Hallo apa kabar semuanya? Jangan benci Author karena hiatus lebih dari tiga bulan ya. Bukan karena apa-apa, tugas kuliah tidak mengijinkan Author untuk menulis. Maklumlah semester tua.

Selagi ada kesempatan jadi sekarang Author membawa kembali lanjutan 'Secret Agent Wife' kehadapan pembaca semuanya. Kalau ada yang lupa sama ceritanya baca aja dari awal ya. Hehe. /author sendiri lupa ceritanya/.

Pokoknya untuk pembaca setia yang masih mau menunggu kelanjutan kisah ini, Author sangat berterima kasih /peluk cium satu-satu/. Maaf jika jalan ceritanya tidak memuaskan. Semoga ke depannya author lebih baik lagi. Jangan lupa kasih kritik dan saran ya. Author tunggu di kolom review.

Saranghaeyo lah pokoknyaaaa~

Selamat membaca~

.

.

Mendung pagi ini membawa udara dingin yang menusuk, menembus melalui celah jendela yang terbuka sepanjang malam. Luhan menggeliat saat udara dingin menembus permukaan kulitnya yang polos. Mata rusanya mengerjap beberapa kali, membiasakan dengan sinar matahari pagi yang sedikit redup. Bibir mungilnya tersenyum saat menemukan sebuah tangan hangat melingkar di perutnya yang polos.

Luhan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, memperhatikan tangan pucat Sehun di sekitar perutnya. Warna kulit Sehun yang pucat tampak sangat kontras dengan kulitnya yang dipenuhi lebam. Kulit tipisnya itu dipenuhi warna biru keunguan, sepertinya sakit, tapi Luhan sudah tidak bisa merasakan rasa sakitnya.

Luhan pernah mendapatkan pelatihan untuk mengabaikan rasa sakit. Tubuhnya sudah kebal sekarang.

Tapi ada sesuatu yang berbeda saat dia melihat luka ditubuhnya sendiri, perasaan yang baru pertama kali dirasakannya. Luhan merasa dadanya sesak saat melihat lukanya sendiri. Luka yang selama ini tidak pernah dikhawatirkannya, namun Sehun sangat memperhatikan luka-luka kecil itu.

Sehun sangat membenci luka-luka itu. Sehun sangat benci ketika Luhan terluka.

Harusnya Luhan senang karena itu berarti Sehun mencintainya, tapi Luhan tahu hal itu menyakiti Sehun. Begitu pula dirinya. Luhan tidak tahu sejak kapan dia merasa peduli, sejak kapan dia merasakan rasa sakit orang lain, dia tidak tahu kapan dia mulai terikat dengan Sehun.

Suaminya.

"Apa yang kau lamunkan?" suara Sehun yang berat membuat Luhan sedikit berjengit kaget.

Luhan tersenyum tipis. "Kau sudah bangun?" jemari mungilnya membelai surai Sehun yang lembut dan sedikit basah.

Sehun terkekeh, merengkuh Luhan dalam pelukannya dan mengecupi puncak kepala gadis itu berkali-kali. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya separuh berbisik.

Luhan tidak menjawab, kemudian kepalanya menggeleng sangat pelan. Detik berikutnya kedua tangannya mendorong tubuh Sehun perlahan untuk melepaskan tubuhnya. "Bukan hal yang penting."

Sehun membelalak, sempat bingung dengan penolakan Luhan terhadap dirinya. "Kau menghindariku?" Sehun mendudukkan diri, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan dan menatap wajah gadis yang sedang menunduk di depannya.

Sehun meraih wajah Luhan dengan kedua tangannya.

Luhan menggeleng. "Tidak Sehun. Apa aku terlihat sedang menghindarimu?" Luhan memaksakan seulas senyum.

Sehun mengangkat bahu acuh. "Well, sepertinya, ya."

Luhan terkekeh, jemarinya terangkat hendak menyentuh wajah Sehun, tapi niatnya ia urungkan. Sehun memandanginya dengan kepala miring. Mencoba memahami keraguan yang terpancar jelas di wajah Luhan yang pucat.

"Kau merasakan sakit?" tanya Sehun. Tanpa tahu mengapa ia menanyakan hal bodoh seperti itu.

"Tidak Sehun. Aku baik-baik saja. Demi Tuhan."

Sehun mengangguk ringan, kemudian meraih wajah Luhan dengan kedua tangannya dan mengecup bibirnya sekilas. "Apa kau ingin membicarakan masalah semalam?"

"Setelah mandi dan sarapan, sepertinya, ya." Luhan tertawa ringan, terdengar sangat aneh di pendengaran Sehun.

Ini terlalu canggung.

Tanpa bicara lagi, tubuh mungil Luhan beranjak dari ranjang, kemudian dengan cepat memasang cardigan panjang untuk menuntupi tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam. Entah apa namanya, tapi Luhan rasa dia harus menghindari Sehun sesaat. Ada perasaan aneh saat Luhan menatap mata Sehun, saat kecemasan mengambil alih wajah Sehun.

Luhan merasa bersalah.

Luhan sadar dirinya adalah seorang pengecut. Dia tidak pernah merasakan takut yang seperti ini sebelumnya.

Sehun berdeham dua kali saat memasuki dapur, membuat Luhan secara otomatis menoleh ke arahnya. Sehun melemparkan senyum dan duduk di konter dapur, memperhatikan Luhan yang sedang mengaduk-aduk sesuatu di penggorengan.

"Boleh kutanya apa yang kau lakukan?" tanya Sehun, bibirnya menyesap kopi paginya yang terlalu pahit. Padahal Sehun tidak pernah minum kopi di pagi hari sebelumnya.

"Aku sedang berusaha membuatmu tetap hidup," balas Luhan acuh, menoleh sekilas untuk memberikan senyuman singkat pada Sehun.

Sehun terkekeh ringan, menerima uluran makanan yang Luhan berikan. Roti panggang bacon yang sedikit berantakan. "Terima kasih," bisiknya.

Luhan hanya membalasnya dengan senyuman manis. Kemudian duduk dengan tenang di hadapan Sehun dengan piring yang berisi makanan yang sama. Tangan mungilnya menyendokkan makanannya dengan sangat perlahan. Sedangkan Sehun memperhatikan setiap detail pergerakan gadis itu.

"Luhan," bisik Sehun, terdengar seperti permohonan.

Luhan membeku, menghentikan seluruh kegiatan sarapannya. Luhan berhenti mengunyah. Suara Sehun yang sedingin es membuatnya sedikit merinding. Dia sangat tahu suasana hati Sehun hanya dengan mendengar suaranya. Dan Sehun sedang tidak dalam keadaan bercanda sekarang.

Memang, secepat itu suasana hatinya berubah.

Sehun berdeham saat Luhan menatap wajahnya, memberinya isyarat untuk bicara. "Luhan, tentang semalam –,"

"Aku minta maaf," potong Luhan, menatap mata Sehun yang sedang memandangnya dengan sendu.

Sehun menghembuskan napas keras. "Luhan," suaranya melembut, membuat Luhan hampir kehilangan keberaniannya hanya untuk menatap wajah suaminya. "Aku mencintaimu,"

Luhan tercekat. Bukan kata-kata itu yang dia kira akan Sehun katakan. Luhan sudah siap dengan semua makian, tapi Sehun malah mengatakan hal yang sebaliknya.

Luhan tersenyum, sedikit kaku karena dia menunduk dengan cepat. "Aku tahu itu,"

"Sekali saja. Kumohon, tinggalkan semua ini, Luhan. Aku tidak ingin melihatmu tersakiti,"

Luhan diam.

"Sayang, kumohon," Sehun meraih tangan Luhan yang sedingin es, mengusapnya perlahan.

Luhan memandang wajah suaminya yang tulus. "Beri aku waktu, Sehun. Beri aku waktu," suara terdengar parau, seperti menahan isakan. Tapi Luhan sama sekali tidak menangis.

"Sampai kapan?" tuntut Sehun. Sedikit meremas tangan Luhan tanpa sadar.

Luhan menghembuskan napas, melepaskan tangan Sehun dari tangannya perlahan. "Sebentar lagi, Sehun. Sebentar lagi,"

"Luhan, kumohon,"

"Tidak akan lama, aku janji," Luhan bangkit dari duduknya, meninggalkan Sehun yang memejamkan matanya kesal.

Luhan menyambar sweater hangatnya dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa. Pikirannya kacau, dia perlu waktu sendiri untuk berpikir.

.

.

Luhan melangkahkan kakinya dengan ringan, melambaikan tangannya dan tersenyum kepada seseorang yang sudah menunggunya di terminal kedatangan Internasional. Pria yang menunggunya, tersenyum, menghampiri Luhan dengan langkah cepat dan memeluknya sebentar.

"Terima kasih sudah mau menjemputku," bisik Luhan.

Pria tadi tersenyum. "Adik kecilku pulang, bagaimana aku bisa membiarkannya tersesat?"

Luhan menepuk punggungnya, bibir mungilnya melebar, membuat kekehan pelan. "Apakah aku mungkin tersesat di kota kelahiranku sendiri?" protes Luhan.

"Jadi," kalimat kakaknya menggantung. "Apa yang membawamu pulang ke Beijing?"

Luhan tak menjawab, matanya dialihkan pada pemandangan kota Beijing yang padat. Kakaknya juga tidak bertanya lebih jauh, dia tahu Luhan butuh sedikit waktu sendiri.

Sebenarnya Luhan juga tidak tahu apa yang membawanya kemari. Langkahnya hanya mengikuti hatinya. Hatinya menyuruhnya pulang.

Dan dia pulang.

Ayah Luhan sudah menyambutnya di depan rumah, kedua tangannya terbuka lebar dan senyum lebarnya merekah. "Apa kabar Putriku?" teriaknya, menghampiri Luhan untuk memeluknya.

"Aku baik-baik saja, Dad. Kupikir Dad pergi bekerja,"

Ayah Luhan terkekeh. "Bagaimana aku bisa bekerja jika Putri kesayanganku memutuskan untuk pulang?"

Luhan menepuk lengan ayahnya, keduanya berjalan menuju taman untuk duduk di ayunan tua mereka. Sama seperti masa kecilnya dulu.

"Kudengar Mom pergi ke Jepang?" tanya Luhan ringan.

Ayah Luhan mendesah ringan. "Aku tidak tahu. Aku sudah melarangnya bekerja, tapi aku selalu gagal. Kau tau kan dia tidak pernah mau diam,"

Luhan tertawa ringan. "Sangat Mom sekali,"

"Apa kau dan Sehun baik-baik saja?"

Luhan tersenyum. Lagi-lagi dia tidak terkejut. Ayahnya selalu tahu jika Luhan sedang dalam masalah.

"Aku hanya bingung, Dad,"

Ayah Luhan memutar tubuh menghadap Luhan dan menggenggam tangannya. "Aku selalu tau kau pasti bisa menentukan sikap yang tepat. Ikuti kata hatimu Luhan, itu tidak akan membohongimu,"

Luhan menunduk. "Ini rumit, Dad. Kami bertentangan,"

Ayah Luhan tersenyum, mengusap kepala anaknya perlahan. "Sehun suamimu. Bagaimanapun juga Sehun adalah pemimpinmu. Sehun tidak akan menjerumuskanmu, bukan?"

Luhan mengangguk, sangat pelan hingga mungkin ayahnya tidak menyadari hal itu.

"Kau percaya pada Sehun, kan?" Luhan mengangguk. "Jangan buat masalah merenggangkan kalian. Kau dan Sehun harus saling percaya, mengerti?"

Luhan mengangguk lagi. Ayahnya tersenyum, menepuk pundak Luhan perlahan beberapa kali dan pergi meninggalkan Luhan yang sedang berpikir.

Ayahnya benar.

Dan memang selalu benar.

.

.

Luhan merogoh kantong mantel musim dinginnya, mengecek GPSnya yang berkedip-kedip. Dia baru saja melangkahkan kakinya di Korea, tapi Kris sudah memanggilnya. Luhan menekan tombol di liontinnya sekali, kemudian memasang earphone di telinga.

"Harusnya kau bilang kalau ke Beijing," suara Kris terdengar dingin di telinganya.

"Jika kau ingin cinderamata, kau bisa menghubungiku melalui telepon," dengus Luhan, disusul suara tawa Kris yang dingin.

"Kau menghilang selama tiga puluh tujuh jam dan membuatku kerepotan dengan segudang pertanyaan yang Sehun ajukan kepadaku," suara Kris terdengar datar.

Luhan mulai mengemudikan mobilnya meluncur di jalanan ibukota yang basah. "Aku hanya ingin pulang,"

"Setidaknya kau harus bicara kepada Sehun,"

Luhan mendesah. "Jika kau sudah selesai, aku akan sampai di kantor delapan menit lagi," Luhan menekan liontinnya dan seketika ponselnya bergetar.

Nama Sehun tertera di sana.

Luhan menghembuskan napas sekali sebelum menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan itu. "Hallo,"

"Luhan," Sehun berseru, nyaris berteriak.

"Aku baik-baik saja, Sehun. Maaf membuatmu khawatir,"

"Kita harus bicara," balas Sehun.

"Aku akan menemui delapan menit lagi, di kantor. Kita semua perlu membahas ini,"

"Maksudmu, Kris?"

"Ya. Mereka semua," Luhan mematikan sambungan telepon secara sepihak dan menekan lebih dalam pedal gasnya.

.

.

Setelah memarkirkan mobilnya, Luhan setengah berlari memasuki kantornya yang sepi. Jelas saja, ini tengah malam. Setelah liftnya berhenti di lantai paling atas, Luhan menghembuskan napas kuat-kuat sebelum melangkah keluar.

Ada sedikit keraguan dihatinya.

Saat Luhan memasuki ruangan itu, dia sedikit kaget. Ruangan itu tampak sepi. Hanya ada Kris dan Sehun yang sedang duduk menghadap cup kopi mereka masing-masing. Kedua pria itu memandangi Luhan dengan tatapan aneh.

Wajah Kris terlihat datar seperti biasanya, sedangkanya Sehun memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Kris berdiri, kemudian menggeser tubuhnya menjauhi Sehun. "Duduklah, kau pasti lelah," Kris menepuk sofa kosong di antara dirinya dan Sehun, menyuruh Luhan duduk disana.

Luhan menurut, tentu saja.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kris, lembut tapi dingin.

Luhan menelan ludah kasar sementara Sehun menyesap kopinya dengan cuek. "Tentang ini semua. Aku tahu aku berada di dalam pilihan yang sulit,"

"Kau tidak disuruh memilih antara aku dan Sehun," balas Kris acuh.

Sudut bibir Sehun terangkat dan Luhan memutar bola mata kesal. "Dengar, aku tahu ini bukan pilihan mudah. Aku sudah menentukan sikap. Kuharap kalian berdua mau menerima keputusanku,"

Sehun memutar tubuhnya menatap Luhan. "Kau bukan pihak yang akan menentukan pilihan, Sayang," bisiknya pelan.

"Ini hidupku, Oh Sehun," Luhan bersikeras, sedikit mendesis karena kesal.

"Oke," Kris memotong, tidak membiarkan perdebatan yang panjang antara suami istri ini. "Jadi, apa yang kau inginkan?"

Luhan lagi-lagi menarik napas panjang. "Jadikan misi ini tugas terakhirku,"

"Apa?" Kris dan Sehun mengatakan hal yang diwaktu yang hampir bersamaan.

"Luhan, kau –,"

"Aku tahu, Sehun. Biarkan aku bicara," Sehun diam, menatap Luhan dan Kris bergantian. "Aku akan berhenti sementara dari pekerjaan ini setelah tugas terakhirku,"

"Tidak, Luhan," Sehun meninggikan suaranya.

"Baik. Aku menyetujuinya," ucap Kris tiba-tiba, membuat Luhan dan Sehun menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

"Kris, apa maksudmu?" protes Sehun.

"Aku tahu, Sehun. Aku tahu," balas Kris santai. "Aku mengikuti semua kemauanmu, Luhan. Setelah misi ini selesai, kau boleh cuti. Dan kau boleh kembali kapanpun kau mau. Aku mengijinkannya,"

Luhan tersenyum ringan. "Terima kasih,"

Sehun berdecak keras, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kris meliriknya sebentar, kemudian kembali menatap Luhan. "Kurasa kalian perlu bicara. Aku akan pergi sebentar," ucap Kris.

Luhan ingin menahannya, ia tidak ingin ditinggal bersama Sehun. Tapi punggung Kris sudah menghilang dibalik lift.

"Luhan," suara Sehun terdengar rendah dan nyaris bergetar.

Luhan menjawab dengan gumamam. Jujur saja, gadis itu gugup bukan main.

Sehun memutar tubuhnya untuk menghadap Luhan, ada luapan emosi dan kekesalan dimatanya. Kedua tangan pria itu mengepal di sisi tubuhnya.

"Luhan, sebenarnya apa yang kau lakukan?" desisnya.

Luhan memberanikan diri untuk meraih tangan suaminya, beruntungnya, Sehun tidak menolak hal itu. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Sehun, dia mendekatkan dirinya dan memeluk Sehun kuat-kuat.

Tapi Sehun tidak membalas pelukannya.

"Maafkan aku, Sehun," bisiknya lirih di ceruk leher Sehun. "Beri aku kesempatan terakhir. Aku akan baik-baik saja. Aku janji,"

Sehun tidak menjawab.

Tapi Luhan tahu saat tubuh Sehun bergetar menahan amarah. Luhan tahu saat Sehun menghembuskan napasnya kuat-kuat. Dan Luhan tahu saat tangan Sehun merengkuh tubuhnya, dia tahu, Sehun pasti memaafkannya.

Anggaplah Luhan adalah wanita yang kejam dan Sehun adalah pria yang bodoh.

Luhan menarik dirinya, menatap wajah Sehun yang tampak lelah. Jemarinya terangkat menelusuri wajah Sehun yang kusam. Jari telunjuknya menelusuri hidung dan bibir Sehun. Kemudian tersenyum canggung.

"Aku membuatmu kacau lagi ya?" tanyanya ringan.

Sehun tersenyum kecut. "Kau selalu berhasil membuatku kacau,"

Luhan menarik wajah Sehun, menempelkan bibirnya ke bibir Sehun yang membara. Luhan mengecupi permukaan bibir Sehun. Sedangkan Sehun tidak membalasnya.

"Ada apa Sehun?" tanyanya menarik diri.

"Kumohon jangan memulai," Sehun tersenyum.

Luhan mengangkat sebelah alis. "Memulai apa?" tanyanya pura-pura tak mengerti.

"Kau akan melakukan misimu yang terakhir besok. Dan aku tidak ingin membuatmu terkapar di ranjang malam ini,"

Ya Tuhan. Luhan terkikik geli. Sehun benar-benar luar biasa frontal.

"Baik. Kita akan pulang setelah Kris kembali. Kau tidurlah, pasti kau tidak tidur selama aku pergi," bisik Luhan, menarik kepala Sehun kepangkuannya dan mengelus rambut hitamnya.

Sehun tersenyum. "Aku mencintaimu,"

Luhan menunduk untuk mengecup Sehun sekilas. "Tidak sebesar aku mencintaimu," Sehun tersenyum ringan.

Luhan menggumamkan lagu pengantar tidur yang sering Sehun nyanyikan untuknya, membuat Sehun memejamkan matanya. Saat Sehun sudah benar-benar terlelap, keraguan Luhan kembali muncul.

Tentang perasaannya. Tentang keselamatannya. Tentang misinya.

Dan tentang Sehun.

Apakah hari esok akan baik-baik saja?

Luhan tak pernah tahu.

Tidak ada seorangpun yang tahu.

.

.

Paginya Luhan dan Sehun dibangunkan oleh tendangan bertubi-tubi di pantat mereka. Keduanya menggeliat seperti bayi di dalam selimut hangat. Masih saling memeluk dan merapatkan diri.

Mereka tidak sempat pulang, tentu saja.

"Tidak bisakah kalian pulang?" itu suara Baekhyun. Terdengar melengking di pagi hari yang seharusnya sunyi.

Luhan tersenyum di balik selimutnya, semakin merapatkan diri ke tubuh Sehun dan Sehun merengkuh tubuh mungilnya dalam dekapan hangat.

"Aku ingin menyiram mereka," sahut Zitao kesal.

Sehun terkekeh. "Tidak bisakah kalian diam? Luhan butuh waktu tidur yang cukup untuk melakukan tugasnya nanti malam," Sehun merapatkan pelukannya pada Luhan, membuat Luhan terkekeh geli.

Kyungsoo mendecih dan Baekhyun tertawa mengejek. "Demi Tuhan, Luhan itu perempuan malam. Dia tidak butuh tidur," sahut Baekhyun.

Luhan bangkit dari tidurnya dan melemparkan remote TV kepada Baekhyun. Tepat mendarat di dada gadis itu. Luhan merengut. "Diam, brengsek,"

"Baguslah kau sudah bangun," itu suara Kris. "Bersiap-siaplah, aku akan memberitahu tugasmu,"

Luhan menggeliat, kemudian dengan malas berjalan menuju toilet. Luhan harus bergegas sebelum Kris mengoceh lebih panjang. Sedangkan Sehun masih mendapatkan tendangan-tendangan kecil di pantatnya.

Saat Luhan sudah selesai mandi, dia duduk tepat di hadapan Kris yang sedang memperhatikan layar laptopnya. Kris meliriknya sekilas, kemudian berdeham.

"Jadi untuk misimu nanti malam, siapa yang akan kau pilih menjadi patner?" pertanyaan Kris membuat Luhan menaikkan alisnya bingung. Ini pertama kalinya Kris bertanya tentang hal yang menurutnya tidak masuk akal itu.

"Apa kau akan mengabulkan permintaanku?" tanya Luhan dan dibalas dengan anggukan ringan oleh Kris. "Suho dan Chanyeol tentu saja," jawab Luhan.

"Kau akan bekerja dengan Sehun malam ini," dan Luhan membelalak. "Atau kau ingin dengan Jongin?" Kris buru-buru memotong sebelum Luhan protes.

Luhan menghembuskan napas kesal, melirik Sehun sekilas dan Sehun hanya mengendikkan bahu acuh. Sehun dan Kris pasti sudah merencanakan semua ini. Dan Luhan tidak punya pilihan lain. Setidaknya dia tak harus bekerja dengan Jongin.

Entah mengapa, Luhan masih sedikit trauma dengan kejadian yang menimpa Jongin saat itu.

.

.

Malam harinya Sehun mengendarai mobil menuju pusat penyimpanan data nasional di sudut ibu kota. Luhan berada di sampingnya, memasang mini chip di telinga kanannya dan bergerak ke arah Sehun untuk memasang milik Sehun. Sehun sedikit berjengit kaget kemudian mengerang saat Luhan memasukkannya ke dalam telinga pria itu.

Sehun meliriknya sekilas. Menahan protes dan Luhan menggumamkan kata maaf singkat.

"Kau harus memakai pakaian seperti itu?" tanya Sehun.

Luhan memandangi pakaiannya. "Bukankah ini standart Sehun-ah?"

Sehun mendengus. "Apakah pakaian selam seperti itu adalah standart?"

Luhan tertawa lepas. "Bodoh. Ini bukan pakaian selam,"

Sehun mengangkat bahu acuh. "Luhan–"

"Jika kau ingin mengatakan hal yang tidak penting, lebih baik kau diam. Semua orang sedang mendengarkanmu sekarang," Luhan memotong perkataannya dan Sehun diam.

"Luhan. Demi Tuhan, harusnya kau potong rambutmu," itu suara Kris, terdengar sangat keras di telinga mereka berdua.

Luhan terkekeh, menyisir rambutnya dengan jari-jari dan menariknya ke atas. Kemudian dengan sebelah tangan mengikatnya kuat-kuat. Rambut panjangnya tergerai melewati punggungnya dan dengan acuh gadis itu menggulungnya.

"Kurasa aku memang harus memotongnya," bisiknya.

Sehun hanya meliriknya sekilas. "Aku suka rambut panjangmu," balasnya.

Luhan terkekeh sedangkan telinganya dipenuhi suara decihan jijik.

Sehun menepikan mobilnya di belakang sebuah bangunan yang gelap di tengah malam. Luhan sibuk membenahi sepatunya sedangkan Sehun menghembuskan napas kuat-kuat. Luhan hanya meliriknya sekilas dan tersenyum.

"Gugup?" tanya Luhan, kali ini gadis itu mengambil barang-barangnya dari tas.

Sehun mengangguk. "Bagaimana aku bisa tidak gugup?"

Luhan terkekeh ringan, kemudian menarik wajah Sehun dan mengecup bibirnya sekilas. "Dengarkan aku. Kau akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja," lagi-lagi Luhan mengecup bibirnya.

Membuat Sehun tetap tenang.

Sehun mengangguk ringan.

"Oke Kris, kami siap," ucap Luhan.

"Pintu masukmu di lantai 8. Ruang kontrolnya ada di lantai 8. Kau bisa memanjatnya?" tanya Kris. Sehun memandangi gedung di depannya, kemudian menatap Luhan.

"Tentu," sahut Luhan cepat. Tangannya mengambil sebuah tali dari dalam tas dan melemparkannya ke arah Sehun. Luhan mengambil sebuah pelontar tali yang terbuat besi, dengan cepat mengarahkan ujung besi itu ke arah jendela gedung itu.

"Kau bisa meraihnya?" tanya Sehun, melepaskan ikatan pada tali yang dipegangnya.

Luhan hanya mengangguk, kemudian membidik jendela yang berada di lantai 8. Luhan menekan pelontarnya dan besi itu berhasil memecah jendela di lantai 8. Luhan sedikit tersenyum, kemudian menarik tali itu untuk memastikan bahwa talinya tersangkut dengan baik.

"Tunggu disini, kau bisa masuk setelah aku mematikan semua pengaman," bisik Luhan.

Tanpa meminta persetujuan Sehun, Luhan mulai memanjat. Tangan dan kakinya dengan cepat bergerak, membuat tubuhnya terangkat, tanpa pengaman. Luhan memanjat melalui jendela dan seutas tali dengan cepat seolah-olah tali itu menarik tubuhnya ke atas.

Luhan melirik Sehun sekilas, tatapan pria itu sedang memandanganya dengan pandangan takut yang teramat.

"Sehun berhentilah mengamatiku," bisik Luhan, terengah-engah.

"Kau sudah sampai?" tanya Jongin.

Luhan mendengus kesal. "Lantai lima," erangnya.

"Mengapa kau lambat sekali?" tanya Chanyeol.

"Berhentilah mengoceh, jendelanya licin," Luhan mendengus.

Luhan meraih lantai delapan dalam waktu dua menit. Kemudian dengan ringan gadis itu melemparkan tubuhnya masuk melalui jendela yang pecah. Pandangannya berusaha menyesuaikan dengan keadaan ruangan yang gelap gulita.

"Tunjukan jalannya," bisik Luhan, mengambil senter dan mengarahkannya ke ruangan yang gelap. Ruangan ini seperti ruang kerja seseorang.

"Kau dimana?" tanya Chanyeol.

"Sebuah ruang kerja, Lim Jiyeon," Luhan kembali mengarahkan senternya. "Haruskah aku menyalakan lampu?"

"Tidak," sahut Jongin. "Keluar dari ruangan itu, ruang kontrolnya ada di depan ruang itu. Tepat," Luhan tidak menjawab tapi dengan cepat menggerakkan kakinya keluar ruangan. Membuka pintu terkunci dengan kunci yang selalu di bawanya. Kunci yang bisa membuka seluruh pintu di dunia.

Luhan mengeluarkan kepalanya, memeriksa lorong di hadapannya. "Clear," bisiknya. Kemudian kakinya perlahan menelusuri lorong itu, memeriksa keadaannya. Luhan mengarahkan senternya ke arah pintu-pintu yang tertutup. "Aku menemukannya," ucap Luhan lagi.

Luhan berdiri di depan ruang bertuliskan 'control room' dan lagi-lagi mengarahkan kuncinya untuk membuka ruangan itu. Saat Luhan masuk, dia berhenti sejenak, mengamati seluruh peralatan yang ada dihadapannya.

"Katakan apa yang harus kulakukan?" tanya Luhan. "Hanya melihatnya saja membuat kepalaku sakit," Luhan meringis.

"Apa kau melihat sebuah pintu berwarna merah di dinding?" tanya Jongin. Luhan menekan saklar lampu dan memandangi sekitarnya.

"Ya. Kurasa," balas Luhan. Luhan membuka pintu itu dan tersentak melihat isinya. "Demi Tuhan, ini bukan seperti biasanya,"

"Kirimkan gambarnya," itu suara Yixing. Luhan mengambil ponselnya dan mengirim gambar itu. "Itu mudah," bisik Yixing dan Luhan memutar bola mata kesal.

"Ini tidak akan meledak kan?" tanyanya.

Yixing terkekeh. "Tekan tombol merah itu. Kemudian masukkan kodenya," Luhan mengikuti perintah Yixing. "17GB4YM90," Luhan menekan tombol-tombol itu. Saat Luhan sudah memasukkan kodenya, lampu di ruangan itu mati.

"Kau tidak salah, kan?" tanya Luhan, gugup.

"Sekarang tekan tombol merah itu lagi. Kodenya 189HGY87FG," sahut Yixing. Luhan lagi-lagi mengikuti perintah Yixing. Tapi tidak ada yang berubah. "Tunggu 30 detik,"

Dengan tidak sabar Luhan mengetuk-ngetukkan kakinya. Luhan menghitung dalam hati dengan mendengar suara hembusan napas Sehun di telinganya. Luhan tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

"Sehun-ah, kau baik-baik saja? Kau terdengar terengah-engah," ledek Luhan.

"Sehun sedang sekarat, kurasa," sahut Chanyeol.

"Sial," balas Sehun kesal.

Lalu tiba-tiba lampu kembali menyala. "Sudah diretas," ucap Yixing dan Luhan mendesah lega.

"Baik Sehun, kau bisa masuk," perintah Kris. "Luhan kau bisa masuk ke lantai 12. Aku butuh data dari komputer disana,"

"Baik," sahut Luhan.

Dengan cepat gadis itu menuju lift. Begitu pintu terbuka, Sehun berada disana, memandanginya dengan senyuman tipis. "Kau baik?" tanya Sehun mengamati tubuh Luhan sekilas setelah gadis itu masuk.

"Tidak tergores sama sekali," balasnya acuh.

Pintu lift terbuka di lantai 12, Sehun hendak melangkahkan kakinya keluar namun Luhan menghalanginya. "Ada apa?" bisik Sehun. Luhan menyentuh bibirnya dengan telunjuk, menyuruh Sehun diam.

Luhan memfokuskan pendengarannya yang tajam. Sebelah tangannya mengambil sebuah pisau lipat dari saku Sehun. Luhan dan Sehun tidak membawa senjata api karena pintu keamanan akan mendeteksi hal itu dengan cepat.

"Tetap di belakangku," bisik Luhan.

Luhan melangkahkan kakinya keluar dan Sehun merapat di belakang tubuhnya. Saat mereka keluar, lampu di lantai 12 menyala terang benderang. Mata Luhan dengan cepat menangkap pria-pria berbaju hitam dihadapannya.

Luhan melirik Sehun sekilas.

"Kita terlambat, kan Kris?" tanya Luhan.

"Kau tahu siapa mereka?" Kris balik bertanya.

Luhan mengamati pria-pria yang menggunakan masker dihadapannya. "Sebelas orang. Kurasa mereka berasal dari China. Siapa mereka?"

"Kau bisa menghadapinya?" tanya Chanyeol.

"Tentu," balas Luhan, sedangkan Sehun menyenggolnya dari belakang. "Siapa kalian?" tanya Luhan dengan bahasa China.

Salah satu pria berbaju hitam melangkah mendekati Luhan, secara naluriah Luhan mundur selangkah. "Kami akan menghentikanmu," balas pria itu dengan bahasa China.

"Bagaimana kau tahu mereka orang China?" tanya Jongin di telinganya.

"Sehun-ah?" panggil Luhan, Sehun hanya menjawab dengan gumaman. "Tetap di belakangku,"

Sehun menjawab dengan anggukan sedangkan Luhan sudah memasang kuda-kuda, siap menyerang. Luhan melangkah maju dan punggung Sehun tetap menempel di punggungnya. Pria-pria berbaju hitam yang tadinya hanya berdiri, kini berdiri mengelilingi Luhan dan Sehun.

Luhan menatap sekelilingnya, satu tangannya berada di depan tubuhnya sedangkan satu tangannya menggenggam pisau lipat. Luhan memejamkan matanya sejenak, menarik napas kuat-kuat dan mendesah ringan.

Ketika seorang pria berjalan mendekati Luhan, gadis itu menerjang maju. Menyerang kepala pria itu dengan sikunya, membuat suara yang mengilukan. Sehun hanya berdiri disana, mematung.

Terkejut dan merasa bodoh.

Saat Luhan menyelesaikan satu orang itu, beberapa pria lainnya mendesis. Mengarahkan pandangan mematikan ke arah Luhan. Beberapa orang maju ke arah Luhan, mengerumuninya seolah-olah Luhan adalah tontonan yang menarik. Mereka membuat Luhan dan Sehun terdesak dalam lingkaran manusia.

"Sehun-ah," ucap Luhan. Lagi-lagi Sehun hanya menjawab dengan dehaman. "Kau awasi belakangku. Ikuti perintahku, oke?"

"Oke," Sehun tercekat.

"Sekarang," bisik Luhan. Dan ketika Luhan mengatakannya, Luhan menyerang maju. Menendang kepala seseorang dan membuat suara-suara jeritan tertahan. "Angkat aku," perintah Luhan.

Sehun mengangkat Luhan dari belakang membuat tubuh gadis itu melayang di udara dan menendang orang-orang di hadapannya. Kemudian membuat tubuhnya melayang di udara dan mendarat tepat menginjak dada seorang pria.

Sehun membelalak.

Seorang pria menerjang, menghujani Luhan dengan pukulan-pukulan cepat dan gadis itu menangkisnya dengan baik. Sedangkan seorang pria berusaha menyerang Sehun yang sedang menghindar.

Luhan melirik Sehun sekilas, membuat dirinya yakin bahwa Sehun baik-baik saja dan saat itu sebuah pukulan mengenai perutnya, kemudian wajahnya. Dan sebuah tendangan mengenai punggungnya.

Luhan terjatuh.

Untuk beberapa saat dunianya berputar.

Hanya sepersekian detik, Luhan sudah berguling-guling, menghindari kaki-kaki yang hampir menginjaknya. Luhan bangkit, berdiri dengan satu gerakan cepat dan menendang kepala seorang pria lagi.

Kakinya menjegal seorang pria yang berdiri, membuat pria itu tumbang seketika. Luhan menghantam kepala pria itu dengan sikunya. Sedikit meringis karena tangannya terasa ngilu.

Luhan mendesis.

"Sehun-ah," panggilnya, kemudian menangkis sebuah tangan yang berusaha menggapai rambutnya.

"Ya?" jawab Sehun terengah-engah, Sehun sedang berusaha melepaskan diri dari dua orang pria yang mengungkung tubuhnya.

"Pergi. Ambil datanya. Aku akan mengalihkan perhatiannya," ucap Luhan, lalu sedikit memekik saat seorang pria memukul kepalanya.

"Bagaimana. Aku. Bisa. Meninggalkanmu?" tanya Sehun terputus-putus, terengah-engah.

"Lakukan," Luhan setengah membentak dan berlari mendekati Sehun, kedua tangannya menarik rambut pria yang sedang bergulat dengan Sehun dan membenturkan dua kepala itu kuat-kuat. Kemudian dengan tatapannya yang tajam, Luhan menyuruh Sehun pergi.

Dan Sehun menurut, dengan berat hati.

Luhan mengeluarkan pisau lipatnya, menggerak-gerakkannya di udara dan menyerang orang-orang itu. Secara membabi buta, tanpa perasaan. Luhan merasakan tangannya hangat oleh darah, tapi dia tidak punya waktu untuk peduli.

Dibunuh atau membunuh.

Itu pilihannya.

Dan Luhan memilih untuk membunuh.

Saat Luhan menusukkan pisaunya ke badan pria terakhir, diiringi jeritan tertahan pria tersebut, Sehun kembali. Menatap Luhan dengan pandangan mengerikan dan menunjuk pria-pria yang tergeletak di lantai.

"Luhan-ah," bisik Sehun, setengah takjub, setengah ngeri. Bagaimanapun ini kali pertama Sehun melihat pembunuhan secara langsung.

Terlebih lagi dilakukan oleh istrinya sendiri.

Luhan menoleh, melipat pisaunya dan membuangnya di atas tubuh seorang pria. "Maaf, membuatmu takut," ucap Luhan, sedikit tersenyum canggung. Kemudian dengan cepat melepas sarung tangannya yang berlumuran darah.

Tangannya berwarna merah sekarang. Lagi-lagi Sehun meringis.

"Clear," ucap Luhan.

"Keluar sekarang," balas Kris.

"Tunggu dulu," suara Sehun. "Ada yang menaiki lift," Luhan menoleh ke arah lift dengan cepat. Nomor lift itu berkedip-kedip. Menunjukkan angka 1.

"Dua orang bersenjata," ucap Yixing.

Luhan melirik sekitarnya, tidak ada jalan keluar. "Perlambat," perintahnya.

Sehun menatapnya aneh, kemudian Luhan meraih flashdisk berisi data yang Sehun ambil. Sehun mengangguk ringan, menyetujuinya.

"Luhan, kau tidak menutup ruang kontrolnya?" tanya Yixing.

"Kau tidak bilang," balas Luhan.

"Sial," umpat Yixing. "Mereka sudah memperbaiki sistemnya, aku tidak bisa meretasnya lagi," suara Yixing terdengar gugup.

"Tidak ada pilihan lain," itu suara Kris.

Saat pintu lift terbuka, Luhan dan Sehun saling menatap kemudian sebuah suara keras membuat keduanya tersentak.

"Angkat tangan kalian," dua orang pria menggunakan jas hitam menodongkan pistol ke arah Luhan dan Sehun. "Menyerahlah," bentak seorang pria lagi.

Luhan dan Sehun mengangkat tangan mereka ke udara. Lalu saat suara-suara di telinga mereka menghilang, Sehun membelalakkan matanya. Menatap Luhan dengan pandangan bingung, meminta penjelasan.

Dan Luhan hanya membalas dengan senyuman.

Sebuah senyuman yang tak dapat Sehun artikan.

.

.

TBC

.

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca fanfiction ini. Author sangat menghargai kesetiaan readers sekalian untuk menunggu kelanjutan fanfiction ini dan juga sudah memberikan komentar di kolom review.

Author benar-benar berterima kasih.

Author tunggu kritik dan sarannya di kolom review yaaaa~

Bye~ sampai jumpa di chapter depan. Author usahakan secepatnya.

Akhir kata, mohon maaf jika ada kesalahan dan sampai jumpaaaa~