LUHAN POV

Pagi ini suhunya terlalu hangat untuk musim yang hampir dingin, padahal beberapa hari lagi salju mungkin akan turun. Entah mengapa aku bangun lebih awal, mungkin karena berhasil mendapat tidurku yang berkualitas semalam. Sehun masih terlelap saat perlahan kulangkahkan kakiku menuju dapur. Meskipun kemampuan memasakku jauh dibawah garis normal, tapi kupikir aku akan berdosa jika tak memberinya makan sebelum hari penyiksaan yang panjang.

Satu yang kusuka dari Sehun, dia tak pernah mengeluh atau menggerutu dengan makanan apapun yang kuberikan padanya. Entah karena dia menyukainya atau dia hanya menghargainya atau bahkan mungkin karena dia takut padaku.

Aku tak peduli.

Beberapa menit setelah aku memanaskan penggorengan, suara langkah Sehun terdengar sedikit berisik. Saat aku menoleh kearah pintu kamar, Sehun berdiri disana dengan mata separuh tertutup dan mulut yang terbuka lebar karena menguap.

Ya Tuhan mengapa sepagi ini dia sudah terlihat begitu tampan.

Aku tersenyum ringan, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan kecilku pagi ini. "Kau seharusnya bisa mengambil tidur lebih panjang. Ini terlalu pagi," ucapku.

"Kupikir kau pergi karena ada tugas. Senang melihatmu masih disini," ucapnya diiringi dengan gumaman panjang.

Aku hanya membalasnya dengan tawa, kemudian memasukkan telur ke dalam penggorengan, memilih untuk mengabaikannya karena aku harus fokus melakukan pekerjaan berat ini. Demi apapun, aku rela melakukan pengintaian semalam penuh daripada memasak makanan sederhana seperti ini.

"Jadi bisa kau katakan apa yang kau lakukan sekarang?"

Aku mendengus kesal, membalikkan tubuhku untuk menudingnya dengan spatula. "Kau pikir aku sedang apa dengan apron ini?"

Sehun mengangkat bahunya acuh. "Kau akan membuatkanku sarapan?"

"Tidak perlu terlalu khawatir, aku tidak akan memasukkan bubuk cabe kali ini,"

Sehun tertawa renyah. "Aku menikmati semua racun yang kau berikan padaku, Sayang," aku tidak bisa menahan tawaku. Sehun benar, aku selalu meracuninya dan dia selalu memakan racunku dengan baik.

Gerakan Sehun yang tiba-tiba saja memelukku dari belakang membuatku sedikit kaget. "Aku selalu melihat adegan ini difilm," ucapnya dengan nada yang kelewat bahagia. Sehun meletakkan dagunya yang tajam dibahuku dan melingkarkan kedua tangannya diperutku. Memelukku dengan sikap posesif.

Aku mendengus, berusaha menetralkan detak jantung yang mulai berdetak lebih cepat. "Berhentilah menonton film seperti itu Oh Sehun. Jangan membuat pekerjaanku lebih susah,"

Sehun hanya terkekeh ringan, bukannya melepaskanku, bibirnya malah mengecupi leherku. "Kau lebih cantik jika seperti ini,"

Oh tidak. Jangan terpengaruh Luhan. Jangan biarkan jantungmu berdebar.

"Jangan merayuku. Itu membuatku mual," hanya itu yang bisa kuucapkan. Sungguh Sehun selalu bisa membuatku gugup.

"Kau tau aku tidak pandai merayu," aku memutar mataku sebal, berusaha menyembunyikan senyum.

Tapi kau selalu melakukannya, Oh Sehun.

Dengan kasar kugerakkan pinggulku untuk melepaskan diri darinya sebelum aku lebih menghancurkan hasil masakanku karena memasak dengan hati berdebar seperti orang bodoh. "Oh Sehun, lepaskan. Aku sedang mencoba berkonsentrasi disini,"

Sehun tertawa, mengecup pipiku ringan sebelum akhirnya melepaskanku. "Aku harus sarapan kan?" senyumnya mengembang.

"Mandi dan bersiaplah dulu. Aku akan menyelesaikan ini," Sehun hanya mengangguk dan menuruti perintahku untuk mandi.

Aku meletakkan piring terakhir saat Sehun sudah keluar dari kamar mandi dengan kaus santai dan celana jeans panjang. Bibirnya membentuk lengkungan indah saat dia menatapku sekilas sebelum duduk di depan meja makan.

"Makanlah. Hanya ini yang bisa kubuat," aku tidak tau apa yang bisa kubuat selain nasi gulung dengan telur. Aku juga membuatkannya sup ikan meskipun aku tidak menjamin rasanya akan seperti sup ikan pada umumnya.

Aku sudah mencobanya kali ini dan rasanya tidak terlalu buruk. Menurutku.

Sehun menatapku ragu-ragu dan masakanku bergantian. "Baunya enak," bisiknya.

Aku memutar bola mata sebal. "Ini tidak bisa dinikmati dengan hidungmu. Gunakan mulutmu," aku menemukan suaraku meninggi dan Sehun hanya terkekeh geli mendengarku.

Sehun menyendokkan supnya dan aku menunggu responnya. Sehun berhenti sejenak sebelum mengecap beberapa kali. "Kau menggunakan air laut untuk merebusnya?"

Aku menyicipinya dengan buru-buru. Sebenarnya hanya sedikit lebih asin, tapi ini sungguh masih bisa dimakan. Ini jauh lebih baik dari kemarin. "Letakkan sendokmu. Aku akan membuangnya kalau begitu," aku merengut kearahnya, berusaha menggapai mangkuk Sehun.

Sehun mengangkat mangkuknya tinggi-tinggin, menjauhkannya dariku. "Aku hanya bercanda. Ini enak," Sehun tersenyum lagi.

"Baguslah,"

Sehun berdeham sedikit ditengah makannya. "Hmm, tentang perbincangan kita semalam," aku hanya meliriknya sekilas tanpa berhenti makan. "Tentang kehidupan kita yang normal," Sehun melanjutkan dengan hati-hati sementara aku masih mengabaikannya.

Sehun menatapku dengan ekspresi lucu yang menjijikkan. Ya meskipun itu juga menggemaskan. "Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku," jawabku dengan mulut penuh.

Sehun membuang napas berat. "Bagaimana jika aku memaksa?" tanyanya lagi.

Aku menatapnya tajam, memasukkan nasi dengan kasar kedalam mulut. "Mari kita lihat seberapa kuat kau bisa memaksaku," aku mulai kesal.

"Aku akan membuatmu tidak bisa melakukan pekerjaanmu,"

Aku mendengus, mengejeknya. "Bagaimana caranya Tuan Oh Sehun yang terhormat? Kau akan mematahkan kakiku? Aku tak yakin kau mampu melakukannya,"

"Tentu saja tidak," Sehun masih memandangiku, membuatku mau tak mau memandangnya juga.

"Lalu?" tanyaku acuh.

"Aku akan membuatmu punya bayi," dan aku tersedak.

Sehun hanya meringis saat aku terbatuk-batuk tanpa henti setelah nyaris menyemburkan air ke wajahnya. Aku menudingnya dengan sendok sup. "Jika kau berani melakukannya, aku akan membunuhmu,"

Sehun mengangkat bahu acuh, kemudian lanjut makan tanpa mempedulikanku yang masih mengacungkan sendok padanya. "Kau juga tidak akan tau," balasnya.

"Aku akan menghindarimu, Oh Sehun. Mulai dari sekarang," suaraku meninggi dan aku sedikit bangga dengan hal itu.

Sehun mengangguk beberapa kali, bersikap seolah-seolah mengalah dan menyetujui pendapatku. "Mari kita lihat apakah kau mampu melakukannya besok," ucap Sehun acuh.

Aku mengerang kesal.

Sehun benar. Aku tak akan bisa menghindarinya. Oh Sehun adalah kelemahanku dan dia benar-benar tau hal itu.

Ya Tuhan.

09.00 KST

Aku melangkahkan kakiku dengan malas menuju lift yang akan membawaku ke lantai atas, mengapa hari ini menjadi lebih berat. Kris sudah berteriak padaku di telepon saat aku baru saja menerima kopi pagiku dan sebuah senyuman seorang resepsionis. Seperti biasa, pagi ini kantor tampak penuh dan sibuk.

Kris sudah menungguku saat pintu lift terbuka, dia berdiri dengan angkuh di depan pintu lift. Kris melipat kedua tangannya di depan dada dan memandangi jam tangannya, membuatku melirik jam tanganku juga.

Aku hanya terlambat tujuh menit. "Tujuh menit," bisikku, mulai memasang ekspresi menyesal dan berhasil membuat Kris mengerang, kemudian menusukku dengan tatapannya.

Aku bergeser menjauhi tatapan mematikan yang Kris tujukan padaku, beringsut berlindung di balik tubuh Chanyeol yang sedang membaca sesuatu diponselnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol bingung.

Aku hanya tersenyum kearahnya sambil menggiring tubuh tingginya bergeser menuju tempat dudukku. Menjadikannya tameng dari Kris.

Tatapan Kris yang angkuh berubah menjadi lebih hangat dan aku membenci itu. "Luhan," panggil Kris dengan suara lembutnya, dia berjalan mendekati Chanyeol sambil mengulurkan tangan, berusaha menggapai tubuhku.

"Jangan mendekat, brengsek. Jaga jarakmu denganku mulai sekarang," ucapku berusaha terdengar angkuh. Chanyeol tertawa keras dan aku memukul punggungnya kuat-kuat.

Kris mendengus. "Kau masih marah padaku? Sudah kubilang aku minta maaf,"

Aku menggeleng, masih berlindung dibalik tubuh Chanyeol yang menjulang. "Kau menakutkan, sungguh," bisikku.

Kris mengangkat kedua tangannya keudara. "Baiklah aku akan jaga jarak denganmu," Kris memandangiku dan Chanyeol bergantian.

Aku mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya beringsut untuk duduk di kursiku di samping Yixing yang sedang memejamkan mata dengan earphone terpasang ditelinganya. Kutebak Yixing pasti bergadang semalaman dan tidak sempat pulang. Sedangkan kursi Zitao disampingku dan kursi-kursi lainnya masih kosong. Sepertinya mereka terlambat bersamaan hari ini.

Aku menggapai ponselku, berusaha menelepon Zitao, Kyungsoo, dan Baekhyun tapi tidak ada jawaban.

"Luhan," panggil Kris. Aku meletakkan ponselku dan beralih menatapnya. Kris sepertinya sudah akan memberikan tugas sepagi ini. "Malam ini kau harus bisa mendapatkan sidik jari saudara Lee Hyukjae. Namanya Lee Donghae," aku mendesah ringan. Sepertinya aku harus menjadi pelacur lagi.

Chanyeol melemparkan sebuah amplop padaku. "Itu undangan untuk nanti malam. Akan ada pesta peresmian perusahaan baru di pusat kota,"

Aku membuka amplop gold itu dan mendapati dua buah undangan mewah disana. "Ini pesta eksklusif. Bagaimana aku bisa menyamar?"

"Akan ada banyak investor yang hadir. Kau akan menjadi salah satu diantara mereka," jelas Kris singkat, tangannya masih sibuk dengan ponselnya.

"Aku benci gaun," Chanyeol hanya menjawabku dengan kekehan. "Kau akan pergi denganku?" lanjutku lagi.

Chanyeol menggeleng. "Aku harus menyelesaikan tugas-tugas Jongin. Setidaknya aku tidak membiarkan Jongdae bekerja sendirian,"

Aku memandangi Kris meminta penjelasan secara naluriah.

Kris mendesah ringan. "Suho pergi ke pelabuhan sore nanti. Jongdae dan Chanyeol harus cepat-cepat menyelesaikan penyadapnya. Sedangkan aku tidak bisa memunculkan wajahku didepan umum, sudah terlalu banyak orang yang mengenaliku," Kris menjelaskan panjang lebar dengan wajah menyesalnya.

Ya Tuhan aku benar-benar ingin mencakarnya.

Aku hanya memutar bola mata sebal. Kris selalu bisa mencari alasan. "Bagus sekali, aku harus menelepon Minseok untuk tidak terlalu menyiksa Sehun hari ini,"

Kris mendengus ringan tanpa menghiraukanku sedangkan Chanyeol cekikikan.

"Kau tidak perlu repot-repot melakukannya," sahut Chanyeol sambil menggoyang-goyangkan ponselnya di depan wajahnya yang menyebalkan. "Minseok menunggumu siang ini untuk mencoba gaunmu,"

Aku mengangguk sekali, merasa tidak perlu lagi untuk menolak. Memangnya sampai kapan aku berusaha menolak dan gagal.

"Jadi ini tugas pertama Sehun?" tanyaku

Kris menggeleng ringan, pandangannya masih terfokus pada layar ponselnya. "Dia hanya menemanimu. Anggap saja sebagai latihan untuknya," jawabnya acuh.

Aku mengerang sebal. Mengapa kedua orang ini benar-benar menyebalkan.

"Ngomong-ngomong kemana semua orang. Kenapa kantor ini sepi sekali?" aku memutar kursiku untuk memandang sekeliling, menyadari bahwa belum ada satu orangpun yang datang sejak kedatanganku.

Chanyeol melirik Kris curiga. "Jadi kau tidak memberitahunya kalau kita baru mulai bekerja dua jam lagi?" Kris mengangkat bahu acuh sambil menyeringai kearahku.

"Brengsek," umpatku kasar, kemudian meninggalkan ruangan untuk tidur disofa. Pagi ini sepertinya aku bangun terlalu pagi.

11.00 KST

Chanyeol mengemudikan mobilnya menelusuri jalanan ibukota yang padat. Sedangkan aku harus mendengarkan semua instruksi yang Kris berikan di kantor. Semua orang yang mendapatkan tugasnya sekarang dan Kris memaksaku ikut mendengarkan agar aku tidak melakukan kesalahan seperti dulu.

Baiklah, aku memang pernah bodoh. Tapi itu dulu.

"Brengsek," umpatan Chanyeol yang tiba-tiba, membuatku memandanginya heran. Chanyeol memegangi telinga kirinya, melepaskan earphonenya dengan kasar dan melemparkannya padaku. "Dengungan sialan itu bisa membuat telingaku sobek,"

Aku terkekeh, menerima earphone usangnya. "Telinga tidak akan bisa sobek, bodoh," dengusku.

Chanyeol menggeleng-gelengkan kepala frustasi. "Aku tidak yakin Kris akan bisa membayar ganti rugi jika aku menjadi tuli karena terlalu lama memakai earphone sialan itu,"

"Aku mendengar itu," bisik Kris ditelingaku.

Aku terkekeh menanggapi perkataan Kris. "Kris bilang dia mendengarmu,"

"Sial," umpatnya lagi.

Chanyeol menepikan mobilnya dihalaman depan rumah Minseok yang luas. Dengan terburu-buru, aku menuruni mobil dan berlari menuju halaman belakang. Aku harus memastikan Sehun masih hidup dan baik-baik saja.

Minseok melambaikan tangan padaku saat melihatku memasuki gedung olahraga. Sedangkan Sehun sedang duduk diatas matras dengan keringat bercucuran diseluruh tubuhnya yang tanpa baju.

Oh dia begitu seksi.

"Kalian sudah datang," sapa Minseok ramah, membuyarkan fantasi liarku yang akan segera muncul. "Chanyeol, ajarkan Sehun berkelahi dengan baik. Aku harus menyelesaikan urusan wanita," Minseok mengedipkan sebelah mata padaku. Ugh, itu nyaris membuatku mual.

Chanyeol tersenyum lebar dan meregangkan otot-ototnya. Aku memandangi Sehun, menanyakan apakah dia baik-baik saja melalui isyarat bibir, Sehun hanya mengangguk ringan. Tapi dia sedang tidak baik-baik saja sekarang. Aku memelototi Chanyeol, mengisyaratkannya untuk tidak berebihan, tapi sepertinya Chanyeol tidak peduli.

Sehun benar-benar malang.

"Ayo Luhan," Minseok mengapit lenganku dan menyeretku keluar gedung olahraga dengan paksa.

"Kau berlebihan," aku mencubit lengannya gemas.

Minseok terkekeh. "Prosedur, Sayang. Aku hanya menjalankan prosedur,"

Minseok mendorongku memasuki galeri bajunya yang menurutnya menakjubkan. Galerinya penuh dengan baju-baju koleksi dengan merk dunia dan juga baju yang didesainnya sendiri. Mungkin jika gadis normal lain akan merasa sedang berada di surga jika memasuki galeri Minseok, tapi tidak denganku. Bagiku memasuki galeri ini sama saja memasuki neraka.

Benar-benar bisa menyebabkan gangguan pencernaan.

Minseok tersenyum lebar seolah-olah berhasil lebih menyiksaku saat mendorong rak lemari disudut ruangan, menampilkan gaun panjang berwarna peach yang elegan. Gaun itu sederhana namun tampak begitu indah dengan lubang dibagian punggung hingga pinggang.

Aku menelan ludah kasar. Selera Minseok tidak bisa diragukan lagi.

"Kau ingin aku memakai ini nanti malam?" Minseok mengangguk yakin. "Ini musim dingin," tambahku. Aku tidak ingin mati konyol dalam keadaan membeku.

"Kau kira kau akan mengadakan garden party? Kalian mengadakan pestanya di dalam gedung, Sayang," aku hanya meringis mendengar jawabannya, Minseok tak bisa dibohongi. "Jangan banyak bicara dan cepat pakai,"

Minseok menepukkan tangannya beberapa kali dan dua orang gadis muda mendorongku dengan paksa memasuki ruang ganti. Mereka dengan cekatan menjejalkan gaun sialan itu ketubuhku, sedangkan Minseok sibuk memilih tuxedo untuk Sehun.

"Minseok. Kau yakin Sehun akan melakukannya dengan baik?" tanyaku dari balik ruang ganti.

"Tentu saja. Dia benar-benar bagus,"

Aku menahan napas saat gadis-gadis itu menarik resleting gaunnya keatas. "Aku tidak begitu yakin,"

"Dia akan baik-baik saja. Bahkan tugas yang sebenarnya belum dimulai," aku tidak menjawab. Minseok benar, tapi tetap saja aku masih ragu dengan kemampuan Sehun.

Atau sebenarnya aku hanya terlalu khawatir pada Sehun.

Aku melangkahkan kakiku perlahan keluar dari ruang ganti. Sepatu tinggi ini tidak memberiku kesempatan untuk menggerakkan kakiku terlalu cepat. Minseok mengamatiku dari atas sampai bawah dengan wajah berseri-seri, kemudian menepukkan kedua tangannya dengan riang beberapa kali. Sedangkan aku hanya bisa memutar bola mata sebal.

Bukan hal yang mudah untuk membuat Minseok senang.

"Berapa kali aku harus mengatakan padamu kalau tubuhmu benar-benar sempurna," ucap Minseok bangga. Tangannya sedikit membetulkan letak ornament gaun yang tidak tepat dibagian bawah.

"Kau mengagumi tubuhku lagi. Apa kau berpikir untuk mengubah orientasi seksualmu?"

Minseok tertawa. "Kalau kau bersedia,"

Aku menggeleng cepat-cepat. "Sudah seharusnya kau mencari pasangan, Minseok. Aku tidak menjamin kau tidak akan meniduri Kris atau Jongdae," Minseok mendengus ringan, tangannya dengan cekatan bergerak untuk menaikkan rambutku keatas agar dia lebih bisa mengamati hasil karyanya yang sempurna.

"Aku memang melakukannya," ucapnya bangga, seolah-olah sedang melakukan hal yang luar biasa menakjubkan.

Dan itu memang menakjubkan.

Aku membulatkan bibirku tak percaya dan menatapnya dengan heran. Minseok sepertinya sudah gila. "Kau benar-benar melakukannya?"

Minseok mengangguk pasti. "Tidak dengan Kris tapi ya dengan Jongdae,"

"Kau gila. Mereka adikmu," aku nyaris memekik.

Minseok mengangkat bahu acuh, kemudian menurunkan resleting gaunku untuk melepaskannya. "Mereka berdua bukan adik kandungku, Luhan. Lagipula aku yang merengek meminta keluarga untuk mengangkat Jongdae menjadi anak. Memangnya kau pikir apa alasanku,"

"Ya Tuhan. Kau benar-benar menyukai bocah itu?" aku meloloskan gaun sialan itu melewati kaki dengan sekali hentak dan dihadiahi Minseok cubitan ringan dilengan.

"Aku hanya lebih tua darinya tiga tahun, Luhan. Berhentikan berkata seolah-olah aku sudah tua," sambungnya. "Lagipula dia hebat diranjang," Minseok menyeringai.

Gadis jalang ini benar-benar gila.

"Cobalah tidur dengan Kris kalau begitu," aku mendengus kearahnya dan Minseok memelototiku. "Bagaimana jika keluargamu tau?" tanyaku lagi, terlalu penasaran untuk diam.

"Bukan masalah. Kami tidak ada hubungan darah," aku hanya mengangguk beberapa kali. Tiba-tiba Minseok memandangiku tajam seolah mengingat sesuatu yang penting. "Kau tidak sedang mengaktifkan liontinmu kan?"

Aku menatapnya bingung, kemudian menyadari satu hal. "Kris tidak tau?"

"Akan kupatahkan lehermu jika Kris tau," dan aku hanya menelan ludah kasar menerima ancaman Minseok yang mematikan.

.

Setelah acara mencoba gaun yang panjang, Minseok mengijinkanku untuk mengunjungi Sehun yang sedang disiksa. Aku harus benar-benar menahan diri untuk tidak serta merta menyerang Chanyeol yang sedang bergulat dengan Sehun.

Sehun tidak buruk dalam berkelahi. Tapi Chanyeol jauh tidak buruk.

"Sehun," Minseok berteriak, membuat kedua orang yang sedang saling tendang dimatras itu menghentikan aktivitasnya. "Kunaikkan taruhannya sekarang," tambah Minseok setelah mendapat perhatian Sehun.

Aku menyenggolnya. Aku berani bertaruh bahwa Minseok menjadikanku bahan taruhan untuk memotivasi Sehun.

Aku keberatan. Tapi tak punya banyak pilihan.

"Jika kau berhasil membanting Chanyeol sekali saja, aku akan langsung melepaskanmu," Minseok menatapku sekilas, seperti mengisyaratkan sesuatu yang gagal kupahami.

"Jika tidak?" tanya Sehun malas karena Minseok tidak melanjukan perkataannya.

"Kita tak punya waktu semalam Minseok. Aku dan Sehun akan pergi jam tujuh sore nanti," aku mengingatkan.

Minseok menyeringai. "Kalau tidak, maka kau harus merelakan Chanyeol menginap di rumahmu malam ini," dan aku menendang pantat Minseok dengan lutut.

Chanyeol tertawa bahagia bahkan bertepuk tangan riuh sedangkan Sehun mengangkat alisnya bingung. "Apa maksudnya?" tanya Sehun polos.

Aku berjalan mendekatinya, mengelap keringat yang mengalir di dahinya dengan punggung tangan. "Maksudnya kau akan mendengarku mendesahkan nama Chanyeol malam nanti," aku tersenyum kearahnya sedangkan Sehun menggeram kesal.

"Aku setuju," sahut Chanyeol.

Aku mendengus, menatap Minseok dengan tajam. "Aku ti–,"

"Kau sedang tidak berada dipihak yang bisa mengambil suara, Luhan," Minseok memotong perkataanku.

Aku mengangguk beberapa kali, mengalah. Bukankah sudah kubilang aku tidak akan pernah bisa menolak apapun dalam pekerjaan ini.

"Berusahalah dengan baik, Oh Sehun. Jangan biarkan istrimu bekerja sepanjang malam," bisikku ditelinga Sehun.

Sehun menggeram, berusaha mengendalikan amarahnya yang aku yakin sudah meningkat. Aku mengecup bibirnya sekilas, diiringi decihan jijik dari Minseok dan Chanyeol. Oh, itu bagus. Kurasa aku harus lebih sering melakukannya di depan mereka.

"Kau pergi sekarang?" tanya Sehun saat aku berjalan menjauhinya.

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. "Aku harus membuat beberapa persiapan untuk tugas nanti malam," Sehun hanya mengangguk patuh, tapi ada keragu-raguan diwajahnya. "Jangan buat aku melakukan tugas tambahan, Sayang," lanjutku sebelum keluar menuju mobil Chanyeol.

16.00 KST

Aku sudah kembali memasuki rumah Minseok dengan beberapa kantung belanja di kedua tangan. Minseok tidak sempat membawakan Sehun baju dan sepatu sehingga aku sendiri yang harus mengambilnya di galeri kantor.

Minseok bilang latihannya sudah selesai setengah jam yang lalu, sedangkan Kris menyuruhku menyiapkan Sehun, memberinya instruksi, dan hal-hal penting membosankan lainnya.

Sudah berapa kali kubilang, aku benci pekerjaanku.

Sehun duduk di sofa dengan mata terpejam dan rambut yang basah berantakan saat aku memasuki kamar tamu. Aku berdeham sedikit, membuatnya mendongakkan kepala dan menatapku tajam. Tanpa senyum.

Aku membungkuk untuk meletakkan kantung belanja sebelum Sehun merengkuhku untuk menciumku dengan kasar. Tangan kanannya mencengkeram tengkukku, membuatku kesulitan untuk membalas ciumannya yang tiba-tiba saja menjadi tergesa-gesa. Bibirnya terasa panas dibibirku yang nyaris membeku karena cuaca ekstrim di luar sana.

Aku mendorong dadanya, merasa lebih mengutamakan mencari udara untuk bernapas daripada membalas sebuah ciuman kasar yang tiba-tiba. Sehun melepaskanku dan kami sama-sama terengah-engah. Sehun menarik tubuhku dan memelukku erat-erat dalam dekapannya, membuatku sesak napas.

"Berhentilah membuatku khawatir," bisik Sehun dengan suara yang nyaris terdengar seperti geraman. Entah dia sedang menahan amarah atau gairah saat ini.

Aku tau dia sedang serius.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku akhirnya, berusaha memecah keheningan yang membingungkan. Kutepuk punggungnya perlahan beberapa kali, menenangkannya.

Sehun mendesah ringan, kemudian bibirnya beralih menciumi leherku. "Aku tau mereka tidak akan pernah main-main dengan perkataan,"

Aku tau yang Sehun maksud. "Kau kalah dari Chanyeol?" tanyaku, berusaha melepaskan diri dari ciumannya sebelum kami benar-benar lepas kendali dan mengacaukan tugas.

"Kau berharap begitu?" Sehun mengigit perpotongan leherku.

Aku mengerang. "Jadi kau menang?"

"Aku harus berbuat apapun agar kau tidak mengangkang dibawah orang lain," ugh, sejak kapan Sehun menjadi sefrontal ini.

Aku menarik kepalanya untuk mengecup bibirnya. "Terima kasih, untuk tidak menyerahkanku pada Chanyeol,"

Sehun menarik tubuhku dan membantingku di ranjang Minseok yang lembut, mengungkung tubuhku di bawahnya. Sehun menggerakkan bibirnya di leherku, napasnya terengah-engah seolah dia baru saja melakukan lari marathon.

Aku tau Sehun sedang marah dan aku tidak ingin semakin mengacaukan mood-nya sekarang. Jadi aku tidak menolak karena sentuhannya juga patut untuk dinikmati.

Sehun mengerang saat aku menggosokkan tanganku dipunggungnya, membuatnya berhenti menyesapi leherku. "Luhan," bisiknya, suaranya terdengar berat.

Aku menjawab dengan gumaman.

Sehun menarik wajahnya, kemudian memandangiku. "Bukannya aku pernah bilang padamu bahwa aku tidak berbagi?"

Aku memberanikan diri untuk balas menatapnya. "Aku tau,"

Sehun menelusuri wajahku dengan jarinya yang dingin. "Tapi kau tetap melakukannya,"

"Aku tidak–," Sehun membungkamku dengan cekikan di leher.

Ya Tuhan, dia benar-benar marah.

Sehun menggeram, tidak melepaskan tangannya yang mencekikku. Sorot matanya menyala karena amarah dan aku menelan ludah gugup. Lagi-lagi Sehun menatapku dengan tatapan membunuhnya.

"Kau tau betapa marahnya aku saat mendengar Kris menyentuhmu lagi?"

Aku menelan ludah kasar, merasa takut sekarang. Kumohon, jangan lepas kendali. "S-sehun?" bisikku susah payah.

Sehun mengerjap beberapa kali sebelum melepaskan cengkeramanya di leherku. "Aku berusaha mengendalikan amarahku. Tak taukah kau bahwa aku benar-benar ingin membunuh siapapun yang menyentuhmu?" suara Sehun meninggi.

Aku menatapnya, menantang. Ingatanku tentang Sehun yang tak membelaku di depan Kris waktu itu membuatku kembali kesal. "Lalu mengapa tak kau lakukan, Sehun?"

Sehun menatapku dengan tatapannya tajam, mengingatkanku pada saat masih pertama mengenalnya. Sehun yang dingin dan angkuh. "Dan aku akan kehilangan kau selamanya jika melakukannya," suara Sehun terdengar sedikit bergetar.

Aku menarik wajahnya untuk mencium bibirnya dengan lembut. Menyesapi bibirnya yang panas dengan napas kami yang masih terengah-engah. Aku harus bisa menenangkan Sehun sebelum dia benar-benar menyerangku, kami harus bekerja.

Napas Sehun yang mulai teratur membuatku melepaskan ciuman kami, diiringi desahan kecewa dari Sehun yang membuatku terkekeh. Sehun mengerucutkan bibirnya.

"Kita punya tugas, Sehun," aku mengecup bibirnya sekilas.

"Sial," umpatnya ringan sebelum berdiri menjauhiku. "Kau sedang menghindariku kan?" tuduh Sehun.

Aku hanya mengangkat bahu. "Mungkin," bisikku kemudian memasuki kamar mandi untuk bersiap-siap.

19.30 – "S" Hotel, Seoul

Sehun menepikan mobilnya di parkir bawah tanah karena kami berusaha menghindari kerumunan orang yang semakin ramai. Sementara aku sibuk memasangkan micro earchip dengan pinset di telingaku, Sehun hanya menatapku bingung.

"Kau tampak cantik," bisik Sehun diiringi kekehan Kris ditelingaku.

Aku hanya tersenyum tanpa membalas perkataannya. "Kris bicaralah," bisikku, menaikkan sinyal di liontinku.

Kris berdeham keras, membuatku nyaris memekik. Begitupula Sehun yang memegangi telinganya. "Sial," umpatku.

Kris tertawa mengejek.

"Target sudah masuk sekarang," Baekhyun menginterupsi.

Aku menoleh kearah Sehun, memastikan dia mendengar Baekhyun. Sehun balas menatapku dan mengangguk ringan. Aku mendekatkan diri untuk mengecup bibirnya sekilas, memberinya ketenangan dan juga menenangkan diri sendiri.

Ini bukan tugas pertamaku tapi aku masih saja merasa gugup. Mungkin karena Sehun ada disini.

Sehun menggandeng tanganku memasuki lift yang sepi, menekan tombol menuju lantai delapan belas. Hanya beberapa detik, pintu lift sudah terbuka dan memperlihatkan ruangan luas penuh hiruk pikuk pesta. Ya Tuhan, ini membuatku mual.

"Pria dengan tuxedo putih, Lee Donghae," suara Kyungsoo terdengar ditelingaku.

Aku memandangi sekeliling, banyak orang menggunakan tuxedo putih disini. "Banyak, Kyung," aku berbisik, menggandeng tangan Sehun memasuki ruangan mewah itu.

"Ya Tuhan, aku butuh sinyal," erang Yixing.

Ya, kami butuh sinyal. Jika target menggunakan ponsel, maka kami akan tau dimana dia berada. Jika tidak, maka kami akan seperti orang bodoh yang mencari satu orang biasa ditengah kerumunan orang.

"Jalanlah berkeliling sebentar. Setidaknya cari orang yang mirip dengan foto itu," suara Kris memerintah. Aku menatap Sehun dan Sehun membalas dengan anggukan.

Aku dan Sehun berpisah tepat di depan lift, aku harus mengamati manusia-manusia ini dari tempat yang lebih tinggi.

"Kalian mengamati CCTV-nya tidak sih?" gerutuku sambil mengangkat gaun menuju lantai dua gedung pertemuan ini. Pakaian ini benar-benar merepotkan.

Tidak ada jawaban.

"Okay, aku dapat," suara Yixing. Aku memandangi sekitar, berusaha terlihat normal dengan memberikan senyum kepada orang yang berpapasan denganku.

Aku berhenti di balkon lantai dua yang agak sepi, memandangi CCTV yang bergerak-gerak jauh dihadapanku. "Kau bisa melihatku sekarang?"

"Berhentilah membuat seringaian itu," protes Baekhyun dan aku hanya terkekeh.

Suara-suara gumaman ditelingaku tiba-tiba terdengar, aku menekan earphoneku, membesarkan volumenya. Itu suara Sehun sedang bertukar salam dengan seseorang.

"Kau Oh Sehun kan?" tanya suara berat seorang pria.

Siapa pria ini.

"Kris?" bisikku. Kris tidak menyahut. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan mencari sosok Sehun, tapi aku tak menemukan apapun.

Oh Sehun, kumohon jangan berbuat bodoh.

"Benar," suara Sehun. "Bagaimana Anda tau?"

Suara pria itu sedikit tertawa, suaranya terdengar jelas karena microphone Sehun. "Kau pasti adik dari Jeon Jaewon,"

Aku membeku.

Sinyal Sehun berkedip-kedip di ponselku karena Sehun menyalakan sinyalnya secara mendadak, tepat sekali. Aku berjalan perlahan, mengikuti sinyal Sehun yang perlahan bergerak.

"Aku turut menyesal atas meninggalnya kakakmu, Tuan Oh," suara itu terdengar lagi. Sinyal Sehun bergerak-gerak, semakin membuatku kesulitan menemukannya ditengah kerumunan.

Suara Sehun terkekeh. "Jadi Anda?"

"Aku pernah menjadi partner kerja Tuan Jeon di Incheon," jelas pria itu lagi. "Namaku Lee Donghae,"

Skakmat.

Aku menghentikan langkahku tiba-tiba, merasa seolah-olah duniaku berhenti berputar.

"Tetap pada rencana," bisik Kris.

Aku mendongak untuk menatap CCTV yang bergerak-gerak diatasku. "Aku melihatmu," ucap Yixing. "Letakkan ponselmu dan jangan menoleh ke belakang, Sehun berada jauh di belakangmu," aku mengangguk sekali, kemudian menuruti kemauan Yixing untuk terus berjalan maju.

"Jadi," suara Lee Donghae lagi, dia menggantungkan kalimatnya. Aku berjalan memutar untuk menghindari Sehun sekarang. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Tuan Oh?"

Oh tidak.

"Kris berikan dia alasan," bisikku.

"Investasi," sahut Kris.

"Melakukan investasi," ucap Sehun. "Kurasa ayahku akan senang jika aku membeli beberapa saham di perusahaan ini,"

Suara Lee Donghae terkekeh. "Ide yang bagus,"

Seseorang menabrakku dan menumpahkan minumannya di tanganku, membuatku memekik karena rasa dingin. "Maaf," kata pria itu, mengelap tanganku dengan sapu tangannya.

"Tidak masalah," bisikku, tersenyum ke arahnya.

"Tunggu sebentar," ucapnya. Aku kembali menatapnya dengan senyuman. "Kau Kim Hyeri kan?"

Aku memandangnya heran, tidak tau apa yang pria ini bicarakan. Aku hendak mengatakan bahwa sepertinya dia salah orang sebelum suara Kris menginterupsiku. "Kau pernah menyamar menggunakan nama itu saat menemui Lee Hyukjae,"

Aku mengerjap beberapa kali, berusaha menggali ingatan lama itu dan aku menemukannya meskipun agak samar. "Ya, aku Kim Hyeri,"

Pria tadi tersenyum, mengulurkan tangannya dan aku menjabat tangannya. "Senang bertemu denganmu, Nona Kim. Aku Park Jimin, pengawal pribadi keluarga Lee,"

Aku mengangguk. "Jadi Tuan Lee ada disini sekarang?" tanyaku hati-hati. Bagi mereka aku hanyalah seorang pelacur.

"Ya, tapi mungkin sedikit terlambat," nada suaranya terdengar menyesal.

Oh tidak.

"Mereka mendekatimu, jangan tunjukkan kalau kau mengenal Sehun," suara Kris dan aku menjawab dengan dehaman.

Tepat setelah Kris mengatakannya, seorang pria tinggi menepuk punggung Jimin, membuat pemuda itu sedikit terkejut dan buru-buru membungkukkan badan. Pria itu datang bersama Sehun dengan senyum lebarnya.

Jujur saja, untuk tingkat mafia, pria ini tampan.

"Siapa ini?" tanya pria itu pada Jimin.

"Oh, ini Nona Kim, kenalan Presdir," Jimin menjelaskan dan aku tersenyum ke arahnya.

Kenalan apanya.

Aku tersenyum kearahnya dan Donghae mengulurkan tangan. "Senang bertemu denganmu, teman kakakku adalah temanku juga,"

Brengsek. Aku teman yang akan membunuh kalian berdua.

Aku menerima uluran tangannya sambil tersenyum. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Lee," bisikku. "Aku harus ke rest room untuk mencuci tangan," aku tersenyum canggung dan menunjukkan tanganku yang lengket.

"Maafkan aku sekali lagi, Nona Kim," bisik Jimin.

"Bukan masalah. Permisi," aku tersenyum dan menatap Sehun sekilas sebelum membalikkan badan. "Sehun, dapatkan gelas yang dipegang bajingan itu. Kita butuh sidik jarinya segera sebelum kakaknya datang," Sehun berdeham mengiyakan.

Aku mempercepat langkahku sebelum suara yang kukenal menyapu pendengaranku.

"Nona Kim, apa yang sedang kau lakukan disini?"

.

TBC

.

Udah update-nya lama, sekalinya update pendek dan nggak menarik begini, author minta maaf ya. Author lagi kehilangan mood untuk meneruskan fanfic ini, karena semakin sepi aja pembacanya.

Terima kasih bagi yang sudah membaca dan menunggu kelanjutan fanfic ini dengan sabar. Juga untuk yang sudah me-review author ucapkan terima kasih, bagi yang belum silahkan review untuk menambah semangat author nulis /hehe/.

Author sudah meng-upload fanfic baru, silahkan kalau ada yang berminat baca. Selain itu, Author juga masih membuka lowongan ide untuk yang berminat menyalurkan ide untuk project fanfic baru, kirim ke alamat email : violensiaivena[ ] .id

Sekian dari author mohon maaf jika ada kesalahan. Sampai jumpa dichapter depan. Bye~