyum. Chanyeol berbeda malam ini. Tidak biasanya dia bersikap dewasa. "Terima kasih,"

Aku menaiki lift dengan cepat karena tidak ada orang yang kutemui. Ini benar-benar sepi. Jelas saja, ini tengah malam. Aku memasuki kamar Sehun dan lampu yang menyala membuatku menyipitkan mata.

"Xi Luhan," aku tersentak mendengar suara bentakan yang keras.

.

.

TBC

Hallo. Terima kasih sudah membaca fanfiction ini. Chapter dua fanfiction ini akhirnya diupload. Setelah membaca beberapa review dari chapter pertama, ternyata banyak yang penasaran. Jadi akhirnya dilanjutkan. Maaf kalo nggak bisa balas review satu per satu.

Untuk yang menanyakan nanti Sehun bakal jadi mata-mata atau enggak bakalan kejawab dichapter selanjutnya /hehe/. Author sendiri masih bingung nambahin cast-nya. Ada saran? Enaknya siapa dan jadi apa. Adegan rate M-nya di beberapa chapter kedepan. Author masih ngedit cara menyampaikan adegan itu yang hot tapi sopan /?/.

Bagaimana dengan komentar, saran, dan tambahan untuk chapter ini. Silahkan review untuk lebih kurangnya fanfiction ini. Dichapter ini masalah sudah mulai muncul meskipun masih menggantung. Menurut pembaca sekalian, apa cerita ini membosankan atau sudah mainstream atau bagaimana? Silahkan memberikan masukan. Kalo ada yang mau ngasih saran tentang jalan cerita boleh juga. Author akan menerima dengan senang hati.

Sekian dulu. Terima kasih.