Disclaimare

Naruto belong to Kishimoto

Warning

Genderbend, OOC

***mulai***

Warna merah yang keluar dari kening gadis yang berlubang. Ia yang duduk di samping gadis itu menutup mulutnya. Wajah tannya terlihat pucat. Tangan kirinya mencari sesuatu dalam saku baju dan celana. Namun diakhiri dengan decakan kesal darinya, karena sesuatu tersebut tidak ditemukan.

Di waktu berikutnya, ia mendengar suara gadis dari luar mobil tempatnya berada, berteriak mengusili gendang telinganya. Ia mendengus kesal. Ia membuka pintu mobil berwarna lavender milik sang gadis yang tewas di sampingnya.

Tewas karena ditembak olehnya. Namun sepertinya ia harus membunuh lagi. Padahal ia masih dalam keadaan tidak baik. Dan barang dicarinya malah tidak ketemu. Pasti ketinggalan. Sial, penyakit cerobohnya kambuh.

Namun mau gimana lagi. Ada yang melihat ia membunuh gadis. Bukan gadis biasa melainkan artis yang sedang naik daun. Jika ada yang melihat perbuatannya artinya harus dibungkam. Bukan dibungkam dengan menutup mulutnya saja. Tapi dibungkam selamanya, alias mati...

Karena tak boleh ada saksi. Membuat setiap pekerjaannya selalu bersih, yang artinya semua korban-korban tindak kejahatannya selalu dibuat tak bernyawa.

Kemudian setelah ia berada di luar mobil, ia melihat gadis atau wanita entahlah ia tak peduli, jatuh terduduk. Kedua kaki si wanita ditekuk ke belakang. Tubuh wanita itu bergetar. Wajah wanita itu pucat. Memperlihatkan raut ketakutan padanya.

"Ka...kau...Menma?!" tanya si wanita seraya menunjuk ke arahnya.

Ia tak menjawab. Tapi malah mengangkat tangan kirinya yang memegang pistol. Mengarahkan moncong pistol ke sang wanita.

"Tidak...jangan bunuh aku Menma...kumohon," pinta si wanita memohon. Cairan asin mengalir di kedua pipi wanita tersebut. Lagi-lagi ia tak menjawab, malah perlahan mulai menggerakan pelatuknya.

"Tidak...MENMA!"

Dor!

***nyanyanyanyanyanya***

Sasuke baru saja selesai membetulkan make upnya, di toilet. Kakinya kini melaju ke parkiran. Ia harus cepat, Sakura managernya bisa ngomel.

Ada kalanya Sasuke benci dengan pekerjaannya sebagai artis. Karena menjadi artis menuntutnya untuk disiplin dan tidak boleh telat. Terlambat sedikit Sakura pasti akan menceramahinya tentang profesional dan bla, bla, bla...

Sasuke ingin santai kalau bisa. Namun sayang Sakura selalu datang membawakan pekerjaan menumpuk. Hari ini saja ia harus syuting di tiga tempat. Ia harap tubuhnya cukup kuat sampai akhir. Karena sekarang saja seluruh tubuh mulai menunjukan tanda-tanda kelelahan.

Saat sampai di basement, tempat mobilnya diparkir, Sasuke melihat sesuatu yang membuatnya harus membelalakan onyxnya dan sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak seketika.

Sakura jatuh terduduk dan seorang pemuda menodongkan pistol ke arah Sakura?!

Sakura akan dibunuh. Tidak! Ia tak akan membiarkannya. Ia harus menyelamatkannya.

'Sakura kumohon kau harus selamat!' mohonnya dalam hati sambil berlari menghampiri Sakura. Ia harus cepat. Ia berlari kencang. Hatinya tak bosan-bosannya berdoa. dan...

Dor!

***nyanyanyanyanyanyanya***

Seorang gadis berambut hitam sepunggung dan diikat ekor kuda, melompat ke arah seorang wanita berambut merah muda. Gadis berambut hitam dengan warna mata senada itu mendorong si wanita, menjauhi peluru yang meluncur cepat dari depan.

"SASUKE!" teriak si wanita.

Di sisi lain seorang pemuda berambut hitam, dengan warna mata seindah samudera terlihat terbelalak. Pemuda yang diketahui bernama Naruto itu tak menyangka kalau gadis berambut hitam bernama Sasuke itu menyelamatkan wanita tersebut.

Gara-gara tingkah heroic Sasuke, gadis itu mendapati luka tembak di bahu kanannya.

Naruto paling benci jika ada yang menggangu pekerjaannya. Kedua perempuan ini harus dibunuh. Tapi saat melihat darah keluar dari kemeja putih berenda yang dikenakan Sasuke dan membuat kemeja itu berubah warna, sesuatu di dalam perut Naruto bergejolak.

Pemuda itu ingin muntah dan Naruto merutuki kecerobohannya tidak membawa obatnya. Namun ia harus kuat dan membunuh dua perempuan ini. Tak akan ia biarkan satupun saksi hidup. Dengan tangan gemetar ia mengangkat pistolnya. Ia mencoba menetralkan dirinya. Ia harus kuat, atau kedua perempuan ini akan membahayakan dirinya.

Tanpa disadari Naruto dari arah belakang, sesosok bayangan menganyunkan balok kayu padanya dan...

Buagh!

Naruto dipukul dari belakang, membuatnya jatuh tersungkur, seraya memegangi kepalanya. Kemarahan mengusai Naruto. Setelah Sasuke ada orang lain yang mengganggunya. Mereka bertiga mencari mata.

"NONA SAKURA CEPAT BAWA NONA SASUKE PERGI DARI SI...!"

Dor!

Orang yang memukul Naruto matanya terbelalak lebar, dari balik kacamata hitam yang dipakainya. Tangannya memegang jas hitam yang dikenakannya. Cairan merah kental keluar dari dadanya. Orang itu pun tumbang dengan kelopak yang terbuka.

Sementara itu tubuh si wanita yang dipanggil Sakura oleh si pemakai kacamata hitam, tambah bergetar. Setelah tangan artisnya tertembak, sekarang supir artisnya mati tepat dihadapannya. Orang di depannya ini berbahaya.

Padahal kepalanya dipukul dan jatuh terduduk. Namun dari posisi seperti itu, si pemuda malah sempat-sempatnya membalik badan dan menembak sang supir, tanpa mengidahkan sang supir menyelesaikan kata-katanya.

Bagaimana ini? Sakura benar-benar takut. Ia tak menyangka lawan main artisnya adalah pembunuh. Setelah membunuh teman sesama artis Sasuke, Hinata, pemuda ini melukai Sasuke dan membunuh Ebisu- supir Sasuke.

Tapi ia harus cepat membawa Sasuke pergi ke rumah sakit. Disisi lain ia benar-benar ketakutan. Andai saja suaminya yang seorang Anbu itu ada di sini... harapnya.

Di sisi lain Naruto berdiri dengan susah payah. Tangan kanannya memegang kepalanya yang berdarah. Tubuhnya sedang tidak baik, karena darah ada dimana-mana. Sekarang ditambah dengan rasa sakit dikepalanya.

Namun ia harus menyelesaikan tugasnya. Jadi ia kembali mengangkat tangan kirinya. Mengarahkan moncong pistolnya kembali ke arah Sakura yang sedang memeluk Sasuke yang tangannya terus menerus mengeluarkan darah.

Tap...tap...tap...

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang berlari menggema di basement parkiran. Sementara di sisi Naruto, pemuda itu terlihat tak peduli dengan suara langkah kaki tersebut. Karena ia sedang fokus akan menembak dua perempuan tak berdaya. Bahkan saat seseorang itu melompat ke arahnya Naruto masih tak sadar. Tapi disaat bersamaan ia menarik pelatuknya dan...

Dor!

Peluru meluncur dengan kecepatan melebihi kuda berlari.

Brugh!

Diwaktu yang sama Naruto didorong oleh seseorang, hingga membuat tembakannya meleset.

Prang!

Menembus kaca belakang salah satu mobil yang diparkir di dalam basement tersebut.

"SAKURA CEPAT BAWA SASUKE PERGI DARI SINI!" teriak orang yang mendorong Naruto dan menahan kedua tangan Naruto yang berada dibawahnya.

Sakura yang tadinya menutup mata dan pasrah dengan apa yang dilakukan Naruto, langsung membuka matanya, begitu mendengar teriakan dari orang itu. Mata emeraldnya terbelalak melihat Naruto ditindih dengan kedua tangan di tahan oleh sosok yang dikenalnya.

"Itachi-kun?" Sakura bertanya-tanya dalam hati. Bingung kenapa ada Itachi di sana. Tapi bukan saatnya bingung. Ia harus membawa pergi Sasuke yang wajahnya terlihat pucat dengan darah masih terus mengalir dari bahhunya. Ia pun segera memapah Sasuke pergi menuju mobil Sasuke.

Sementara itu Naruto menatap dengan penuh kemarahan kepada orang yang mengganggunya lagi. Langsung saja ia mengangkat kaki kanannya dan menendang perut orang yang menindihnya, dengan keras. Membuat orang itu terjengkang ke belakang.

Naruto bangun dan tak memperdulikan denyutan kesakitan dikepalanya. Ia juga tak memperdulikan rasa mual ingin muntah, karena darah-darah yang mengentayangi hidungnya. Naruto mengambil pistolnya dan menarik pelatuknya.

Dor!

Pistol itu menembus bahu kanan orang yang menolong Sasuke dan Sakura. Orang yang diketahui bernama Itachi itu, refleks memegangi bahu kanannya.

Dor!

Naruto menembak lagi, kali ini menembus perut kanan Itachi.

"ARGHHH!" teriak Itachi kesakitan.

Dor!

Lagi kali ini menembus kaki kanan Itachi.

Naruto benar-benar tanpa ampun. Tiga kali ia menembak Itachi. Namun entah kenapa semua tidak mengarah ke titik vital seperti biasanya. Naruto selalu menembak ke arah kepala atau jantung. Namun kali ini ia menembak ke perut, bahu dan kaki bagian betis Itachi.

Detik berikutnya Naruto memasukkan pistolnya ke sarung di pinggang sebelah kiri. Lalu mencengkik leher Itachi.

"Ukh..."

"Apa yang kau lakukan Itachi? Sudah kukatakan aku tidak suka diganggu jika bekerja! Lihat mangsaku kabur!" tanya Naruto dingin.

"Ukh..." Itachi tidak bisa menjawab. Lehernya dicekik kencang oleh Naruto. Sampai kuku jari Naruto menembus lehernya. Apakah ia akan mati? tanya Itachi dalam hati.

Namun ternyata ia tidak jadi mati. Naruto melepaskan cekikannya pada Itachi. Kini Itachi bisa bernafas lega. Tapi sekujur tubuhnya tak bisa digerakan. Luka-luka tembak itu menggerogoti tubuhnya dan menimbulkan rasa sakit yang membuat Itachi harus menggigit bibirnya kuat-kuat.

Sementara itu Naruto sedang menekan tombol-tombol pada ponselnya. Saat Naruto akan mengatakan halo, Itachi memegang kaki kanan Naruto. Itachi tadi menyeret tubuhnya supaya bisa memegang kaki Naruto yang tak jauh darinya. Saphire Naruto menatap dingin pada Itachi di bawahnya.

"Ka...Kaicho...a...aku...mo...mohon ja...jangan...bu...bunuh...hahhh...hahhh...a...adikku...hahhh...hahhh..." pinta Itachi dengan susah berbicara karena menahan rasa sakit ditubuhnya.

"A...aku...a...akan me...melakukan...a...apapun...untukmu...tapi...a...aku...hahhh...hahhh...mohon...ja...jangan bunuh...a...adikku..." lanjut Itachi. Tapi malah dibalas Naruto dengan sebuah tendangan di perut.

"Arghhh!"

"Dei, kau sedang tak ada tugas kan?" tanya Naruto pada orang yang diteleponnya, mengabaikan permohonan Itachi.

"Ia un, bosan sekali nie main boneka sama danna-un!"

Dari seberang sana Naruto bisa mendengar suara tangan dipatahkan. Naruto hanya face palm dengan tingkah-tingkah anak buahnya.

"Baiklah aku punya tugas untukmu, bunuh Sakura Haruno, kalau perlu keluarganya juga. Minta data-data Haruno pada Konan!" perintah Naruto.

"Ro...roger...un..." jawab orang diseberang dengan nada lemas, mungkin orang yang ditelepon Naruto lemas karena tangannya dipatahkan. Soalnya tadi terdengar suara gemeretak tulang.

Setelah percakapan itu Naruto menutup panggilannya dan kembali ke menekan tombol-tombol pada ponselnya.

"Konan, cari data-data Haruno Sakura, berikan pada Deidara. Lalu suruh Pein ke basement tempatku bekerja, bawakan obatku dan obati Itachi!" perintah Naruto pada orang yang ditelepon berikutnya.

"Ada apa dengan Itachi, Kaicho? bukankah dia sedang bertugas dengan Kisame?" tanya orang diseberang telepon.

"Tanyakan nanti kalau Itachi sudah sembuh. Lakukan saja perintahku, Konan!"

"Baik Kaicho!"

Itachi tertegun dengan kata-kata Naruto. Pemuda itu bilang akan mengobatinya, setelah ia berkhianat pada Naruto. Naruto juga tak menyuruh Deidara untuk membunuh Sasuke, hanya bilangnya agar membunuh Sakura. Tak ada nama Sasuke. Apakah permintaannya dikabulkan? tanyanya dalam hati.

"Aku tidak akan membunuh adikmu. Tapi ini ada bayarannya. Setelah kau sembuh, hukuman akan menantimu!" ungkap Naruto seolah menjawab semua pertanyaan dari Itachi.

***TBC***

Yuko: sudah dilanjut

askasufa: yap yang jadi Menma Naru, Cuma pake wig item doang, tahu tuh Naru aneh phobia tapi tetep ngebunuh orang, iya Itachi punya adik lain selain Sasuke, anak kedua, bungsunya si Sasuke,

nusantaraadip: yep Hinata mati, Menma itu Naru

Uzumaki Prince Dobe-Nii: ketahuan sih, tapi nanti juga saksi dibunuh, minus Sasuke~

Makasih yang udah review and fav