Disclaimare

Naruto Belong To Masashi Kishimoto

Warning

OOC, Genderbend, Alur ngejelimet, Typo dan Penulis masih Amatir

***mulai***

Di dalam sebuah limousine berwarna dark blue, Sasuke duduk sambil menopang dagunya dengan tangan kanan yang diletakkan pada kursi empuk, dengan warna hitam. Matanya tertuju pada jendela hitam anti peluru. Gadis berambut hitam senada dengan warna langit di kala malam itu, sedang memikirkan kata-kata yang dilontarkan oleh pemuda yang dibencinya, saat di Tokyo Tower.

'Memangnya ada apa di rumah Hana-nee?' tanya Sasuke dalam hati.

Tangannya yang menopang dagu berpindah ke atas kursi. Badannya yang semula miring menghadap kursi supir, dibelokkan menghadap para bodyguardnya, Neji yang sedang memutar-mutar pisau kecil miliknya, Rin yang sedang bermain laptop, dan Kakashi yang sedang membaca buku bersampul kuning, namun berisi konten khusus dewasa.

"Kakashi cepat katakan Kotetsu untuk ke kediaman Hana-nee!" perintah Sasuke.

Neji menghentikan kegiatannya memutar-mutar pisau kecil. Menatap tajam ke arah Sasuke. Membuat Sasuke merasa tidak nyaman. Sebenarnya berada satu mobil dengan Neji, ditambah pemuda berambut cokelat panjang bak model iklan shampo itu adalah bodyguardnya, membuat Sasuke semakin merasa tidak nyaman.

"Apa kau sedang memikirkan kata-kata pemuda berkacamata tadi? Siapa dia?" tanya Neji dengan nada seakan sedang memerintah. Jika bukan seorang Uchiha, maka saat ini Sasuke akan ketakutan menghadapi Neji, namun gadis itu masih berwajah lempeng bak jalan tol.

"Dia adalah orang yang membunuh Sakura dan Hinata," jawab Sasuke jujur dan pelan. Berbohong pun percuma, karena para bodyguardnya sangat ahli dalam memeriksa kebohongan seseorang. Membuat mata tanpa pupil Neji membelalak lebar.

Tak hanya Neji, Kakashi pun langsung menutup buku yang ia baca. Tangan Rin juga berhenti menari-nari di atas keyboard laptop berwarna hitam, yang ada dipangkuannya.

"Kenapa kau tidak bilang? kau tahu itu kesempatan emas untukku membunuhnya!" ungkap Neji dingin masih menatap tajam pada sepasang onyx Sasuke. Kedua tangannya terlihat terkepal erat, hingga buku-buku jarinya merobek telapak tangannya, dan membuat darah terjatuh ke lantai limousine.

"Karena dia bilang padaku akan membunuh orang-orang di Tokyo Tower, jika aku memberitahukan hal ini pada kalian."

Kepalan dikedua tangan Neji melemah mendengarnya. Lalu tangan kanannya mengepal lagi dan meninju sofa tempatnya duduk. Sasuke sadar Neji kesal karena tak bisa membalaskan dendamnya pada pemuda itu. Dan itulah alasan keduanya kenapa Sasuke tak memberitahukan identitas pemuda itu pada bodyguardnya terutama Neji.

Supaya pemuda berambut cokelat itu tidak balas dendam. Balas dendam yang bisa membuat Neji kehilangan nyawa. Sasuke tak mau itu terjadi. Sasuke sudah berjanji pada Sakura untuk menjaganya dan tidak membiarkan pemuda berambut cokelat itu balas dendam yang ada gunanya.

"Ma...Ma...Kalau begitu lain kali kami tidak akan menuruti Oujo-sama, jika Oujo-sama ingin menyendiri lagi, yang tadi itu cukup berbahaya," ungkap Kakashi berusaha mencairkan suasana yang tegang.

"Jadi lebih baik kita tidak usah ke tempat kediaman Klan Inuzuka, kalau misalkan yang dikatakan Ojou-sama benar, berarti sesuatu yang buruk pasti terjadi di kediaman Klan Inuzuka, dan kita tidak bisa kesana kalau sesuatu yang buruk terjadi. Itu sangat berbahaya bagi keselamatan Ojousama!" tambah Rin.

"Tidak bisa kita tetap ke sana, aku khawatir dengan Hana-nee," tolak Sasuke.

"Tapi Ojou-sama..."

"Jika kalian berdua tidak mau mengantarkan Ojou-sama ke tempat Klan Inuzuka, biar aku saja yang mengantarkan Ojou-sama ke sana!" ujar Neji sudah terlihat tenang, setelah tadi melampiaskan kemarahannya dengan memukul kursi.

"Tidak, aku tidak setuju. Aku perintahkan kalian semua ikut aku. Hanya Neji saja, sama saja mengantarkanku ke jurang kematian," tolak Sasuke lagi.

"Kau meremehkanku Ojou-sama. Baik begini saja, biar aku yang memeriksa ke sana, dan Ojou-sama tetap disini. Bukankah dengan begitu Ojou-sama akan aman? Kau setuju denganku kan Rin?" usul Neji.

"Sudah kubilang aku meminta kalian bertiga ikut denganku ke tempat Hana-nee. Tidak ada penolakan ini perintah!"

Kakashi memijat keningnya mendengar ke-keraskepalaan Sasuke. Rin menghela nafas, sedangkan Neji mendengus kesal.

"Ma...ma...sudahlah. Neji, Rin, tugas kita bukan memprotes apa yang ingin dilakukan Sasuke Ojou-sama. Tapi melindunginya. Jika dia ingin ke tempat Hana-chan, ya sudah kita kabulkan. Nah Ojou-sama anda mau diantar kemana?" tanya Kakashi mendinginkan suasana yang tidak enak, karena pertengkaran Neji dan Sasuke.

"Apa kau tuli? Sudah kubilang antarkan aku ke tempat Hana-nee!" jawab Sasuke seraya memutar bola matanya muak dengan sikap Kakashi yang mirip seorang Host sedang menjual dirinya, pada gadis-gadis yang datang ke Host Club.

"Yes my lord." Sasuke hanya mendengus mendengarnya. Membuat mata Kakashi membentuk huruf u terbalik dan setelahnya langsung mengetikan sesuatu pada ponselnya, menelepon Kotetsu supir baru Sasuke, untuk berangkat menuju kediaman klan Inuzuka.

***nyanyanyanyanyanya***

Pria berambut pirang panjang seleher sibuk berkutat dengan kertas-kertas di atas meja dari kayu mahoni. Hingga ballpointnya berhenti bergerak, karena suara ketukan pintu. Pria itu menyuruh masuk, orang yang mengetuk pintunya. Dan berdirilah Anbu bertopeng Anjing, dihadapan meja yang penuh tumpukan kertas yang menggunung.

"Lapor Hokage-sama, ada penyusup masuk ke kediaman klan Inuzuka. Menurut Anbu yang bertugas di sana, penyusupnya menghabisi hampir semua Anbu yang berjaga beserta orang-orang klan Inuzuka. Anbu yang melapor itu juga akhirnya tewas, setelah berhasil kabur dan membawa berita ini!" ujar sang Anbu to the point.

Raut keterkejutan melanda, namun wajah pria berambut pirang yang notabene adalah Hokage pemimpin Konoha, berubah ke bentuk semula, datar kembali sedatar teplon yang belum dipakai memasak.

"Siapa penyusup itu?" tanya sang Hokage.

"Menurut laporan dia adalah yang kita kenal. Uchiha Itachi."

Kembali terkejut dan mata terbelalak lebar. Lalu menghela nafas. Menetralkan emosi dan berusaha tetap tenang.

"Baiklah, kerahkan semua Anbu, tangkap Uchiha Itachi hidup-hidup. Jangan biarkan dia lolos!" titah Hokage.

"Ha'i Hokage-sama!" jawab sang Anbu yang langsung meninggalkan kantor Hokage.

Kedua tangan langsung di taruh di atas meja. Jarinya dikaitkan dan kepalanya mencium ke jemarinya. Pandangannya menatap lurus pada pintu kantor Hokage.

"Itachi, aku tidak menyuruhmu membunuh warga Konoha. Pasti ada sesuatu terjadi, sehingga membuatmu berkhianat," guman sang Hokage sepeninggal Anbu bertopeng Anjing.

***nyanyanyanyanyanya***

Naruto sialan. Remaja yang kini menjadi atasan Itachi itu, telah membuatnya mati kutu dihadapan sang adik, yang kini menatapnya tak percaya. Itachi yakin seratus persen, reuninya dengan adik tercinta, pasti ulah Naruto.

Berpikir, apa yang harus Itachi lakukan sekarang? jujur? menjelaskan kalau dia melakukan pembunuhan demi sang adik?

Seperti sang adik akan percaya padanya. Dimanapun pembunuh itu tidak bisa dipercaya. Bersikap dingin dan jahat? Seperti tokoh abu-abu dalam cerita, berpura-pura jahat tapi sebenarnya demi orang yang disayangi?

Ya, sepertinya itu pilihat tepat yang Itachi pilih.

"Nii-sama katakan padaku, aku sedang bermimpi?" tanya sang adik mendongak, menatap sepasang onyx Itachi. Seolah sepasang onyx yang sama dengan Itachi itu seperti berkata meminta penjelasan dari apa yang dilakukan Itachi.

"Kau tidak bermimpi yang kau lihat adalah kenyataan," jawab Itachi dengan nada datar.

"Kenapa? Sakura bilang Nii-sama yang menyelamatkanku dari insiden pembunuhan Hinata. Nii-sama tahu itu membuatku bertambah rindu padamu dan bertambah bangga padamu. Tapi sekarang, kau telah menghancurkan rasa banggaku padamu!"

Itachi hanya diam, tak bisa membalas. Hingga ia dikejutkan oleh serangan lemparan pisau oleh pemuda berambut cokelat panjang yang berdiri di belakang sang adik.

Syut!

Jleb!

Itachi menghindar dan pisau itu menancap pada dinding yang bisu. Tak cukup sampai disitu dari samping seseorang menendangnya. Tapi Itachi langsung menangkap kakinya. Namun si penyerang malah tak mau menyerah dan menodong leher Itachi dengan pisaunya.

"Apa kau yang membunuh Istri dan Adikku?" tanya orang itu dingin. Itachi tak menjawab lagi. Ia masih diam.

"Jawab aku bedebah!"

"Neji turunkan pisaumu pada Aniki-sama!" perintah sang adik, seraya memegang tangan pemuda berambut cokelat, yang sedang mengarahkan pisaunya pada Itachi.

"Jangan mengangguku Sasuke!" tolak Neji.

"Kau berani membantahku Neji, bahkan kau memanggilku dengan nama! Buang pisaumu sekarang!"

"Kenapa kau membelanya Sasuke? Dia tidak pantas menjadi kakakmu!"

"Sejahat apapun Aniki-sama, dia tetaplah kakak kandungku. Walaupun dia sudah menghancurkan rasa banggaku terhadapnya. Dia tetaplah Aniki-samaku. Lagipula Nii-sama pasti punya alasan kenapa ia melakukan semua ini. Nah Nii-sama, jelaskan padaku kenapa kau melakukan semua ini?"

"Aku melakukannya karena aku ingin," jawab Itachi yang akhirnya bicara juga.

"Oh, jadi setelah membunuh Hana-nee, Nii-sama berbohong padaku?"

Jujur Itachi terkejut, adiknya masih membelanya. Adiknya juga tahu kalau dirinya sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi tentu saja Itachi tak mungkin membuka mulutnya. Mulut telah ia kunci dan kuncinya telah ia buang ke dalam jurang. Kenyataan yang sebenarnya akan terus ia simpan. Tak peduli jika sang adik membencinya ataupun ajal menjemputnya. Kenyataan itu akan terus ia simpan.

Bruagh!

"Yo, maaf mengganggu!" ungkap seorang pemuda bertindik yang mendadak jatuh dari atap. Membuat langit-langit berlubang.

Tak sampai disitu, semua benda ringan bertebangan. Itachi melihat ke atas Puluhan meter sebuah helikopter terbang. Jadi Yahiko si pemuda bertindik jatuh dari helikopter. Jatuh menghatam atap dan langit-langit kamar Hana.

Namun Yahiko terlihat biasa saja setelah jatuh dari ketinggian puluhan meter. Membuat mata sang adik dan pemuda berambut cokelat, seakan berkata 'Apa dia sudah gila?!'

"Itachi, cepat naik, para Anbu sudah menyerbu tuh," perintah Yahiko. Itachi mengangguk dan langsung menendang si pemuda berambut cokelat yang sedang lengah.

Pemuda itu ditendang hingga menghancurkan dinding kamar, lalu menabrak sofa ruang tengah, hingga sofa tersebut terjungkal ke belakang.

Berikutnya Itachi juga memukul tengkuk sang adik, hingga ia hampir terjatuh ke lantai yang keras, kalau tidak ditangkap Itachi.

"Kejamnya memukul adik sendiri~" ungkap Yahiko sambil bersiul melihat pemandangan reuni adik kakak didepannya.

Itachi tak menanggapi dan memilih menggendong sang adik ala bridal style dan menaruhnya ke sebelah mayat Hana, dengan perlahan. Seakan sang adik adalah vas yang sangat rapuh dan mudah pecah.

"Ojou-sama!" teriak seorang wanita berambut cokelat pendek yang baru datang dari arah pintu kamar, bersama dengan pria berambut silver.

"Wah, wah makin banyak yang datang nie, Itachi cepat naik ke atas!" perintah Yahiko bersamaan dengan tangga tali yang diturunkan dari helikopter.

Itachi menurutinya dan dengan cepat ia melompat ke atas tangga tali, diikuti dengan Yahiko. Wanita berambut cokelat langsung menembaki Itachi dan Yahiko dengan kedua pistolnya.

Dor! Dor!

Trang-trang

Tapi langsung ditangkis oleh pedang Itachi. Dan saat tangga tali hampir sampai ke pintu helikopter, Itachi melempar pisau ke arah pria berambut silver.

Syut!

Yang langsung ditangkap dengan mudah oleh si pria rambut silver.

Bersamaan dengan itu, helikopter meninggalkan kediaman klan Inuzuka, diikuti angin kesedihan dari baling-baling helikopter, meniup lembut rambut hitam sang adik, yang air matanya mengalir, walaupun kedua mata tertutup.

***nyanyanyanyanya***

Menyeringgai melihat sebuah foto yang disodorkan oleh Kakashi. Foto dari dalam surat yang diikat dengan pisau yang dilempar Itachi ke arah Kakashi.

Sementara Kakashi menikmati kopi di pagi hari yang dibuatkan oleh Ayame asisten pribadi Hokage, setelah insiden di rumah klan Inuzuka. Mata yang memancarkah hidup segan mati tak mau itu, melirik sebentar, melihat seringgai yang jarang diperlihatkan oleh Hokage.

"Lalu apa rencana Hokage-sama?" tanya Kakashi kemudian masih menyerumput dengan tangan kanan memegang ganggang cangkir dan tangan kiri memegang buku mencurigakan.

"Biarkan dia bermain dulu, jika saatnya tiba aku akan membawanya kembali," jawab Hokage.

"Rasanya sulit kalau dia ada di sana," balas Kakashi.

"Kau berbicara seakan-akan aku lebih lemah dari tempatnya berada."

"Tidak Hokage-sama. Hanya ingin mengingatkan tempatnya itu adalah sarang singa."

"Aku tahu, makanya kubilang, biarkan dia bermain dulu. Lagipula informasi dari Itachi masih kurang. Kita butuh informasi yang banyak untuk mengalahkan musuh. Paling tidak aku tahu, Itachi tidak berkhianat, dia masih melakukan apa yang kuperintahkan."

***TBC***

Jawab Pertanyaan:

Syiki894: diusahakan yah

Taqieyya746: bukan tapi Yahiko

ItaKyuu1023: iya, mungkin tapi masih lama

Reiko Kanazawa: iya, iya ada konflik keluarga

Ryan69: yup ngambil dari genryou dan hxh

Zara Zahra: iya di ambil dari hxh, seumuran Sasuke

See You Minna dan Makasih semua yang review dan follow maaf update lama