Disclaimare

Naruto Belong to Masashi Kishimoto

Warning

Genderbend

***mulai***

Satu persatu pil-pil dan tablet itu masuk ke dalam kerongkongan remaja bersurai pirang yang duduk di belakang mobil, yang dikendarai oleh Itachi. Menurutnya, yang melihat melalui spion depan, pil dan tablet itu terlalu banyak. Bos kecilnya ini sedang sakit? Tapi sakit apa?

"Harusnya Kaicho tidak usah ikut. Bukankah biasanya Kaicho menjaga markas?" ungkap pria berambut merah yang duduk di sebelah bos kecilnya. Membuat kening Itachi berkerut heran. Dengan apa yang dikatakan oleh Sasori, pemilik rambut merah.

"Tapi Kaicho hebat un, bisa bertahan sampai sekarang." Bertahan? Ini apalagi? Apa yang sedang dibicarakan Sasori, serta Deidara yang duduk di sampingnya. Itachi tak tahan akhirnya buka suara

"Sebenarnya kalian sedang membicarakan apa?" tanya Itachi dengan nada tak mengerti.

"Oh yah kau tidak tahu ya un, Yah Itachi kan baru masuk beberapa hari yang lalu, sebagai pengganti Orochimaru un. Jadi begini Itachi un, Kaicho itu punya phobia terhadap darah dan orang mati."

Kening Itachi berkerut heran. Matanya terbelalak tak percaya. Tak pernah ia sangka si pembunuh berdarah dingin ini phobia terhadap darah dan orang mati. Padahal tadi Naruto-bos kecilnya tidak terlihat seperti orang phobia.

Naruto membunuh tanpa belas kasihan. Wajahnya datar tak ada ekspresi. Wanita dan anak-anak yang turut datang, walaupun bukan peserta pelelangan, tetap dibunuh oleh Naruto. Bahkan suara permohonan dari mereka, sama sekali tak digubris Naruto. Membuat Itachi tak percaya Naruto memiliki phobia terhadap darah dan mayat.

Meskipun sempat dilihatnya, wajah sang kaicho yang agak pucat. Apa rasa haus akan membunuh lebih besar dari rasa phobia-nya. Mungkin memang seperti itu. Lagipula semua orang-orang yang kini menjadi bagian dalam kehidupan Itachi, adalah iblis.

Iblis yang nantinya akan Itachi bawa ke dalam jeruji besi. Itachi bersumpah.

"Deidara, Sasori apa kalian mau, mulut kalian kusumpal pistolku!" ancam Naruto, dari balik spion kaca depan, ia dapat melihat, wajah bosnya membaik, tidak pucat seperti tadi.

"Calm down, Kaicho," balas si wajah androgini menyengir lebar.

"Kalau begitu tutup mulutmu. Oh, yah Sasori telpon Konan, aku lupa menyuruhnya untuk menyelidiki Hinata Hyuuga, aku perlu data-datanya." Tanpa menjawab Itachi melihat Sasori yang juga duduk di sebelah Naruto, langsung menekan nomor-nomor pada ponsel yang dipegang si pemilik surai merah.

Itachi pikir ia harus melaporkan hal ini pada Hokage. Kalau tidak keselamatan Hinata bisa terancam. Apalagi Hinata anak bangsawan berpengaruh di Konoha. Malam ini Itachi beruntung, korban yang berjatuhan tak begitu banyak. Sebagian besar mafia dan pengusaha tidak datang ke pelelangan. Pasti mereka klien Hinata dalam bisnis meramal yang digeluti sang artis.

Berkat bantuan gadis itu pula, korban yang tewas tak begitu banyak. Semestinya ada banyak peserta dalam acara pelelangan yang diadakan oleh Sepuluh God Father. Namun pada malam ini yang datang tidak begitu banyak. Jadi korban pun sedikit.

Masalahnya bagaimana caranya ia menghubungi Hokage. Bukan hanya soal Hinata yang ingin dilaporkannya, tapi juga informasi kemampuan Akatsuki.

Akatsuki itu buronan internasional. Sulit mengetahui tentang mereka, kalau tidak mendekati secara langsung. Bahkan tak ada yang tahu kalau pemimpin Akatsuki adalah seorang remaja.

Itachi salah satu yang diberkahi dewi fortuna, bisa mendekati Akatsuki secara langsung. Walaupun bayarannya ia harus rela menjadi seorang pembunuh.

Namun menghubungi Hokage tak semudah membalikan telapak tangan. Entah mengapa hanya dia yang harus berpartner dengan Kisame dalam bekerja. Sisanya bekerja sendiri. Mungkinkah Naruto menyuruh Kisame untuk mengawasinya?

Ya, tentu saja, apalagi kalau bukan itu. Yang artinya Naruto tidak mempercayai dirinya. Apa karena dia dari Konoha? Tapi apa hubungannya Naruto dengan Konoha?

Ah sudahlah sekarang yang penting, bagaimana cara menyampaikan informasi yang diperolehnya kepada Hokage. Supaya ia bisa cepat keluar dari dunia yang kelam ini. Walaupun ia tak yakin tangannya bisa bersih dari darah.

***nyanyanyanyanyanyanya***

Cantik, pintar, artis multitalenta, dan putri dari Ketua Anbu Konoha, Uchiha Sasuke namanya. Meskipun dianugerahi bakat menjadi seseorang yang sempurna, bagaikan tuan putri di negeri dongeng, Sasuke tak punya teman.

Ini semua karena sifat Sasuke yang lebih banyak diam dan selalu bicara singkat. Membuat orang-orang mengartikan sifatnya sebagai seorang yang angkuh. Namun Sasuke tak peduli dengan apa kata orang. Yang penting ia tak berbuat buruk pada orang lain.

Walaupun kadang ia merasa kesepian. Apalagi ditambah dengan kepergian kakaknya. Memang kepergian kakaknya adalah tugas dari Hokage. Meskipun begitu setidaknya kakaknya menghubunginya. Tapi ini,email tak pernah dibalas, apalagi telepon. Jika kakaknya sudah kembali, ia pastikan kakaknya akan menerima 'hukuman' darinya, karena telah mengabaikan email dan telpon darinya.

Brak!

"Sasuke-chan, ini gawat!"

Pintu ruang rias didobrak dan suara teriakan terdengar. Sasuke menoleh, didapatinya seorang wanita berambut merah muda, dengan pakaian serba mini. Ia tak habis pikir, kenapa wanita yang merupakan manajernya ini, suka sekali berpakaian mini-mini. Dasar wanita penggoda. Tak sadar diri kalau sudah punya suami. Bisa dibilang Sasuke dengan manajernya beda lima tahun. Mungkin ia harus melaporkan hal ini pada Neji, suami manajernya.

"Shino ditemukan tewas dikamarnya, bagaimana ini Sasuke-chan, dia kan pemeran utama yang menjadi Souma dalam drama ini," ujar si manager bernama Sakura dengan wajah panik.

"Sakura! Ini bukan waktunya memikirkan drama, kita harus ke rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa. Empatilah sedikit, di saat duka seperti ini!" ujar Sasuke manajernya supaya lebih berempati. Bukan memikirkan pekerjaan terus. Sifat seperti ini tak disukai Sasuke. Walaupun Sasuke pendiam, sebenarnya ia orang yang baik, yang peduli terhadap orang-orang disekitarnya.

"Mou... Sasuke-chan aku kan tak ingin karirmu jadi jelek gara-gara kejadian ini!" ungkap Sakura ngambek, karena omelan dari Sasuke.

"Sakura!"

"Iya, iya tapi habis ini masih ada pemotretan untuk majalah 'The Ladies'."

"Batalkan Sakura!"

Sasuke melihat ada gelagat ketidaksetujuan dari gestur tubuh Sakura. Jadi ia pun melanjutkan perkataanya.

"Mereka pasti mengerti Sakura, cepat batalkan!"

"Baiklah Sasuke-chan," jawab Sakura lemas dan membuat Sasuke tersenyum tipis melihatnya.

Setelah itu Sakura dan Sasuke berangkat ke kediaman Shino, dengan menggunakan limousin hitam kebiruan milik Sasuke. Seorang pria berkacamata bulat bernama Ebisu membukakan pintu limousin, dengan menggesernya. Dia adalah supir pribadi Sasuke.

Lalu saat Sasuke dan Sakura sudah duduk manis di dalam limousin, Ebisu segera mengantar mereka ke kediaman Shino, yang menghabiskan waktu sekitar dua jam, dari tempat lokasi syuting iklan sabun mandi Sasuke.

Sesampainya di sebuah rumah bergaya Eropa milik Shino, orang-orang yang sebagian besar adalah entertainer. Mulai dari sutradara, aktor, aktris, seiyuu, penyanyi, produser dan masih banyak lagi. Apa boleh buat Shino adalah aktor berpengalaman yang sudah menggeluti dunia hiburan selama sepuluh tahun lamanya.

Berbeda dengan Sasuke yang baru tiga tahun menggeluti bidang ini. Meskipun masih seumur jagung, ia langsung bersinar terang, dan dijuluki Ratu Antagonis, mengingat perannya selalu menjadi tokoh antagonis. Julukan yang dibenci Sasuke, seenaknya saja menjuluki seperti itu. Menyindir atau memuji, ambigu dan Sasuke benci itu.

Menyingkirkan hal tersebut, kini Sasuke sudah berada di dalam di rumah Shino. Terlihat warna hitam menghiasi kediaman rumah Shino. Meskipun rumah lawan main Sasuke ini bergaya Eropa, tapi tradisinya pemakaman tetap bergaya Jepang.

Dengan foto Shino yang selalu menutupi matanya dengan kacamata hitam, dan di depannya ada dupa yang asapnya masih mengebul di ruangan tengah, tempat dimana foto dan dupa terpajang.

Nantinya Abu Shino akan dibuang ke lautan luas. Lalu Sasuke dan Sakura menghampiri orang tua Shino yang duduk di sisi kanan foto dan dupa. Terlihat wanita paruh baya menangis menjerit karena kehilangan anaknya.

Membuat Sasuke jadi teringat Ibunya juga menangis meraung-raung, saat kematian kakak keduanya. Perasaan sedih karena ditinggalkan orang yang dikasihi kini menyelimuti relung hati Sasuke.

Setelah mengucapkan bela sungkawa pada orang tua Shino, Sasuke langsung minta pamit pulang. Ia tak ingin berlama-lama, karena luka kehilangan sang kakak akan muncul lagi. Ia pun beranjak keluar dari rumah Shino, dengan Sakura berjalan di belakangnya.

Namun sebelum sampai pintu keluar ia sudah dihadang oleh pria pucat yang sesekali terbatuk-batuk dan wanita berambut ungu panjang.

"Uchiha Sasuke, saya Hayate dan ini Yugao uhuk-uhuk. Saya ingin bertanya beberapa hal pada anda, saya harap anda bisa membantu saya dalam penyelidikan kematian Aburume Shino uhuk-uhuk," ujar si pria pucat yang suka terbatuk-batuk, seraya menyodorkan kartu nama sebagai anggota kepolisian Konoha, dan memperkenalkan temannya.

"Maaf Sasuke-chan harus segera pergi, karena ada acara Talk Show dengan 'HI TV'," tolak Sakura. Sasuke mengerti mungkin Sakura tak ingin dirinya, terlibat dalam hal-hal seperti ini. Sebagai manajer sudah jadi kewajibannya menjaga artisnya dari skandal. Meskipun begitu, bukan Sasuke namanya jika tidak terlibat hal-hal seperti ini.

"Tak apa Sakura, masih ada waktu sampai acara dimulai. Jadi apa yang ingin anda tanyakan Hayate-san?" tanya Sasuke mengabaikan Sakura yang hendak protes karena sikap Sasuke.

"Begini, menurut berita di majalah gosip, maupun di telivisi anda adalah lawan main Aburume dalam sebuah drama. Jadi yang ingin saya tanyakan apakah Aburume punya musuh, selama anda berinteraksi dengannya?" kening Sasuke berkerut mendengar pertanyaan dari polisi di depannya yang lagi-lagi terbatuk-batuk. Membuat Sasuke jadi khawatir dengan kondisi polisi di depannya. Apa sang polisi baik-baik saja?

Sementara Yugao tampak cuek, sudah terbiasa mungkin dengan kondisi Hayate. Malah wanita itu sibuk mencatat jawaban-jawaban Sasuke, untuk laporan dan bahan penyelidikan.

"Aku orang yang jarang bergaul. Kami berinteraksi hanya pada saat syuting. Saya jarang bicara dengannya. Namun saya rasa Shino tak punya musuh. Dia juga pendiam seperti saya. Tapi dia orang yang baik dan perhatian. Dia selalu memberikan saya jus tomat jika sedang kelelahan sehabis syuting. Padahal saya baru mengenalinya, tapi dia selalu baik pada saya, walaupun kami jarang berbicara," jawab Sasuke.

"Begitu, lalu apa anda tahu siapa teman dekat Shino?"

"Mungkin Kiba seorang presenter olahraga. Saya sering melihat mereka makan bersama, jika lokasi syuting mereka sama."

"Terakhir kali anda melihat Shino, apa ada sesuatu yang mencurigakan?"

"Saya terakhir bertemu di parkiran di sebuah restoran terkenal di Shinzuku, tempat lokasi syuting kami. Saat itu tidak ada yang mencurigakan, kalau tidak salah malam kemarin."

"Beberapa jam sebelum tewas yah. Baiklah sepertinya cukup sudah pertanyaan dari saya. Terima kasih atas waktunya nona Sasuke, kami permisi."

"Sebentar Hayate-san, sebenarnya Shino tewas karena apa?" Hayate terdiam belum menjawabnya, sampai beberapa menit kemudian, Hayate bersuara.

"Aburume tewas karena... ditebas kepalanya oleh Pedang besar hingga putus."

Wajah Sasuke langsung pucat pasi. Perutnya bergejolak. Minta dikeluarkan isinya. Mendengar jawaban dari Hayate membuatnya ingin muntah, karena membayangkannya. Setragis itu cara Shino mati.

***nyanyanyanyanyanyanya***

Di waktu yang sama, Itachi duduk di sebuah caffe yang tak jauh dari kediaman rumah seorang aktor besar yang baru saja tewas di tangan Kisame. Caffe yang berisi para otaku, karena pelayannya adalah para maid yang suka muncul dalam manga.

Itachi menyeruput kopi hitam tanpa gula yang disuguhkan maid ber-rok mini, dan sempat mengedipkan mata padanya, sewaktu menaruh secangkir kopi di atas mejanya.

"Kenapa mendadak Kaicho menyuruhmu membunuh seorang aktor?" tanya Itachi yang merasa aneh dengan tugas yang diberikan pada Kisame dan dirinya.

"Menurut Konan membunuh Aktor itu merupakan bagian dari rencana Kaicho untuk membunuh Hinata Hyuuga." Penjelasan Kisame yang sedang menikmati sirloin steak dengan lahap, membuat kening Itachi berkerut heran. Apa yang direncanakan Naruto? Pikirnya. Entah mengapa ia merasakan firasa buruk pada adiknya. Aneh, kenapa mendadak perasaan ini muncul dalam benaknya. Ia berdoa, adiknya baik-baik saja.

***nyanyanyanyanya***

Malamnya, seorang wanita mencengkram erat seprai di atas kasur di sebuah hotel. Wanita itu tak berpakaian. Peluh keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Sesekali desahan keluar dari mulutnya.

Di atasnya seorang pemuda yang sepertinya berumur beda jauh dengan si wanita. Hanya menatap datar pada wanita yang mendesah di bawahnya.

"Ssshhh...more...honey..."

Tanpa menjawab pemuda itu langsung menuruti si wanita, melakukan sesuatu dibagian bawah tubuh sang wanita. Membuat cengkraman pada seprai semakin erat dan desahan-desahan semakin terdengar terus menerus.

Seprai pun basah saat wanita itu sudah terbawa melayang-layang, karena hentakan di bagian bawah tubuhnya, oleh si pemuda.

"Thanks honey~ hahhh...hahhh..."

"Sesuai janji kau harus memberikan peran itu padaku."

"Hm...oke..."

Wanita itu pun terlelap kelelahan. Setelah wanita itu tidur, si pemuda mendengus kesal.

"Menjijikan, kalau bukan karena rencana ini, aku tak mau melakukannya. Sial aku harus mandi beberapa kali untuk membersihkan kotoran yang dikeluarkan wanita jalang ini!" gerutu si pemuda memandang jijik pada dirinya dan juga wanita yang terlelap itu.

Ia pun segera menuju kamar mandi, membersihkan diri sehabis melakukan 'itu', setidaknya semua ini terbayar. Ia mendapatkan peran, yang nantinya akan berguna untuk menjalankan rencananya.

***nyanyanyanyanyanyanya***

Sasuke tak mengerti baru dua hari Shino tewas, tapi kenapa syuting tetap jalan. Memang sudah ada pengganti Shino. Cepat sekali Shino digantikan. Ia tak mengerti jalan pemikiran Produser dan sutradara drama ini.

"Perhatian semua!"

Seorang wanita berambut cokelat. Memakai blazer hitam ketat dan membuat belahan dada terlihat. Rok biru mini di atas lutut. Cantik, sexy, dan cerdas itulah yang dapat didefenisikan oleh seorang produser pada drama 'Love Chef' ini.

Namun sayang diusianya yang sudah mencapai angka tiga, belum punya suami, padahal ia banyak digilai pria. Mungkin karena wanita bernama Mei Terumi adalah wanita pemilih dan warkaholic. Jadi belum ada satupun pria yang menjadi suaminya, sibuk kerja soalnya.

"Kuperkenalkan pemeran Souma yang baru menggantikan Shino, Menma."

Saphire yang indah. Sasuke menggelengkan kepalanya saat berpikiran seperti itu, waktu melihat mata pemuda yang sepertinya, seumuran dengannya, yang awalnya berdiri di belakang Terumi, dan saat sang produser memperkenalkan pemuda berambut hitam itu, pemuda tersebut langsung berjalan ke sisi Terumi.

"Namaku Menma mohon bantuannya." Pemuda itu membungkuk hormat. Sopan itulah yang dipikirkan Sasuke. Namun entah kenapa suara Menma pernah di dengar olehnya di suatu tempat. Suara yang membuat dadanya mendadak berdesir. Namun Sasuke tidak ingat.

"Mohon bantuannya juga Menma-kun," balas seorang gadis yang berdiri di sebelah Sasuke.

Gadis berambut indigo yang merupakan pemeran pembantu dalam drama ini, Hinata Hyuuga yang memerankan Megumi dalam cerita 'Love Chef'. Seperti biasa Hinata selalu ramah pada para pendatang baru.

Hinata juga ramah pada Sasuke. Bisa dibilang Hinata dua tahun lebih dahulu menginjakan kaki di dunia hiburan, ketimbang Sasuke.

"Terima kasih Hyuuga-himesama."

Cup~

Bola mata Sasuke terbelalak, melihat perlakuan Menma pada Hinata. Mengecup punggung tangan Hinata. Sementara Hinata wajahnya memerah padam layaknya kepiting rebus. Wanita mana yang tidak bereaksi seperti itu, jika diperlakukan layaknya seorang putri.

Dengusan kekesalan terdengar dari Sasuke. Entah kenapa ia tak suka. Walaupun tak mengerti kenapa ia tak suka. Apa ia terkena penyakit love first at sigh? Lalu mendadak cemburu karena ulah si penyebar penyakit itu?

Sasuke menggelengkan kepalanya. Mustahil, tak ada yang seperti itu. Ia pasti hanya kesal dengan prilaku Menma yang tidak sopan. Mendadak langsung cium tangan, apa-apaan itu? Ujar Sasuke membatin.

"Menma apa yang kau lakukan!" tegur Terumi, dimata Sasuke, Terumi juga tak suka melihat pemandangan tersebut. Cemburu atau? Entahlah Sasuke tak peduli.

"Maaf Terumi-san, aku hanya ingin memberi salam pada nona manis," jawab Menma. Rasanya Sasuke ingin muntah detik itu juga.

"Sudahlah sekarang kalian lanjutkan lagi syutingnya!"

Terumi pergi dengan gestur tubuh seperti orang kesal, keluar dari studio 8 di Konoha TV, lokasi syuting. Setelah kepergian Terumi, mereka memulai syuting. Sutradara mulai mengatur jalannya drama. Kameramen mulai menyiapkan kamera, merekam adegan-adegan dalam skenario yang diperankan para aktor dan aktris.

Adegan pertama adalah adegan dirinya dengan Menma. Sementara Hinata dan Gaara yang merupakan pemeran Takumi dan Megumi, masih sibuk dirias oleh Shizune.

Saat sutradara memberikan aba-aba, Kameramen siap dengan kameranya, ia dan Menma mulai berakting. Menurut Sasuke akting Menma biasa saja, tak ada yang spesial. Namun artikulasinya jelas. Semua dialog dalam naskah sama dengan yang diucapkan Menma. Pemuda ini hafal sekali dengan naskah dramanya.

Namun perlahan aktingnya berubah. Entah bagaimana Menma bisa membawa penonton terdiam tanpa kata. Bahkan tatapan Asuma pun terfokus pada Sasuke dan Menma. Biasanya Asuma jarang fokus dan lebih sering memperhatikan naskah ketimbang pemain. Untuk mengoreksi kalau ada kata-kata yang salah, atau adegan yang salah.

"Cut!"

"Bagus sekali Menma, kau juga Sasuke-chan. Sepertinya tak ada perbaikan dalam adegan pertama, jadi kita akan ke take selanjutnya!" perintah Asuma.

Sasuke akui pendatang baru ini cukup berbakat. Jadi ia pun mengulurkan tangan pada Menma untuk mengucapkan selamat.

"Kau hebat."

"Terima kasih."

Kening Sasuke berkerut. Uluran tangan tidak dibalas. Menma hanya mengucapkan terima kasih lalu pergi. Sombong sekali. Membuat urat-urat kekesalan muncul di kening Sasuke.

"Aktingmu bagus Menma-kun," puji Hinata.

"Terima kasih, hime."

Cup~

Lagi-lagi Sasuke dibuat ternganga. Hinata memuji malah dibalas kecupan di punggung tangan. Sasuke memuji malah diabaikan. Apa-apaan itu? Pemuda yang menyebalkan dan rasanya ingin sekali ditendang oleh Sasuke. Namun image gadis Uchiha terhormat, malah membuatnya diam menggerutu dalam hati. Wajah tetap datar dan bersikap seperti tak terjadi apapun.

Duduk di sofa sambil meminum air mineral yang disuguhkan oleh Sakura. Sesekali onyxnya melirik Menma dan Hinata yang terlihat akrab. Ia tak suka ini. Tapi tunggu kenapa ia malah tak suka? Biarkan saja mereka akrab, bukan urusannya. Lebih baik fokus saja pada syuting. Itu lebih baik.

***nyanyanyanyanyanyanya***

"Terima kasih untuk hari ini Hime. Kau banyak membantuku, aku agak tegang tadi. Ini pertama kalinya aku syuting drama."

"Tapi untuk pertama kali, kau sangat hebat Menma-kun, seperti profesional."

"Tidak aku masih pemula. Tapi kalau membunuh aku profesional..."

"Eh? Apa mak..."

Dor!

"Good night Hime..."

"KYAAAAA!"

****TBC****

Halo Nao senang sekali dengan respon reader, jadi Nao coba jawab pertanyaan reader:

Aoi: ini emang NaruFemsasu

chimi wila chan: sudah dilanjut

adityasriwijaya: sudah dilanjut

Uzumaki Prince Dobe-Nii: sudah dilanjut

Reiko Kanazawa: iya disini Naruto jadi jahat, itu Ginko alias Gintoki versi cewek dari anime Gintama

askasufa: Ah itu belum bisa dijawab ikuti saja perkembangannya gimana, tapi memang Naruto ada hubungan ama Konoha, hahaha coba tanyakan pada NaruNaru

nusantaraadip: sudah dilanjut