LUHAN POV
Paginya aku benar-benar memulai hari dengan semangat. Tidak tau apa yang terjadi dengan diriku sendiri. Hanya saja aku merasa bahwa aku merasa utuh. Aku merasakan bahagia yang sebenarnya. Dengan Sehun disampingku dan segala perasaanku untuknya.
Aku merasa sebagai wanita yang sempurna untuk pertama kalinya dalam hidupku. Seorang istri yang beruntung. Meski aku tau masih terlalu dini untuk mengatakan aku mencintai Sehun, tapi memang aku tidak munafik untuk mengatakan hal itu.
Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, Sehun dan aku memakan sarapan kami dengan tenang. Masih sepotong sandwich dan susu. Sehun tau hanya itu yang mampu kubuat untuknya, dan aku beruntung dia tidak protes.
"Luhan," panggil Sehun setelah dia menyelesaikan sarapannya, aku menatapnya. "Kau bekerja hari ini?" aku hanya menggumam mengiyakan, tak menjawab pertanyaannya karena mulutku masih penuh dengan makanan. "Jadi-,"
"Jadi aku tidak akan keluar dari perusahaan itu," potongku. Sehun diam.
Sehun bergumam sesuatu yang tak kupahami. Kemudian dia berkata sangat pelan. "Aku sempat curiga saat melihat asset-asetmu dulu," Sehun berhenti sebentar. Dia memandangiku dengan tatapan menilai. "Kau seorang akuntan," tambahnya.
"Lalu?" aku berbicara dengan mulut penuh, Sehun banyak bicara pagi ini.
Sehun tertawa ringan. "Tidak ada seorang akuntan yang memiliki kekayaan sebanyak itu. Bahkan kupikir awalnya kau seorang wanita simpanan," dan aku tersedak. Aku melotot kearahnya sambil terbatuk-batuk, sedangkan Sehun hanya meringis. "Dan kurasa dugaanku benar saat melihatmu beberapa hari yang lalu,"
Aku berusaha menenangkan diri dari batuk-batuk. "Saat aku salah membiusmu?" Sehun mengangguk. Sehun hendak mengatakan sesuatu tapi aku segera mengisyaratkannya untuk diam.
Telingaku berdengung.
Beberapa suara mulai muncul ditelingaku, beberapa orang bercakap-cakap dalam samar. Salah satunya adalah suara seseorang yang sudah lama tidak kudengar. Bahkan aku nyaris tidak mempercayai pendengaranku sendiri.
Sepertinya aku bermimpi. Kupandangi Sehun sekilas, dia sedang menatapku dengan bingung.
"Kau masih ingat aku?" suara itu berucap dan aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak salah dengar. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mendengar suara itu. "Kau baik-baik saja?" tambahnya.
"Huang Zitao," suaraku nyaris terdengar seperti bisikan.
Suara tawa melengking itu meledak ditelingaku. "Ada seseorang yang merengek bantuan padaku. Aku harus bagaimana, Luhan?" ucapnya. Lalu aku mendengar Kris mengumpat.
Aku tersenyum, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. "Aku merindukanmu, brengsek,"
Wanita itu terkekeh. "Aku di kantormu," dan suara-suara itu lenyap begitu saja.
Aku mendesah lega. Bahkan tidak bisa berhenti tersenyum sekarang.
"Huang Zitao?" tanya Sehun setelah aku sudah selesai berbicara, Sehun mengucapkan nama itu dengan terbata-bata.
Aku memandangi Sehun yang memasang wajah bingung, beberapa saat yang lalu bahkan aku sempat melupakan kehadiran Sehun. "Dia dulu seseorang dari tim. Lebih muda daripada aku," akhirnya aku menjelaskan.
Sehun mengangguk-angguk. "Lalu sekarang dia?" ada kehati-hatian dalam nada suara Sehun.
Aku mendesah ringan. Merasakan beberapa potongan kisah masalalu yang kembali muncul dibenakku. "Dia memutuskan untuk pergi. Dia memilih bergabung dengan perusahaan mata-mata Beijing karena dia begitu mencintai negaranya. Sepertinya Kris memohon bantuannya lagi,"
Sehun mengangguk-angguk lagi walaupun aku ragu dia akan mengerti dengan cepat. "Dia memiliki bakat khusus?"
Aku berpikir sejenak. "Gadis itu pengatur strategi terbaik setelah Kris. Bagaimana aku mengatakan ini padamu ya," Sehun menunggu. "Dia sniper," dan mulut Sehun benar-benar terbuka lebar.
Sama halnya dengan Sehun, aku juga kaget dengan keberadaan Zitao disini. Sepertinya ini benar-benar masalah serius karena harus melibatkan seseorang seperti Zitao. Aku tidak yakin Kris akan bisa bekerja sama dengan baik dengan gadis itu. Aku tidak yakin mereka akan bekerja tanpa melibatkan masalalu mereka masing-masing.
Ya, Kris dan Zitao dulu memang sepasang kekasih yang bahagia. Zitao direkrut bersamaan denganku. Dia hanya bertahan selama dua tahun, karena jarang sekali ada kasus yang membutuhkan bakat besarnya.
Lalu Zitao dipanggil oleh sebuah perusahaan besar di Beijing. Perusahaan itu adalah perusahaan internasional yang membutuhkan bakat khusus seperti dirinya dan Kris harus rela melepaskan gadis itu pergi.
Aku nyaris tidak bisa mendengar Kris tertawa selama enam bulan setelah kepergian Zitao waktu itu. Walaupun Kris masih bisa fokus dengan pekerjaannya, suasana hatinya akan selalu buruk sepanjang waktu selama Zitao tak ada.
Dan sepertinya hari-hari kedepan, Kris akan melunak.
.
10.00 KST
Suara dentingan lift yang kunaiki menunjukkan angka empat belas. Saat pintu terbuka, aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Seorang gadis tinggi dengan rambut panjang yang diikat rapi kebelakang. Gadis itu menggunakan kemeja putih polos yang terlalu besar ditubuhnya yang ramping. Dia juga menggunakan sepatu boots tinggi dan celana jeans dengan lubang dibagian lututnya.
Zitao menatapku dengan senyum mengembang dibibirnya. Sedangkan aku membeku didepan pintu lift. Dia membuka kedua lengannya. "Selamat atas pernikahanmu," dan aku memutar bola mataku kesal.
"Kau masih saja brengsek," umpatku. Zitao tertawa sebelum kemudian berjalan cepat kearahku dan memelukku erat. "Sial. Aku merindukanmu," tambahku. Kutepuk punggungnya beberapa kali.
Zitao terkekeh, lalu melepaskan pelukannya. "Ada yang lebih merindukanku, kau tau," tatapannya melirik Kris yang sedang menelepon.
Kris memandangi Zitao sekilas tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Kau harus tau suasana hatinya sungguh baik hari ini," sambung Kyungsoo diiringi gumaman setuju dari semua orang, Chanyeol, Suho, Jongin, dan Jongdae.
Baekhyun mendesah ringan. "Pantas saja dia terlalu bersemangat kemarin saat mengadakan rapat,"
"Aku sempat terkejut saat Kris meminta bantuanku kemarin. Dia bahkan sudah mendapatkan persetujuan dari perusahaanku," tambah Zitao. "Kurasa dia merindukanku,"
"Kami semua merindukanmu," aku mengoreksi. Zitao tersenyum ringan kemudian memelukku lagi. "Bagaimana kehidupanmu disana? Kau baik-baik saja?" aku menepuk-nepuk punggungnya.
Zitao mengangguk lalu melepaskan pelukannya. "Tentu saja. Aku tumbuh dengan baik," Zitao tersenyum-senyum lucu.
Gadis ini sungguh manis dan menggemaskan. Wajahnya yang mungil mampu mempengaruhi semua orang yang melihatnya. Semua orang yang tidak mengenalnya pasti mengira dia gadis biasa. Tidak akan ada orang yang mengira gadis itu penembak terbaik.
"Jika kalian sudah selesai bergosip. Aku akan memulai rapatnya," Kris mengiterupsi.
Aku memandangi Kris dengan tatapan menyelidik. Kyungsoo benar. Wajah Kris berseri-seri hari ini. Dia tampak tak semenakutkan seperti biasanya. "Kau berbeda," bisikku pada Kris. Kyungsoo memelototiku. Pandangannya memperingatkan. Aku hanya mengangkat bahu.
"Maksudmu aku?" tanya Kris.
Aku mengangguk. "Kau tampak lebih baik. Aku penasaran apa yang semalam kau lakukan," Zitao menyikut perutku, mengisyaratkanku untuk diam. "Sepertinya aku memang benar," dengusku.
Kris memutar bola matanya sebal. Dia tak menghiraukanku dan memilih untuk menunjukkan layar komputernya dihadapannya kepada kami semua. Kris menekan beberapa tombol dan layar-layar itu menunjukkan gambar senjata api yang kuduga diambil dari kantor kejaksaan.
Aku tidak mengerti.
Aku melirik Zitao. Gadis itu tampak fokus dengan gambar-gambar yang Kris tunjukkan, sepertinya dia sedang berusaha mengingat sesuatu. Jari-jarinya bergerak, mengetuk-ketuk meja dihadapannya. Sedangkan kyungsoo sudah mempersiapkan jari-jarinya diatas keyboard, bersiap menuliskan apa saja yang akan Zitao katakan.
Beberapa detik kemudian Zitao menjentikkan jarinya, dia tersenyum puas. "QSZ-92," suara Zitao terdengar bersemangat. "Recoil operated locked brenct," tambahnya, dia mendesah lega. Kyungso menggerakkan jari-jarinya diatas keyboard dengan cepat.
"Seratus persen sama," tambah Kyungsoo. Kyungsoo memunculkan gambar-gambar senjata yang sama dengan yang Kris tunjukkan.
"Dibuat di Changtu Machine, China. Sembilan peluru, diameter 19 milimeter. Dengan jangkauan 50 meter. Kecepatan 1148 meter per detik," Zitao menjelaskan panjang lebar.
Aku benar-benar merasa terkejut dengan kemampuan Zitao sekarang. Dia jauh lebih baik. Kurasa Zitao sudah benar-benar tak bisa diragukan lagi.
"Dimana dia mendapatkannya?" Baekhyun berkomentar.
Aku mendengus. "Kurasa ini barang illegal," hanya itu yang bisa kukatakan, tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Setidaknya itu yang kupikirkan saat ini.
Zitao menggetuk-ketukan jarinya beberapa kali diatas meja. Dia tampak berpikir. "Hanya ada satu orang yang biasa melakukan penjualan seperti ini," ucapnya datar, pandangannya menerawang jauh.
Dan kata-kata Zitao mengingatkanku pada seseorang. Penjual senjata illegal terbesar di China. Seseorang yang bahkan tidak pernah terdeteksi wajahnya. "Zhoumi," ucapku begitu saja.
Zitao menjentikkan jarinya. "Bingo,"
Semua orang memandangiku dan Zitao bergantian dengan pandangan heran. Karena tim ini jarang membeli barang illegal, wajar jika mereka tidak tau. Aku melirik Kris, menunggu reaksinya. Dia mengerutkan dahinya, aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu hal yang besar.
Berurusan dengan mafia besar seperti Zhoumi bukanlah hal yang mudah. Dia bahkan tidak akan mau bekerja sama dengan siapapun, apalagi dengan orang yang mengatasnamakan negara. Kami musuh baginya. Mungkin ini akan berarti juga jalan buntu.
"Kita tidak bisa bekerja sama," Zitao mengingatkan.
Kris mengangguk sekali, tanga. "Tentu saja," Kris berhenti sejenak, pandangannya menatap Jongdae. "Kita akan retas sistemnya,"
Tanpa aba-aba kami semua menatap Jongdae yang sedang mengamati layar komputer didepannya. Kemudian Jongdae mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Pandangan kami serempak mengarah pada Jongin yang sedang duduk dengan tatapan kosong di sebelah Kris. Jongin menggelengkan kepalanya pelan, tampak frustrasi.
"Jika Jongdae saja tak mampu, lalu aku bagaimana," Jongin mendengus. Jongin memang seorang pekerja lapangan yang mampu melakukan sedikit peretasan, walaupun tidak sehebat Jongdae, dia sering membantu tugas-tugas Jondae. Jongin masih harus banyak belajar.
"Kami belum pernah meretas sistem dari China," Jongdae akhirnya angkat suara.
"Apakah berbeda?" tanyaku, terlalu penasaran untuk diam. Terlalu bodoh untuk mengerti, kupikir.
Jongdae mengangguk dengan lemah, sekali. "Sangat jauh berbeda. Ada beberapa hal yang kami tak punya," tambahnya.
Suara ketukan jari-jari Zitao terdengar lagi. Dia selalu mengetuk-ketukkan jarinya jika sedang berpikir, kebiasaan buruknya. "Apa kau keberatan menambah satu orang lagi Kris?" Kris menggeleng. "Hanya ada satu nama yang bisa kupikirkan saat ini,"
"Zhang Yixing," bisik Kris. Zitao mengangguk setuju.
Aku bahkan tidak terkejut. Kris akan mengerahkan semuanya.
Zhang Yixing adalah seorang hacker wanita pertama yang bekerja di kantor detektif Beijing sejak ia masih kuliah. Dia salah satu hacker paling berbakat dan paling sulit dicari di China. Keberadaan gadis itu susah ditemukan karena dia selalu bisa menghindar dari segala macam pelacak. Beberapa tahun yang lalu, Yixing memutuskan keluar dari kantor detektif Beijing dan lebih memilih bergabung dengan sebuah perusahaan mata-mata besar di Shanghai. Keberadaan gadis itu semakin tidak diketahui hingga sekarang.
Aku hanya bertemu dengannya beberapa kali dalam suatu pelatihan yang sama. Satu hal yang kutau dari gadis itu, dia jenius. Sangat cerdas. Banyak orang menilai dirinya sebagai gadis lemah lembut, tanpa tau bakatnya.
"Jongdae. Sambungkan aku pada nomor ini," Zitao melemparkan ponselnya pada Jongdae.
Beberapa saat kemudian, nada sambung telepon terdengar.
Tepat nada sambung kedua, telepon tersambung. "Huang Zitao," sapa suara disebrang.
Zitao tersenyum puas. "Aku bersyukur kau masih hidup" balas Zitao.
Suara melengking itu tertawa. "Kau sedang berada di Korea. Kau menghianati negaramu?" ucapnya dalam Bahasa Mandarin. Beberapa saat kemudian, tulisan-tulisan terjemahan muncul begitu saja dilayar.
Zitao tertawa. "Coba lihat siapa yang bicara. Seorang gadis yang meninggalkan tugas negaranya demi uang?" Zitao mencibir.
Kami semua saling berpandangan. Bingung. Zitao mengangkat bahu acuh.
Suara Yixing kembali tertawa disana. "Jadi siapa yang ingin kau intai?" ucapnya langsung.
"Kujemput di bandara malam ini,"
Yixing mendengus. "Aku bahkan belum setuju,"
"Aku bahkan tak butuh persetujuanmu. Sampai jumpa nanti malam, Yixing," Zitao mengisyaratkan untuk memutuskan sambungan telepon.
"Kau yakin dia akan datang?" Chanyeol bersuara untuk yang pertama kalinya hari ini. Petugas lapangan memang jarang bicara.
Zitao mengangguk pasti. "Aku mengenalnya dengan baik,"
"Dia bisa bahasa Korea?" tambah Jongin.
"Dia menguasai delapan bahasa," balas Zitao ringan.
Sepertinya satu masalah yang muncul sedikit ada jalan keluar. Meskipun kemungkinan untuk berhasil masih sangat tipis.
19.00 KST
AUTHOR POV
Zitao dan Luhan sedang dalam perjalanan menjemput Yixing di bandara. Luhan memegang kemudi, sedangkan Zitao duduk dibangku penumpang sambil memainkan pisau lipat yang Luhan berikan padanya. Luhan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran, gadis itu sama sekali tak bisa diam.
Luhan sendiri merasa kebahagiaannya lengkap. Dia mendapatkan semua teman-temannya. Bahkan dia mendapatkan orang yang dicintainya. Setidaknya untuk saat ini perasaannya pada Sehun sebatas itu. Luhan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mencintai pria itu.
"Kau yakin Yixing akan datang?" Luhan akhirnya bicara, berusaha memecah keheningan. Zitao tidak banyak bicara, begitu pula dengan dirinya.
Zitao berhenti dari aktivitasnya memutar dan melipat pisau. "Aku bertaruh Kris untuk hal itu," ucapnya acuh.
Luhan tertawa, memukul lengan gadis itu. "Mengapa kau kembali?" tanya Luhan padanya. Pertanyaan yang sedari tadi ingin Luhan tanyakan. Zitao terdiam. "Bahkan ketika aku memohon padamu untuk kembali, kau tak menghiraukanku," Luhan menambahkan, nada suaranya terdengar sarkas.
Zitao menghembuskan napasnya dengan berat. "Aku kalah," bisiknya. "Perasaanku pada Kris mengalahkanku,"
Luhan terkekeh, terdengar mengejek. "Kupikir kau gadis jalang,"
"Ada beberapa hal yang tak bisa kutinggalkan didunia ini, meskipun aku jalang" lanjut Zitao, senyum tipis menghiasi wajahnya. Tatapannya menerawang jauh. Zitao mendesah ringan. "Pertama, negaraku,"
"Wow, aku tersinggung," Luhan memotong.
Zitao mencibir. "Kau bahkan bukan orang China lagi sekarang," Luhan hanya diam, dia tau Zitao benar. "Kedua, keluargaku," tambahnya. "Dan yang terakhir-,"
"Kris," potong Luhan cepat. Zitao mengangguk beberapa kali, menyetujui pendapat Luhan. "Aku bahkan tak pernah masuk daftarmu," suara Luhan terdengar kecewa.
Zitao memutar badannya menatap Luhan, gadis menatap Luhan tajam. "Hey brengsek, kau bahkan tidak bilang kau akan memutuskan untuk menikah secepat ini,"
Luhan mendecak sebal. "Kau tau itu perjodohan," sergahnya.
"Sebenarnya aku penasaran mengapa kau dijodohkan,"
Luhan mendesah pelan. "Bisnis keluarga. Uang. Memangnya apalagi?"
Zitao menatap Luhan dengan pandangan menyelidik. Terlalu penasaran dengan masalah perjodohan sahabatnya itu. "Jangan katakan orang tuamu menjualmu pada Sehun," Zitao menekankan kata-katanya.
Luhan mengangkat bahu. "Lebih tepatnya untuk melancarkan bisnis. Setidaknya itu yang mereka bilang," ada kesedihan dalam nada suara Luhan yang membuat Zitao berhenti bertanya.\
Zitao tau Luhan masih merasa sedih. Zitao bisa merasakan perubahan sikapnya.
Mereka berdua sama-sama diam untuk beberapa saat hingga mereka sampai di bandara internasional. "Sepertinya kita terlambat," ucap Zitao sambil mempercepat langkahnya. Luhan setengah berlari mengekor di belakang gadis tinggi itu.
Zitao tiba-tiba berhenti, begitu pula dengan Luhan yang hampir menabraknya dari belakang. Pandangan keduanya tertuju pada seorang gadis lucu yang sedang berdiri dengan tangan dilipat didepan dada. Gadis itu menggunakan sweater khas musim dingin dengan headphone bertengger manis dileher. Ransel berwarna putih bertengger dipunggungnya dan dua koper besar berada disebelahnya.
Tampak seperti gadis baik-baik yang tersesat.
Yixing membawa sendiri peralatannya dalam dua koper besar. Sepertinya gadis itu tidak percaya pada teknologi yang nantinya akan Kris berikan padanya.
Yixing tersenyum pada Zitao dan Luhan, tangannya melambai beberapa kali. "Kau terlambat, dua menit tiga puluh empat detik," suaranya terdengar ceria.
Zitao tertawa. Kemudian menghampiri gadis itu dalam tiga langkah panjang dan memeluknya. "Terima kasih," bisik Zitao lalu melepaskan pelukannya.
Yixing menepuk lengan Zitao beberapa kali. "Sama sekali bukan masalah," ucap Yixing sambil tersenyum ringan. Pandangan Yixing beralih pada Luhan yang masih memperhatikan gadis itu diam-diam. "Aku masih sangat mengingatmu Luhan," Yixing menjawab keragu-raguan dalam wajah Luhan. Gadis itu menghampiri Luhan dan memeluknya.
Luhan terkekeh. "Terima kasih sudah repot-repot mengingatku,"
Yixing melepaskan pelukannya. Menatap Zitao dan Luhan bergantian. "Aku tidak akan melupakan seseorang yang sebangsa denganku,"
Zitao mendesis. "Apalagi yang berhianat,"
Zitao tertawa dan Luhan mengumpat. "Berhentilah membahas itu," tambah Luhan kesal. Ketiganya tertawa, mereka bergegas meninggalkan bandara dan kembali ke markas.
Jika orang melihat mereka, hanya akan tampak tiga gadis muda yang dari China yang sedang menghabiskan waktu libur musim dingin mereka di Korea. Tidak akan ada yang menduga bahwa ketiga gadis itu adalah seorang hacker terbaik, seorang sniper, dan seorang mata-mata profesional.
Dari mereka bertiga hanya Luhan yang bekerja diluar kepentingan negara asalnya. Luhan sendiri merasa nyaman bekerja di negara lain. Meskipun dia sangat merindukan negaranya sendiri, tapi dia sedikit terhibur dengan kehadiran Kris disana.
Kris memang orang China asli. Dia diadopsi oleh keluarga Kim saat masih sekolah di Korea. Kris bilang orangtua kandungnya membuang dirinya begitu saja. Meskipun dia tak mau melepaskan marganya, dia juga tak ingin kembali ke negaranya sendiri. Luhan sendiri tau, kewajibannya harus dipenuhi disini.
Luhan juga sudah menganggap Kris sebagai kakaknya sendiri, begitu pula dengan anggota tim yang lain. Menganggap keluarga Kris sebagai keluarganya. Itulah yang menjadi salah satu alasan Luhan tetap bertahan disini, sebagai orang Kris.
.
21.00 KST
Kehadiran Yixing disana disambut hangat oleh semua orang. Gadis itu sangat cepat menyesuaikan diri karena karakternya yang ceria dan menyenangkan. Yixing sendiri langsung meminta Kris memberikan tugasnya. Dia tak suka berdiam diri terlalu lama.
Tentu saja Kris senang dengan hal itu.
Jadi disinilah dia sekarang, gadis itu sedang fokus menyaksikan enam layar komputer besar dihadapannya. Layar-layar itu menampilkan beberapa tulisan-tulisan rumit yang tak bisa dibaca oleh orang lain. Yixing bilang dia sedang berusaha menyelesaikan kode-kodenya. Tangannya bergerak sangat cepat di atas keyboard, menekan-nekan tombol itu disana seolah-olah tanpa berpikir. Semua orang disana dibuat tercengang oleh kecepatan kerjanya.
Bahkan Jongdae hanya menatap gadis itu dengan mulut terbuka.
Baekhyun dan Kyungsoo harus bekerja cepat mengimbangi cara kerja Yixing. Data-data yang dikirim Yixing kepada Kyungsoo dan Baekhyun, membuat kedua orang itu kewalahan. Sedangkan lima orang pekerja lapangan disana hanya duduk dengan tenang sambil menunggu. Luhan, Chanyeol, Zitao, Jongin, dan Suho. Mereka merasa buta dengan hal-hal seperti ini.
Hanya delapan menit, Yixing sudah selesai. Semuanya terhubung. Semua data-data dari komputer pribadi Zhoumi sudah berhasil diretas.
"Ternyata tidak serumit yang kubayangkan," Yixing meregangkan otot-ototnya, senyumnya tidak bisa pudar dari wajahnya. Dia merasa bangga dengan keahliannya sendiri.
Jongdae memandangi Jongin dengan pandangan bingung, meminta pendapat Jongin dalam diam. Sedangkan Jongin hanya menggelengkan kepalanya frustrasi. Keduanya merasa tak percaya dikalahkan oleh gadis lucu itu.
"Wow," Jongdae berseru saat semua data sudah benar-benar masuk. "Kau sangat cepat," pujinya. Jongdae mengangkat kedua ibu jarinya, matanya berseri-seri.
Yixing tersenyum kearahnya, kemudian menepuk pundak Jongdae pelan. "Perhatikan dan kau akan banyak belajar," Jongdae mengangguk senang dan Yixing mulai menjelaskan banyak hal padanya.
"Data ditemukan," Baekhyun berseru. "Dibeli atas nama Pu Zhengzhu," tambahnya, tangannya masih bergerak-gerak cepat.
"Park Jungsoo. Seorang karyawan diperusahaan ekspor impor," Kyungsoo menambahkan. "Tunggu dulu," Kyungsoo kembali bersuara, gadis itu memfokuskan matanya pada layar komputer di depannya, membuat matanya tampak benar-benar bulat. Tangannya bergerak-gerak dengan cepat. "Siapa Cui Shiyuan?" sambungnya.
"Choi Siwon. Dalam bahasa Korea," Luhan membenarkan.
"Catatan pembayarannya atas nama Choi Siwon," bisik Baekhyun. Baekhyun sendiri masih menelusuri layar-layar komputer itu, mencari sesuatu.
Mereka semua bersama-sama menatap pemimpin mereka, Kris. Pria itu belum berucap sama sekali sejak tadi. Kris hanya memandangi data-data dikomputer Kyungsoo tanpa suara. Kris tampak sedang memikirkan sesuatu dengan berusaha menyatukan potongan-potongan informasi yang diperolehnya.
Kris tampak berpikir keras. "Ini saling berhubungan," Kris akhirnya bicara. "Luhan," serunya. Luhan memandangi Kris tanpa bicara. "Kau sudah dapat data Jeon Jaewon yang kuminta?"
Luhan mengangguk, kemudian melemparkan sebuah ponsel pada Kris. Begitu Kris menyambungkannya pada komputer, semua data bisnis kakak angkat Sehun tersebut muncul.
"Laporkan padaku apa-apa saja yang berhubungan dengan Park Jungsoo dan Choi Siwon," titahnya pada Baekhyun dan Kyungsoo. Kedua gadis itu langsung sibuk dengan pekerjaannya. "Dan kalian," pandangan Kris terarah pada Chanyeol, Jongin, Luhan, Zitao, dan Suho. Kris memandangi mereka bergantian. "Bersiap-siaplah untuk besok," perintahnya.
"Kami semua?" tanya Chanyeol bingung. Pandangan Chanyeol mengarah pada Luhan dan Kris bergantian. Luhan hanya mengangkat bahu. Luhan sendiri tak yakin dirinya akan bertugas besok. Bukannya dia sedang dalam masa hukuman.
"Tentu saja," sahut Kris. "Kalian semua," Kris menekankan. "Jangan berbuat kesalahan kali ini," Kris menatap Luhan tajam. Luhan hanya tersenyum malu.
Zitao berdeham-deham sedikit. "Kau juga akan menurunkanku besok?"
Kris terkekeh. "Memangnya aku menyuruhmu kesini untuk berlibur?" Zitao hanya merengut, dia memandangi Kris dengan kesal dan dibalas pria itu dengan senyuman menggoda.
Luhan menepukkan kedua tangannya satu kali. "Baiklah sepertinya aku harus pulang sekarang. Sudah waktunya pulang," dia bangkit berdiri dan membereskan beberapa barangnya.
Yixing memandangi Luhan dengan bingung. "Kau tidak tinggal?" tanyanya.
Luhan tersenyum, kemudian menggeleng. "Aku punya urusan yang harus dikerjakan," bisiknya dengan nada menyesal.
"Apa itu?" Yixing kembali bertanya.
"Dia harus mengurus bayi besarnya," ledek Chanyeol dan disambut oleh tawa semua orang, kecuali Yixing, gadis itu benar-benar tak mengerti. "Dia seorang istri, Yixing," Chanyeol menambahkan dan Yixing hanya membulatkan bibirnya sambil mengangguk beberapa kali.
Luhan mengangguk menyetujui perkataan Chanyeol. Kris memang memberikan sedikit kelonggaran pada Luhan untuk pulang jika tugasnya sudah selesai. Bagaimanapun Luhan punya kehidupan lain yang harus diurusnya.
Memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Sebelum menikah, Luhan dan yang lainnya hanya akan pulang mengunjungi keluarga saat akhir pekan. Itupun jika mereka tidak punya tugas. Mereka memutuskan untuk membeli tempat tinggal disekitar tempat mereka bekerja agar lebih memudahkan mereka.
Tapi sekarang, Luhan merupakan suatu pengecualian untuk tim ini.
.
23:30 KST
Luhan membuka pintu apartemen Sehun perlahan. Berusaha meminimalkan suara yang dihasilkan dari gerakannya. Luhan tak ingin membangunkan Sehun yang mungkin sudah tidur. Saat Luhan sudah masuk, ternyata Sehun sudah menunggunya.
Pria itu duduk disofa sambil menghadap kearahnya, tersenyum manis. Entah mengapa Luhan merasa gugup dengan tatapan Sehun.
Luhan berdeham-deham, sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyuman, terlihat kaku. "Kau menungguku lagi?" bisik Luhan. Sehun hanya mengangguk dan balas tersenyum padanya.
Sehun membuka kedua lengannya lebar-lebar, mengisyaratkan gadis itu untuk datang kepelukannya. Luhan tidak bisa menahan senyumannya. Akhirnya gadis itu menghempaskan tubuhnya dalam pelukan Sehun yang hangat. Sehun memeluknya sangat erat.
Sehun mengecup bibir Luhan, lalu berbisik didepan bibirnya. "Aku merindukanmu," suaranya terdengar lembut.
Luhan memandangi Sehun dengan senyum mengembang diwajahnya, tangannya menelusuri wajah Sehun. "Bahkan belum sehari?" tanya Luhan.
Sehun mengecupi jari-jari istrinya. "Bahkan belum sehari," dia mengulang perkataan Luhan.
Luhan mendesah ringan, lalu menyandarkan tubuhnya pada tubuh Sehun dan memejamkan mata. "Maaf selalu membuatmu menunggu,"
Sehun terkekeh dan mencium kepala gadis itu. "Sama sekali bukan masalah," Sehun mengeratkan pelukannya. "Jadi bagaimana harimu?" tanyanya.
Luhan menghembuskan napasnya dengan berat. "Melelahkan seperti biasa. Besok aku akan turun ke lapangan,"
Secara refleks tubuh Sehun mengejang dan Luhan langsung menyadari hal itu. Luhan mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap wajah suaminya. Tangannya mengusap pipi Sehun perlahan, berusaha membuat pria itu tenang.
Dan sentuhan Luhan selalu berhasil pria itu tenang.
"Kau akan mulai kerja lapangan lagi?" tanya Sehun setelah diam yang lama. Luhan hanya mengangguk. "Apa yang harus kulakukan untuk menghentikanmu?" desahnya.
Luhan tersenyum dan mencium suaminya dengan lembut. "Maaf tapi sepertinya tidak ada,"
"Berjanjilah padaku kalau begitu,"
Luhan menatap Sehun dengan bingung. "Apa?" bisiknya.
"Berjanjilah untuk pulang tanpa luka," Luhan terdiam. Dia tak tau harus mengatakan apalagi sekarang. Luhan kehabisan kata-kata, selalu seperti itu ketika berhadapan dengan Sehun.
Permintaan Sehun bukan hal yang mudah. Bukan hal yang bisa dikendalikan oleh Luhan. Tapi entah mengapa, bukannya Luhan merasa kesal, dia malah merasa sesuatu yang jauh didalam dirinya menghangat. Entah mengapa Luhan merasa sedikit bahagia saat Sehun mengatakan hal itu. Luhan rasa dia benar-benar sudah jatuh cinta.
Sehun benar-benar mengubah Luhan sedikit demi sedikit.
Luhan menatap Sehun tanpa senyum. "Oh Sehun-,"
"Berjanjilah," Sehun memotong perkataan Luhan. Pria itu tidak mengijinkan Luhan membuat alasan lebih jauh lagi.
Luhan terdiam. Gadis itu memandangi mata Sehun yang penuh kecemasan. Mengamati mata itu dalam diam, berusaha membaca apa yang sedang Sehun pikirkan. Mata Sehun memandangnya dengan pandangan sayang. Meskipun didalam mata itu ada ketakutan yang begitu besar. Luhan sendiri tak tau ketakutan apa yang Sehun rasakan.
Akhirnya Luhan mengangguk. "Aku berjanji," keduanya sama-sama tersenyum sebelum akhirnya tenggelam dalam sebuah ciuman panjang.
.
TBC
.
Hallo terima kasih sudah mau membaca kelanjutan kisah ini. Dalam kesempatan kali ini, author akan membahas beberapa hal yang ditanyakan direview.
Pertama, tentang format penulisan. Sebenarnya author sudah memberi double enter untuk membedakan tempat dan waktu kejadian, author juga memberi tanda hubung (-) tapi gatau kenapa format di berbeda, tandanya hilang semua. Jadi mungkin readers agak bingung, tapi author sudah perbaiki.
Kedua, author menambah beberapa cast lagi tapi hanya sebagai peran pembantu yang tidak dijelaskan asal usul dan keberadaannya. Seperti nama-nama China yang disebutkan dalam cerita ini sebenarnya adalah nama-nama member Super Junior dalam bahasa China. Leeteuk sama Siwon /hehe/. Maaf deh author bikin member Super Junior jadi jahat semua. Author harus menistakan bias sendiri /huhu/. Author juga memngubah point of view dari orang pertama menjadi orang ketiga serba tau karena biar enak menjelaskannya. Author sendiri bingung cara menyampaikan adegan actionnya biar dibacanya enak.
Ketiga, author munculin Tao sama Lay dichapter ini tapi jadi cewek. Soalnya author lebih mengutamakan jalan cerita yang dibangun dari karakter tokoh-tokohnya. Author pengen memunculkan peran perempuan hebat dalam cerita fanfiction ini. Wah author udah kaya penganut aliran sastra feminis aja nih. Untuk aksi mereka semua, ada dichapter depan. Soalnya kepanjangan. Author sendiri masih bingung ini sampe berapa chapter. Semoga berakhir dengan cepat.
Keempat, author mau nanya dong kalo mau bikin tulisan Hangeul dilaptop gimana ya? Apa harus install aplikasi atau gimana? Kalo ada yang tau dong. Makasih
Terakhir, ada yang tanya ke-author kok bahasa penulisannya baku banget. Hal ini dikarenakan author adalah mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Kalo nggak baku nanti takutnya disuruh revisi /ngik/.
Yasudah, itu aja dulu yang mau author sampaikan. Terima kasih sudah membaca, memberikan review, memberikan kritik dan saran, dan memberi semangat serta dukungan kepada author. Kalau ada kritik dan saran silahkan disampaikan supaya author bisa memperbaiki kekurangannya.
Oke sekian. Terima kasih. Sampai jumpa dinext chapter.
