Disclaimare

Naruto Belong To Masashi Kishimoto

Warning

OOC, Genderbend, Typo, Penulis Amatir

***mulai***

Konoha adalah kota yang berada di dekat pelabuhan negara HI. Kalau dari Tokyo yang merupakan ibu kota negara HI, ke Konoha harus naik kereta selama tiga jam dan naik mobil selama empat jam perjalanan.

Di tempat inilah artis muda yang dijuluki Ratu Antagonis lahir. Di sebuah rumah bergaya istana Edo. Dia adalah Uchiha Sasuke. Artis multi talenta yang kini sedang menekuni perfilman dan sedang membuat album baru.

Ayah Sasuke bernama Fugaku Uchiha. Seorang ketua Anbu di Konoha. Ibunya adalah Mikoto Uchiha, mantan artis yang kini berprofesi sebagai perancang busana para artis terkenal. Kecantikan dan bakat seorang enterpreneur Sasuke memang turunan dari Mikoto.

Saat ini gadis yang juga dijuluki Ratu es karena sifat dingin dan pendiamnya itu, sedang terbaring lemah di atas ranjang berseprai biru kehitaman, dan bergambar bintang-bintang. Sejak kejadian di kediaman Inuzuka, Sasuke langsung demam tinggi selama satu minggu. Banyak kejadian buruk yang terjadi, membuatnya jatuh sakit.

Di hari ketujuh akhirnya panasnya turun dan onyxnya terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah lembut sang ibu.

"Sasu-chan, syukurlah kau sudah sadar, kaa-san khawatir sekali," ungkap Mikoto seraya memegang tangan pucat Sasuke, yang masih agak hangat karena pengaruh demam.

"Kaa-san, aku... Nii-sama... Hana-nee..." ucapan Sasuke terputus-putus dan langsung dibungkam oleh telunjuk Mikoto.

"Sudah Sasu-chan. Kaa-san sudah mendengar ceritanya dari Kakashi. Kau istirahat saja, pulihkan tubuhmu yah," pinta Mikoto tersenyum.

"Tapi Kaa-san, aku...aku benar-benar merasa lemah. Aku ingin jadi kuat, supaya bisa membawa Nii-sama kembali. Aku percaya dia tidak bersalah. Walaupun aku kecewa dengan apa yang dilakukannya..."ungkap Sasuke.

Mendengar hal itu Mikoto langsung memeluk tubuh lemah Sasuke. Kalau boleh jujur, Mikoto juga sama lemahnya. Sampai tidak bisa mendidik anak sulungnya dengan benar. Mikoto juga percaya kalau anak sulungnya tidak bersalah. Tapi disisi lain, ia tak ingin anak gadisnya ikut terlibat dalam masalah ini, karena Mikoto tak ingin kehilangan anak lagi.

"Sudah Sasu-chan. Kau tak perlu memikirkan kakakmu. Semua ini sudah menjadi urusan ayahmu. Tugasmu adalah tetap mewujudkan impianmu sebagai artis. Kakakmu... biarlah ayahmu yang mengurus."

"Tapi Kaa-san..."

"Sasu-chan, Kaa-san mohon jangan lakukan hal-hal yang berbahaya lagi. Kaa-san tidak mau kehilangan anak lagi...jadi tolong mengertilah Sasuke..."

Akhirnya Sasuke pun menuruti keinginan ibunya. Namun hanya di depannya saja. Hatinya masih keukeuh ingin menangkap pimpinan Akatsuki dan membawa kakaknya pulang. Tapi untuk saat ini ia akan menuruti kata-kata ibunya.

***nyanyanyanyanyanya***

Wajah itu masih datar. Tak ada ekspresi sama sekali. Membuat segitiga siku-siku banyak mampir dikening putih yang tertutup poni hitam. Tak hanya itu sepatu boot hitamnya terus dihentakkan tak sabar menunggu jawaban dari Neji.

"Tidak bisa. Aku dibayar menjadi bodyguard bukan sebagai guru Juudo!" tolak Neji tegas.

"Tapi aku butuh kekuatan untuk melawannya!" paksa Sasuke.

"Kau berlatih sampai badanmu hancur pun, tak mungkin bisa mengalahkan pimpinan Akatsuki. Kau lihat sendiri bagaimana klan Inuzuka sampai dihancurkan dengan mudah. Anbu pun tak berkutik. Mereka juga dengan mudahnya membunuh para mafia. Kau hanyalah artis kecil yang baru naik daun. Melawan perampok profesional hanya dengan berlatih juudo? Jangan bercanda! Aku sendiri saja tak mungkin bisa mengalahkan mereka."

"Tapi kau juga ingin balas dendam bukan? Kita bisa bekerja sama bukan? Dengan kerja sama, kita bisa mengalah..."

"Tak mungkin bisa. Aku sadar... sewaktu dikalahkan oleh kakakmu dan kedatangan seorang pria bertindik yang membawa kakakmu pergi. Kekuatan kami bagai langit dan bumi. Bahkan walaupun ada Kakashi dan Rin, tetap tak bisa mengalahkan mereka."

Tanpa sadar Sasuke menelan ludah mendengar jawaban dari Neji.

"Sekuat itukah mereka?" tanya Sasuke masih tak percaya.

"Kau orang awam mungkin tak bisa memperkirakan bagaimana kekuatan mereka. Tapi aku sekali lihat sudah tahu, bahwa kita... bahkan mungkin Anbu dan Ne, bukan tandingan mereka..."

Tanpa sadar Sasuke terduduk lemas. Ia tak menyangka bahwa ia terlalu naif ingin melawan Akatsuki. Membalaskan dendam manajernya Sakura dan membawa kakaknya kembali. Walaupun ia punya tekad untuk jadi kuat, tapi itu tidak cukup. Tapi ia tak ingin menyerah. Ia ingin menyeret orang yang telah membunuh Sakura dan Hinata ke dalam jeruji penjara.

"Di atas langit masih ada langit kok, Neji-kun~" ungkap Rin yang mendadak nimbrung dalam percakapan serius antara Neji dan Sasuke. Membuat Neji dan Sasuke menoleh ke arah pintu Doujo tempat mereka berdua bercakap-cakap.

"Apa maksudmu Rin?" tanya Neji tak mengerti.

"Seven Deathly Sins. Para bocah prodigy. Teroris cilik yang membuat kekacauan diberbagai negara sepuluh tahun yang lalu. Kalau minta bantuan mereka mungkin ambisimu bisa terwujud," jelas Rin.

"Memang benar kalau mereka, pasti bisa mengalahkan Akatsuki. Tapi mereka itu seperti setan kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Tak ada yang tahu siapa mereka. Bahkan hacker nomor satu sekalipun, tak bisa menemukan data-data tentang mereka. Bagaimana mungkin kita bisa meminta bantuan pada mereka?"

"Mana mungkin tidak ada yang tahu Neji. Aku yakin bukan tidak tahu. Tapi pasti sengaja tutup mulut mengenai keberadaan mereka. Aku akan tanyakan ini pada ayah atau kalau perlu Hokage sekalipun. Aku yakin mereka tahu. Karena hanya para petinggi negara yang tahu tentang masalah Teroris cilik atau pun hidden war," ungkap Sasuke dan membuat Rin bersiul mendengarnya.

"Kau tahu tentang hidden war juga Sasu-chan?"

"Jangan bilang-bilang pada kedua orang tuaku Neji, Rin-chan. Kalau aku sangat tertarik dengan sejarah. Jadi aku belajar tentang menjadi hacker. Karena buku-buku sejarah saat ini, tidak menerangkan tentang sejarah sesungguhnya."

"Kau gadis kecil yang menarik Sasu-chan~" ungkap Rin yang langsung menerjang Sasuke dan memeluknya erat seperti memeluk boneka. Membuat segitiga siku-siku muncul dikening Sasuke dan berusaha untuk lepas dari pelukan maut Rin.

***nyanyanyanyanyanyanya***

"Kau ingin tahu tentang Seven Deathly Sins?" tanya Hokage tanpa melihat wajah Sasuke, Rin dan Neji, karena lebih memilih berkutat dengan kertas-kertas di atas mejanya.

"Iya Hokage-sama. Karena hanya mereka yang bisa mengalahkan Akatsuki," jawab Sasuke dengan wajah serius.

"Baiklah akan kuceritakan."

"EHHH?! SEMUDAH ITUU!" teriak Sasuke, Rin dan Neji OOC, karena dengan mudahnya Hokage bercerita. Mereka pikir akan ditutup-tutupi, tapi ternyata dengan entengnya Hokage mulai menceritakan tentang Seven Deathly Sins, yang merupakan tujuh anak, yang dibentuk oleh Hokage untuk tujuan merestart ulang lima negara.

Hokage terlihat jujur. Tak ada kebohongan. Dia bahkan dengan entengnya menceritakan bahwa kekacauan yang terjadi sepuluh tahun yang lalu adalah atas perintah Hokage dan Ayah Sasuke.

Sasuke tak mengerti. Ia mungkin adalah gadis cerdas. Tapi kalau diberitahukan informasi yang super duper penting dan disampaikan dengan sikap yang santai, membuat gadis itu menjadi pusing dan tak mengerti jalan pemikiran Hokage. Apakah kebohongan? Ataukah mimpi?

"Jadi begitulah Rin, Neji, Sasuke. Saat ini Seven Deathly Sins sedang terpisah-pisah. Aku tidak tahu dimana mereka sekarang. Sejak insiden di pulau Ame, tepat pada tanggal 14 Februari lima tahun yang lalu, yang dijuluki valentine berdarah. Mereka berpisah dan menghilang entah kemana," terang Hokage.

Wajah datar Neji. Wajah diam seribu bahasa Rin dan ekspresi kemarahan Sasuke, terlihat setelah Hokage menceritakan tentang Seven Deathly Sins, pada mereka.

"Jadi Shisui-niisan adalah salah satu dari seven deathly sins?" tanya Sasuke dengan ekspresi datar namun kedua tangan terkepal erat.

"Benar. Dia tewas pada saat insiden valentine berdarah lima tahun yang lalu. Insiden dimana pertarungan pertama antara Akatsuki dan Seven Deathly Sins terjadi. Pertarungan itu terjadi karena Akatsukilah dalang dari kasus 31 Februari. Kasus yang membuat Konoha menjadi kota mati, karena Virus Chimera. Aku sama sepertimu Sasuke, ingin Akatsuki hancur. Karena mereka memang patut mati. Jadi jika kau ingin mencari Seven Deathly Sins, aku akan membantumu!"

***nyanyanyanyanyanya***

Jari-jari tannya menari-nari di atas piano hitam. Mendendangkan gabungan nada-nada Chopin dan Mozart. Cukup aneh memang, di dalam rumah bergaya Edo ada alunan musik piano. Memang itu salah satu hobby Naruto.

Musik itu bagaikan penyemangat hidup. Memberi kekuatan bagi yang lemah. Memberi hiburan bagi yang sedih. Namun Naruto memainkan musik hanya sebagai hobby. Menjadi perampok membuatnya agak stress. Dengan bermain piano, ia merasa stressnya sedikit hilang.

Lalu saat saphirenya terbuka, musiknya berhenti dan yang pertama dilihatnya adalah kesebelas anak buahnya sedang duduk bersimpuh di atas bantal di depan kotetsu, sambil menikmati teh hijau buatan Konan.

"Jadi apa laporan kalian?" tanya Naruto menatap satu persatu anak buahnya.

"Beberapa kurirku tertangkap. Polisi dan Anbu sudah mengendus boneka yang kujual, yang di dalamnya terdapat obat terlarang," jawab Sasori.

"Aku juga sama, senjata-senjata ilegalku disita di pelabuhan Kiri un," tambah Deidara.

"Pemasukan kita untuk bulan ini hanyalah jimat keberuntungan klan Inuzuka dari Itachi dan Batu Meteor dari desa Bintang yang dirampok Kisame dan Hidan," ungkap Kakuzu.

"Setelah kegagalan di pelelangan. Polisi dan Anbu makin waspada dengan pergerakan kita. Jadi wajar jika bisnis Sasori dan Deidara kurang berjalan dengan lancar," kali ini yang berbicara adalah Kuro Zetsu.

Naruto mengetuk-ngetuk bagian atas piano.

"Hm, sepertinya masih lama untuk membeli pulau Ame. Ya sudahlah. Sasori, ganti bisnis bonekamu dengan bisnis permen. Untukmu Dei, jual senjatamu pada negara-negara yang sedang berkonflik dan juga para teroris. Kuro Zetsu bantu Sasori dan Shiro Zetsu bantu Deidara!" perintah Naruto.

"Aku jadi seperti bukan perampok dan pebisnis un, seperti ikutan jadi teroris un," ungkap Deidara.

"Kau tetaplah perampok dan pebisnis Dei. Bukan teroris. Yang kita butuhkan hanyalah uang yang banyak. Jadi pekerjaan apapun, mau dikira membantu teroris sekalipun tak masalah. Asalkan dapat uang. Kalau tidak seperti itu, kita tak mungkin bisa membeli pulau Ame," jawab Naruto.

"Iya sih, Un."

"Oke... lalu untuk Itachi dan Kisame, misi kalian berikutnya adalah merampok kalung hitam yang ada di makam piramida di Suna. Untuk Hidan dan Kakuzu adalah merampok empat lukisan alam karya pelukis ternama Shimura Sai. Tanyakan pada Konan dimana lukisan-lukisan itu berada!" perintah Naruto lagi kali ini pada Itachi, Kisame, Hidan dan Kakuzu.

"Naruto aku, Nagato dan Konan nganggur lagi nie~ Asyik dong, aku mau kencan dengan para ga..."

Bugh

Sebuah suara sepatu membungkam ocehan Yahiko. Membuat wajah Yahiko terdapat bekas sepatu hak warna biru donker milik Konan dan para anak buah Naruto hanya sweatdrop melihat nasib ngenes, Yahiko.

"Yah, kalian jaga markas lagi. Tapi minggu depan kalian akan kuajak ke rumah Kyuubi. Aku mau minta bantuannya untuk masalah sepuluh God Father dan Ne. Tak bisa hari ini karena aku ada jadwal dengan Terumi-san," jawab Naruto yang tampak face palm dengan adegan lempar sepatu ke wajah Yahiko.

Perkataan terakhir Naruto membuat wajah Yahiko, Konan dan Nagato langsung pucat pasi.

"Kuharap Jashin-sama mengampuni dosa kalian," ungkap Hidan.

"Jangan mati sebelum membayar hutang-hutangmu untuk membeli majalah porno, Pein!" kali ini yang berbicara Kakuzu dan perkataan Kakuzu membuat wajah Yahiko kembali terkena lemparan sepatu hak milik Konan.

"Untung kita punya bisnis senjata ilegal dan obat terlarang ya Un, kalau tidak akan bernasib seperti trio itu ya, danna un," ujar Deidara pada Sasori yang ditanggapi anggukan oleh pemuda berambut merah itu.

"Kalau begitu kita harus membeli bendera kuning Shiro,"ujar Kuro Zetsu.

"KITA BELUM MATI ZETSU!" teriak Yahiko, Konan dan Nagato bersamaan, karena tanggapan absurb dari teman-temannya, minus Itachi, yang hanya menatap punggung Naruto yang meninggalkan ruang piano, tempat pertemuan para Akatsuki.

'Kyuubi? Apalagi yang direncanakan Naruto?' tanya Itachi dalam hati.

***nyanyanyanyanyanyanya***

Setelah percakapan dengan Hokage, Sasuke kembali ke dunia artisnya. Ini semua atas saran Hokage. Hokage bilang alangkah lebih baik yang mencari informasi tentang Seven Deathly Sins biar Hokage saja. Sedangkan Sasuke, nanti yang akan bicara pada Seven Deathly Sins, kalau sudah ketemu.

Lagipula Sasuke juga tidak diijinkan oleh Fugaku dan Mikoto. Hokage sangat menghormati kedua orang itu, jadi Hokage mencoba membujuk Sasuke agar jangan terlalu terburu-buru. Fokus saja dulu sama karier dan berlatih juudo dengan Neji, yang menurut Hokage mungkin bisa berguna.

Jadilah Saat ini Sasuke kembali bermain film. Yang anehnya ia masih bermain dalam film Love Chef. Padahal Hinata sudah meninggal. Tapi Mei Terumi sang produser masih keukeuh untuk melanjutkan film ini.

Mau tidak mau Sasuke tetap melanjutkan syuting film ini. Tapi tiba-tiba sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Terumi muncul dengan Menma alias Naruto alias pemimpin Akatsuki.

Sepasang Onyx Sasuke menatap tak percaya. Gelas air minumnya pun jatuh tak berdaya ke atas lantai, menimbulkan bunyi pecahan yang nyaring, karena sangat terkejut akibat kedatangan Naruto dan Terumi.

"Aku tahu kalian semua pasti menganggap aku adalah pembunuh Hinata-chan. Karena aku adalah orang terakhir yang bersama dengan Hinata-chan. Sasuke-chan juga bersaksi pada polisi, kalau aku ada dalam mobil bersama Hinata-chan. Tapi aku bersumpah aku tidak melakukan itu. Saat itu... aku bersama dengan Terumi-san. Namun jika kalian masih tidak percaya, tidak apa-apa, aku mengerti. Aku... hanya orang baru yang difitnah sebagai pembunuh, jadi mana mungkin kalian percaya begitu saja..." ungkap Naruto menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar seperti ingin menangis. Salah satu tangannya memeluk erat lengan atas tangan lainnya.

Sasuke ingin muntah dengan akting sempurna dari Menma atau Naruto. Dia juga tak mengerti bagaimana bisa Naruto lolos dari hukum. Para kru film dan artis juga nampaknya masih tak percaya dengan peristiwa ini.

"Apa yang dikatakan Menma-kun memang benar. Aku sedang berkencan dengan Menma-kun. Makanya Menma-kun dibebaskan dari tuduhan. Jadi kalian jangan salahkan Menma-kun. Yang salah adalah pembunuh Hinata-chan. Dia adalah pembunuh profesional. Pasti pembunuh itu menyamar sebagai Menma-kun, supaya identitasnya tidak ketahuan," tambah Mei Terumi.

Beberapa Kru Film dan artis terlihat mulai mempercayai perkataan Naruto dan Terumi. Tapi tidak dengan Sasuke. Dia yakin seratus persen yang membunuh Hinata adalah Menma atau Naruto. Bukan pembunuh yang jago menyamar. Pasti ini adalah salah satu rencana Menma atau Naruto. Sasuke yakin seratus persen.

Tapi ia tidak bukti kuat. Untuk saat ini Sasuke hanya bisa diam dan mengawasi gerak-gerak Naruto. Mungkin dengan begitu, ia dapat ditemukan bukti kuat untuk menyeret Naruto ke dalam jeruji besi.

***nyanyanyanyanyanyanya***

Malam ini sungguh melelahkan bagi Terumi. Membuat film yang diwarnai dengan insiden kematian artisnya dan dituduhnya aktor kesayangannya sebagai pelaku. Lalu mengklarifikasi berita ini pada pers, kru film dan para artis, kalau semua ini bukan ulah aktor kesayangannya. Tapi pembunuh berdarah dingin yang jago menyamar.

Mei Terumi, lelah fisik, hati dan batin. Tapi semua itu terbalas dengan ciuman panas yang diberikan aktor kesayangannya. Pesta di sebuah klub malam. Ciuman panas dan nantinya akan diakhiri adegan panas. Semua itulah yang bisa mengobati rasa lelah Mei.

"Terima kasih Terumi-san berkatmu aku bebas dari tuduhan," ungkap Naruto tersenyum polos layaknya malaikat tak berdosa, setelah melakukan ciuman panas dengan Terumi.

"Apa yang kulakukan ada bayarannya loh Menma-kun~" jawab Terumi.

"Bercinta sampai kau puas?" tanya Naruto mengerti maksud Terumi. Walaupun dalam hati ia jijik harus bercinta dengan wanita yang dua puluh tahun lebih tua darinya.

"Bukan Cuma itu~" Kening Naruto mengernyit tak mengerti, dengan apa yang dimaksud Terumi.

"Kau mau minta apalagi Terumi-san?" tanya Naruto.

"Jadikan aku pemimpin Negara Kiri. Bunuh Mizukage keempat. Menma-kun oh salah ... Naruto-kun oh salah lagi Bo-ru-to-kun~" jawab Terumi sambil memeluk leher Naruto yang kini mata saphirenya terbelalak lebar mendengar ucapan tak terduga dari Terumi.

Dan tanpa disadari oleh Terumi dan Naruto, seseorang yang duduk di belakang sofa, tempat Terumi dan Naruto melakukan ciuman panas, ikut terbelalak juga sepasang onyxnya.

***TBC***

Gomen pengen bales review kalian tapi bingung mau jawab apa

Soalnya saya masih berusaha menyatukan puzzle yang saya buat

Tentang Minato, Seven Deathly Sins, dan Akatsuki~

Tapi disini di chap ini sudah terungkap dikit sih

31 Februari itu adalah tanggal terjadinya Konoha terserang Virus Chimera (ada di chap spesial kemarin yah)

14 Februari adalah pertarungan pertama Seven Deathly Sins melawan Akatsuki yang merupakan dalang dari tanggal 31 Februari, jadi Minato sudah tahu dalangnya adalah Akatsuki, Pertarungan itu ada di Pulau Ame, Dalam pertarungan itu Shisui mati, salah satu Seven Deathly Sins juga dan Kakak Sasuke, kembaran Itachi, putra kedua keluarga Uchiha~

Lalu kata-kata akhir Mei Terumi Naruto itu Boruto... ada yang ingat siapa Boruto? Kalau baca chapter spesial kemarin pasti tahu~

Oke sekian dulu, See You~