"XI LUHAN," aku tersentak mendengar suara bentakan yang keras.

Itu seperti suara Sehun. Tapi bagaimana mungkin.

Perlahan aku menoleh ke belakang sedikit demi sedikit dan berharap pendengaranku salah. Tapi memang benar itu Sehun. Sehun berdiri bersandar pada dinding. Dia menatapku marah seolah-seolah akan membunuhku sekarang dan memang kurasa pria itu benar-benar akan membunuhku. Wajahnya tampak pucat tapi kilatan marah dimatanya tampak jelas.

Aku bergidik ngeri.

Aku menekan liontinku. Menyalakan sinyal berusaha meminta bantuan.

"Darimana kau?" Sehun bersuara lagi. Dia mengeram dengan suara rendah seperti berusaha mengendalikan amarahnya. Tubuhnya sedikit bergetar dan kedua tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.

Aku membisu, memandangi ujung kakinya. Berusaha menghindari tatapan matanya yang seolah-olah mengulitiku. Lalu suara ditelingaku muncul. "Sepertinya kau salah membiusnya," Jongin menyahut.

Aku habis sudah. Tidak tau alasan apa yang akan aku berikan. Apa yang harus aku katakana sekarang. Sehun sepertinya benar-benar mengingat semuanya. Bagaimana aku bisa ceroboh memberinya obat bius.

Kumohon Kris berikan aku alasan. Aku tidak pernah mempersiapkan diri untuk kejadian seperti ini.

Lalu suara Chanyeol dan Jongin berdebat ditelingaku. Mereka membicarakan sesuatu yang tak data kupahami seutuhnya. Dimana Kris. Aku membutuhkannya.

"XI LUHAN. JAWAB AKU!" bentak Sehun. Suaranya terdengar bergetar ditelingaku.

Aku tidak tersentak karena suara itu. Sungguh aku sudah sering mendengar suara yang jauh lebih keras dari pada ini. Tapi aku benar-benar gugup sekarang. "Sehun- aku-,"

Sial.

Kumohon siapa saja berikan aku alasan.

Suara Kris mulai samar-samar terdengar. "Katakan yang sebenarnya. Biar aku yang bersihkan nanti,"

Aku menekan liontinku mematikan sinyal. Merasa lega disatu sisi tapi disisi lain aku siap dikuliti. Dikuliti suamiku sendiri. Lalu dari mana aku menejelaskan semua ini.

Sehun menatapku tajam. Matanya tampak masih berkilat karena amarah. Perlahan dia berjalan mendekatiku. "Kenapa Luhan? Kau tak bisa menjawab?" geramnya.

Aku mundur perlahan. Persis seperti korban yang akan segera dibunuh. Sehun semakin mendekat padaku. "Sehun, dengarkan aku," suaraku terdengar melengking. Bahkan aku tidak bisa menghentikan tubuhku sendiri yang melangkah mundur menjauhinya.

"Aku mendengarkan," desaknya lagi.

Tubuhku sudah menyentuh dinding. Aku terpojok. "Oh Sehun. Ini rumit,"

"Bagaimana bisa rumit. Biar kutanya kau. Apa kau seorang pelacur, Nyonya Oh yang terhormat?"

Nyonya Oh. Oke dia memanggilku dengan nama itu. Nyonya Oh benar-benar terdengar bagus.

Aku menatapnya dengan pandangan minta dikasihani. Bahkan tidak sempat merasa tersinggung oleh pertanyaan Sehun. Karena mungkin penampilanku tampak seperti itu. Mini dress tipis menempel dengan rapat ditubuhku dengan heels tinggi berkeliaran tengah malam. Lalu apa jika aku bukan pelacur.

Sehun memegang daguku, mendongakkan kepakau keatas. Lalu menatap mataku tajam. "Aku tau kau dan aku sama-sama tak menginginkan pernikahan ini. Tapi tak bisakah kau hargai aku seperti layaknya seorang suami?"

Aku tercekat. Kata-kata Sehun membungkamku. Benar-benar sebegitu dalamnya.

Pria ini masih memiliki sisi bongkahan batu yang dingin.

Sehun mencengkeram daguku lagi dan mendekatkan wajahnya. Kini aku bisa merasakan deru nafasnya yang kuat. "Katakan padaku. Berapa hargamu semalam?"

Lalu tiba-tiba saja aku menampar wajahnya. Tidak tahu mengapa, hanya saja tanganku seolah-olah bergerak sendiri secara otomatis. Lagipula kurasa Sehun pantas mendapatkan itu. Pria brengsek ini tidak mengijinkanku mengatakan hal yang sebenarnya. Bahkan aku tak tahu harus mulai dari mana untuk memberitahunya.

Sehun kembali menatapku. Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku. "Apakah kau pikir aku tak sanggup membayarmu?" bentakknya kasar.

Sehun menarik tanganku dengan paksa, menyeretku mengikuti langkahnya. Sebenarnya aku bisa membantingnya saat ini juga. Tapi ini akan menambah rumit situasi. Sehun menyeretku ke kamarnya dan membantingku ke ranjangnya.

Aku terpelanting.

"Kau akan mendapatkan bayaranmu nanti," suaranya terdengar sangat rendah. Entah menahan amarah atau menahan gairah.

Sehun mendorongku kembali hingga tubuhku terbaring dan terlentang. Sebelah tangannya memegangi kedua tanganku yang bergerak-gerak tak beraturan sedangkan tangan satunya berusaha merobek gaunku di bawah sana. "Sehun. Jangan. Kumohon," bisikku.

Sehun tak peduli. Dia menarik kedua tanganku keatas dan melepaskan semua pakaianku. Nafas Sehun memburu. Dia terlihat marah sekaligus penuh nafsu. Sehun mulai menciumi bibirku dengan kasar dan terburu-buru. Aku bahkan tak sempat melihat matanya.

Aku gelagapan. Mencari udara dengan susah payah karena Sehun tidak memberikan ruang untukku bernafas. Sehun benar-benar terbakar amarah saat ini. Ciumannya kasar. Bahkan sepertinya bibirku akan bengkak.

Sehun melepas ciumannya dan aku menarik nafas kuat-kuat. Mencari udara.

Kukira penyiksaannya akan selesai, tapi aku salah. Bibir Sehun beranjak turun dan dengan kasar Sehun menghisap leherku. Aku mengerang. Dia masih saja menghisap leher dan bahuku. Kedua tangannya memegangi tanganku yang meronta-ronta.

"Oh Sehun," bisikku parau. Suaraku memelas. Nyaris memohon. Berharap Sehun menghentikan aksinya tapi percuma.

Sehun meremas dadaku dengan kasar dan aku menjerit. Itu sakit. Aku memang sering melakukan sex dengan banyak orang. Tapi aku benci dipaksa seperti ini. Jika kami sama-sama mengingkan hal ini, aku akan melakukannya. Tapi ini masuk dalam pemerkosaan.

Sehun melepaskan tanganku yang mulai tenang. Bibirnya sudah beralih menciumi dadaku dengan kasar. Beberapa kali menghisapnya kuat-kuat. Sedangkan tangannya dibawah sana mulai membelai paha dalamku.

Sialan. Ini nikmat dan sakit disaat bersamaan.

Kedua sisi yang berlawanan dalam tubuhku berdebat. Sisi harga diriku, sisi Luhan yang kuat meronta minta dilepaskan. Tapi sisi diriku yang lain, Luhan yang jalang merasa terpuaskan.

Oh Sehun benar-benar hebat.

"Oh Sehun," ulangku, masih berbisik dengan suara rendah.

Dia tidak bereaksi. Bibirnya masih menciumi dan mengigit dadaku.

"Sehun kumohon beri aku waktu untuk menjelaskan,"

Dia masih tidak bereaksi, masih melakukan kegiatannya dengan kasar.

"Sehun Oppa," erangku.

Dan dia berhenti.

Sehun menarik wajahnya dan mensejajarkan dengan wajahku. Tatapannya melembut saat pandangan kami bertemu. Aku menarik wajahnya mendekat dan mencium bibirnya sekilas. Berusaha membuatnya melunak.

Aku tahu dia sangat marah dengan kelakuanku. Tapi aku harus menjelaskannya. Karena bagaimanapun dia akan menjadi suamiku.

Oh sial. Pria ini memang suamiku.

"Jelaskan," ucapnya.

"Kau tidak mau kujelaskan sambil duduk?"

Sehun menggeleng. Kemudian menciumku lagi. "Begini lebih baik,"

Aku menghela nafas. Berusaha menenangkan diri. Mencoba menyusun kata-kata yang tepat. Karena aku beruntung Sehun sudah melunak.

"Oh Sehun. Ini rumit,"

Sehun menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya. Dia masih tetap di atas tubuhku. Memenjarakan tubuhku seolah-seolah takut aku akan pergi. Dan aku sempat berpikir untuk melakukan hal itu.

"Aku bukan orang seperti yang kau pikirkan," ucapku lembut. Berusaha menghindari tatapan matanya sekarang.

Sehun mendesah.

"Aku bukan seperti gadis-gadis lain yang sering kau temui," sambungku. Aku membuang muka. Memilih memandang kaos hitamnya yang berantakan.

Sehun kembali mencium bibirku ringan. "Lalu apa kau laki-laki?"

Aku tersenyum sedikit. "Oh Sehun. Sebenarnya aku–"

"Sebenarnya aku lebih senang kau memanggilku oppa,"

Aku terkekeh. Dia sudah benar-benar mencair.

Aku memejamkan mata. Menarik nafas dalam-dalam. "Aku seorang mata-mata," bisikku.

Bisa kurasakan tubuh Sehun sedikit terkejut. Dia mencium kedua mataku yang terpejam dan aku takut-takut membuka mata. Menatap mata coklat pria itu.

"Apa kau mabuk?" bisiknya, sangat pelan.

Aku tertawa. "Tidak. Aku tidak minum sama sekali,"

"Kau mengerjaiku?"

Aku menggeleng lemah. "Tidak,"

Sehun menarik tubuhnya dariku dan duduk. Dengan cepat aku merangkak mendekatinya dan mendudukkan diriku dipangkuannya. Mengalungkan tangangku dilehernya dan Sehun balas memelukku.

"Aku memang sempat curiga dengan pekerjaanmu. Bagaimana seorang lulusan arsitektur bisa bekerja sebagai akuntan," ucapnya. Dia berhenti beberapa saat. "Tapi jika kau mengarang cerita tentang hal ini, aku benar-benar tak habis pikir,"

Aku mengusap-usap rambutnya dengan lembut. Aku tau dia akan seperti ini. Dia akan menganggapku membual. Tapi aku harus memberinya waktu untuk menyerap semua informasi ini.

"Aku bahkan tak tau mereka semua ada," tambah Sehun. Dia melepaskan pelukannya dipinggangku.

Aku mendesah ringan. Menatap wajahnya yang tampak bingung. "Memang benar-benar ada. Hal-hal seperti itu nyata, Sehun. Kau memang hidup didunia yang seperti ini,"

"Aku benci merasa bodoh," ucapnya. Dia menjauhkan tubuhnya dariku.

Sehun memandangiku. Menatapku seolah-olah aku adalah orang asing. Akhirnya aku mengalah. "Kau mau bukti?"

Sehun mengangguk bingung.

Kutekan tombol diliontiku dan melepas mikro earchip dari telingaku. Kemudian memasangnya ditelinga Sehun. Sehun terlihat bingung namun tidak menolak.

"Park Chanyeol bicaralah. Sehun ingin mendengarkanmu," kataku.

"Aww," Sehun mengaduh memagangi telinganya.

"Kubilang bicara Chan, bukan berteriak,"

Sehun kembali tersentak lalu melemparkan earchip itu padaku. Tatapannya bingung dan susah ditebak. Dia meminta penjelasan tanpa suara. Mengangkat kedua tangannya keatas, seolah-olah benar-benar menghindari menyentuhku.

"Ijinkan aku bicara dengan Chanyeol sebentar," Sehun hanya mengangguk dan aku pergi dari pangkuannya. Saat aku melihatnya lagi dia masih tetap dengan pandangan kosong.

Aku merasa sangat bersalah.

Setelah diluar kamar suara Chanyeol kembali terdengar. "Kau baik-baik saja? Sehun tidak membuatmu terkapar di atas ranjang kan?"

Aku terkekeh. "Bisa kau biarkan Kris dan aku bicara?"

"Aku mendengarkan," ucap Kris.

Aku mendesah panjang. Berusaha menenangkan diri. "Kau tak perlu membersihkan Sehun,"

"Itu sudah prosedur," suara Kris dingin. Dia terdengar tenang.

"Tidak ada yang bahaya dari Sehun, Kris. Percayalah padaku," nada suaraku nyaris memohon.

Kris masih tenang. "Kau tau perjanjiannya. Kau bahkan tau ini akan mengancam kita semua,"

Aku mengerang. "Sehun bukan ancaman. Kau tau cuci otak agak berlebihan," aku mendebat.

"Kita menjalani prosedur itu sudah lebih dari empat tahun Luhan," suara Kris masih stabil. Aku heran mengapa dia tidak menujukkan nada suara yang berbeda. "Luhan. Sehun bukan siapa-siapa. Dia orang lain,"

"Dia suamiku," aku kembali mendebatnya, bahkan nada suaraku kembali meninggi. Kris tidak merespon. "Percayalah padaku. Aku menjaminnya dengan nyawaku sendiri,"

Kris terdengar mengehela nafas. "Apa kau sedang jatuh cinta?"

Aku membisu.

Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Perasaan macam apa ini yang sedang kurasakan. Mungkinkah aku membela Sehun karena aku jatuh cinta padanya. Mungkinkah secepat itu perasaanku muncul pada Sehun. Apakah Sehun bisa dipercaya.

Terlalu kekanakan rasanya.

Aku bukan tipikal gadis yang mudah jatuh cinta. Aku bukan gadis yang menggilai drama roman picisan. Aku benar-benar bukan gadis seperti itu. Aku juga bukan gadis baik-baik yang selalu memimpikan pangeran sempurna kaya raya untuk menjadi pendamping hidup.

Tapi semua tentang diriku bergeser ketika Sehun memasuki kehidupanku, aku mulai memikirkan perasaanku padanya. Aku bahkan tak tau kapan terakhir kali jatuh cinta. Aku juga sudah lupa bagaimana rasanya. Jika memang benar Sehun orangnya, mengapa harus secepat ini. Mungkinkah pesona seorang Oh Sehun mengalahkanku.

Aku benar-benar tak habis pikir.

Aku kembali memasuki kamar dan Sehun sudah terlelap. Wajahnya tampak sedikit murung dan lelah. Mungkin dia sulit menerima semua informasi ini. Kurasa obat bius itu sedikit membantunya beristirat.

Perlahan kubaringkan tubuhku disampingnya. Berusaha sedikit mungkin menghasilkan gerakan. Berusaha memejamkan mata walaupun itu akan sedikit mustahil. Membiarkan semua pertanyaan dan pikiran membanjiri pikiranku hingga aku akan tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Paginya aku bangun pukul sembilan pagi dan Sehun masih tertidur pulas sambil memelukku. Aku mulai hapal kebiasaannya saat tidur. Wajahnya terlihat tenang. Entah mengapa aku merasa bersalah padanya. Kubiarkan Sehun tidur lebih lama lagi. Lagipula ini hari libur.

Sehun menuruni tangga sambil mengusap kedua matanya saat aku sudah menyiapkan sarapan di meja. Dia sesekali menguap. Bahkan dia berjalan dengan mata tertutup.

"Pagi Sehun,"

Sehun menguap lagi."Panggil aku oppa saja," bisiknya.

"Kau baik-baik saja?"

Sehun tersenyum, menarik kursi dan mendudukinya dengan gerakan lambat. "Entahlah. Ini mimpi atau nyata," dia meminum susunya.

"Semua nyata. Kau tidak bermimpi,"

Sehun tertawa. "Ini terdengar sedikit tidak masuk akal bukan? Istriku seorang mata-mata?"

Aku tersenyum kecut. "Maafkan aku,"

"Untuk?"

"Membiusmu semalam."

Sehun tertawa ringan. Tangannya menepuk kedua pahanya. Menyuruhku untuk duduk dipangkuannya. "Kau tidak hanya membiusku satu kali bukan?" bisiknya saat aku sudah mendudukan diriku dipangkuannya.

Aku tersenyum, memberikan kesan bahwa aku bahagia. Sehun mendoncongkan wajahnya dan menciumku. Ciumannya masih hangat. "Aku tak punya pilihan lain. Kau tau?" suaraku terdengar seperti bisikan.

"Maukah kau menjelaskannya padaku?" jari-jarinya melerusuri wajahku.

Aku menggeleng. Menciumnya sekilas kemudian beranjak dari pangkuannya. "Nanti jika saatnya sudah tiba. Kita akan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini,"

Aku tidak menunggu responnya. Mungkin Sehun butuh waktu untuk menerima semua keanehan ini.

Aku dan Sehun sama-sama diam. Aku berdiri memunggunginya sedangkan dia makan dengan tenang. Mungkin kami sama-sama bergelut dengan pikiran masing-masing untuk beberapa waktu.

Namun tiba-tiba sebuah tangan mencekik leherku. Tanpa berpikir panjang kutarik tangan itu, memutarnya dengan kuat kebelakang. Suara Sehun mengaduh.

"Apa yang kau lakukan?" suaraku terdengar nyaris berteriak karena kaget. Serangan ini begitu mendadak. Beruntung sekali tidak mematahkan tangan Sehun.

"Baiklah aku percaya padamu. Sekarang bisakah kau melepaskan tanganku?" rintihnya.

Aku melepas tangannya dan Sehun memeganginya sambil meringis. "Maaf. Aku refleks,"

Sehun masih mengusap-usap tangannya yang memerah. "Darimana kau belajar semua ini? Kau tau bahkan aku pernah menjadi atlet judo," ucap Sehun bangga.

Aku tertawa lepas. Sehun memandangiku seolah-seolah aku sudah gila. "Kau pasti atlet yang buruk,"

"Jangan menghinaku Nyonya Oh,"

Kami sama-sama tertawa. Entah mengapa aku sedikit bahagia melihat Sehun tertawa. Dia bukan lagi seperti dua hari yang lalu. Dia bukan lagi pria yang dingin dan tanpa ekspresi. Aku merasa nyaman berada didekatnya. Walaupun aku tahu kami masih jauh dari kata saling mencintai. Tapi aku bahagia saat bersamanya.

Mungkin Kris benar. Mungkin aku jatuh cinta.

Sore itu kami berencana mengunjungi orang tua Sehun karena ini akhir pekan. Kami akan pergi keluar kota untuk beberapa hari. Meskipun aku tahu Kris tidak akan membiarkanku lepas dari pengawasannya. Apalagi sekarang Sehun sudah tau rahasia besar kami.

Sehun baru saja mengemudikan mobilnya memasuki jalan raya yang padat, ponselku sudah bergetar riuh minta diperhatikan.

Kris.

"Ke kantor sekarang juga," Kris langsung menyambarku begitu telepon tersambung. Aku memandangi Sehun yang masih fokus ke jalanan.

"Tapi aku sedang dalam perjalanan ke luar kota," erangku. Kumohon ini akhir pekan. Aku sudah bekerja selama seminggu penuh bahkan dihari pernikahanku.

"Jeon Jaewon adalah kakak angkat Sehun,"

Aku tersentak, tidak bisa menyembunyikan kekagetanku dan hampir tidak mempercayai pendengaranku sendiri. "Kau pasti bercanda,"

"Kutunggu dalam tiga puluh menit. Nyalakan sinyalmu. Kau masih dalam pengawasanku," nada suara Kris mulai meninggi.

Aku tidak menyahut. Bahkan aku tidak peduli apa yang Kris bicarakan. Kenyataan yang Kris katakan barusan benar-benar mengejutkan. Mengapa dari sekian banyak manusia di dunia ini harus Sehun yang berhubungan dengan kasus ini.

Takdir macam apa ini. Mungkinkah ini murni ketidaksengajaan atau memang sudah direncanakan. Sepertinya kami semua benar-benar sedang dipermainkan dengan takdir.

"Kau baik-baik saja?" ucap Sehun. Aku menoleh ke arahnya. Dia memandangiku sebentar.

"Apakah baik-baik saja jika kita tidak jadi ke rumah orangtuamu?" balasku menghiraukan pertanyaannya.

Sehun menatapku dan aku masih saja menghindari tatapannya. "Ada apa? Kau ada tugas mendadak?"

Aku menggeleng. "Tolong katakan pada ibumu aku mendadak ada perlu. Kau mau membantuku?"

Sehun mengangguk pasti lalu. "Tentu. Itu bukan masalah. Apa kau mau menjelaskan padaku ada apa sebenarnya?"

"Kita ke gedung Ent Kim Fashion,"

Sehun tidak menjawab. Dia bahkan tidak mengangguk. Namun dia mengubah arah. Dia tidak keberatan mengantarku, kurasa.

Sedangkan aku masih tenggelam dengan pikiranku sendiri. Semua serba kebetulan. Ini benar-benar takdir yang sulit diterima. Baru semalam aku merasa lega sudah memberitahu Sehun tentang diriku tanpa ada masalah berarti. Bahkan aku masih belum menyelesaikan hukumanku yang aku yakin sebentar lagi akan ditambah. Sekarang aku harus menghadapi masalah yang menyangkutpautkan Sehun. Lagi-lagi sebuah kebetulan yang tidak wajar.

Aku berjalan cepat memasuki gedung Ent Kim. Tidak bisa mengendalikan kakiku yang seperti bergerak dengan sendirinya. Sedangnya Sehun mengekor dibelakangku. Gedung itu tampak sepi diakhir pekan karena hanya ada aktifitas pemotretan di lantai lima.

Sehun masih mengikuti langkahku dengan tenang. Kami sama-sama diam. Aku tidak tau harus berbicara apa sehingga kami terjebak dalam suasana kecanggungan yang sunyi. Kuharap Kris dapat memecahkan masalah ini nantinya dan dengan cara yang baik-baik tentunya.

Pintu lift terbuka di lantai 14. Semua orang berada disana. Lengkap.

Kris berdiri tepat di depan pintu lift. Jongin dan Chanyeol berdiri di belakangnya, disisi kanan dan kirinya. Mereka persis seperti pengawal. Sedangkan Baekhyun dan Kyungsoo duduk di sofa. Bahkan Suho dan Jongdae berada disini, padahal mereka jarang sekali mengunjungi markas. Suho duduk dengan tenang di ujung sofa sedangkan Jongdae sedang berada di depan komputer. Mereka semua menatapku tajam, lebih tepatnya aku dan Sehun. Aku bisa merasakan aura ancaman disini. Aku melirik Sehun sekilas dan sepertinya Sehun merasa baik-baik saja.

Dan aku baru menyadari satu hal. Aku benar-benar telah membuat kesalahan besar.

"Selamat datang," ucap Kris. Dia maju selangkah, mengulurkan tangan kanannya ke arah Sehun.

Sehun menyambut uluran tangannya dan tersenyum. "Terima kasih,"

Tidak bisa dipungkiri bahwa aku memasang posisi siap menerjang. Tubuhku benar-benar mengejang siap menerima kemungkinan terburuk. Seperti membawa Sehun lari dari tempat ini misalnya atau bergulat dengan Kris. Walaupun kemungkinanku untuk menang sangat tipis.

Aku memandangi Kris. Berusaha membaca tatapan matanya. Tapi dia tampak tenang. Sepertinya dia tidak akan mencuci otak Sehun. Kuharap seperti itu.

"Aku Kris,"

"Oh Sehun," balas Sehun sambil tersenyum lagi.

Kris melepaskan tangan Sehun. Kemudian menatapku. "Kau keberatan jika aku meminjam Sehun sebentar untuk bicara dilantai bawah,"

"Apakah aku harus menunggu disini?" desakku. Aku tidak membayangkan Sehun akan berhadapan dengan Kris, Chanyeol, dan juga Jongin.

Kris menatapku lagi. Mengangkat sebelah alisnya. "Sepertinya harus begitu,"

"Tidak ada 2BW1?" tanyaku. Itu adalah kode untuk pencucian otak.

Kris melirik Sehun. "Hanya 1FS3," aku melotot kearahnya. Itu artinya mungkin akan ada kekerasan fisik. "Apa kau keberatan ikut denganku untuk membicarakan beberapa hal penting?" tanyanya dengan sopan kepada Sehun.

Oh ayolah. Berhenti berpura-pura menjadi malaikat, iblis.

Sehun menatapku meminta persetujuan. Dengan terpaksa aku mengangguk ringan. "Sepertinya tidak," sahut Sehun.

Kris kemudian menggiring Sehun memasuki lift. Chanyeol dan Jongin mengekor di belakangnya. Kugeser tubuhku menghalangi tubuh Chanyeol dan Jongin. "Memangnya kalian pikir kalian mau kemana?"

Chanyeol dan Jongin memandangiku dengan tatapan kesal. Dan aku melayangkan pandangan 'tetaplah disini'. Kemudian Kris mengangguk kepada mereka berdua dan masuk ke dalam lift begitu saja bersama Sehun.

"Kau akan mati," ucap Chanyeol.

"Aku bertaruh sebuah Porsche untuk itu," tambah Jongin.

Aku mengerang frustasi. Memandangi Kyungsoo dan Baekhyun bergantian. Keduanya menatapku dengan pandangan 'aku turut menyesal' mereka. Aku mendesah panjang. Merasa kesal. Kuhempaskan tubuhku di sofa, membaringkan tubuhku dan meletakkan kepalaku di pangkuan Suho. Aku terlalu lelah dengan semua ini.

"Kau yakin kau baik-baik saja? Kau tampak kusut," bisik Suho pelan. Tangannya mengusap rambutku perlahan. Ini nyaman. Kehangatan Suho dan suara khasnya yang menenangkan membuatku sedikit tenang.

Aku memejamkan mata. Berusaha mengurangi beban pikiranku. Bagaimanapun Sehun tidak bersalah. Dia tidak tau apa-apa. Apapun keputusan Kris nantinya, Sehun tidak harus menanggung konsekuensinya. Ini semua kesalahanku. Tidak seharusnya aku melakukan kesalahan. Aku benar-benar ceroboh.

"Kau tak seharusnya menyalahkan dirimu sendiri, Lu," Kyungsoo menginterupsi pikiran-pikiranku. Kurasa dia memang punya kekuatan super membaca pikiran orang lain.

"Kyungsoo benar. Kau tau semua diluar kendalimu," tambah Baekhyun.

Chanyeol mendesah ringan. "Yah walaupun memang itu kesalahanmu,"

"Sialan," bisikku. Si idiot ini tidak pernah bisa membuatku tenang.

"Jadi," ucap Jongin. Dia menggantungkan kalimatnya. "Bagaimana Sehun di ranjang?" lanjutnya.

Semua tertawa dan aku tidak bisa menahan senyum. "Wah lihat ini. Hanya membicarakan ini saja kau sudah senyum-senyum," tambah Chanyeol.

"Dia bahkan belum menyentuhku," dengusku kesal.

"Kau pasti menjadi pengantin paling tidak bahagia sedunia," suara Suho terdenngar prihatin. Tangannya masih mengelus rambutku.

Aku terkekeh. "Kurasa dia hebat diranjang. Bentuk tubuhnya benar-benar sempurna,"

"Wow. Ini dia Luhan si jalang sudah kembali," ledek Chanyeol.

Aku melemparnya dengan remote televisi. "Aku serius, idiot. Dia menakjubkan,"

Suho tertawa ringan. "Lebih dari aku?" bisikknya.

"Kau bukan tandingannya,"

"Aku tau perbedaan baik-baik dan brengsek," balas Jongin. Aku tertawa ringan. Tidak ada yang baik-baik disini.

"Kurasa dia tidak akan lebih baik daripada aku. Bukan begitu baek?" Chanyeol tertawa tidak jelas.

"Diamlah Park mesum," sahut Baekhyun acuh diiringi kekehan ringan dari semua orang.

"Bisakah kalian diam beberapa menit? Aku ingin tidur sebentar saja," aku memohon. "Aku tidak sempat tidur semalam,"

"Baik. Tidurlah kalau begitu," ucap Jongin.

Mereka semua terdengar tenang untuk beberapa saat. Mereka berbicara namun dengan volume suara yang rendah. Mungkin aku sudah hampir terlelap karena yang bisa kudengar adalah suara nyanyian Suho yang menggumam. Dia selalu tau cara membuatku nyaman.

Lalu perlahan suara-suara itu terdengar samar-samar dan kemudian hilang.

Beberapa gerakan membuatku terjaga. Aku mengerjapkan mata beberapa kali berusaha mennghalau cahaya yang menusuk mataku. Namun sebuah wajah yang sangat kukenal sedang memandangiku. Orang itu memelukku dan baru kusadari selimut tebal menutupi tubuhku.

Aku tertidur. Dalam pelukan Sehun.

Aku bersyukur dia masih hidup dan tampak baik-baik saja. Dia menatapku dan tersenyum. wajahnya sungguh menawan dengan semua yang dimilikinya. Jadi disinilah aku meringkuk seperti seekor kucing dalam dekapan Sehun.

"Dia benar-benar bangun sekarang?" itu suara Jongin.

Aku menggeliat malas. Kembali menutup mata dan menenggelamkan diri dalam pelukan Sehun. Aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan. Lagipula bagaimana bisa peduli dengan urusan lain jika ada sesuatu yang lebih nyaman untuk dinikmati.

"Sepertinya tidak lagi," ucap Sehun ringan.

Apa yang mereka bicarakan.

"Kau yakin dia tidak mati?" Chanyeol bersuara. "Ini sudah hampir tujuh jam,"

Apakah Chanyeol baru saja mengatakan aku tidur selama tujuh jam. Kurasa aku hanya tidur selama beberapa menit. Sebuah tangan dingin menyentuh dahiku. Kemudian memegang leherku.

"Demamnya sudah turun," suara lembut Kyungsoo terdengar mengalun.

Aku mengalah. Dengan terpaksa membuka mata. Sehun menatapku dengan tatapan khawatir. "Kau sudah benar-benar bangun sekarang?" bisiknya. Suaranya yang lembut dan rendah membuatku benar-benar ingin kembali memejamkan mata.

Aku mengerjap beberapa kali dan Sehun membantu mendudukkanku. Aku duduk disebelahnya dengan kepala masih bersandar padanya. "Ya kurasa,"

"Oh syukurlah," Baekhyun menyahut kemudian kembali berbaring di sebelah Chanyeol yang sudah memejamkan matanya.

Kris dan Sehun memandangiku sekarang. Mereka menatapku khawatir seolah-seolah tidak melihatku hidup selama beberapa hari. "Memangnya ada tanda-tanda palsu aku terbangun?" tanyaku.

Jongdae memberiku air putih. "Kau mengoceh selama tujuh jam penuh," dan aku tersedak.

Sehun menepuk-nepuk punggungku beberapa kali berusaha membuatku berhenti terbatuk-batuk. Aku memandangi Sehun meminta penjelasan. "Aku bicara apa?"

"Tidak ada yang bisa kami pahami dari apa yang kau ucapkan selain kau menyebut nama Sehun," tambah Jongdae.

Ini buruk. Aku menatap Sehun ragu-ragu dan dia sedang tersenyum sekarang. Aku malu. Benar-benar malu. "Lalu kau memelukku selama tujuh jam?" Sehun mengangkat bahu.

"Kau bercanda?" sahut Suho kesal. Dia menggerak-gerakkan tangannya sambil meringis dan matanya terpejam. "Kami bergantian memelukmu,"

Aku tersenyum ngeri membayangkan mereka menopang tubuhku sekian lama. "Kris kau juga?" aku memandangi Kris yang sedang menatap layar komputer.

"Bagianku satu setengah jam," protes Kris tanpa memandangku.

Aku tersenyum miris, merasa prihatin tentu saja. "Kenapa kalian tidak menaruhku saja?"

Sehun kembali memelukku. "Karena kau akan semakin mengoceh ketika kami berhenti memelukmu,"

"Maaf," aku meringis dan diiringi tawa dari semua orang. "Jadi apa yang tadi Kris katakan padamu?"

Sehun memelukku semakin erat. Bibirnya menyentuh puncak kepalaku dan mengecupnya perlahan. "Tidak ada yang penting. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku tentang cuci otak itu,"

Aku tersenyum. Terlalu nyaman saat ini. Berada dalam pelukan Sehun yang baik-baik saja. Dikelilingi oleh orang-orangku. "Kau dapat tugas?"

"Tentu saja," balas Sehun ringan.

"Kau jaga malam ini. Biarkan kami semua beristirahat," omel Kris. Dia berdiri dari kursinya, meregangkan otot-ototnya.

Kyungsoo sudah terlelap dipelukan Jongin. Begitu pula Baekhyun yang meringkuk dibalik tubuh Chanyeol. Suho dan Jongdae tidur dengan posisi duduk. Mereka semua tampak lelah sekarang. Kurasa mereka tidak berhenti bekerja selama beberapa jam.

Bahkan ini sudah tengah malam.

"Tak bisakah aku mendapat cuti sebentar?" tanyaku kepada Kris, berharap kemurahan hatinya.

Kris menguap. Kemudian membaringkan tubuhnya diantara Chanyeol dan Jongin. "Kau sudah mengambil jatah cutimu selama tujuh jam,"

Sehun tertawa kemudian mengecup bibirku sekilas. "Ijinkan aku tidur juga sayang. Kau harus berjaga malam ini,"

Aku merengut. "Kau tega membiarkanku sendirian, oppa?"

"Berhenti memanggilnya dengan sebutan itu. Itu membuatku mual," erang Chanyeol dengan mata terpejam.

Sehun tersenyum ringan dan meletakkan kepalanya dibantalan sofa. Dia memejamkan matanya. "Ceritakan padaku," desakku, berusaha mengguncang tubuhnya.

Sehun menggeleng. "Aku lelah,"

"Ayolah, kumohon,"

"Aku bahkan tidak bisa merasakan bahuku," Sehun menggerak-gerakan bahu kanannya.

Aku terkekeh. Kemudian memilih untuk mengalah. Kuusapkan jari-jariku dirambut Sehun, mengelusnya perlahan. "Tidurlah kalau begitu," Sehun mengerucutkan bibirnya sedikit dan aku mengecupnya sekilas.

Wajah Sehun masih saja terlihat sempurna. Pahatan wajahnya tanpa cacat sedikitpun. Dia benar-benar sebuah mahakarya Tuhan yang indah. Bahkan hanya melihat wajahnya saja sudah membuatku tersenyum. Kris benar sekarang. Aku memang jatuh cinta.

Dengkuran halus terdengar di sekitarku. Hidupku terasa lengkap sudah. Orang-orangku yang begitu berharga dan kusayangi ada disini. Kebahagiaan ini bisa berakhir kapan saja karena kami selalu hidup dalam bahaya. Bagaimanapun juga aku harus menikmati masa-masa ini.

Aku bangkit. Memeriksa sejauh mana mereka bekerja selama aku terlelap. Layar-layar komputer bisu disana sudah menjelaskan semuanya.

Bahwa ini benar-benar sudah dimulai.

.

.

TBC

.

.

Hello. Terima kasih sudah mau membaca fanfiction ini. Ini chapter 3-nya sudah disajikan untuk yang request kelanjutan kisah ini. Maaf author tidak bisa membalas review satu persatu. Author akan menjawab beberapa pertanyaan dari review secara keseluruhan.

Fanfiction ini ide ceritanya murni dari pemikiran author sendiri. Bukan dari karya sastra yang lain. Jika ada kemiripan ide cerita maupun karakter tokoh itu semua murni ketidaksengajaan. Selain itu ada beberapa yang menanyakan apakah ini sama dengan Mr. and Mrs. Smith, jawabannya adalah tidak sama. Ini nanti akan berbeda jalan ceritanya.

Memang dalam fanfiction ini, karakter tokoh utamanya (Luhan) dibuat seperti itu. Luhan itu diceritakan bukan gadis baik-baik. Jadi karena kehidupan dia yang seperti itu maka membentuk kepribadian yang digambarkan dalam fanfiction ini. Mengenai jalan cerita, jika ada yang nanya kenapa kok kebetulan banget kasus yang dihadapi Luhan ini kasus kakak angkatnya Sehun, soalnya semua kasus besar ditangani oleh perusahaan Luhan.

Maaf adegan NC-nya belum muncul-muncul juga. Untuk adegan NC-nya, author bakalan munculin dibeberapa chapter depan. Karena jujur saja author masih bingung ngeditnya. Kalo author pakai sudut pandang orang pertama, author nggak bisa njabarin rasanya karena author juga belum pernah merasakan /hehe/ jadi takut nggak maksimal. Kalo untuk adegan NC-nya dibuat sudut pandang orang ketiga serba tau nggak papa kali ya. Doakan saja author kuat untuk menulis NC Kaisoo, Chanbaek, dan Hunhan /author orangnya nggak mau setengah-setengah/

Fanfiction ini memang bentuk utuhnya seperti ini, bukan terpotong. Memang ada beberapa kejadian yang ada tapi tidak diceritakan secara mendetail untuk mempersingkat penulisan. Untuk yang menanyakan masa lalu dari cerita ini, kayanya bakalan dibahas dichapter selanjutnya sedikit demi sedikit.

Ada seseorang yang me-review fanfiction ini menggunakan kata-kata yang tidak sopan. Orang itu juga bilang fanfiction ini plagiat. Author minta maaf kalo memang ceritanya sama karena author memang nggak tau cerita yang kamu maksud dan author sendiri nggak berminat untuk baca. Untuk pembaca lainnya yang memberikan saran, terimakasih tapi maaf author nggak bisa memenuhi request satu-satu

Sekian dulu cuap-cuap dari author, maaf panjang sekali. Terima kasih sudah membaca fanfiction ini dan juga author mengucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang sudah memberikan semangat serta dukungan.