Disclaimare

Naruto belong to masashi kishimoto

Warning

Genderbend OOC

***mulai***

"Naruuuuuuuuuuuu~"

Bugh!

Satu kata 'sweetdrop', saat melihat pria melambai berlari layaknya banci celeng, hendak memeluk Naruto, namun detik berikutnya langsung mendapat bogeman dari Naruto, membuat pria melambai itu jatuh dengan tidak elit, alias jatuh menungging. Dan kata 'sweetdrop' pun menjadi double saat melihat Nagato menancapkan nisan di depan pria menungging itu, sambil berdoa semoga pria melambai itu diterima oleh Jashin-sama.

"Nagato-chan teganya... aku belum mati tahu!" tangis si pria melambai, yang sudah bangkit lagi dari jatuhnya.

"Naru-chan juga tega, aku kan kangen, tapi malah dapet bogem cinta..." Naruto memutar bola mata. Dalam hati ia bersyukur pria berwajah ular ini, sudah keluar dari Akatsuki. Kalau belum, mungkin tensi darah Naruto akan terus meningkat menghadapi pria melambai di depannya.

"Maafkan Orochimaru-sama Naruto, dia memang begitu," ungkap seorang pria berkacamata yang datang bersama pria berwajah ular bernama Orochimaru.

"Aku tak mengerti, bagaimana caranya kau menghadapi Orochimaru, Kabuto?" tanya Yahiko pada pria berkacamata bulat yang dipanggil Kabuto, olehnya.

"Sejujurnya... kalau bukan guruku, aku mungkin sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Naruto," jawab Kabuto tersenyum, tapi kata-katanya tajam, membuat orang-orang yang berada di bawah tanah Rumah Sakit Konoha, bersweetdrop ria kembali.

"Kau juga tega Kabu-chan..." tangis Orochimaru lagi, tapi detik berikutnya langsung berhenti karena melihat tatapan tajam dan aura membunuh dari Kabuto, yang seolah mengatakan 'bicara lagi mati'. Membuat Orochimaru memilih pundung dipojokkan, seraya berteriak dalam hati kenapa dia punya murid yang Kowaiii...

"Kalau begitu kau langsung saja Kabuto! Itachi dan Kisame ada di dalam," perintah Naruto dengan nada datar. Kabuto mengangguk dan langsung ke dalam kamar UGD, setelah sebelumnya menyeret Orochimaru dari pundungnya.

Detik berganti menit dan menit berganti jam. Jarum panjang dan pendek pada jam dinding terus berputar. Saat ini yang menunggu di Bawah Tanah Rumah Sakit Konoha hanya Naruto, Yahiko dan Kabuto.

Sementara Sasori dan Deidara sudah pulang karena harus mengurus bisnis illegal mereka, yaitu menjual senjata dan obat-obatan terlarang. Sementara Kakuzu dan Hidan juga pulang karena masih harus mencari 3 lukisan milik pelukis ternama Sai, soalnya mereka baru mendapat satu lukisan saja. Mengingat lukisan-lukisan itu ada di empat tempat berbeda, di Shibuya, Shinjuku, Osaka dan Hokkaido.

Tiba-tiba Nagato berdiri dari kursi tunggu yang terletak tak jauh dari pintu UGD.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto dan Nagato langsung menulis-nulis sesuatu pada papan tulis putih kecil, yang selalu di bawa olehnya. Nagato memang tidak suka bicara, lebih suka menulis seperti Elizabeth tokoh yang ada di majalah Jump kesukaan Naruto. Ya... bisa dibilang selain suka Idol Jepang yang cantik-cantik, Naruto juga suka baca Jump. Memang cocok dijuluki pemimpin Otaku, Naruto ini.

'Ke kantin, aku haus, kalian mau kubelikan minum juga tidak?' Begitulah yang tertulis di papan tulis putih kecil itu, dengan tulisan Hiragana. Soalnya Nagato kurang bisa menulis kanji, jadinya tulisannya selalu Hiragana atau Katakana.

"Es kopi kaleng dan rokok sebungkus," jawab Yahiko.

"Orange Juice kaleng," jawab Naruto.

Sret...sret...

Suara spidol yang menari-nari di atas papan tulis kecil.

'Oke.'

Lalu keheningan kembali melanda kedua pemuda yang bisa membuat rona merah mampir di wajah, para suster atau dokter wanita yang lewat.

"Pein, nanti tolong katakan pada Konan tambahkan dijadwalku, untuk membunuh Mizukage ke empat dan mintakan juga data-data Mizukage ke empat serta data Mei Terumi," perintah Naruto memecah keheningan. Perintah Naruto membuat Yahiko berwajah horor, seolah mengatakan 'apa maksudmu?'

"Aku lengah. Mei Terumi bukan wanita biasa. Dia sama sepertiku, tukang bohong dan data-datanya yang diberikan Konan padaku palsu semua. Dia tahu aku adalah Boruto. Dia juga memintaku membunuh Mizukage ke empat. Jadi aku tak punya pilihan lain, selain menuruti permintaannya," jelas Naruto yang mengerti akan raut wajah yang terpancar pada Yahiko.

"Tapi Naruto... bukankah akatsuki itu organisasi perampok, bukan teroris yang seenaknya membunuh pemimpin sebuah negara. Apa yang kau lakukan akan membuat dunia bergerak!" ungkap Yahiko.

"Maaf Pein, aku belum siap membongkar identitasku. Lagipula Mei Terumi membayarku dengan harga yang tinggi. Kau tahu kan kita membutuhkan uang yang banyak untuk membeli pulau Ame beserta isinya. Aku... akan melakukan apapun demi membebaskan 'mereka' dan kalian dari 'jeratnya'!" Yahiko menghela nafas mendengar kata-kata Naruto.

"Ya sudahlah, apapun itu aku akan tetap mendukungmu, bukan aku saja sih, tapi semua anggota Akatsuki akan terus ada di belakangmu."

"Ya... terima kasih..."

Yahiko tidak menjawab, jujur saja ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Naruto. Bukan karena membunuh Mizukage ke empat, bakal di cap teroris, bukan itu. Atau Mizukage ke empat yang sebenarnya sama prodigy-nya dengan Naruto, juga bukan itu. Karena Yahiko sendiri yakin Naruto akan berhasil, meskipun Mizukage ke empat dan Naruto sama-sama prodigy, sejak masih kecil.

Tapi Yahiko tidak setuju karena membunuh bisa mempengaruhi kesehatan Naruto. Kita semua tahu, Naruto itu phobia darah dan mayat, namun sebenarnya lebih dari itu.

Yahiko, Nagato dan Konan, bertemu Naruto kecil di pulau Ame. Naruto dibawa 'Olehnya' dan 'Dia' bilang Naruto akan menjadi 'kartu as' bagi Akatsuki.

Akatsuki awalnya bukan organisasi perampok. Tapi organisasi teroris. Organisasi yang selalu ikut dalam hidden war. Membuat Naruto kecil selalu dilibatkan dalam peperangan. Entah itu dalam pemusnahan sebuah negara kecil atau pembunuhan orang penting atau pemusnahan sebuah klan.

Yahiko dulu menganggap Naruto itu keren. Soalnya kecil-kecil sudah membunuh dengan tampang datar dan tidak ada ekspresi.

Tapi suatu ketika ia melihat sisi lain Naruto. Sewaktu berkunjung di penjara tempat Naruto dikurung. 'Dia' memang mengurung Naruto di penjara bawah tanah di Istana Ame.

Saat itu... Yahiko melihat Naruto kecil gemetaran sambil memegangi dadanya. Yahiko mendekati Naruto dan bertanya padanya.

'Sakit...sakit sekali...'

'Aku memenggal ayahnya...anak itu menangis...sakit...sesak...'

'Aku membunuh anaknya...dia berteriak padaku...aku pembunuh...'

'Aku benci darah...aku benci mayat...itu membuatku menjadi monster...aku takut...'

Dari situ Yahiko pikir Naruto tetaplah anak kecil biasa. Apa yang dilakukannya waktu itu membuatnya trauma. Apalagi setelah tahu identitas Naruto sebenarnya dan keseharian Naruto dari Konan.

Seorang pembunuh tapi bukan pembunuh biasa. Naruto membunuh penjahat, seperti polisi. Naruto selalu menganggap dirinya pahlawan, karena yang dibunuhnya adalah penjahat.

Tapi setelah dibawah 'olehnya', mau tidak mau Naruto harus membunuh warga sipil. Tahu kan? pembunuhan negara kecil, pemusnahan suatu klan, itu kan artinya membunuh warga sipil tak berdosa. Dan hal itu membuat Naruto menjadi sosok yang rapuh.

Mirip dengan Itachi yang seorang Anbu, tugasnya membunuh penjahat, namun... setelah masuk Akatsuki, dipaksa membunuh orang lemah tak berdosa, dan membuat Itachi shock, meskipun waktu itu wajahnya datar setelah membunuh warga tak berdosa pertama kalinya, Yahiko tetap tahu Itachi langsung frustasi melakukan hal itu. Karena Yahiko memang mampu membaca sorot mata seseorang.

Sorot mata Itachi waktu itu sama dengan sorot mata Naruto kecil. Frustasi membunuh orang yang tak bersalah, tapi harus melakukannya, karena mereka sudah menjadi Akatsuki.

Jika dilihat dari jauh Naruto kecil terlihat kejam, membunuh dengan wajah datar dan tanpa ekspresi. Begitu pula dengan Itachi menebas kepala orang dengan santainya. Tapi kalau dilihat dari dekat... maka akan terlihat kerapuhan mereka.

Hal ini membuat Yahiko paham akan suatu hal, tak ada orang yang ingin menjadi pembunuh. Tak ada orang yang ingin menjadi villain. Hanya psikopat atau penderita kelainan jiwa saja yang suka membunuh. Karena beban membunuh seseorang itu sangat berat.

Yahiko, Konan dan Nagato pun tak ingin jadi teroris. Tak ingin membunuh. Tapi mereka terpaksa menjadi teroris demi Negaranya Ame. Negara kecil yang menjadi korban peperangan, makanya langit selalu menangis di tempat itu.

Tak tahan dengan melihat Naruto yang sudah ia anggap adik sendiri, seperti itu, membuat Yahiko memberontak 'darinya'. Yahiko ingin negaranya bebas dari Hidden War yang diprakasai 'olehnya'.

Namun ternyata 'jawabannya' diluar dugaan, 'Kalau mau bebas kalian harus membeli Negara Ame beserta isinya, artinya carilah uang yang banyak agar kalian bisa bebas!'

Dan akhirnya Yahiko mengubah Akatsuki menjadi organisasi perampok. Melarang Naruto ikut merampok dan menyuruhnya jadi ahli strategi saja di Akatsuki. Makanya Naruto jarang ikut aksi perampokan.

Tapi sekarang Yahiko jadi memijat kepalanya, karena setelah lelah jadi pemimpin Akatsuki dan memberikan posisi itu pada Naruto, bocah itu malah ingin ikut aksi perampokan.

'Aku sudah tak ingin bersembunyi lagi. Aku ingin membantumu Pein. Aku tahu kau juga sama sepertiku, kau ingin membebaskan orang-orang Ame dari 'belenggunya'. Kau, Nagato dan Konan, melakukan ini bukan cuma ingin menolongku, tapi juga ingin menyelamatkan orang-orang Ame 'Darinya'. Sekarang aku sudah menjadi pemimpin Akatsuki, maka aku harus berhenti bersembunyi lagi. Aku akan membunuh meskipun harus membuatku sakit, karena aku ingin membuatmu, Nagato, Konan dan orang-orang Ame, bebas 'darinya'."

Yahiko hanya bisa pasrah dengan kekeraskepalaan Naruto. Dan sekarang Yahiko harus memijat keningnya lagi, setelah mendengar cerita dari Naruto.

Lima belas menit kemudian Nagato kembali membawa rokok dan minuman yang dipesan Yahiko dan Naruto. Satu jam berikutnya Orochimaru dan Kabuto keluar dari UGD, serta membawa kabar bahwa Itachi dan Kisame sudah bebas dari racun gympie-gympie, hanya tinggal menunggu keduanya sadar saja.

Orochimaru memang dokter sekaligus ilmuwan yang hebat. Padahal Sasori itu ahli dalam racun dan Kakuzu adalah dokter bedah terbaik di Akatsuki, tapi kemampuan mereka masih dibawah Orochimaru.

Sebenarnya ada juga dokter hebat sama seperti Orochimaru, namanya Tsunade, dokter pribadi Hokage keempat.

"Kau tak perlu mengkhawatirkan anak buahmu lagi Naru-Naru, dan jangan lupa transferannya. Soalnya aku butuh biaya banyak untuk penelitianku," ujar Orochimaru setelah keluar dari ruang UGD.

"Kau masih meneliti mutan?" tanya Naruto.

"Yah begitulah, itu menyenangkan, apalagi penelitianku dihargai oleh petinggi dunia, khu...khu...khu..."

"Bukan dihargai tapi memang mereka butuh untuk hidden war bukan?" ujar Yahiko.

'Setelah perang nuklir sekarang jadi perang mutan,' tambah tulisan tangan Nagato.

"Kau tau manusia itu tak akan pernah puas sampai mendapatkan apa yang diinginkan, dan akan melakukan apapun, meskipun harus membuat anak sendiri menjadi mutan," tambah Kabuto.

Naruto hanya mendengus mendengarnya. Para pemimpin dunia memang tak jauh beda dengan Akatsuki, sama seperti 'Dia'. Pencetus Hidden War sejak dahulu kala. Naruto membenci hal itu, namun ia tidak bisa berkomentar karena dirinya sendiri juga seorang villain.

Tapi Naruto tetepa membenci Mutan.

Mutan adalah manusia yang sel-selnya berkembang lebih cepat dari manusia biasa. Membuat fisik mutan lebih kuat dari manusia biasa, bahkan lebih dari Akatsuki atau Seven Deathly Sins.

Tapi menjadi Mutan ada efek sampingnya. Menjadi Mutan itu seperti zombie di film-film. Tidak terkendali dan seperti hewan liar. Selain itu umur Mutan pendek, hanya sepuluh hari. Dan matinya mutan pun tragis kulit-kulitnya tumbuh bisul-bisul, lalu akhirnya meledak hingga berkeping-keping. Bisa dibilang Mutan itu seperti bom waktu berjalan.

Naruto pertama kali melihat mutan saat 'Dia' membawanya ke laboratorium Orochimaru. Bisa dibilang Orochimaru adalah peneliti pribadi 'Dia'.

Naruto melihat sendiri dari anak-anak hingga orang dewasa telanjang di taruh dalam tabung berisi air. Ada beberapa dari mereka yang meledak sama seperti ketika Mutan mati. Jadi tak semua bisa jadi Mutan. Untuk menjadi Mutan butuh waktu sebulan. Dalam sebulan itu akan terjadi apakah calon Mutan mengalami peledakan diri atau tidak.

Sungguh percobaan manusia, yang membuat Naruto jijik. Itulah yang membuat Naruto mengeluarkan Orochimaru dari Akatsuki. Membuat Orochimaru harus merengek-rengek seperti bocah yang diambil dotnya. Tapi karena Naruto mengancam akan meledakan Manda ular kesayangan Orochimaru, maka pria melambai itu pun diam.

Lagipula Orochimaru sepertinya tidak cocok dengan Naruto. Naruto benci mutan. Dan Orochimaru tidak bisa berhenti untuk meneliti Mutan. Orochimaru memang terobsesi pada organ dalam manusia. Ia terus meneliti manusia. Dan akhirnya menghasilkan Mutan.

Kalau Orochimaru tetap menjadi Akatsuki, Orochimaru yakin Naruto akan meminta Deidara meledakan Manda sekaligus Penelitiannya. Orochimaru bisa mati berdiri. Jadi lebih baik ia keluar. Mencegah lebih baik dari pada memperbaiki bukan?

***nyanyanyanyanyanyanyanya***

Konoha Air Lines mendarat di Bandara Suna. Sasuke turun dari pesawat kelas ekonomi, bersama dengan Rin, Neji dan Kakashi. Sasuke sengaja menggunakan kelas ekonomi supaya tidak mencolok. S

udah begitu ia juga menyamar jadi laki-laki lagi, supaya tidak ada yang tahu ada artis terkenal datang. Biasalah dunia ini kan dipenuhi paparazi. Bahkan orang biasa pun bisa menjadi paparazi, supaya bisa mendapatkan uang dari hasil penjualan foto-foto artis.

Apalagi beberapa samaran Sasuke sudah terbongkar di media, seperti menjadi gadis culun, atau jadi orang miskin. Sepertinya orang-orang sudah pandai membuka identitas samaran Sasuke. Atau mungkin karena Sasuke sering menyamar, supaya bisa keluar dari dunia artis yang melelahkan, makanya orang-orang sudah paham kalau gadis culun atau gadis pemulung adalah Sasuke Uchiha.

Sasuke memang dikenal juga sebagai artis yang nakal. Suka bolos dari syuting agar bisa makan dan minum di kedai favorit atau bermain di Game Center. Yah namanya juga masih remaja, jadi masih suka main.

Selain itu alasan Sasuke menyamar adalah supaya tidak ada yang tahu misinya yang sedang mencari orang-orang yang dapat menyelamatkan kakaknya.

Selain Sasuke, Rin, Neji dan Kakashi juga menyamar. Rin menyamar menjadi gadis berkacamata tutup botol sambil menggandeng Kakashi, layaknya pasangan suami istri. Kakashi bahkan membuka maskernya dan mengubah warna rambut menjadi hitam, serta menggandeng mesra Rin. Sedangkan Neji menyamar sebagai rapper yang terus ngerap sepanjang perjalanan menuju lokasi tujuan.

Lalu mereka pun Naik kendaraan yang berbeda. Tapi sebelumnya Rin sudah memberi earphone wireless, penyadap dan pistol pada Sasuke, sebagai perlindungan. Sasuke juga sudah diajari beladiri judo sedikit oleh Neji, untuk jaga-jaga, karena mereka harus berpisah, supaya identitas penyamaran tidak mudah terbongkar.

Kemudian Sasuke naik taksi untuk ke istana negara, tempat Kazekage empat bersama targetnya berada. Sementara Kakashi dan Rin naik mobil box sewaan. Lalu Neji naik motor.

Sesampainya Sasuke di istana yang lebih mirip piramid itu, Sasuke langsung menghubungi penjaga supaya bisa bertemu Kazekage. Setelah itu Sasuke di bawa ke sekertaris Kazekage. Ia seorang wanita berkuncir dua. Pada blazernya ada id card fotonya dan sebuah nama Sabaku no Temari. Persis seperti nama Kazekage ke empat Sabaku no Gaara.

"Maaf tuan, bisakah anda bertemu Kazekage besok, soalnya hari ini ada pertemuan penting dengan seseorang."

"Apa kau bilang?! Aku sudah janji dengan Kazekage dari dua minggu yang lalu, kenapa malah dibatalkan!" marah Sasuke mendengar penuturan dari sekertaris.

"Sekali lagi saya mohon maaf tuan."

Rasanya Sasuke ingin meninju seseorang. Ia baru tahu Kazekage orangnya tidak amanah. Tidak tepat janji, seenaknya membatalkan janji. Padahal Sasuke sudah susah-susah datang meskipun jadwal artisnya padat. Sudah begitu tidak istirahat dulu di hotel, dan langsung ke sini, padahal perjalanan dari Konoha ke Suna itu cukup melelahkan.

Tapi tiba-tiba ia terpaku, melihat seorang pemuda berambut pirang dengan mantel kulit yang kerahnya berbulu disampirkan di bahu, rambut disisir ke belakang, kacamata hitam bertengger. Diikuti seorang pria berambut oranye dengan pierching di wajahnya, memakai kemeja hawai yang terbuka kancingnya, sehingga memperlihatkan kotak-kotak diperutnya, serta celana pensil warna hitam dan sepatu boot, style yang aneh. Pria berambut oranye itu membawa tas untuk menaruh gitar. Mata pria berambut oranye itu berkedip centil ke arah Temari, membuat Temari pingsan di tempat.

Tapi berbeda dengan Temari, Sasuke yang memakai hodie abu-abu dan celana pensil biru tua dan sepatu boot hitam, tampak keringatan melihat kedatangan pemuda dan pria itu. Udara disekitar seakan menyekiknya.

'Apa yang dilakukannya di sini?'

Sasuke bertanya-tanya dalam hati, dan mumpung Temari sedang pingsan karena ulah pria berambut oranye, sedangkan penjaga lokasi berdirinya ada di depan pintu masuk, jadi tempat itu agak sepi, maka Sasuke memutuskan mengikuti pemuda dan pria itu.

Sasuke mengikutinya dengan jarak sepuluh meter seperti yang diajarkan oleh Neji, jika ingin membututi seseorang. Sasuke juga mengurangi hawa keberadaannya supaya tidak ketahuan oleh mereka, seperti yang diajarkan Rin. Selain itu Sasuke juga berjalan di tempat – tempat titik buta CCTV yang dipasang di istana sesuai yang diajarkan Kakashi.

Bisa dibilang semenjak bertekad mencari Seven Deathly Sins, Sasuke membujuk Neji, Rin dan Kakashi untuk mengajarinya beberapa hal yang membuatnya menjadi kuat.

Meskipun begitu Sasuke masih terlalu amatir. Ia tak sadar tindakannya sudah diketahui orang yang dibuntutinya. Tapi tetap membiarkan Sasuke mengikutinya, entah apa maksudnya.

***nyanyanyanyanyanyanyanya***

"Otouto, senang sekali bisa bertemu lagi," ungkap seorang gadis berkuncir kuda yang hanya memakai pengikat dada dan celana jeans, lalu langsung menerjang Naruto, begitu pemuda itu memasuki ruangan Kazekage.

"Enyah dariku Ino," ungkap Naruto dingin dan menyingkirkan gadis tersebut dari tubuhnya.

"Naruto jangan kasar dengan perempuan!" hardik Yahiko, kemudian langsung mengecup punggung tangan Ino dan membuat Naruto mendengus melihat sifat playboy Yahiko. Ino yang punggung tangannya dicium oleh Yahiko, langsung membanting pria itu dengan kasar dan menginjak perut Yahiko dengan sepatu haknya.

Bugh!

"Aku tak suka disentuh oleh sampah, mengerti!" ungkap Ino yang berubah drastis dari ceria menjadi dingin.

"Ino jangan lakukan hal itu pada tamu kita!" perintah Kazekage dengan wajah datarnya. Kaki Ino yang diperut Yahiko pun terangkat, lalu berbalik dan tersenyum pada Kazekage.

"Ha'i Gaara-sama," jawab Ino dan langsung bergelayut manja di leher sang Kazekage.

"Cih, jadi sekarang kau menjadi anjing Kazekage, Ino, Shikamaru!" ujar Naruto pedas.

"Mendokusai lalu kau apa Boruto? Anjing Akatsuki?" balas seorang pria berwajah mati segan hidup tak mau yang sedari tadi hanya diam, tapi sekalinya berbicara, kata-katanya tak kalah pedasnya dengan kata-kata Naruto.

"Aku bukan Boruto, aku Naruto, sampah!"

"Oi, oi Naruto tenanglah, aku sudah terbiasa menjadi korban BDSM seorang gadis, dan aku suka gadis yang sadist, sama seperti Konan," ungkap Yahiko yang langsung berdiri santai padahal baru saja dianiaya Ino, sedangkan Naruto hanya memandang Yahiko dengan tatapan yang seolah berkata 'Dasar Masochist!'

"Tolong jangan bertengkar diruanganku. Dan para tamuku, apa yang kalian inginkan hingga jauh-jauh datang ke istanaku?" tanya sang Kazekage masih berwajah datar.

"Tentu saja untuk membalaskan dendam Itachi dan Kisame, pada kalian!" desis Naruto yang langsung mengancungkan moncong FN-57 kesayangannya, ke arah kepala Kazekage.

Dor!

Peluru timah diluncurkan, tapi ditangkap dengan mudah oleh kedua jari yang diselimuti sarung tangan hitam milik Shikamaru.

"Mendokusai, berapi-api seperti biasanya," ungkap Shikamaru, sedangkan Naruto hanya mendecih kesal, karena Shikamaru lebih cepat sepuluh kali, dari terakhir ia bertemu. Sesuai dugaan Naruto, bahwa Seven Deathly Sins akan terus berkembang selama mereka tidak mati.

***nyanyanyanyanyanyanya***

Disisi lain jantung Sasuke berdetak dengan cepat, ketika mendengar pria dan pemuda itu menyebut-nyebut nama Kakaknya. Apa yang terjadi pada kakaknya? Apa yang telah dilakukan Kazakage dan teman-temannya pada kakaknya?

Jujur Sasuke ingin sekali mendobrak pintu bercat cokelat itu, tapi suara iterupsi dari earphone wirelessnya mencegahnya.

"Nona segeralah pulang dari tempat itu. Situasi telah berubah. Saat ini keselamatan anda yang utama. Jangan buat hal yang aneh-aneh nona! Saya mohon!"

Mendengar permintaan dari Bodyguardnya, Sasuke pun berusaha menenangkan dirinya. Lagipula siapa tahu ini hanya akal-akalan pria dan pemuda tadi, supaya Sasuke berpikiran buruk tentang penyelamatnya nanti. Selain itu ia tak ingin para bodyguardnya mengkhawatirkannya. Jadi ia pun segera meninggalkan tempat tersebut.

Tapi saat kakinya baru satu langkah meninggalkan pintu istana...

Blarr!

Suara ledakkan dari hadapannya terdengar menggema di telinganya. Bumbungan asap hitam melayang-layang di atas langit Sunagakure.

***nyanyanyanyanyanyanyanya***

Kilatan kemarahan terpancar di mata Ino, saat melihat asap hitam menari-nari ratusan kilometer dari depannya. Namun ia berusaha untuk tenang dan tersenyum manis. Saking manisnya cicak-cicak di dinding langsung kabur ke sarangnya.

"Otouto-kun, apa sebenarnya maumu?" tanya Ino dengan suara lembut dan imut, membuat Naruto ingin muntah saja.

"Sudah kubilang aku datang untuk balas dendam."

"Tapi aku yang membunuh kedua teman barumu. Kenapa orang-orang Suna yang menjadi pelampiasanmu?"

"Mendokusai, dan sejak kapan kau menjadi pengecut. Kalau mau balas dendam lawanlah aku atau Ino, bukan orang-orang Suna!"

"Pengecut? Shikamaru kau lupa atau pura-pura lupa! Aku perampok, aku tak peduli siapa yang akan kubunuh, mau itu kalian atau orang-orang Suna, tak ada pengecualian, yang penting dendamku terbalas!"

"Shikamaru, Ino, percuma berbicara dengannya, cepat segera tolong rakyatku!" perintah Kazakage dengan wajah datar, tapi secuil keringat mengucur di pelipisnya. Membuat Naruto menyeringgai melihat ulahnya.

***nyanyanyanyanyanyanyanya***

Surga di padang pasir itulah julukan bagi Sunagakure. Ditengah padang pasir yang kering, tandus dan kerontang, bahkan rumput pun enggan hidup di negara tersebut, Sunagakure muncul. Oasis paling besar dari negara-negara Oasis seperti mesir, atau negara timur tengah.

Sungainya bening sebening kaca. Pohon kurma tumbuh dengan subur. Rumput-rumput bahkan betah tinggal di Sunagakure. Kendaraan masih menggunakan unta. Penduduknya hidup dengan berdagang.

Meskipun begitu Sunagakure bukan kota yang menganut kehidupan pra sejarah. Mereka juga punya kehidupan modern. Bandara Sunagakure dibuat sangat megah dan modern, bahkan lebih megah dari bandara Dubai.

Namun negara itu kini menjadi lautan api, karena amukan dari empat orang berpakaian aneh.

Dimulai dari seorang pemuda androgini yang memborbardir perumahan Sunagakure, dengan basokanya.

Lalu seorang pemuda yang menggendong boneka, membuat jemuran manusia, sekali lagi kukatakan jemuran Manusia!

Rakyat Suna, digantung oleh benang-benangnya lalu digantung pada benang panjang lainnya, yang terhubung pada tiang-tiang , seperti jemuran.

Seorang pria berpakaian baju robek sebelah, menebas sepuluh orang dengan sabitnya dalam satu kali tebasan. Membuat sepuluh orang itu terpotong jadi dua, pinggang ke bawah dan perut ke atas.

Yang terakhir hanya duduk santai sambil bermain saham pada laptopnya, tapi sesekali tangannya melempar granat. Lemparannya sangat jauh, bagaikan pemain baseball pro.

Tak hanya itu pria dengan masker dimulut dan rambut panjang juga sedang memainkan game, bukan game biasa. Melainkan game yang mengontrol drone 'pesawat kecil tanpa awak' yang menembakkan peluru-peluru dan bom-bom berbentuk bola ping pong, buatan si pria androgini, tapi daya ledak hingga radius puluhan kilometer.

Suara tangisan, darah yang berceceran, teriakan-teriakan kesakitan menjadi satu dalam sebuah drama kematian yang ditulis oleh seorang sutradara berbakat, yang kini duduk santai di ruangan ber-ac tempat Kazakage ke empat, yang terus mengetuk meja, menanti kabar dari teman-teman lama sang sutradara.

***TBC***