Disclaimare
Naruto belong to Masashi
Warning
OOC, Genderbend, bahasa kasar
Genre
Crime, sci-fi, romance, friendship
Pairing
Untuk sementara NaruFemSasu, tapi nanti ada pairing lain
***mulai***
Baru kali ini Sasuke melihat pembantaian kejam dengan mata kepalanya sendiri. Mengerikan tak cukup untuk menggambarkan apa yang dilihatnya.
'Apakah ini ulahnya?'
Kalau benar maka Sasuke sudah bulat keputusannya. Membawa orang itu ke Neraka. Bahkan siksaan neraka, tak kan cukup untuk menghukum orang itu.
'Ini sudah keterlaluan!'
Tangan terkepal erat, onyx terpancing pada seorang Nenek yang kejatuhan papan baliho. Kaki ramping berlari, ke tempat sang Nenek. Mengangkat papan besar, dengan tangan mungilnya. Berat. Tapi kata menyerah tak ada dalam kamusnya.
Dengan keringat bercucuran. Urat-urat yang menonjol keluar, Sasuke berhasil, mengangkat papan itu, lalu melemparkannya dari kaki Nenek yang kejatuhan baliho. Sasuke langsung memapah Nenek itu, meskipun nafasnya tinggal satu dua karena habis mengangkat papan yang berat.
Tertatih-tatih Sasuke membawa sang nenek, seraya mencari-cari sesuatu yang dapat membawa sang nenek ke rumah sakit dengan cepat. Untung tak lama. Ambulans menepi dan menggantikan Sasuke membawa si nenek ke rumah Sakit.
Sasuke tersenyum lega melihat sang nenek selamat. Tapi bantuannya belum bisa mengubah apapun yang terjadi di Sunagakure. Meskipun begitu Sasuke tetap mencoba menyelamatkan anak-anak yang menangis dan membawanya ke tempat yang aman. Lalu menghibur mereka sebisanya. Membantu mengangkat bebatuan bersama-sama warga Suna, supaya orang-orang yang tertimpa bebatuan bisa selamat. Serta memapah korban-korban yang terluka ke ambulans.
Hingga akhirnya Sasuke bertemu dengan pria bermuka baby face, berambut merah dan sedang bermain-main dengan tali yang digunakan untuk mengendalikan seseorang. Lalu seseorang yang dikendalikan pria tersebut, menembaki para warga tak bersalah.
Pemandangan di depannya membuat onyx Sasuke menjadi semakin kelam dan detik berikutnya...
Crash!
***nyanyanyanyanyanyanya***
Untuk kali ini tampang wajah Shikamaru berubah serius, melihat okestra kematian di depan kedua mata kuacinya. Lalu matanya melihat ke atas langit, drone...drone dan drone... benda kecil yang tampak keasikan membunuh warga Sunagakure.
Langsung saja Shikamaru mengambil smartphone miliknya. Menekan-nekan touchscreen smarphonenya. Entah apa maksudnya, ia yang sedang duduk bersila di atas atap sebuah rumah, tampak asyik dengan smartphone-nya.
Menit berikutnya, drone...drone... itu mendadak meledak satu persatu.
Blarr!
Blarr!
Rupanya Shikamaru meng-hack controller pesawat mini tanpa awak itu, dengan menggunakan smartphone-nya. Shikamaru memang salah satu Seven Deathly Sins yang jago meng-hack.
Tak hanya seorang hacker yang handal, tapi Shikamaru juga jago membuat virus komputer. Virus buatannya tidak bisa diobati dengan anti virus canggih sekalipun. Sangat kuat, hingga membuat laptop atau komputer mati dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Itulah yang dilakukan Shikamaru saat ini, setelah meng-hack controller pesawat mini tanpa awak tersebut, Shikamaru juga memberikan hadiah virus mematikan pada laptop Kakuzu yang merupakan controller drone tersebut.
Hal ini mengakibatkan Kakuzu mencak-mencak kesal, karena laptop mahal yang dibelinya rusak gara-gara Shikamaru. Kakuzu pun bertekad menagih uang dengan bunga seratus kali lipat pada Shikamaru, karena telah merusakan laptop kesayangan.
Setelah laptop kesayangan Kakuzu rusak, pria pelit itu pun beralih pada smartphone miliknya, ia menekan-nekan touchscreen pada smartphonenya. Entah apa yang sedang dilakukannya, apakah meng-hack ? sama seperti Shikamaru, atau melakukan hal lainnya.
Beberapa menit kemudian Shikamaru yang sedang menguap karena menang mudah, mendadak di serang dari belakang. Sebuah Sabit hendak menebas kepalanya, tapi untungnya Shikamaru berhasil menghidar.
Tapi sayangnya ia kehilangan keseimbangan, dan malah jatuh dari atap rumah bertingkat tiga, dengan kepala di bawah kaki di atas.
Bruagh!
Suara jatuhnya sangat keras, dan aspal dibawah sampai hancur karena bertabrakan dengan Shikamaru. Sementara Hidan yang menyerang Shikamaru, hanya menatap angkuh pada Shikamaru yang terjatuh.
Hidan bisa menyerang Shikamaru, berkat Kakuzu yang memberitahukan lokasi pemuda tersebut. Sepertinya tadi Kakuzu melacak Shikamaru dengan smartphone-nya. Setelah ketemu, Kakuzu menyuruh Hidan menyerang Shikamaru, tag team menganggumkan, guman Shikamaru dalam hati. Yah bisa dibilang biarpun sudah jatuh dari lantai tiga, dengan kepala di bawah, Shikamaru masih hidup.
Bukan hanya itu saja, ia juga masih bisa menebak dengan tepat, bahwa Hidan dapat menemukan posisinya, berkat si pengontrol drone, setelah melihat burung gereja yang bertengger dibahu Hidan. Shikamaru menebak burung gereja itu pasti hanya robot pengintai, karena burung gereja tidak hidup di Sunagakure.
'Mendokusei, lawan-lawan yang sulit,' ungkap Shikamaru dalam hati.
***nyanyanyanyanyanyanyanya***
Bersalto, melompat, kayang, split, tubuh yang lentur dan cepat itulah salah satu kemampuan dari Yamanaka Ino. Selain ahli dalam tanaman beracun, Ino juga ahli dalam akrobatik dan tubuhnya sangat lentur. Ino memang terlahir sebagai pemain sirkus, hobi bercocok tanam dan sangat menyukai bunga. Sehingga membuatnya sangat mahir dalam akrobatik dan pandai meracik tanaman obat atau tanaman beracun tepatnya.
Dan saat ini Ino sedang sibuk menghindari rentetan peluru dan Basoka yang ditembakkan oleh Deidara, dengan lincahnya. Meskipun rentetan peluru itu cukup merepotkan, namun Ino tampak menikmatinya, malahan ia menghindari sambil tersenyum, seperti penari yang menikmati tariannya. Lalu begitu Deidara lengah, Ino sudah berada di atas Deidara, dan menendang pemuda Androgini itu dengan sepatu hak kuning mencolok kesayangannya.
Duagh!
Deidara yang memang lemah terhadap pertarungan jarak dekat tak bisa berkutik. Melihat hal itu membuat seringgai kesenangan terpancar di wajah Ino, wanita berkepala dua itu pun melancarkan tendangan demi tendangan pada Deidara.
Perut, tengkuk, kaki, punggung, kepala, wajah, seluruh tubuh Deidara tak luput dari tendangan Ino. Dan pemuda itu hanya bisa menerima, tidak bisa membalas. Luka demi luka mulai muncul satu persatu. Darah terus menerus keluar dari tubuh Deidara.
Lalu serangan terakhir membuat Deidara menabrak sebuah toko bunga, hingga masuk ke dalamnya dan memecahkan pot-pot bunga di dalam toko tersebut.
Ino menghela nafas. Tak disangka ternyata Akatsuki selemah ini, pikirnya. Ino pun berhenti bermain-main dan akan mengakhiri serangannya. Ia berjalan menuju toko bunga tempat Deidara terhempas.
Tok Tok Tok
Bunyi sepatu hak terdengar nyaring di atas aspal. Tak menyadari suatu bahaya sedang membututinya dan akhirnya seringgai terpampang di wajah penuh luka.
"Bodoh!"
Blarrr!
Ledakan terjadi dari bawah sepatu hak Ino dan membuat wanita berambut pirang pucat itu, terhempas hingga puluhan kilometer. Lalu akhirnya mendarat pada toko barang pecah belah, membuat Ino harus dihujani puluhan serpihan pecahan kaca yang pecah.
Tapi sama seperti Shikamaru, meskipun sudah jatuh dari lantai tiga atau terkena ledakan, Ino masih tetap hidup, namun tentu saja dengan keadaan yang membuat pria meneguk ludah. Badan penuh luka, celana robek-robek, serta separuh pengikat dada yang ikutan robek, Ino hampir telanjang bulat, karena ledakan tersebut.
"Ukh sial, ternyata dia tak selemah kukira," rutuk Ino.
Sementara itu di tempat Deidara. Pemuda tersebut tampak baik-baik saja, meskipun dipenuhi luka dari Ino. Ia bahkan berdiri dan berjalan dengan santainya, setelah berhasil membuat ranjau darat tanpa ketahuan Ino.
Sebelum memulai okestra kematian di Sunagakure, Deidara memasang bom di bawah tanah pertokoan atau di trotoar. Bom itu akan aktif karena sensor berat dari kaki manusia atau roda-roda kendaraan.
Makanya saat Ino masuk ke toko bunga itu, ledakan langsung terjadi. Selain sensor berat Deidara juga harus mengaktifkan waktu. Jadi saat di toko tadi, Deidara harus menekan remot untuk mengaktifkan waktu, baru bom bisa aktif. Setelah itu Deidara yakin Ino pasti akan masuk dalam pertokoan dan bum ledakan terjadi.
Deidara memang sengaja merancang bom yang harus aktif dulu waktunya dengan remot, baru ledakan akan terjadi, ketika kaki manusia menginjak lokasi bom yang di tanam dalam lantai toko atau aspal trotoar, supaya menghindari tingkat sensitivitas sensor beratnya.
Tahu sendiri sensor berat itu sangat sensitif, terbukti dari pintu otomatis yang memang memakai sensor berat, kalau orang masuk pintu langsung terbuka. Kalau tidak pakai remot dan hanya pakai sensor, bisa-bisa ledakan terjadi sebelum pesta kembang api dimulai.
Deidara memang lemah dalam pertarungan jarak dekat. Tapi Deidara termasuk jenius dalam merakit bom. Selain itu Deidara juga adalah anggota akatsuki yang paling tahan bantin. Luka segini tak ada artinya. Deidara pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini, bahkan sejak ia masih dalam kandungan ibunya.
Deidara lahir di dalam penjara. Ibunya adalah pelacur yang di penjara karena membunuh kliennya. Saat itu ibunya sedang hamil dirinya. Dan beberapa kali hampir keguguran, karena dipukuli tahanan lain.
Setelah keluar dari penjara pun, Deidara menjadi pelacur sama seperti ibunya. Ia melakukan seks dengan laki-laki dan perempuan. Fisik Deidara yang seperti perempuan memang membuatnya populer dikalangan laki-laki dan perempuan.
Namun menjadi pelacur itu tak gampang, kadang ada saja yang memukulinya. Gara-gara hal tersebut indra perasanya menjadi mati. Maka dari itu ketika ia dibuat babak belur oleh Ino, Deidara tidak merasakan sakit sekalipun.
Tiba-tiba Handy Talky miliknya bergetar. Deidara pun mengangkat handy talky-nya
"Ya, un," jawab Deidara.
"..."
Seringgai langsung terpancar di wajah Deidara, ketika mendengar panggilan dari handy talky tersebut. Hal ini karena orang yang berbicara dari handy talky itu berkata bahwa misi berhasil, sekarang tinggal mencari dimana Sasori, Hidan dan Kakuzu, untuk pulang kembali ke markas.
Deidara pun berjalan dengan santai, ia sudah tidak memperdulikan Ino, karena memang perintahnya adalah mengobrak-abrik Sunagakure. Walaupun sebenarnya perlakuan Ino, membuatnya ingin memperkosa dan memutilasi Ino.
Tapi berhubung Deidara tak ingin dimutilasi ketuanya, makanya ia mengurungkan niatnya tersebut.
Kakinya terus berjalan mencari Sasori dengan langkah tertatih-tatih karena luka yang dideritanya. Tadi ia sudah menghubungi Hidan dan Kakuzu bahwa misinya sudah selesai, dan mereka sudah dalam perjalan menuju tempat pertemuan. Namun Sasori tidak menjawabnya. Deidara merasa aneh, jadi pemuda androgini itu memutuskan mencari Sasori dengan kakinya.
Hingga akhirnya langkah kakinya terhenti. Mata yang tak tertutup poni melirik ke kanan. Mata tak terpercaya melihat sesuatu yang mengerikan, hingga memutuskan seluruh tubuh berbelok ke arah jam sembilan.
Tubuh melemas dan jatuh terduduk saat sudah berada di dekat seseorang yang membuat mata tak percaya. Mulut terkatup tak tahu harus berkomentar apa, sesosok manusia yang perutnya berlubang hingga ususnya keluar. Ribuan paku menusuk tubuhnya hingga menembus dinding batu yang membuat jalanan tersebut buntu.
Tepat di bawah kaki manusia itu sebuah tulisan darah dengan huruf Hiragana 'Aku kembali, by Lucifer'
"SASORI-DANAAAAAAAA!" teriakan pilu pun menggema di Sunagakure.
***nyanyanyanyanyanya***
Entah mengapa sejak tadi Gaara merasa gelisah. Bukan karena penyerangan ini, namun ada sesuatu yang mengganjal dari lubuk hatinya. Rasanya ada yang terluput dari perhatiannya. Ia pun mencoba menguraikan apa yang terjadi sebenarnya.
Menurut Shikamaru, Naruto adalah pimpinan Akatsuki. Setahunya Akatsuki adalah perampok. Tapi mengapa jadi teroris yang menyerang negaranya?
Tunggu! Kalau tak salah beberapa hari yang lalu Akatsuki hendak merampok pusaka negara Sunagakure yaitu kalung berbandul liontin hitam milik mendiang Ratu Kazekage pertama...
'Masaka?!'
Naruto yang duduk di sofa tampak tersenyum dengan raut terkejut dari sang Kazekage keempat, seraya menaruh smartphone ke kantong mantelnya, setelah membaca pesan 'Kalung berbandul liontin hitam milik Ratu Kazekage pertama sudah berhasil di dapatkan.'
Gemerutuk kekesalan langsung terpancar di wajah Gaara.
"Lama sekali kau menyadarinya Gaara-sama, gara-gara otakmu yang berjalan lambat, kalung itu sudah tidak ada lagi di Sunagakure, karena telah di bawa oleh anak buahku dengan helikopter. Mengejar anak buahku pun percuma, karena semua pesawat yang beroperasi di Sunagakure telah dihancurkan oleh anak buahku, jadi kali ini kita seri Gaara-sama~"
Gaara menggeram kesal mendengarnya.
"Jadi kedatanganmu ke tempatku dan kekacauan di Sunagakure hanyalah pengalih perhatian, supaya anak buahmu bisa mengambil kalung mendiang Ratu yang kusimpan di dalam makam Kazekage Pertama, yang terletak di dalam piramid, di utara Sunagakure?"
"Yap seratus untukmu Gaara-sama. Nah karena tugasku sudah selesai, kami pergi dulu. Sampaikan salamku pada Shikamaru dan Ino, senang rasanya bisa reunian bersama mereka~"
Naruto pun pergi meninggalkan dari Istana bersama dengan Yahiko, meninggalkan Gaara yang merutuki kelambatan otaknya dalam menebak apa yang terjadi. Ia terlalu fokus pada keselamatan rakyatnya, sehingga menyuruh Shikamaru, Ino beserta anbunya mempriotaskan keselamatan rakyat dan menangkap perusuh di Negaranya.
Ia tak berpikir bahwa semua itu hanya pengalih perhatian. Sekarang harta negara harus terjatuh di tangan perampok-perampok itu. Negaranya juga mengalami kerugian besar karena kerusakan yang ditimbulkan Akatsuki. Ini adalah penghinaan besar! Ia pasti akan membalas semua ini.
Sementara itu di luar ruangan Gaara, Naruto bersenandung ria karena berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Hingga akhirnya suara handy talky miliknya menginterupsi kesenangannya. Ia pun memperkeras speaker supaya bisa terdengar oleh Yahiko juga.
"Dancho... minna...Sasori-dana... mati..."
Semua mata terbelalak termasuk Hidan, Kakuzu yang sudah berada di dalam helikopter, serta Nagato dan si kembar Zetsu yang sedang dalam perjalanan menuju markas, di dalam helikopter yang sama dengan Hidan dan Kakuzu, setelah berhasil membawa kalung berbandul liontin hitam. Juga Konan yang ada di markas yang sibuk mencari data Mei Terumi dan Mizukage ke empat. Deidara menghubungi ketua dan seluruh anggota Akatsuki.
"Apa maksudmu Dei?!" tanya Naruto dingin setelah merebut HT dari tangan Yahiko.
"Sasori-dana...dibunuh...oleh...Lu...Lucifer..."
Handy Talky itu terlepas dari tangan Naruto. Terjatuh hingga baterainya keluar dari sarang HT.
Lalu tiba-tiba Naruto tertawa. Tertawa dengan sangat keras. Sementara Yahiko hanya membisu melihat kegilaan Naruto. Tak tahu harus bagaimana menanggapinya.
"Lucu sekali bukan Pein? Dia bangkit kembali...dia telah bangun dari neraka...dan dia membunuh anak buahku... dan aku harus membunuhnya untuk kedua kalinya... ini pasti karma untukku..." dan tawa kembali menggema dengan keras dari mulut Naruto.
***nyanyanyanyanyanyanya***
Di tempat lain seorang pria dengan masker di mulut sedang menghubungi seseorang.
"Hokage-sama, dia sudah bangkit, lalu apa yang harus kulakukan?"
"..."
"Baiklah, aku mengerti..."
Smartphone silver dimatikan. Tangan kekar pria tersebut menggendong tubuh rapuh, pucat dan tangan penuh darah di depannya yang sedang berjongkok, dengan gendongan ala pengantin.
Sementara yang temannya yang lain, yang berambut kecokelatan panjang bak model shampoo, memasukan kapak yang tergeletak di dekat tubuh pucat yang rapuh itu, ke dalam plastik dengan sarung tangan. Si penggendong bersyukur, Sunagakure sedang ricuh, jadi taman sepi dan hanya dedaunan yang menonton.
***nyanyanyanyanyanyanyanya***
Darah...
Merah...
Darah...
Merah...
Mayat...
"TIDAKKK!" teriak Sasuke.
Mimpi buruk membuat nafasnya terengah-engah. Wajah yang sudah pucat jadi semakin pucat.
Brak!
Pintu dibuka paksa dan Rin memasuki kamar hotel tempat Sasuke terlelap.
"Sasu-chan ada apa?" tanya Rin tergopoh-gopoh menghampiri Sasuke yang sedang memeluk dirinya dengan tubuh gemetar. Melihat hal tersebut Rin langsung memeluk Sasuke, menenangkan majikan yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
"Tenanglah...Sasu-chan...sudah tidak apa-apa...aku disini..." Rin masih merasakan getaran di tubuh Sasuke. Lalu Rin pun teringat sesuatu, dan detik berikutnya suara merdu dari mulutnya di dendangkan, seraya mengelus-ngelus punggungnya.
Lagu yang disuarakan Rin perlahan membuat Sasuke tenang. Gemetarnya sudah semakin hilang. Dan perlahan Sasuke mulai mengantuk. Lagu ini adalah lagu yang didengar Sasuke dari mulut adik istri Hokage, Uzumaki Sara. Lagu ini juga pernah didendangkan juga oleh seseorang yang masih samar-samar dalam ingatannya.
Waktu itu Sasuke masih kecil dan sangat cengeng. Begitu mendengar lagu yang didendangkan seorang tersebut, yang duduk di atas pohon dekat rumahnya, Sasuke pun berhenti menangis. Sasuke tak bisa melihat wajah seseorang tersebut dalam ingatannya. Karena mendengar lagu itu Sasuke pun tertidur pulas saat itu.
Lalu entah bagaimana Rin dapat mengetahui lagu tersebut. Jika Sasuke tidak sedang dalam kondisi yang buruk karena mimpinya, mungkin ia sudah menanyakan kenapa Rin mengetahui lagu tersebut? Dan apakah Rin mengenal orang yang menyanyikan lagu tersebut? Karena Sasuke sama sekali tidak bisa mengingatnya.
Kemudian secara perlahan Rin membaringkan Sasuke yang telah tertidur. Menyelimuti gadis itu. Lalu mengelus-elus keningnya. Tapi mulutnya masih mendendangkan lagu tersebut. Hingga bait terakhir.
"Apa yang terjadi pada Sasu-chan, Kakashi? Setelah ditemukan olehmu dan Neji, dia jadi seperti ini... bangun langsung berteriak... dan sudah seminggu ia seperti itu?" tanya Rin setelah selesai mendendangkan lagu, pada Kakashi yang sebenarnya datang bersama Rin ke dalam kamar Sasuke.
Kakashi diam membisu. Membuat Rin kesal. Pasti Kakashi tahu sesuatu, tapi tidak mau cerita. Pada akhirnya Rin pun menyerah, mungkin nanti Kakashi akan cerita padanya.
***nyanyanyanyanyanyanya***
Hotel di Sunagakure tergolong sangat tinggi. Dua puluh lantai, hampir mencakar lantai. Seminggu kemudian, di sebuah kamar hotel di lantai dua belas, seorang gadis yang mengenakan piyama putih kebiruan dengan motif kipas, keluar dari kamar tersebut. Rambutnya yang panjang terurai sepunggung, berkibar-kibar, ketika ia berlari menuju lift.
Tangan putih menekan lift yang kebetulan kosong dan kaki ramping terbalut piyama langsung memasuki lift kosong tersebut. Tangan menekan angka dua puluh, lantai tertinggi. Lift pun berjalan ke atas.
Saat lampu warna tombol dua belas berpindah ke lampu warna tombol dua puluh, pintu lift terbuka. Gadis itu pun langsung berlari keluar, menuju tangga ke atap hotel. Dan akhirnya ia sampai pada pintu yang ada tulisan dilarang masuk.
Namun gadis itu malah menendang pintunya, hingga akhirnya pintu itu terbuka dengan sedikit kerusakan karena dibuka paksa.
Gadis itu menuju ujung atap dan berdiri di sana. Melihat kegelapan Sunagakure, yang hanya dihiasi lentera. Sepi namun indah. Angin terus berhembus memainkan rambutnya.
Lalu gadis itu pun menaiki pagar pembatas dan hendak meloncat ke bawah. Tapi saat sebelah kaki sudah melayang-layang di udara, sebuah tangan menariknya, hingga terjatuh ke belakang.
Brugh!
...
...
...
Kelopak mata terbuka. Saphire yang pertama kali dilihat onyxnya.
"Apa yang kau lakukan Teme?!" tanya pemilik saphire yang ditindihnya.
Air matanya berkumpul. Tubuh bergetar. Dan langsung menjawab tanpa bertanya nama si pemilik saphire.
"A...aku telah membunuh... Aku tak pantas untuk hidup...Lepaskan aku Dobe... aku harus mati!" ia berontak dari pemilik saphire yang memeluk pinggangnya.
Tapi entah tenaganya yang terlalu lemah atau si pemilik saphire yang lebih kuat darinya, yang manapun tetap membuat pinggangnya masih dipeluk oleh si pemilik saphire.
Jengah dengan kelakuannya, pemilik saphire berguling. Ia juga turut berguling di atas atap hotel. Kini si pemilik saphire yang berada di atas tubuh gadis tersebut. Setelah itu tangan tan pemilik saphire tiba-tiba mencekik leher putih itu miliknya.
"Jika kau ingin mati...matilah!"
"Akh...!" ia kesakitan dicekik. Ia tak bisa bernafas. Ia akan mati.
"Akh...henti...henti...a...ti..!" ia meronta. Ia akan mati. Benar, ia tadi ingin mati. Tapi cekikan pemilik saphire menyakitkan. Ia juga kesulitan bernafas. Ia takut. Ia... tak ingin mati...
"Cu...cukup...ukh...A...ku i...ngin...ukh hi...dup...!"
Cekikan dileher pun berhenti. Dan si pemilik saphire pun beranjak dari tubuh sang gadis yang terbatuk-batuk karena cekikan tersebut. Mati itu menyakitkan rupanya. Sepertinya ia telah membuat keputusan yang salah.
Tapi ia masih merasa bersalah dengan kejadian dua minggu yang lalu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Untuk... menghilangkan mimpi-mimpi buruknya...
"Aku adalah pembunuh. Aku ingin mati untuk membalas dosaku. Tapi mati menyakitkan. Apa yang harus kulakukan..."
Ia terlihat frustasi. Sementara si pemilik saphire hanya diam mendengarkan.
"Kalau kau ingin mati bilang saja padaku, aku siap membunuhmu kapan pun kau mau. Tapi jangan bunuh diri, karena aku tak suka. Kau itu mainanku, jadi hanya aku yang boleh membunuhmu!" ujar si pemilik saphire.
"Kau tak mengerti perasaanku...aku...darah...mimpi itu..."
"Berisik!" potong si pemilik saphire yang langsung membungkam mulut sang gadis, dengan sebuah ciuman.
Onyx gadis itu terbelalak lebar dengan perlakuan si pemilik saphire yang sangat singkat. Karena ciuman itu hanya sekedar tempel bibir saja dan langsung dilepas. Lalu si pemilik saphire berkata lagi.
"Jangan katakan apapun lagi," ujar si pemilik saphire.
"Listen! Kau hanya boleh mati atas seijinku, dan aku hanya boleh mati jika kau yang membunuhku, dan kalau melanggarnya, aku akan membunuh kakakmu, mengerti!" tambah si pemilik saphire dengan nada mengancam. Seraya memegang kedua bahu mungilnya.
Ia tak mengerti, tapi tanpa sadar ia pun mengangguk. Lagipula ia tak ingin kakaknya dibunuh.
"Anak pintar," ucap si pemilik saphire lagi seraya mengacak-ngacak rambutnya dan memeluk dirinya. Hangat, namun tetap membuatnya tak mengerti...
***TBC***
Aku merasa harus revisi ulang chap ini, karena sepertinya ada banyak typo.
Chap ini memang kubuat dengan cepat tanpa mengeditnya. Mengingat sebelumnya aku hiatus, karena kesibukan di duta. Yang bakal direvisi lagi chap 9 tapi itu nanti deh, yang ini dulu. Semoga saja chap ini lebih baik.
Ada beberapa bagian yang kutambahkan seperti sedikit ulasan masa lalu Deidara. Mungkin nanti ke depannya akan dibuat masa lalu anggota akatsuki yang lain, soalnya MC di sini Akatsuki, Naruto, Sasuke, Itachi, Seven Deathly Sins dan Hokage.
Oh ya aku ingin membuat beberapa pairing lain selain NaruFemSasu,
Yang sudah fix sih Yahiko x Konan x Nagato, Konan jadi ngeharem karena... saya gak mau spoiler #jitak
Shikamaru dengan Ino. Dan aku ingin Itachi ada pairnya juga, habis kasihan dimanga aslinya dia mati menjomblo #dijitak.
