02:00 KST
AUTHOR POV
Luhan terjaga dari tidurnya saat telinganya berdengung beberapa kali –Kris tidak menginjinkan Luhan untuk melepas pelacaknya- meskipun tidak bisa dibilang Luhan tidur, dia hanya memejamkan mata selama beberapa jam. Luhan masih belum bergerak karena Sehun mendekap tubuhnya dengan erat, dia tak ingin membangunkan Sehun yang tengah tertidur pulas. Selain Luhan sendiri merasa nyaman dengan keadaannya sekarang.
"Chanyeol sudah menunggumu di bawah," suara Jongin benar-benar memaksa Luhan untuk bergerak.
Akhirnya gadis itu mengubah posisi tubuhnya dengan sangat pelan, melepaskan tubuh Sehun darinya dan bergegas memakai pakaian khususnya dengan tenang. Dia benar-benar tidak mengeluarkan suara sama sekali. Luhan terlatih dengan baik sebagai seorang penyusup.
Luhan benar-benar tanpa persiapan sebelumnya, bahkan dia tak tau tugasnya akan dimulai sekarang, Kris senang sekali memberinya kejutan. Dan Luhan benci kejutan.
Luhan bergerak dengan cepat, dia meninggalkan catatan kecil yang ditempel di sebelah Sehun. Langkah kakinya yang cepat menggema diseluruh jalan keluar di pintu darurat. Luhan tau Chanyeol menunggunya di lobby bawah tanah.
Chanyeol membunyikan klakson mobilnya sekali saat melihat Luhan keluar dengan tergesa-gesa. Luhan berlari menghampiri mobil hitam yang terparkir jauh didepannya, wajahnya tampak kesal.
"Kau lama sekali," protes Chanyeol saat Luhan memasang sabuk pengamannya.
Luhan mendesah sekali, menggosok-gosokkan kedua tangannya. "Kau tau kan aku tidak suka kejutan,"
Chanyeol mendengus. "Kurasa aku mengenalmu dengan baik," Luhan hanya membalas dengan senyuman.
Mobil yang mereka tumpangi melesat menembus jalanan ibukota yang sangat sepi. Hanya ada beberapa orang dijalan, tentu saja ini sudah hampir memasuki musim dingin. Tidak ada orang yang terlalu bodoh untuk menghabiskan waktu tengah malam mereka dijalanan.
Kecuali Luhan dan Chanyeol.
Kedua anak manusia itu terjebak dalam keheningan yang panjang. Baik Chanyeol dan Luhan sama-sama tidak ingin memulai pembicaraan. Bahkan mereka tak tau harus mulai membicarakan apa dan bicara darimana. Chanyeol fokus pada jalanan yang basah karena hujan sedangkan Luhan tampak sedang melamun.
Pikiran Luhan sedang tidak menyatu dengan tubuhnya saat ini. Jika ada yang sedang dipikirkannya, maka itu adalah Sehun. Entah mengapa Luhan tidak bisa melupakan perkataan Sehun yang memintanya untuk keluar dari pekerjaannya. Luhan sendiri tak ingin terus menerus membuat Sehun khawatir. Tapi Luhan sendiri tau dia tak punya pilihan.
Belum ada hal-hal lain sebelumnya yang membuat Luhan merasa ragu dengan pekerjaannya. Dia bahkan sama sekali tak memikirkan orang tuanya saat bergabung dengan pekerjaannya. Tapi sepertinya Sehun mengubah hal itu. Pengaruh pria itu dalam hidupnya sangat besar.
Sehun-lah satu-satunya orang yang bisa meruntuhkan dinding keras kepala Luhan. Bahkan Kris-pun tak mampu melakukannya.
"Kau diam malam ini," Chanyeol akhirnya angkat bicara. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyannya tanpa memandang Luhan.
Luhan mendesah ringan, memejamkan matanya yang terasa lelah. "Aku tak tau, Chan. Sehun membuatku tak berhenti memikirkannya,"
Luhan sudah siap dengan segala ledekan yang akan Chanyeol berikan. Tapi Luhan salah, pria itu malah mengusap kepalanya dengan sayang dan menepuk-nepuk lengannya, berusaha membuat Luhan tenang.
Bahkan Luhan sendiri heran, apa yang telah membuat Chanyeol menjadi dewasa.
"Kau tak meledekku?" tanyanya polos, menatap Chanyeol dengan bingung.
Chanyeol terkekeh. "Kau mau aku meledekmu?" Luhan menggeleng cepat. "Aku sendiri tak pernah merasakan apa yang kau rasakan, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa,"
Luhan menyeringai, menatap sahabatnya dengan tatapan curiga. "Kau sudah terlalu dewasa Park Chanyeol. Apa yang mengubahmu?" sindirnya.
Chanyeol mengelus paha Luhan perlahan. "Mau kutunjukkan bagaimana orang dewasa bekerja?" Chanyeol balas menyeringai dan Luhan bergidik ngeri.
Luhan menyingkirkan tangan Chanyeol dari pahanya, dia tak mau sesuatu yang buruk terjadi. Apalagi dia tak memasang pelacaknya. "Syukurlah kau kembali," bisik Luhan diiringi tawa dari keduanya.
.
Chanyeol menepikan mobilnya di depan gedung Kim Ent. Membukakan pintu untuk Luhan karena gadis itu kesusahan membawa banyak cup kopi ditangannya. Keadaan gedung itu tampak sepi. Hanya ada beberapa pihak keamanan khusus yang berjaga di dalam gedung.
Tiga orang pria menghampiri Chanyeol dan Luhan dengan terburu-buru, memberikan hormat pada dua orang itu. "Semua baik-baik saja?" tanya pria muda berbadan besar.
Chanyeol mengangguk, sambil tersenyum dia menepuk pundak pria itu. "Semua baik-baik saja," ulangnya. Chanyeol memberikan beberapa cup kopi kepada mereka semua dan berjalan cepat menuju lift dengan Luhan mengekor di belakangnya.
Ruangan itu tak tampak berbeda sama sekali. Semuanya masih ada disana, melakukan tugas mereka dengan baik. Zitao dan Yixing melambai kepada Luhan saat gadis itu keluar dari lift. Baekhyun dan Kyungsoo hanya meliriknya sambil mengucapkan 'hai' secara singkat, kedua gadis itu tampak sibuk dengan pekerjaannya di depan komputer.
"Kenapa lama sekali?" protes Kris tanpa memandang Luhan. Sedangkan Chanyeol sudah membagikan kopi.
Luhan mengangkat bahu, tangannya dengan cepat melepaskan baju hangatnya. Luhan menarik kursi dan duduk disebelah Kris. Bersiap mendengarkan apa yang diperintahkan atasannya. Meskipun ia tau ini akan sangat membosankan.
"Jadi," Luhan menggantungkan perkataannya.
Kris berbalik menatapnya. "Choi Siwon menjadi klien terakhir dari kakak angkat Sehun," dan tanpa sadar Luhan membuka mulutnya lebar-lebar.
"Lalu?" lanjutnya, menggunakan nada suara yang sama.
"Menurut data yang masuk, pagi ini orang Lee Hyukjae akan menemuinya," Kris berhenti.
"Untuk?" Luhan kembali bertanya. Kris memang akan menggantungkan kata-katanya, dia berusaha mengetahui sejauh mana lawan bicaranya mengerti apa yang dia bicarakan, dan Luhan sangat hapal dengan kebiasaan atasannya itu.
"Menyerahkan berkas penting penyelundupan barang illegal," Kris menunjukkan gambar seorang pria menggunakan jas. "Pria ini bernama Shindong. Akan kita ikuti sore ini. Kita harus mendapatkan berkasnya sebelum sampai ditangan Choi Siwon,"
Luhan mengangguk. "Seperti biasanya," bisiknya. "Lalu mengapa kau turunkan kami semua?"
"Karena aku sendiri tak tau tempat seperti apa yang Choi Siwon tinggali. Aku tak tau berapa banyak orang-orangnya. Aku hanya berjaga-jaga," Luhan hanya mengangguk beberapa kali.
14.00 KST
Beruntung karena hari ini gedung Kim Ent tampak agak sepi dari biasanya, tidak ada kegiatan tambahan. Mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya sejak pagi, masing-masing mendapatkan peran yang berbeda-beda sesuai dengan keahliannya.
Yixing dan Jongdae akan turun ke lapangan dan meretas sistem dari dalam sebuah van bergerak. Karena jarak terjauh yang bisa mereka retas untuk sistem baru hanya dua mil. Mereka berdua harus bekerja sama dengan baik, karena Jongin membantu tim lapangan.
Kyungsoo dan Baekhyun mengawasi dari pusat melalui rekaman CCTV dan melaporkan keberadaan target serta hal apa yang dilakukan target. Setidaknya harus ada yang menjaga markas ketika semua orang pergi menjalankan tugas.
Chanyeol bertugas menemukan target pada titik pertama, mengikutinya hingga melewati Suho dititik kedua, sedangkan Jongin bertugas dititik ketiga. Tugas Luhan mengikuti keseluruhan tugas diketiga titik dari jarak yang lebih jauh untuk memantau jika ada perubahan rencana oleh target atau melaporkan apa-apa saja yang terjadi.
Zitao sendiri mengawasi jalan-jalan yang akan dilewati target. Dia akan mengikuti dari jarak yang sangat jauh. Kris sudah membekalinya dengan teropong jarak jauh dan senjata AS50 snipper rifle dengan keakuratan tinggi, dilengkapi peluru berukuran 12,7 mm. Jarak tembak terjauh 1,8 km, dan itu benar-benar membuat Zitao senang karena permintaannya terpenuhi. Alasan Kris menurunkan Zitao sebenarnya hanya untuk berjaga-jaga jika ada pihak yang memang benar-benar harus dilumpuhkan terlebih dahulu.
Sedangkan Kris mengawasi mereka dari jauh. Kris akan selalu turun ke lapangan saat tugas. Meskipun keberadaannya di lapangan jarang ditemukan, dia akan memberikan perintah, memberitahu tentang melanjutkan atau membatalkan tugas, dan mengevaluasi.
Atau mengomel kepada siapa saja yang menyalahi aturan.
Setelah persiapan selesai, semua orang berangkat. Chanyeol dan Luhan sama-sama berangkat menuju stasiun kereta di tengah kota. Mereka berangkat terpisah, Luhan benar-benar harus menjaga jarak dengan Chanyeol.
"Satu clear," suara Chanyeol terdengar. Melaporkan dia telah pada posisi.
"Dua clear," Suho menyahut.
"Tiga clear," suara Jongin terdengar.
Luhan mengangguk sedikit setelah melewati Chanyeol. Dia duduk dibangku tunggu penumpang dan memainkan ponselnya. Suasana sedikit agak padat. "Chanyeol sedang memindai," bisiknya, melapor pada Kris. Luhan melirik CCTV diatasnya.
"Aku sudah melihatmu," bisik Baekhyun. Luhan hanya mengangguk.
Chanyeol berdiri jauh didepannya. Matanya bekerja cepat dengan lensa kontak khusus untuk mencocokkan wajah dari setiap orang yang turun dari kereta. Sedangkan Luhan menunggunya, untuk mengkonfirmasi.
Chanyeol berbisik. "Target ditemukan. Seratus persen terkonfirmasi,"
Luhan diam-diam mengikuti pandangan Chanyeol, pandangannya menangkap pria berbadan besar menggunakan setelan jas rapi dan menenteng tas koper berwarna hitam. Pria itu melewati Chanyeol dan dengan acuh, Chanyeol mengikuti dibelakangnya.
"Target bergerak. Jarak Sembilan meter," Luhan melaporkan.
"Luhan perhatikan jarakmu," Kris menyahut.
Luhan mulai bergerak juga setelah menunggu Chanyeol agak menjauh. Luhan mengikuti Chanyeol dari seberang jalan, berusaha tidak terlihat sedang mengikutinya. Target menaiki bus kota begitu pula Chanyeol dan Luhan yang tetap mengikuti.
"Dua belas menit lagi akan sampai pemberhentian selanjutnya," suara Yixing terdengar.
"Chanyeol tinggalkan target dititik sebelum dia turun, Suho sudah diposisi," Kris memberikan perintah dan dibalas dehaman rendah oleh Chanyeol.
"Zitao," Luhan berbisik, mengonfirmasi keberadaan gadis itu.
Beberapa suara berisik terdengar ditelinga Luhan. "Aku mengikuti tepat dibelakang kalian, menuju titik kedua," suara Zitao terdengar berteriak.
Secara refleks Luhan menoleh keluar jendela. Zitao benar, dia berada disana. Mengendarai motor besar dan melewati bus yang Luhan tumpangi, dia memakai tas ransel besar dipunggungnya. Zitao membunyikan klakson dua kali sebelum melesat kencang dan hilang ditelan padatnya lalu lintas sore hari.
Luhan tidak merespon.
Bus yang mereka tumpangi berhenti dan Chanyeol bergegas turun, dia mengangguk sekali kepada Luhan sebelum akhirnya berjalan dengan santai keluar dari bus. "Target dalam posisi," lapor Chanyeol setelah dia menghilang di balik pintu bus.
"Luhan?" Kris memanggil. Luhan berdeham sekali. Tandanya semua masih berjalan sesuai rencana. "Zitao?" Kris kembali memanggil.
Terdengar suara napas yang memburu di telinga Luhan, napas Zitao terengah-engah. "Dalam posisi," akhirnya gadis itu bersuara.
Tiba-tiba bus berhenti mendadak, membuat tubuh Luhan sedikit terlempar ke depan. Gadis itu mengaduh, berpura-pura meringis seperti gadis-gadis pada umumnya. Gumaman protes terdengar diseluruh koridor bus.
Seorang siswa sekolah dengan pakaian seragam lengkap memasuki bus. Dia mengucapkan kata maaf beberapa kali kepada sopir bus dan penumpang. Siswa itu berdiri tepat di sebelah Luhan karena semua bangku telah penuh, dan Luhan setengah mati menahan tawa.
Siswa itu Suho. Karena wajahnya yang tampak polos dan muda, Kris menyuruhnya menjadi seorang siswa.
Luhan berdiri, menepuk telapak tangan Suho sedikit dari balik jaket tebalnya dan bergegas turun dari bus. Setelah bus itu menjauh, Luhan segera berlari menelusuri daerah di balik kedai yang ramai.
Langkah kakinya yang cepat menembus kerumunan orang yang berjalan santai sore itu. Luhan menutupi kepalanya dengan topi, berusaha juga menutupi wajahnya. Gadis itu berhenti tepat di depan sebuah rumah makan dan memasuki mobil hitam yang terparkir disana.
Chanyeol sudah menunggunya, begitu Luhan masuk, Chanyeol langsung menginjak pedal gas tanpa ampun. Membuat Luhan memekik kaget karena dia belum menggunakan sabuk pengaman, sedangkan Chanyeol tertawa puas. Mobil hitam itu meluncur dengan cepat di jalanan ibukota yang tak terlalu padat.
Luhan melepaskan jaketnya, menggantinya dengan sweater berwarna abu-abu. Mengganti sepatu bootnya dengan sepatu lari dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Setidaknya dia harus tampak berbeda kali ini.
"Jongin?" Chanyeol memanggil.
"Pada posisi," Jongin menjawab dengan pelan, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan.
"Target mendekat dalam dua belas detik," balas Suho.
Chanyeol semakin menekan pedal gas mobilnya dan lagi-lagi Luhan harus terpelanting ke belakang. Luhan mengaduh dan Chanyeol hanya terkekeh. "Kau bisa membunuhku Park,"
Chanyeol menyeringai pada Luhan. "Sepertinya sudah lama kau tidak turun ke jalanan," sindir Chanyeol, gadis itu hanya bisa mendengus kesal dan mengeratkan pegangannya pada kursi penumpang.
Chanyeol memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan menurunkan Luhan disana. Tepat beberapa detik setelah target turun dari bus. Suho tersenyum dari balik bus, tangannya melambai ke arah utara. Luhan mengikuti arah tangan Suho.
Jongin berada disana, berjalan santai diseberang jalan dengan headset ditelinganya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan lollipop bertengger manis di bibirnya. Dia tampak seperti bersenandung karena menggerak-gerakkan kepalanya beberapa kali, tapi Luhan tak bisa mendengar suara Jongin.
Dan akhirnya Luhan tau, Jongin aktor yang hebat.
Bibir Jongin bergerak dan bersamaan dengan itu suara beratnya terdengar. "Pada posisi," dia menoleh ke belakang, ke arah Luhan yang jauh. Jongin tersenyum sedikit, kemudian kembali mengikuti target dari belakang.
Luhan sendiri berjalan santai karena jalanan yang sepi. Meskipun pandangannya tetap mengawasi, tapi sesekali dia menengok ke kanan dan kekiri, memperhatikan toko-toko yang sepi pembeli disekitarnya.
Mata Luhan menelusuri deretan toko bunga dipinggir jalan. Entah mulai kapan Luhan senang memperhatikan bunga, karena bunga-bunga dalam etalase itu menarik perhatiannya. Luhan tersenyum, mengingat hari-hari dimana masa kecilnya penuh dengan bunga.
Luhan menghentikan langkahnya saat terdengar suara erangan dan rintihan ditelinganya. Suara itu kemudian lenyap dan disusul dengan suara berisik dari semua orang. Semua orang berbicara disaat bersamaan. Sedangkan Luhan terlalu lambat untuk merespon. Tiba-tiba saja otaknya tak bisa dibuat berpikir.
Luhan baru menyadari itu suara erangan Jongin, pandangannya langsung menatap tajam ke arah di tempat terakhir pria itu berdiri. Jongin masih tetap ada disana. Luhan membelalakkan matanya kaget, hampir tidak mempercayai pengelihatannya sendiri.
Tepat didepan mata Luhan, Jongin tersungkur.
Seperti kesetanan, Luhan berlari secepat mungkin. Tangannya bergerak menyingkirkan apa saja yang ada didepannya, mendorong orang-orang yang menghalangi langkahnya. Telinganya berdengung hebat karena semua orang bersuara secara bersamaan, dia menyingkirkan sebelah earchipnya, berusah memfokuskan diri. Luhan berlari menyebrangi jalan dengan langkah panjang, dihadiahi suara klakson mobil yang memekakkan telinga.
Luhan tak peduli.
Jongin terbaring disana, dengan headset yang masih menempel ditelinganya, dan lollipop yang jatuh kotor ditanah. Dengan cepat Luhan memeriksa nadi Jongin, Jongin masih hidup, bahkan dia masih sadar, hanya saja dadanya berlubang karena tembakan. Luhan mengumpat kasar saat membuka jaket Jongin, tangan gadis itu berubah menjadi merah karena darah.
Jongin masih merintih kesakitan.
Luhan membuang napas, berusaha menenangkan diri. Berusaha tidak panik dan tidak melakukan hal-hal bodoh. "Jongin tertembak, kuulangi Jongin tertembak," ucap gadis itu cepat, tangannya bergerak mencari-cari sesuatu dalam ranselnya. Mencari obat bius. "J-street 1123. Tepat di depan pertigaan," tambahnya.
Suara Kris terdengar member perintah, tapi Luhan tidak paham apa yang Kris bicarakan. Luhan terlalu fokus untuk mempertahankan Jongin tetap hidup.
Luhan menyuntikan obat bius pada lengan Jongin, Luhan pikir dia harus berusaha mengurangi rasa sakit yang Jongin rasakan. "Jongin tetap bersamaku," bisik Luhan menempelkan bibirnya ditelinga Jongin. Leher Jongin masih berdenyut meskipun sudah sangat lemah. Luhan mengulangi kalimatnya beberapa kali, suaranya bergetar hebat.
Jongin kehilangan banyak darah.
Jongin sudah hampir kehilangan kesadarannya, membuat Luhan panik bukan main. Luhan mengedarkan pandangan kesekitarnya, berusaha menemukan sosok Kris atau siapa saja yang bisa segera mengevakuasi Jongin.
Lalu pandangannya tertuju pada satu titik di jendela gedung apartemen tinggi jauh diujung jalan. Luhan memperhatikan lagi titik itu baik-baik, dia sempat melihat sebuah kilatan, dan sekarang dia melihat kilatan itu lagi. Hanya sekilas, tapi tampak jelas.
Denyut nadi Jongin yang terasa makin melemah ditangan Luhan membuatnya kembali memperhatikan Jongin. "Lima belas detik," kata Kris. Luhan samar-samar bisa mendengar suara sirene ambulan dari jauh.
Luhan bergegas meninggalkan Jongin. Dia berlari menyebrangi jalan menuju gedung apartemen yang tadi diperhatikannya.
"Ini jebakan. Batalkan misi," Kris memerintahkan dengan suara lantang. "Kuulangi batalkan misi, semua orang kembali," Kris mempertegas suaranya.
Luhan memeriksa GPS-nya, memastikan semua orang masih tetap pada posisi. "Tidak Kris. Suruh Chanyeol dan Suho tetap mengejar target. Posisi mereka berdekatan,"
"LUHAN," Kris membentak.
"Aku tak punya waktu untuk berdebat," balas Luhan sambil terus berlari. Luhan harus berlari menembus kerumunan pekerja yang baru keluar dari kantor, sesekali dia harus berhenti agar tidak menabrak orang-orang yang menggerutu. Suara Kris mengintruksikan Chanyeol dan Suho untuk tetap pada rencana membuat Luhan sedikit tersenyum. Kris mau mendengarkan. "Zitao?" panggil Luhan.
Suara ditelinga Luhan terdengar berisik. "Aku melihatmu," bisik Zitao.
Luhan terengah-engah. "Gedung apartemen putih di ujung Barat. Lantai lima belas nomor 9," Zitao tidak menyahut. "Yixing," panggil Luhan lagi.
"Sebentar," ucap Yixing acuh, suara hentakan keyboard yang dihasilkan oleh gerakan tangannya sampai ditelinga Luhan. "Rolland Apartement,"
"Berikan aku liftnya," Luhan menunggu lampu pejalan kaki berwarna hijau. Ketika lampu sudah berubah warna, Luhan kembali berlari dan menembus pintu masuk apartemen yang terbuka lebar. Begitu masuk, dia sudah disambut dengan pintu lift yang terbuka.
Luhan menyelinap masuk, tidak membiarkan orang-orang yang menunggu lift masuk bersamanya. Yixing memudahkan aksesnya, karena berhasil meretas sistem gedung itu. Hanya dua puluh detik, Luhan sudah sampai pada lantai yang ditujunya.
Dia kembali berlari, tapi kemudian langkahnya terhenti begitu saja saat dia mendengar suara desingan peluru, tidak terlalu keras tapi terdengar sangat jelas ditelinganya. Luhan terengah-engah, napasnya putus-putus.
"Zitao," erangnya kesal. Luhan kembali berjalan pelan, merasa frustasi, langkahnya sangat pelan menelusuri koridor apartemen yang sepi.
Zitao mendesah putus asa. "Brengsek. Dia hampir melarikan diri,"
Luhan mengerang lagi. Dia harus mendapatkan orang itu hidup-hidup untuk mendapatkan informasi. Tapi dia kehilangan. "Yixing berikan aku kodenya,"
"238763," sahut Yixing.
Luhan membuka pintu apartemen itu dengan cepat. Begitu dia masuk, seorang pria sudah tersungkur dengan darah menggenang disekitar tubuhnya. Luhan membalikkan tubuh pria itu dengan kakinya, kepalanya berlubang.
"Wow," Luhan berdecak kagum. "Berapa jaraknya?" Luhan memandang keluar jendela, mencari kemungkinan untuk melihat Zitao.
Zitao terdengar berisik ditelinganya. "Lima ratus meter?" Zitao sendiri tidak yakin.
Luhan hanya mengangguk tak percaya. Zitao benar-benar berbakat.
Pandangan Luhan beralih menuju sebuah senjata canggih yang mengarah langsung keluar jendela, lengkap dengan teropong jarak jauh. Luhan memilih mengabaikan hal itu, dia kembali menelusuri ruangan itu, pandangannya tertuju pada komputer dan ponsel yang tergeletak begitu saja.
Luhan menyambungkan ponselnya dengan komputer itu dan mengambil datanya. "Pusat akan datang dalam dua setengah menit. Segera keluar dari sana," suara Kris menginterupsi kegiatannya.
Luhan mendesah ringan. "Aku butuh tiga puluh detik," setelahnya, Luhan mengambil ponselnya dan berjalan keluar dengan cepat. "Bersihkan CCTV-nya,"
"Selesai dalam dua menit," sahut Yixing santai.
Luhan berjalan menuju lift dengan langkah lebar. Dia melepas sweaternya dan membuangnya begitu saja, menyisahkan kemeja tebal bermotif zebra yang melekat sempurna pada tubuhnya. Luhan benar-benar harus menghindari bertemu orang-orang dari pusat sebelum mereka menanyakan hal-hal prosedural yang rumit padanya.
Luhan sempat berpapasan dengan beberapa orang berbaju serba hitam saat dia sampai di lantai dasar. Dengan pakaiannya yang terlihat seperti gadis normal dan cara berjalannya yang santai, Luhan lolos dari mereka.
"Aku di belakang gedung," Jongdae bersuara.
Luhan memutar tubuhnya, menempelkan ponsel ditelinga, seolah-olah sedang menerima telepon. Tapi entah mengapa, sekarang dia merasa sedang diperhatikan, tapi dia sendiri tidak tau apa dan siapa yang memperhatikannya. Bahkan Luhan merasa dirinya sedang mengalami spotlight effect.
Luhan tak mungkin berhalusinasi.
Tiba-tiba saja Luhan menangkap pantulan seorang pria yang tergambar jelas di pintu masuk lobby apartemen. Pria itu berdiri disana, tubuhnya menghadap ke arah Luhan,Luhan tidak bisa melihat mata pria itu.
Luhan benar, dia sedang diawasi. Instingnya bekerja dengan baik sekarang. Memberitahukan apa-apa saja yang bahkan Luhan sendiri tak tau. Insting seorang mata-mata memang selalu tepat, tidak bisa diragukan.
Luhan memandangi pria itu lagi, berkali-kali melalui kaca pintu lobby apartemen. Pria itu menggunakan celana jeans berwarna biru, dengan kaus putih yang dibalut jaket kulit, topi berwarna hitam menyatu dengan rambutnya yang pekat, dan juga kacamata hitam bertengger manis dihidungnya.
Luhan sedikit terkejut, nyaris tak mempercayai pandangannya sendiri, tapi setelah pria itu melepas kacamatanya, Luhan benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya. Luhan benar-benar yakin sekarang, dia yakin tak salah lihat.
Luhan mengenal pria itu dengan baik.
"Luhan?" Kris menginterupsi kegiatan Luhan yang sedang mengawasi diam-diam. Seperti seolah-olah tersadar, dia segera melangkahkan kakinya menuju belakang gedung.
"Bagaimana keadaan Jongin?" Luhan mencoba tenang, matanya masih mengawasi pria itu melalui kaca-kaca di sepanjang jalan yang dilaluinya. Pria itu masih mengikutinya dari seberang jalan.
"Kami masih tak tau. Baekhyun dan Kyungsoo sudah disana," suara Kris terdengar sendu.
Luhan mendesah, merasa menyesal dan bersalah. "Maafkan kelalaiannku. Aku tak memperhatikannya dengan baik,"
"Kali ini benar-benar bukan salahmu. Kita benar-benar harus sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk," suara Kris terdengar tenang, meskipun dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dalam nada suaranya.
Luhan menghembuskan napas berat, dia benar-benar merasa kehilangan. Melihat Jongin sekarat sama dengan melihat saudaranya sendiri meregang nyawa. Luhan sudah menyayangi semua orang dalam tim seperti dia menyayangi keluarganya sendiri. Tak terkecuali Jongin.
Jongin tertembak, tepat di depan matanya, dan itu membuat Luhan sedikit terguncang. Sekuat apapun Luhan, dia tetap punya perasaan.
Jongdae melambai padanya saat Luhan sampai di belakang gedung yang sepi. Jongdae menggunakan jaket kulit hitam dan mengendarai motor besar. Dia hanya melepas helm-nya tanpa turun dari motor. Luhan melemparkan ranselnya dan Jongdae balas melemparkan jaket tebal padanya.
"Kau tidak naik?" tanya Jongdae, menatap Luhan bingung saat Luhan memakai jaket itu. Luhan hanya menggeleng.
"Aku akan bicara dengan Kris," ucap Luhan sambil memandangi keadaan sekitar, tapi pria yang tadi membuntutinya tidak ada disana.
Jongdae mengangguk sekali, sebelum akhirnya mengusap lengan Luhan pelan. "Kerja bagus," bisiknya.
Luhan mendecih."Kerja bagus apanya. Aku menyaksikan temanku sekarat,"
Jongdae tersenyum. Meremas tangan Luhan sekali, memberikan kekuatan pada gadis itu. "Jongin akan baik-baik saja. Itu semua bukan salahmu,"
"Kau bicara seolah-olah kau Tuhan," balas Luhan acuh. Jongdae hanya tersenyum ringan sebelum akhirnya melesat pergi.
Luhan sudah meminta Yixing memutuskan sambungan dirinya dengan Chanyeol, Suho, dan juga Jongin. Dia benar-benar tidak tau keadaan Suho dan Chanyeol. Dia benar-benar kehilangan arah. Luhan merasa benar-benar bersalah karena membiarkan target lolos begitu saja. Meskipun ini hanya jebakan, seharusnya dia tidak harus bertindak bodoh dengan berlari menuju apartemen itu. Lalu membiarkan seseorang terbunuh, tanpa bisa dimintai keterangan.
Sungguh pekerjaan yang sia-sia.
Sedangkan Luhan sudah tidak mendengar suara Jongin sama sekali sejak dia dibawa ke dalam ambulans, Luhan tak sanggup harus mendengarkan sirene ambulans terus menerus. Luhan sangat paham dengan semua konsekuensi dari pekerjaannya. Hal-hal apa yang mengancam dirinya dan orang-orang ditim-nya.
Tapi hal ini benar-benar membuat Luhan terpukul.
Sementara Luhan merutuki dirinya sendiri, teriakan Kris ditelingannya membuatnya refleks mengumpat. "Apa yang terjadi Kris?" Luhan masih berbisik, berusaha mengendalikan dirinya sendiri tetap tenang.
Kris tidak menyahut. Tapi suara Zitao kemudian terdengar. "Chanyeol dan Suho sudah menyerahkan target kepada pusat,"
Luhan nyaris memekik karena gembira. Tapi Luhan harus mengendalikan dirinya. Ada seseorang yang sedang mengawasinya sekarang.
"Kau melakukan hal yang benar, Luhan," Kris memuji.
Luhan hanya tersenyum tipis. "Sudah naluri,"
"Kembalilah kemari, kita harus melihat Jongin. Kuharap dia baik-baik saja,"
Luhan mendengus. "Dia tidak baik-baik saja. Dadanya berlubang," Luhan bersikeras.
"Kita belum tau Luhan," Kris benar. Luhan memilih diam, memutuskan untuk mengalah.
"Kris," bisiknya. Kris tidak menyahut tapi Luhan tau dia sedang mendengarkan. "Ada urusan penting yang harus kulakukan sekarang," pintanya, nada suaranya terdengar memohon.
"Urusan penting?" Kris meminta penjelasan.
Luhan menimang-nimang kalimat yang mungkin akan membungkam Kris. "Hanya masalah kecil. Akan kuhubungi kau jika sudah selesai. Kabari aku jika terjadi sesuatu pada Jongin,"
"Lu-," Kris belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Luhan sudah mematikan sinyalnya.
Luhan melepas earchip-nya dan menyimpannya dalam saku. Luhan berjalan sangat tenang, dia sama sekali tidak menoleh ke belakang, tapi dia tau pria itu masih membuntutinya. Insting Luhan sangat kuat.
Luhan berbelok, memasuki sebuah kompleks pertokoan yang penuh dengan orang-orang sibuk di sore hari. Orang-orang berkumpul untuk berbelanja atau hanya sekedar lewat dan melihat-lihat. Luhan meliuk-liukkan tubuhnya ditengah kerumunan orang yang padat. Berusaha membaur dengan keadaan sekitarnya.
Dia harus beberapa kali menghindari orang yang hampir menabraknya. Gadis itu tampak kesusahan menemukan jalan meskipun ia hanya berjalan menelusuri keramaian, tentunya dengan seorang pria yang membuntutinya dari jarak yang cukup dekat.
Luhan melihat kesempatan datang saat beberapa pria berbadan besar mengangkat sebuah karpet tinggi. Dengan cepat gadis itu menyelinap dibaliknya, Luhan hanya tersenyum saat pria-pria itu menatapnya bingung.
Ketika yakin dirinya tak lagi diikuti, Luhan berlari menjauh dari kerumunan. Bukan untuk melarikan diri, tapi gadis itu malah memutar arah. Dia memutari beberapa kedai disebelah kanannya dan kembali lagi ke belakang tempatnya tadi menghilang, membaur lagi dengan kerumunan.
Luhan berdiri jauh di belakang pria yang mengikutinya. Pria itu berdiri disana, ditempatnya tadi menghilang, sekarang pria itu berhenti berjalan, kepalanya menoleh kekanan dan kekiri mencari sesuatu.
Luhan berjalan perlahan mendekati pria itu dari belakang. Berusaha sepelan mungkin tidak menimbulkan gerakan yang mencurigakan. Luhan berdiri tepat di belakang pria itu, menepuk punggungnya dengan cukup keras.
Pria itu sedikit kaget, dia hendak berbalik, tapi dengan cepat Luhan sudah menarik kedua tangannya kebelakang, mengunci pergerakannya. Pria itu mengerang kesakitan, tapi tidak ada satu orangpun yang menyadarinya. Tangannya meronta-ronta, tapi Luhan tau cara mematikan gerakan orang lain.
Luhan menekuk kedua tangan pria itu dengan tangan kanannya, tangan kirinya merogoh saku mantelnya. Klik. Luhan memborgol tangan pria itu ke belakang tubuhnya, melepaskan jaket pria itu secara paksa ke belakang untuk menutupi tangannya yang terborgol.
Gerakan Luhan begitu cepat, bahkan pria itu nyaris tak dapat berkata-kata. Luhan merapatkan tubuhnya ketubuh pria itu, menempelkan tubuhnya dengan rapat disana. Luhan mendekatkan bibirnya telinga pria itu, meskipun dia harus berjinjit untuk melakukannya. Pria itu tidak merespon, dia tak ingin menarik perhatian orang di sekitarnya.
Luhan menempelkan bibirnya dibalik telinga pria itu. Pria itu bergidik, merasakan bibir Luhan yang basah ditelinganya.
"Apa yang kau lakukan disini, Oh Sehun?"
.
TBC
.
Hallo author kembali setelah pergi lama/hehe/ salahkan tugas kuliah author yang menumpuk. Author sendiri nggak nyangka udah masuk chapter 6 dan masih ada aja yang penasaran sama kelanjutan kisahnya. Jadi akhirnya dilanjutkan deh /yeay/. Terima kasih yang sudah membaca dan me-review. Author sendiri ngerasa ini sudah mulai agak membosankan. Author mohon maaf ya.
Endingnya gimana nih enaknya, pada penasaran kan Sehun-nya jadi jahat atau baik. Author sendiri awalnya juga bingung enaknya Sehun dibuat gimana /hehe/. Tapi tenang aja untuk HUNHAN shipper, karena author adalah HUNHAN shipper sejati, maka semuanya akan baik-baik saja. Pada penasaran nggak sih Kim Jongin mati atau enggak? Tunggu chapter depan ya /huehue/.
Untuk yang nanya fanfiction author yang lain kok nggak update-update, mau fokus ke ini dulu ya, gantian /ngik/.
Btw, author seneng banget sama comeback EXO yang LOVE ME RIGHT, soalnya part Sehun banyak nge-rap-nya, agak panjang gitu. Kan biasanya Sehun dilagu-lagu sebelumnya, ya tau sendirilah. Pokoknya ini lagu author seneng banget dengerin part-nya Sehun.
Akhir kalimat, silahkan review untuk memberikan ide bagaimana enaknya endingnya, silahkan juga memberikan kritik dan saran, atau apa kekurangan dari chapter ini. Ditunggu review-nya. Terima kasih sudah membaca
Love, author :*
