"Nona Kim, apa yang sedang kau lakukan disini?"
Oh tidak.
Jangan sekarang, kumohon.
Ini tidak akan baik.
Jangan dia.
Aku menggerakkan kepalaku yang mendadak menjadi kaku, kebelakang. Mengulang beberapa doa dalam hati, berharap mendengar suara itu hanya sebagian halusinasiku. Saat aku sudah menghadapnya, aku tau ini benar-benar terjadi.
Harapanku lenyap.
Pria itu nyata.
Bagus, semuanya semakin rumit sekarang.
Kumohon, jangan jadikan ini lebih buruk.
Pria yang sangat kubenci itu berdiri disana, dengan tuxedo hitam dan wajah angkuhnya. Bibirnya terangkat ke atas, membentuk lengkungan senyum yang indah. Wajah tampannya terlihat berseri-seri dengan rambutnya yang berwarna hitam legam. Tangan pucatnya mengulur ke depan, meminta tanganku.
Butuh sepersekian detik bagiku mengagumi wajah tampannya,
Lalu detik berikutnya pikiranku kembali normal.
Aku ingin mencakarnya.
Aku memaksakan seulas senyum dan mengulurkan tangan kanan kedepan, meraih tangan halusnya. Hyukjae menggenggam tanganku dan tiba-tiba menyentakku kasar, menarikku kedepan dan membuat tubuhku depanku menubruk dadanya.
Tidak sakit, tentu saja.
"Apa yang kau lakukan disini?" bisiknya ditelingaku, bibrinya nyaris menyentuh ujung telingaku yang sesitif.
Aku berusaha tidak mengerang.
"Aku sedang menemani seseorang," jawabku asal karena Kris tidak memberikanku alasan.
Hyukjae melepaskan tanganku dan menatapku dengan seringaian di wajahnya, membuatku secara naluri bergerak mundur menjauhi ancaman.
Meskipun aku belum tau pasti itu sebuah ancaman atau bukan.
"Kau bilang kau akan menghubungiku waktu itu. Kita bahkan belum sempat bermain-main. Bukan begitu, Nona Kim?" Hyukjae mengedipkan sebelah mata dan nyaris membuatku meludahi wajah tampannya.
Oh Tuhan. Aku benar-benar membenci pria ini.
Aku ingin membuat wajah tampannya berdarah.
Aku ingin membuat kulit marmernya tergores dan memenuhinya dengan luka.
Aku membuang pandanganku. "Kau tau aku selalu bersama orang penting, Tuan Lee,"
Hyukjae tertawa hingga kepala terdorong kebelakang seperti orang bodoh, tapi tidak kehilangan ketampanannya sama sekali. Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku.
"Lalu apakah aku kurang penting?"
Tidak.
Kau terlalu penting hingga aku belum bisa membunuhmu sekarang juga.
Disini.
Suara Kris ditelingaku mulai berdengung-dengung. Kris menyuruh Sehun untuk meninggalkanku dan pergi dengan barang bukti sialan itu, tapi Sehun menolaknya langsung. Mereka nyaris berdebat, membuatku tidak bisa memikirkan kata-kata yang dilontarkan bajingan tampan di depanku ini.
Aku tau Sehun akan jadi seperti ini.
Dasar amatiran.
Aku tersenyum menanggapi perkataan Hyukjae yang sebenarnya tak sepenuhnya kumerngerti.
"Aku akan menghubungi asistenmu jika sedang ada waktu luang nanti. Kuharap kau bersedia menyediakan permintaanku waktu itu, Tuan Lee" aku harap apa yang kubicarakan masih berhubungan dengan topik.
Hyukjae menyeringai, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan gaya angkuhnya yang memuakkan dan tentu saja dia sangat berwibawa disaat bersamaan. Dan tampan.
Untuk ukuran seorang mafia, dia tampan.
Kelewat tampan.
Ya Tuhan.
"Apa kau pikir aku tidak bisa membelikanmu sebuah rumah mewah disudut kota yang tenang? Aku bahkan bisa membelikanmu separuh kota, kalau kau bersedia membiarkan dirimu kumiliki sepenuhnya," ujung jari Hyukjae menyentuh ujung daguku dan aku menahan diri untuk tidak mendesis.
Suara geraman marah dan decihan jijik terdengar ditelingaku.
Aku mengenali suara Chanyeol yang mencedecih jijik dan juga sangat mengenal geraman buas Sehun.
"Tentu saja kau akan mampu melakukan itu," aku menengok ke belakang punggung Hyukjae untuk melihat tempat Donghae dan Sehun terakhir berdiri. Tapi aku tidak menemukan apapun disana.
Kemana mereka pergi.
Kurasa Sehun menuruti kemauan Kris.
"Apa yang kau cari?" tanya Hyukjae, mengikuti arah pandanganku ke belakang tubuhnya.
Aku menggeleng dengan ekspresi sebal yang kubuat selucu mungkin, meskipun mungkin aku akan tampak seperti seekor keledai.
Yang bodoh.
"Aku tadi bertemu dengan adikmu tapi sepertinya dia sudah pergi,"
"Kau mengenal adikku?"
Aku sangat mengenalnya.
Kami mengincarnya untuk waktu yang lama.
Aku menggeleng dan tersenyum ringan. "Tidak, tadinya. Sebelum pengawalnya menumpahkan cocktail padaku dan mengenalkanku Tuan Donghae," senyumku mengembang, persis seperti seorang jalang yang menemukan mangsa empuknya.
Oke, aku memang jalang.
Sial.
Hyukjae tersenyum miring, memandangi ujung gaunku yang setengah kering dan lengket tentu saja. "Haruskah aku membelikanmu gaun baru untuk permintaan maaf?"
"Sayangnya aku menyukai gaun ini, jadi aku bisa membersihkannya," aku mengisyaratkan arah toilet dengan ibu jari. "Senang bertemu denganmu, Tuan Lee,"
"Kau tau kan aku yang berada didaftar pelangganmu selanjutnya," ucapnya sambil terkekeh ringan. Aku hanya tersenyum.
Lagi-lagi suara geraman buas yang terdengar ditelingaku membuatku nyaris bergidik ngeri.
"Tentu saja," aku sedikit membungkukkan badanku untuk memberinya hormat dan berdiri memunggunginya.
Ya, kau yang ada didaftar orang yang akan kubunuh selanjutnya, brengsek.
Aku mempercepat langkahku menuju pintu darurat diujung lorong. Berkali-kali mengumpat karena kesal.
"Kris, kau mendengarku?" mencoba bersuara karena telingaku terasa begitu tenang dari tadi.
"Kau bekerja dengan baik," sahutnya.
Aku mendengus kasar, membanting pintu darurat dengan kaki. Suama debumannya menggema di sepanjang lorong yang sepi. Aku tidak peduli itu akan menarik banyak perhatian, aku hanya butuh sesuatu untuk melampiaskan kesal.
Bajingan sialan.
"Brengsek. Bagaimana aku bisa bertemu dengan bajingan itu. Ya Tuhan, aku merasa jijik dengan diriku sendiri,"
Suara Chanyeol terkekeh. "Kau sudah sangat berpengalaman,"
"Sial," umpatku lagi, lalu suara tawa Chanyeol yang menyebalkan, meledak. "Jadi, apa aku harus benar-benar menuruni tangga sekarang?" aku memandangi jejeran ribuan anak tangga yang membentuk lingkaran menuju lantai dasar.
Tak bisakan mereka membiarkanku keluar melalui lift. Aku bahkan memakai gaun cantik malam ini.
"Lantai delapan tidak terlalu buruk kan?" tanya Kyungsoo.
Aku mengembuskan napas keras sebelum melepas sepatu tinggi yang serasa menguliti kakiku. "Sampaikan permohonan maafku pada Minseok karena aku merusak mahakarya-nya,"
"Aku tak yakin dia akan memaafkanmu untuk yang satu itu," bisik Baekhyun sarkas membuatku terkikik geli. Bayangan wajah Minseok yang geram sudah terintas dibenakku.
Aku menggenggam ujung gaunku yang membuat robekan yang cukup panjang dari pangkal kaki hingga batas setengah paha, kemudian meregangkan kedua kakiku lebar-lebar untuk melakukan pemanasan, tidak terlalu bodoh untuk membuat kakiku kram nanti.
Suara Sehun sayup-sayup terdengar ditelingaku, tidak begitu jelas karena suaranya terdengar ditengah keributan, lalu tiba-tiba suaranya menghilang begitu saja, digantikan suara 'bip' yang panjang, tanda sinyal terputus.
Apa yang sedang dilakukannya sekarang.
"Sehun baik-baik saja?" tanyaku. Merusaha menyesuaikan langkah kaki dengan jarak anak tangga.
"Dia sudah keluar gedung. GPS mobilnya aktif," balas Yixing.
Aku tidak menjawab. Setidaknya dia baik-baik saja, itu sudah cukup.
Kakiku secara otomatis menelusuri anak tangga dengan cepat menuju lantai dasar. Meskipun aku harus menghindari pegawai hotel yang kebetulan berada di pintu darurat karena aku tidak mau dianggap orang gila dengan gaun robek dan berlari tanpa alas kaki.
Aku tidak mau diseret keluar secara paksa karena dianggap penyusup.
Meskipun secara teknis aku memang seorang penyusup.
Aku memasuki lantai dasar dan kembali memakai sepatu tinggi menyebalkan yang Minseok puja bagaikan dewa. Beruntungnya, orang-orang tidak memperhatikan sobekan lebar pada gaunku. Pandanganku mengedar keseluruh ruangan, mencari sosok yang mungkin kukenal lagi. Tapi aku tidak menemukan apapun.
"Dimana Sehun?" bisikku, berjalan menelusuri lobby dengan langkah anggun –sepertinya kupikir anggun- berusaha tidak menarik banyak perhatian.
"Sehun sedang menuju kesini, sepertinya. Sinyalnya tidak terdeteksi lagi," Kyungsoo menyahut.
Jadi Sehun benar-benar mematikan sinyalnya.
Aku meraih ponsel untuk menghubunginya. "Ya?" jawab Sehun setelah nada sambung kelima, suaranya terdengar seperti biasanya.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa sinyalmu mati?" aku memandangi CCTV yang bergerak-gerak jauh diatasku. Baekhyun pasti sudah melihatku sekarang.
"Aku sedang dalam perjalanan ke kantor. Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan napas pendek-pendek.
Apa yang dia lakukan sebenarnya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apa yang terjadi denganmu sebenarnya?" tuntutku.
"Ceritanya panjang," dan aku mengerang sebal.
Aku memutuskan sambungan secara sepihak dan menggerakkan tangan diatas kepala untuk memberikan tanda pada Baekhyun melalui CCTV, kemudian berjalan keluar dengan tenang.
Mobil hitam Chanyeol berhenti tepat di depanku saat aku baru saja melangkah melewati pintu keluar, Chanyeol turun untuk membukakan pintu untukku dengan senyum mengembang dan keringat yang membasahi wajahnya.
"Apa yang terjadi?" seruku ketika Chanyeol mulai menjalankan mobilnya.
Chanyeol menepuk kepalaku ringan.
"Bisa tidak kau jangan berteriak?" protesnya sebal, Chanyeol melemparkan earchip-nya dengan kasar padaku.
"Apa yang terjadi dengan Sehun? Apa dia baik-baik saja?" ulangku dengan suara lembut.
Chanyeol mengerang kesal. "Aku juga tidak tau. Sinyalnya hilang saat dia keluar dari gedung. Mungkin kesalahan teknis. Kau tau, Jongin yang biasa menyiapkan semua peralatan komunikasi,"
Aku mengerang. "Oh sial. Aku merindukan Jongin,"
"Aku juga,"
"Berhentilah menjadi pecinta sesama jenis, Chan. Jongin akan memilih Kyungsoo daripada kau," samar-samar aku mendengar suara cekikikan Kyungsoo dan Chanyeol lagi-lagi menepuk kepalaku.
Kali ini tidak pelan.
Aku tidak lagi menghiraukannya karena berusaha menggapai resleting gaun dibelakang tubuhku. Gaun cantik ini membuat tubuhku gatal-gatal karena alergi, mungkin. Aku harus melepaskan ini sebelum aku benar-benar mati karena sesak napas.
"Kau butuh bantuan?" tanya Chanyeol, kepalanya menoleh kearahku sekilas.
"Kau yakin bisa menahan diri?" balasku dan Chanyeol mengangguk ringan. "Baiklah. Tolong tarik ini ke bawah tapi jangan hentikan mobilnya,"
"Kau mau kita kecelakaan?"
"Kalau kau hentikan mobilnya, aku yakin akan terjadi apa-apa, Chanyeol. Apa kau lupa kalau aku sudah sangat mengenalmu dengan baik?"
Chanyeol tertawa, kemudian tangannya menarik resleting gaunku ke bawah tanpa menghentikan mobil.
"Kau akan ganti baju disini?" Chanyeol kembali bertanya dengan kening berkerut, menoleh kearahku dan buru-buru membuang pandangannya.
Aku mengangguk, lalu mengambil baju ganti Chanyeol yang selalu dibawanya kemanapun, di bangku belakang dan mulai melepas gaunku dari atas.
"Wow, tunggu dulu," seru Chanyeol tiba-tiba, membuatku berhenti membuka gaunku yang sudah sampai diatas perut.
"Kenapa?"
"Aku tidak yakin dengan ini," erangnya.
Aku menepuk kepalanya. "Fokuslah mengemudi. Aku sudah tidak tahan dengan gaun ini. Kau mau aku mati tersiksa?"
"Kalau kau ganti baju disini, aku yang tersiksa," Chanyeol mendebat. "Aku tidak akan bisa mengendalikan mataku,"
Aku mendengus kearahnya, memutuskan untuk tidak melanjutan pembicaran kurang masuk akal ini dan meneruskan membuka gaun yang membungku tubuhku. "Kau bahkan sudah pernah melihatku tanpa sehelai benangpun,"
Chanyeol tersedak.
"Kau benar," bisiknya menyerah, kemudian memfokuskan matanya ke jalanan tanpa melirikku sama sekali.
Chanyeol sudah punya pengendalian diri yang hebat sekarang.
Atau mungkin karena Baekhyun sedang mendengar percakapan kami sekarang.
Aku tidak tau.
.
.
Setelah Chanyeol membelikanku makan malam, aku memutuskan untuk minta diantar pulang karena aku benar-benar butuh istirahat. Lagipula besok adalah akhir pekan, aku tidak akan menjadi orang bodoh yang bekerja lembur semalaman diakhir pekan.
Meskipun aku yakin besok Kris akan berteriak padaku, memintaku masuk kerja.
Lampu apartemen Sehun sudah menyala saat aku menekan password-nya. Sehun sudah pulang.
"Ya Tuhan," seruku saat Sehun tiba-tiba berdiri di depan pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Aku mengusap-usap dada karena kaget, dia muncul tiba-tiba.
"Kau sudah makan malam?" tanya Sehun dingin, tanpa senyum.
Apa yang salah dengan dia.
Aku mengangguk. "Chanyeol membelikanku makan malam," kakiku menendang sepatu boots agar terlepas.
"Kau menikmati makanannya?" tanyanya lagi, nada suaranya masih terdengar dingin dan tanpa ekspresi.
Pasti ada yang salah.
Aku memandanginya heran sekilas dan mengangguk kaku, bingung. "Tentu saja," jawabku acuh, tapi secara naluriah berjalan menghindarinya menuju sofa.
Sehun aneh malam ini.
"Jadi kau menikmati malammu dengan Chanyeol?" Sehun menekankan kata 'Chanyeol' dalam suaranya.
Aku menatapnya lagi dengan heran bercampur bingung. Apa yang sebenarnya sedang Sehun lakukan.
"Apa maksudmu?" Oh baguslah suaraku terdengar tajam.
"Bagaimana bisa kau menikmati malammu dengan pria lain tanpa menggunakan celana sedangkan suamimu sedang menunggumu pulang di rumah,"
Aku memiringkan kepala untuk mencerna kata-katanya.
Makan malam tanpa celana?
Dengan pria lain?
Apa sekarang Sehun sedang… cemburu?
Aku berdeham, tidak membiarkan diriku untuk gugup meskipun setengah mati aku harus menahannya.
"Tunggu dulu. Ini salah paham. Ini baju Chanyeol dan baju ini kebesaran, jadi menutupi celana pendekku," aku menaikkan kaus Chanyeol dan menunjukkan celana pendekku.
Sekilas aku melihat rahang Sehun mengeras. "Jadi pria itu juga memberimu baju?"
Aku mengerang.
Oh Sehun, kau benar-benar mengajak berkelahi.
Aku menudingnya. "Jangan berpikir macam-macam. Aku dan pria yang kau maksud bernama Chanyeol itu tidak melakukan apa-apa," suaraku melengking di tengah ruangan yang hening.
Sedikit bangga bahwa aku mampu membentaknya.
Sehun mendengus, mengejekku, kemudian berjalan mendekatiku. Tangan Sehun mendorongku dengan kasar hingga punggungku terbentur pintu. Aku mengerang, tapi tidak protes.
Sehun menundukkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya, napasnya terdengar terengah-engah. "Bagaimana aku bisa percaya itu jika Chanyeol saja pernah melihat tubuhmu tanpa benang sehelai pun," aku merasakan suara Sehun bergetar, amarah menguasainya.
Oh tidak.
"K-kau mendengarnya?" sial, kenapa aku menjadi gugup.
Sehun menyeringai. "Bagian mana yang tidak kudengar?" aku menelan ludah gugup.
"S-sehun,"
Ya Tuhan, aku selesai.
"Jadi apa kau juga sempat bermain-main dengan Lee Hyukjae, orang penting itu?"
Oke, aku akan mati malam ini.
Aku menggeleng, merasa bodoh.
"Kau tau ini pekerjaan," aku mencoba membela diri.
Sehun mendekatkan bibirnya di bibirku dan berbisik. "Jadi seperti ini caramu bekerja?"
Dan aku menamparnya dengan kepalan tangan, begitu saja.
Sehun menyentuh ujung bibirnya yang sedikit berdarah, sedangkan aku memandanginya tanpa menyesal. Bajingan ini harus diberi pelajaran.
Sehun mengerang, kemudian mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke atas kepala dan mengunci daguku untuk menciumku dengan brutal. Ciuman Sehun yang biasanya manis sekarang terasa asin karena darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Ya Tuhan, apa Sehun benar-benar semarah itu.
Aku membalas ciumannya, karena aku juga tidak akan pernah bisa menolak.
"Bukannya aku sudah bilang padamu kalau aku sama sekali tidak berbagi?" geramnya didepan bibirku.
Aku mengangguk beberapa kali. "Aku tidak membaginya,"
Sehun menggeleng, kemudian jari dinginnya menelusuri tulang rahangku. "Apa yang harus kulakukan untuk menjadimu milikku seutuhnya, Luhan,"
"Aku milikmu seutuhnnya," balasku tanpa pikir panjang.
Sehun menyeringai kali ini. "Apa kau mengatakan hal yang sama kepada semua pria?"
"Apa kau mau aku menamparmu lagi?"
Sehun mendengus ringan kemudian menciumku lagi. Ciumannya berubah menjadi hangat dan lembut sekarang. Aku kembali bertanya-tanya, apakah pria ini benar-benar memiliki kepribadian ganda.
Dia berubah sangat cepat.
"Jadilah milikku seutuhnya kalau begitu," bisiknya dengan suara berat.
Aku mengejang mendengar ucapannya.
.
.
AUTHOR POV
"Jadilah milikku seutuhnya kalau begitu," suara geraman Sehun yang rendah membuat Luhan nyaris bergidik ngeri, tubuh gadis itu mengejang sempurna.
Luhan tau, Sehun sedang tidak main-main sekarang.
Dengan ragu, Luhan mengangguk, memberikan ijin kepada Sehun untuk berbuat lebih padanya meskipun sebenarnya Luhan takut. Seiring dengan anggukan Luhan, tangan Sehun merobek kaus hitam Chanyeol yang Luhan pakai. Sehun merobeknya menjadi dua bagian, membuat Luhan nyaris memekik, kemudian menghempaskan tubuh Luhan keatas sofa dan mengungkung tubuh mungil itu dengan tubuhnya.
Dibawah tubuhnya.
"Aku tidak suka istriku memakai pakaian pria lain," bisik Sehun di telinga Luhan sebelum akhirnya menciumi leher jenjang gadis itu dengan rakus.
Luhan mengerang, menahan desahan yang sudah sampai diujung lidah. "Aku menyukai kausnya," kemudian Luhan memekik karena Sehun mengigit lehernya kuat-kuat.
"Kau bisa memakai semua kausku,"
Luhan terkekeh, jari-jarinya menelusuri rambut Sehun yang setengah basah. "Apa aku akan terlihat bagus saat menggunakan kaus-kausmu?"
Sehun menggeleng. "Kau akan terlihat bagus jika tidak menggunakan apa-apa," dan saat Sehun mengatakannya, bibirnya kembali menyapu permukaan kulit Luhan yang tidak terlindungi apapun.
Sementara bibir Sehun bekerja dengan baik ditubuhnya, Luhan setengah mati untuk menolak sentuhan bibir Sehun yang memabukkan. Akhirnya gadis itu menarik rambut Sehun untuk menjauhkan bibirnya Sehun dari dadanya.
"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" tanya Sehun bingung karena mendapat penolakan secara tiba-tiba.
"Kita sudah sepakat untuk tidak melakukan ini,"
Sehun mengerang. "Kau yang sepakat, bukan aku,"
"Aku tidak ingin punya bayi," Luhan mendebat, mendorong dada Sehun yang kembali menghimpitnya.
"Ya Tuhan, bagaimana kau bisa membuatku menghentikan semua ini, Luhan. Kau benar-benar bisa membuatku gila,"
Luhan menarik dirinya untuk duduk dan mengangkat bahu acuh. "Aku sudah bilang padamu, aku tidak menginginkan bayi," Luhan bersikeras, membuat Sehun harus membuang napas kuat-kuat.
"Demi Tuhan, Luhan, kau bahkan sudah separuh telanjang,"
"Aku tidak keberatan untuk naik dan memakai baju,"
"Aku keberatan," potong Sehun. "Baiklah baiklah. Aku tidak akan membuat bayi tapi jangan membuatku berhenti dan kau benar-benar bisa membuatku gila, Sayang,"
Luhan menggeleng, kedua tangannya menahan tubuh Sehun yang mulai mendekatinya. "Jangan. Pernah. Membuat. Bayi," ulangnya dengan tegas, tangannya merogoh kantung celana pendeknya untuk mengambil sebuah bungkusan kecil alumuniun foil dan melemparkannya pada Sehun.
"Demi Tuhan, dari mana kau mendapatkan ini?" Sehun menatap Luhan tak percaya.
Luhan terkekeh geli tanpa sebab. "Kau harus percaya ini, aku bahkan memintanya langsung dari Chanyeol,"
Sehun mengerang frustasi dan mengacak rambutnya dengan sebelah tangan. "Kau ingin aku menggunakan ini?"
Luhan mengangguk semangat. "Ya atau tidak sama sekali, Sehun. Semua kau yang menentukan,"
Sehun menghembuskan napas keras sekali sebelum akhirnya mengangkat tangan tanda menyerah. "Baiklah baiklah. Ayo kita lakukan,"
Luhan tersenyum puas dan merengkuh Sehun dalam pelukannya. Luhan tidak menolak saat Sehun mengangkat tubuhnya, menggendongnya dalam dekapan dan menaiki tangga.
Luhan pikir, Sehun membawanya ke kamar mereka.
Sehun membanting tubuh Luhan di ranjang, membuat gadis itu memekik protes karena tubuh polosnya bersentuhan dengan dinginnya kasur. Sehun hanya tersenyum lebar dan dengan cepat melepaskan pakaiannya.
Gerakannya terburu-buru.
"Aku tidak akan pergi kemanapun," bisik Luhan, mengingatkan.
"Aku tidak akan ambil resiko dengan itu," dengan cepat Sehun menindih tubuh Luhan dan menelanjangi gadis itu dengan sebelah tangan.
Tangan Sehun berada dimana-mana, menjelajahi setiap inci tubuh indah di bawahnya. Sedangkan bibirnya sibuk bermain dengan bibir Luhan, membuat gadis itu terengah-engah mencari udara.
Luhan tau, Sehun butuh dirinya sekarang.
Luhan mengejang saat tubuh Sehun yang keras menyentuh dirinya, mengalirkan getaran-getaran aneh yang mengalir menuju pusat tubuhnya. Luhan nyaris memekik saat Sehun menghisap lehernya terlalu kuat.
Jemarinya menarik rambut Sehun agar menjauhi lehernya. "T-tunggu dulu," cicitnya.
"Kenapa? Kau mau menolakku lagi?"
Luhan menggeleng ringan. "Bukan begitu, Sehun. Aku–," Luhan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kau kenapa?" desak Sehun.
Luhan tidak tau apa yang dia rasakan sekarang ini, lebih tepatnya. Perasaannya terasa begitu, well… Luhan menyebutnya dengan aneh.
Sedikit takut?
Luhan rasa dirinya adalah seorang pengecut.
"Aku takut, Sehun," bisik Luhan ragu-ragu, memejamkan mata untuk menghindari tatapan Sehun.
Sehun mendesah ringan, mencoba untuk bersabar dan mengendalikan gairah yang meluap-luap dalam tubuhnya. Sehun menatap wajah Luhan, memang ada keraguan disana, tapi Luhan sedang tidak main-main atau mengerjainya sekarang.
Demi Tuhan, Sehun hanya butuh gadis ini.
"Kenapa harus takut? Ini bukan yang pertama untukmu kan?" suara Sehun melembut.
"Hanya saja–," lagi-lagi Luhan tidak melanjutkan kalimatnya. Wajah Luhan peruh keraguan, matanya masih terpejam erat.
"Sayang," Sehun mengusap kepala Luhan. "Buka matamu," dengan ragu-ragu Luhan membuka matanya, Sehun menatapnya dengan pandangan sayang. "Aku akan terkendali. Percayalah," Sehun mengecup permukaan bibir Luhan dengan lembut.
Luhan mengerjap beberapa kali, jantungnya berdetak dengan cepat.
"K-kau yakin?"
"Seratus persen. Aku tidak akan menyakitimu, aku janji," Luhan merasakan pipinya menghangat saat melihat Sehun tersenyum diatasnya dan mengecup bibirnya.
Saat tubuh mereka menyatu, Sehun terus menerus mengatakan bahwa dia mencintai Luhan dan hal itu bukannya membuat Luhan mual karena bualan, Luhan merasa dirinya adalah wanita paling beruntung karena memiliki Sehun.
Malam itu, mereka melewati sesi bercinta yang manis. Sehun memperlakukannya dengan lembut. Sama seperti saat pertama kali.
.
.
10.00 KST
Hari ini akhir pekan, hari dimana Luhan seharusnya mendapatkan jatah liburnya yang sangat berharga. Tapi minggu ini berbeda, Luhan harus pergi ke kantor untuk menemui Kris. Katanya ada hal penting yang ingin Kris sampaikan tentang pekerjaannya malam ini.
Tapi Luhan yakin itu bukan hal yang penting, sebenarnya.
Luhan melangkahkan kakinya menuju kedai kopi di depan kantornya untuk mendapatkan asupan kafein hariannya. Hari ini kantornya libur, jadi tidak akan ada gadis cantik yang memberikan kopi pagi untuknya. Dan tanpa kopi paginya, hanya akan semakin merusak keseimbangan mood-nya yang sudah nyaris hancur sekarang.
Setelah membeli beberapa cup kopi, gadis mungil itu setengah berlari untuk masuk ke gedung kantornya. Dia sudah hampir terlambat sepuluh menit dan pasti Kris sudah siap melontarkan kalimat pedasnya lagi.
Telinganya akan kebas lagi hari ini.
Luhan benar, saat pintu lift terbuka di ruang kerjanya, Kris sudah berdiri tepat di depan pintu lift dengan tatapan tajam dan kedua tangan terlipat di depan dada. Kemudian matanya dengan cepat beralih memandangi jam tangan hitamnya.
Dan memandang Luhan lagi dengan pandangan siap menguliti.
"Sepuluh menit diakhir pekan apa itu sebuah tindak kejahatan tingkat satu?" Luhan berpura-pura dalam sebuah senyuman tipis, menyerahkan empat cup kopi kepada Kris untuk membuatnya diam.
Kris hanya menjawab dengan decakan sebal.
"Selamat pagi," sapa Luhan kepada semua orang dengan nada ceria dan diiringi tatapan heran dari semua orang disana.
"Kau bahagia sekali," Zitao berbisik sambil melirik Luhan dari balik ponselnya.
Luhan tersenyum lebar. "Tentu saja. Bekerja diakhir pekan sangat menyenangkan," mata gadis itu beralih melirik Kris dan yang dilirik cepat-cepat membuang muka.
Chanyeol menyeringai. "Apa kau mendapatkan Sehun semalam penuh?"
Luhan tersedak kopi paginya.
"Wow, apa efeknya begitu hebat hingga membuatku bahagia sampai sekarang?" sambung Yixing dengan wajah berseri-seri.
Luhan masih terbatuk-batuk tanpa kendali.
"Memangnya sehebat apa Sehun, Lu? Aku penasaran," tanya Baekhyun dengan tawa kecil.
Luhan masih belum bisa menjawab karena batuknya belum berhenti.
"Aku penasaran," Kyungsoo menirukan perkataan Baekhyun, diiringi tawa dari semua orang.
Luhan memelototi mereka semua dan menuding mereka satu persatu dengan bulpoint hitamnya. "Berhentilah merusak keseimbangan moodku yang tidak bagus," ancam Luhan.
"Baiklah, mari kita mulai bekerja selagi moodmu belum rusak," sahut Kris diiringi desahan malas semua orang.
"Demi Tuhan, sekarang sudah hancur," balas Luhan kesal.
.
.
Luhan hampir tidak bisa menangkap apa yang Kris bicarakan sepanjang rapat. Pikirannya melayang-layang dari tubuhnya sejak kepergian Zitao ke rumah Minseok untuk melatih Sehun menembak beberapa menit yang lalu.
Dia tidak yakin Sehun bisa melakukan pelatihannya dengan baik kali ini. Luhan sempat mendebat Kris beberapa waktu yang lalu agar Sehun tidak perlu mendapatkan pelatihan menggunakan senjata, toh itu juga tidak akan berguna karena mereka jarang melakukannya.
Tapi Luhan tak pernah bisa membuat Kris kalah, satu kalipun.
Lemparan ponsel yang mengenai lengan Luhan, membuat gadis itu tersentak kaget, terbangun sepenuhnya dari lamunan panjang tentang Sehun. Luhan memusatkan pandangannya ke wajah Kris yang sedang menatapnya geram, kemudian memasang seulas senyum di wajahnya.
Senyum tanpa dosa.
"Aku mendengarmu, Kris. Malam ini aku akan pergi dengan Suho kan?" Luhan memasang wajah lucu yang sangat Kris benci.
Kris mendengus. "Kau pergilah ke rumah Minseok sekarang. Dia bilang ingin memakanmu,"
Luhan tersenyum lagi, dengan cepat mengambil barang-barangnya. "Terima kasih sudah melaporkanku pada Minseok," Luhan mengedipkan sebelah matanya.
Setelah memberikan kecupan singkat pada Kyungsoo, Baekhyun, dan Yixing, dibalas dengan decihan jijik ketiga gadis itu, Luhan berlari kecil menuju lift. Sungguh ini yang diharapkannya dari tadi. Keluar dari ruang rapat yang sangat membosankan.
"Jangan ganggu Sehun," Kris berteriak saat tubuh Luhan sudah menghilang dibalik lift.
Luhan berhasil sampai di rumah Minseok setelah melewati macet yang panjang. Jalanan ibukota di siang hari benar-benar buruk. Minseok sudah menunggunya di depan pagar, menghadang mobil yang di tumpangi Luhan dengan tubuh mungilnya.
Jika Luhan tidak ingat siapa Minseok, mungkin dia akan melindas gadis itu.
"Bagus sekali kau mau menyambutku, Minnie," ucapnya, mengecup pipi Minseok.
Minseok memutar bola mata sebal. "Mari kita lihat apa yang sudah penjahat ini lakukan," Luhan mengangkat bahu acuh. "Pertama, merusak mahakaryaku,"
"Ya Tuhan, kau hanya bisa menjahitnya lagi,"
Minseok mengerang. "Kedua, mencuri mobil adikku," Minseok melirik mobil Jongdae yang Luhan bawa.
Luhan terkikik. "Adik kesayanganmu itu sembarangan menaruh kunci, Minnie,"
"Ketiga, kau pasti akan menganggu Sehun lagi kan?"
Luhan memajukan bibirnya, kemudian mengangguk dengan lucu dan berjalan menuju rumah Minseok tanpa menghiraukan gadis mungil yang sedang mendengus kesal di belakangnya.
Sehun sedang beristirahat setelah menyelesaikan satu sesi latihan menembak yang panjang. Zitao pasti menyiksanya tanpa ampun. Gadis itu akan menjadi psikopat saat bertemu dengan senjata. Sekarang saja dia sedang menceramahi Sehun dengan sederet kalimat tidak penting.
"Sehun," seru Luhan, kedua tangannya melambai-lambai. Zitao maupun Sehun menoleh kearah Luhan berdiri dengan tatapan heran.
"Apa yang kau lakukan disini, Lu?" tanya Sehun bingung.
"Bukannya kau akan melakukan tugas malam nanti dengan Suho?" pertanyaan Zitao yang gamblang membuat Luhan menendang pantat gadis itu agar diam.
Luhan tersenyum pada Sehun. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,"
Sehun menatapnya dengan pandangan bodoh, tidak mengerti. "Ada apa sebenarnya?"
"Hanya bicara,"
"Kau yakin hanya bicara?" lagi-lagi pertanyaan Zitao membuat Luhan menarik rambutnya dengan kasar. Zitao memekik.
"Ayo kita bicara, Sehun,"
Sehun memandang Zitao aneh, meminta penjelasan, tapi Zitao hanya menggelengkan kepalanya.
Luhan menarik Sehun memasuki kamarnya di lantai dua, kamar yang biasa dia pakai saat menginap di rumah Minseok. "Oh Sehun,"
Sehun hanya menjawab dengan gumaman. Tangannya terulur untuk menggapai pinggang Luhan yang meletakkan gadis itu dalam pangkuannya. Sedangkan bibirnya mulai bergerak mengecupi pipi Luhan.
"Aku tidak tau mengapa aku melakukan ini. Tapi sepertinya aku memang harus melakukannya,"
Sehun mengangkat wajahnya, menatap mata Luhan lekat-lekat. Sehun mencari sesuatu, tapi hanya ada keraguan disana. "Melakukan apa?"
Luhan memejamkan mata, menghindari pandangan Sehun yang menusuk. "Kurasa aku harus mendapatkan ijinmu untuk tugas nanti malam," bisiknya.
Sehun terkekeh, bibirnya mulai menyentuh leher rahang dan leher Luhan, mengecupi setiap inci kulit tipis gadis itu. "Bagaimana kalau aku tidak mengijinkannya?"
Luhan mengerang saat Sehun menghisap lehernya. "Sehun,"
"Apa tugasmu kali ini, Sayang?"
Luhan menghentikan tangan Sehun yang mulai bergerak menelusuri tubuhnya. Sehun harus bisa dihentikan sebelum ini akan lebih jauh lagi.
"Aku akan menyusup ke rumah Lee Donghae. Mengambil barang penting,"
"Kau akan pergi dengan Suho?" Luhan mengangguk ringan. "Kenapa?" lanjutnya.
"Dengan Suho?"
"Bukan," Sehun berhenti sebentar untuk mengecupi bibir Luhan. "Kenapa harus kau?"
Luhan mengerang saat tangan Sehun meremas pantatnya. "Sudah tugasku, kurasa"
"Aku akan mengijinkanmu kalau kau memenuhi janjimu,"
"Janji?"
"Pulanglah tanpa luka," Luhan diam, tidak bisa menjawab apapun. Dia tidak bisa berjanji, bahkan untuk mengangguk, gadis itu terpaksa melakukannya.
Sehun hanya tersenyum ringan saat Luhan mengangguk, kemudian bibirnya sudah sibuk bekerja di bibir Luhan.
.
.
Luhan berlari dengan cepat dan memasuki mobil Suho yang sudah menunguunya di depan apartemen Sehun selama lebih dari lima belas menit, mungkin. Setelah kepulangannya dan Sehun beberapa waktu lalu dari rumah Minseok, Luhan tidak bisa menghentikan Sehun yang merengek padanya untuk bermain-main sebentar.
Dan itu sama sekali tidak sebentar.
"Maaf aku terlambat," Suho tidak menjawab, dia menekan pedal gas dengan kasar dan mobilnya melesat begitu saja. "Kau marah?" tanya Luhan lagi, menoleh ke arah Suho.
Suho mendengus. "Demi Tuhan Luhan, kau nyaris membuatku dicincang oleh Kris,"
"Aku hanya terlambat lima belas menit," Suho tidak menjawab, dia hanya mengatupkan rahangnya kuat-kuat.
Tapi Luhan tau, Suho tidak akan pernah bisa marah padanya.
Mobil yang dikendarai Suho memasuki jalan pinggir kota yang sepi, tentu saja karena ini tengah malam. Luhan menyadari bahwa jalanan yang Suho ambil salah, tapi saat Luhan menoleh ke arahnya, pria itu sama sekali tidak memutar arah.
"Kau yakin tidak salah jalan?"
Suho menunjuk GPS di dashboard mobil dengan dagunya yang runcing. "Ini tidak salah,"
Luhan mengikuti arah yang Suho tuju, GPS-nya. Tanda merah dan biru dilayar GPS itu tidak menunjukkan perubahan, kedua tanda itu masih berkedip-kedip seperti semula. Tapi sepertinya bukan ini jalan menuju daerah rumah Donghae.
Ponsel Luhan bergetar.
Yixing.
"Kalian mengubah arah?" tanya Yixing langsung.
Luhan mengisyaratkan pada Suho untuk menepi dan menghentikan mobil.
"Tidak. GPS-nya benar," sahut Luhan.
"Sinyal kalian tidak terlacak," Luhan menekan liontinnya, liontinnya berkedip-kedip, tapi dia tidak bisa mendengar apapun. "Apa liontinmu rusak?" tanya Yixing lagi.
Baik Luhan maupun Suho saling berpandangan. Ini aneh, pasti ada yang salah. Suho memasang earchip-nya dan menyalakan sinyal. Dahinya berkerut bingung.
"Aku tidak bisa mendengar apapun," kata Suho, matanya memandang Luhan penuh pertanyaan. Sedangkan Luhan masih memasang ekspresi bodoh, berusaha mengingat sesuatu yang mungkin dilupakannya.
"Kau yakin operasi ini bersih?" tanya Luhan pada Yixing, setelah menyadari ada sesuatu yang salah.
Yixing tidak menjawab, tapi suara keyboard yang beradu dengan jari-jari terdengar jelas ditelinga Luhan, cukup menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
"Sial," Yixing mengumpat keras, membuat Luhan menjauhkan ponsel dari telinganya. "Batalkan misinya. Cepat kembali," Yixing mematikan sambungan begitu saja.
Lagi-lagi Suho dan Luhan salling berpandangan dengan bingung. Keduanya sama-sama tidak mengerti dengan kesalahan teknis yang mungkin terjadi di kantor sana. Tapi perintah tetap perintah.
Mereka harus patuh.
Suho mengemudikan mobilnya kembali menuju perempatan untuk memutar arah. Mereka harus berhenti di perempatan jalan karena lampu berubah menjadi merah. Tangan Luhan sibuk mengutak-atik ponselnya, mencoba menghubungi Kris dan menuntut penjelasan.
Luhan tidak tau apa yang terjadi saat suara klakson dari arah kanannya begitu memekakkan telinga. Saat Luhan menoleh untuk melihat, sorot cahaya lampu membuatnya memejamkan mata karena silau.
Sepersekian detik berlalu, Luhan mendengar Suho mengumpat keras dan tangannya berusaha memeluk tubuhnya dari samping. Baru saja Luhan akan membuka matanya, sebuah hantaman keras mengguncang mobil mereka, membuat tubuh mungilnya membentur sesuatu yang keras. Tubuhnya serasa berputar-putar, membentur apa saja disekelilingnya selama beberapa saat.
Luhan pikir matanya terbuka, tapi dia tidak bisa melihat apapun. Setelahnya, Luhan tidak tau apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya tidak bisa merasakan apapun.
Pandangannya kabur, semuanya berputar-putar aneh. Luhan tidak yakin bahwa dia melihat gambaran wajah Kris lalu Sehun dan juga teman-temannya. Dia pikir dirinya berhalusinasi.
Suara dentuman benda keras yang saling betubrukan, suara kaca pecah, dan suara alarm mobil yang berdengung-dengung menarik tubuh Luhan kembali ke dunia nyata. Luhan bisa merasakan napas Suho yang terengah-engah di tengkuknya.
Pendek-pendek, nyaris putus.
Bau anyir darah menyapu indra penciumannya.
Butuh sepersekian detik bagi Luhan menyadari bahwa ini kecelakaan.
Luhan bisa merasakan saat kedua tangan Suho melepaskan tubuhnya dan sedikit terbatuk-batuk. Pandangan Luhan yang sempat mengabur beberapa saat lalu mulai bekerja normal lagi, meskipun itu belum begitu jelas, yang dia lihat pertama kali adalah wajah Suho penuh darah sekarang.
"Kau baik-baik saja?" itu suara Suho.
Luhan mengangguk, sangat lemah sampai Suho tidak menyadarinya.
Dengan satu gerakan cepat, Suho menendang pintu mobil yang nyaris hancur. Suho memutari mobil untuk menggapai pintu disamping Luhan. Tangannya menarik paksa pintu mobil yang sudah tidak berbentuk, kemudian menarik tubuh Luhan dengan hati-hati dalam gendongannya, takut seakan-akan gerakan kecil yang ditimbulkannya akan menyakiti Luhan.
Luhan sama sekali tidak bergerak.
Suho meletakkan tubuh Luhan yang gemetar dan berlumuran darah di pinggir jalan yang kosong, menjauhkannya dari mobil yang mulai mengeluarkan asap. Setelah memastikan Luhan masih bernapas, Suho berjalan mendekati truk besar yang tadi menabrak mereka.
Truk itu kosong, tanpa pengemudi. Mata Suho menelusuri seluruh jalanan yang kosong, tapi dia sama sekali tidak menemukan apapun dan siapapun.
Sial.
"Sial," umpat Suho. Jemarinya dengan cepat menekan tombol di jam tangannya. "Darurat. Luhan kritis. Aku butuh satu menit," bisiknya, lalu kembali ke tempat Luhan terbaring.
Suara berisik menyapu pendengarannya. Setidaknya Kris pasti mendengarnya.
"S-suho," suara Luhan terdengar sangat mengerikan.
Suho menangkup kepala Luhan dalam pangkuannya, mengusap wajahnya yang penuh darah. "Tetap bersamaku, Luhan. Tetap bersamaku," bisiknya terus menerus.
Luhan mengangguk ringan, meskipun itu nyaris bukan seperti sebuah anggukan. Kepalanya mengeluarkan banyak darah dan juga tubuhnya penuh luka akibat pecahan kaca. Luhan tidak menggerakkan tangannya sama sekali, ada kemungkinan itu akan patah.
Mata Luhan yang bergerak-gerak perlahan mulai terpejam. Meskipun Suho terus mengulangi perkataannya agar Luhan tetap tersadar, gadis itu tidak bisa merespon apa-apa.
Pandangannya mengabur.
Beberapa detik berlalu, Luhan sudah tidak bisa merasakan seluruh tubuhnya sama sekali. Dia masih bisa mendengar suara Suho yang memanggil namanya beberapa kali. Luhan ingiin menjawab, tapi dia tidak tau bagaimana menggerakkan bibirnya.
Semuanya terasa asing ditubuhnya sekarang.
Lalu saat sebuah sirene terdengar dari kejauhan, hitam sudah menjemput Luhan sepenuhnya.
.
.
TBC
.
.
Hallo, terima kasih sudah membaca kelanjutan fanfic ini.
Maaf beribu maaf karena author lama banget update-nya. Kemarin selama sebulan itu, author mendadak kehilangan ide untuk menulis kelanjutan fanfic ini, mendadak lenyap saja, tapi tenang , sekarang ide ceritanya sudah kembali muncul.
Terima kasih bagi yang sudah membaca dan mereview chapter ini.
Author tunggu review dari readers sekalian, jadi diharapkan untuk review. Bukan apa-apa sih, hanya saja biar author tau kalo fanfic ini ada yang baca /hehe/.
Mohon maaf jika ada kesalahan dan terima kasih.
Sampai jumpa di chapter depan. Bye~
