Disclaimare

Naruto belong to Kishimoto

Warning

Genderbend, OOC, Fem!Sasuke, Typo bertebaran, Penulis Amatir

Rating

T Semi M

***mulai***

Sukiya-zukuri adalah rumah bergaya Jepang zaman Edo. Rumahnya mungil, namun halamannya luas dengan dipenuhi tanaman bonsai dan air pancuran dari bambu. Biasanya rumah ini dipergunakan untuk acara minum teh. Rumah inilah yang ditempati oleh Akatsuki. Rumah yang terletak di Tokyo, ibukota Jepang.

Rumah ini milik Sasori. Tak ada yang tahu rumah yang dibangun menyerupai Villa Katsura Imperial di musim semi, ditempati buronan internasional. Bisa dibilang Akatsuki sengaja tinggal di tempat yang mencolok dan membaur pada masyarakat.

Seperti Sasori, orang-orang di Tokyo mengenalnya sebagai pembuat boneka untuk Hinamatsuri, perayaan yang diperuntukan untuk mendoakan anak perempuan. Pada perayaan tersebut, banyak tetangga yang memesan ke Sasori.

Lalu Deidara dikenal oleh tetangga di sekitar rumah, sebagai mahasiswa jurusan farmasi semester akhir. Mahasiswa Universitas Beika yang selalu berangkat menggunakan sepeda. Kacamata tutup botolnya dan sikapnya yang ramah, membuatnya terkenal dikalangan masyarakat di sekitar rumah Sukiya-zukuritersebut.

Kakuzu dikenal sebagai pemilik Bank Nagano. Ia tidak disukai para tetangga, karena sifatnya yang pelit dan kalau meminjam uang darinya pasti berbunga tinggi. Benar-benar berbanding terbalik dengan sifat Deidara.

Hidan dikenal sebagai penjaga kuil. Namun beberapa tetangga tidak suka dekat dengannya, karena ia mengajari agama tak dikenal, agama Jashin. Meskipun ada juga yang jadi pengikutnya. Sepertinya pengikutnya ketularan anehnya Hidan.

Kisame adalah pedagang ikan, ia terkenal dikalangan para ibu, karena kadang Kisame mengajarkan cara masak ikan yang enak.

Zetsu bersaudara sebagai pemusik jalanan. Ia lebih dikenal di Harajuku dan Shinjuku, ketimbang di Tokyo, mengingat disanalah mereka manggung.

Nagato tidak dikenal oleh tetangga sekitar, karena sifatnya ultimate tertutup, suka tempat yang suram, dan tidak pernah bicara, walaupun aslinya bisa. Namun ia terkenal sebagai penulis light novel dengan nama pena Pein.

Sedangkan Yahiko adalah seorang pengusaha, dengan Konan sebagai sekertarisnya.

Dan Naruto... dia entahlah apa pekerjaannya. Ia tak pernah berbaur dengan masyarakat. Ia lebih sering di perpustakaan yang dibangun di bawah tanah rumah bergaya Jepang zaman Edo. Atau pergi nonton konser Hinata Hyuuga. Namun semenjak artis muda itu tewas karena dirinya, Naruto lebih sering mengurung diri di perpustakaan.

Tapi yang jelas orang-orang yang tinggal disekitar rumah tersebut, menganggap mereka hanyalah orang biasa. Mereka tinggal bersama karena Yahiko bilang, mereka semua bersaudara. Yahiko juga bilang, mereka tidak mirip, karena hanya saudara angkat. Yahiko mengatakan orang tuanya suka mengangkat anak-anak yatim piatu seperti dirinya.

Selain itu penampilan Akatsuki sebagai manusia normal, berbeda saat menjadi perampok. Seperti Deidara yang memakai kacamata botol. Atau tubuh Kisame yang cat biru di sekujur tubuhnya dihapus, sehingga warna asli kulit Kisame yang kecokelatan khas anak laut, terlihat.

Cat hitam pada Kuro Zetsu dan Putih pada Shiro Zetsu juga hilang, berganti kulit putih khas Asia, warna kulit asli mereka. Tindikan di wajah Yahiko juga dilepas, soalnya tak mungkin pengusaha punya tindikan.

Juga Kakazu yang memperlihat wajah asli tanpa tertutup masker dan penutup kepala, sehingga terlihat rambut hitam panjangnya. Dan kebiasaan suka pakai baju robek sebelah Hidan hilang sebentar, berganti dengan memakai Yukata.

Tapi kalau misalkan ada yang sadar, bahwa mereka bukan orang biasa, maka orang itu pasti akan langsung dibunuh dan dibuat seolah-olah kecelakaan. Jadi tak akan ada yang tahu siapa mereka sebenarnya. Begitulah cara kerja mereka.

Dan... disinilah Itachi berada. Tinggal bersama dan menjadi bagian dari Akatsuki. Dimana membunuh adalah makanan sehari-hari. Dimana merampas punya orang dengan paksa, adalah pekerjaan asli mereka.

Tapi sepertinya aturan ada saksi pasti mati, sudah dilanggar oleh pemimpin Akatsuki sendiri. Hebatnya orang nomor satu dalam Akatsuki melanggar, karena permintaan anak baru seperti dirinya.

Itachi tak mengerti, ia bukan siapa-siapa di sini. Hanya orang baru yang bahkan sudah pernah berkhianat. Namun Naruto- pemimpin Akatsuki, menuruti permintaannya. Tidak membunuh adiknya. Sebenarnya Itachi juga ingin Sakura-manager adiknya, juga turut tak dibunuh. Namun sepertinya mustahil meminta hal tersebut.

Pertanyaan kenapa selalu menari-nari di kepalanya. Bahkan saat bangun dari pingsannya, karena luka tembak dari Naruto, yang ditanyakan dalam hatinya adalah kenapa?

Naruto juga tidak membunuhnya, padahal ia sudah berkhianat. Lagi-lagi kata kenapa menghantuinya.

Saat ini Itachi memandangi air pancuran dari bambu dari teras belakang rumah. Meskipun begitu tatapannya kosong. Tak ada pantulan air pancuran dari bambu di mata onyxnya. Ia duduk dengan kedua kaki yang berbalut kaus kaki putih menapak pada tanah halaman. Tangan kanan dimasukan dalam Yukata berwarna hitam kebiruan. Tangannya memegangi perban di perut akibat luka tembak. Sedangkan tangan kiri menopang tubuh.

"Itachi!" panggil seseorang dari belakang punggungnya, disertai dengan suara pintu geser bergerak. Itachi tak merespon panggilan tersebut. Menoleh pun tidak.

"Ck, oi Itachi Kaicho ingin menemuimu, diperpustakaan!" ujar orang itu.

Itachi langsung berdiri begitu Kaicho terlontar dari mulut orang itu. Tanpa menjawab suruhan dari orang berkacamata botol, dengan rambut pirang dikuncir ekor kuda, Itachi langsung pergi ke perpustakaan.

Perpustakaan itu letaknya dibawah tanah. Bersebelahan dengan ruangan besar yang biasa dipakai untuk pertemuan para Anggota Akatsuki. Sesampainya di sana, Itachi melihat sang Kaicho sedang ada di tangga, hendak mengambil buku di rak paling atas.

Saat berada di sana, Itachi merasa Perpustakaan ini lebih besar ketimbang rumah di atas. Atau mungkin karena letaknya yang begitu dalam, setinggi lima tingkat sebuah gedung, jarak antara lantai dan langit-langit perpustakaan. Dan bagusnya harus menggunakan tangga untuk turun ke bawah tanah. Jelas melelahkan.

Tapi Itachi bukan tipe mengeluhkan sesuatu yang seperti ini. Yang terpenting sekarang ada apa Bos Akatsuki memanggilnya? Apakah ini mengenai hukuman untuknya? Apakah hukumannya berupa hukuman mati? Itachi rasa bukan, karena Konan, si wanita berambut biru, mengatakan padanya, ia tak akan diberi hukuman mati, Kaicho sudah mempersiapkan hukuman lain untuknya.

Wanita itu mengatakan hal itu, ketika ia baru saja sadar dari pingsannya. Konan juga mengatakan padanya, walaupun Kaicho tidak menghukumnya, dan jika ia berkhianat lagi, maka Konan sendirilah yang akan membunuhnya. Kata-kata yang sama juga terlontar pada Yahiko, dan ditambah dengan goresan pisau di pipi Itachi.

Sepertinya karena perbuatannya, ia jadi dibenci dan dikucilkan oleh anggota Akatsuki, minus Deidara dan Kisame, yang masih mendekatinya. Sejujurnya ia sendiri tak peduli jikalau harus dikucilkan. Yang penting ia sudah lega karena adiknya akan aman. Meskipun ia masih tak mengerti dengan pemikiran Naruto, yang menyetujui permintaannya.

Ya sudahlah, toh kini adiknya baik-baik saja sekarang. Tapi sepertinya tidak untuk kejiwaan adiknya. Itachi yakin, Sasuke-adiknya, pasti sedang sedih sekarang.

"Ah, kau sudah datang Itachi, to the point saja, untuk hukumanmu... aku ingin kau merampok jimat dewa penjaga neraka, jimat cerberus yang dimiliki klan Inuzuka."

Mata Itachi terbelalak lebar mendengar hukuman yang diberikannya. Klan Inuzuka, itu klan mantan kekasihnya. Tak perlu heran jika dulu Itachi punya kekasih. Dia lelaki normal. Pasti pernah merasakan ketertarikan pada perempuan. Hanya saja, karena pekerjaan, ia memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Ia tak ingin kekasihnya dalam bahaya.

Namun sekarang ia malah diperintahkan untuk mengambil jimat pelindung milik klan Inuzuka. Itachi yakin bukan hanya mengambil, tapi juga membunuh semua yang klan Inuzuka supaya tidak ada saksi.

"Aku menyuruhmu merampok bukan hanya ingin menghukummu, tapi Konan bilang pelelangan diundur bulan depan, jadi sambil menunggu aku ingin jimat itu. Karena kudengar dari Kakuzu, harganya setara 100 emas batangan. Itung-itung sebagai ganti barang-barang pelelangan yang gagal kita rampok," tambah sang Kaicho.

Itung-itung Kaicho bilang? Yang benar saja, untuk mendapatkan benda itu Itachi harus bermandikan darah lagi. Bukan darah sembarangan, tapi darah kekasihnya yang dulu. Kekasih yang walaupun sudah berpisah, tapi hatinya masih ada perasaan suka.

Jadi begitu... hukuman yang diberikan Naruto... hukuman yang lebih berat dari siksaan ataupun kematian. Hukuman psikologis. Rasanya Itachi ingin tertawa mendengarnya.

"Maaf Kaicho, aku ingin tahu, kenapa kau menyetujui permintaanku, untuk tidak membunuh adikku. Kau juga tidak membunuhku, karena aku telah mengganggu pekerjaanmu?" tanya Itachi kemudian.

Naruto yang kini sedang membaca buku tebal, dengan kacamata bertengger di matanya, di salah satu sofa yang tersedia di perpustakaan tersebut, langsung menutup bukunya. Ia menatap onyx Itachi. Terdiam cukup lama. Hingga akhirnya dia menghela nafas.

"Dengar Itachi, bagiku yang terpenting adalah Nakama. Aku tidak bisa membunuhmu, walaupun kau telah mengganggu pekerjaanku. Kecuali kau telah keluar dari Akatsuki. Aku menuruti permintaanmu supaya kau senang, aku senang jika Nakamaku senang, dan aku akan sedih jika Nakamaku bersedih, bagiku kalian adalah keluargaku, jadi tentu saja aku akan menuruti permintaanmu," jawab Naruto.

Sejenak Itachi tertegun mendengar kata-kata dari Naruto. Tapi tidak, ia tidak boleh luluh hanya karena kata-kata tersebut. Lagipula Naruto baru saja menyuruh ia membunuh kekasihnya, walaupun Naruto tidak mengatakannya secara langsung.

"Kenapa Itachi? Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku memberikanmu hukuman yang ringan yah?"

Ringan? Itachi ingin tertawa mendengarnya.

"Aku mengerti, akan kujelaskan, Konan bilang kau punya hubungan khusus dengan putri dari klan Inuzuka. Jadi hukumanku yang utama bukanlah membawa jimat cerberus, melainkan membunuh putri dari klan Inuzuka itu..."

Sudah Itachi duga, namun tetap saja membuat Itachi harus mengepalkan erat-erat kedua tangannya. Hingga telapak tangannya berdarah karena tertusuk kuku-kukunya yang agak panjang.

"Kau meminta nyawa seseorang Itachi, jadi tentu saja bayarannya adalah nyawa. Lagipula sebenarnya hukuman ini masih ringan. Apalah arti kekasih ketimbang adik kandung... Atau kau memilih kekasihmu, jadi kau harus membunuh adikmu? Ya tak masalah, aku tak peduli mana yang kau pilih, aku akan tetap menyetujuinya. Tapi kau tidak boleh meminta keduanya untuk hidup. Tentu saja itu ditolak..."

Apanya yang ingin membuat Nakama senang. Omong kosong. Rasanya Itachi ingin meneriakan kata-kata tersebut pada sang Kaicho.

"Aku tahu kau pasti sedih. Tapi aku tidak bisa memberikanmu dua nyawa. Karena apa yang kau lakukan akan membahayakan Nakamaku yang lain. Kau pasti mengerti kan bahayanya Itachi. Seorang saksi berkeliaran diluar sana, dapat membahayakan Akatsuki. Apalagi dua orang saksi..."

Sepertinya tak ada pilihan lain. Itachi harus menurutinya. Demi adiknya. Walaupun jujur ia merasa bersalah dengan mantan kekasihnya. Namun ia lebih tak ingin kehilangan saudara lagi.

"Baiklah Kaicho aku akan segera membawakan jimat cerberus itu padamu," jawab Itachi pada akhirnya, dengan tatapan kosong dan nada datar. Lalu setelah itu, ia pun naik ke atas tangga keluar dari perpustakaan ini.

"Hei Itachi, aku lupa memberitahumu, kalau Deidara tadi bilang, ia sudah membunuh manager adikmu..."

Itachi sempat berhenti menaiki tangga tersebut. Tangannya memegang erat, pada pegangan tangga yang terbuat dari kayu mahoni tersebut. Kuku-kukunya mencakar pegangan tersebut. Hingga akhirnya emosinya kembali stabil dan ia meneruskan perjalanannya keluar dari tempat yang membuatnya gerah.

***nyanyanyanyanyanyanya***

Sasuke pikir dirinya adalah pembawa sial. Dulu kakak keduanya mati karena dirinya. Lalu kakak pertamanya juga pergi. Setelah itu manajernya. Bahkan sahabatnya pun mati karena dirinya.

Sebentar... sahabat? Sejak kapan Sasuke punya sahabat. Bukankah dia ini introvet. Jarang berbicara kalau bukan suatu hal yang penting. Hanya akrab pada keluarga sendiri dan manajernya.

Sasuke memijat keningnya. Rasanya ia telah memikirkan hal aneh, sejak kematian manajernya pagi tadi. Ia jadi memikirkan kalau dirinya punya sahabat. Padahal tidak punya. Aneh.

Saat ini Sasuke sedang berada di Tokyo Tower. Setelah pulang dari makam manajernya. Makanya ia masih mengenakan terusan hitam yang berlengan panjang. Tak lupa kacamata hitam bertengger di wajah hitam. Serta rambut yang hanya digulung saja, lalu dijepit, supaya tidak lepas.

Dia ke tempat ini untuk menghibur diri. Menurutnya di tempat yang tinggi, ia bisa melihat sesuatu yang berbeda, yang bisa menghangatkan hatinya.

Meskipun agak risih juga, karena ia ke tempat ini, dengan dikawal oleh dua bodyguard suruhan ayahnya. Ayahnya memang selalu overprotektif padanya. Sejak bahunya tertembak ayahnya langsung menyuruh tiga anbu bawahannya, Kakashi Hatake, Rin dan Neji Hyuuga. Salah satunya adalah suami managernya. Rasanya benar-benar canggung. Dan Sasuke masih diliputi rasa bersalah, jika berhadapan Neji. Karena dirinya yang pembawa sial, Sakura jadi tewas.

Untunglah mereka berdua berada di jarak yang agak jauh, dari tempat Sasuke berdiri. Karena gadis itu, sudah mengancam mereka. Ia hanya ingin sendiri. Melihat kelap-kelip Tokyo di bawah sana. Menghibur hatinya karena baru saja kehilangan manajernya.

"Masih ingat aku, Sasu-chan," bisik seseorang tiba-tiba. Sontak Sasuke menoleh, mendengar suara yang familiar di telinganya.

Seorang pemuda berambut pirang, memakai kacamata berbingkai hitam. Rambutnya tertutup topi rajutan warna hitam. Jaket bertudung dengan warna campuran hitam dan oranye. Tampak menyeringgai ke arahnya.

Mata biru itu dan suaranya meningatkannya pada orang yang tak ingin diingat. Seseorang yang sudah ia klaim sebagai musuh dan pembunuh. Tapi masalahnya warna rambutnya berbeda. Apa jangan-jangan sedang menyamar?

"Men...ma?" jawabnya ragu.

"Ping...pong... benar sekali Sasu-chan," jawab si pemuda tersenyum.

"Ka..."

"Sssstttt..." si pemuda menaruh telunjuknya pada bibir Sasuke, sehingga kata-kata gadis itu terhenti.

"Coba kau lihat dengan teropong di Tokyo tower ini, di sana ada temanku. Seorang sniper berbakat. Ia bisa menembak dari jarak yang sangat jauh dan di tempat yang gelap. Kalau kau berbicara atau bergerak, kupastikan salah satu dari orang-orang ini akan mati."

Mata Sasuke terbelalak mendengarnya. Sementara seringgai di wajah pemuda itu bertambah lebar.

"Tenang saja, Sasu-chan aku kesini bukan untuk membunuh. Kalau kau menurut tidak akan darah yang menggenang kok. Aku datang ke sini hanya ingin menghiburmu, karena kematian manajermu..."

Ingin rasanya Sasuke menghajar pemuda asing di depannya. Namun sebuah cokelat mendadak masuk ke dalam mulutnya. Saat ia hendak membalas kata-kata si pemuda.

"Kata dibuku, cokelat bisa mengatasi kesedihan, makanlah."

Oke cokelat ini tidak manis, kesukaan Sasuke. Karena gadis ini tidak suka manis. Hei, tapi bukan ini masalahnya, ia harus menghajar pemuda yang telah membuat manajernya tewas. Walaupun belum ada bukti, tapi pemuda ini pernah menodongkan pistolnya pada Sakura, jadi Sasuke yakin dialah pembunuh Sakura.

Sudah begitu pemuda ini juga malah makan cokelat dengan santainya, sambil melihat Tokyo di bawah sana. Membuat Sasuke tambah ingin menghajarnya. Namun sebelum tangannya hendak maju, seseorang bertanya padanya.

"Siapa dia Ojou-sama?" Sasuke menoleh, ketiga bodyguardnya tampak menghampiri dirinya.

"Ah maaf aku hanya ingin menghibur gadis ini. Tadi kulihat dia menangis jadi kuberi cokelat."

Sasuke mendengus, pemuda ini benar-benar pandai berakting. Ia akui saat menjadi Souma, di drama Love Chef, pemuda ini begitu pintar berakting.

"Tunggu, cokelatnya tidak kau racuni kan?" tanya bodyguard Sasuke yang bergender wanita.

"Tidak kok, tadi aku sempat menggigitnya sedikit."

Sasuke melihat cokelat yang tadi masuk ke mulutnya, benar ada gigitan kecil. Sebentar, bekas gigitan si pemuda, lalu dimasukan ke mulutnya? Indirect kiss dong? Rona merah pun langsung muncul di pipinya.

"Lebih baik kita pulang Ojou-sama, hari semangat malam, tidak baik untuk kesehatan anda," ujar bodyguard berambut cokelat panjang. Sasuke menangguk, lagipula dia tidak suka berdekatan dengan pemuda yang telah membunuh Sakura.

"HEI, JANGAN LUPA NANTI MALAM DI KEDIAMAN KLAN INUZUKA!" teriak si pemuda sepeninggal Sasuke dan ketiga bodyguardnya pergi. Meskipun begitu teriakannya terdengar jelas oleh Sasuke dan ketiga bodyguardnya. Membuat tanda tanya muncul dikepala mereka. Apa maksudnya?

***nyanyanyanyanyanyanyanya***

Konoha salah kota besar yang ada di Jepang. Kota yang terkenal dengan empat patung berwajah pemimpinnya. Kota yang separuh penduduknya adalah polisi dan Anbu. Yang bertugas menjaga keamanan Jepang. Kota tempat kelahiran Itachi.

Di depan sebuah rumah besar bergaya Istana Jepang Zaman Edo. Itachi berdiri.

"Loh, anda Itachi-sama bukan? Ada apa malam-malam kemari?" tanya penjaga rumah tersebut. Memakai topeng bergambar hewan, khas Anbu. Tak heran rumah ini milik klan yang disegani di Konoha. Wajar jika penjaganya adalah Anbu.

Itachi tak menjawab pertanyaan sang penjaga. Saat sinar bulan purnama tertutup awan hitam, kedua tangan mengeluarkan pedang Ashura dan pedang Indra, yang langsung dipakai menebas kepala kedua penjaga.

Crash!

Kedua penjaga tak sempat melawan. Karena kecepatan yang dimiliki Itachi. Mereka dan Itachi memang sama-sama Anbu. Namun kekuatan mereka berbeda. Itachi bukan Anbu biasa. Ia Anbu kepercayaan Hokage. Ia juga keturunan Uchiha. Ia juga anggota Akatsuki. Jelas Itachi mudah mengalahkan para Anbu tersebut.

Lihatlah sekarang, rumah yang indah itu, telah berlumuran darah.

Crash!

Suara tebasan.

Jleb!

Suara tusukan.

"Arghhhhhh!"

Suara teriakan.

Bagaikan okestra di malam bulan purnama. Dan Itachi bertindak sebagai Konduktor. Menganyunkan kedua tongkat untuk mengatur irama musik okestra. Yang dibalut dengan wajah dingin nan datar. Pertunjukan yang membuat kedua penonton di atas atap rumah itu menyeringgai melihatnya.

Apalagi dengan di tambah dengan kedatangan pemusik tambahan, yang membuat salah satu penonton itu tambah memperlebar senyumannya.

Lalu dilanjutkan dengan Itachi memasuki bagian utama okestra tersebut. Itachi memasuki kamar mantan kekasihnya.

Mantan kekasihnya bernama Inuzuka Hana. Kepala keluarga klan Inuzuka juga. Mengingat kedua orang tua klan Inuzuka sudah meninggal. Sang ibu tewas saat melahirkan adik Hana dan sang ayah tewas karena menjalankan tugas dari Hokage.

Sehingga jimat cerberus kini dipegang oleh Hana. Sudah menjadi tradisi klan Inuzuka, jimat tersebut diwariskan oleh kepala keluarga.

Itachi melihat seorang gadis yang memiliki tato segitiga di kedua pipinya. Tidur dengan damai di atas tempat tidur berseprai putih. Itachi naik dan merangkak ke atas tempat tidur. Ia harap Hana tidak terbangun. Tapi harapannya kandas. Hana mendadak membuka matanya, saat merasakan tempat tidur bergoyang karena ulah Itachi.

Itachi menahan nafas.

"Itachi?"

"Hana...maaf...aku..."

Hana bangkit dan duduk, lalu memeluk Itachi. Onyx Itachi terbelalak. Jantungnya berdetak kencang. Perasaan rindu mendadak muncul.

"Aku senang kau datang..." Hana melepaskan pelukannya. Gadis itu tersenyum. Hana hanya memakai pakian tidur tanpa lengan, berwarna merah muda. Bagian depan berenda. Dan kedua belah dadanya terlihat. Itachi tertegun.

Itachi menyukai gadis itu. Namun Itachi lebih menyayangi adiknya. Ia mengusap pipi Hana. Lalu memeluk Hana. Wajahnya didekatkan pada wajah Hana. Dan Hana tanpa sadar menutup mata. Hingga akhirnya tak ada jarak mengeliminasi.

Bibir mereka saling bersentuhan, menekan, memagut, sampai pada french kiss.

Itachi mendorong Hana. Pakaian tidur Hana dilepas, menyisakan pakian dalam. Membuat Itachi langsung mengusap pelan bahu, leher dan perut. Bibirnya pun berpindah ke leher.

Malam yang panas. Itachi sudah seperti ba***ngan. Bagaimana tidak setelah ini ia akan membunuh Hana. Tapi Itachi pria normal. Disuguhkan gadis dengan pakaian tidur, membuatnya agak...

Ditambah, ia ingin memberikan kesenangan untuk gadis yang akan dibunuhnya. Setidaknya Hana akan tewas dengan bahagia.

Baik sepertinya kini penulis yang tertawa mendengar rencana gila Itachi. Tekanan yang diberikan pada Itachi, membuatnya perlahan berubah.

"Ita...shhhh...hahhh...hahhh..."

Tangan Hana menggaruk-garuk jubah Akatsuki Itachi. Kakinya mendorong-dorong seprai. Tubuhnya berkeringat. Gadis itu sudah tanpa busana.

"Ukh...Ita...shhhhh...hahhh...ITACHI!"

Gadis yang sudah menjadi wanita itu tersenyum dan akhirnya jatuh tertidur. Tatapan Itachi kembali kosong. Ia mengambil pedang di bawah tempat tidur. Yang tadi ia taruh sebelum bersetubuh dengan Hana.

Ia melepaskan pedang Indra dari sarungnya. Di luar sana, awan hitam menjauh dari bulan. Cahaya bulan akhirnya bisa masuk melalui celah jendela. Itachi mengambil jimat yang mengalungi leher Hana. Lalu setelah itu ia...

Jleb!

"Nii-sama?!"

***TBC***

Yo minna, Nao kembali, makasih yah yang udah fav and review fic Nao

Oke waktunya review:

ItaKyuu1023: gak kok tachi gak dieksekusi, di chap ini udah terjawab, tachi mau diapain ama naru, kalau romance sih ada cuman yah gak terlalu banyak

uzumaki megami: udah dilanjut

AprilianyArdeta: sudah terjawab di chap ini

askasufa: naru emang punya rencana lain , thanks

Guest: thanks

Araihitsu: oke thanks buat reviewnya

Anonymous: chap kemarin pendek yah? Semoga ini agak panjang

Uzumaki Prince Dobe-Nii: itanaru? Ha ha kayaknya gak bakal ada deh,

MikazukinoAka: sudah dilanjut

nusantaraadip: semoga ini lebih panjang

Syiki894: tuntutan story, dia harus kejam~

Oke makasih minna, see you next time~