Luhan mengemudikan mobil hitamnya dengan kecepatan rendah di jalanan ibukota yang padat. Meskipun gadis itu sedang mengemudi, pikirannya sedang tidak menyatu dengan tubuhnya. Luhan tidak bisa mengalihkan pikirannya dari pernyataan Kris yang mengejutkannya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kris yang tiba-tiba saja berubah menjadi aneh dan tak bisa ditebak.
Dan Luhan tau dia tak bisa berbuat banyak.
Luhan juga tau keputusan Kris untuk merekrut Sehun pasti sudah dipertimbangkan dengan baik, bahkan Luhan yakin Kris meminta saran dari anggota tim dan pasti seluruh orang setuju. Alasan Kris merekrut Sehun sebenarnya cukup logis. Sehun sudah terlalu jauh mengetahui tentang pekerjaan ini, setidaknya Kris berpikir bahwa Sehun terlalu banyak terlibat dan dia memang harus terlibat. Tim ini juga kekurangan orang dan Sehun juga memiliki bakat yang bisa dilatih, meskipun Luhan tak yakin itu akan berjalan lancar.
Kris pasti sudah memikirkan kemungkinan terburuk jika ide ini gagal atau jika Sehun tidak berhasil menjalankan pelatihan dengan baik. Luhan masih tak habis pikir, Kris bahkan menyuruh Minseok melatih Sehun dalam seminggu, meskipun Kris harus membayar mahal untuk itu. Minseok menyuruhnya mengunjungi rumah setiap akhir pekan dan yang lebih mengejutkan lagi, Kris menyanggupi hal itu tanpa pikir panjang.
Minseok sendiri belum pernah gagal dalam melatih orang. Minseok benar-benar displin dan keras. Gadis itu mampu melatih orang dalam waktu singkat dan selalu dengan hasil yang memuaskan. Penampilan Minseok yang manis dan lucu sangat berbeda dengan kepribadian aslinya. Gadis itu benar-benar akan menjadi monster dan sangat menyeramkan saat melakukan pelatihan. Setau Luhan, Minseok pernah menjadi guru beladiri terbaik di Korea, sebelum cidera membuatnya harus berhenti dari pekerjaannya.
Luhan menghembuskan napas keras, pikirannya bercabang, selain memikirkan Jongin, yang paling banyak ada dipikirannya adalah Sehun. Memikirkan Sehun yang akan bergabung dengan timnya saja membuat perutnya bergejolak, belum lagi dia harus memikirkan penyiksaan yang akan Minseok lakukan pada Sehun nanti. Luhan takut Sehun tidak akan mampu menghadapinya.
Pikiran-pikiran Luhan membuatnya bergidik ngeri. Sekarang dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan Sehun. Luhan tidak ingin kehilangan Sehun, orang yang berhasil dicintainya.
Luhan menepikan mobinya dan setengah berlari memasuki kedai kopi diseberang rumah sakit tempat Jongin dirawat, dia berniat membawakan beberapa cup kopi untuk Kyungsoo yang sedang menunggu Jongin. Setidaknya Luhan pikir, dia harus menjenguk Jongin meskipun itu sedikit membuatnya semakin merasa bersalah karena dia masih terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Jongin.
Setelah menerima kopi pesanannya, Luhan bergegas menuju koridor rumah sakit yang lenggang dan menyapa beberapa orang berbaju hitam di pintu masuk, orang-orang yang dikirim Kris untuk menjaga rumah sakit tempat Jongin dirawat.
Saat Luhan sampai, Kyungsoo ada disana. Kyungsoo duduk sambil memejamkan mata didepan ruang Jongin dirawat. Mata Kyungsoo terbuka begitu saja saat mendengar langkah terburu-buru Luhan mendekat. Kyungsoo menatap Luhan dengan senyuman ringan diwajahnya yang lelah.
Luhan memeluknya, menepuk-nepuk punggung Kyungsoo pelan, berusaha memberikan kekuatan pada gadis itu. "Jongin baik-baik saja?" tanyanya hati-hati.
Kyungsoo mengangguk beberapa kali. "Setidaknya dia masih bisa bernapas,"
"Kau baik-baik saja?"
"Aku lebih baik dari Jongin," Kyungsoo tersenyum lagi.
Luhan hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecut. "Maafkan aku, Kyung. Aku tidak mengawasinya dengan baik," bisik Luhan pelan, kepalanya menunduk, merasa bersalah dan nada suaranya terdengar menyesal.
"Itu sama sekali bukan salahmu,"
Luhan mendengus. "Dan terima kasih sudah menghianatiku," Kyungsoo menatap Luhan heran, sebelah alisnya terangkat. "Terima kasih sudah memberi Kris dukungan untuk merekrut Sehun,"
Kyungsoo terkekeh, tangannya menepuk-nepuk punggung tangan Luhan perlahan. "Haruskah aku meminta maaf untuk itu?"
Luhan mencubit lengan Kyungsoo pelan, merasa gemas dengan tingkah gadis mungil itu. "Aku tak tau harus bagaimana Kyung. Aku bahkan tak bisa membayangkan orang yang kucintai masuk dalam dunia kejam ini,"
"Ya, aku baru tau kau mencintai Sehun," ejek Kyungsoo, menyenggol Luhan dengan bahunya. Luhan mendengus sebal, dia sedang serius sekarang, dia benar-benar butuh teman bicara. "Bukannya kau juga mencintai kami semua seperti kau mencintai Sehun?" sambung Kyungsoo akhirnya.
"Itu beda Kyung. Aku tidak mencintaimu seperti aku mencintai Sehun. Mungkin lebih pada bagaimana kau mencintai Jongin atau bagaimana Baekhyun yang tidak bisa hidup tanpa Chanyeol. Mirip seperti itu," Luhan menuutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Lagi-lagi Kyungsoo terkekeh ringan. "Itu yang kurasakan selama ini, Lu. Kau tau aku selalu mengkhawatirkan keselamatan kalian semua, terutama Jongin, dan saat aku dengar Jongin tertembak, aku benar-benar merasa takut. Aku merasa hilang untuk beberapa saat, bahkan aku tidak bisa memikirkan hal lain saat itu, yang ada dipikiranku hanya Jongin. Aku benar-benar berpikir bahwa aku harus kehilangan dia," air muka Kyungsoo berubah menjadi sendu, membuat Luhan melenyapkan pertanyaan-pertanyan yang sempat mampir dipikirannya.
Luhan hanya bisa menatap Kyungsoo dengan iba, merasa sedikit tau perasaan gadis itu, meski dia tak bisa berbuat apa-apa. Kesedihan Kyungsoo yang tersembunyi dibalik senyumannya, perlahan-perlahan tergambar jelas diwajahnya yang lelah. Luhan meraih tangan Kyungsoo, mencoba memberikan kekuatan pada Kyungsoo untuk bertahan.
Kyungsoo tersenyum ringan, pandangannya menerawang jauh. "Kau juga akan merasakannya karena kau mencintainya. Sama sepertiku dan Baekhyun, kau akan merasa takut kehilangan orang yang kau cintai. Tapi itu semua wajar karena kau mencintainya. Percaya padaku, Sehun orang yang bisa diandalkan dan dia akan baik-baik saja dengan Minseok," tambah Kyungsoo, sedangkan Luhan merasa kaget karena Kyungsoo bisa mengetahui hal yang dirisaukannya.
Kyungsoo benar-benar bisa membaca pikiran.
Luhan menatap Kyungsoo dengan pandangan menyelidik, Kyungsoo mencurigakan. "Bagaimana kau bisa yakin?"
Kyungsoo mengangkat bahu. "Aku hanya yakin. Sama seperti sekarang ini, aku yakin Jongin akan baik-baik saja," dengusnya ringan.
Luhan mengangguk. "Kuharap juga begitu," tidak ada lagi yang melanjutkan untuk bicara, lalu keduanya sama-sama terjebak dalam pikiran panjang masing-masing.
Luhan meninggalkan rumah sakit saat Baekhyun dan Zitao datang untuk menggantikan menjaga Jongin. Gadis itu benar-benar tidak tahan berada disana terlalu lama. Luhan tidak tahan melihat kesedihan Kyungsoo dan juga perasaan bersalah yang terus menerus menderanya. Keyakinan Kyungsoo bahwa Jongin akan bertahan membuatnya sedikit tenang bahwa setidaknya Kyungsoo akan baik-baik saja.
Ponselnya bergetar saat mobilnya perlahan menjauhi gedung rumah sakit. Oh Sehun.
Luhan menghembuskan napas beberapa kali, menenangkan diri sebelum menjawab telepon Sehun. "Ya?" sapanya pelan, berusaha mati-matian mengatur suaranya agar tetap terdengar tenang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun.
Luhan tersenyum bodoh, mendengar suara Sehun memunculkan wajah pria itu dipikiran Luhan. "Tentu aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
Sehun tertawa ringan. "Aku baik-baik saja. Kris tidak menyentuhku sama sekali, persis seperti permintaanmu,"
Luhan terkekeh mendengar nada suara Sehun yang ceria. Jujur saja, hanya mendengar suara Sehun, sudah membuat Luhan sedikit merasa tenang. Mungkin Luhan benar-benar jatuh cinta, untuk yang pertama kalinya.
Dan dengan orang yang tepat
"Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan," kata Luhan akhirnya, tidak membiarkan dirinya sendiri tenggelam dalam bayang-bayang Sehun dipikirannya.
"Aku tunggu kau di rumah, Sayang," Luhan terkikik mendengar Sehun memanggilnya seperti itu. Meskipun Luhan menyukainya, tapi mendengar Sehun memanggilnya seperti itu masih membuatnya geli.
"Berhentilah memanggilku seperti itu. Itu membuatku geli," suara Luhan terdengar kesal sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon sepihak.
.
21:00 KST
LUHAN POV
Aku sampai di apartemen Sehun lebih awal kali ini, setelah mengunjungi Jongin di rumah sakit, aku memutuskan untuk langsung pulang tanpa meminta persetujuan Kris. Aku sedang tidak berhubungan baik dengan Kris sekarang. Sehun bilang Kris sudah menemuinya tadi siang. Meskipun aku tak yakin apa yang Kris katakan pada Sehun. Aku berani bertaruh Kris merayu Sehun dengan baik, bahkan Sehun tidak akan menolak sama sekali.
Aku sudah benar-benar mengenal Kris dengan baik. Si brengsek itu.
"Selamat datang," suara Sehun terdengar saat aku baru membuka pintu, nada suaranya terdengar lebih ceria dari biasanya. Mungkin Kris berhasil membuat suasana hatinya membaik.
Sehun duduk di meja makan dengan beberapa bungkus makanan instan berserakan dihadapannya, sedangkan mulutnya sibuk mengunyah. Aku berjalan mendekatinya, mencari tau apa yang dimakannya, dan ternyata dia sedang memakan mie instan dengan lahap. "Ya Tuhan, kau makan ini?" tanyaku, merasa prihatin karena Sehun memakan makanan yang tidak layak.
Oke, aku terlalu berlebihan.
"Aku tidak akan mati karena ini," sahutnya acuh, mulutnya masih sibuk mengunyah. Sehun tampak benar-benar menikmati makanannya. Dia benar-benar memakan mie instan itu seolah-olah sedang memakan makanan yang sangat enak.
Aku yang mulai gila atau Sehun memang tampak lebih seksi saat makan. Ya, sepertinya aku yang sudah mulai gila. Bagaimana bisa seorang pria yang sedang makan mie instan dengan berantakan terlihat lebih seksi.
Aku benar-benar sudah gila.
Kugelengkan kepalaku beberapa kali untuk menghilangkan pikiran-pikiran kotorku sebelum aku menyerang Sehun sekarang juga. Ya Tuhan, Sehun selalu bisa membangkitkan gairahku kapanpun juga dan aku tidak ingin menjadi seseorang yang mengingkan Sehun seperti itu setiap saat. Tapi Sehun membuatku tak bisa mengendalikan diri.
Ya Tuhan, pesona Sehun melumpuhkan logikaku.
"Jadi kau akan terus berdiri disana dan memandangiku memakan semua sampah ini?" suara Sehun membuatku tersadar dari lamunanku, melenyapkan pikiran-pikiran kotorku.
Ragu-ragu aku mengulurkan makanan yang dari tadi kupegang begitu saja dan menyingkirkan mangkuk mie instan yang tersisa separuh dari Sehun. "Makan ini,"
Sehun tersenyum, kemudian mengusap kepalaku dengan lembut. "Terima kasih," bisiknya.
Oh Sehun, jangan tersenyum seperti itu. Jangan memperlakukanku seperti ini. Karena hanya dengan begitu saja jantungku sudah bereaksi dengan luar biasa. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Aku benar-benar sudah gila.
"Kau benar-benar hanya akan berdiri disana dan memandangiku makan?" tanya Sehun lagi, lagi-lagi mengintrupsiku dari pikiran-pikiranku sendiri.
Aku mengangguk, menatapnya dengan senyuman mengembang. "Aku tidak makan diatas jam delapan," Sehun melihat jam dinding sekilas dan dia mengangguk setuju.
"Kau benar. Kau memang harus diet," ucapnya acuh sambil mengangkat bahu.
Aku memandanginya kesal, sedangkan Sehun tidak peduli sama sekali. Dia masih sibuk mengunyah potongan-potongan ayam. "Jadi maksudmu aku kelebihan berat badan?" aku sedikit berseru, meninggikan suaraku.
Sehun berhenti mengunyah, dia diam seolah membeku selama beberapa detik sebelum menatapku dengan tatapan bingung. "Aku mengatakannya?" tanyanya dengan ekspresi bodoh.
Ya Tuhan dia sangat menggemaskan.
"Kau bilang aku harus diet?" tanyaku sebal.
Sehun membeku. Lagi-lagi dia memasang ekspresi bodoh, wajahnya benar-benar tampak lucu. Dan manis. Dan tampan. Ya Tuhan.
"T-tidak. Luhan. B-bukan begitu," ucapnya terbata, Sehun tampak gugup, mungkin karena aku memandanginya dengan serius seperti beberapa saat lalu saat aku mengintrogasinya. "Kau sangat cantik, sungguh," Sehun mengangkat tangannya membentuk huruf V. "Tubuhmu benar-benar indah," sekarang tangannya membentuk lekukan diudara.
"Lalu?" desakku lagi, setengah mati menahan tawa.
"Kau sempurna," tambahnya, Sehun tersenyum manis, matanya berbinar-binar. Aku benar-benar tidak bisa menahan tawa. "Kau sedang datang bulan ya?" ada kehati-hatian dalam nada suaranya.
Aku menatapnya heran. "Bagaimana kau tau?"
Sehun menjentikkan jarinya puas. "Kau sensitif," ucapnya ringan.
Aku mengangkat bahu tak peduli. "Benarkah?" aku membersihkan sampah-sampah yang Sehun tinggalkan dimeja makan dan membuangnya ke tempat sampah.
Sehun mengangguk beberapa kali dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda. "Kau tau, aku kecewa,"
"Untuk?" lagi-lagi aku mengangkat alis bingung. Dia aneh.
Sehun mengunyah lagi. "Kau datang bulan, padahal aku sudah menunggumu seharian. Kupikir kita bisa melakukan sesuatu setelah bicara. Aku benar-benar kecewa,"
"Berhentilah berpikiran kotor, Oh Sehun. Selesaikan makananmu dan kita akan bicara," Sehun kembali tertawa dan mengangkat tangan dengan sikap hormat. "Aku akan mandi," tambahku.
"Kau yakin tidak butuh bantuan?"
Aku menarik telinganya dan Sehun mengaduh. "Berhenti berpikiran kotor, Oh mesum," Sehun meringis memegangi telinganya yang berubah menjadi merah.
Sehun sudah duduk diranjangnya yang rapi saat aku keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, Sehun tidak memakai baju saat tidur. Kulitnya yang pucat tampak menyatu dengan selimut gading yang menutupi badannya sebatang pinggang. Kedua tangannya terbuka, mengisyaratkan padaku untuk mendekat.
Aku diam ditempat, memandangi Sehun aneh. "Kita akan bicara kan?" tanyaku ragu-ragu, takut kalau Sehun akan berbuat lebih.
Sehun mengangguk, kedua lengannya masih terbuka lebar. "Tentu saja. Jangan bilang kau sedang berpikir yang tidak-tidak," Sehun menyeringai, memasang tatapan menggoda.
Aku mendecak sebal. "Kupikir akan lebih baik jika kita bicara di depan, cuacanya bagus sekali," aku menunjuk balkon kamar Sehun yang tertutup.
Sehun mendengus. "Jangan bodoh, ini hampir musim dingin. Begini pasti lebih nyaman. Kau hanya akan berdiri disitu atau datang kesini?"
Aku tersenyum ringan, kemudian menghempaskan tubuh padanya dengan satu gerakan cepat. Sehun menangkapku dalam pelukannya dan menutupi tubuhku dengan selimut gadingnya yang pucat. Kulit telanjangnya terasa hangat dan nyaman ditubuhku. Sehun menempelkan bibirnya dan mengecup puncak kepalaku, sedangkan aku bergelung pada dadanya yang bidang.
Ini nyaman dan menyenangkan.
Aku menelusuri dada Sehun dengan telunjuk, menimang-nimang pertanyaan yang akan kuajukan padanya. "Jadi apa yang tadi kau bicarakan dengan Kris?" tanyaku akhirnya, sebenarnya terlalu cepat memulai pembicaraan, tapi aku terlalu penasaran.
"Bukan hal yang penting," gumam Sehun, bibirnya beralih mengecupi pipiku.
Aku berdeham, entah mengapa mendadak merasa gugup. "Kau setuju begitu saja?" tanyaku lagi.
"Tentu saja. Bukannya Kris meminta bantuanku. Lagipula aku akan lebih bisa menjagamu," Sehun memainkan jari-jarinya dipunggungku, membentuk pola-pola abstrak yang tak kuketahui.
Aku mendecih, mengejeknya. "Kau hanya akan merepotkanku," Sehun terkekeh, kemudian membenamkan wajahnya dibalik rambutku dan menghirup udara kuat-kuat dibalik sana. "Oh Sehun?" suaraku nyaris seperti bisikan, tapi aku yakin Sehun bisa mendengarku.
Sehun hanya menjawab dengan dehaman.
Aku berhenti sejenak, berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk berbicara dengannya. "Apa kau benar-benar mencintaiku?" dan jantungku berdetak lebih cepat saat mengatakannya.
Sehun mendekatkan bibirnya ditelingaku dan berbisik sangat pelan. "Tentu saja,"
Aku bergidik geli merasakan bibirnya yang hangat menyapu permukaan telingaku yang sensitif. "Kau akan menuruti apa yang kuinginkan?"
"Apapun untukmu, Sayang," sahut Sehun cepat. Sehun menyingkirkan rambutku ke belakang dan mengecupi leherku yang terbuka.
Aku menghembuskan napas dengan kuat beberapa kali, berusaha menenangkan diri, sedangkan Sehun menatapku aneh, ada sorot kekhawatiran dimatanya. "Sehun kumohon jangan ikuti kemauan Kris. Aku mencintaimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku sungguh mengkhawatirkan keselamatanmu," aku menunduk, tak berani menatap wajahnya sekarang. Entah mengapa keberanianku untuk sekedar bicara dengan Sehun mendadak menguap begitu saja.
Sehun selalu bisa membuatku gugup.
Tangan Sehun menangkup daguku perlahan ke atas, membuatku mendongak dan menatap mata coklatnya yang seolah menyala karena pantulan cahaya temaram. Sehun mengecup bibirku dengan lembut dan aku memejamkan mata tanpa sadar, menikmati ciumannya yang menenangkan tanpa membalasnya. Hanya beberapa saat, Sehun melepaskan bibirnya. Jari-jarinya menelusuri wajahku perlahan, menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya dan aku terbuai hanya dengan sentuhannya.
Ya Tuhan apa yang salah denganku.
"Lalu bagaimana denganku," ucap Sehun, matanya menatap mataku dalam-dalam.
Aku memandanginya dengan bingung. "Apa maksudmu?"
Sehun menghembuskan napas berat, menegecup hidungku ringan. "Aku mencintaimu. Aku juga takut kehilanganmu, tapi kau tak peduli dengan permintaanku waktu itu," Sehun mengecupi daguku hingga ke tulang rahang. Sentuhannya begitu lembuat tapi selalu bisa membuatku panas.
Aku diam. Tidak bisa mengatakan apa-apa. Perkataan Sehun membungkamku. Sehun benar, aku tak peduli dengan permintaannya waktu itu. "Kumohon," bisikku akhirnya, tidak berhenti mencoba.
Sehun tersenyum lagi, kemudian kembali merengkuh tubuhku dalam pelukannya. "Maafkan aku, Sayang. Aku tak bisa menolak Kris," Sehun berhenti sejenak. "Dan berhentilah membuat tatapan itu Luhan, aku tidak ingin menerkammu," cih, kau yang menggodaku Oh Sehun. "Aku akan baik-baik saja. Aku janji," sambung Sehun.
"Minseok tak akan membiarkanmu baik-baik saja," dengusku.
"Dia kelihatan cantik dan lembut,"
"Dia memang sangat cantik. Kita lihat saja nanti apa kau masih bisa memanggilnya seperti itu," dengusku lagi, merasa kesal karena gagal membujuk Sehun.
Sehun terkekeh dan mengecup bibirku ringan. "Tidurlah kalau begitu. Jika kau tidak tidur, aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi,"
"Aku suka kau yang tidak terkendali," sahutku acuh. Sehun tertawa ringan dan mengeratkan pelukannya.
Aku memilih untuk berhenti membujuknya dan membenamkan wajahku ditubuh Sehun yang hangat. Sehun menepuk-nepukkan tangannya dipunggungku perlahan dan teratur. Sungguh nyaman rasanya. Sehun menggumamkan lagu nina-boboku dan suaranya selalu berhasil mengantarkanku tidur.
.
.
09.00 KST
Pagi ini seperti biasa, kami sarapan dengan tenang. Sehun memakan makanannya dengan lahap sementara aku harus makan dengan diiringi suara Kris yang sumbang. Ini masih pagi dan Kris sudah memberikan instruksi-instruksi yang tidak jelas.
Kris menyuruhku ke Beijing siang ini.
"Ah sial," dengusku, melepaskan earchip dengan kasar dan melemparkannya ke meja begitu saja. Aku tak peduli jika suara dengungannya akan merusak telinga Kris, itu justru bagus. Sehun yang sedang meminum susunya memandangiku heran dari balik gelas yang menutupi hampir separuh wajahnya. Aku mengangkat bahu acuh.
"Ada apa?" tanyanya akhirnya setelah aku tak merespon.
Aku mendengus lagi, menyendok telor gulung dengan paksa ke dalam mulut dan mengunyah dengan kasar. Sehun masih memandangiku dengan ekspresi kebingungan dan aku benar-benar kesal dengan Kris. "Aku akan ke Beijing siang ini," aku bicara dengan mulut penuh.
"Untuk apa?" tanya Sehun lagi, wajahnya penuh tanda tanya.
Aku mengangkat bahu, melanjutkan mengunyah. "Kris bilang ada barang yang harus diantar,"
"Bukannya mereka bisa membayar jasa ekspedisi,"
Aku hampir tersedak karena tertawa. "Bodoh. Itu bukan barang biasa, kau tau," ucapku setelah sesi batuk-batuk yang panjang.
Sehun nyengir. "Kurasa aku harus banyak belajar," aku hanya mengangguk, menyetujui pernyataannya.
Setelah membereskan sarapan dan bersiap-siap, aku dan Sehun harus bergegas menuju markas karena jalanan yang sudah pasti penuh dijam sibuk. Hari ini kami berangkat bersama karena Sehun harus menemui Kris untuk tes kesehatan.
Ya Tuhan ini akan mulai menjadi kebiasaan.
Sehun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menembus jalanan ibukota yang padat. Sedangkan aku memilih untuk memejamkan mata, beristirahat sejenak sebelum menjalankan tugas. Kris sepertinya ingin menjauhkanku dari Sehun hari ini dengan mengirimku ke luar negeri. Dia benar-benar brengsek.
Sepertinya aku tertidur karena hanya beberapa saat saja Sehun sudah menepikan mobilnya di depan kantor. Aku menggeliat malas, sedikit menguap. "Kau lelah?" tanya Sehun, menatapku dengan khawatir.
Aku tersenyum malu karena ketahuan tertidur. "Sedikit," dustaku.
Aku berjalan cepat menelusuri koridor kantor yang sibuk dengan Sehun mengekor di belakangku. Seorang resepsionis muda memberikan kopi pagiku, membuatku menghentikan langkah, begitu pula dengan Sehun. "Selamat pagi, Nona Luhan," ucapnya sambil tersenyum, tapi pandangannya mengarah kepada Sehun.
Aku balas tersenyum sedikit. "Minseok ada?"
"Hari ini Presdir mulai mengambil cuti. Tapi beliau masih dikantor," tambahnya, aku hanya mengangguk.
Aku menyesap kopi pagiku, rasanya sempurna. "Terima kasih. Ini enak," bisikku.
"Semoga harimu menyenangkan," ucapnya masih sambil tersenyum. Dia benar-benar murah senyum.
Aku hanya mengangguk sekali sebelum kembali berjalan menuju lift. Sehun berdiri tepat di sebelahku tanpa suara. "Kau gugup?" bisikku, berusaha memelankan suara agar tidak ada orang di dalam lift yang mendengar suaraku.
"Sedikit," balasnya acuh. Aku menyodorkan kopi pagiku padanya, Sehun hanya menggeleng. "Aku tidak minum kopi dipagi hari,"
Aku menepuk dahiku pelan, memasang ekspresi terkejut. "Ya Tuhan, aku lupa jika bayi hanya minum susu," Sehun mendengus ringan sebelum akhirnya menginjak kakiku pelan, aku hanya terkikik.
Pintu lift terbuka dilantai paling atas mereka semua ada disana kecuali Jongin dan Kyungsoo. Mereka semua duduk di meja pertemuan dengan pandangan mengarah padaku dan Sehun. Mereka menyapaku dengan senyuman tipis dan juga lambaian tangan ringan. Aku memandangi mereka semua bergantian, kemudian berjalan mendahului Sehun, menyembunyikan Sehun dibalik tubuhku. Entah mengapa bagiku mereka semua masih seperti ancaman untuk Sehun.
"Kau," Kris membentakku, menudingku dengan telunjuknya. "Kau tak punya jam?"
Aku menengok jam tanganku, aku hanya terlambat empat menit. "Jangan berlebihan, ini bahkan belum lima menit," dengusku kesal.
Kris berdiri dan berjalan kearahku, tiba-tiba saja ingatanku tentang Kris kemarin membuatku beringsut mundur, sekarang aku yang bersembunyi dibalik tubuh Sehun. Aku benar-benar malas berhadapan dengan Kris, atau aku takut dengannya. Aku masih trauma dengan perlakuannya kemarin. Sementara aku berlindung dibalik tubuh Sehun, Sehun memandangiku dan Kris bergantian dengan pandangan aneh.
"Ada apa denganmu?" tanya Sehun, menggerak-gerakkan tubuhnya yang kutempeli dengan rapat.
Kris mengulurkan tangannya padaku. "Kau baik-baik saja Luhan?"
Aku mendengus kearahnya dibalik tubuh Sehun. "Jangan mendekat, iblis," aku mengulurkan tangan, bermaksud menghentikan Kris dari balik tubuh Sehun yang kokoh. Sehun menatapku bingung sedangkan Kris memasang tatapan mematikan.
Chanyeol tertawa. "Kris hampir memakannya," tambahnya diiringi kekehan dari semua orang.
"Kau jangan salah paham," Kris berkata pada Sehun, sedangkan Sehun hanya tertawa. Apa Sehun benar-benar tak marah atau mungkin cemburu pada Kris. Ya ampun ini benar-benar menyebalkan.
"Kau tidak marah pada Kris?" tanyaku akhirnya.
Sehun mengangkat alisnya bingung. "Untuk apa?" balasnya.
Tawa Kris pecah dan disambut tawa semua orang disana. Aku memandangi Sehun dengan kesal, sebelum melepaskan peganganku ditubuhnya dengan paksa. Sehun benar-benar menyebalkan, bagus sekali karena dia sekarang berada dipihak Kris. Oh mereka benar-benar partner kerja yang sempurna.
Aku mendudukkan tubuhku dengan kasar disebelah Zitao yang masih cekikikan. Gadis itu menepuk punggungku sekali sambil menahan tawa. "Kau tidak cemburu?" tanyaku padanya.
Zitao menatapku dengan aneh. "Untuk apa?" balasnya, mengikuti perkataan Sehun.
Aku mendengus, meninju lengannya, tidak pelan. "Kalian benar-benar menyebalkan,"
"Oh ya Jongin sudah sadar," Yixing menambahkan setelah dia selesai tertawa.
Aku menghembuskan napas lega, benar-benar seperti menemukan kembali barang berharga yang sudah lama hilang. Tapi Jongin bukan barang. "Dia baik-baik saja?"
Yixing mengangguk pasti. "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Luhan," Yixing mencubit hidungku dengan gemas, dan aku hanya mengernyit.
Jongin hidup, setidaknya dia bisa hidup.
"Baiklah," Kris akhirnya berkata setelah beberapa saat berbicara dengan Sehun. "Aku akan mengenalkan seseorang yang akan bergabung dengan tim ini," aku mendengus sebal, merasa muak. "Perkenalkan ini Oh Sehun. Beberapa diantara kalian pasti sudah mengenal Sehun. Dia akan membantu kita selama Jongin belum bisa bertugas," tambah Kris dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Namaku Oh Sehun, panggil saja Sehun, mohon bantuannya," Sehun membungkuk dan semua orang bertepuk tangan.
Aku mencubit paha Zitao dan Yixing bergantian, menatap tajam mereka berdua. "Kalian bilang kalian dipihakku,"
"Kau tak punya pilihan lain sayang selain menerima Sehun," bisik Zitao.
Ya Tuhan ini menyebalkan.
"Luhan," Kris memanggilku. Secara tiba-tiba melemparkan ponsel berwarna putih dan beruntung aku bisa menangkapnya sebelum membentur meja. "Kirimkan ini ke Beijing. Ini tiketmu," Kris melemparkan kertas-kertas didalam plastik bening.
"Aku akan kembali besok," balasku.
Sehun menatapku heran. "Kenapa?" tanyanya polos. Aku mengangkat bahu acuh, tanpa menghiraukannya, bahkan menatapnya saja tidak. Aku sedang tidak ingin bicara dengannya.
"Baiklah. Kembalilah besok kalo begitu," Kris menyetujui, tumben sekali dia baik.
Zitao mendekatkan tubuhnya padaku dan berbisik. "Kau butuh bantuan?" aku menggeleng menolak tawarannya. Aku sedang tidak liburan dan jika Zitao ikut, mungkin kami akan berakhir ditaman hiburan atau menenteng banyak belanjaan saat kembali ke Korea.
"Kenapa? Kau mau pulang?" tanya Kris yang tiba-tiba saja sudah berada dibelakang Zitao dan berbisik ditelinga gadis itu.
Zitao tampak sedikit terkejut, kemudian menggeleng dan tersenyum kaku. "T-tidak, t-tugasku belum selesai, kan?" ucapnya gugup.
Kris menyeringai, kemudian mengecup telinga Zitao sekali. "Tugasmu akan dimulai malam ini," bisiknya. Wajah Zitao merah padam.
Yixing melempar Kris dengan ponselnya. "Berhentilah berbuat mesum di kantor," ucap Yixing kesal. Semua orang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mesum Kris yang tampaknya mulai kembali.
Aku melirik Sehun sekilas dan dia masih menatapku dengan bingung. Aku tak peduli lagi padanya.
.
.
14.00 – Beijing, China
Akhirnya pesawat yang kutumpangi mendarat dengan mulus di Beijing setelah beberapa jam delay. Aku benar-benar merasa lega dapat kembali menghirup udara di kota kelahiranku. Ini benar-benar menyenangkan karena aku bisa menemukan kembali 'rumah', meskipun awalnya aku sedikit ragu meninggalkan Sehun sendirian, tapi dia akan baik-baik saja disana.
Kris akan menjaganya dengan baik.
Ayahku melambaikan tangan saat aku baru keluar dari gerbang penerbangan internasional. Dia bersikeras ingin menjemput padahal aku tau jadwal kerjanya sangat padat, aku merindukannya. Senyuman mengembang diwajahnya dan setengah berlari aku menghampirinya, memeluknya sangat erat. "Kau baik-baik saja?" bisik ayahku, menepuk-nepukkan tangannya dipunggungku perlahan.
Dia benar-benar ayahku. Hanya dengan melihat wajahku saja, dia tau aku sedang dalam masalah. Ayahku bisa membaca ekspresi wajahku dengan baik dan aku tidak pernah bisa membohonginya. "Aku baik-baik saja, Dad. Terima kasih sudah menjemputku," aku melepaskan pelukannya.
Ayahku memandangi tas ranselku dengan heran. "Kau hanya membawa ini?"
Aku mengangguk, memasang ekspresi menyesalku. "Aku hanya akan tinggal sampai besok," bisikku sedih.
"Kalau begitu kita harus cepat-cepat pulang. Ibumu pasti sudah menunggu," aku tersenyum lebar sebelum akhirnya menggandeng ayahku keluar bandara seperti seorang anak kecil yang kegirangan. Ya Tuhan aku benar-benar merindukan keluargaku. Sepertinya terakhir aku bertemu dengan mereka saat pernikahanku waktu itu.
"Pernikahanmu baik-baik saja?" tanya ayahku saat kami sudah berada di dalam mobil.
Aku mengangguk, masih memandangi jalanan kota Beijing yang sangat padat disiang hari. "Kami hidup bahagia, Dad. Sehun merawatku dengan baik,"
Ayahku mendesah lega dan itu membuatku menatapnya bingung. "Aku sempat merasa bersalah dengan keputusanku menikahkanmu dengan Sehun. Kurasa aku terlalu egois waktu itu, tapi kau tau aku tak punya banyak pilihan," air muka ayahku mendadak menjadi sendu, membuatku sedikit tidak nyaman.
Aku tersenyum ringan, kemudian menggenggam tangannya yang mulai berkerut karena usia, sebisa mungkin meyakinkannya bahwa aku benar-benar baik-baik saja. "Aku baik-baik saja. Sehun orang baik. Dad tidak perlu khawatir, aku bersyukur karena Sehun orang yang tepat,"
Ayahku mengangguk beberapa kali. "Syukurlah kalau begitu," kami sama-sama tersenyum sebelum akhirnya ayahku menceritakan tentang perkembangan kehidupannya selama aku tak ada.
Sebenarnya aku sedikit merindukan sosok keluarga dalam hidupku. Biasanya aku hanya bisa mengunjungi mereka satu bulan sekali atau jika sedang liburan. Kedua orangtuaku masih sibuk bekerja, tidak ada waktu luang hingga sulit menghubungi mereka. Jujur saja aku merasa iri dengan kakak-kakakku yang bekerja di kota ini dan bisa mengunjungi orangtuaku setiap saat.
Aku sempat bicara tentang hal ini pada Kris, bahkan Kris pernah menyuruhku kembali ke Beijing untuk bekerja dikantor detektif Beijing, Kris tidak keberatan, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Kris. Meskipun dia menyebalkan dan mesum, dia sudah banyak membantuku sejak aku masih menempuh pendidikan di Korea. Hanya ini satu-satunya cara membalas perbuatan baik Kris dan keluarganya. Setidaknya aku harus membantunya dengan berada disisinya, menjadi orang Kris.
Sekarang disaat aku memiliki keinginan untuk kembali ke kota kelahiranku, aku merasa keinginan itu semakin sulit untuk diwujudkan. Sekarang aku juga sudah memliki Sehun yang tidak mungkin untukku meninggalkannya atau membawanya tinggal disini. Yah terkadang diantara beberapa pilihan, harus ada sesuatu yang dikorbankan.
Dan sepertinya aku harus mengorbankan waktu bersama keluargaku.
.
.
23.00 – Beijing, China
Setelah makan malam dan sesi cerita yang panjang bersama orangtua dan keluargaku, aku memutuskan untuk cepat-cepat bersiap tidur. Sore tadi aku sudah menemui klien yang memesan ponsel itu, meskipun sampai saat ini aku tak tau apa isi ponsel itu.
Ponselku bergetar riuh saat aku baru saja menghempaskan tubuhku di ranjang. Oh Sehun.
"Sehun, ada apa?" ucapku malas sambil menguap. Aku masih berusaha marah padanya.
"Kau baik-baik saja?" suara Sehun yang nyaris berteriak membuatku menjauhkan ponsel dari telinga. "Aku mencoba menghubungimu sepanjang hari," aku mengecek ponselku, Sehun benar, disana ada puluhan panggilan tak terjawab dan pesan tak terbaca.
"Maaf aku sibuk seharian. Lagipula ini bahkan belum satu hari, Oh Sehun," dengusku kesal.
"Apa aku tak boleh mengkhawatirkan istriku yang sedang pergi keluar negeri dan tidak ada kabar seharian?" Sehun kembali meninggikan suaranya.
Aku terkekeh, merasa geli dengan pernyataan Sehun yang berlebihan. "Kau membuatku mual,"
Sehun terdengar mendengus kesal. "Aku merindukanmu," bisiknya.
Aku diam, mendadak merasa gugup. Ya Tuhan, hanya mendengar suaranya saja sudah membuat jantungku berdegup tak karuan.
Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Sehun.
"Harimu berjalan baik?" sambung Sehun lagi.
Aku berdeham-deham sedikit, mencari suara. "Semua baik-baik saja. Aku bahagia bisa bertemu keluargaku. Aku benar-benar merindukan mereka,"
Sehun tertawa. "Kau tidak merindukanku?"
"Sama sekali tidak,"
"Kau benar-benar wanita jahat,"
Aku tertawa. "Kalau kau tidak keberatan, aku akan tidur. Besok pagi-pagi sekali aku sudah harus terbang ke Korea dan bukannya kau juga akan memulai latihanmu besok?"
"Ya ya, aku mendengarmu. Selamat malam," bisik Sehun. "Aku mencintaimu," tambahnya.
Aku tak bisa menahan senyum sekarang. Jadi disinilah aku, menempelkan ponsel ditelinga, mendengarkan suara Sehun dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh. "Aku mencintaimu," balasku sebelum mematikan sambungan telepon sepihak.
Setelah telepon terputus, aku benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum. Bahkan aku berharap hari cepat berlalu dan aku bisa segera bertemu dengan Sehun besok. Sepertinya keinginanku untuk kembali ke kota kelahiranku dan tinggal disini memang harus terkubur rapat-rapat.
.
.
Pagi-pagi sekali aku sudah berada di bandara, setelah sesi berpamitan yang memakan waktu lama, aku berhasil juga memasuki pesawat yang akan membawaku kembali ke Korea. Kris sudah mengomel padaku karena khawatir aku akan menunda jadwal penerbangan dan aku sempat berpikir untuk melakukan hal itu.
Sehun meneleponku pagi-pagi sekali, mengatakan bahwa dia akan berangkat ke rumah Minseok untuk memulai latihan. Sehun memaksaku memberikannya semangat dan aku terpaksa harus berteriak-teriak seperti orang bodoh melalui telepon.
Dan ya, untuk Sehun, aku melakukannya.
.
.
10.00 – Seoul, Korea Selatan
Aku berjalan menuju area penjemputan bandara dengan koper besar ditangan kiri dan ransel dipunggung. Ibuku memberikan beberapa pakaian dan makanan, hal yang selalu dilakukannya saat aku mengunjunginya.
Yixing dan Zitao melambaikan tangannya dengan semangat padaku. Wajah keduanya tampak berseri-seri. "Mengapa kalian menjemputku?" protesku, berharap aku akan langsung menuju rumah dan tidur.
Zitao menyodorkan cup kopi ditangannya. "Kita akan menemui Jongin,"
"Ide bagus," aku menyesap kopiku pelan, rasanya terlalu manis untuk cuaca pagi yang mendung dimusim yang hampir dingin.
Yixing mengemudikan mobil Kris menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi karena jalanan masih agak sepi dipagi hari. Zitao dan Yixing membicarakan sesuatu yang tak kumengerti, sedangkan aku memilih untuk tidur. Aku lelah.
Seseorang mengguncang lenganku pelan, membuatku terbangun. "Kau tidur atau mati sih?" protes Yixing.
Aku mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum bodoh. "Aku lelah," sahutku.
Kami bertiga memasuki gedung rumah sakit dengan cepat, tidak ingin membuang-buang waktu. Baekhyun dan Chanyeol ada disana, duduk di depan ruang Jongin dirawat. Baekhyun bersandar pada bahu Channyeol dan memejamkan mata, wajahnya tampak lelah dan kusut. Sedangkan Chanyeol mengisyaratkan kami untuk diam.
Akhirnya kami memilih untuk masuk ke dalam ruangan Jongin dan meninggalkan Baekhyun yang sedang tertidur lelap. Kyungsoo ada disana bersama dengan Jongin, keduanya tampak sedang mengobrol.
"Hey Jong, kau baik-baik saja?" tanya Zitao. Jongin hanya mengangguk lemah. Wajahnya masih pucat meskipun dia sedang tersenyum lebar sekarang.
"Kau baik-baik saja, Kyung?" giliran Yixing yang bertanya. Sedangkan aku berdiri mematung tak jauh dari pintu masuk, ragu-ragu untuk bicara dengan Jongin.
Kyungsoo mengangguk pasti. "Syukurlah kalian datang. Aku harus menyetorkan beberapa data pada Kris," lalu tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Kau pergilah, biar aku yang menunggunya," aku menawarkan diri, berusaha tidak terlihat terlalu bodoh dengan tidak melakukan apa-apa.
Kyungsoo mendesah lega. "Terima kasih,"
"Aku dan Zitao akan mengantarmu," bisik Yixing disambut anggukan setuju dari Zitao dan Kyungsoo. Mereka bertiga pergi dengan terburu-buru.
Setelah kepergian mereka, aku berjalan perlahan mendekati Jongin, menatapnya dengan iba, sedangkan Jongin masih saja tersenyum lebar kearahku, meskipun wajahnya terlihat sedang menahan sakit. "Kau baik-baik saja?" tanyaku ragu-ragu. Padahal aku tau dia tidak baik-baik saja.
Jongin mengangguk lemah. "Tentu saja. Aku merindukanmu," bisiknya, suaranya terdengar parau.
Aku duduk di sebelah ranjangnya, menyentuh perban tebal yang terbebat rapi didadanya. "Kupikir aku akan kehilanganmu, bodoh. Kau tidur terlalu lama,"
Jongin tertawa kecil. "Aku baik-baik saja,"
Aku tersenyum sedikit, kemudian memilih untuk menunduk ketika perasaan bersalah kembali menderaku. "Maafkan aku Jong. Aku tidak mengawasimu dengan baik," aku benar-benar merasa bersalah, seandainya saja aku tidak mengalihkan perhatianku darinya beberapa detik saja waktu itu.
Tangan Jongin mengelus rambutku perlahan, membuatku berhenti mengutuki kebodohanku. "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Aku baik-baik saja,"
Aku memaksakan seulas senyum. "Aku merindukanmu, Jong. Kami semua merindukanmu," Jongin hanya terkekeh ringan.
"Aku dengar Sehun akan bergabung," tanya Jongin tiba-tiba, membuatku ingin meremas Jongin sekarang juga.
Lagi-lagi aku hanya bisa mendengus sebal. "Kris benar-benar sudah kehilangan akal. Bahkan Minseok akan turun tangan,"
"Benarkah? Wah luar biasa," Jongin tampak tak percaya sedangkan aku benar-benar sudah ingin menggigit hidung Jongin.
Suara pintu terbuka dan Chanyeol ada disana dengan senyum lebar terpampang diwajahnya. Chanyeol tampak ceria pagi ini, suasana hatinya tampak sedang baik sekali. "Kau sudah selesai?" tanyanya padaku dan aku tak mengerti maksud pertanyaannya. "Kris menyuruhmu kembali sekarang juga," tambahnya, masih sambil tersenyum lebar.
"Kau kelihatan bahagia pagi ini," kataku, menghiraukan pernyataannya.
Jongin mendengus kesal. "Bagaimana tidak bahagia. Kau tau, semalaman dia menghabiskan waktu bersama Baekhyun," suaranya terdengar sangat lemah.
Aku menatap Jongin tak percaya. "Disini?" Jongin mengangguk dan aku membulatkan mata. "Ya Tuhan pantas saja Baekhyun kelihatan lelah sekali,"
"Aku bahkan harus memakai headset semalaman. Chanyeol benar-benar sudah kehilangan akal," Jongin menggelengkan kepalanya beberapa kali, merasa prihatin.
Chanyeol mengedipkan sebelah matanya padaku, membenarkan perkataan Jongin. "Sudahlah Lu, cepat pergi dan bawa Baekhyun pulang. Dia butuh istirahat," Chanyeol tertawa.
Aku menudingnya. "Jaga Jongin baik-baik. Jangan berbuat macam-macam,"
"Ya Tuhan, memangnya apa yang akan kulakukan padanya," protes Chanyeol kesal dan Jongin hanya tertawa ringan.
"Kau mesum. Aku tidak bisa menjamin kau tidak meng-apa-apakan Jongin,"
"Aku normal," Chanyeol setengah berteriak dan aku memutuskan untuk cepat-cepat keluar ruangan sebelum Chanyeol memakanku.
.
.
11.00 – Seoul, South Korea
Setelah mengantarkan Baekhyun pulang dan menerima perintah aneh dari Kris, Luhan mengemudikan mobilnya menuju rumah Minseok yang agak jauh dari keramaian kota. Kris bilang Minseok butuh bantuan untuk melatih Sehun, padahal selama ini Minseok tidak pernah meminta bantuan siapapun.
Mungkin Sehun butuh perlakuan khusus.
Setengah jam berlalu, Luhan sudah memasukkan mobilnya di garasi Minseok yang terbuka lebar. Dengan langkah cepat, Luhan menuju halaman belakang Minseok, dimana tempat latihan biasanya dilakukan.
Minseok sedang berdiri dipinggir kolam dengan stopwatch ditangan kirinya sedangkan Sehun sedang berenang di kolam renang. Kolam renang Minseok adalah kolam renang olimpiade yang memang didesain seperti itu, bukan kolam renang yang biasa ditemui di rumah-rumah pada umumnya.
Minseok melambaikan tangan pada Luhan saat gadis itu memasuki halaman belakangnya dengan tergesa. "Ada apa?" tanya Luhan langsung.
Minseok menggelengkan kepala frustasi. "Aku tau Sehun bukan atlet renang, tapi aku tak tau kalau dia akan seburuk ini,"
"Seburuk apa?" Luhan penasaran.
Minseok menyodorkan kertas yang menunjukkan garis-garis merah tertarik kebawah. "Hari ini aku baru saja melatihnya untuk berenang. Dan kau lihat ini–," Minseok menuding garis merah terendah. "Ini sama dengan kemampuan Baekhyun bukan?"
Luhan hanya mengangguk sambil memandangi garis-garis itu dengan serius. "Lalu kau akan memakai metode itu?"
Minseok mengangguk. "Kau orang yang berharga untuknya,"
"Kau tidak khawatir padaku?" tanya Luhan lagi.
Minseok mendengus, kemudian memukul lengan Luhan kuat-kuat. "Jangan bercanda,"
Luhan meringis, mengusap lengannya yang terasa panas. "Aku akan ganti baju kalau begitu,"
Beberapa saat kemudian, Luhan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian renang. Sehun yang sedang minum disudut kolam hampir menyemburkan minumannya karena melihat kehadiran Luhan disana dengan baju renang yang membungkus rapat tubuh gadis itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sehun heran.
Bukannya menjawab, Luhan hanya bisa diam sambil memandangi tubuh basah Sehun yang bertelanjang dada, rambutnya yang basah menambah keseksiannya. Pikiran kotor Luhan sudah melayang kemana-mana menyaksikan tubuh Sehun yang benar-benar tercetak sempurna.
"Kau sudah siap?" suara Minseok membuyarkan lamunannya. Luhan hanya mengangguk bodoh. "Baiklah Sehun, Luhan akan membantu melatihmu," Sehun hanya memandangi Minseok dan Luhan bergantian dengan bingung.
"Berenang merupakan hal terpenting yang dilakukan dalam bertahan hidup. Selain kau harus bisa menahan napas dengan baik, kecepatanmu dalam berenang menjadi kunci utama keselamatanmu," Minseok berhenti sebentar. "Dan sepertinya kecepatanmu benar-benar buruk. Kau butuh motivasi Sehun," Minseok menambahkan.
Sehun menatap Minseok dengan pandangan bingung. "Apa maksudmu?" tanyanya polos.
"Aku akan menenggelamkan Luhan diujung sana," Minseok menunjuk ujung kolam renang, kemudian mengambil bola besi pemberat yang terhubung dengan rantai lalu mengikatkannya pada kedua kaki Luhan. "Kau harus bisa mengangkatnya sebelum Luhan kehabisan napas dan benar-benar tenggelam,"
"Jangan bercanda," Sehun membentak, setengah berteriak frustasi.
"Terserah padamu. Kau akan menyelamatkannya atau membunuhnya," ucap Minseok acuh.
Sehun menatap Luhan panik. "Jangan lakukan ini," bisiknya, suaranya terdengar memohon.
"Maaf Sehun, aku tak punya pilihan lain," balas Luhan ringan, ekspresinya terlihat pasrah.
Sehun hanya menatap Luhan panik saat Minseok menggiringnya menuju ke sudut kolam yang lebih dalam. Dengan kedalaman tiga meter lebih dan jarak antara Sehun dan dirinya lebih dari tiga puluh meter, Minseok berdiri di belakang Luhan, siap mendorong gadis itu. Ketika Minseok membunyikan peluitnya, tangannya mendorong Luhan masuk ke dalam air, begitu pula Sehun yang langsung terjun memasuki kolam.
Kaki Luhan sudah menempel di dasar kolam dan gadis itu memejamkan matanya erat-erat, sedangkan Sehun berenang sangat cepat menuju tempat Luhan tenggelam di ujung kolam. Sehun benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya. Hanya ada Luhan dipikirannya, dia benar-benar harus bisa menggapai Luhan sebelum gadis itu kehabisan napas.
1 menit.
2 menit.
Setelah lebih dari dua menit, Sehun berhasil meraih Luhan. Sehun mengambil napas kuat-kuat sebelum akhirnya menyelam dan berusaha melepaskan bola-bola besi yang terikat di kedua kaki Luhan, sedangkan Luhan masih memejamkan mata erat-erat.
Sehun panik bukan main saat Luhan sama sekali tak bergerak. Dengan cepat Sehun mendorong tubuh Luhan ke atas air dan membuat Luhan menghirup udara banyak-banyak. Sehun masih memeganginya dengan erat, takut jika Luhan akan tenggelam.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun pada Luhan. Luhan hanya mengangguk ringan. Sehun membantunya keluar dari kolam.
Napas Sehun terengah-engah.
"Bagus Sehun. Kau mengalami peningkatan," ucap Minseok bangga. Sehun mengumpat, benar-benar merasa kesal dengan Minseok. Mata Sehun berkilat karena amarah, menusuk Minseok hanya dengan tatapannya dan Minseok tampak tak peduli.
"Aku baik-baik saja, Sehun," bisik Luhan, menenangkan Sehun yang sepertinya akan menyerang Minseok, meskipun tak akan ada kesempatan bagi Sehun untuk melakukannya.
Sehun menatap Luhan bingung dan tawa Minseok mendadak meledak. "Kau tidak tau siapa istrimu, Oh Sehun?" tanyanya, Luhan ikut tertawa ringan sambil menepuk punggung Sehun yang masih kalut.
Sehun masih menatap Minseok bingung. "Apa maksudmu?"
"Istrimu seorang atlet renang. Dia bisa berenang sejauh ini hanya dengan satu tarikan napas. Dan kau benar-benar takut dia akan mati tenggelam?" Minseok kembali tertawa. "Istirahatlah dulu, nanti kita lanjutkan," ucapnya lalu melenggang pergi.
Sehun menatap Luhan meminta penjelasan, sedangkan Luhan hanya memasang cengiran. "Maaf Sehun, aku tak punya pilihan lain,"
"Kau benar-benar mempermainkanku. Aku berpikir kau benar-benar akan mati," Sehun mendesis marah, tangannya mengepal di sebelah tubuhnya yang basah.
Luhan mendekati Sehun, memberanikan diri untuk mengecup bibirnya. "Terima kasih sudah menyelamatkanku," ucapnya ringan sebelum meninggalkan Sehun yang terengah-engah.
Sehun memejamkan mata saking geramnya, berusaha mengontrol dirinya sendiri untuk tidak berteriak dan menelanjangi Luhan disini juga. Luhan selalu bisa membuat amarah dan gairahnya meningkat dengan cepat.
Setelah sesi makan siang yang cepat, Minseok memasukkan Sehun dengan paksa kedalam gedung olahraga di belakang rumahnya. Dengan kasar, Minseok menendang pantat Sehun hingga tersungkur diatas matras. Sedangkan Luhan memperhatikannya dengan senyuman miris.
Minseok benar-benar master dalam penyiksaan.
"Lakukan push-up lima puluh kali tanpa berhenti," hardik Minseok.
Sehun menatapnya bingung. "Hanya itu?"
Minseok mengangguk. "Jangan berhenti sebelum lima puluh. Apapun yang terjadi," Sehun terkekeh ringan, merasa mampu melakukan bahkan lebih dari itu.
Minseok dan Luhan saling bertukar pandang. "Kau atau aku?" bisik Luhan.
"Kau mau aku yang melakukannya?" tanya Minseok acuh, berjalan menjauhi Sehun yang sudah mulai melakukan push-upnya.
Luhan melangkah dengan ragu-ragu mendekati Sehun yang mulai bergerak naik turun dengan tempo cepat. Kemudian mendudukkan dirinya perlahan diatas punggung Sehun. Sehun sedikit kaget saat Luhan menaikinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sehun bingung, menghentikan kegiatan push-upnya.
"Memang begini cara kerjanya," balas Luhan polos.
Minseok berdeham keras. "Jangan berhenti apapun yang terjadi," Minseok setengah membentak, memukulkan batang kayu tipis kekaki Sehun. "Luhan jangan curang, angkat kakimu," Minseok kembali memukulkan kayunya pada betis Luhan.
Luhan mengaduh, kemudian mengangkat kakinya ke atas tubuh Sehun dengan paksa. Gerakan Sehun melambat, seiring dengan tenaganya yang mulai terkuras. "Kau baik-baik saja?" tanya Luhan saat napas Sehun terdengar terengah-engah.
"Kubilang juga apa. Kau harus diet," balas Sehun kesal, dia masih menaik-turunkan tubuhnya perlahan.
Dengan geram, Luhan menekankan tubuhnya diatas punggung Sehun. "Kau beruntung bukan Minseok yang menaikimu,"
Sehun terengah-engah mencari udara. "Aku akan lebih beruntung jika kau berada dibawahku sekarang,"
Luhan tertawa lepas. "Kau mau aku melakukannya?" Sehun tidak menjawab karena harus mengatur napasnya.
"Empat puluh delapan,"
Sehun mengumpulkan tenaganya untuk mengangkat Luhan lagi. Tubuh Luhan ajaib, dia tampak ringan, padahal Sehun harus susah payah mengangkatnya sekarang.
"Empat puluh Sembilan,"
Sehun berhenti. "Jangan bercanda, Oh Sehun. Jangan buat Minseok berpikir aku benar-benar berat," rengek Luhan.
Sehun menghembuskan napasnya kuat-kuat sebelum akhirnya melakukan gerakan terakhir. Minseok meniup peluitnya dan Sehun langsung terkapar diatas matras dengan Luhan masih berada diatasnya.
"Kau benar-benar berat, brengsek," umpat Sehun kesal, napasnya putus-putus mencari udara. Luhan hanya tertawa geli melihat suaminya kehabisan tenaga karena menopang tubuhnya yang berat.
"Tidak terlalu buruk," ucap Minseok ringan, menarik Luhan berdiri dari tubuh Sehun. "Kau baik-baik saja?" tanya Minseok pada Luhan.
Luhan mengangguk pasti. "Aku lebih dari baik,"
"Kau tidak keberatan aku melakukannya?" tanya Minseok, pandangannya menatap Sehun yang sedang berbaring terlentang.
Luhan menggeleng lucu. "Lakukan apa yang seharusnya dilakukan,"
Minseok menarik rambut Sehun paksa dan menyeretnya. Sehun hanya mengaduh memegangi rambutnya yang dicengkeram, tapi tidak menolah saat Minseok menyeretnya menuju tengah ruangan. Minseok melemparkan Sehun begitu saja.
"Lakukan tugasmu Luhan," perintah Minseok. Sehun menatap Luhan curiga, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
Luhan meregangkan otot-ototnya, menggerak-gerakkan kaki dan tangannya seperti melakukan pemanasan tubuh. Lalu tiba-tiba saja Luhan berlari ke arah Sehun, menerjang pria itu hingga mereka jatuh bergulung diatas matras. Sehun berada dibawah dan Luhan mencekiknya dari atas.
"Jangan menghindariku, Oh Sehun. Pukul aku atau kau mati," bisiknya. Sehun menatapnya takut sedangkan Luhan menguatkan cengkeraman pada leher Sehun.
Luhan sedang tidak main-main.
"Luhan–,"
Luhan mengangkat tubuh Sehun dengan satu gerakan dan membantingnya, Sehun mengerang. "Siapa yang kau panggil Luhan?" bisiknya angkuh.
Sehun menatap istrinya dengan bingung. Luhan kembali menunjukkan sisi dirinya yang menyeramkan. Dengan gerakan cepat Sehun berdiri, memasang kuda-kuda saat Luhan siap menerjangnya lagi.
"Aku tidak akan pernah memukulmu," ucap Sehun, berjalan mundur menjauhi Luhan dengan posisi bertahan.
Luhan tersenyum ringan. "Kalau begitu biar aku yang melakukannya," bersamaan dengan itu, Luhan melayangkan tendangannya yang mengenai tepat di lengan Sehun. Luhan mengincar dada pemuda itu, tapi Sehun melindunginya dengan lengan.
Sehun perlahan mundur menjauhi Luhan yang siap menerkamnya lagi. "Tak bisakah kita menggunakan orang lain?" Sehun melirik Minseok yang sedang menonton pertunjukan didepannya dengan seringaian puas.
Minseok mengangkat bahu acuh. "Aku sedang tidak punya cadangan,"
Luhan menerjangnya lagi, memukul Sehun bertubi-tubi sedangkan Sehun hanya mengelak, menghindari pukulan dan tendangan Luhan yang keras. Sehun meringis merasakan lengannya yang ngilu karena terkena tendangan Luhan.
"Jangan hanya menghindariku, Oh Sehun," Sehun menggeleng, kemudian dengan cepat Luhan menampar wajahnya, seolah-olah ingin menyadarkan pria itu.
Sehun mengusap bibirnya yang berdarah, menatap Luhan dengan pandangan tak percaya. Luhan hanya mengangkat bahu acuh. Sehun memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya, mencoba untuk tidak memikirkan bahwa yang sedang berada di depannya adalah Luhan-nya.
Saat Sehun membuka matanya, Luhan sudah melayangkan tendangan yang tepat mengenai perutnya. Sehun tersungkur. "Ayolah Oh Sehun, jangan buat kau mati sia-sia hari ini," Luhan berjongkok tepat di sebelah Sehun yang meringis memegangi perut.
Tiba-tiba Sehun menjegal Luhan dengan kakinya, membuat gadis itu terguling ke samping, sebelum akhirnya bangkit dengan satu gerakan cepat. Luhan tersenyum puas. "Begitu baru namanya berkelahi,"
Sehun menerjang Luhan lagi, mendorong gadis itu dengan tendangan bertubi-tubinya yang berhasil dielak sempurna oleh Luhan. Gerakan Sehun yang menyerangnya dengan cepat dan tiba-tiba tidak membuat Luhan bingung. Gadis itu dengan lihai menghindari pukulan dan tendangan Sehun seolah-olah mereka sudah berlatih gerakan tersebut.
Luhan mencengkeram tangan Sehun yang berusaha menggapai rambutnya, kemudian memutar tangan pria itu kebelakang, mengunci pergerakannya. Napas keduanya terengah-engah. "Pemanasanmu sudah selesai," kata Luhan, kemudian melemparkan tubuh Sehun dengan kasar.
Minseok menepuk-nepukkan tangannya beberapa kali, merasa puas. "Luhan kau bisa kembali," katanya diiringi anggukan Luhan setuju.
"Kau akan pergi?" tanya Sehun bingung.
Luhan menoleh sekilas sebelum akhirnya tersenyum ringan. "Aku punya pekerjaan yang lebih penting daripada ini," Luhan mengecup bibir Sehun sekilas, sedangkan Sehun hanya mendengus kesal sebelum kemudian Minseok sudah kembali menyiksanya.
.
.
20.00 – Kantor Pusat Detektif Seoul
Luhan mengeratkan pegangannya pada coat tebal yang membungkus tubuhnya. Gadis itu berjalan dengan santai memasuki gedung detektif Seoul yang tampak sepi di malam hari. Seperti saat memasuki kantor-kantor penting pada umumnya, Luhan harus melewati beberapa serangkaian pemeriksaan keamanan yang sangat ketat.
"Aku ingin menemui Detektif Sa," ucapnya sambil memberikan kartu tanda pengenalnya pada polisi muda yang menyambutnya.
Beberapa orang berseragam polisi mengantarnya memasuki ruangan tertutup di lantai dua, persis seperti ruang penyidikan. Seorang wanita muda dengan rambut pendek, menyambut Luhan, mengulurkan sebelah tangannya dengan senyum.
"Selamat datang, Nona Luhan," suaranya terdengar ramah.
Luhan menyalaminya. "Panggil saja Luhan," ucapnya dingin, Luhan sama sekali tidak tersenyum.
Detektif muda itu mempersilahkan Luhan untuk duduk. "Jadi apa yang membawamu kemari?"
Luhan melemparkan flashdisk padanya. "Semua data yang kau butuhkan tentang penyelundupan senjata illegal ada disini,"
Detektif Sa menerimanya dengan cepat, tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang berseri-seri. "Aku memang tidak pernah meragukan kalian,"
Luhan mengangguk-angguk. "Aku benci mengatakan ini, tapi ini tidak kuberikan secara gratis,"
"Lalu apa yang harus kutukar dengan ini?" Detektif Sa mengangkat flashdisk itu keudara.
Luhan mendesah ringan, memajukan tubuhnya mendekat. "Tim kami harus menangkap ikan yang lebih besar enam hari lagi. Kuharap kau bisa bersihkan nama kami,"
Detektif itu berpikir sejenak, mengetuk-ketukkan jarinya dengan cepat ke meja. "Baiklah. Berikan aku daftarnya," Luhan melemparkan map coklat dari balik coat-nya.
"Ada satu lagi," tambahnya.
"Kau tau peraturannya. Satu barang untuk satu permintaan," tolak Detektif Sa langsung.
Luhan mendengus ringan. "Kau akan terkejut jika membaca datanya. Aku memberikan umpan yang sangat bagus padamu. Kau akan mendapatkan banyak ikan besar,"
Detektif Sa masih tampak berpikir, kemudian memutar flashdisk ditangannya beberapa kali dengan cepat. "Aku mendengarkan,"
"Aku minta bantuan,"
Detektif itu tertawa renyah, nyaris terdengar seperti sedang menertawai Luhan. "Ini pertama kali kalian memohon bantuan. Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada suara mengejek.
Luhan tersenyum lagi, berusaha menahan diri untuk tidak serta merta mengumpat. "Bersihkan sisanya. Buat seperti kalian yang melakukannya,"
"Lalu kalian akan membuat kami menanggung resiko. Begitu?" tanyanya sarkas.
Luhan kembali mendekat, kemudian berbisik. "Bayangkan berapa banyak keuntungan yang kalian dapat jika atasan kalian tau kalian berhasil menangkap mafia terbesar di Asia Tenggara,"
Detektif Sa kembali berpikir, sedangkan Luhan dengan sabar menunggunya membuat keputusan. "Bagaimana jika kalian membuat kesalahan?" tanyanya hati-hati
Luhan mendengus sombong. "Memangnya kapan kami pernah membuat kesalahan?" ujarnya angkuh sebelum meremas pundak Detektif muda itu pelan dan pergi meninggalkan ruangan, menyisakan Detektif itu dengan kening berkerut.
Ponselnya bergetar tepat saat Luhan memasuki mobil Chanyeol. Kris meneleponnya.
"Coba katakan kau berhasil," ucap Kris langsung saat Luhan baru menempelkan ponsel ditelinga.
"Tentu saja. Detektif itu terlihat tidak begitu bagus,"
Chanyeol terkekeh ringan sedangkan Luhan menatapnya aneh. "Kau bisa langsung pulang atau menemani Chanyeol mengambil data di bagian penyidikan,"
"Tidak, terima kasih. Aku akan pulang," sahut Luhan cepat kemudian mematikan sambungan telepon sepihak. Kebiasaan Luhan selalu mematikan telepon terlebih dahulu tanpa peduli siapa yang meleponnya.
"Kau akan menemui bagian penyidikan?" tanya Luhan pada Chanyeol yang sedang mengemudi.
"Kenapa? Kau mau ikut?"
Luhan menggeleng cepat-cepat. "Aku benci dengan tumpukan berkas,"
Chanyeol terkekeh ringan. "Bagaimana dengan Sehun. Dia masih hidup kan?"
"Minseok sama sekali tidak berubah,"
"Kuharap Sehun akan bertahan," bisik Chanyeol ringan, Luhan hanya mengangguk sebelum akhirnya memilih untuk memejamkan mata.
.
.
22.00 KST
Luhan tampak sibuk berkutat dengan kompor saat pintu apartemen Sehun terbuka, menampilkan seorang pria berkulit pucat dengan tubuh gontai. Sehun berjalan terseok-seok memasuki apartemennya.
"Selamat datang," Luhan berteriak, tangannya masih sibuk mengaduk saus merah dalam mangkuk.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sehun acuh, pria itu langsung menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas sofa sambil memejamkan mata.
"Bagaimana harimu?" balas Luhan tanpa mempedulikan pertanyaan Sehun.
Sehun mendengus kesal. "Berhentilah bertingkah seolah-olah kau tidak tau hariku,"
Luhan terkikik, melepas apronnya dan dengan cepat menyusul Sehun yang tampak benar-benar menyedihkan. Sehun tampak benar-benar kelelahan. Luhan menyodorkan mangkuk penuh berisi spaghetti yang tadi dimasaknya dengan penuh perjuangan, sedangkan Sehun hanya meliriknya sekilas.
"Kau ingin aku memakannya?" tanya Sehun acuh, kembali menutup mata.
Luhan mendengus kesal. "Kau mau memakan ini atau kutumpahkan ini di kepalamu,"
Sehun tertawa, kemudian membuka mata. Tangannya menerima mangkuk itu dan dengan ragu memakannya. Sehun mengunyahnya sebentar sebelum akhirnya berhenti dan memandangi Luhan. "Kau yang memasaknya?" tanyanya dengan mulut penuh. Luhan hanya mengangguk pasti. "Kau tidak salah memasukkan bumbu kan?" tanya Sehun polos.
Luhan mendengus. "Apa maksudmu?" Luhan merebut garpu dari Sehun dengan paksa dan memakan spaghetti buatannya sendiri. Luhan mengunyahnya sebentar sebelum akhirnya mengambil tisu dengan buru-buru memuntahkannya.
Sehun memandangi Luhan geli saat gadis itu kebingungan mencari air di dapur, Sehun dengan acuh memakan kembali spaghetti super pedas buatan Luhan. "Sehun jangan dimakan," teriaknya dari dapur. Sehun tak peduli. "Aku tak ingin membuatmu sakit perut,"
"Bukan masalah. Ini enak," Sehun masih mengunyah dengan cepat. "Hanya saja ini sedikit pedas," tambahnya.
Luhan kembali dengan gelas berisi penuh air putih. "Sudah. Berhentilah memakannya. Aku akan memesankanmu makanan,"
"Ini masakan makan malam pertamamu. Aku harus menghabiskannya," Sehun bersikeras, tetap memakan spaghetti itu dengan lahap.
Luhan tersenyum, menyaksikan Sehun susah payah menghabiskan hasil masakannya yang beracun. Sungguh Luhan menyesal menyuguhkannya pada Sehun tanpa mencobanya terlebih dahulu. Sehun tidak ingin mengecewakan Luhan dengan membuang makanannya, tapi sungguh ini pertama kalinya Luhan mencoba memasak sendiri. Dia tidak tau bahwa bubuk cabe akan membuatnya sepedas itu.
"Kau pasti lelah. Aku akan menyiapkan air panas untukmu,"
Sehun terkekeh ringan ditengah kegiatan makannya. "Aku benar-benar seperti sudah menikah sekarang,"
"Kau memang punya istri yang harus kau nafkahi, Oh Sehun. Berhentilah bertingkah seperti bujangan," Luhan berteriak dengan kesal dari kamar mandi.
Sementara Sehun mandi, Luhan membersihkan kekacauan yang diciptakannya setelah membuat makanan untuk Sehun tadi. Luhan tertawa-tawa geli mengingat betapa bodohnya dia di dapur. Luhan bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan memasak makanan di dapur untuk suaminya kelak. Luhan sama sekali tidak pernah mengurus orang lain, mengurus dirinya sendiri dia tidak begitu bisa.
Sehun membuka matanya saat Luhan memasuki kamar mereka, padahal Luhan benar-benar meminimalkan suara, tapi Sehun masih saja bisa mendengarnya. "Kau lelah sekali ya?" tanya Luhan mendekati suaminya yang tampak kusut.
Sehun mengangguk ringan. "Mengapa kau tidak pakai celana?" ucapnya dengan mata terpejam.
Luhan menunduk, menatap kaus panjang yang menutupi celana pendeknya. "Aku pakai celana," Luhan mengangkat kausnya, menunjukkan celana pendek dibaliknya, membuat Sehun meliriknya lagi.
"Berhentilah memakai pakaian kurang bahan itu mulai malam ini dan seterusnya. Aku terlalu lelah untuk menyerangmu sekarang, Sayang," Sehun kembali memejamkan mata.
Luhan tertawa renyah, kemudian mendudukkan dirinya di samping Sehun, mengusap rambut Sehun dengan lembut, kemudian menyentuh bibir Sehun yang sobek karena ulahnya. Sehun meringis, merasakan perih dibibirnya. "Maaf tentang tadi siang," Luhan berbisik menyesal.
Sehun tersenyum ringan, kemudian meletakkan kepalanya dipaha Luhan dan menyusupkan wajahnya diperut Luhan yang datar. "Bagaimana bisa aku tidak memaafkanmu, Sayang," Luhan tersenyum ringan. Tangannya mengusap kepala Sehun dengan lembut, membelai rambut suaminya dengan sayang, membiarkan Sehun terlelap dipangkuannya. "Sayang?" bisik Sehun.
Luhan hanya menjawab dengan gumaman.
"Setelah ini berakhir, apa kau benar-benar tak ingin hidup normal?" Sehun bertanya hati-hati.
Luhan tersenyum lagi, kemudian menundukkan badannya untuk mengecup kepala Sehun. "Aku mencintai kehidupanku sebesar aku mencintaimu," Sehun terdiam. "Lagipula aku butuh uang untuk bertahan hidup,"
Sehun mendengus kesal. "Aku mampu menghidupimu seumur hidup meskipun kau berhenti bekerja,"
Luhan terkekeh. "Tapi keperluanku banyak, Sehun," Luhan menggoda suaminya.
"Demi Tuhan, aku mampu memenuhi kebutuhanmu," Sehun benar-benar kesal.
Luhan tertawa lagi. "Aku tau aku tau. Mari kita hentikan pembicaraan konyol ini dan cepatlah tidur. Kau akan melewati hari yang panjang besok," perintah Luhan.
Dengan patuh Sehun memejamkan mata diiringi dengan suara Luhan yang menggumamkan lagu yang tak Sehun mengerti, tapi Sehun menyukai itu. Berada dipangkuan Luhan dengan sentuhan lembut dan suara gadis itu mampu meluluhkan semua rasa lelah Sehun. Luhan benar-benar bisa membuatnya nyaman, benar-benar membuatnya melupakan sejenak masalah-masalahnya.
.
.
EPILOG
Kyungsoo masih saja menangis di sebelah tubuh Jongin yang terbaring lemah. Bahu Kyungsoo bergerak naik turun menahan isakan yang semakin terdengar memilukan. Jongin belum membuka mata sejak dua hari lalu, sejak kejadian yang hampir membuat Kyungsoo menjerit histeris.
Meskipun Jongin sudah melewati masa kritisnya, tapi dokter belum bisa menjamin kesembuhan pria yang dicintainya itu. Kyungsoo tau dirinya harus yakin Jongin akan baik-baik saja. Baru dua hari dan Kyungsoo sudah merindukan suara pria itu. Suara yang selalu didengarnya ketika dia baru membuka mata dipagi hari. Kyungsoo sangat merindukan tatapan penuh cinta dari seorang Kim Jongin.
Kyungsoo merindukan Jongin hingga mungkin dia bisa gila. Sekarang, selama dua hari ini, hidupnya terasa kosong. Kyungsoo seperti menemukan lubang besar dihatinya.
Sebuah tepukan ringan dikepala Kyungsoo membuatnya tersentak kaget. Kyungsoo mendongak, menatap Jongin bingung karena pria itu sudah membuka mata dan menggerakkan tangannya untuk menyentuh kepala Kyungsoo.
"Jongin, kau bisa mendengarku?" Kyungsoo nyaris berteriak histeris, sedangkan Jongin menggerakkan bibirnya, tapi tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Kyungsoo menekan tombol disamping ranjang Jongin untuk memanggil dokter.
Kyungsoo menggenggam tangan Jongin erat-erat karena Jongin terlihat sangat kesakitan. Air mata Kyungsoo kembali menetes, gadis itu menangis bahagia. Jongin menggerakkan tangannya perlahan, mengusap air mata yang membasahi pipi Kyungsoo dengan lemah. Jongin tersenyum, membuat air mata Kyungsoo semakin mengalir deras.
Kyungsoo harus melepaskan tangan Jongin ketika dokter menyuruhnya keluar, Jongin harus diperiksa. Dengan cepat Kyungsoo menghubungi Kris, memberitahukan keadaan Jongin.
"Kris, Jongin sudah sadar," serunya nyaring ketika Kris baru saja mengangkat telepon.
"Syukurlah kalau begitu. Baekhyun dan Chanyeol akan segera kesana," balas Kris.
Kyungsoo tersenyum lagi. "Terima kasih," bisiknya. "Untuk membiarkanku tetap yakin tentang Jongin," tambah Kyungsoo, senyumnya kini merekah dibibirnya.
Kris terkekeh ringan. "Kau gadis yang kuat, Kyung. Terima kasih sudah meyakinkanku tentang Jongin,"
Hanya beberapa menit setelah menyelesaikan pemeriksaan Jongin, dokter itu mempersilahkan Kyungsoo masuk. Mereka bilang Jongin akan baik-baik saja, kondisinya stabil dan itu membuat Kyungsoo mendesah lega.
Jongin masih terbaring lemah saat Kyungsoo masuk, dengan ragu-ragu Kyungsoo mendekati Jongin seolah-olah Jongin adalah orang asing baginya. "Kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo pelan, tangannya menggenggam tangan Jongin erat-erat, seolah-olah takut Jongin akan pergi lagi. Padahal Jongin tidak kemana-mana.
Jongin tersenyum. "Kyung," bisiknya serak. Suaranya terdengar sangat lemah. Air mata Kyungsoo menetes begitu saja.
"Kau merasakan sakit?" Kyungsoo memeriksa perban di dada Jongin, memastikan tidak ada darah yang mengalir dari sana.
Jongin menggeleng. "Apa aku tertembak dikepala?" tanyanya bodoh.
Kyungsoo menatapnya bingung, kemudian menggeleng pelan. "Kau beruntung itu tidak terjadi,"
Jongin mendesah ringan, memejamkan mata agak lama. "Kupikir aku salah lihat," dengusnya. Kyungsoo menatapnya tak mengerti. "Kau menangis," bisiknya lagi.
Kyungsoo tersenyum ringan, menempelkan telapak tangan Jongin dipipinya. "Memangnya aku tak boleh menangis?"
"Kau wanita terkuat yang pernah kutemui. Aku belum pernah melihatmu menangis,"
Kyungsoo mengecup tangan Jongin, air matanya kembali menetes. "Kau orang pertama yang membuatku seperti ini,"
Jongin menyentuh bibir Kyungsoo dengan jari telunjuknya. "Terima kasih karena terus menerus memanggilku. Aku tidak tahan mendengar semua tangisanmu,"
Kyungsoo menatapnya heran. "Kau bisa mendengar suaraku?"
"Kau belum tau jika orang koma bisa mendengar?" Kyungsoo menggeleng. "Kemarilah," Jongin menarik tangan Kyungsoo pelan, membuat Kyungsoo mendekatkan tubuhnya hati-hati, takut jika gerakannya akan menyakiti Jongin.
Jongin mengecup bibir Kyungsoo pelan, menggerakkan bibirnya yang panas dibibir Kyungsoo yang lembut. Kyungsoo memejamkan mata, merasakan kenikmatan yang selama dua hari ini benar-benar dia rindukan. Sentuhan Jongin masih tetap sama, masih selembut saat Kyungsoo terakhir merasakannya.
Jongin melepaskan ciumannya, kemudian tersenyum. "Jangan menangis lagi. Maaf sudah meninggalkanmu," bisiknya ringan, tapi itu membuat Kyungsoo kembali meneteskan air matanya. "Aku mencintaimu," ucapnya sebelum akhirnya mencium bibir Kyungsoo lagi.
.
TBC
.
Hallo author kembali dengan membawa chapter 8 kehadapan semua readers /lebay/. Author jarang update tapi sekalinya update sepanjang ini /maaf/ tuh author ngasih bonus epilog buat penggemar KAISOO /ngik/. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca dan me-review fanfiction ini. Akhirnya author memutuskan untuk kembali melanjutkan fanfiction ini karena banyak review yang pengen dilanjut /yeeey/. Meskipun banyak pula yang bilang jelek /huhu/ tapi author lagi pasang mode 'pantang mundur' /sip/.
Oh ya author juga minta maaf kalau jalan cerita fanfiction ini tidak sesuai dengan yang diharapkan, membuat kecewa, penggambaran tokoh yang tidak sesuai, dan lain sebagainya, author minta maaf ya. Ide author memang seperti ini adanya. Untuk tokoh-tokoh yang dibuat menjadi tidak baik, itu semata-mata hanya 'pinjam nama' ya /hehe/ mohon maaf untuk para penggemar, author tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan tokoh-tokoh dalam fanfiction ini. Kalau ada saran mengenai kelanjutan jalan cerita silahkan tulis direview, readers harus membuat gerakan memberi seribu ide untuk author /kemudian digampar/ maaf author ngarep banget dikasih ide.
Karena fanficion ini akan segera berakhir mungkin tiga sampai empat chapter kedepan atau juga lebih /kalo nggak ada sequel-nya/ author mau bikin project baru 'chanbaek atau kaisoo atau chenmin atau sulay atau taoris atau hunhan lagi' jadi untuk readers yang memiliki ide cerita bisa dikirimkan kepada author melalui email violensiaivena .id nantinya author juga pasti mencantumkan nama pemberi ide cerita /sorry ngiklan/ /author lagi dalam mode mencari ide cerita/ /anggap saja kolaborasi/
Untuk yang sudah me-review author sangat berterimakasih karena memberikan apresiasi pada hasil karya author. Untuk yang belum review silahkan review /hehe/.
Sekian dari author, lebih kurangnya mohon maaf. Sampai jumpa dichapter depan. Bye~
