Layar-layar itu menceritakan segalanya. Semua data yang sudah mereka semua kumpulkan ada disana. Mereka benar-benar bekerja dengan cepat. Ini tugas besar pertama untuk tim kami setelah sekian lama mengurusi masalah-masalah kecil. Ini tugas negara. Permintaan negara yang tidak mudah untuk dilakukan. Menangkap seorang gembong narkoba terbesar di Asia Tenggara.

Aku mengamati data-data itu satu persatu. Chanyeol berhasil membuka tempat penyimpanan yang tersembunyi di ruang kerja Lee Hyukjae dengan sidik jari yang berhasil kudapat waktu itu. Data dalam tempat penyimpanan itu benar-benar mengejutkan. Catatan keuangan Lee Hyukjae yang luar biasa besar tertulis dengan jelas dan rapi disana.

Bahkan ada beberapa berkas yang menyatakan kerja sama antara perusahaan Lee Hyukjae dan Jeon Jaewon. Sayangnya data-data itu adalah data perusahaan yang benar-benar bersih. Sepertinya mafia-mafia ini benar-benar bekerja dengan rapi.

Data-data penting tentang kasus korupsi dan penjualan narkoba bahkan penyelundupan barang illegal sudah berhasil didapat. Hanya saja kasus pembunuhan Jeon Jaewon masih belum menemukan petunjuk kuat.

Ini bukan kasus biasa.

9.30 KST.

Kris memimpin sebuah pertemuan darurat, seperti biasa dia akan membagi tugas. Dia berbicara menghadap kami dengan layar proyektor disampingnya. Entah mengapa semangat Kris pagi ini meluap-luap. Mungkin semalam dia bermimpi indah.

Sehun duduk disebelahku, menelepon beberapa orang untuk mengatakan dia akan terlambat bekerja. Semua orang ada disini, bahkan petugas lapangan seperti Suho masih setia mendengarkan pertemuan ini.

"Okay, kita akan mulai sekarang," ucapan Kris disambut oleh gumamam panjang tanda protes. "Kita mulai dari Baekhyun,"

Baekhyun bekerja dibidang pengumpulan data, karena dia ahli analisa. "Data yang masuk saat ini sudah hampir tujuh puluh persen. Kita hanya perlu mencari bukti tentang kasus pembunuhannya saja dan kasus ini sudah siap lapor," jelas Baekhyun.

Aku mengangguk. Merasa bosan. "Mengapa tidak melaporkan saja dulu bukti-bukti yang kita dapat ini?" tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Aku bahkan benar-benar tidak menunggu tugas yang akan diberikan padaku.

Kris melirikku sekilas sebelum mengalihkan pandangannya. "Terkadang untuk mendapatkan ikan yang besar kalian harus mencari umpan yang tepat," dia berhenti bicara. "Dan menunggu," sambungnya.

"Aku benci memancing," umpatku.

Sehun terkekeh. "Aku tak tau apa yang sebenarnya kalian bicarakan. Hanya saja aku tidak yakin kematian kakakku itu bunuh diri,"

"Begitupun dengan kami," sahut Jongdae. Jongdae adalah peretas kami sangat berbakat, sedikit bicara, dan selalu bercinta dengan komputer.

Kris mengetuk meja beberapa kali dengan jarinya. "Aku akan membagi tugasnya sekarang"

Aku mendengus. "Jangan jadikan aku pelacur lagi kali ini,"

Kris melirik Sehun yang menahan tawa. Tapi tidak menanggapi perkataanku. "Chanyeol dan Suho. Temukan barang bukti senjata api dari kantor kepolisian. Kuharap kalian akan bekerja dengan bersih,"

Chanyeol menyeringai lalu memandangku dengan tatapan mengejek. Dia tau aku merindukan tugas lapangan sebagai seorang pria. Dan Chanyeol berhasil membuatku kesal dengan hal itu.

Kris membalik halaman demi halaman catatannya. Bahkan aku tak tau apa yang sudah dia catat.

"Kyungsoo dan Baekhyun telusuri lagi catatan keuangan Lee Hyukjae," Kris berhenti sebentar. "Jongin dan Jongdae. Aku ingin kalian meretas semua sistem komputer di kantor Lee Hyukjae. Aku mau data ponsel seluruh karyawannya," Jongin dan Jongdae sama-sama mengangguk patuh, meskipun aku yakin mereka akan merindukan tidur nantinya.

Tatapan Kris lalu beralih padaku. "Aku punya tugas istimewa untukmu, Luhan," Aku memutar bola mataku dengan sebal lalu membuang muka. "Telusuri kasus kematian Jeon Jaewon. Sehun akan membantumu,"

Aku beralih memandang Sehun. Tatapan Sehun kosong. Dia seperti memikirkan sesuatu yang tak bisa ditebak. "Kau tidak keberatan?" tanyaku padanya. Bagaimanapun mengungkit kembali sebuah kematian akan kembali memberikan luka kepada orang yang ditinggalkan.

Sehun menggeleng. Masih menatap sesuatu yang seolah-olah berada di depannya, padahal meja itu kosong. "Sama sekali bukan masalah," bisiknya mengambang.

"Mulailah sekarang kalau begitu," Kris bicara kepada semua orang.

Mereka semua mengangguk lalu secara bersama-sama meninggalkan ruangan pertemuan untuk kembali berkutat dengan komputer untuk menyelesaikan tugas masing-masing. Sehun menatapku meminta penjelasan. Ini sesuatu yang baru baginya, pengalaman pertamanya. Aku yakin dia bahkan belum pernah membayangkan hal ini sebelumnya.

Aku menggeleng beberapa kali.

Sehun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku tidak mengerti. Kau tau bahkan aku masih tak percaya dengan semua ini," ucapnya lirih.

"Ini nyata Sehun," aku menepuk pelan punggungnya, berusaha memberikan semangat.

Sehun masih menyembunyikan wajahnya, aku tak tahu dia akan se-frustrasi itu. "Apakah aku tidak akan mendapat pelatihan?" bisiknya.

"Kau bahkan tidak melakukan kegiatan yang membahayakan,"

Sehun memutar badannya hingga menatapku. Tangan kanannya menangkup pipi kiriku, dia menghela napas panjang sebelum berbicara. "Lalu apa kau akan melakukan kegiatan berbahaya?"

Aku mengangkat bahu."Tidak tau, sepertinya tidak untuk beberapa waktu ke depan," Sehun hanya tersenyum sambil mengusap-usapkan tangannya dipipiku.

"Bisakah pasangan suami istri ini pergi dari sini dan mulai melakukan tugas? Kita dikejar waktu," kata Chanyeol menginterupsi dari balik pintu yang separuh tertutup. Sehun cepat-cepat melepaskan tangannya dariku.

Aku memandangi Chanyeol dengan geram. Si idiot Chanyeol ini sama sekali tidak pernah berubah. "Aku bahkan tidak tau apa yang akan kulakukan," dengusku kesal.

18.00 KST

Sore ini masih seperti sore-sore biasanya, semua orang sibuk dengan pekerjaanya. Termasuk aku yang harus membantu Chanyeol dan Suho. Walaupun tugasku tidak terlalu penting, mengamati CCTV di kantor kepolisian pusat. Tapi aku yakin Kris tidak akan membiarkanku berdiam diri.

Sehun sudah pulang sejak siang tadi, dia harus bekerja. Sebernarnya Sehun sedikit tidak rela meninggalkanku disini, walaupun dia tau bahkan kehadirannya pun tidak membantu sama sekali. Beberapa kali dia menanyakan padaku untuk keluar dari pekerjaanku. Sehun juga mengatakan siap memberiku kedudukan yang bagus di perusahaannya.

Aku tau dia khawatir dengan keselamatanku, aku tau bahkan aku sendiri tau ini berbahaya. Tapi aku sudah bergelut dibidang ini selama empat tahun terakhir. Meninggalkan tim ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Aku sudah terlanjur mencintai pekerjaanku. Setidaknya untuk beberapa waktu yang lalu.

Jadi Sehun harus benar-benar mengalah.

Seseorang meletakkan cup kopi tepat disebelah lenganku, suhu hangatnya membuatku sedikit terkejut. Aku mendongakkan kepala. Kris berdiri disana, tatapannya mengarah pada layar komputer dihadapanku dan sebelah tangannya meminum kopi.

"Aku menyuruhmu mengamati CCTV-nya, bukan melamun didepannya,"

Aku mendengus. Memainkan jari-jariku diatas cup kopi yang Kris berikan tanpa bermaksud untuk meminumnya. "Layar-layar itu tidak menunjukkan sesuatu yang berbeda sejak beberapa jam yang lalu," sergahku.

Kris terkekeh, kemudian duduk disebelahku. Dia menghembuskan napasnya kuat-kuat, seperti sedang gelisah. "Kau sedang memikirkan Sehun?" Kris menebak.

Aku mengangguk beberapa kali. "Aku benar-benar melakukan kesalahan, kan?"

Kris menggeleng sangat pelan, hingga aku tak menyadari arti gelengan itu. "Tapi aku lega kau berbuat kesalahan. Setidaknya kau tak perlu lagi membiusnya setiap malam. Meskipun saat Sehun tau hal ini dia sedikit merepotkan," Kris meringis.

Aku meletakkan kepalaku di atas meja, memejamkan mata. Semua hal ini membuatku lelah. "Jadi apa aku harus meminta maaf padamu?"

Kris terkikik. "Bahkan permintaan maafmu tidak akan mengubah apapun," sindirnya, ringan tapi tajam. Sangat Kris sekali.

"Tidak bisakah kau menghiburku sedikit?"

Kris tertawa ringan. Sebelah tangannya mengusap-usap punggungku. Walaupun itu nyaman tapi itu tidak membantu. "Sehun merengek padaku untuk membiarkanmu keluar dari pekerjaan ini,"

Aku kembali memejamkan mata, sama sekali tidak terkejut dengan perkataan Kris. "Kau sudah tau jawabannya tanpa kau tanyakan padaku,"

"Aku sangat tau akan mustahil untuk menendangmu keluar dari perusahaan. Tapi Sehun jugamengatakan hal lain," Kris berhenti sebentar dan aku tidak menyahut. "Dia bilang dia sudah sangat mencintaimu,"

Kali ini aku benar-benar membuka mataku. Kupandangi wajah Kris dengan tatapan menyelidik, dan Kris hanya mengangkat sebelah alisnya bingung. Aku mencari kebohongan disana, tapi aku tak menemukan apapun. Sebenarnya mataku sudah sangat terbiasa membaca ekspresi wajah Kris. Aku tau saat dimana dia berbohong dan dimana dia mengatakan yang sebenarnya. Dan dia benar-benar tidak berbohong sekarang.

"Aku kira Sehun pria brengsek, seperti yang sering kau bicarakan sebelum pernikahanmu. Tapi dia bilang kau sosok pertama yang bisa membuatnya gugup," sambung Kris, dia menyesap kopinya pelan.

Apa tidak tau reaksi apa yang harus kuberikan. Sepertinya sesuatu jauh didalam diriku mendebatkan dua hal yang berbeda. Aku tidak tau apa yang mereka debatkan, tepatnya. Satu hal yang aku tau, ada sesuatu di sudut diriku merasa nyaman saat mendengar kata-kata mengenai Sehun.

Oh Sehun.

Aku yakin pria itu telah mengubah sesuatu didalam diriku. Benar-benar mengubahku hingga aku tak tau apa yang terjadi dengan diriku sendiri. Pria itu berbeda. Pria itu bukan seperti pria-pria lain yang aku kenal. Ada perasaan lain yang kurasakan saat pria itu menciumku. Walaupun ciumannya hampir sama dengan pria-pria lain tetapi tubuhku memberikan reaksi yang berbeda.

Kurasa Kris benar kali ini. Aku benar-benar jatuh cinta pada Oh Sehun.

Dan Kris memang selalu benar.

"Kau melamun lagi," Kris menginterupsiku dari pikiran-pikiranku sendiri

Aku menghembuskan napas berat. "Sehun bukan tipe orang yang akan menyebarluaskan informasi ini. Dia bukan orang yang seperti itu,"

Meskipun sebenarnya aku sendiri tidak tau Sehun seperti apa.

Kris kembali menyesap kopinya. "Aku harap juga begitu," Aku hanya mengangguk beberapa kali menyetujui perkataannya.

23.50 KST

Kris menyuruhku untuk pulang. Dia memberiku kesempatan untuk berbicara dengan Sehun. Walaupun sebenarnya itu tugas yang lebih besar. Aku tau pasti akan ada banyak pertanyaan yang Sehun tanyakan. Dan aku harus benar-benar bisa meyakinkan Sehun tentang pekerjaan ini.

Malam ini Kris akan membiarkanku berbicara dengan Sehun. Sendirian.

Tepat tengah malam aku sudah sampai di gedung apartemen Sehun. Seperti pencuri yang mengendap-endap, aku menekan angka-angka di pintu apartemen. Suara-suara dari pengeras suara televisi langsung menyambutku ketika aku masuk.

Beberapa suara langkah kaki membuatku yakin bahwa Sehun belum tidur. "Kau baru pulang?" Sehun muncul tepat di depanku saat aku baru saja melepas sepatu.

Aku memandangnya sambil tersenyum ringan. "Maaf membuatmu menunggu, kukira kau sudah tidur,"

Sehun terkekeh. "Aku mengkhawatirkanmu, kau tau,"

Entah mengapa aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. "Terima kasih untuk itu,"

Sehun membungkukkan badannya sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Tangannya terulur untuk menangkap daguku dan menariknya keatas. Dia membuatku menatap matanya. "Jadi mereka tidak bisa mendengarmu sekarang?"

Aku menatapnya bingung. Kemudian menggeleng. "Bahkan aku tidak memakai liontinku," aku membuka sedikit kerah sweater yang menutupi leherku.

"Baguslah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Sehun singkat sebelum mengecup bibirku sekilas dan berjalan masuk.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Sehun benar-benar aneh sekarang. Dia seperti bukan Sehun yang kukenal dingin dan menyebalkan beberapa hari yang lalu. Sehun yang sekarang tampak seperti pria yang sangat baik. Dia banyak tersenyum.

Kuputuskan tidak peduli dengan perubahan sikap Sehun yang drastis.

Setelah mandi, Sehun sudah menunggu di balkon kamarnya. Dia berdiri memunggungiku dengan menggunakan kaos putih yang sangat pas ditubuhnya dan celana pendek hitam kesukaannya. Rambut hitamnya terlihat sedikit berantakan tertiup angin musim gugur.

Dia tampan.

Kurasa aku benar-benar sudah tidak waras. Dengan menggunakan pakaian sesederhana ini pun, dimataku Sehun benar-benar mengesankan. Tubuhnya memang sempurna. Aku penasaran apa yang dilakukannya dimasa lalu, sehingga dia mendapatkan postur tubuh sebagus ini.

"Aku tau kau berdiri disana," Sehun tiba-tiba bersuara. Dia masih tetap pada posisinya.

Merasa bodoh karena ketahuan, aku berjalan mendekatinya. Tiupan angin yang sedikit kencang membuatku bergidik. Ini benar-benar sudah hampir musim dingin.

Aku berdiri disamping Sehun, memandangi pria itu sebentar lalu mencoba mengikuti pandangan Sehun yang tertuju pada keramaian kota di bawah sana. "Kau tidak kedinginan?" tanyaku berusaha memecah keheningan.

Sehun menoleh kearahku, dia menatapku dari atas ke bawah lalu mendesah ringan. "Bagaimana denganmu, kau bahkan tidak pakai celana,"

Dan aku tertawa. "Aku pakai celana, kau tau," kutarik sedikit kausku ke atas. "Kaus ini memang panjang,"

Sehun membalikkan badannya hingga benar-benar menatapku. Tatapannya terlihat begitu lembut. "Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu,"

"Akan kujawab,"

Sehun mengangkat sebelah alisnya dengan curiga. "Kau yakin kau tidak sedang dalam pengawasan?"

"Sekarang bukan waktuku untuk bertugas," dengusku.

Sehun menarik napas panjang. "Jadi bagaimana kau bisa masuk dalam dunia mata-mata?" Sehun bertanya dengan hati-hati.

Aku terkekeh. Berusaha membuat Sehun nyaman dengan suasana ini. "Sebenarnya kami itu detektif. Hanya saja bukan dari negara. Kami bekerja atas nama perusahaan,"

"Perusahaan?" Sehun menyela.

"Ceritanya akan panjang. Aku tidak yakin kau mau mendengar semuanya disini,"

Sehun kembali menatapku. Sedetik kemudian dia menyeringai. "Kalau begitu ceritakan didalam," Aku baru saja akan bersuara tapi Sehun sudah mengangkatku dalam gendongannya. Aku hanya tertawa, tidak ingin protes untuk hal itu.

Sehun membantingku ke ranjangnya yang selembut sutera dan aku mengaduh. Dia tersenyum sedikit sambil menggumamkan kata maaf lalu menghempaskan tubuhnya di sebelahku. Sehun menghembuskan napas panjang.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" aku akhirnya bersuara.

"Bagaimana kau bisa masuk dalam dunia itu?" dia bersikeras.

Aku diam. Masih menimbang-nimbang darimana hal ini diceritakan.

"Ini terjadi ketika aku masih sekolah," kataku akhirnya. Sehun tidak merespon. "Aku menjadi korban pembulian di sekolah. Kau tau kan karena aku tidak tinggal bersama orangtuaku disini," aku melanjutkan.

"Saat itu aku tinggal disebuah apartemen didekat rumah Minseok, kakak Kris. Dia sering memberikanku makanan ketika bertemu denganku di jalan. Kau harus percaya padaku, aku dulu gadis yang benar-benar baik dan lembut,"

Sehun terkikik.

"Waktu itu aku pulang dengan beberapa lebam disekujur tubuh karena aku dipukuli, dan Minseok tau hal itu," aku diam sejenak, entah mengapa pengalaman buruk itu sangat sulit untuk dilupakan. Bahkan aku masih merasa kesal jika mengingat hal itu, padahal itu sudah benar-benar lama.

"Lalu?" ucap Sehun. Sepertinya dia terlalu bersemangat mendengar kisah menyedihkan ini.

"Minseok mengenalkanku pada Kris. Saat itu dia masih menjadi mata-mata di kantor detektif walaupun dia masih kuliah. Dan disitulah aku direkrut," aku mengenang.

"Aku penasaran bagaimana bisa seorang gadis biasa menjadi seorang mata-mata seperti kau sekarang ini,"

Aku tertawa. Oh Sehun benar-benar polos. Atau bodoh. "Kau tau kan menjadi seorang penyanyi saja harus ada masa pelatihan. Begitu pula denganku. Aku dipersiapkan selama enam tahun,"

Sehun bergumam dan mengangguk-angguk. "Apa saja yang kau lakukan?"

"Aku berlatih fisik setiap hari,"

Sehun kembali bergumam. "Kurasa tubuhmu memang bagus," tatapannya beralih menatap kakiku, dia menjilat bibir bawahnya.

Aku berdeham. "Kau benar-benar terlambat menyadari hal itu ya?"

Sedetik kemudian Sehun sudah berada diatasku, tangannya mengangkat kedua tanganku keatas kepala dan mulai mendekatkan wajahnya. "Selama ini aku sudah menahan diri karena kau selalu menggunakan pakaianmu yang sangat tipis dan terbuka. Kali ini aku tidak bisa menahannya lagi,"

Aku tersenyum. Menatap wajahnya dengan tatapan menantang. "Kalau begitu jangan ditahan,"

Sehun tampak terkejut. Oh ayolah. Aku bahkan sudah berlatih beberapa kali menjadi pelacur. "Aku bakal susah dihentikan," Sehun kembali memperingatkan.

Aku mengangkat bahu acuh. "Kalau begitu jangan berhenti," bisikku.

Sehun tersenyum ringan. Tangannya menelusuri lekuk tubuhku dari atas hingga bawah dengan sangat pelan. Dengan gerakan sangat lembut, Sehun menarik kausku. Setelah menyingkirkannya, bibir basahnya sudah menyapu permukaan kulitku.

Rasanya masih sama. Hangat, lembut, dan basah disaat bersamaan. Membuatku merasa terbakar oleh gairah.

Sehun mengecupi inci demi inci tubuhku dengan sangat lembut. Aku penasaran bagaimana dia bisa mengendalikan gairahnya. Dia benar-benar tenang dan sabar. Berbeda dengan pria-pria lain. Bisa dibilang Sehun sedikit lebih lamban.

Dan aku tidak menyukai hal itu.

"Sehun," bisikku. "Kau terlalu lama," aku sedikit tertawa, terlalu tidak sabar untuk menunggu.

Sehun menarik wajahnya, lalu mensejajarkannya dengan wajahku. "Kupikir kau suka," dan aku menggeleng. "Baiklah kalau begitu," ucapnya.

Aku sedikit menyesal dengan ucapanku sendiri dan aku mulai berpikir mungkin Sehun benar-benar memiliki kepribadian ganda. Karena perkataanku barusan, Sehun berubah. Sikapnya menjadi benar-benar ganas.

Sehun menciumku dengan kasar. Dia terkesan terburu-buru walaupun rasa bibirnya masih lembut dan manis. Aku berusaha mengimbanginya dengan susah payah.

Aku tidak tau apa yang tangan Sehun lakukan di bawah sana. Bahkan aku tidak tau gerakan mana yang dilakukan Sehun untuk melepaskan celanaku. Dia benar-benar membuatku kesulitan bernapas dan berpikir.

Sehun melepaskan ciumannya dan aku langsung megap-megap mencari udara. Belum sempat merasa lega, Sehun sudah menghisap perpotongan leherku dengan kuat. Aku mengerang kesal.

"Perlahan, Oh Sehun," erangku. Berusaha menahan gerakannya yang membabi buta.

Sehun melepaskanku, lalu tertawa. Bibirnya menciumi leherku. "Katakan bagaimana biasanya mereka melakukannya padamu?"

"Seharusnya kau tanyakan sendiri kepada mereka,"

Sehun terkekeh lalu ciumannya beralih menuju dada dan perutku. Dia mengecup dan menghisapnya secara bergantian. Lembut dan kasar secara seimbang. "Katakan bagaimana Chanyeol melakukannya,"

"Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku melakukannya dengan Chanyeol,"

Sehun tidak menjawab.

Kutarik wajahnya hingga sejajar dengan wajahku. Kupandang wajah Sehun beberapa saat. Sekarang aku benar-benar bisa mengamati wajah Sehun yang sempurna tanpa gangguan. Aku bisa dengan jelas melihat garis wajahnya yang sempurna, lekuk tubuhnya yang terpahat tanpa cacat. Aku bisa merasakan kelembutan kulit pucatnya dengan jari-jariku.

"Apa yang kau pikirkan?" bisiknya. Sehun mengecupi jari-jariku yang menelusuri bibirnya.

Aku tersenyum. Benar-benar merasa nyaman. "Apa aku sudah pernah bilang padamu kalau kau sempurna?"

Sehun tersenyum. "Aku benar-benar ingin memperlakukanmu dengan baik. Karena sepertinya aku jatuh cinta padamu. Aku ingin melakukannya dengan cinta. Jadi jangan halangi aku,"

Aku hampir menangis karena tersanjung. Ini pertama kalinya aku disentuh pria atas dasar cinta, bukan semata-mata karena nafsu dan gairah.

Dan aku merasa lega. Karena Sehun pria yang tepat.

Setidaknya kurasa dia pria yang tepat.

Aku mendesah ringan. "Lakukan yang kau mau," Sehun hanya tersenyun menanggapi perkataanku.

Sehun benar-benar menciumku dengan lembut. Menyentuh bibirku dengan bibirnya perlahan, seolah-olah aku adalah barang yang rapuh. Aku lebih suka ciumannya yang seperti ini. Aku lebih suka dengan sisi Sehun yang lembut dan penuh kasih.

Sehun menghentikan aktivitasnya. "Aku benar-benar akan bercinta denganmu," aku mengangguk. "Dengan cinta," tambahnya.

AUTHOR POV

Sehun menghentikan aktivitasnya. "Aku benar-benar akan bercinta denganmu," ucapnya sungguh-sungguh. Luhan mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk. "Dengan cinta," tambahnya. Luhan melemparkan senyum tipis kepada suaminya.

Luhan terkesiap saat tubuh Sehun yang jakung dan keras menghimpitnya. Sentukan kulit Sehun ditubuhnya membuatnya merasakan panas yang membara. Dia belum pernah merasakan terbakar yang seperti ini sebelumnya.

Sehun membenamkan kepalanya kedalam rambut Luhan yang tebal. Menghisap aroma tubuh gadis itu dengan serakah. Lalu menghujami lehernya dengan kecupan dan hisapan lembut. "Aku suka bau mawar," Sehun menggigit perpotongan leher Luhan dan itu nyaris membuatnya memekik.

"Aku lebih suka kau," bisiknya, terengah-engah.

Sehun menggerakkan bibirnya ke wajah Luhan dan mengecup kelopak matanya. Luhan merasakan tubuhnya benar-benar dikuasai dan diambil alih. Hanya dengan sentuhan pria itu, Luhan merasa dirinya meleleh.

Sementara Sehun menghujani tubuhnyanya dengan kecupan-kecupan yang memabukkan, Luhan memikirkan hal lain. Ia masih bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai pria itu. Luhan tidak pernah merasakan jantungnya berdetak begitu cepat saat disentuh laki-laki. Dan Sehun adalah laki-laki pertama yang membuat Luhan membiarkan tubuhnya dikuasai.

Luhan tau Sehun pria yang berbeda.

Sehun menyadari bahwa pikiran Luhan sedang tidak menyatu dengan tubuhnya. Pria itu perlahan menggerakkan bibirnya menuju pusat tubuh Luhan, mengecupinya dengan perlahan. Luhan terkesiap. "Ya Tuhan," pekiknya.

Sehun terkekeh. "Aku hanya mempersiapkanmu, kau tau," bibirnya kembali bergerak mengecupi bagian tubuh Luhan yang lain.

Sehun memuja tubuh gadis itu.

Luhan tidak bisa menyangkal terhadap kenikmatan yang Sehun berikan padanya, jadi dia membenamkan tangannya dirambut hitam Sehun, menarik pria itu lebih mendekat padanya. Luhan sendiri tidak tau kapan keberaniannya menyentuh laki-laki hilang seperti sekarang ini, karena Luhan baru sadar bahwa dia belum menyentuh Sehun sama sekali.

Dengan ragu-ragu Luhan membelai punggung Sehun yang telanjang, mengusap-usapkan jari-jemarinya disana. Ia membuat pola-pola abstrak dipunggung pria itu. Sehun mendesah ringan. "Kurasa kau sudah benar-benar siap,"

Luhan memejamkan mata merasakan tubuhnya yang terbakar oleh gairah. Tubuhnya yang menginginkan sentuhan lebih dan lebih. Luhan tau apa yang sedang dialami tubuhnya saat panas itu menyerang pusat tubuhnya. Dia yakin dia benar-benar sudah siap.

Gadis itu mengangguk mensetujui.

Jantung Luhan berdegup dengan liar sementara bibir Sehun merapat kebibirnya. Tangan Sehun seolah-olah berada dimana-mana, menyentuh, membelai, menjelajahi tubuhnya, tetapi tetap saja Luhan belum merasakan cukup. Bagi Luhan semuanya terasa lebih intim sekarang. Luhan tau saat Sehun menelusupkan tangannya dipusat tubuhnya, itu membuatnya bergidik ngeri.

Gairahnya memuncak.

"Ya Tuhan," erang gadis itu, berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Luhan bisa merasakan dirinya basah oleh hasrat dan lagi-lagi gadis itu hanya bisa mengerang kesal.

Sehun berusaha keras menjaga napasnya tetap teratur. Dibutuhkan pengendalian tubuh yang hebat agar ia tak serta merta menancapkan diri dan hanyut dalam kelembutan Luhan. Sebaliknya, Sehun ingin pengalaman pertamanya dengan Luhan menjadi sesuatu yang sempurna. Sehun benar-benar berusaha keras mengendalikan diri.

Luhan merasakan punggungnya melengkung saat sensasi panas mengambil alih tubuhnya, menyerang tepat kepusat tubuhnya. "Kumohon Sehun," ucapnya terengah-engah. Napasnya pendek-pendek, megap-megap mencari udara. "Aku membutuhkanmu," tambahnya.

Permintaan Luhan yang gamblang itu benar-benar meruntuhkan pertahanan diri Sehun yang susah payah dibangunnya, dan dia dengan cepat mengganti posisinya untuk bersiap memasuki gadis itu. "Kau yakin?" bisik Sehun parau, suaranya terdengar berat menahan gairah.

Luhan mengangguk setuju dan Sehun mulai mendorong maju. Mendorong secara perlahan. Luhan meringis. Lalu tiba-tiba Sehun menyentaknya dengan cepat. "Ya Tuhan," jerit Luhan. "Jangan bergerak," tambahnya.

Luhan masih terengah-engah merasakan tubuhnya yang terasa perih. Sehun benar-benar keras, membuatnya ingat akan pengalaman pertamanya. Ini benar-benar sakit.

Sehun sendiri yakin tidak ada zat perangsang yang lebih kuat dibandingkan menyaksikan Luhan mengerang dibawahnya. Sehun berusaha menjaga hasratnya tetap terkendali walaupun tubuh mereka sudah menyatu dengan sempurna.

Sehun memeriksa wajah Luhan lagi. Ekspresi kesakitan gadis itu sudah hilang meskipun dia memejamkan matanya erat-erat. Gairah Sehun sendiri memaksanya untuk bergerak perlahan, sambil terus mengamati ekspresi wajah Luhan yang meringis. Luhan menggigit bibir bawahnya.

Serpihan terakhir pengendalian diri Sehun menguap sudah, pria itu menarik tubuhnya keluar dan mendorongnya maju dengan cepat. Luhan memekik, menjeritnya nama Sehun dengan keras.

Jeritan kesakitan Luhan tergantikan oleh kenikmatan desakan bercinta Sehun yang tak ada bandingannya. Dengan setiap sentuhan, Luhan merasakan desakan kehangatan melesat ketubuhnya hingga semuanya menjadi tak tertahankan lagi. Sekujur tubuhnya mengejang, nyaris tidak bisa bergerak. Luhan lupa cara bernapas dengan benar dan jantungnya berpacu dengan cepat. Lalu akhirnya seluruh dunianya meledak, dorongan panas itu membuatnya terkuras habis.

Semburan panas pada pusat tubuh gadis itu, membuat Sehun terguncang saat ia merasakan otot-otot Luhan menggenggam tubuhnya yang sensitif. Sehun merasa dirinya sudah gila, dia tidak bisa memikirkan hal lain kecuali tubuh Luhan yang terhentak-hentak akibat pergerakannya.

"Ya Tuhan," Luhan mengerang saat Sehun benar-benar bergerak dengan cepat. Sehun tetap mendesaknya maju, dan hanya beberapa saat dia sudah benar-benar meledak dalam gairah yang membuncah.

Luhan mendengar Sehun melenguh saat puncak gairahnya terlepas, merasakan pria itu terhempas diatas tubuhnya, terengah-engah mencari udara. Detak jantung Sehun yang berpacu dengan cepat membuat tubunya gemetar.

Luhan mengakui dalam hati, Sehun benar-benar hebat.

Sehun menggeser tubuhnya hingga mereka berdua terlentang berdampingan, dengan napas yang masih belum teratur, Luhan terkekeh. "Apa aku sudah pernah bilang kalau kau hebat di ranjang?"

Sehun memutar tubuhnya ke samping dan menatap Luhan dengan pandangan sayang. "Kurasa aku belum pernah mendengarnya,"

Luhan memejamkan mata. "Sepertinya aku mengatakannya kepada semua orang kecuali kau. Aku hanya menebak kalau kau hebat diranjang. Ya, tebakanku selalu benar,"

Sehun tertawa sedikit, lalu mengusap keringat di dahi Luhan dengan jari-jarinya. "Katakan bahwa aku lebih hebat dari mereka,"

"Kau memang lebih hebat dari mereka semua,"

Sehun berdeham sedikit, merasa bangga dengan dirinya sendiri. "Ini pengalaman bercinta yang pertama untukku," bisik Sehun.

Luhan mencibir. "Aku merasa mual mendengarnya. Jangan membohongiku, Oh Sehun,"

Sehun kembali memposisikan dirinya diatas tubuh Luhan, mengecup bibir gadis itu perlahan. Menyapu bibir ranumnya dengan lidahnya sekilas. "Aku hanya meniduri gadis-gadis lain. Aku tidak bercinta dengan mereka. Jadi ini yang pertama untukku,"

Luhan menelusuri wajah suaminya yang penuh peluh. "Begitu pula denganku, kalau begitu,"

Mereka berdua sama-sama tersenyum. Bibir mereka kembali bertemu, tanpa gairah, hanya ada kelembutan disana. Keduanya sama-sama menyampaikan perasaan cinta melalui sentuhan. Begitu banyak cinta hingga mereka yakin akan benar-benar tenggelam didalamnya.

Sehun untuk Luhan dan Luhan untuk Sehun.

Setidaknya malam ini hanya ada mereka berdua. Tanpa harus tau apa yang akan mereka hadapi esok dan lusa. Mereka terlalu egois untuk memikirkan hal lain, atau bahkan tidak membiarkan hal lain mengganggu mereka.

TBC

Hallo terima kasih sudah menyempatkan membaca fanfiction ini. Maaf ya author kelamaan updatenya karena banyak sekali tugas kuliah yang menunggu untuk diselesaikan. Chapter ini tidak begitu panjang dan menurut author sendiri juga tidak begitu seru.

Chapter depan author sudah memulai memunculkan action-nya. Mau author munculin dichapter ini tapi kepanjangan. Maaf kalau ceritanya monoton dan nggak menarik. Chapter depan Lay sama Tao juga bakalan muncul. Enaknya Lay sama Tao jadi cewek atau cowok. Saran dong.

Oh ya ini adalah script NC pertama author. Author nggak bisa bikin NC yang baik dan benar. Nggak tau lagi harus kaya gimana.

Sepertinya itu dulu yang bisa author sampaikan. Lebih kurangnya terima kasih. Terima kasih juga buat yang setia menunggu kelanjutan fanfiction ini, yang memberikan dukungan kepada author untuk tetap menulis.

See you.