Luhan dan Sehun mengangkat tangan mereka ke udara. Lalu saat suara-suara di telinga mereka menghilang, Sehun membelalakkan matanya. Menatap Luhan dengan pandangan bingung, meminta penjelasan.

Dan Luhan hanya membalas dengan senyuman.

Sebuah senyuman yang tak dapat Sehun artikan.

Luhan menatap kedua orang pria yang sedang mengacungkan senjata kepadanya, menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ditebak. Deru napas Sehun di telinganya terdengar terengah-engah. Saat Luhan meliriknya sekilas, wajah pria itu pucat, dan gadis itu tahu Sehun gugup setengah mati.

Begitu pula dengannya, sebenarnya.

"Siapa kalian?" tanya salah seorang pria, setengah berteriak, matanya memandang pria-pria yang tergeletak di lantai. Keduanya tampak bingung.

Luhan melirik Sehun sekilas dan ia tidak bereaksi, Sehun berusaha menahan sesuatu yang tak Luhan pahami. "Kami badan khusus yang dikirim pusat untuk mencegah mereka," Luhan menuding orang-orang yang tergeletak di lantai.

"Kami tidak pernah mengetahui hal itu," balas seorang pria, berjalan mendekati Sehun dan Luhan dengan hati-hati.

"Ini tugas rahasia yang tidak seharusnya kalian ketahui. Mereka penyusup," tambah Luhan, menunjuk pria-pria itu dengan tatapan matanya.

Pria itu tampak berpikir. "Apa yang mereka inginkan?" bentaknya lagi.

Luhan merogoh saku celananya, dan meletakkan sebuah flashdisk ke lantai, kemudian dengan kaki kanannya menendang flashdisk itu, tepat berhenti di depan sepatu salah satu pria bersenjata. Pria itu mengambilnya, mengamatinya sekilas dan menatap Luhan bingung.

"Itu data yang ingin mereka curi. Beruntung kami berhasil mencegahnya sebelum mereka berhasil keluar," tambah Luhan, sedikit tersenyum di wajahnya.

Luhan melirik Sehun sekilas, pria itu sedang berusaha tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"Aku akan mengembalikan itu. Itu bukan tanggung jawabku lagi sekarang," Luhan mengangkat bahu acuh, sedangkan Sehun masih mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Bagaimana kami bisa mempercayai kalian?" tanya seorang pria.

Luhan terkekeh angkuh, terdengar asing di telinga Sehun. "Bayangkan apa yang akan kalian dapatkan jika atasan kalian tau, kalian berdua berhasil menghentikan penyusup-penyusup ini,"

Kedua pria itu tampak berpikir, terlalu lama hingga Luhan hampir mendecak sebal.

"Baiklah," tambah Luhan lagi, berusaha bernegosiasi. "Aku akan jujur. Kami berdua akan mendapatkan masalah jika kalian menemukan kami disini," Luhan berhenti sejenak. "Jadi kuharap penawaranku masih berlaku, kau bisa memikirkan ulang. Kita akan sama-sama untung,"

Salah seorang pria mendengus. "Kami akan tertangkap ketika mereka melihat rekaman CCTV-nya,"

Luhan terkekeh lagi. "Jangan meragukanku. Kami tim khusus. CCTV bukan hal yang besar," Luhan menarik tangan Sehun turun, tanpa memandangnya sama sekali.

Kedua pria itu saling tatap untuk beberapa saat, lalu keduanya saling mengangguk. "Jadi–,"

"Setelah kami keluar, kalian bisa menyalakan alarmnya," potong Sehun. Luhan menatapnya kaget dan Sehun mengedipkan sebelah matanya.

Kedua pria itu mengangguk dan dengan cepat Sehun menarik tangan Luhan menuju lift. Sehun dan Luhan menundukkan kepala singkat sebelum menghilang di balik lift.

Sehun menghembuskan napas kuat-kuat, sedangkan Luhan nyaris mengumpat.

Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, Luhan berlari keluar, diiringi Sehun di belakangnya. Luhan berlari menuju mobil mereka dan terkejut saat melihat alat-alatnya tidak ada di sana. Luhan menatap Sehun meminta penjelasan dan Sehun mengisyratkan bagasi dengan matanya.

"Kapan kau melakukannya?" tanya Luhan, melemparkan tubuhnya ke kursi pengemudi.

"Kau akan mengemudi?" tanya Sehun bingung, tapi tetap duduk di kursi penumpang sebelah Luhan.

Luhan mendecak. "Kau pikir aku membiarkan amatiran menyetir pada saat kia melarikan diri?" ucap Luhan, kemudian menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat mobil yang mereka tumpangi melesat melewati jalanan ibu kota yang sepi.

Luhan menginjak pedal gasnya tanpa ampun, membuat Sehun tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman.

"Kapan kau membereskan barang-barangnya?" tanya Luhan, membuat putaran tanpa menginjak rem, membuat Sehun nyaris terpental ke arah pintu.

Sehun mendesis. "Kau pikir mengapa aku terengah-engah tadi?" tanya Sehun kesal. "Dan jika kau tidak keberatan, kita tidak sedang terburu-buru,"

Luhan terkekeh, kemudian belok ke sebuah jalan yang sedikit lebih ramai. Membuat Sehun menatapnya dengan bingung. Luhan menerobos lampu merah, membuat lengkingan klakson di belakang mobil mereka.

"Aku hanya memastikan tidak ada yang membuntuti kita," Luhan menjelaskan.

Sehun mengangguk. "Tapi bukankah kau salah jalan?" tanya Sehun, menoleh ke belakang, sebuah jalan yang seharusnya Luhan lewati.

"Kita akan pulang," balas Luhan.

Sehun lagi-lagi hanya mengangguk ringan. "Mengapa Kris memutuskan sinyal?"

Luhan mendengus. "Itu prosedur. Kau bahkan belum tahu hal itu ya? Itu dasar, Sehun-ah," Luhan terkekeh. "Jika kami tertangkap, markas tidak boleh terlacak bagaimanapun,"

"Lalu bagaimana jika kita tertangkap?" tanya Sehun lagi.

"Itu urusan masing-masing agen. Bukankah kita dilatih untuk hal ini?" Sehun memebelalakkan matanya, baru menyadari betapa bahayanya pekerjaan ini.

"Boleh aku jujur?" bisik Sehun, Luhan menjawab dengan dehaman singkat. "Sejujurnya aku lebih suka kau menjadi jalang daripada seperti ini,"

Luhan tertawa, sangat keras hingga Sehun memandanginya bingung. "Jadi kau lebih suka melihat istrimu nyaris telanjang di hadapan banyak pria?" Luhan masih menahan tawa.

"Bukan begitu, tapi setidaknya itu sedikit lebih tidak berbahaya kan?"

Luhan terkekeh ringan.

Sehun melepas sabuk pengamannya saat Luhan selesai memarkir mobilnya di apartemen Sehun. Pria itu berjalan mendahului Luhan yang tengah sibuk memasang coat-nya. Sedangkan Sehun mengambil jaket dari bagasi mobil. Penampilan mereka harus terlihat wajar di musim dingin.

Luhan dan Sehun berjalan beriringan melewati pintu samping. Apartemen itu tampak sangat sepi, tentu saja ini tengan malam. Hanya ada beberapa orang keamanan yang menyapa mereka berdua, Luhan dan Sehun saling pandang. Tidak biasanya ada penjaga di pintu samping apartemen mereka.

Tapi keduanya memilih untuk tidak peduli dan membalas mereka dengan senyuman.

Saat Sehun membuka apartemennya, pria itu mengumpat keras-keras. Membuat Luhan terkejut dan buru-buru menyusul suaminya. Mata Luhan benar-benar terbelalak melihat keadaan apartemen Sehun yang hancur berantakan.

Barang-barang Sehun berserakan dilantai bahkan TV Sehun pecah. Luhan mengitari ruangan dengan pandangannya, dia tidak menemukan apapun. Ia ragu apakah ada orang di dalam kamar Sehun, tapi belum bisa memastikan.

Luhan melangkah maju, secara naluriah berdiri di depan Sehun, menjadi tameng pria itu. Melindungi Sehun tetap menjadi prioritasnya. "Tetap di belakangku," ucap Luhan, kaki kanannya menutup pintu apartemen Sehun perlahan, sedangkan tangan kanannya meraih kotak sepatu usang milik Sehun. Luhan membukanya dan mengambil sebuah pistol dari sana.

"Sejak kapan kau meletakkan itu di sana?" tanya Sehun, takjub.

"Apakah itu hal yang penting?" bisiknya, Luhan meleparkan pistol itu pada Sehun, menariknya maju, mengisyratkannya menuju balik sofa untuk berlindung.

Sehun menurutinya.

Dengan langkah ringan, Luhan menuju konter dapur, menaiki meja makan untuk meraih pistol di atas rak dapur. Luhan mengambilnya, kemudian dengan ringan melompat turun. Luhan mengarahkan senjatanya di depan tubuhnya, membuka pintu kamar mandi yang kosong, kemudian mengendap-endap berjalan mendekati tangga.

Luhan menyuruh Sehun untuk tetap berada di belakang sofa, menyuruhnya menunduk. Sehun hanya mengangguk ringan. Lalu sebuah suara kaca pecah membuat Luhan menunduk dengan cepat, berlindung di balik rak buku. Luhan sedikit bangkit untuk memeriksa, jendela apartemen Sehun pecah, tertembus peluru besi yang berasal dari luar ruangan, kemungkinan berasal dari gedung di seberang apartemen Sehun.

Luhan mengumpat.

"Tetap disana," Luhan berteriak. Matanya bergerak cepat menelusuri seluruh ruangan apartemen Sehun dan seperti dugaannya, ruangan itu kosong. Luhan melompat lagi, kali ini melompati sofa dan berguling menuju bawah meja, lalu sebuah tembakan memecahkan jendela lagi.

Luhan terengah-engah, masih berlindung di bawah meja. "Sehun-ah cepat keluar. Turun lewat tangga, tunggu aku di belakang gedung ini," Luhan setengah terengah, berusaha melepaskan sesuatu yang menempel kuat di balik meja.

"Tidak," bisik Sehun. "Kita akan keluar bersama-sama,"

"Keras kepala, brengsek," umpat Luhan singkat, deru napasnya menggebu seiring dengan beberapa suara desingan peluru dari luar ruangan. "Dalam hitungan ketiga lari bersamaku,"

"Oke," jawab Sehun singkat.

Luhan masih berusaha di balik meja, mengutak-atik sesuatu, kemudian satu tembakan lagi mengenai tembok. "Satu … Dua … Tiga," Luhan berteriak, kemudian sebuah asap keluar dari balik meja, dengan cepat gadis itu berlari, meraih tangan Sehun yang sudah menunggunya dan keluar dengan cepat.

Sehun dan Luhan berlari menelusuri lorong yang mendadak riuh karena alarm kebakaran. Luhan mengeratkan pegangannya pada tangan Sehun, lebih tepatnya menarik pria itu berlari di belakangnya. Luhan membuka pintu darurat, kemudian dengan cepat kakinya menelusuri tangga.

Suara dengungan-dengungan alarm membuat semua orang bingung, saat Luhan keluar melewati lorong yang mengubungakan pintu darurat dengan pintu belakang apartemen Sehun, banyak orang berlarian keluar dari ruangan mereka. Hal itu membuat Sehun dan Luhan sedikit mengurangi kecepatan kaki mereka.

Luhan melirik sekilas para penjaga yang kebingungan, memberikan kesempatan kepada keduanya untuk melarikan diri dengan aman. Luhan harus berhenti beberapa kali untuk menghindari orang yang berlalu lalang di hadapannya. Tangannya masih menggenggam tangan Sehun kuat-kuat.

"Sehun-ah," panggil Luhan, menarik Sehun ke depan tubuhnya untuk berjalan mendahuluinya. Kemudian melemparkan sebuah kunci pada Sehun. "Aku memarkirnya tepat di balik tempat pembuangan sampah. Temui aku di depan,"

Pandangan Sehun tampak bingung. "Apa yang kau lakukan?"

"Ada yang harus kulakukan," balas Luhan, sedikit mendorong Sehun dan kemudian memutar tubuhnya untuk berlari menuju lorong yang tadi dilaluinya.

Sehun menatapnya dengan bingung sejenak, kemudian dengan cepat melakukan perintah Luhan. Melewati banyak orang yang berlari-lari kebingungan sambil menjeritkan kata maaf berulang-ulang karena tidak sengaja menabrak orang-orang tersebut.

Sehun sampai di pembuangan sampah, tangannya menekan tombol alarm mobil yang Luhan berikan dan sedikit terkejut saat sebuah mobil berwarna merah menyala di hadapannya. Sehun nyaris membelalak dan mengumpat saat melihat mobil yang Luhan maksud.

"Sial. Bagaimana dia bisa menyembunyikan harta karun di balik tempat sampah," umpatnya singkat. Dengan cepat Sehun melompat menuju kursi pengemudi, masih sedikit takjub dengan mobil Luhan. Saat Sehun hanya menyentuh pedal gasnya, mobil itu sudah melesat dengan cepat.

Sehun membelokkan mobil itu di depan apartemennya, melihat Luhan berlari dari dalam apartemennya, kemudian membuka pintu mobil yang bergerak ke atas itu tanpa menghentikan mobil –Sehun hanya memperlambat laju mobilnya- dan saat Sehun sampai, Luhan melompat ke dalamnya.

Mendarat mulus di kursi penumpang.

Sehun menoleh ke arahnya, sedangkan Luhan terengah-engah menahan napas. Ia membawa sebuah tas besar, kemudian meletakkannya di pangkuannya. Tangannya dengan cepat bergerak-gerak.

"Apa itu? Dan apa yang tadi kau lakukan?"

Luhan membuka tasnya, mengeluarkan besi-besi yang tak Sehun pahami. "Aku harus membersihkan CCTV dan mengambil ini," ucap Luhan ringan, tangannya masih bergerak-gerak dengan cepat.

"Apa itu?" tanya Sehun.

Luhan mendengus, tangannya merakit benda-benda itu. "Sesuatu yang akan kau ketahui nanti," balas Luhan. "Sehun, arahkan ke tol,"

Sehun menoleh dengan cepat. "Kita mau kemana? Tak bisakah kau menjelaskan semuanya dulu?" tanya Sehun kesal. Namun tetap menuruti kemauan Luhan.

Luhan mendesis. "Aku tidak punya banyak waktu," balasnya, memsang besi-besi kecil. "Aku tidak ingin membunuh orang tak berdosa," bisik Luhan, meletakkan potongan besi terakhir, dan Sehun baru menyadari bahwa itu adalah senjata api yang lumayan besar.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Sehun lagi, membuat satu putaran penuh memasuki jalan tol.

Luhan menoleh ke belakang, membuat Sehun mengikuti pandangannya melalui kaca spion. Tapi di sana hanya ada beberapa mobil van. "Kau akan tahu nanti, jika ini sudah dimulai," ucap Luhan menjelaskan.

Sehun mengangguk tak mengerti, masih gugup, jantungnya berpacu dengan cepat. "Ngomong-ngomong kenapa kau menyembunyikan mobil ini di tempat sampah? Mobil ini luar biasa, Luhan-ah," Sehun tidak bisa menyembunyikan nada takjub dalam suaranya.

Luhan tertawa singkat. "Aku masih punya banyak," jawabnya angkuh, diiringi dengan dengusan Sehun.

Sehun berbelok memasuki jalan tol yang sepi, hanya ada beberapa mobil di sana. Luhan menunjuk jalan di GPSnya, dan Sehun mengikutinya. Jalan itu benar-benar sepi, tidak ada satu mobilpun yang lewat.

"Sehun, perlambat mobilnya," perintah Luhan dan Sehun menurutinya. Luhan membuka jendela mobilnya dan mengeluarkan senjatanya, kemudian membidik sebuah camera lalu lintas dan menembakknya.

Tepat mengenai sasaran.

"Wow," Sehun nyaris menjerit. Luhan menoleh ke belakang, kemudian Sehun mengikuti pandangannya. "Sial," umpat Sehun.

Di belakang mereka ada enam mobil hitam yang tak diketahui dari mana asalnya dan Sehun tahu bahwa mereka bukan orang biasa. "Oke, ini akan dimulai. Sehun ikuti perintahku,"

Sehun memandangi Luhan bingung. "Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya bodoh.

Luhan tersenyum sedikit, kemudian menekan tombol untuk membuka jendela pada atap mobil. "Begini cara pria seharusnya berbicara," tambah Luhan, bangkit berdiri untuk memposisikan senjatanya.

"Kau bahkan bukan seorang pria," balas Sehun.

Luhan sedikit tertawa, kemudian membidik targetnya. Luhan menarik pelatuknya dan sedikit meleset dari ban mobil. "Sehun-an, kau harus membuat garis lurus. Apa kau bahkan tidak bisa mengemudi?" Luhan berteriak, terdengar frustasi.

"Aku berusaha," balas Sehun kesal, sepenuhnya memfokuskan oandangannya pada jalan..

Lagi-lagi Luhan membidik sasarannya, kali ini tepat mengenai ban mobil pertama. Mobil hitam itu berputar-putar sejenak sebelum menabrak pembatas jalan. Beberapa mobil lainnya melewati badan mobil yang hancur tersebut.

Seorang pria mengeluarkan tubuhnya melalui jendela mobil dan mengacungkan senjata. Luhan menarik tubuhnya. Lalu beberapa tembakan terasa mengenai mobil Luhan. Sehun mengumpat, sedangkan Luhan menarik napas kuat-kuat.

"Mobil ini anti peluru kan?" tanya Sehun, gugup.

"Usahakan menghindar," tambahnya. Luhan berdiri lagi kemudian membidik pria di mobil itu, Luhan berusaha menembak ban mobilnya, tapi tembakannya meleset. "Sial," umpatnya, memilih untuk kembali duduk.

Luhan kembali mengaduk-aduk isi tasnya, mengambil sebuah benda bulat dari dalamnya. Sehun meliriknya sekilas dan membelalakkan matanya. "Demi Tuhan, itu granat," jerit Sehun.

"Saat aku melemparnya, tekan gas itu dalam-dalam. Aku tak peduli apapun, kau harus melesat atau mati," bisik Luhan, bersiap-siap berdiri.

Sehun menelan ludah gugup, bersiap-siap. "Hitung sampai tiga,"

"Oke," Luhan bersiap-siap untuk berdiri. "Satu," Luhan berdiri. "Dua," kali ini siap mengigit pemicu granatnya. "Tiga," Luhan menarik pemicu dengan giginya dan melemparkannya, tepat saat itu tubuhnya terhempas, membentur atap mobil karena Sehun memacunya tanpa ampun.

Luhan berhasil duduk saat sebuah ledakan besar terjadi di belakangnya, suaranya terdengar mengerikan, membuatnya nyaris memekik. Sehun menerjang maju, berusaha menghindari api yang berkobar-kobar di belakang mobil mereka, lalu berbelok mendadak tanpa menginjak rem, membuat Luhan terpelanting ke arah kiri, menabrak tubuh Sehun karena dia tak menggunakan sabuk pengaman.

Luhan mengaduh, kemudian mendesah lega saat mobil mereka sudah aman dari kobaran api.

Sehun terengah-engah, memperlambat laju kendaraan. "Ya Tuhan, hampir saja," bisik Sehun. "Ini seperti mimpi," tambahnya.

Luhan terkekeh, kemudian mengembalikan senjatanya ke dalam tas. "Sehun menepilah, biar aku yang menyetir,"

Sehun menurut, karena tangannya sudah sangat berkeringat akibat kejadian tadi. Luhan melompat turun setelah Sehun membuka pintunya. Dengan cepat meletakkan tasnya ke dalam bagasi dan sedikit menoleh ke arah kepulan asap di belakangnya.

Luhan menghembuskan napas pelan, lalu berjalan menuju kursi pengemudi.

"Kau baik-baik saja, Sehun-ah?" Luhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju pusat ibu kota.

Sehun mengangguk. "Tidak, kurasa. Aku mual," jawabnya singkat dan Luhan terkekeh. "Kita kemana?"

"Istirahat. Ke tempat yang aman,"

"Markas?" tanya Sehun.

"Lebih aman daripada itu," sahut Luhan. "Oh ya, kau masih menyimpan datanya?"

Sehun merogoh kantung di balik celananya, kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam, menyerahkannya pada Luhan. "Aku sempat bingung mengapa Kris menyuruhku mengopi dua kali,"

Luhan tersenyum. "Sekarang kau tahu,"

"Wah, sebenarnya aku baru menyadari bahwa kalian benar-benar luar biasa," Sehun menggelengkan kepalanya takjub, membuat Luhan terkekeh geli.

.

.

Sehun nyaris berteriak takjub saat Luhan mengemudikan mobilnya memasuki sebuah apartemen mewah di tengah kota. Sehun tidak bisa menutup mulutnya saat Luhan memarkir mobilnya di sebuah garasi. Garasi itu penuh dengan mobil-mobil yang serupa, hanya warnanya yang berbeda.

"Luar biasa," ucap Sehun. "Ini semua milikmu?"

Luhan menganguk, melompat keluar mobil dengan satu gerakan cepat. "Sudah kubilang aku punya banyak," jawabnya acuh.

Luhan mengeluarkan tasnya dari bagasi, melemparkannya pada Sehun, kemudian berjalan mendahului pria yang sedang menatap sekelilingnya dengan pandangan takjub. Luhan berjalan menuju pintu masuk yang sepi, menekan tombol-tombol di depan pintu kaca dan berjalan melewatinya.

Sehun mengikutinya dari belakang.

Luhan menekan pintu lift, sedikit memeriksa ke belakang Sehun dan gadis itu bersyukur tidak ada seorang pun yang mengikuti mereka, setidaknya untuk saat ini. Luhan menekan angka 21 dan melirik Sehun sekilas, pria itu sedang menggerak-gerakkan kakinya gelisah, sedangkan tangannya mendekap erat tas Luhan.

"Kau tidak perlu mendekapnya," ucap Luhan acuh, sedikit tersenyum.

Sehun mendesah. "Aku hanya butuh sesuatu untuk pegangan," ucapnya sebal. Luhan terkekeh ringan, kemudian meraih tangan Sehun yang sedingin es. Luhan mengecup jemari Sehun sekilas, membuat pria itu tenang.

"Aku akan menjadi peganganmu," ucapnya singkat dan Sehun tertawa lepas.

Tawa mereka berdua berhenti saat pintu lift terbuka, Luhan keluar mendahului Sehun dan menekan tombol merah di depan pintu apartemennya, kemudian menekan beberapa tombol, pintu itu terbuka setelah terdengar suara 'bip' singkat.

"Selamat datang di rumahku, Sehun-ah," ucap Luhan, mempersilahkan Sehun memasuki apartemennya.

Sehun melangkah masuk dengan ragu, kemudian mengumpat keras saat melihat keadaan apartemen Luhan. Ini luar biasa. Sehun menutup mulutnya dengan kedua tangan, takjub bercampur tidak percaya dengan penglihatannya.

Apartemen Luhan benar-benar luar biasa, ruangan itu dipenuhi komputer-komputer yang langsung menyala ketika mereka masuk, alat-alat canggih yang tak Sehun pahami juga ada disana. Dindingnya kaca-kaca penuh senjata api yang bahkan Sehun tidak mengerti namanya, ia belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Bahkan di dalam apartemen itu ada ruang operasi yang Sehun juga tak mengerti fungsinya.

"Wow. Ini benar-benar luar biasa," Sehun masih membuka mulurnya lebar-lebar, membuat Luhan terkekeh geli. "Ini tempat tinggalmu? Kau bahkan punya ruang operasi sendiri," tanya Sehun lagi.

"Kita tidak bisa dengan mudah ke rumah sakit jika mengalami kecelakaan, Sehun. Jadi aku membuatnya," ucap Luhan ringan, membiarkan Sehun mengeksplor apartemennya. Gadis itu duduk di depan sebuah komputer dan menekan layar yang menyerupai meja. Luhan mengerutkan kening sejenak saat membaca data yang berhasil mereka curi.

"Ada masalah?" tanya Sehun, berdiri di belakang Luhan untuk memeriksa.

Luhan menggeleng. "Aku tak mengerti. Kurasa aku harus segera mengirimkannya pada Yixing," Luhan menekan layar itu lagi, tangannya bergerak cepat.

Sehun masih mengamati dinding apartemen Luhan yang penuh senjata. "Luhan-ah," pangilnya. Luhan menjawab dengan dehaman, tangannya masih bekerja di atas layar. "Bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini?"

Luhan terkekeh. "Kau pikir untuk apa aku bekerja dengan mempertaruhkan nyawaku setiap hari?"

Sehun mendekati Luhan dan duduk di sampingnya. "Kau bekerja hanya untuk uang?" tanya Sehun, meletakkan kepalanya ke bahu Luhan yang sempit.

Luhan menggeleng, masih fokus pada layar di hadapannya. "Aku hanya ingin menegakkan keadilan," Sehun menatapnya tak mengerti. "Ada ribuan orang di luar sana yang membutuhkan orang-orang sepertiku," balas Luhan.

Sehun menatap Luhan bingung, kemudian menuding Luhan dengan telunjuknya. "Kau," Sehun berhenti sejenak. "Sudah berapa banyak membunuh orang?"

Kali ini Luhan memutar tubuhnya untuk menatap Sehun. Luhan menangkupkan kedua tangannya ke wajah Sehun. "Sehun-ah. Aku bukan orang jahat. Demi Tuhan aku bersumpah, aku hanya membunuh orang yang memang seharusnya dibunuh," Luhan tersenyum, menyentuh pipi Sehun dengan jemarinya.

Sehun menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan kali ini. "Luhan–,"

"Maafkan aku, Sehun-ah. Kau tidak seharusnya bertemu dengan seorang pembunuh sepertiku," Luhan tersenyum miring.

Sehun merengkuh Luhan dalam pelukannya. Mendekap gadis itu kuar-kuat, kemudian mengecup puncak kepalanya. "Aku bersyukur pembunuh itu kau," Sehun terkekeh, lalu melepaskan pelukannya. "Sekarang, mari kita bersihkan lukamu," Sehun menyibak poni Luhan yang berantakan, menyentuh darah yang mengering di dahinya.

Luhan berdiri untuk mengambil kotak obat, menyerahkannya pada Sehun dan duduk di sofa. Pria itu meraih kapas, kemudian menarik Luhan untuk duduk di hadapannya. Sehun menarik kepala Luhan mendekat dan menyentuh dahinya.

"Aku terluka lagi ya?" tanya Luhan, tersenyum bodoh saat Sehun membersihkan lukanya.

Luhan mengernyit saat merasakan perih.

Sehun menghembuskan napas kuat-kuat, kemudian menempelkan plester luka di dahi Luhan. Jemari Sehun menyentuh sudut bibir Luhan yang berdarah, kemudian mengusap pipinya yang sedikit berwarna keunguan. Sehun mengecup pipi Luhan sekilas, kemudian mengecup luka di dahinya, dan bibirnya bergerak mengecup bibir Luhan.

Luhan sedikit meringis saat Sehun mengecup bibirnya yang perih. Sehun menarik bibirnya, menggumamkan kata maaf singkat dan Luhan menggeleng. Tangan mungilnya meraih kepala Sehun, menariknya dan melumat bibirnya singkat.

"Luhan-ah," ucap Sehun, terdengar lembut.

"Maafkan aku, Sehun. Aku terluka lagi. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku," Luhan menundukkan kepalanya, suaranya nyaris bergetar.

Sehun menarik kepala Luhan ke atas agar menatapnya, kemudian tersenyum. "Tidak masalah, sayang. Kau tetap hidup, itu yang terpenting,"

Luhan balas tersenyum, kemudian tangan kanannya menyentuh permukaan bibir Sehun yang lembut.

"Aku akan membersihkan diri," ucap Luhan singkat, dibalas dengan anggukan oleh Sehun.

.

.

Luhan berdiri di depan cermin setelah mandi, menyisir rambutnya yang berantakan dan setengah kering. Suara pintu terbuka, membuat Luhan menoleh secara naluriah. Sehun memandangi gadis itu dengan bingung sejenak.

"Mengapa kau tampak terkejut?" tanya Sehun, mengambil kaus dari atas meja dan memakainya dengan satu gerakan cepat.

Luhan tersenyum malu. Ini adalah tempat perlindungan pribadinya. Hanya rekan kerjanya yang pernah mengunjungi apartemennya, itupun sangat jarang mereka lakukan. Tapi sekarang Luhan membawa seseorang untuk menginap –sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya- dan itu masih asing baginya.

"Tidak," bisik Luhan. "Hanya aneh saja, melihatmu disini,"

Sehun memiringkan kepalanya, masih memperhatikan Luhan yang beranjak menuju ranjang. "Begitu ya?" Sehun berjalan mengelilingi ranjang Luhan. Seperti pemangsa yang sedang mengincar mangsanya.

Luhan memandang Sehun sekilas, merasakan perubahan ekspresi Sehun yang tiba-tiba. Luhan mengerutkan kening bingung. Secara naluri merasa terancam –dalam hal lain.

"Aku akan selalu ada di sini," ucap Sehun, sedikit menjilat bibir bawahnya. Luhan merinding karena tatapan Sehun.

"Kuharap begitu," Luhan memperhatikan Sehun ketika pria itu mendekat, ia memaksakan dirinya sendiri untuk memandang mata Sehun. "Ada yang ingin kau lakukan?" tanya Luhan, entah mengapa menjadi sedikit gugup.

Sehun mengernyitkan dahinya bingung. "Apa ada yang perlu kulakukan?" Luhan tahu saat Sehun menggodanya dan gadis itu merengut.

"Aku lelah," bisik Luhan.

Sehun mendekat, mencongkan tubuhnya melewati ranjang, mendekati tubuh Luhan. "Begitu ya? Kurasa kau tidak pernah punya rasa lelah," balas Sehun.

"Begitu ya?" Luhan menirukan nada suara Sehun, nada suaranya terdengar mengejek.

Sehun tampak mempertimbangkan sesuatu, kemudian menarik dirinya untuk menatap kamar Luhan. Selain sebuah lemari besar, sebuah ranjang, dan kaca tinggi, tidak ada perabot lain dalam kamar ini. Benar-benar tidak tampak seperti kamar seorang gadis.

"Kamar ini benar-benar luar biasa," kata Sehun, sedikit menyindir.

Luhan terkekeh, mendekap sebuah bantal putih besar di dadanya. "Aku senang kamarku,"

"Ini tampak membosankan," jawab Sehun, Luhan mengernyit.

"Kau ingin aku mengubah kamarku agar kau tidak bosan?" dengus Luhan kesal.

Sehun tersenyum lebar, kemudian berjalan mendekati Luhan untuk duduk di ranjang, bersebelahan dengan Luhan. "Kau serius?" tanyanya, mendekatkan wajahnya ke hadapan Luhan dan gadis itu menghindarinya.

"Tidak… kurasa," ucapnya gugup, entah mengapa pandangan Sehun membuatnya sedikit takut.

Sehun merangkak ke arah Luhan, menarik Luhan untuk bangkit dan duduk di antara pahanya. "Kau gugup?" bisik Sehun, bibirnya menyentuh ujung telinga Luhan dan membuat gadis itu nyaris mengerang.

Luhan mengernyit tanpa sadar, ia meraih tangan Sehun yang merambat melewati perutnya, menahan tangan Sehun yang berusaha membuka kancing-kancing piamanya. Sehun menatap Luhan dengan senyuman memohon yang lucu dan Luhan –terpaksa- membiarkan pria itu membuka piamanya.

"Ini bukan pertama kalinya, tapi kenapa kau selalu gugup?" bisik Sehun, masih bermain-main dengan piama Luhan.

Luhan menundukkan kepalanya, merasa malu tentu saja. "Aku tidak paham," Luhan mengangkat tubuhnya, membiarkan Sehun menarik celana pendeknya, melewati kaki jenjangnya.

Sehun memeluk pinggang Luhan, menarik punggung dan gadis itu dan mengunci pergerakan Luhan di antara pahanya. "Aku akan menjelaskannya padamu, kalau begitu,"

Selama satu menit, Sehun hanya memandangi tubuh Luhan yang penuh lebam. Kemudian ia menarik dagu Luhan agar mata gadis itu bertemu dengan matanya. Luhan tampak gugup dan Sehun memandangnya seolah-olah gadis itu adalah barang pecah belah yang rapuh. Ada rasa iba dalam pandangan Sehun.

Luhan tak mengerti.

"Sehun-ah," desis Luhan, menundukkan kembali kepalanya.

Sehun meraih pakaian dalam Luhan untuk melepaskannya, membuat tubuh Luhan benar-benar terbuka di depan matanya. Luhan setengah menggigil, bukan karena udara dingin, namun lebih karena kegugupannya.

Tangan Sehun membelai tubuh Luhan yang sepenuhnya terbuka, ia merasakan tubuh Luhan bergetar, mendengar Luhan menarik napas berat. Kelopak mata gadis itu menutup rapat, menikmati setiap sentuhan Sehun atas tubunya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun dan Luhan mengangguk ringan. Sehun menarik Luhan lebih dekat, mencium bibirnya, dan berbisik di dekat bibir istrinya. "Kuharap kau tidak menghentikanku,"

Luhan menjawab dengan gumaman, tangannya merambat naik menuju bahu Sehun, Luhan melengkungkan tubuhnya untuk menerima ciuman berikutnya. Merasakan bibir Sehun bermain di setiap jengkal tubuhnya. Merasakan bibir Sehun yang lembut, basah, dan hangat di tubunya membuatnya nyaris mengerang.

Menit berikutnya Sehun mundur dan mendorong Luhan perlahan ke atas ranjang yang kosong, melepas bajunya sendiri ketika Luhan masih terengah-engah. Kemudian Sehun bergabung dengan Luhan, langsung berpindah ke atas tubuh Luhan. Masih menindih tubuh istrinya, Sehun menangkup wajah Luhan dengan kedua tangannya dan mencium Luhan dalam –sambil menghujam ke dalam tubuh Luhan.

Sehun meluncur masuk ke dalam kenikmatan, kemudian berhenti sejenak dan mengangat kepalanya, menghentikan ciuman mereka untuk membuat Luhan bernapas. Luhan terengah-engah, mengambil udara banyak-banyak sementara Sehun bergerak-gerak dalam penyatuan mereka.

"Aku akan melindungimu, Luhan," bisik Sehun nyaris mendesis. Sehun masih menekan dalam-dalam kemudian menurunkan kepalanya lagi untuk mengecup leher dan dada Luhan. "Percalah padaku," dan Luhan menganguk, lalu menjerit tertahan karena rasa nikmat luar biasa.

Luhan tidak bisa menyangkal, secara insting ia melemaskan tubuhnya di bawah Sehun, Luhan melemas, dan melakukan apa yang Sehun inginkan, sepenuhnya menaruh kepercayaan pada suaminya, meskipun Luhan tidak tahu apa yang ingin dia percayai.

Yang Luhan percaya bahwa Sehun mencintainya.

Dan itu cukup baginya.

Erangan Sehun membuat Luhan sadar dari lamunannya, tubuh Sehun yang keras tenggelam dalam dirinya. Sehun mencondongkan tubuhnya untuk mencium Luhan lagi. Bibir Sehun membelai tengkuk Luhan, tangannya memanjakan kulit Luhan.

Membuatnya terbakar dalam gairah yang meluap-luap, siap meledak kapan saja.

Dan Luhan terengah-engah, mengerang, nyaris menjerit ketika Sehun membuatnya terhentak-hentak di bawah tubuh kokohnya. Ritme Sehun membuat Luhan gila, dan tanpa sadar gadis itu mengejang, mengerang, menjeritnya nama Sehun, meminta lebih.

Sehun terlalu tenang, membuat Luhan sedikit frustasi.

Sehun mendorong Luhan sedikit, membuat gadis itu merasakan setiap inci tubunya. Luhan mendongakkan kepalanya ke atas, matanya terpejam dan bibirnya terbuka lebar. Berusaha menarik napas dari sana, terengah-engah.

Luhan hampir kehabisan napas.

Luhan gemetar dan merasakan dada Sehun membusung, merasakan ketegangan Sehun semakin kuat, merasakan cengkeraman Sehun di pinggangnya mengunci tubuhnya bagaikan baja, dan merasakan belaian ibu jari Sehun di atas pinggulnya.

Sehun lembut dan keras secara bersamaan, membuat Luhan nyaris gila.

Luhan terdorong untuk melihat Sehun, membuka matanya untuk mengamati sekilas ekspresi wajah Sehun yang luar biasa menakjubkan. Pikiran Luhan kosong seketika. Ia menyadari satu hal, bahwa dia sudah memiliki apa yang dibutuhkannya.

Sehun, miliknya.

Dan itu cukup. Lebih dari cukup.

Dengan erangan lembut, Luhan memejamkan matanya erat-erat dan merasakan Sehun mempercepat gerakannya, merasakan bahwa Sehun akan segera membawanya melayang menuju kenikmatan terindah.

Dan ketika Luhan mencapainya, Sehun menahannya di sana selama beberapa saat, membuat Luhan terperangkap dalam kenikmatannya –kemudian bergabung dengannya.

.

.

Tengah malamnya Sehun terjaga, dalam keremangan kamar Luhan, Sehun berbaring miring untuk mengamati wajah istrinya yang sedang tidur seperti bayi. Wajah Luhan tampak kelelahan. Menit demi menit Sehun habiskan untuk mengamati wajah Luhan, kulit gading pucat yang dipenuhi lebam membuat Sehun sedikit sesak, tanpa alasan.

Luhan adalah seorang penyihir yang telah berhasil menyihirnya, membuatnya jatuh terperangkap dan tak akan bisa keluar lagi. Sehun rela berjalan melewati api demi Luhan, bahkan menjual jiwanya atau berbuat yang lebih jauh dan lebih gila lagi untuk Luhan.

Dan jika Luhan tidak memahami pengorbanannya, itu tidak penting, karena Sehun sendiri juga tidak mengerti.

Sehun tersenyum, menyentuh wajah Luhan untuk memebelainya.

Sehun menarik Luhan perlahan dalam pelukannya dan merasakan kehangatan tubuh telanjang Luhan meresap hingga tulangnya. Merasakan Luhan menghadap ke arahnya dan meringkuk dalam pelukannya.

Ketika tubunya melemas, Sehun terseret ke dalam mimpi, mimpi yang mengampiri pikirannya bahwa tidak akan ada pria seperti dirinya untuk Luhan. Sehun yakin dirinya cukup kuat untuk melindung istrinya, untuk melindungi penyihir yang mungkin akan mengantarkan Sehun menuju peti matinya sendiri.

Tapi Sehun tak peduli jika dia harus mati demi Luhan.

Katakan Sehun bodoh, tapi itu adalah kebodohan yang patut Sehun nikmati.

Sehun tidak ingin memikirkan alasan menagapa ia melakukan hal itu.

Rasanya seperti hal itu sudah ditetapkan, digariskan dengan baik, seolah-olah penyihir itu memang benar-benar memilih Sehun untuknya.

Untuk mengakhiri hidup Sehun atau hidup bersama Sehun.

Itu bukan keputusan yang bisa Sehun tentukan.

.

.

TBC

.

.

Hallo~ Author kembali. Author cepet nih updatenya, anggap saja sebagai permintaan maaf Author karena hiatus berbulan-bulan.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Author sangat berharap pembaca sekalian memberikan review, kritik, saran, dan semangat untuk Author /hihi/ /Author kehilangan semangaaaaaat/

Jadi Author tunggu di kolom review ya semuanyaaa~ silahkan cuap-cuap di kolom review, bahkan curhat pun gapapa.

Akhir kata, Author mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, maaf jika jalan ceritanya tidak memuaskan. Author akan berusaha lebih baik lagi.

Terima kasih dan sampai jumpa di chapter depan.