Paginya Sehun menggeliat malas ketika suara-suara berisik menyapu pendengarannya, ruangan Luhan sangat senyap hingga suara sedikit saja sudah terdengar jelas di telinganya. Sehun membuka matanya dengan malas, meraba tempat tidur sampingnya yang kosong. Setengah kaget, Sehun bangkit, berdiri dan berjalan dengan cepat keluar ruangan. Matanya mencari ke seluruh ruangan, hingga sebuah bayangan perempuan berdiri di balik konter dapur membuatnya bernapas lega.
Sehun tersenyum, merasa lega karena melihat Luhan di depan matanya.
Gadis itu masih seperti biasanya, kemeja putih panjang menutupi separuh pahanya, membuatnya tampak tak menggunakan celana, sedangkan rambut setengah keringnya tergerai melewati punggung.
Setelah segala yang mereka alami kemarin, Sehun benar-benar merasa bahwa Luhan akan meninggalkannya suatu saat nanti. Tapi Sehun tak tahu.
Luhan menoleh saat meletakkan piring berisi makanan di meja makan, kemudian mendapati Sehun yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya dan tersenyum lebar sambil memandanginya.
"Oh kau sudah bangun? Mandi dulu, Sehun-ah," Luhan tersenyum, cepat-cepat membalikkan tubuhnya menghadap toaster.
Sehun balas tersenyum singkat. "Oke," katanya singkat, dengan nada kelewat riang membuat Luhan mengangkat sebelah alis bingung.
Setelah Sehun mandi, Luhan sudah menunggunya di meja makan, sebelah tangannya mengusap-usap layar ponselnya dengan ekspresi serius, sama sekali tidak melihat ke arah Sehun.
"Senang melihatmu pagi ini," ucap Sehun, menarik kursi di hadapan Luhan dan bersiap-siap untuk makan.
Luhan mendongak, menatap Sehun sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya. "Kau aneh, Sehun-ah. Kurasa aku akan hafal kebiasaan anehmu,"
Sehun mencibir. "Jadi setelah hari yang panjang kemarin, kau memberiku makan ini?"
Luhan tertawa, kemudian meletakkan ponselnya. "Aku hampir tidak kemari selama tiga minggu. Hanya telur dan makanan beku yang aku punya,"
"Well, setidaknya aku harus makan," ucapnya riang, mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Sehun melirik Luhan sekilas, gadis itu sedang fokus dengan ponselnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Sehun akhirnya, terlalu penasaran untuk tetap diam.
Luhan menunjukkan layar ponselnya, Sehun mengamatinya sekilas, tapi tidak mengerti dengan peta yang tergambar di sana.
"Aku tak mengerti," ucapnya, kembali menyendokkan makanannya.
Luhan mendesah ringan, mengusap layar ponselnya beberapa kali, lalu meletakkannya. "Aku melacak orang yang menghancurkan apartemenmu," ucapnya ringan, mulai mengambil sendok untuk makan.
"Kau menemukannya?"
Luhan mengangkat bahu. "Sejauh ini mereka sudah meninggalkan kota. Apa perlu aku mengejarnya?"
Sehun menggeleng cepat-cepat, nyaris tersedak makanannya. "Tidak. Tidak. Aku bisa menjual apartemenku, tidak perlu mengejar pelakunya,"
Luhan terkikik. "Sehun-ah, kau akan terus berusaha menghindari bahaya ya?"
"Secara naluriah, tentu saja. Bukankah itu sifat semua manusia ya?" Sehun menyelesaikan sarapannya, melirik Luhan sekilas dan Luhan memandanginya dengan kepala miring.
Kemudian Luhan mengangkat bahu acuh, memilih menolak menjawab pertanyaan Sehun dan lanjut makan dengan tenang.
"Kau masih tak ingin punya bayi?" pertanyaan Sehun yang tiba-tiba membuat Luhan tersedak, terbatuk-batuk tanpa henti. Sehun meringis, menggumamkan kata maaf.
Luhan menudingnya dengan garpu. "Berhentilah mengejutkanku saat makan," ucapnya susah payah karena batuknya belum berhenti.
"Aku serius, Luhan-ah," ucap Sehun lembut, Luhan memandangi Sehun sekilas, mencari-cari sesuatu dalam mata Sehun, mencoba mencari kebohongan dalam mata pria itu tapi Luhan tidak menemukan apapun.
Sehun sedang bersungguh-sungguh.
"Kau menginginkannya?" tanya Luhan.
Sehun menganggu yakin. "Tentu saja. Bukankah aku sudah sering mengatakannya padamu? Aku serius,"
"Ini rumit, Sehun-ah," ucap Luhan sendu, menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Sehun.
"Kenapa? Kris bilang dia akan memberimu cuti secara penuh jika kau hamil,"
Luhan mendesah ringan. "Kris mengatakannya karena dia tahu itu tak akan pernah terjadi," ucapnya dengan suara pelan.
Sehun menatap Luhan lekat-lekat, menarik dagu Luhan ke atas agar gadis itu menatap matanya. "Kenapa?" tanyanya lagi, bertanya dengan nada serius. Luhan sedikit gugup dengan itu.
"Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Bagaimanapun juga aku seorang wanita," Luhan berhenti sebentar untuk mengambil napas. "Tidak ada seorangpun wanita yang ingin anak mereka lahir dari rahim seorang pembunuh. Termasuk aku,"
Sehun sedikit kaget. "Luahn-ah, tapi kau–,"
"Tidak peduli siapa yang benar dan salah," potong Luhan. "Membunuh tetap membunuh. Menghilangkan nyawa seseorang,"
Sehun berpikir sejenak. "Jadi kau tidak akan punya bayi sampai kapanpun?"
Luhan tersenyum. "Tentu saja tidak, aku pasti akan punya bayi. Bukankah itu takdir setiap wanita? Tapi nanti Sehun-ah, jika waktu sudah tepat dan aku sudah siap. Lagipula aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu," Luhan tersenyum lagi, kemudian melanjutkan sarapannya.
Sehun balas tersenyum dan mengangguk beberapa kali. Keputusan Luhan tidak bisa dibantahnya, bagaimanapun Sehun harus menghargai itu.
"Ah," ucap Sehun tiba-tiba, membuat Luhan menoleh ke arahnya dengan cepat, berhenti mengunyah, takut pertanyaan Sehun akan membuatnya tersedak lagi. "Tentang mobilmu," Luhan tertawa, membuat Sehun berhenti bicara. "Kenapa?" tanyanya bingung.
Luhan masih mengendalikan tawanya. "Bukan begitu. Kupikir kau kaya raya, Sehun-ah, demi Tuhan kau punya perusahaan besar hingga aku harus menikahimu dan aku tak tahu kau akan seterkejut itu," lagi-lagi Luhan terkikik.
Sehun merengut. "Tetap saja, itu keterlaluan," bisik Sehun.
"Kau bahkan punya mobil yang lebih mahal dari itu," ucap Luhan acuh sambil berusaha menghabiskan sarapannya. "Lalu kenapa kau masih heran?" tambahnya.
Sehun mendesah napas pelan, menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap Luhan pandangan kesal.
"Aku tidak pernah tahu istriku menyimpan banyak Mercedes S- Class Guard edisi terbatas," ucap Sehun kesal. "Dan demi Tuhan, aku tidak tahu kau punya banyak warna yang berbeda-beda sedangkan beberapa orang harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan mobil tipe itu. Parahnya lagi, kau membiarkannya tergeletak di tempat sampah,"
Luhan lagi-lagi terkekeh. "Mengapa kau tidak beli? 200 ribu Euro bukan uang yang banyak Sehun-ah,"
"Kau pikir aku butuh mobil anti peluru?" balas Sehun kesal.
Luhan berpikir sejenak. "Mulai sekarang mungkin kau butuh. Kau mau satu? Aku bisa memberikan warna kesukaanmu." tanya Luhan, mengangkat sebelah alisnya untuk menggoda Sehun.
Sehun mendecih. "Aku pria yang punya harga diri, kau tau,"
Lagi-lagi Luhan tertawa, dia lupa kapan terakhir tertawa lepas bersama Sehun seperti ini. Luhan pikir seluruh dunianya berpusat pada Sehun, dan dengan Sehun berada di sampingnya, Luhan tidak membutuhkan apapun, termasuk hanya memikirkan hari esok.
.
.
Siangnya Luhan dan Sehun menuju kantor untuk menemui Kris. Tadi pagi Kris menghubunginya, mengatakan bahwa tugasnya selesai dan tidak ada satu orang pun yang mengikuti Luhan sekarang, meskipun Luhan tidak terlalu yakin dengan ittu. Kris juga bilang apartemen Sehun sudah 'dibersihkan' dari segala tuduhan.
Tapi lagi-lagi Luhan tidak begitu yakin dengan hal itu.
Luhan dan Sehun berjalan beriringan, keluar dari taxi yang mengantarkan mereka –karena akan mencolok jika mengendarai mobil Luhan di siang hari- menuju kantor. Luhan berjalan dan Sehun membuntuti di belakangnya.
Luhan tersenyum sekilas pada gadis yang dulu setiap pagi memberinya kopi hangat padanya.
"Lama tidak bertemu, Nona Lu," ucap gadis itu, menyerahkan satu cup kopi pada Luhan, melirik Sehun sekilas dan tersenyum tipis.
Luhan tersenyum. "Senang melihatmu lagi," ucapnya ringan, dan Luhan sungguh-sungguh mengatakannya. Karena jujur saja, Luhan senang dirinya masih bernapas hari ini.
"Semoga harimu menyenangkan," ucapnya dengan riang, membuat Luhan sedikit iri dengan 'kehidupan normal' gadis itu.
Luhan dan Sehun sampai pada lantai atas, membuat pekikan Zitao terdengar di telinganya saat pintu lift terbuka. Zitao menerjang Luhan dan memeluknya sangat kuat, hingga Luhan meremas jaket Sehun di sebelahnya.
"Aku bersyukur kau masih hidup," ucap Zitao, nyaris berteriak di telinga Luhan.
Luhan mencari napas. "Dan sekarang kau akan membunuhku," ucapnya susah payah.
Zitao melepaskan pelukannya, kemudian meringis. "Maaf," ucapnya dan Luhan memeluknya sekilas. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, menunjuk dahi Luhan yang terbalut plester.
Luhan tersenyum sekilas dan berjalan melewati Zitao, menerima pelukan-pelukan selanjutnya dari Kyungsoo dan Baekhyun. Sedangkan Sehun mendapatkan pujian-pujian dari pria-pria yang menurut Luhan aneh. Luhan mengamati meja kerjanya sekilas, mejanya kosong.
"Tunggu dulu," ucap Luhan, menghentikan Chanyeol yang akan memeluknya. "Kemana barang-barangku?" Luhan menuding tempat kerjanya, kemudian menatap Kris, membuat semua orang mengikuti pandangan gadis itu.
Kris memandang Sehun bingung, dan Sehun mengangkat bahu sekilas, acuh. "Kau belum memberitahunya?" tanya Kris pada Sehun, membuat Luhan menatap keduanya bingung.
Sehun menggeleng dan berjalan mengitari ruangan untuk duduk di sofa, memilih menghindari pertanyaan Kris.
"Ada apa Kris?" desak Luhan.
Kris mendesah ringan, setengah malas. "Ada yang ingin menjelaskan?" tanya Kris kepada semua orang, membuat Luhan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
"Kau bilang kau ingin cuti?" tanya Chanyeol.
Jongin bertepuk tangan. "Selamat. Permohonanmu dikabulkan," ucapnya.
"Aku tak mengerti," balas Luhan, menatap Jongin dan Chanyeol bergantian.
Zitao mendesah ringan, kemudian menepuk bahu Luhan pelan. "Saat kau pulang ke Beijing, Sehun dan Kris membuat kesepakatan. Kupikir kau sudah tahu itu,"
Luhan menggeleng ringan, memejamkan mata dengan kesal. "Kau tahu bukan cuti ini yang kumaksud," Luhan menatap Kris, tapi pria itu malah pergi untuk duduk di samping Sehun.
"Ini cutimu. Kebijakan cuti yang Kris buat bersama Sehun," tambah Baekhyun.
Luhan menggeleng tak percaya. "Oke. Jadi apa peraturannya?"
"Kau tidak akan bekerja selama satu bulan," ucap Kyungsoo.
Luhan hendak protes tapi Yixing memotongnya. "Kau juga tidak perlu ke kantor untuk bekerja. Aku akan memberikan data-data yang harus kau kerjakan. Dan kau harus mengerjakannya di rumah," Yixing tersenyum, membuat Luhan ingin menangis kesal.
"Jadi kau akan mengurungku di rumah seharian, selamanya?" ucap Luhan, menatap Sehun dengan tatapan menusuk.
Sehun mengangkat bahu acuh.
"Apa aku tidak akan turun Kris? Kau tau aku bukan tipe penggila komputer," Luhan setengah frustasi.
"Tentu kau akan bekerja. Kau pikir kau dibayar untuk apa," protes Jongin.
"Kau mungkin akan melakukan pekerjaan yang sedikit lebih ringan. Kau tahu, tugas khusus," tambah Chanyeol, berjalan mendekati Sehun dan Kris untuk melakukan highfive, membuat Luhan mengerang kesal.
"Lalu bagaimana tugasku? Aku belum menyelesaikan kasus pembunuhan kakak Sehun," Luhan bersikeras.
Kris menggeleng. "Tim lain akan menangani itu, kau tak perlu khawatir," ucap Kris ringan.
"Tunggu dulu," potong Chanyeol. "Tim lain?" ulangnya bingung.
"Tim lain?" ulang Jongin. "Kau akan menurunkanku ke lapangan lagi?"
Lagi-lagi Kris menggeleng. "Tentu tidak, kau belum pulih untuk itu," Kris terlalu santai membuat Luhan nyaris menyerangnya.
"Bicara yang jelas, Kris," bentak Luhan, sangat kesal.
Kris menegakkan tubuhnya. "Tim ini akan sedikit berubah. Jongin akan digantikan dengan Jongdae," Jongdae mengalihkan pandangannya dari ponsel dengan cepat.
"Aku?" tanyanya Jongdae bingung.
Kris mengangguk. "Dan Luhan akan digantikan oleh Baekhyun,"
"Kenapa?" teriak Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.
Kris meringis.
"Kenapa kau tidak membiarkan Suho bergabung dengan tim?" tanya Luhan, melirik Suho yang sedang tertidur di sofa.
"Aku setuju," tambah Chanyeol.
Kris tertawa, mengejek. "Bagus sekali membiarkan Suho berpakaian seksi untuk menggoda pria-pria. Wah luar biasa," ucapnya.
"Oke," potong Baekhyun. "Sudah lama aku tidak melakukan ini, tapi sekarang aku benar-benar tidak siap untuk turun ke lapangan. Dan kau tahu Kris, aku bahkan tidak pernah bekerja dengan tim Luhan selama ini,"
Luhan mengangguk setuju. "Baekhyun benar. Tim ini bukan seperti yang sering Baekhyun hadapi. Mungkin Baekhyun sering bekerja sama dengan Jongdae dan Suho tapi Chanyeol? Aku seratus persen yakin Chanyeol tidak akan membiarkan Baekhyun menginjak tanah saat tugas,"
"Itu mungkin saja terjadi," ucap Chanyeol gamang.
"Lalu kau ingin aku membiarkan Kyungsoo dan Yixing bekerja di lapangan? Membuat kalian bekerja tanpa pengawasan?" tanya Kris.
Semua orang diam. Kris benar. Tapi membiarkan Baekhyun kembali turun ke lapangan dan menghadapi kasus berat bukan hal bisa dianggap enteng. Catatan kerja Baekhyun tidak terlalu baik meskipun jauh di atas Kyungsoo dan Yixing –secara fisik dan tenaga- tapi Baekhyun lemah pada teknik.
Baekhyun pernah melakukan kesalahan fatal hingga nyaris merenggut nyawanya sendiri. Membuat semua orang nyaris gila karena tiba-tiba memutuskan sinyal saat keadaan darurat. Luhan akui, gadis itu hanya cerdas. Tapi secara fisik, dia kurang.
"Oke," ucap Baekhyun, membuat Luhan tersadar dari lamunannya, dan membuat semua orang menoleh ke arahnya. "Aku setuju. Aku akan menemui Xiumin. Kuharap kau akan menunda kasusnya hingga aku siap,"
"Baekhyun," ucap Chanyeol dan Luhan bersamaan, sama-sama memasang tatapan 'apa kau gila'.
Baekhyun hanya tersenyum. "Xiumin tak akan membunuhku kan?" tanya Baekhyun setengah tertawa, ada sedikit keraguan di mata gadis itu.
Kris menepuk tangannya sekali. "Baik. Apa ada yang keberatan?" Chanyeol hendak bersuara dan Luhan mengangkat sebelah tangan. "Kecuali Chanyeol dan Luhan?" potong Kris, Chanyeol mengerang sedangkan semua orang diam. "Oke. Ini clear," Kris berdiri. "Sekarang kembali bekerja, karena ada bajingan yang harus kita kejar," Kris tersneyum ringan, dibalas dengusan kesal semua orang.
Luhan menepuk punggung Chanyeol beberapa kali, Chanyeol tampak frustasi. "Baekhyun akan baik-baik saja," bisiknya.
"Kuharap begitu," balas Chanyeol singkat.
Luhan merengkuh Baekhyun dalam pelukannya, menepuk punggung gadis itu berkali-kali dengan lembut. "Kau akan baik-baik saja kan?"
"Tentu," balas Baekhyun, tersenyum manis.
Luhan menangkup kedua pipi Baekhyun. "Kau bisa menghubungiku kapan saja,"
"Tentu, Luhan, kau tidak perlu sekhawatir itu," dengus Baekhyun, melepaskan diri dari Luhan.
Luhan mendesah ringan. "Aku tidak akan khawatir jika tak mengenalmu dengan baik. Aku sangat mengenalmu Baekhyun-ah,"
Baekhyun terkekeh ringan. "Nikmati liburanmu, kurasa kau sudah terlalu bekerja keras selama ini," Luhan mengangguk setuju.
"Kris," panggi Luhan, membuat Kris mendongak untuk menatapnya. Kris menggumamkan kata 'apa'. "Kurasa aku tidak membutuhkan ini," Luhan menyerahkan liontinnya.
Kris memandangi Luhan sejenak, kemudian memandangi Sehun yang sedang menatapnya. "Kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan jika kau butuh bantuan,"
Luhan mendesah kesal. "Aku yang butuh bantuan atau kau yang masih membutuhkanku?" Luhan kembali memasang liontinnya.
Kris hanya mengangkat bahu. "Nikmati liburanmu," ucapnya ringan.
Luhan memukul lengan pria itu sekilas. "Tanpa kau suruh, aku juga akan melakukannya," bisik Luhan. "Terima kasih," Luhan menekan kata-kata itu, menyindir.
.
.
Setelah sesi berpamitan yang panjang dengan semua orang, akhirnya Luhan dan Sehun dapat menghirup udara segar. Sehun sangat lega karena pekerajaan Luhan selesai untuk sementara waktu, setidaknya keputusan Kris yang berada di pihaknya membuat Sehun puas.
Luhan membawa mobilnya yang berada di kantor, sedangkan Sehun mengemudi dengan senyum mengembang.
"Kau sebahagia itu ya?" tanya Luhan.
Sehun mengangkat bahu. "Bisa dibilang begitu. Aku sudah menungggu hari ini,"
Luhan mendecih ringan. "Apa rencanamu? Kau akan menjadi pengangguran selama lebih dari tiga hari lagi,"
"Aku bisa cuti lagi kalau kau mau," Sehun meraih tangan Luhan untuk mengecupnya beberapa kali.
Luhan mendengus. "Jangan merayuku. Katakan saja apa rencanamu,"
Sehun berpikir sejenak. "Kau tau sejak kita menikah kita belum melakukan perjalanan honeymoon,"
"Oh hentikan, itu membuatku geli," potong Luhan, menarik tangannya dari Sehun dan bergidik ngeri. "Membayangkannya saja membuatku mual,"
"Kau tidak suka menghabiskan waktu berdua denganku?" tanya Sehun kesal.
"Bukan begitu. Kau tahu kan, aku benci hal-hal seperti itu. Makan malam romatis, buket bunga, atau menikmati suasana pantai di malam hari. Aku benci itu, terlalu terbuka," dengus Luhan, kembali meraih tangan Sehun.
Sehun mengangguk setuju. "Oke. Aku tidak akan melakukannya kalau begitu," Sehun mengecup tangan Luhan lagi, membuat Luhan tersenyum tanpa sebab.
"Jadi kita kemana sekarang?" tanya Luhan.
"Kau akan tahu nanti," balas Sehun acuh.
Sehun membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang menurut Luhan terlewat besar di tengah kota. Membuat Luhan nyaris membelalak saat Sehun memasukkan mobilnya ke dalam garasi tanpa ijin.
"Ini rumah siapa?" tanya Luhan, bingung, tentu saja.
Sehun tidak menjawab, pria itu turun untuk mengambil barangnya dari bagasi. Sedangkan Luhan masih mengamati rumah yang menurutnya luar biasa. Luhan tidak berhenti menggumamkan kata 'wah' saat Sehun membimbingnya masuk.
Rumah itu besar, dengan taman dan halaman lebar di bagian depan. Sebuah ayunan terletak di sana, menarik perhatian Luhan. Entah mengapa, Luhan senang sekali dengan ayunan diusianya yang tak lagi muda.
"Selamat datang di rumahmu," ucap Sehun, membukakan pintu untuk Luhan dan menyalakan lampu.
Luhan mengangkat alis bingung. "Rumahku?"
Sehun mengangguk, kemudian mengangkat Luhan dan menidurkan gadis itu di sofa. "Ini rumah yang kuberikan untukmu," ucap Sehun.
Luhan mendudukkan tubuhnya. "Tunggu dulu,"
"Apartemenku hancur dan aku tidak ingin menumpang di tempatmu," Sehun berhenti sejenak. "Jadi kita akan tinggal disini,"
"Tunggu dulu," ucap Luhan lagi. "Kau tidak pernah bilang memiliki rumah ini,"
Sehun mengangguk ringan. "Ini memang bukan rumahku. Rumah ini atas namamu. Luhan,"
Luhan semakin bingung. "Jadi ini–,"
"Hadiah pernikahan," potongnya sambil tersenyum.
Luhan menutup mulutnya dengan tangan, dia terkejut, tentu saja. Tersentuh.
"Sebenarnya aku punya mimpi," Sehun berhenti sejenak untuk terkekeh ringan. "Aku malu mengatakannya,"
"Aku penasaran," Luhan mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun.
Lagi-lagi Sehun terkekeh. "Aku ingin memberikan rumah impianku yang kubangun sesuai keinginanku kepada orang yang kucintai nanti setelah menikah. Dan aku tidak tahu tentang perjodohan ini, dan rumah ini sudah terlanjur berdiri,"
Luhan menggumam. "Lalu?"
"Setelah menikah denganmu, kupikir aku akan menjual rumah ini. Tapi entah mengapa aku tidak bisa melakukannya. Hingga beberapa hari yang lalu, aku mengubah kepemilikannya,"
Luhan memiringkan kepalanya, berusaha mencerna perkataan Sehun. "Terima kasih banyak. Sungguh," hanya itu yang bisa di katakan Luhan. "Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Karena kau orang yang kucintai, Luhan-ah,"
Luhan terkekeh ringan. "Kau tidak akan menyesal meskipun aku menjual rumah ini dan lari darimu?"
Sehun tertawa. "Aku yakin kau tidak akan melakukan itu,"
"Kenapa kau begitu yakin?"
Sehun bangkit untuk mendekati Luhan, membuat gadis itu sedikit menghindar sebelum bibir Sehun menyentuh bibirnya.
"Aku akan jujur padamu," ucap Sehun serius tepat dihadapannya, membuat Luhan mengangguk kaku. "Saat pertama aku menciummu di altar, hatiku berdetak lebih cepat, tanpa kusadari dan kutahu kenapa. Aku gugup hanya karena berciuman denganmu," Sehun mengecup bibir Luhan sekilas.
"Kau tampak angkuh saat itu," Luhan mengingat-ingat.
Lagi-lagi Sehun tertawa. "Aku hanya menutupi kegugupanku," Sehun meringis malu. "Saat pertama kali memelukmu di balkon malam itu, aku yakin kau adalah wanita yang tepat Luhan. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan melepaskanmu. Apapun yang terjadi,"
Luhan menelan ludah gugup. "Begitukah?" tanya Luhan.
Sehun hanya menjawab dengan gumaman, jemarinya membelai pipi Luhan yang dingin. "Sepertinya terlalu dingin di sini," ucap Sehun sambil tersenyum jahil, Luhan hendak menjawab tapi Sehun sudah mengakat tubunya menaiki tangga dan menghempaskan tubuhnya dengan lembut ke ranjang.
Ruangan itu terlalu sunyi, hanya ada suara desah napas Sehun yang sedikit memburu tanpa Luhan tahu sebabnya. Luhan menatap mata Sehun yang sedang mengungkung tubuhnya, kemudian pria itu berdiri untuk menyalakan lampu.
Luhan menganga ketika ruangan itu menjadi terang benderang.
Mata Luhan mengerjab, lebar dan takjub, memandang Sehun dan ornament-ornament di kamar itu bergantian. Luhan membuka bibirnya, tapi Sehun memotongnya. "Kau suka?"
"Sangat," balas Luhan cepat tanpa berpikir.
Puas dengan jawab Luhan, Sehun menyandarkan tubuhnya di samping Luhan dan memejamkan mata. Luhan memandang wajah Sehun yang terpejam, jemarinya menyentuh wajah Sehun, membuat pria itu tersenyum.
"Mengagumi ketampananku?" tanyanya, mengecup mata Luhan sekilas.
Luhan terkekeh. "Kau memang selalu setampan ini ya?"
Sehun membuka matanya, kemudian mendorong Luhan perlahan, menyelipkan sebelah lengannya di sekeliling tubuh Luhan dan mengangkat gadis itu dengan lembut ke pangkuannya. Membuat Luhan bergetar tanpa sebab.
Sehun hendak mencium Luhan, tapi Luhan menghentikannya, tangan mungilnya menahan dada Sehun. "Tunggu dulu," sambil terengah-engah Luhan mengamati mata Sehun. "Kau benar-benar mencintaiku?"
Sehun tersenyum, ia sudah memilih Luhan menjadi pendamping hidupnya saat menyentuh tubuh Luhan untuk pertama kalinya, Sehun yakin bahwa Luhan bukan orang yang salah. Pilihannya tepat. Mengabaikan tangan Luhan yang menahannya, Sehun mendorong tubuhnya untuk melumat bibir Luhan.
"Aku benar-benar mencintaimu," Luhan mengerang saat Sehun menciumnya lagi, dengan panas, sangat menuntut. "Kau milikku," bisiknya, suara Sehun terdengar berat.
Napas keduanya berbaur, keduanya saling bertatapan sebelum akhirnya kembali terhanyut dalam sebuah ciuman panjang yang memabukkan. Luhan menarik napas untuk melepaskan bibirnya dari Sehun –terengah-engah karena gairah.
Mata Luhan berkedip, menatap mata coklat Sehun, dan udara disekitar mereka terasa sesak. Panas oleh gairah.
Luhan menarik napas pendek dan cepat, disaat yang sama. Sehun mempererat pelukannya, kemudian mencium Luhan lagi.
Dan Luhan balas mencium. Dengan kelembutan yang dapat menghancurkan kesabaran, dengan kepolosan –seolah-olah itu adalah untuk yang pertama kali. Sehun menyadari itu dan mengerang, mengekang gairahnya yang memburu, sangat menuntut.
Sedikit demi sedikit Sehun mencium lebih dalam, membiarkan Luhan tenggelam dalam belaian, dalam kehangatan, dalam samudera kebahagiaan. Membiarkan bara api mereka perlahan bersinar lebih terang dan berubah menjadi nyala api, dengan sentuhan yang memabukkan, Sehun memperbesar api itu sampai menyala berkobar-kobar.
Luhan mengikuti permainan Sehun dengan terbuka, tanpa tipu daya. Seperti biasa, ia memberikan semua yang Sehun minta, menerima setiap keintiman yang Sehun tawarkan, menyerahkan setiap jengkal tubuhnya pada Sehun. Sehun menikmati gadis itu sepenuhnya, gadisnya, kemudian menggoda hingga Luhan memiliki tuntutan sendiri, sampai Luhan membalas desakan yang lembut dan pelan dari bibir mungilnya dengan sentuhan yang sama mendesaknya.
Permainan mereka semakin berapi-api dan penuh rasa ingin tahu, seolah-olah bersatunya mereka untuk pertama kali sebagai pasangan suami-istri entah mengapa terasa berbeda. Sehun merasakan itu dalam diri Luhan, dalam ketegangan yang menyelimuti sosoknya yang ramping, dalam ketegangan napasnya. Luhan penuh kewaspadaan, penuh kesadaran, penuh pengharapan.
Dengan lembut, Sehun mengangkat Luhan, membenarkan posisi Luhan di atas pangkuannya agar gadis itu duduk mengangkang di depannya, dengan lutut di sisi pinggulnya. Terkunci dalam ciuman mereka, Luhan mengangkat tangannya ke atas, melewati bahu Sehun, kemudian jemarinya menyelinap ke rambut Sehun dan memiringkan bibirnya di bawah bibir Sehun,
Ketika Luhan menggeliat tidak sabar di atas pahanya, Sehun mengulurkan tangannya ke bawah, menemukan ujung kaos Luhan dan tangannya meluncur di balik kaos putih itu untuk menariknya ke atas, membebaskan tubuh indah Luhan dari kungkungan pakaian.
Sehun tahu Luhan luar biasa panas, gadis itu hendak menghentikan ciuman mereka, tapi Sehun tak memberikannya kesempatan. Sehun menggerakkan jemarinya ke seluruh tubuh Luhan yang telanjang. Luhan meleleh di bawah sentuhan Sehun; saat Sehun mendorongnya lebih dalam , membelai dengan sangat lembut, Luhan mengerang, terdengar sangat frustasi.
Luhan sangat bergairah dan sangat siap.
Sehun harus menghentikan ciuman mereka untuk mengurusi pakaiannya, dengan cepat membuka kancing-kancing kemejanya, membuat Luhan nyaris membelalak melihat tubuh Sehun –seperti pada saat pertama melihat tubuh pria itu.
Sehun menyeringai. "Menikmatinya?" tanya Sehun, berusaha meloloskan celana jeansnya.
Luhan menggeleng ringan, kemudian tertawa malu. "Selalu menikmatimu," bisiknya.
Sehun menyentuh ujung hidung Luhan, merengkuh bahu gadis itu untuk menariknya mendekat, lalu perlahan masuk ke dalam kelembutannya. Ketika Luhan memahami keinginan Sehun, ia membuka tubuhnya, meluncurkan lututnya di sepanjang ranjang, menenggelamkan tubuhnya, sepernuhnya menyerahkan tubuhnya di atas tubuh Sehun.
Sehun mengamati wajah Luhan yang memancarkan kelegaan teramat sangat. Sedikit merasakan bahwa Luhan bersyukur, sama bersyukurnya dengan Sehun.
Sehun melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Luhan, satu lengan di bawah pinggul Luhan, ia mencium Luhan dengan ciuman yang mendamba, lembut dan panas secara bersamaan, kemudian menggerak-gerakkan tubuh Luhan.
Luhan mengerjapkan mata, tapi menurut. Gerakan-gerakan alami itu terjadi tanpa perlu terpikir dari benak keduanya, hanya ada kenikmatan dari kedua tubuh yang menyatu dengan intim, lagi dan lagi, dalam sebuah petualangan baru yang luar biasa.
Dipeluk erat, dekat, Luhan bergetar –karena kenikmatan yang sebenarnya, dengan kebahagiaan yang tajam dan penuh. Dengan perasaan yang terbentang –liar dan tidak biasa- dalam jiwa keduanya. Matanya terpejam, merasakan Sehun hanya dengan sentuhan pria itu.
Dengan indra-indra yang semakin kuat, Luhan bergabung dalam kekuatan yang melekat dalam penyatuan mereka yang luar biasa, dalam energi yang terus mengembang dalam tubuh mereka, pada pusat tubuh Luhan.
Keyakinan melekat dalam pikiran Luhan, dalam jiwanya, Sehun miliknya, dan hanya miliknya. Luhan menarik bibirnya dari bibir Sehun, membiarkan bibir pria itu menjelajah bagian tubuhnya yang telanjang. Sambil merebahkan kepalanya yang terasa berat di bahu Sehun, dahinya berada di rahang Sehun. Luhan bernapas dengan cepat, dengan kasar, terengah-engah.
Tubuhnya terus bergerak di luar perintahnya, dikendalikan oleh kebutuhan yang tidak perlu ia sembunyikan lagi. Ia tidak tahu bagaimana cara menyembunyikannya.
Terperangkap dalam momen itu, Luhan memeluk Sehun sangat erat, merasa sadar atas kekuatan laksana baja yang Sehun miliki. Sehun miliknya, hanya miliknya, dan Luhan cukup egois untuk memikirkan hal lain.
Hasrat memuncak, kemudian membanjiri Luhan, ia mendengar bibirnya sendiri mengeluarkan sebuah suara erangan, menyelipkan nama Sehun di sana. Sehun tersenyum, kemudian bergeser untuk mencium Luhan lagi, kembali mengencangkan pelukannya dan mendorong Luhan untuk terus.
Luhan menarik napas putus asa, dan menarik Sehun masik ke dalam tubuhnya, ke dalam jiwanya.
Ke dalam hatinya.
Luhan jatuh, benar-benar kalah oleh pesona Oh Sehun, pesona yang dari awal sudah membuatnya gila. Membuatnya melewati kegelapan yang membara karena gairah, bersinar karena nafsu, panas karena tubuh mereka yang saling mendamba.
Sampai pada titik teratas, ujung kenikmatan yang mengembang dan menggenang, kemudian menghantamnya, menyiram tubuh dan pikirannya dengan kenikmatan, dengan pelepasan yang rentan dan indah, bersinar di bawah tubuhnya yang basah.
Dengan mata terpejam, jemari mungilnya mencengkeram bahu Sehun, Luhan menahan teriakannya di depan dada Sehun yang hangat. Ia menempel erat, dengan kebahagiaan tertahan, pada puncak itu untuk waktu yang lama, kemudian terlepas.
Dan mengambang, dalam kedamaian.
Sehun mendekatkan tubuh Luhan ke tubuhnya yang basah, mendaratkan sebuah ciuman hangat ke dahi Luhan yang berkeringat. Sehun tersenyum, menyeka keringat di wajah Luhan yang pias. Luhan terengah-engah, tersenyum ringan pada Sehun, wajah indahnya memancarkan kebahagiaan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapapun.
Sehun nyaris menciumnya lagi, sebelum ia sadar gadisnya butuh udara.
Luhan tersenyum, mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuh dahi Sehun yang berkeringat. Kemudian jemarinya meluncur menyentuh bibir Sehun, Sehun memjamkan mata. Luhan mengecup bibir Sehun sekilas, merasakan kehangatan yang ada di sana.
"Luhan-ah," panggil Sehun, nyaris berbisik.
"Ya?"
Sehun membuka matanya, menatap mata Luhan yang berkilau. "Terima kasih,"
Luhan memiringkan kepalanya dan tersenyum canggung. "Untuk?"
"Hadir di hidupku," balas Sehun singkat dan mencium Luhan lagi, menghilangkan kesempatan bagi Luhan untuk terkejut. "Aku mencintaimu," gumamnya. Luhan tersenyum dalam ciuman Sehun, dia tak perlu membalas pernyataan Sehun untuknya.
Luhan rasa dirinya wanita paling beruntung sedunia. Ia pernah merasa dirinya bukan wanita baik-baik, wanita yang rela bekerja kasar demi uang –anggaplah begitu. Wanita yang berpindah dari pelukan pria datu ke pria lainnya. Luhan adalah wanita kejam, dan ia sendiri menyadari hal itu.
Luhan beruntung ia mendapatkan pria yang luar biasa, yang mencintainya, menerima seluruh hidupnya, masalalunya. Luhan rasa Tuhan terlalu menyayanginya karena memberikan Sehun untuknya, membiarkan pria sempurna mengisi kehidupan seorang wanita kejam.
Luhan sangat bersyukur karena memiliki Sehun.
Karena itu Sehun.
Dan Sehun adalah pria yang tepat.
.
Satu bulan kemudian.
.
Luhan memeriksa berkas-berkas yang Sehun berikan padanya, sedikit mengerang saat merasa lelah dengan pekerjaan yang tak ia pahami, sebenarnya. Ya, Luhan bekerja pada Sehun sekarang. Menjadi sekertaris seorang Oh Sehun bukan pekerjaan mudah, dan Luhan –yang tidak pernah mendapat pengalaman tentang hal ini- harus menjalaninya dengan terpaksa.
Luhan menarik pandangannya dari layar komputer untuk menatap jendela di luar kantor Sehun. Matahari sudah kembali turun, membuat langit kembali berwarna gelap. Luhan menyesap kopi malamnya yang mulai dingin, membiarkan otaknya sedikit istirahat dari kepenatannya mengurusi jadwal Sehun yang luar biasa padat.
Orang-orang disekelilingnya masih sibuk bekerja, suara jemari yang beradu dengan keyboard memenuhi telinganya yang kelewat sensitif
Luhan mendesah ringan, menyentuh liontin yang menggantung di lehernya, ia merindukan pekerjaan lamanya.
Pagi tadi Yixing menghubunginya, menanyakan tentang pekerjaan yang Kris berikan. Dan Luhan menyelesaikannya hanya setengah hari, melacak seseorang di zaman modern bukan hal sulit bagi Luhan. Pekerjaan yang Kris berikan padanya, Luhan rasa hanya syarat agar dirinya tetap bekerja.
Teleponnya berdering.
Luhan berdeham sedikit sebelum mengangkatnya.
"Oh Corporation, ada yang bisa dibantu?" ucap Luhan dengan suara lembut.
"Pelabuhan jam 8," suara yang Luhan kenal, Luhan mendongak untuk menatap Sehun melalui pintu kaca ruangan Sehun, pria itu sedang mengangkat teleponnya –sama seperti yang Luhan lakukan. Sehun menatap Luhan, tanpa ekspresi. "Ada barang yang harus dikawal," tambah suara itu.
Luhan masih menatap Sehun dan perlahan pria itu mengangguk. Luhan menyadari arti sebuah anggukan singkat yang Sehun berikan dan berusaha menahan senyum. Gadis itu menekan liontinnya, memberikan tanda bahwa ia siap dan menutup telepon.
Setelah telepon di tutup, Luhan mendorong kursinya untuk mengambil earchip yang disimpannya di balik laci meja kerjanya, saat ia melirik Sehun, pria itu sedang melepas jas kerjanya dan membuka brankas kecil dengan cepat untuk memasang mengambil earchip dari sana.
Luhan tersenyum.
Luhan menekan intercom untuk mengalihkan tugasnya dan Sehun kepada orang lain. Kemudian dengan cepat gadis itu menuju toilet untuk menganti pakaiannya. Tidak mungkin Luhan melakukan tugas menggunakan rok ketat.
Sehun melempar sebuah kunci saat Luhan keluar dari toilet, tanpa memandang Luhan sama sekali. Gadis itu kemudian berjalan dengan cepat menuju luar gedung, melompati mobil Sehun yang terparkir di basement untuk menutup CCTV, lalu kembali melompat turun dan berjalan menuju ujung gedung.
Luhan sedang memasang sarung tangannya saat Sehun datang. Dengan senyum mengembang di wajahnya, Luhan menarik resleting jaketnya. Sehun sendiri tersenyum, berjalan mendekat untuk mengecup bibir Luhan yang dingin, membuat gadis itu behenti bergerak dan memejamkan mata, menikmati ciuman tiba-tiba Sehun.
Bibir Sehun masih hangat dan lembut.
Sehun melepaskan bibirnya, kemudian mengambil helm dari atas motor Luhan, dan menaiki motonya sendiri. Sehun menoleh sekilas saat Luhan menggulung rambutnya dan menyelipkannya ke dalam helm, kemudian menaiki motor hitam besar yang tampak tak cocok dengan tubuhnya yang mungil. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Sehun menyalakan mesin motornya, begitu pula Luhan.
"Kau siap?" tanya Luhan, menoleh ke arah Sehun sekilas dan bersiap meluncur.
"Denganmu, aku selalu siap," balas Sehun, menutup kaca helmnya, dan memacu motornya menyusul Luhan yang sudah melesat mendahuluinya.
Satu pelajaran yang dapat Sehun ambil dari kehidupan barunya bersama Luhan. Bahwa jika kau tidak bisa menghadapi atau menghilangkan masalahmu, maka kau harus berdamai dengannya.
Sama seperti yang Sehun lakukan.
Untuk Luhan.
Orang yang ia cintai.
Hanya Luhan.
Gadis yang ingin ia lindungi.
Gadisnya.
.
-END-
SEQUEL? READ BELOW!
.
SECRET AGENT WIFE Author akhiri sampai di sini, Author sangat berterimakasih untuk seluruh pembaca yang sudah setia menunggu, membaca, dan mereview fanfiction ini. Author mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan fanfiction ini, maaf juga jika jalan ceritanya mengecewakan atau tidak sesuai dengan harapan para pembaca sekalian. Jadi cerita akhirnya HUNHAN jadi kaya superhero gitu, menyamar jadi orang biasa /apalah ini/
Untuk berbagai pertanyaan yang belum terjawab dalan fanfiction ini, termasuk kasus-kasus yang belum terselesaikan, silahkan tanyakan di kolom review. Author akan membuat side story dengan maincast lain (silahkan pilih maincastnya, yang terbanyak akan Author gunakan) untuk menjawab segala pertanyaan yang pembaca ajukan. Jika ada yang berminat dengan sequel atau side story, silahkan tuliskan di kolom review. Author akan melanjutkan jika banyak yang berminat /hihi/
Akhir kata Author ucapkan terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya.
SECRET AGENT WIFE
-LOLIPOPSEHUN-
