Aku bermimpi indah.

Mimpi yang bahkan kuharapkan saja tidak pantas.

Mimpi tentang sebuah kehidupan yang kudambakan.

Kehidupan normal, aku sering menyebutnya begitu.

Aku melihat semuanya dengan jelas dalam pandanganku yang terang benderang. Wajah-wajah orang yang kusayangi dengan senyuman bahagia. Seluruh timku, keluargaku, wajah mereka tergambar layaknya malaikat dalam dongeng yang tak pernah kulihat nyatanya. Semua orang mengobrol dan tertawa dengan wajah berseri-seri.

Terlalu indah untuk digambarkan.

Beberapa anak kecil berwajah mirip dengan wajah-wajah kami, berlarian dan tertawa riang. Kadang merengek-rengek pada sesuatu yang tidak penting dan juga menangis karena tersandung jalan berbatu.

Sehun berdiri disana, tersenyum padaku, wajah pucatnya tampak begitu sempurna. Sehun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menyambutku. Aku mendekat ke arahnya, memberikannya kecupan singkat dan tubuhnya langsung membungkus tubuhku, memelukku erat-erat.

Aku tidak merasakan hangat, hanya nyaman.

Dengan sebuah seringaian khasnya, Sehun mengangkat tubuhku dan memutar-mutar badanku di udara. Bibirnya mendendangkan namaku dengan lembut, kemudian menurunkanku untuk menciumku dalam.

Wajah Sehun tampak sangat berbeda. Ekspresi wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Lalu sebuah pukulan ringan di kakiku membuatku menundukkan kepala. Seorang anak perempuan mungil berwajah hampir sama dengan Sehun menatapku dengan bibir mengerucut. Mata coklatnya tampak berkilau, membuatku mendapatkan gambaran diriku sendiri didalam sana.

Ada aku didalam matanya.

Anak kecil itu tersenyum lebar, mengulurkan kedua tangannya kepada Sehun dengan sebuah rengekan dan Sehun mengangkat tubuh anak itu dalam dekapannya, memeluknya dengan lembut, membuat rengekannya berhenti dan berubah menjadi tawa renyah khas bocah.

Sehun lagi-lagi menggumamkan namaku, membuat anak kecil dalam gendongannya menoleh ke arahku, tersenyum dengan manis dan menggerakkan tangannya untuk menggapaiku. Bibirnya bergerak. "Mama," dia menyebutku dengan panggilan itu.

Suara anak perempuan mungil itu membuatku terhenyak, tersentak kaget dan terdorong ke dalam sebuah dimensi aneh yang asing. Tidak menyakitkan, tapi benar-benar tidak nyaman. Cahaya silau menyeruak masuk ke dalam mataku, membuatnya seakan terbakar hingga menembus ke belakang.

Aku memejamkan mata, secara naluriah melindungi mataku yang tidak nyaman.

"Luhan," suara halus itu menyapu pendengaranku, membuatku benar-benar tertarik pada dunia nyata.

Aku mengenalnya.

Suara Oh Sehun.

Dengan sangat perlahan, aku mencoba membuka mata, mengerjap beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang berebut masuk ke mataku. Berusaha menngingatkan diri sendiri bahwa aku tidak bermimpi lagi.

Hanya ada warna putih pada awalnya, dan juga sebuah lampu kristal sederhana berada di atasku. Aku memutar mataku, mencari sosok Sehun dan aku menemukan bayangan dirinya berdiri di sampingku. Pandanganku tidak terlalu jelas karena kepalaku masih berdenyut-denyut.

Wajah Sehun terlihat kusut, rambut coklat keemasannya berantakan menutupi dahinya. Warna kulitnya semakin pucat dan bibirnya juga tidak berwarna merah muda seperti biasanya. Sehun menyentuh pipiku dan seketika aku merasakan kembali tubuhku.

Tubuhku terasa asing dan aneh. Beberapa bagian ditubuhku terasa kelu, ngilu, dan perih juga. Ada denyutan menyakitkan dikepalaku, terasa seperti habis dipukul kuat-kuat.

Sehun memandangiku dengan pandangan yang sulit diartikan, ada kekhawatiran asing dimatanya dan juga ketakutan yang berlebihan. "Luhan," bisiknya lagi, suaranya terdengar parau.

Butuh sekian detik bagiku untuk menyadari bahwa mata Sehun basah, kemudian isakan pelan meluncur begitu saja dari bibirnya yang pucat. Sehun mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti, kemudian bibirnya mengecup tanganku.

Berkali-kali dengan lembut.

"Kau merasakan sakit?" bisik Sehun setengah gemetar. Tangannya menangkup tanganku dengan hati-hati seolah-olah dia bisa menghancurkanku hanya dengan sentuhannya.

Dan mungkin aku memang serapuh itu sekarang.

Kalimat yang Sehun katakan barusan, melemparkanku pada kejadian-kejadian mengerikan beberapa saat yang lalu. Saat tubuhku terhempas keras, terbentur, dan berputar-putar di udara. Suara berisik yang mengerikan, suara kulit robek, bau anyir darah kembali menyapu ingatanku.

Wajah Suho yang penuh darah.

Suho.

Ya Tuhan.

Lalu sebuah serangan hebat melanda kepalaku, rasanya berdenyut, sangat kencang hingga aku mengerang. Kepalaku berputar-putar dan pandanganku mengabur seketika, menghilangkan gambaran Sehun dalam pikiranku. Suara-suara Sehun yang kudengar dengan jelas perlahan menghilang, digantikan oleh suara-suara berisik banyak orang yang tak kukenal.

Orang-orang itu memegang tubuhku sementara aku gemetar menahan sakit. Rasa sakit asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya, mengaliri setiap inci tubuhku dan menembus hingga tulang-tulangku.

Terlalu sakit.

Beberapa saat yang panjang berlalu, rasa sakitnya perlahan memudar. Aku bisa membuka mata dan melihat dengan jelas, mendengar dengan jelas semuanya. Beberapa pria paruh baya berjas putih memandangiku dengan tatapan yang sulit diartikan.

Mereka dokter, kurasa.

"Kau bisa mendengarku?" tanya salah satu dari mereka.

Aku mengangguk sangat pelan, butuh energi yang banyak untuk melakukan gerakan sederhana itu. Rasanya melelahkan.

"Kau merasakan sakit?" tanya satunya lagi.

Aku menggeleng. Tidak untuk saat ini.

Setelah pria tadi berbicara dengan Sehun menggunakan bahasa yang tidak kumengerti dan Sehun mengucapkan terima kasih, mereka semua keluar.

"Suho," aku bersuara, kaget karena suaraku terdengar seperti orang sekarat.

Ya Tuhan, aku memang sedang sekarat.

Sehun memandangiku dengan senyuman tipis di wajahnya, tatapannya penuh ketenangan. Tangannya terulur untuk menggenggam tanganku yang tidak memiliki selang. Dan aku baru menyadari tangan kananku penuh dengan selang.

"Suho baik-baik saja. Pagi nanti dia akan kemari,"

Aku mengernyit bingung. Apa yang sedang dia bicarakan. "Apa yang terjadi, Sehun-ah?"

Ya Tuhan suaraku terdengar buruk sekali.

Sehun menghembuskan napas panjang dan mengecup tangan kananku. "Kau dan Suho kecelakaan, Luhan," aku seketika mengejang. Ingatan tentang kejadian itu kembali memenuhi kepalaku lagi, membuatnya kembali berdenyut kuat.

Aku menunggu sementara Sehun berhenti bicara.

"Ada luka dikepalamu. Kau tidur selama lima puluh delapan jam," ucap Sehun, ragu-ragu. Memandangi jam tangannya sekilas, kemudian beralih memandangiku lagi.

Aku memaksa otakku untuk berpikir. Lima puluh enam jam, berarti ini… satu… dua… tiga hari. Tidak… lalu tugasnya. Operasinya akan gagal.

Oh ini benar-benar buruk.

Aku meraih ujung kemeja Sehun dan meremasnya kuat-kuat. Sehun menyadari pergerakannku dan dengan sangat lembut melepaskan tanganku dari sana. "Aku perlu bicara dengan Kris," aku berseru membuat Sehun sedikit berjengit kaget.

"Tidak," nada suara Sehun meninggi, lebih tinggi beberapa oktaf dari biasanya.

Aku mendongak. "Tidak, Sehun," seruku, mendebatnya, menarik tubuhku untuk duduk dan seketika mengerang ketika denyutan dikepalaku datang lagi.

Sial.

Sehun mendorong tubuhku perlahan, membuatku tetap berbaring. "Tenanglah. Kau baru bangun dari koma. Keras kepala tidak akan menyelesaikan masalah," suara Sehun terdengar tegas dan penuh penekanan, nyaris terdengar seperti bentakan, membuatku bertanya-tanya apa Sehun marah sekarang.

"Sial. Aku tau ini sabotase. Aku sudah mengenali tanda-tandanya. Sial," aku mengerang, berbicara sendiri.

Hal yang paling buruk adalah menjadi lemah dan tidak berdaya.

Menyebalkan.

"Kau hanya memikirkan pekerjaan, kau bahkan lupa bagaimana denganku,"

Aku mengernyit padanya, memasang tatapan masa bodoh. "Kau kenapa? Kau baik-baik saja," dengusku, kesal.

Sehun menghembuskan napas kuat-kuat dan menggeleng, kemudian tersenyum lagi. Tangannya menepuk-nepuk pergelangan tanganku. "Tidurlah, ini masih tengah malam,"

Aku membuang muka. "Aku sudah tidur selama tiga hari, ingat?"

Sehun tidak menjawab, dia hanya tersenyum, menarik selimut hingga menutupi sampai bahu dan menggumamkan lagu pengantar tidurku. Seberapa kuat aku menolak, tapi sepertinya aku terlelap juga.

.

.

Aku terjaga saat ada suara-suara berisik disekililingku, membicarakan sesuatu yang tak kupahami maksudnya. Mungkin saja akibat benturan kemarin, aku kehilangan kemampuan berbahasa. Dua suara wanita yang kukenal baik selama ini dan suara Sehun sedang membicarakanku –setidaknya aku mendengar namaku mereka sebut beberapa kali- lagi-lagi aku tidak bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.

Kyungsoo dan Baekhyun, manusia paling berisik sedunia.

Karena suara mereka yang tidak terdengar lagi, aku memutuskan untuk membuka mata, terlalu penasaran untuk tetap pura-pura tidur.

"Kau baik-baik saja?" suara Kyungsoo. Aku melirik kedua orang yang berdiri di samping kanan dan kiriku, bergantian.

"Tadinya aku baik, sebelum kalian datang," aku tidak bisa menahan untuk tidak mendengus pada mereka. "Kalian berisik sekali,"

Baekhyun mendesah ringan, memasang pandangan menyesal yang seratus persen kuyakini itu palsu. "Kau pikir membujuk Sehun supaya mau meninggalkanmu adalah hal yang mudah, begitu?" Baekhyun berseru, nadanya tingginya terdengar seperti biasa.

Aku berhenti sejenak, berpikir, berusaha mencerna perkataan Baekhyun yang meluncur sangat cepat dari bibir mungilnya yang tajam.

Tunggu dulu.

"Memangnya dia tidak pulang selama ini?" aku berbisik.

"Sama sekali tidak," Kyungsoo menambahkan dengan semangat menggebu-gebu, mengepalkan tangan kirinya ke udara. "Aku lupa kapan terakhir dia tidur dan makan. Dia seperti orang mati, padahal kau yang hampir mati,"

Aku mencubit lengannya dan Kyungsoo hanya meringis. Gadis ini benar-benar memiliki mulut yang licin.

Tunggu dulu.

Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan semalam padanya. Sehun menjagaku selama aku tidak sadar dan dia mendapatkan makian setelah aku bangun. Aku sama sekali tidak memikirkannya.

Bahkan semalam Sehun… menangis, untuk yang pertama kalinya aku melihatnya menangis.

Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?

"Kau merasakan sakit?" suara nyaring Baekhyun membuatku tersadar dari pikiranku.

Aku menggeleng ringan, berusaha tidak membuat kepalaku kembali berdenyut. "Sehun dimana sekarang?"

Baekhyun menunjuk ke arah sofa dan ada sepasang kaki pucat berada diatasnya, Sehun sedang berbaring disana dengan mata terpejam.

Aku memejamkan mata, menutupi wajahku dengan kedua tanganku. "Ya Tuhan, aku jahat sekali," aku benar-benar merasa menyesal dan malu pada Sehun tentang semalam.

"Kau benar-benar tidak memikirkan perasaannya," bisik Baekhyun, nada suaranya terdengar dibuat menyeramkan.

Aku mendengus ke arahnya, sama sekali tidak membantu.

Suara pintu yang terbuka membuatku menoleh, Suho dan Jongin berdiri disana dengan dua kantung penuh di tangan mereka. Jongin meletakkan kantung itu di meja samping Sehun tertidur dan membangunkan Sehun untuk menyuruhnya makan.

Sehun bangkit dan menoleh kearahku, kemudian tersenyum tipis dan aku membuang muka, menghindari tatapannya.

Pengecut sekali.

"Aku akan makan dulu, kalau begitu," ucap Baekhyun dengan nada ceria, kemudian berlari-lari kecil menuju sofa.

Aku memutar bola mata sebal. "Penghianat. Bagaimana kau bisa makan enak sedangkan rekan kerjamu sedang terbaring seperti ini," dengusku.

Baekhyun dan Kyungsoo sama sekali tidak menghiraukanku, mereka sudah bergabung makan dengan Sehun sekarang.

"Kau baik-baik saja?" Suho menatapku dengan pandangan takjub. Aku sempat bertanya-tanya apa aku tampak seperti orang mati beberapa hari terakhir ini, semua orang tampak melihatku seperti hantu.

Aku mengangguk, mengulurkan kedua tanganku untuk memeluknya dan Suho merengkuh tubuhku dengan hati-hati seolah aku barang pecah belah yang retak.

Aku menyentuh dahinya yang diplester dengan ujung jari telunjukku. "Ini baik-baik saja kan?" Suho mengangguk ringan. "Wajahmu berlumuran darah waktu itu," aku menangkupkan tanganku pada kedua pipinya yang hangat.

Suho terkekeh. "Itu darahmu, bodoh," sahutnya ringan, aku menatapnya tak percaya dan seketika bergidik ngeri, padahal aku tidak bisa merasakan sakitnya sama sekali waktu itu.

Jongin berdeham keras-keras, membuatku pengalihkan pandangan ke arahnya. "Kau bahkan tidak menyapaku?" protesnya, Jongin mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi kesal dan itu membuatku nyaris muntah.

Dia sama sekali tidak lucu.

Aku tidak bisa memikirkan hal lain untuk beberapa saat. "Kapan kau keluar dari rumah sakit?" tanyaku akhirnya, setelah ingatanku tentang Jongin pulih.

Apa yang salah dengan otakku.

Jongin mendesah ringan. "Kau begitu mengkhawatirkan Suho yang baik-baik saja dan melupakanku yang terluka parah? Kau setia kawan sekali," sindirnya, Suho hanya menyenggol lengannya, menyuruhnya diam.

Aku merentangkan kedua tanganku untuk memeluk Jongin sebentar, sama seperti Suho, Jongin juga sangat berhati-hati dalam menyentuhku.

Demi Tuhan, aku baik-baik saja.

"Luhan menangisimu sepanjang malam waktu itu," Sehun bersuara tiba-tiba, membuat kami otomatis menoleh ke arahnya. "Aku tidak tau apa yang terjadi padanya malam itu, bahkan dia menyebut namamu dalam mimpi buruknya," lanjutnya dengan mulut penuh.

Aku menutup mataku merasa malu, Sehun sialan.

"Jangan salah paham," aku buru-buru menjelaskan. "Aku hanya merasa khawatir padamu dan merasa bersalah waktu itu,"

"Wah, aku tersentuh," Jongin menyatukan kedua tangannya di depan dada seperti sedang berdoa, memasang ekspresi lucu yang menurutku hanya semakin memperburuk suasana. "Jadi, ini cinta segitiga?"

Aku mendengar Sehun tersedak dan terbatuk-batuk.

"Aku mencintaimu sama seperti aku mencintai Suho, sama seperti aku mencintai Baekhyun dan Kyungsoo. Kalian keluargaku," jelasku buru-buru, ini akan semakin panjang jika dilanjutkan.

Jongin tersenyum lagi. "Itu alasannya kau tidak meniduri kami lagi?"

Lagi-lagi Sehun tersedak.

Aku mendengus ke arahnya, memasang pandangan untuk menyuruhnya diam tapi Jongin tidak menghiraukanku, tentu saja.

.

.

Chanyeol mengunjungiku pada sore hari dan menyuruh mereka semua pulang, termasuk menggantikan tugas Sehun agar Sehun bisa tidur dengan tenang, mengingat aku membuat jadwal tidurnya berantakan selama tiga hari terakhir.

Kris bilang, harus ada yang menjagaku karena kejadian kemarin. Mungkin saja aka nada orang yang mencelakakanku, meskipun itu mustahil karena rumah sakit ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi.

Aku sama sekali tidak menolak, karena akan percuma jika berdebat dengan Kris.

Chanyeol mendorong kursi rodaku ke atap rumah sakit karena aku benar-benar membutuhkan udara segar.

Demi Tuhan, sebenarnya kakiku baik-baik saja.

Chanyeol terus menggerutu karena tugas-tugasku yang dialihkan padanya beberapa hari ini, tapi aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Sama seperti tugas-tugas Jongin yang dialihkan padanya waktu itu, Chanyeol nyaris menggerutu setiap detik.

"Ini udara segarmu," Chanyeol menyerahkan satu cup kopi padaku saat kami sudah di atap, kemudian tersenyum lebar. "Minum kopi tidak akan membunuhmu kan?" seringaian yang paling kubenci muncul diwajahnya, membuatku harus memalingkan wajah darinya sebelum hal itu mengacaukan mood-ku.

Angin yang segar, langit yang mendung, segelas kopi, ditambah ocehan Chanyeol, kombinasi yang sempurna.

Aku mengangkat bahu. "Setidaknya akan lebih baik kalau kau pergi," aku balas menyeringai padanya.

Chanyeol terkekeh ringan, menyesap kopinya tanpa memandangku. Pandangannya menerawang jauh menatap langit yang mendung, aku tidak tau apa yang sedang ada dipikirannya saat ini atau bahkan aku tidak mengerti apa yang ada dipikiranku.

"Kau wanita yang beruntung," bisik Chanyeol, melirikku dari sudut matanya.

"Selamat dari kecelakaan?" potongku, menyesap kopi soreku yang terlalu manis.

Chanyeol menggeleng, mendecak ringan seolah tidak menikmati kopinya. "Memiliki Sehun," nada suaranya terdengar lembut, atau mungkin lemah.

"Menurut begitu?" entah mengapa saat memikirkan Sehun, bibirku terangkat dengan sendirinya membentuk sebuah senyuman.

Sungguh bodoh.

Chanyeol mengangguk beberapa kali menyetujui perkataanku, masih memandangi langit abu-abu yang kosong. "Aku baru tau kalau dia begitu mencintaimu,"

"Aku tidak mengerti,"

Chanyeol mendesah ringan, memutar tubuhnya untuk menghadapku dan membungkukkan badannya agar wajah kami sejajar. "Aku pernah melihat bagaimana Kyungsoo nyaris gila karena hampir kehilangan Jongin. Dan kau tau bagaimana gilanya aku saat Baekhyun tenggelam, kan?"

"Lalu?" kupandangi wajah Chanyeol yang penuh keraguan untuk sesaat.

"Kau tau, Luhan. Kami saling mencintai dengan sendirinya bukan karena paksaan sepertimu dan Sehun," aku menatapnya bingung, tidak mengerti apa yang dibicarakannya sekarang dan Chanyeol seolah mengerti apa yang kupikirkan. "Maksudku kalian awalnya dijodohkan dan saling membenci. Tapi aku tidak tau kalau sekarang dia sangat mencintaimu,"

Aku mendengus. "Kau pikir Sehun mencintaiku?"

"Orang bodoh mana yang tidak menyadarinya?" Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

Itu aku, Chanyeol.

Kata-kata Chanyeol membuatku terbungkam. Dia benar, Sehun selalu mengkhawatirkanku meskipun itu sangat berlebihan.

Setidaknya menurutku itu berlebihan.

Sehun terlalu takut aku mengalami hal-hal buruk, dan perkiraannya sekarang benar-benar terjadi. Setelah semua pengorbanan yang dilakukannya untuk membantu pekerjaanku, hanya makian yang didapatkannya sebagai balasan.

Sehun bahkan mau mengambil pekerjaan beresiko ini karena aku menolak untuk keluar.

Dia bersikeras ingin melindungiku meskipun itu sebenarnya sama sekali tidak perlu.

Ya Tuhan.

"Kau melamun," bisik Chanyeol, membuatku mengerjap seperti orang bodoh dan aku memang bodoh.

Aku memejamkan mata, menghindari tatapan Chanyeol yang mengejek. "Sehun menyuruhku berhenti dari pekerjaan ini, Chanyeol-ah,"

Chanyeol mengangguk ringan, tidak menunjuk keterkejutan sama sekali. "Well, dia sudah berkali-kali merengek pada Kris tentang hal itu. Entahlah, kurasa dia terlalu mencintaimu,"

"Apa menurutmu itu berlebihan?"

Chanyeol menggeleng. "Sangat wajar jika melihat keadaanmu yang seperti ini sekarang,"

Lagi-lagi perkataan Chanyeol membuatku diam.

Chanyeol benar.

"Aku benci menjadi lemah," dengusku, menyesap kopi soreku lagi, berusaha menenangkan pikiran yang berkabut.

"Semua orang benci menjadi lemah," sahut Chanyeol menyetujui.

Selanjutnya tidak ada percakapan antara aku dan Chanyeol. Kami berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil memperhatikan langit abu-abu kosong yang perlahan menghitam.

Setelah menenangkan pikiranku yang kalut, Chanyeol mendorong kursi rodaku kembali ke kamar. Aku tidak begitu menangkap apa yang diocehkannya tentang perkembangan tugas, padahal aku begitu penasaran kemarin. Sekarang hanya Sehun yang ada dipikiranku.

Rasa bersalah dan menyesal menghantuiku.

Aku sudah sangat berlebihan padanya.

Bagaimana aku harus meminta maaf dan berbicara padanya.

Sehun duduk di sofa saat aku masuk dan kemudian tersenyum saat melihat Chanyeol. "Aku tidak tau kau datang, Chanyeol-ah," ucapnya, Sehun mengangkat catatan kecil yang tadi kutinggalkan untuknya, lalu menepuk punggung Chanyeol pelan.

Aku menuliskan bahwa butuh asupan udara segar.

Chanyeol tertawa renyah, kemudian menyerahkan kursi rodaku pada Sehun dan memukul lengan Sehun ringan dengan kepalan tangan, seolah-olah mereka sudah bersahabat sejak lama. Aku mengernyit melihatnya.

Ini aneh.

"Kalian tampak sangat dekat sekarang. Kau yakin aku hanya tidur selama tiga hari?"

Sehun dan Chanyeol saling berpandangan, kemudian keduanya sama-sama tertawa. Oke, fakta bahwa Sehun dan Chanyeol berteman itu menyebalkan.

"Aku harus pergi sebelum Kris mencekik leherku," Chanyeol tidak memutuskan pandangannya dariku, lalu mengambil jaketnya. "Jangan sampai dia kabur," bisiknya pada Sehun dengan telunjuk mengarah padaku.

"Pasti," balas Sehun. Chanyeol terkekeh ringan kemudian menepuk punggung Sehun pelan dan memelukku sebentar, lalu dengan cepat menghilang di balik pintu.

"Kau menikmati udara segarnya?" tanya Sehun dengan senyuman hangatnya.

Aku mengangguk, malu dan merasa bodoh.

Tanpa sebab.

Ini sedikit canggung.

Sehun tersenyum lagi, kemudian mendorong kursi rodaku dan mengangkat tubuhku untuk mendudukkanku di ranjang, tanpa bicara. Ada hening panjang diantara kami yang menganggu sekarang.

"Sehun-ah," suaraku terdengar lemah, nyaris seperti bisikan. Sehun menjawab dengan gumaman ringan, kemudian meraih tanganku dalam genggamannya. Sehun tersenyum, membuat jantungku melompat-lompat tanpa sebab. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu,"

Sehun mengangkat sebelah alisnya, kemudian mengecupi jari-jariku. "Tentang?"

Aku menghembuskan napas beberapa kali, menenangkan diri. "Terima kasih dan maaf,"

"Untuk?" tanya Sehun lagi, menatapku dengan tatapan lembutnya.

Kumohon jangan buat aku terkena serangan jantung dan mati sia-sia.

Aku memejamkan mata erat-erat, menghindari tatapan Sehun yang semakin membuatku gugup. Tanpa memandangnya saja jantungku sudah berdegub dengan kencang. "Terima kasih sudah menjagaku selama ini. Aku tidak tau kau begitu mengkhawatirkanku,"

Sehun terdengar terkekeh dan aku meliriknya. "Chanyeol mengatakannya padamu?"

"Apa itu penting?" aku mendengus kesal karena ini merusak suasana. Sehun lagi-lagi tersenyum lebar. "Dan juga maaf," aku melanjutkan.

"Kali ini untuk?"

"Maaf aku tidak bisa menepati janjiku," Sehun memiringkan kepalanya dan menatapku bingung. "Untuk pulang tanpa luka. Maafkan aku, Sehun-ah,"

Sehun merengkuhku dalam pelukannya, memenuhi indera penciumanku dengan aromanya yang manis dan menyenangkan.

Ya Tuhan, ini benar-benar hangat. Aku sangat merindukan pria ini.

"Kau tau, ini yang kutakutkan. Aku benar-benar tidak bisa melihatmu seperti ini lagi, Luhan," Sehun bergumam di leherku.

Aku hanya bisa menggumamkan kata maaf dalam pelukannya, tidak tau apa yang harus kukatakan. Aku kehabisan kata-kata, otakku tidak bisa memikirkan hal lain selain tubuh Sehun yang kurindukan.

Sehun mendesah ringan. "Kumohon Luhan, tidak bisakan kau hentikan ini?"

Aku melepaskan diriku dari Sehun, menatapnya dalam-dalam. Jari-jariku gemetar saat menyentuh wajahnya. "Apa yang harus kulakukan Sehun? Kau bahkan sudah masuk dalam dunia ini sekarang. Kau bagian dari kami,"

Rahang Sehun mengeras saat aku mengatakannya, dia menghembuskan napas keras beberapa kali sebelum meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Aku tau saat Sehun menahan amarahnya.

"Aku melakukannya untukmu, Luhan. Kupikir dengan aku mengikuti kemauan Kris, aku bisa melindungimu. Tapi nyatanya tidak. Ini menyiksaku, sungguh," Sehun berhenti sebentar untuk mengecup bagian tanganku yang membiru karena selang infus. Dengan gerakan lembutnya, seolah-olah Sehun menunjukkan akibat dari pekerjaanku.

Sehun tampak begitu lemah sekarang.

"Aku tidak menyesal, Luhan. Sungguh," lanjutnya, aku menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan di matanya tapi aku tidak menemukan apapun disana selain kesungguhan.

"Sehun-ah, aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali bahwa aku mencintai pekerjaanku," aku mendebatnya, berusaha memunculkan amarah Sehun.

Melihatnya lemah membuatku merasa asing dengannya.

"Aku lebih mencintaimu," bisiknya ringan.

Aku diam.

Perkataan Sehun begitu dalam, membungkamku seketika.

Aku menatap matanya lagi, ada keseriusan dan keputusasaan di dalam sana. Kuangkat jari-jariku dari tangannya dan menelusuri wajah piasnya. Mengangkup wajahnya dengan kedua tangan dan mencium bibirnya dengan lembut.

Sehun tidak menolakku.

Aku menciumnya dengan lembut, menikmati rasa bibirnya yang sangat kurindukan. Manis dan lembut. Aku mengecapnya dengan rakus, seolah-olah takut aku tidak bisa merasakan bibir Sehun lagi, dan memang aku sempat takut untuk itu.

Sehun membalas ciumanku setelah beberapa saat, membuatku yakin dia tidak marah.

Jemari Sehun menelusup dalam rambutku dan menarikku lebih dekat padanya, menciumku lebih dalam. Aku mengerang saat tangannya menyentuh bagian belakang kepalaku, membuat Sehun melepaskan ciumannya cepat-cepat.

Dan aku menyesal karena mengerang.

Dia terengah-engah sedangkan aku meringis menahan sakit.

Merasa bodoh.

"Maafkan aku, kau baik-baik saja?" Sehun menarik tubuhku untuk memastikan bagian belakang kepalaku tidak mengeluarkan darah. "Sungguh aku tidak sengaja, maafkan aku," suaranya terdengar penuh penyesalan.

Aku tersenyum padanya, membuatnya percaya bahwa aku baik-baik saja. "Tidak masalah Sehun, kau bisa menciumku lagi,"

"Jangan memulainya, Luhan,"

Aku mengecupnya singkat dan tersenyum. "Beri aku waktu Sehun,"

"Untuk mencintaku?"

Aku menggeleng. "Untuk menyelesaikan pekerjaanku," Sehun diam, menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. "Aku sudah mencintaimu,"

.

.

Aku tidak tau apa yang dilakukan Kris pada rumah sakit ini. Dokter-dokter saialan itu sudah menendangku dari rumah sakit tepat tengah malam. Mereka bilang kondisiku stabil dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sama sekali tidak masuk akal karena aku pasien koma yang baru sadar satu hari yang lalu.

Aku sempat berfikir akan menikmati ranjang apartemen Sehun yang empuk selama seharian penuh besok, tapi aku salah besar. Harapanku untuk tidak bekerja harus pupus saat mobil Chanyeol –yang menjemputku- berbelok ke arah kantor.

Ini pasti akan jadi hari yang panjang.

Ponselku bergetar saat Chanyeol selesai memarkir mobilnya.

Nama Sehun tertera di layar.

"Kau dimana?" tanyanya langsung setengah berteriak saat aku menerima panggilannya, suaranya terdengar terengah-engah.

Aku menjauhkan ponsel dari telinga, teriakan Sehun di tengah malam bukan hal yang menyenangkan. "Chanyeol menculikku saat kau ke supermarket, Sehun-ah. Maaf,"

Chanyeol membalikkan tubuhnya untuk menatapku dan bertanya 'apa kau bilang' tanpa suara. Aku hanya mengangkat bahu acuh.

Sehun mengerang. "Tak bisakah mereka menunggumu sampai benar-benar pulih? Demi Tuhan, kau masih sakit,"

"Tidak bisa. Rumah sakit mengijinkanku pulang, mereka bilang kondisiku sudah stabil. Kau pikir itu masuk akal?"

"Sama sekali tidak. Brengsek," umpat Sehun.

Aku mendengus dengan keras. "Jangan mengumpat padaku, Sehun-ah,"

"Sampaikan itu pada Kris,"

Aku hanya terkekeh ringan mendengar kekesalan Sehun.

Sehun terdengar menghembuskan napas kuat-kuat di seberang sana, aku seratus persen yakin bahwa dia sedang mengendalikan amarahnya sekarang karena tidak mengatakan apapun.

"Sehun-ah, aku baik-baik saja. Yixing akan merawatku dengan baik," aku melembutkan suaraku, membuat Chanyeol mendecih jijik.

"Yixing?" suara Sehun meninggi satu oktaf, membuatku bertanya-tanya mengapa akhir-akhir ini dia kelebihan semangat.

"Yixing seorang dokter. Aku akan baik-baik saja. Datanglah kesini dan selamatkan aku," aku mematikan sambungan sepihak, tanpa menunggu ocehan selanjutnya.

"Hebat sekali," gerutu Chanyeol saat kami memasuki lift. "Dia posesif dan kau selalu bersikap masa bodoh. Kombinasi yang tepat sekali,"

Aku tidak menanggapi perkataannya.

Tapi perkataan Chanyeol memang benar.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas, membuatku buru-buru melangkahkan kaki keluar.

"Kau baik-baik saja?" suara Kris membuatku berjengit kaget.

Si brengsek ini yang mengirimkku melakukan tugas sialan itu dan membuatku terkapar di rumah sakit selama tiga hari, tidak mengunjungiku sama sekali, dan menculikku dari rumah sakit saat aku baru sadar.

Sekarang dia bertanya apa aku baik-baik saja.

Lucu sekali.

Aku menatapnya kesal. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu,"

Chanyeol memiringkan kepalanya untuk menatapku sedangkan Kris mengangkat sebelah alisnya bingung. "Kau tidak ingat Kris?" tanya Chanyeol dengan pandangan serius.

"Aku berharap begitu," dengusku ringan, kemudian berjalan melewati mereka berdua untuk duduk di kursiku, kursi yang sangat kurindukan.

"Kau baik-baik saja?" Zitao meletakkan selimut tebal di atas pahaku dan memelukku dengan sangat hati-hati.

Aku mengerang. "Aku baik-baik saja, berhentilah membuatku terlihat seperti keramik antik. Aku tidak serapuh itu,"

Zitao mengedipkan sebelah mata. "Kau masih bisa mengomel, setidaknya kau baik-baik saja,"

"Luhan," suara lengkingan terdengar menggema di ruangan yang sepi. Aku memutar kursiku untuk melihat siapa yang memanggilku, meskipun aku sudah tau siapa itu.

Yixing berjalan dengan hati-hati ke arahku, tangan kanannya menyeret tiang infus sedangkan tangan kirinya memegang botol infus penuh dan juga selang bening.

Dengan satu gerakan cepat, Yixing meraih pergelangan tanganku. "Apa yang akan kau lakukan?" aku menarik tangan darinya dan menyembunyikannya dibalik punggung.

"Aku tau kau seharusnya belum bisa pergi dari rumah sakit. Tapi aku juga tau ini keadaan darurat, jadi kau harus menurut. Dan kau," Yixing menunjuk Jongin yang sedang duduk di depan komputer dengan jari telunjuknya. "Jangan terlalu lama duduk di depan layar komputer,"

Jongin hanya mengangkat jempolnya tanpa mengalihkan pandangannya. Wah dia benar-benar luar biasa menyebalkan saat ini. Yixing akan selalu mengoceh tentang kesehatan dan apapun yang menurutnya akan berakibat buruk bagi tubuh.

Yixing menggumamkan kata-kata aneh dalam bahasa yang tak kukenali, kemudian meraih tanganku untuk memasang selang infus.

"Kemana Kyungsoo dan Baekhyun?" aku memutar kepalaku untuk mencari tapi ruangan ini benar-benar kosong.

Chanyeol memukul mejaku dengan keras dan Jongin menatapku dengan tajam, seolah-olah aku menanyakan sesuatu yang salah. "Karena kau sekarat, mereka sedang menyelesaikan pekerjaanmu," desis Chanyeol dari balik tubuh Yixing.

Aku terkikik geli. "Jadi mereka sedang bersenang-senang dengan pria-pria tampan. Wah aku iri sekali,"

Jongin mendengus kasar. "Aku bisa merasakan bagaimana perasaan Sehun,"

Aku menjentikkan jari dan mengangguk menyetujui. "Kasus Hyukjae?"

"Bukan," Zitao menyahut, sebelah tangannya menekan-nekan layar ponselnya. "Kemarin kita mendapat kasus baru,"

"Benarkah? Apa ini berhubungan?"

"Tidak. Ini kasus biasa. Kasus Hyukjae masih dibekukan," balas Yixing.

Aku berdiri secara naluriah karena kaget dan mengerang ketika tanganku mengeluarkan darah. Selang infusnya terlepas. Aku mendesis karena rasa ngilu, kemudian menggumamkan kata maaf pada Yixing yang sedang menatapku tajam.

"Kenapa? Apa karena aku?" tanyaku pada Kris yang hanya melirikku dari balik matanya.

Zitao mendesah ringan, menegakkan kepalanya yang tadinya terlungkup di atas meja. "Malam dimana kau kecelakaan, kami diserang,"

Aku menatap Kris yang sedang berbicara ditelepon. "Mengapa kau diam saja?" tuntutku, suaraku terdengar meninggi dan aku merasa akan lebih baik jika aku berteriak.

Kris hanya melirikku lagi, kemudian berdiri untuk melanjutkan pembicaraannya di telepon.

"Kami kehilangan datanya, kalian disabotase. Kecelakaan itu ulah mereka," Jongin menjelaskan tanpa memutuskan pandangan dari layar komputernya.

Butuh sekian detik bagiku menyerap semua informasi mengejutkan ini.

Aku menatap Yixing, meminta penjelasan. "Kau bisa mendapatkannya kembali kan?" aku meremas pundaknya dan Yixing melepaskan tanganku darinya perlahan, membalikkan tanganku untuk memastikan selangnya masih terpasang dengan baik.

Yixing menjawabku dengan gelengan ringan, wajahnya tampak menyedihkan. "Aku berusaha. Tapi tidak semuanya kembali. Mereka mengirimkan virus yang bahkan tidak pernah kuketahui keberadaannya,"

Aku mengerang sebal. "Tapi bagaimana ini dibekukan. Tidak masuk akal. Bukti kasus kematian kakak Sehun masih ada kan? Datanya bahkan belum tersentuh," suaraku terdengar menggebu-gebu sekarang.

Bagus sekali karena aku merasa orang bodoh yang tidak mengerti keadaan yang terjadi sekarang. Demi Tuhan, aku hanya tidur selama tiga hari dan semua berubah dengan cepat.

Bahkan Kris sudah menerima kasus baru.

"Itu hanya satu bukti, kejahatannya tidak hanya satu," suara Chanyeol membuyarkan pikiranku.

"Tanpa bukti, ini hanya akan jadi sampah," Zitao menambahkan, meremas kertas menjadi bulatan kecil dan melemparkannya ke sudut ruangan. Tepat masuk dalam kantung sampah.

Aku berhenti sejenak, memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan. "Hanya ada satu cara," aku memandangi Kris yang sudah kembali duduk di mejanya, Kris hanya menatapku aneh dengan kepala miring. "Data server penyimpanan nasional,"

Aku tau saat punggung Kris tertarik ke belakang karena terkejut mendengar perkataanku. "Terlalu berbahaya," potongnya buru-buru. "Itu wilayah pemerintah, asset yang dijaga sangat ketat,"

"Kenapa? Hanya itu satu-satunya jalan. Aku bahkan sudah pernah masuk kesana," aku mendebat, menatap mereka bergantian dan dibalas dengan anggukan ringan oleh Chanyeol dan Jongin. Sedangkan Zitao dan Yixing menatapku dengan pandangan meminta penjelasan.

Kris mendesah. "Kita tidak dibayar untuk melakukan itu,"

Aku berdiri dengan kasar, membuat selimut yang membungkus kakiku tergeletak menyedihkan di lantai. "Ini bukan tentang uang, Kris. Kakak Sehun terbunuh karena pria itu," aku mendesak, meninggikan suaraku, nyaris berteriak. "Aku tidak akan peduli pusat akan membayarku atau tidak,"

Kris menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak," sahutnya cepat, nada suaranya tetap rendah dan dingin seperti biasanya.

"Kenapa Kris?" aku memekik, menegakkan tubuhku. Yixing meremas pundakku, menahanku untuk tidak menerjang Kris dan merusak hasil karyanya –selang infusnya.

Kris menghembuskan napas panjang. "Aku tidak akan membiarkan keluargaku terluka lagi,"

Dan aku diam.

Oke, Kris benar.

Tapi tetap saja.

"Kris," suaraku melembut, jika cara kasar gagal, maka ini cara yang terbaik. "Kita sudah lebih dari separuh jalan. Ini bukan waktu untuk memilih. Kau selalu bilang pekerjaan ini antara hidup dan mati. Ini memang pekerjaan berbahaya, kau tau itu. Kita selalu siap menanggung resiko,"

"Aku tidak bisa mengambil resiko, Luhan. Tidak lagi," nada suara Kris terdengar mengambang, berkata seolah-olah aku tidak ada disana, seolah-olah dia sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

"Aku sudah berjanji pada Sehun untuk menyelesaikan kasus ini, kumohon," sebenarnya ini sedikit berlebihan karena aku memohon pada Kris sekarang. Tapi aku terlalu malas untuk peduli.

Kris diam untuk beberapa saat, napasnya terdengar berat dan teratur. Tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun saat Kris berpikir.

Seorang Alfa harus menentukan keputusan yang tepat.

"Baiklah," ucap Kris. "Kesempatan terakhir. Tim terbaik," Kris mendorong kursinya mundur dan berdiri. "Kita bicarakan ini setelah semua kembali," tambahnya, aku nyaris memekik karena senang, tentu saja.

"Terima kasih," aku berseru sebelum punggung Kris menghilang di balik pintu ruangannya.

Yixing menepuk pundakku mendorongku untuk duduk. "Kalau kau ingin menjalankan tugasmu lagi, pastikan tubuhmu baik-baik saja. Jangan pernah memaksakan diri," Aku mengangguk patuh. "Tidurlah, kau masih butuh istirahat," tambah Yixing lagi, mengambil selimut yang jatuh dan membungkuskannya ke kakiku.

Tubuhku harus baik-baik saja.

.

.

Aku terjaga dari tidurku saat mendengar suara sepatu berisik yang beradu dengan lantai. Suaranya terdengar seperti sedang dihentak-hentakkan dengan kasar. Dengan malas, aku menguap, mengerjap beberapa kali, dan menggeliat tak nyaman karena terganggu. Samar-samar suara Kyungsoo dan Baekhyun yang menggerutu terdengar dipendengaranku.

"Kau sudah bangun?" itu suara Sehun. Aku langsung mengenalinya tanpa berpikir.

Kubuka mataku lebar-lebar, kemudian tersenyum tipis saat mendapati tubuhku bersandar padanya. "Aku tidak ingin bangun sebenarnya," aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh wajah pucatnya, sebenarnya memastikan bahwa aku tidak bermimpi. "Kapan kau datang?"

"Saat kau terkapar diatas meja," balasnya, menundukkan kepala untuk mengecup singkat bibirku.

Aku tersenyum padanya, menelusuri bibirnya yang lembut dengan ujung jariku. "Yixing memberikanku obat tidur. Apa aku mengoceh tentang sesuatu lagi?"

Sehun terkekeh, memberikan kecupan singkat di dahiku kali ini. "Tidak seburuk yang terakhir kali,"

"Kau mau memberitahu apa yang kuocehkan?"

Sehun berpikir sejenak, membuatku menunggu dengan tatapan berseri-seri. "Hanya ada namaku, beberapa kali," Sehun menyeringai, memamerkan deretan giginya.

Aku mendengus kearahnya dan bangkit untuk duduk kemudian memutar tubuhku menghadap Sehun. Kucondongkan tubuhku untuk mengecup kedua matanya yang tampak lelah. "Aku tidak tau sejak kapan kantung mata ini ada,"

Sehun terkekeh. "Aku akan tetap tampan dengan ini,"

"Well, tidak juga, kurasa," aku menyeringai kearahnya. Sehun memasang cengiran khasnya dan menarik tubuhku untuk menciumku.

Aku terkesiap karena ciuman Sehun yang tiba-tiba, mengingat kami sedang berada di tempat umum –kantor, di depan banyak orang. Harusnya aku menolak, karena aku tidak pernah dicium di depan umum. Tapi menolak juga bukan pilihan tepat.

Ini patut dinikmati.

Sehun merapatkan bibirnya lebih dalam. Membagi kehangatan yang sepertinya masih kami rindukan. Tangan Sehun merengkuh pinggangku untuk menarikku lebih rapat padanya, membungkus tubuhku dengan tubuhnya. Ciumannya terkesan lembut dan terburu-buru.

Kombinasi yang menakjubkan.

Lalu sebuah dehaman keras membuat Sehun melepaskanku, kami berdua terengah-engah berebut udara.

"Kalian membuatku jengkel," Suho mendengus, meletakkan kedua tangannya di depan dada.

"Menjijikkan," balas Jongdae yang berdiri di sampingnya.

Sehun hanya terkekeh dan menggumamkan kata maaf. Tangan kirinya menarik tubuhku agar bersandar padanya lagi, kemudian bibirnya mengecup puncak kepalaku ringan.

"Jadi," aku melirik Sehun dan tersenyum. "Apa yang kita dapatkan disini?" mataku beralih melirik Kyungsoo dan Baekhyun yang sedang membersihkan wajahnya di mejanya.

"Sial. Aku tidak tau menjadi jalang itu menyebalkan," rengek Kyungsoo, mengusapkan kapas basah dengan kasar pada kelopak matanya yang berwarna merah muda.

Baekhyun mendengus ke arahku, menudingku dengan telunjuknya. "Jangan sekarat lagi, kumohon. Aku tidak bisa melakukan hal ini, benar-benar menyiksa,"

Aku terkekeh, memejamkan mata untuk menikmati kehangatan tubuh Sehun yang membungkus tubuhku dengan sempurna. "Itulah pekerjaanku,"

"Aku tau rasanya jadi kau," dengus Chanyeol, menghempaskan tubuhnya di samping tubuh Sehun dan Sehun membalasnya dengan tepukan di lengan Chanyeol.

Sehun tertawa. "Melelahkan?"

"Sial. Sangat," umpatnya. "Oh ya, kau bisa turun malam ini,"

Aku menoleh dengan cepat kearah Chanyeol, menegakkan punggungku dan menarik diri dari pelukan Sehun. "Aku?" aku meletakkan telunjuk di depan dada, merasa tidak yakin Chanyeol sedang berbicara denganku sekarang. "Kris bilang begitu?" tanyaku lagi.

"Menyusup," sahut Suho, menghempaskan tubuhnya di samping kakiku yang terbungkus selimut tebal.

"Tim terbaik," tambah Jongin, mengangkat sebelah alisnya.

Aku senang, tentu saja sangat senang.

Dan aku baru menyadari satu hal setelah sepersekian detik berlalu.

Oh Sehun.

Aku melirik Sehun ragu-ragu, takut lebih tepatnya. Rahang Sehun mengeras dan dia memejamkan matanya erat-erat. Napasnya berhembus kuat-kuat. Aku yakin sekarang Sehun menahan amarahnya agar tidak menyerangku atau mungkin mencekikku seperti terakhir kali.

Dengan gerakan lambat, hati-hati, dan menahan napas, kusentuh telapak tangan Sehun yang mengepal, menepuk-nepuknya beberapa kali, membuat Sehun membuka mata dan mendengus kesal kearahku.

Mata Sehun terbuka lebar, seolah-olah bisa menembakkan laser dari sana.

"Kau meminta ijinku?" tanyanya dingin, menyentak tanganku dengan kasar. Aku beruntung karena itu bukan tangan yang memiliki selang infus.

Aku memutar tubuhnya untuk menatap semua orang, meminta bantuan lebih tepatnya, tapi mereka semua buru-buru mengalihkan perhatian dan pura-pura sibuk melakukan hal yang bahkan sebenarnya tidak ada. Kyungsoo, Baekhyun, dan Zitao melangkah dengan terburu-buru keluar ruangan.

Penghianat.

Sial.

Aku meringis, menatap Sehun lagi.

Takut dan gugup.

"Sehun-ah," bisikku, suaraku nyaris seperti orang sekarat.

Sehun meraih tanganku yang memiliki selang dan mengangkatnya ke udara, tepat di depan wajah wajahku. "Lihatlah, ini bahkan belum bisa dilepas," suaranya terdengar seperti geraman. Sehun membalikkan tangannya untuk menunjukkan selang infus di balik tanganku.

Aku menelan ludah kasar, gugup tentu saja.

Aku membuang napas, mengucapkan kata-kata dalam hati untuk menenangkan diri. "Yixing bilang aku baik-baik saja," pandanganku mengarah pada Yixing yang sedang pura-pura sibuk dengan kertas-kertasnya.

Demi Tuhan, bahkan itu kertas kosong.

Lagi-lagi Sehun menggeram marah, melepaskan tanganku dan kemudian berjalan cepat menuju lift tanpa bicara. Meninggalkanku sendiri dengan pandangan bodoh dan bingung.

Tidak tau harus berbuat apa.

"Kau selesai," ucap Suho, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jeans-nya.

"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku perlu berlutut padanya dan memohon," aku menatap Suho dan dibalas dengan gelengan kepala.

"Dia suamimu," balas Chanyeol, berjalan melewatiku. "Aku akan seperti itu jika jadi dia,"

"Tapi itu berlebihan," aku mendebat, memutar bola mata kesal.

"Bukan Sehun yang berlebihan, tapi kau yang bodoh," sahut Jongdae. "Dia hanya takut kehilanganmu dan itu wajar,"

Aku mendengus kearahnya. "Ini benar-benar tidak masuk akal. Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Kenyataan bahwa Sehun menghalangi pekerjaanku adalah hal yang sangat menyebalkan. Aku tau ini akan terjadi tapi aku tidak tau kalau Sehun akan menjadi seperti ini. Lebih posesif dari sebelumnya. Aku benar-benar menyesal menyuruhnya kemari.

Jongdae duduk di tempat Sehun tadi, menarik tubuhku agar bersandar padanya dan memelukku erat seperti yang Sehun lakukan. "Kembalilah tidur, jangan melakukan hal bodoh dulu. Ini bahkan belum pagi," gumamnya. Aku mengerang, berusaha menarik tubuhku darinya tapi Jongdae menahanku.

"Dia benar. Kau masih butuh istirahat," Yixing berdiri dan menyebrangi ruangan untuk memeriksa infusku agar tetap baik-baik saja.

Aku mengangguk ringan, menyetujui kata-katanya karena sebenarnya tubuhku masih terasa lelah. "Kalian tidak merencanakan hal yang tidak-tidak -kan?" aku menatap Suho dan Chanyeol bergantian.

"Kita akan bicara setelah Kris kembali," ucap Suho, menepuk-nepuk kakiku beberapa kali.

"Kemana Kris?"

Chanyeol terkekeh ringan, menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya dan menguap malas. "Kris bukan vampire, dia juga butuh istirahat. Aku tidak ingat kapan dia terakhir tidur,"

"Kau juga harus istirahat," bisik Jongdae, menepuk-nepukkan telapak tangannya yang hangat ke lenganku. "Kita bicara saat matahari terbit,"

"Sehun?" aku mengatakannya dengan gumaman.

Aku merasakan Suho berdiri dan aku melihatnya meraih jaket Chanyeol yang tergeletak di ujung sofa. "Aku akan bicara dengannya,"

"Kau sendiri?" tanyaku.

Suho tersenyum. "Apa kau mau aku mengajak Chanyeol dan Jongin?" aku menggeleng cepat-cepat. Itu akan jadi lebih buruk. Suho tersenyum lagi, menarik selimutku hingga menutupi bahu. "Kumohon istirahatlah, kau akan jauh lebih baik,"

Aku menatapnya heran saat dia berjalan menuju lift. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka semua.

Ini aneh.

"Jongdae-ya, apa aku baik-baik saja?"

Jongdae terkekeh, kemudian menguap dan memejamkan mata. "Kau akan baik-baik saja jika menurut. Sekarang aku juga akan tidur untuk beberapa saat," Jongdae mengeratkan pelukannya. "Jadi sekarang tidurlah selagi aku mau memelukmu selama Sehun pergi,"

"Kau harus melakukan ini?" tanyaku lagi, terlalu penasaran untuk diam.

Jongdae mendengus kesal. "Lalu kami akan mendengarkan ocehanmu selama beberapa jam? Tidak akan. Lebih baik tanganku kram daripada mendengar ocehanmu yang sama sekali tidak masuk akal," sahutnya.

Aku hanya tersenyum ringan dan mulai memejamkan mata.

Semua orang benar, tubuhku harus pulih sebelum bekerja.

Dan tugas kali ini tidak boleh gagal.

Jangan lagi.

.

.

Aku membuka mata saat rasa dingin menyentuh tubuhku. Ada sesuatu yang tidak nyaman pada tubuhku. Aku mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya temaram yang menyeruak memasuki mata.

Ini tidak asing.

Tapi aku tidak mengenalinya.

Aku berusaha mengingat apa yang terjadi dengan ingatan yang kabur. Seingatku terakhir kali aku tidur di kantor, tapi disana tidak ada ranjang senyaman ini. Aku menarik tanganku, memeriksa selang infusku, tapi tidak ada apa-apa disana.

Dimana aku sebenarnya.

Suara pintu yang terbuka membuatku menegakkan tubuh dan mengerang langsung ketika kepalaku berdenyut.

Sial.

"Kau baik-baik saja?" itu suara Sehun. Aku mengangguk dan membuka mataku perlahan. Sehun berdiri disana, memandangiku dengan tatapan khawatir. Sehun mengulurkan tangan kanannya dan menempelkannya di dahiku.

"Dimana kita?" suaraku terdengar parau, menyeramkan.

"Rumah," balasnya singkat, mendorong tubuhku agar kembali berbaring.

"Rumah?" aku mengulangi perkatannya.

Sehun duduk disebelahku. "Kau demam dan mengoceh sepanjang malam. Jadi aku membawamu pulang," jelasnya. Sehun meletakkan kain basah yang tidak nyaman di dahiku.

"Aku melakukan itu?"

Sehun mengangguk ringan, mengelap wajahku dengan lap basah yang dingin. "Kau biasanya akan diam saat ada yang memelukmu, tapi kali ini tidak. Bahkan Jongdae menyerah," Sehun tersenyum tipis.

Aku mendengus. "Sehun, tugasnya,"

"Tidak," Sehun membentak dengan suara keras dan aku diam. "Kau sakit. Benar-benar sakit. Jangan bicarakan tentang tugas sialan itu,"

"Kris bilang aku baik-baik saja,"

Sehun melemparkan lap basah itu dengan kasar ke lantai dan aku nyaris memekik. Sehun terengah-engah, menatapku dengan pandangan menyala-nyala. Dan aku tau dia benar-benar marah sekarang.

Sehun mencengkeram pundakku kuat-kuat dan aku meringis menahan sakit. "Kau tidak baik-baik saja," desisnya.

Aku terbatuk-batuk tanpa sebab.

"Sehun-ah, ini pekerjaanku,"

Sehun mengguncangkan tubuhku beberapa kali, membuatku terhentak-hentak di atas ranjangnya. "Luhan, aku suamimu dan aku berhak atas dirimu. Jika aku mengatakan tidak maka kau tidak akan pergi," Sehun berteriak seperti orang gila dan aku mengerang kesakitan.

"S-sehun-ah," aku tergagap.

Sehun menarik tubuhku dengan kasar hingga aku terduduk di hadapannya. "Tak bisakah kau menganggapku layaknya seorang suami?" geramnya, tangannya masih mencengkeram bahuku dengan kuat.

Aku menelan ludah, tubuhku nyaris gemetar karena sakit dan juga gugup.

Sehun menatap mataku dalam-dalam, amarah masih menguasai dirinya. Napasnya pendek-pendek dan terengah-engah.

"S-sehun-ah ini s-sakit," bisikku susah payah.

Sehun mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengendurkan cengkeramannya pada bahuku, kemudian menatapku dengan pandangan kosong.

"Maaf, aku menyakitimu lagi," Sehun melepaskan tangannya dan membeku beberapa saat. "Aku lepas kendali," bisiknya lagi.

"Sehun-ah,"

"Jangan lakukan ini Luhan. Jangan buat aku lepas kendali lagi. Berhentilah merengek tentang tugas itu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi kali ini," Sehun memotong perkataanku cepat-cepat, nyaris berteriak.

Sehun menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

Mata Sehun berkaca-kaca.

Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya.

Tapi sekarang Sehun tampak sangat … lemah.

Dia tampak rapuh dan mungkin akan hancur dengan satu goresan saja.

Aku mengulurkan kedua tanganku untuk memeluknya, mendekapnya erat-erat dalam pelukanku. "Maaf. Maafkan aku membuatmu seperti ini,"

Tangis Sehun pecah dalam pelukanku, dia terisak pelan dan aku bisa merasakan bahuku basah.

Ya Tuhan apa yang sudah kulakukan pada pria ini.

Aku menggumamkan kata maaf terus menerus dan menepuk-nepuk punggungnya untuk membuatnya tenang.

"Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi Luhan," bisik Sehun setelah isakannya reda.

Aku menarik tubuhnya untuk menatap wajahnya yang tampak sangat kusut. "Aku tidak pernah meninggalkanmu,"

Dengan kasar Sehun mengusap bekas air matanya. "Melihatmu sekarat nyaris membuatku mati, Luhan. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi, sungguh,"

Aku tersenyum, merasakan hatiku menghangat karena ucapan Sehun. Mata Sehun menjelaskan segalanya. Ada ketakutan dan kesungguhan di dalam sana.

"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji," bisikku.

Dengan cepat Sehun menarik wajahku untuk menciumku dalam. Sehun menciumku dengan terburu-buru dan kasar, seolah-olah takut aku akan pergi. Bibirnya terasa lebih panas dari biasanya. Dia bahkan tidak membiarkanku mengambil napas dengan benar.

Perlahan aku mendorongnya, kupikir udara lebih penting daripada sebuah ciuman tiba-tiba yang kasar. Saat ciumannya terlepas, aku terengah-engah. Menatapnya dengan kesal dan Sehun hanya terkekeh ringan.

Dia sudah kembali.

Sehun yang hangat.

"Jangan pergi. Aku membutuhkanmu," bisiknya, mendekatkan dirinya lagi.

Aku tersenyum padanya. "Tidak akan,"

.

AUTHOR POV

.

Sehun mencondongkan tubunya di atas tubuh Luhan untuk menciumnya lagi, kali ini perlahan dan lembut. Bibir Sehun bergerak seirama dengan gerakan Luhan, menyatu dalam ciuman manis yang begitu mendamba.

"Aku mencintaimu," bisik Sehun lembut. "Aku mencintaimu," ujar Sehun sekali lagi. "Aku mencintaimu,"

Luhan menyentuh pipi Sehun. "Aku mencintaimu," balasnya dengan satu senyuman tipis.

Selama beberapa detik, Sehun terdiam. Dia hanya menatap Luhan dengan pandangan takjub untuk beberapa saat. Lalu sesuatu yang lain mengambil alih, sesuatu yang mendasar dan kuat. Sehun memeluk Luhan erat-erat, menciumnya atas dasar kebutuhan yang mendesak.

Sehun tidak pernah bisa terpuaskan, sentuhan Luhan ditubuhnya, rasa manis Luhan diujung lidahnya, aroma Luhan yang membuatnya mendamba tidak akan pernah cukup baginya.

Ketegangan dan kebutuhan berputar-putar dalam tubuh Sehun.

Luhan selalu berhasil membuat pengendalian diri yang susah payah dibangunnya runtuh.

Jemari Sehun mencengkeram kaus putih Luhan, putus asa untuk merasakan tubuh Luhan yang sudah lama ia rindukan. "Aku membutuhkanmu," bisiknya, bibirnya menelusuri bibir, rahang, dan leher gadis itu dengan terburu-buru.

Sehun menarik kaus Luhan melewati kepala gadis itu dan terengah-engah. Sehun ingat bahwa seharusnya ia memperlakukan Luhan dengan lembut karena gadis itu masih sakit, tapi Sehun sudah melewati batas pengendalian dirinya.

Tubuhnya tidak bisa dikendalikan.

"Sehun," Luhan memanggil namanya dengan suara sehalus beledu, berusaha menggapai tangan Sehun yang menelusuri pusat tubuhnya. Luhan terengah-engah, tubuhnya melengkung.

Sehun berhenti.

Dengan satu gerakan cepat, Sehun menarik tubuhnya untuk bangkit dan duduk. Luhan menatapnya dengan bingung dan mengikutinya untuk duduk. Sehun melirik Luhan dan meringis saat melihat tubuh bagian atas Luhan yang tidak terlindungi.

"Maaf," bisiknya ringan. "Aku lepas kendali lagi,"

Luhan mematung, untuk sesaat bahkan ia menahan napasnya, kemudian gadis itu menangkup wajah Sehun dengan kedua tangan dan tersenyum. "Aku juga membutuhkanmu, Sehun," bisiknya.

Sehun memiringkan kepalanya. "Luhan,"

"Perjanjiannya," sahut Luhan cepat-cepat. "Jangan pernah membuat bayi," dan tawa Sehun meledak.

Luhan merengut kearahnya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Baiklah," kata Sehun setelah tawanya mereda. "Aku tidak akan membuat bayi. Hanya kau dan aku,"

Luhan mengangguk ringan.

Sehun mendekat, sangat dekat, sampai bibirnya nyarih menyentuh bibir Luhan. "Jangan halangi aku lagi," desisnya.

"Tidak akan," desah Luhan.

Napas Luhan tak beraturan, bahkan tubuh Sehun yang bersetuhan dengan tubuhnya membuat darah Luhan berpacu dengan cepat. Jantungnya menghantam-hantam dengan kuat.

Lalu Sehun mencium Luhan sebelum gadis itu berbicara lebih banyak.

"Aku mencintaimu," bisik Sehun, mendaratkan kecupan basah di atas tulang selangka Luhan.

Luhan mengerang kasar.

"Aku mencintaimu," ucap Sehun lagi, kali ini lidahnya menelusuri leher Luhan.

"Aku mencintaimu," dan kali ini Sehun membisikkan, terasa panas di telinga Luhan. Tangan Sehun bergerak dengan cepat di tubuh Luhan untuk melepaskan pakaian Luhan yang tersisa di tubuhnya.

Luhan mematung, tidak bisa bergerak.

Sehun memeluk tubuh Luhan. Sentuhan itu terasa menyengat. Kulit dengan kulit, saling menempel dengan keintiman yang menyesakkan. Sehun begitu ingin lebih mengenal tubuh Luhan meskipun dia sudah mengenal tubuh gadis itu dengan sangat baik.

"Aku ingin tau apa yang kau mau," gumam Sehun.

Napas Luhan terdengar serak. "Apa maksudmu?"

Sehun meluncurkan tangannya untuk menangkup pantat gadis itu, meremasnya, kemudian jari-jarinya membelai paha Luhan dengan gerakan pelan. Dan saat Sehun merasakan pusat tubuh gadis itu, Luhan terengah-engah.

"Jangan menggodaku," dengus Luhan.

Sehun terkekeh, menunduk untuk mengecup singkat bibir gadis itu.

Kemudian saat Sehun menyatukan mereka, Luhan sama sekali tidak menolak. Luhan begitu bergairah, begitu dicintai hingga semuanya terasa begitu indah. Sehun bergidik karena kenikmatan yang sangat dirindukannya kembali bisa ia rasakan lagi.

Sehun tidak berhenti. Dia tidak berhenti saat Luhan mengerangkan namanya, ia tidak berhenti saat Luhan mencengkeram bahunya dengan begitu kuat sampai-sampai ia yakin itu akan meninggalkan bekas. Dan Sehun tidak berhenti saat Luhan begetar hebat, begitu panas, dan keras.

Luhan adalah miliknya.

Sehun juga menyadari bahwa dirinya milik Luhan sepenuhnya.

Sehun menggila, seolah ia belum pernah melakukan ini sebelumnya. Hasratnya mengambil alih dan ia kehilangan kendali karena tubuh Luhan. Dan beberapa saat berlalu, Sehun meledak dalam gairah yang membuncah. Menjeritkan nama Luhan dalam erangannya dan terkapar.

Keduanya terengah-engah.

"Menakjubkan," bisik Luhan, napasnya pendek-pendek.

"Terima kasih," Sehun terengah-engah, tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh Luhan yang polos, berusaha mengendalikan dirinya karena Sehun sadar Luhan masih sakit. "Tidurlah," bisiknya, mengecup kening Luhan yang berkeringat.

Luhan tersenyum dan memejamkan mata. "Aku mencintaimu,"

"Aku mencintaimu,"

.

.

TBC

.

Hallo, terima kasih sudah membaca dan me-review fanfic ini.

Jangan bunuh Author karena kelamaan update, kurang lebih sebulan ya /maaf/. Semenjak masuk kuliah lagi, file fanfic kekubur sama file tugas yang menumpuk, jadi nggak pernah dibuka lagi. Maaf ya readers sekalian. Jadi karena ini minggu agak sepi kuliahnya, Author lanjutin deh. /yeay/

Author kembali dengan chapter sebelas, wah nggak terasa sudah sampai chapter sebelas aja. Maaf kalo updatenya sering molor, sekalinya update panjang dan nggak sesuai harapan gini. Kemungkinan chapter depan akan ending dan juga bakalan ada bonus chapter epilog. /semoga aja ada/

Author ingin menyampaikan beberapa hal terkait dengan review yang author terima /uhuk/

Pertama, sebenarnya ini kan fanfic tentang crime-crime gitu jadi maaf kalo adegan so sweetnya jarang ada. Author nggak bisa bikin adegan so sweet soalnya. Tapi chapter ini chapter khusus yang nggak ada adegan action-nya. Sebenernya di chapter depan itu ada adegan yang horror gitu pake darah-darah, tapi takutnya readers geli ya bacanya. Jadi belum dipastikan gimana jadinya.

Kedua, karakter dalam fanfic ini sebenarnya diambil dari imajinasi author murni. Seperti itu adanya harap dimaklumi. Lebih kurangnya yang seperti ini.

Ketiga, maaf readers sekalian kalo typos dimana-mana. Typo itu sebagian dari seni menulis /author ngeles/ maaf author males edit berulang-ulang. Kadang udah diedit, eh format ffnet sama Word beda /kan ngenes ngeubah-ubah sendiri/.

Silahkan review ya, biar tau aja kalo fanfic ini masih ada yang mau baca /hehe/

Sekian. Mohon maaf jika ada kesalahan.

Terima kasih. Sampai jumpa di chapter depan. Mwah! Bye~