"Apa yang kau lakukan disini, Oh Sehun?" bisik Luhan, suaranya terdengar menggeram kesal menahan amarah meskipun raut wajahnya tampak tenang.

Sehun tidak menjawab.

Sehun menoleh sedikit ke belakang dan Luhan langsung memutar tangan Sehun keatas, pria itu nyaris menjerit karena Luhan benar-benar mengeratkan pegangannya pada Sehun, gadis itu tidak memberikan kesempatan Sehun untuk bergerak.

Luhan mendorong tubuh Sehun maju, perlahan, berusaha menjauhi kerumunan yang sibuk.

Sehun tidak melakukan perlawanan yang berarti. Dia hanya membisikkan nama Luhan beberapa kali untuk memperingatkan gadis itu, tapi Luhan sama sekali tak peduli. Dengan lihai Luhan mendorong Sehun berjalan seolah-olah gadis itu hanya sedang menggandeng tangannya. Entah apa dan mengapa Luhan tak memandang wajah Sehun sama sekali.

Gadis itu bingung.

Sementara Luhan berusaha menyeret Sehun keluar dari kerumunan yang ramai, dia berpikir. Berpikir tentang apa saja kemungkinan yang terjadi setelah ini, berpikir bagaimana dia harus menghadapi Sehun. Menanyakan apa yang dilakukannya disini.

Dan gadis itu belum menemukan jawaban.

Luhan menggiring Sehun menuju belakang sebuah pertokoan yang lengang, tepat disana mobilnya terparkir. Luhan membuka pintu kursi penumpang depan dan membanting tubuh Sehun kedalamnya. Sehun hanya meringis saat kepalanya terbentur atap mobil.

"Luhan, dengarkan aku," Sehun berbisik, suaranya terdengar gugup.

Sedangkan Luhan hanya mengembuskan napas berat sambil memejamkan mata. Dia harus berusaha mengendalikan diri, sebelum dia benar-benar membunuh Sehun disini, sekarang juga.

Luhan harus tenang.

Luhan memutar badannya menghadap Sehun, memandangi mata pria itu dalam-dalam. Ada gurat ketakutan dimata Sehun dan Luhan tau dia selalu menyeramkan jika sedang serius. Luhan diam untuk beberapa saat, gadis itu berdebat dengan dirinya sendiri. Memutuskan sesuatu yang menurutnya sungguh berat. Luhan memejamkan matanya erat-erat, kemudian tangan mungilnya dengan cepat membuka laci di depan Sehun, mengambil sapu tangan dari sana.

Sehun menatap istrinya dengan pandangan ketakutan, wajah serius Luhan benar-benar bisa membuat Sehun gemetar.

Luhan hanya tersenyum sedikit. Menatap Sehun seolah-olah benar-benar akan membunuhnya sekarang, tangannya menuangkan cairan hitam disapu tangan yang tadi diambilnya. "Kita akan bicara nanti," Luhan berbisik.

Sehun menatap Luhan tak percaya, dia menggeleng perlahan.

Dengan cepat Luhan mendekapkan sapu tangan ke wajah Sehun. Sehun meronta-ronta, berusaha menghindari gerakan Luhan yang tiba-tiba. Baik Luhan maupun Sehun sebenarnya tau, jika usaha Sehun itu akan mustahil. Hanya beberapa saat dan Luhan sudah berhasil membuat Sehun tak sadarkan diri.

Luhan mengerang kesal, tangannya memukul kemudi beberapa kali. Dia benar-benar marah. Entah apa namanya, mungkin Luhan juga sedikit merasa sedih. Luhan benar-benar tidak yakin siapa Sehun sebenarnya, dan mengapa Sehun mengikutinya. Dia benar-benar merasa bodoh, berpikir bahwa Sehun mencintainya.

Untuk pertama kalinya, Luhan merasakan hatinya benar-benar sakit. Dia benar-benar kecewa. Dengan fakta baru bahwa Sehun mengikutinya, mungkin dugaan awal Kris benar, bahwa Sehun bukan pria baik-baik. Dan Luhan merasa menyesal, sangat menyesal.

Karena Luhan sudah memberikan hatinya pada pria itu. Seluruh hatinya.

19.00 KST

Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha memfokuskan pandangannya yang masih tampak kabur. Saat Sehun benar-benar sudah membuka matanya, Sehun melihat Luhan disana. Gadis itu menggunakan kaus panjang yang menutupi celana pendeknya, rambutnya diikat seluruhnya keatas dan berdiri di depan Sehun dengan tatapan tajam, kedua tangannya dilipat di depan dada.

Dimata Sehun, Luhan tampak mempesona dan mengerikan disaat bersamaan.

Sehun dalam posisi duduk di ranjangnya sendiri, dia tak memakai baju, hanya celana jeans-nya yang masih menempel pada tubuhnya. Kedua tangan terbuka lebar dan terikat dikedua sisi ranjang. Sehun mengerang beberapa kali, berusaha menghalau rasa nyeri yang menyerang kepalanya.

Luhan berjalan perlahan mendekatinya, membuat seolah-seolah dia sedang mengulur waktu untuk membunuh Sehun, gadis itu akhirnya mendudukan dirinya dipangkuan Sehun. Sehun masih menunduk dan memejamkan mata. Benar-benar menghindari tatapan Luhan yang seolah-seolah ingin membunuhnya.

Dan memang benar Luhan mungkin akan membunuhnya.

Tubuh Sehun sedikit gemetar saat jemari Luhan yang dingin menyetuh dagunya dengan kasar dan mendongakkan kepalanya keatas secara paksa. Sehun tak bisa menutupi kegugupannya. "Oh Sehun," bisiknya, nada suaranya terdengar berat. Luhan menatap mata Sehun dengan tajam. Gadis itu memaksa Sehun menatap matanya yang berkilat karena amarah.

Sehun tidak menjawab.

Luhan mendekatkan wajahnya. "Apa yang kau lakukan Oh Sehun?" Luhan menampar wajah Sehun.

Sehun mengerang, memejamkan mata menahan nyeri dipipinya. "Aku ingin memastikan kau baik-baik saja," ucapnya terbata.

Luhan mencibir, sedikit tertawa. "Lucu sekali Oh Sehun,"

"Sungguh," Sehun nyaris berbisik, tak menatap Luhan sama sekali. Sehun kehilangan keberanian untuk hanya sekedar menatap Luhan. Sehun tau dirinya salah, bahkan dia tak tau cara menguraikan masalah yang sudah dibuatnya.

Sedangkan Luhan sudah terlanjur murka. Luhan menarik dirinya dari Sehun dan berdiri memunggungi pria itu. Sehun hanya memandangi punggung Luhan yang separuh terbuka dengan heran. Gadis itu mengambil sesuatu di meja kamar Sehun dan berjalan kembali mendekatinya.

Luhan memutar-mutar benda mengkilat itu ditangannya. Beberapa detik berlalu, Sehun baru menyadari benda yang dibawa Luhan itu pisau lipatnya.

Oh tidak.

Luhan kembali mendudukan dirinya diatas tubuh Sehun. "Jadi untuk siapa kau bekerja?" bisik Luhan di depan wajah Sehun yang tampak lebih pucat dari biasanya. Tubuh Sehun gemetar, sedangkan bibirnya terkatup rapat. "Aku menunggu Oh Sehun," Luhan menggerak-gerakkan ujung pisau lipatnya yang tajam disepanjang perut Sehun yang telanjang.

Sehun menelan ludahnya kasar, merasakan tubuh Luhan yang semakin menekannya. "Aku hanya mengkhawatirkanmu, sungguh,"

Luhan menatap Sehun tanpa senyuman. Tangan mungilnya bergerak menggerakkan ujung pisau yang tajam ke permukaan dada Sehun yang pias. Sehun mengejang, merasa setiap jengkal tubuhnya memberontak, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.

Luhan benar-benar menguasai tubuhnya.

"Kau tau bahkan aku bisa membunuh siapa saja," Luhan tertawa sinis, tangannya masih memainkan pisau lipatnya didada Sehun yang telanjang.

Sehun memejamkan mata, terlalu takut memikirkan apa yang akan Luhan lakukan padanya. "Luhan-,"

"Aku butuh alasan, Sehun. Alasan logis," potong Luhan, kemudian menampar wajah Sehun sekali lagi dan Sehun hanya meringis merasakan darah keluar dari sudut bibirnya. "Kau tak bisa menjawabku?" Luhan kembali menampar wajah Sehun, nada suara gadis itu mulai meninggi.

Sehun menggeram dengan kasar. "Aku benar-benar hanya memastikan kau baik-baik saja," nada suara Sehun masih tetap tenang sedangkan Luhan menunggu, gadis itu mengamati wajah Sehun dalam-dalam. Luhan tau Sehun menyembunyikan sesuatu dari balik matanya yang gugup.

Luhan menarik rambut Sehun ke belakang dengan kasar, membuatnya mendongakkan kepalanya ke atas. "Selama ini aku juga baik-baik saja," Luhan berbisik di perpotongan leher Sehun.

Sehun nyaris menjerit karena Luhan menggigit lehernya kuat-kuat, sedangkan tangannya masih menarik rambut Sehun dengan kasar. "Aku hanya ingin menebus kesalahanku, Luhan," Sehun akhirnya bersuara dengan susah payah.

Luhan mengernyit bingung. "Aku tak mengerti," bisik Luhan, melepaskan penyiksaannya pada Sehun.

Sehun terengah-engah mencari udara. "Aku yang menyewa kalian untuk mengusut kasus kematian kakakku," napas Sehun putus-putus dan Sehun masih menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Luhan yang mematikan.

Luhan mendengus, kemudian tangannya kembali menarik rambut Sehun kuat-kuat, membuatnya menatap Luhan. Gadis itu mengamati wajah Sehun, mencari kebohongan dimatanya. Tapi Sehun tidak berbohong.

Luhan memejamkan mata dengan kesal. "Lihat bagaimana bagusnya kau membohongi kami semua Sehun. Kau bilang kau bahkan tak tau dengan dunia seperti ini," Luhan mengeratkan tarikannya, Sehun hanya meringis menahan sakit.

"Aku memang benar-benar tidak tau. Aku hanya mendatangi kantor detektif, hanya sebatas itu," Sehun mendesis menahan sakit sedangkan Luhan memandanginya dengan tajam, masih mencari kebohongan dimata Sehun, dan lagi-lagi Luhan tak menemukan apapun. Hanya ada ketakutan dimata pria itu. "Kumohon percaya padaku," Sehun memohon.

Pertahanan tubuh Luhan nyaris runtuh melihat pria yang dikasihinya kesakitan karenanya. Perasaan dan logikanya bertempur dalam dirinya, saling berdebat. Keduanya sama-sama ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa. Luhan sendiri tau dia tak bisa menyiksa Sehun seperti ini, tapi Luhan juga tau dia harus menjalankan prosedur dengan baik.

Perasaan Luhan harus mengalah. Dia harus professional.

Ponsel Luhan yang bergetar dimeja kamar Sehun membuatnya tersadar dari lamunan singkatnya. Luhan melepaskan Sehun, setelah sebelumnya membenturkan kepala sehun ke kepala ranjang, Luhan mengambil ponselnya dengan satu gerakan cepat.

Kris.

Luhan menerima panggilan itu. "Apa yang kau lakukan pada Sehun?" Kris nyaris berteriak, membuat Luhan menjauhkan ponsel dari telinganya. "LUHAN," Kris kembali membentak.

Luhan tertawa, pandangannya beralih pada Sehun yang sedang menatapnya dengan bingung. Wajah pria itu masih diliputi ketakutan. "Wah mengapa aku tidak terkejut," sindirnya.

Kris menggeram. "Berhenti bercanda, Xi Luhan," nada suara Kris terdengar berat.

Luhan kembali tertawa. "Aku heran. Dulu kau benar-benar ingin menjadi malaikat mautnya, sekarang kau berubah menjadi malaikat pelindungnya,"

"Kau salah paham,"

"Aku tak tau," Luhan membalas cepat.

Kris mendesah sebal. "Sehun benar-benar tidak bersalah. Dia tak tau apa-apa,"

"Sehun bilang dia yang menyewamu,"

Kris mendengus. "Ya. Aku juga baru mendengarnya pagi ini dari pusat karena beberapa orang disana melihatmu dan Sehun menghabiskan waktu bersama, jadi mereka memberitahuku. Aku belum sempat mengatakannya padamu," Kris menjelaskan panjang lebar.

"Kau yakin? Bahkan dia mengikutiku tadi," Luhan mendebat.

"Aku benar-benar tak tau Sehun bodoh atau bagaimana. Tapi aku benar-benar yakin Sehun tidak bersalah," suara Kris terdengar kembali tenang.

"Bagaimana kau bisa yakin dia orang baik-baik?" Luhan mendebat, gadis itu benar-benar tak yakin siapa Sehun sebenarnya.

Kris tertawa, membuat Luhan mengerutkan dahi bingung. "Kau pikir aku bodoh membiarkan orang yang mengerti rahasia perusahaan bebas berkeliaran begitu saja? Tidak, bodoh,"

Luhan mendengus kesal, merasa Kris sudah mempermainkannya. "Apa saja yang sudah kau lakukan pada Sehun?" nada suara Luhan meninggi.

"Well, aku menyuruh beberapa orang untuk mengikutinya selama ini. Aku meretas semua data komputer dan ponselnya. Aku bahkan mengambil data black box mobilnya,"

Luhan terkekeh, merasa bodoh. "Wah mengapa aku sempat meragukanmu?"

Kris tertawa. "Selesaikan itu," ucapnya sebelum memutuskan sambungan telepon sepihak.

Luhan mengembuskan napas beberapa kali, menenangkan diri. Dia merasa bersalah kepada Sehun. Tak seharusnya dia menyeretnya kemari. Luhan tau dia terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Seharusnya dia menanyakan segala sesuatunya pada Kris.

Luhan benar-benar merasa bodoh.

Luhan kembali memasuki kamar Sehun, pria itu masih disana dengan kepala tertunduk dan tangan terikat. Luhan benar-benar merasa bersalah, lebih tepatnya menyesal.

Tubuh Sehun kembali mengejang saat Luhan lagi-lagi menaiki tubuhnya. Luhan mendudukkan dirinya di atas Sehun, mendongakkan wajah Sehun dengan lembut agar menatapnya. Mata Sehun masih terlihat ketakutan.

"Sampai kapan kau akan mengikatku seperti ini?" Sehun berbisik, suaranya nyaris memohon.

Luhan tersenyum tipis. "Sampai kau menyadari kesalahanmu,"

"Kumohon," bisik Sehun sangat pelan. Sehun benar-benar sudah kehabisan tenaga karena permainan Luhan.

Luhan mendesah ringan, mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun, kemudian berbisik di depan bibirnya. "Mengapa kau menghianatiku Oh Sehun?"

"Aku benar-benar ingin menjagamu," balas Sehun. Luhan menatap mata Sehun lagi, Luhan tau Sehun mengatakan hal yang sebenarnya.

"Bahkan kau tau itu tak perlu," Luhan kembali berbisik.

"Karena aku mencintaimu," ucap Sehun pelan. Entah mengapa perkataan Sehun membuat hatinya hangat, Luhan merasa nyaman. Luhan tau Sehun bersungguh-sungguh karena itu dia benar-benar merasa Sehun mencintainya, begitu pula dengan dirinya.

Luhan terkekeh. "Haruskah aku percaya itu?" balas Luhan, berpura-pura.

Sehun menatap Luhan tajam kali ini. "Berhenti bercanda," Sehun meninggikan suaranya, nyaris membentak dan Luhan hanya mengangkat sebelah alisnya tak peduli. "Ya Tuhan, aku mempertaruhkan seluruh harga diriku untuk mengatakan hal itu dan kau menganggapku membual. Ya Tuhan, aku benar-benar tak percaya ini," Sehun membuang muka dengan kesal.

Luhan tertawa melihat kelakukan Sehun yang marah. "Kau akan tetap bertingkah seperti itu, Oh Sehun?" bisiknya.

Sehun mendengus. "Bahkan aku tak peduli jika aku mati seperti ini," Luhan hanya tertawa mendengarnya.

Luhan menarik wajah Sehun mendekat pada wajahnya, bibir Luhan mengecup kedua kelopak mata Sehun dengan lembut. Kemudian Luhan menjilat sudut bibir Sehun yang berdarah. Sehun memejamkan mata, merasakan perih dibibirnya. Luhan mengecup bibir Sehun perlahan dan Sehun balas menciumnya.

Sementara Sehun mulai merasa nyaman, Luhan menggerakkan tangannya ditubuh Sehun yang telanjang. Bibir Luhan yang basah beralih mengecupi tulang rahang Sehun, menelusuri leher jenjang pria itu dengan lembut. Ciuman Luhan turun kedada dan perut Sehun, Luhan mengecupi bagian itu perlahan dan sesekali menghisap, membuat Sehun megap-megap, napasnya tersengal-sengal menahan gairah.

"Luhan," desahnya, berusaha menghentikan aktivitas Luhan ditubuhnya.

Luhan menarik tubuhnya, menatap Sehun dengan sayang. Jemari lentiknya mengusap keringat didahi Sehun, membuat pria itu bergidik ngeri. "Maafkan aku, Oh Sehun," bisiknya ringan sebelum Luhan meraup bibir Sehun dan melumatnya. Sehun berusaha membalas ciuman Luhan yang tiba-tiba saja berubah menjadi terburu-buru.

Masih dengan bibirnya bekerja dibibir Sehun, Luhan menggerakkan tangannya melesuri lengan Sehun, berusaha melepaskan ikatan pada kedua tangan Sehun. Setelah ikatan Sehun terlepas, pria itu mencengkeram pinggang Luhan dengan kasar. Luhan memekik dan melepaskan ciumannya.

Sehun membanting tubuh Luhan hingga gadis itu sekarang berada di bawah tubuhnya. Tangan kanannya memegang kedua tangan Luhan keatas, tak memberikan kesempatan Luhan untuk melawan. Sedangkan tangan kirinya berusaha melepaskan celana pendek Luhan.

Luhan memang kuat tapi bagaimanapun Sehun tetap seorang pria.

Luhan kembali memekik saat Sehun menerjang lehernya, mencium dan menghisap lehernya dengan kasar. "Sehun," Luhan terengah-engah, tubuhnya meronta-ronta minta dilepaskan.

Sehun menarik tubuhnya dan melepaskan Luhan yang kesusahan mencari udara. "Lihat apa yang kau perbuat padaku?" bisik Sehun, tangannya menuntun jemari Luhan menuju kulitnya yang memerah.

Luhan meringis menatap tubuh Sehun yang berantakan. Kedua sudut bibir pria itu berdarah dan ada lebam dipipinya, rambutnya yang halus tampak berantakan. Tubuh Sehun yang pucat dihiasi banyak tanda biru dan merah hasil perbuatan Luhan.

Luhan hanya tersenyum malu, merasa bersalah. Luhan sadar dia sudah kelewatan.

Sehun membasahi bibirnya dan menyeringai, membuat Luhan sedikit takut. Dengan cepat tangan pria itu merobek kaus Luhan dan membuangnya begitu saja. Luhan terkesiap. "Tidak," bisik gadis itu lemah. "Apa yang kau lakukan, Oh Sehun," Luhan nyaris memekik ketika Sehun mengigit lehernya.

Sehun tersenyum ringan diperpotongan leher Luhan. "Melakukan apa yang tadi kau lakukan," Luhan membelalakkan matanya saat Sehun kembali menerjang tubuhnya.

Bibir Sehun yang basah mengecupi seluruh bagian tubuh Luhan yang telanjang. Bibirnya bergerak dengan perlahan menelusuri leher Luhan, menghisapnya dengan kasar dan berhasil membuat Luhan melenguh ringan.

"Ya Tuhan, Sehun," Luhan terkesiap saat bibir Sehun mengecup dadanya perlahan, sedangkan tangan kirinya bermain dipahanya yang polos. Sentuhan Sehun benar-benar bisa membuatnya gila. Bahkan Sehun tidak membiarkan Luhan bernapas dengan benar.

Luhan bergerak-gerak tak nyaman.

"Bisakah kau diam?" bisik Sehun Bibir Sehun bergerak perlahan menelusuri wajah Luhan dan mengecup kelopak mata gadis itu agar terpejam, berusaha membuat Luhan tenang. Sementara Sehun menghujani Luhan dengan kecupan-kecupan kecil yang memabukkan, Luhan berusaha melepaskan tangannya yang dicengkeram oleh pria itu.

Luhan sempat berpikir apakah yang sekarang dilakukannya benar. Luhan terus menerus menanyakan pada dirinya sendiri apakah dia benar-benar mencintai Sehun. Luhan tau bahwa Sehun adalah orang pertama yang bisa melunakknya. Bahkan Sehun bisa membuat amarahnya menguap begitu saja.

Dulu Luhan sangat akrab dengan panggilan wanita tanpa perasaan. Semua orang menjulukinya seperti itu karena dia akan dengan mudah meniduri pria asing. Luhan akan mengambil kendali atas semuanya, tapi sekarang Luhan tau dirinya berubah. Luhan tau Sehun memiliki pengaruh besar terhadap dirinya dan kehidupannya. Bahkan Luhan membiarkan tubuhnya dikuasai orang lain. Sepertinya Luhan benar-benar jatuh cinta.

Otak Luhan berhenti bekerja saat Sehun mulai mengecupi pusat tubuhnya yang masih tertutup dan membuatnya nyaris memekik karena kaget. Kecupan-kecupan Sehun membuat Luhan menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggunya.

Luhan mengerang tak mampu menahan reaksinya terhadap perasaan yang muncul akibat kelakuan Sehun pada tubuhnya. Luhan benar-benar menginginkan Sehun. Sekujur tubuhnya seakan menyala, terbakar oleh hasrat dan gairah yang meledak-ledak.

Sehun dengan segera merasakan perubahan dalam diri Luhan dan hasrat yang nyaris dikhawatirknnya itu mengguncang seluruh tubuhnya begitu Sehun menyadari Luhan tak akan menolaknya. "Ya Tuhan. Aku benar-benar menginginkanmu," Sehun mengerang, melepaskan bibirnya dari tubuh Luhan.

Napas Luhan terengah-engah, tubuhnya berkeringat. "Oh Sehun," Luhan berbisik sangat pelan. Benar-benar kehilangan kemampuan untuk sekedar bicara. Sehun meminta persetujuan tanpa suara dan Luhan hanya mengangguk beberapa kali.

Sehun tersenyum sedikit. "Kau sangat cantik," bibirnya mengecup bibir Luhan sekilas. "Begitu cantik," gumamnya sambil memandang Luhan dengan tatapan penuh pemujaan.

Luhan tak menyangka dirinya tersipu malu oleh kalimat yang Sehun lontarkan. Ketika tangan Sehun kembali merabanya, Luhan terkesiap, nyaris tak mampu memahami sensasi yang melesat turun menuju pusat tubuhnya. Kemudian Sehun meremasnya dan Luhan tau dirinya telah terbuai oleh permainan Sehun. Padahal ini bukan yang pertama untuknya, tapi rasanya sungguh berbeda.

Luhan mengerang. "Ya Tuhan," Luhan benar-benar menikmati apa yang Sehun lakukan padanya saat ini.

"Kau benar-benar cantik," Sehun kembali berbisik.

Luhan tidak bisa menyangkalnya, jadi dia membenamkan kedua tangannya ke dalam rambut hitam Sehun, mendekap pria itu erat-erat. Luhan memutuskan untuk memberikan seluruh tubuhnya pada Sehun lagi kali ini. Lelaki itu tak pernah akan bisa menghentikan segala kenikmatan yang dilakukan terhadapnya.

Dan Luhan tau dia tak akan sanggup menolak.

Sehun tersenyum sementara bibirnya menjelajahi jalan setapak menuju pusat tubuh Luhan lagi, lidahnya bergerak menelusuri perut Luhan yang lembab. "Kurasa aku harus melakukan sesuatu pada celana dalam sialan ini,"

Luhan terkekeh. "Aku menyukai celana dalamku,"

"Bukannya kau tidak kelihatan memukau dengan celana dalam ini, tapi kurasa kau lebih memukau saat tak menggunakannya," Luhan tertawa renyah saat Sehun menarik celana dalamnya dengan cepat, menelanjangi gadis itu.

Sehun beringsut ke atas hingga hidungnya menempel pada hidung Luhan, gadis itu terengah-engah oleh gairah. "Kurasa mulai sekarang tidak ada lagi orang lain yang perlu tau betapa indahnya lekuk tubuhmu," Sehun berkata dengan tenang, namun ada ketegasan dalam nada suaranya, seolah-olah menekankan bahwa Luhan hanya miliknya, benar-benar hanya miliknya.

Luhan tidak menjawab.

Seakan ingin menguatkan argumennya, Sehun mengangkupkan tangannya ke bagian tubuh Luhan yang sensitif. "Ya Tuhan, Sehun," Luhan terkesiap merasakan Sehun begitu terasa panas dan keras menempel rapat pada tubuhnya.

Jantung Luhan berdegup begitu liar saat Sehun memposisikan dirinya untuk memasuki gadis itu. Sedangkan Sehun berusaha mempersiapkan Luhan, gadis itu mencengkeram kedua lengan Sehun dengan kuat. Ingatan Luhan tentang bercinta dengan Sehun kembali muncul, membuatnya siap merasakan rasa sakit.

Sehun mendorong tubuhnya dengan sangat pelan, berusaha membuat Luhan nyaman dan tak merasa kesakitan. Bahkan dirinya bergerak sangat pelan. Sedangkan Luhan memejamkan mata menahan sakit dan nikmat secara bersamaan. Luhan sudah berkali-kali melakukan hal ini tapi entah mengapa bercinta dengan Sehun membuatnya merasa ini pengalaman pertamanya.

Luhan terkesiap saat sentuhan Sehun mengguncang tubuhnya. Gadis itu tak bisa mengendalikan detak jantung dan juga napasnya. Sehun tak membiarkannya beristirahat atau berhenti sejenak. Kemudian Sehun merasakan punggung Luhan melengkung saat puncak gairahnya meledak, Luhan memekik, nyaris menjerit. Napas gadis itu pendek-pendek dan terengah-engah, Luhan berusaha menghirup udara sebanyak mungkin.

Luhan benar-benar terkuras habis.

Sehun juga terengah-engah, sambil mengatur napas dia menatap gadis itu dengan pandangan sayang. Jemarinya mengusap keringat yang mengalir didahi Luhan. "Kau benar-benar cantik," bisiknya. Biasanya Luhan akan tertawa mengejek saat dirayu atau bahkan menampar, tapi sekarang dia benar-benar senang. "Terima kasih," Sehun memeluk gadisnya sangat erat. Seolah-olah takut kehilangan Luhan.

"Untuk?" Luhan berbisik.

Sehun mengeratkan pelukannya pada tubuh Luhan yang polos. "Membiarkanku memilikimu," Luhan benar-benar nyaris menangis karena terharu. Untuk pertama kalinya dia merasakan cinta yang begitu besar. "Aku mencintaimu," tambah Sehun.

"Aku mencintaimu," balas Luhan dengan senyum bahagia terpancar dikedua matanya.

.

10.00 KST

LUHAN POV

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, aku harus berlari menelusuri kerumunan orang yang sibuk hanya untuk menggapai pintu lift yang hampir penuh. Menyelipkan tubuhku diantara kerumunan orang-orang yang mulai menggerutu karena harus berdesakan didalam lift yang sempit.

Tapi aku tak peduli.

Beruntungnya semua orang sudah turun sebelum lantai atas. Saat pintu lift terbuka, ruangan kerja tampak lebih sedikit berbeda. Hanya ada Kris disana, sedang menatap layar komputer dengan serius.

"Kemana semua orang?" tanyaku pada Kris.

Kris mendongak, sedikit terkejut mellihatku. Sebenarnya apa yang sedang dilakukannya hingga tak menyadari kedatanganku. "Mereka mendapatkan sedikit cuti,"

"Bagaimana keadaan Jongin?"

Kris menggeleng ringan, kemudian menghembuskan napas berat. "Masih belum sadar. Operasinya berjalan lancar. Beruntung pelurunya meleset dari jantung. Jongin benar-benar mendapat keajaiban,"

Aku menghempaskan tubuhku dikursi kerja Jongin, memandangi layar komputernya yang mati. "Dan dia butuh keajaiban lebih untuk bertahan hidup," dengusku sebal.

Kris berdiri tepat dihadapanku, membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajahku. "Bagaimana kau tau?"

Aku menatapnya dengan kesal. "Apa yang kau bicarakan?"

"Orang di apartemen itu," Kris berbisik. "Bagaimana kau tau orang itu yang menembak Jongin?" pandangan Kris menyelidik, menusuk tepat dimataku.

Aku mengangkat bahu acuh, mendorong kursi mundur, menghindari tatapan Kris. "Aku hanya mengikuti naluri,"

Kris mencibir. "Selama ini nalurimu buruk sekali," Kris menjauhkan tubuhnya, kemudian kembali berkutat dengan komputernya.

Aku mengangkat bahu acuh, merasa tak perlu menanggapi perkataan Kris. "Jadi apa rencanamu?"

"Kita akan menyerang delapan hari lagi," Kris berbicara tanpa mentapku, tangannya bekerja dengan cepat dikeyboard komputernya.

"Hari apa itu?"

Kris memejamkan mata dan menghembuskan napas berat. "Hari pengiriman barang. Kurasa mereka akan kembali menyelundupkan barang illegal dari China delapan hari lagi,"

Aku mentapnya dengan heran, tak tau bagaimana jalan pikirannya sekarang. Bahkan jika tim ini harus menyerang, tidak akan secepat ini. "Kau yakin? Kita bahkan kekurangan orang, Jongin belum sadar, Kris,"

Kris menggeleng.

"Jangan katakan kau akan meminta bantuan pada kantor kepolisian," sambungku.

Kris mendecih, tertawa mengejek. "Aku tidak akan pernah meminta bantuan para keparat kolot itu,"

Aku tak tahan untuk tidak tertawa. Kris benar-benar membenci hal-hal yang berhubungan dengan kepolisian, tanpa kuketahui sebabnya. "Mereka hanya menjalankan aturan. Bukannya itu bagus?"

"Persetan dengan aturan," umpatnya, dan lagi-lagi aku hanya bisa tertawa karena berhasil membuat Kris jengkel.

"Jadi apa rencanamu?"

Kris melirikku sekilas, kemudian senyum terukir diwajahnya yang pucat. "Hanya ada satu orang dipikiranku," bisiknya.

Aku menggeser kursiku untuk mendekatinya, menilai ekspresinya yang susah dibaca. Pandangan Kris terlihat berbinar-binar, seolah-olah dia telah menemukan perhiasan berharga. Sepertinya sekarang aku sudah kembali bisa membaca pikiran Kris yang mulai tergambar jelas diwajahnya. "Tidak," tanpa sadar aku memekik, setelah menyadari apa yang dipikirkan Kris. Itu benar-benar ide buruk.

"Tentu saja ya," balas Kris acuh.

Aku bangkit dan mendorong kursi kerja Jongin ke belakang dengan kasar. "Jangan bodoh Kris, ini tugas besar,"

Kris mendongakkan kepalanya, menatapku yang berdiri didepannya, lagi-lagi dia tersenyum manis. Sungguh aku benci tatapan matanya. "Aku tau dia mampu," bisiknya.

"Tidak. Dia tidak mampu," aku mendebatnya, sama sekali tidak memberinya kesempatan memikirkan ide gila itu.

"Ayolah Luhan kau jangan egois seperti ini,"

Aku benar-benar geram, pernyataan Kris membuatku terbakar amarah. "Kau yang egois brengsek. Sehun bahkan tak memiliki bakat dibidang ini sama sekali. Jangan bodoh Kris. Kau hanya akan menghancurkan kita semua," aku membentaknya.

Raut wajah Kris masih tetap tenang dan aku berusaha menahan diri untuk tidakmenjambaknya sekarang. "Bukannya dia atlet judo dulu,"

Aku mendengus kesal, kemudian mencengkeram kerah kemeja Kris kuat-kuat. "Kris kumohon," bisikku.

Kris masih menatapku dengan senyuman hangat. "Aku akan meminta persetujuannya,"

Aku semakin menguatkan cengkeramanku pada kerah kemejanya. "Aku benar-benar akan menghentikanmu," desisku.

Kris mencibir. "Coba saja kalau begitu,"

"Brengsek," dan begitu saja tanganku sudah menampar wajah Kris dengan keras, aku benar-benar kesal. Sedangkan Kris hanya meringis dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan jari.

Kris memandangku, kemudian menyeringai. "Kau memukul dengan baik sekarang,"

Lalu detik berikutnya Kris sudah membantingku ke sofa di sampingnya. Tangan kanannya mencengkeram kedua tanganku dengan kuat keatas, sedangkan kakinya mengunci pergerakan kakiku. Kris benar-benar tidak memberikan kesempatan padaku untuk bergerak.

Kris mengungkungku di bawah tubuhnya, memenjarakan tubuhku dengan sangat kuat. Aku meronta, tapi tidak menimbulkan reaksi yang berarti. Kris benar-benar kuat.

Kris kembali menyeringai saat aku menatapnya. Napasnya terengah-engah karena amarah. "Luhan kau benar-benar tau cara membuat orang marah," desisnya.

Aku bergidik ngeri menatap mata Kris yang berkilat karena amarah. Kris menyeringai lagi, kemudian membasahi bibirnya dengan sensual, seolah-olah akan menerkamku. Dengan cepat bibir basah Kris menempel pada leherku yang terbuka. Bibirnya mengecap, mengecup,dan menghisap leherku dengan kuat. "Kris," aku memekik, berusaha menghindari ciumannya yang brutal.

Kris tidak menjawabku, sama sekali tak menghiraukanku. Bibirnya masih bergerak menelusuri jalan menuju dadaku yang separuh terbuka. "Hentikan Kris," desisku pelan,menahan desahan yang sudah sampai diujung lidah.

Aku tak ingin menunjukkan bahwa aku menikmati ini. Aku memang munafik.

Bibir Kris yang panas perlahan turun menuju dadaku, bibirnya benar-benar lembut. Dengan cepat mengecupi inci demi inci bagian tubuhku. Oh aku benar-benar merindukan sentuhan Kris yang kasar dan lembut disaat bersamaan. Cara kerja bibirnya luar biasa, mirip seperti sentuhan Sehun.

Sehun.

Ya Tuhan apa yang kupikirkan.

"Tidak Kris," bisikku pelan, tapi Kris sama sekali tidak peduli dengan rengekanku. Bibirnya beralih kebibirku dan menciumku dengan kasar. Gerakannya benar-benar kasar dan terburu-buru. Kris selalu bisa membuatku merasakan sakit dan nikmat disaat bersamaan. Dia benar-benar hebat dalam mencium.

Suara dengtinganlift membuatku sedikit kaget dan berusaha mendongak, tapi Kris tidak menghentikan kegiatannya. "Wow! Apa yang kalian lakukan?" suara Chanyeol terdengar menggema keseluruh ruangan. Dengan susah payah aku berusaha menoleh ke suamber suara dan Chanyeol sedang berdiri di depan pintu lift dengan mulut terbuka lebar.

"Chanyeol, tolong aku," erangku saat Kris sudah melepaskan bibirnya dari bibirkku. Aku terengah-engah mencari udara. Ciuman Kris kembali turun menelusuri leher dan dadaku. Kris benar-benar tak mempedulikan Chanyeol sama sekali.

"Kau bilang kau hanya akan tidur dengan Sehun," protes Chanyeol, kemudian menghempaskan tubuhnya diatas kepalaku tanpa berniat membantu.

Sialan.

"Aww," aku mengerang saat Kris mengigiti dadaku. Ya Tuhan, Kris benar-benar luar biasa, dia menakjubkan. Ya Tuhan apa yang kupikirkan. "Kris ini pemerkosaan. Aku akan menuntutmu, brengsek," aku bisa merasakan Kris terkekeh ringan tapi gerakannya tidak berhenti. "Park Chanyeol kumohon tolonglah aku," aku memohon.

Chanyeol mendengus ringan. "Kurasa aku sedang ingin melihatmu telanjang. Yah kebetulan Baekhyun sedang tidak ada disini,"

"CHANYEOL," jeritanku hanya dihadiahi kekehan ringan khas Chanyeol. Aku menggerak-gerakkan tubuhku dengan liar saat tangan Kris mulai membuka kancing kemejaku. "Brengsek. Lepaskan aku," entah mengapa Kris tertawa keras dan kemudian melepaskanku. Matanya menatapku tajam dan aku terengah-engah karena amarah dan juga gairah.

Kris menciumku lagi, kali ini dengan lembut, menempelkan bibirnya yang membara dibibirku. Kris berhasil membuatku tenang. "Aku akan melepaskanmu kali ini, Nyonya Oh yang terhormat,"

Aku mendengus kasar, kemudian mendorong tubuhnya dengan paksa, mengusap tubuhku yang basah dan juga bibirku yang bengkak. "Brengsek," umpatku, merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku mengangkat tangan, siap menamparnya lagi, tapi Kris menahanku. Kris mencengkeram tanganku dengan kuat, lalu menarikku mendekati tubuhnya dan menciumku lagi.

Dengan lembut.

"Mau kulanjutkan?" Kris mengangkat sebelah alisnya dan Chanyeol terkikik menahan tawa. "Dengan Chanyeol sekalian?" Kris memandangi Chanyeol.

"Setuju," balas Chanyeol ringan.

Aku menelan ludah kasar, merasa gugup. Kemudian memutuskan untuk menggeleng, aku mengalah. Bukan saat yang tepat untuk melawan Kris dan bahkan Chanyeol. Kris akhirnya tertawa ringan dan mengusap kepalaku dengan lembut. Senyum manis menghiasi wajahnya. Berapa kali harus kubilang, aku benci senyuman itu.

Aku mendengus, menepis tangannya dengan kasar. "Maaf maaf aku kelepasan," bisik Kris, kedua tangannya terangkat keudara.

"Bibirmu kenapa?" tanya Chanyeol pada Kris.

Kris melirikku. "Ada singa betina yang menyerangku tiba-tiba,"

Chanyeol tertawa lagi dan aku memutar bola mata sebal. "Aku akan menemui Kyungsoo. Dan kau!" aku menuding Kris dengan telunjuk menempel tepat dihidungnya. "Pikirkan lagi rencana busukmu. Bahkan Chanyeol tak akan sanggup melatihnya," aku membentaknya dan Kris hanya tertawa.

"Siapa bilang aku yang akan melatihnya?" Chanyeol menyahut.

Aku menatap Kris meminta penjelasan tanpa suara. "Seseorang yang pernah menjadi tim,"

"Oh tidak," bisikku lemah. Kris sudah terlalu jauh.

.

.

.

TBC

Hallo terima kasih sudah membaca kelanjutan fanfiction ini. Author mohon maaf karena kelamaan update-nya, sekalinya update panjang begini. Dua minggu terakhir author sibuk ujian /huhu/. Sepertinya fanfiction ini semakin chapter semakin gaje, author sendiri sudah hampir kehilangan ide-ide. Jadi bagaimana kelanjutan kisah fanfiction ini, mau lanjut atau bagaimana author tunggu di-review.

Sekian dulu lebih kurangnya, author mohon maaf. Sampai jumpa dichapter depan.