Disclaimare
Naruto Belong to Masashi sensei
Warning
OOC, Genderbend, Typo, Bahasa kasar, Penulis amatir,
Genre
Crime, Sci-fi, Romance, Friendship, Family
Pairing
Naru x Fem-Sasu
mulai
Ino menyerahkan berkas yang ditelitinya bersama dengan Shikamaru, selama tiga minggu ini kepada Kazekage. Ia menaruhnya di atas meja Kazekage. Sewaktu penyerangan Akatsuki, Shikamaru melawan pemilik drone yang dapat mengeluarkan bom kecil dan seorang yang menjatuhkannya dari atas rumah. Saat itu kedua orang yang menurut Shikamaru adalah anggota Akatsuki langsung pergi, tanpa melawan Shikamaru lebih jauh.
Setelah kepergian dua orang itu, Anbu Suna mendatangi Shikamaru. Anbu itu melapor ada pria berambut merah yang dicurigai adalah anggota Akatsuki bertarung melawan gadis berambut hitam. Shikamaru pun langsung ke tempat yang dilihat Anbu Suna tersebut. Namun sesampainya di sana, lokasinya sudah sepi. Shikamaru hanya melihat mayat bergelimpangan. Hingga Shikamaru melihat jejak darah menuju gang buntu.
Di sana ia melihat teman lamanya, Boruto dan temannya Boruto yang berambut oranye. Lalu ada lagi seorang androghini berambut pirang, yang tampak sedang menangis. Namun mata kuaci Shikamaru melihat mayat pria berambut merah, ciri yang sama dengan yang disebutkan oleh Anbu Suna. Mayat itu kondisinya mengenaskan. Kemudian melihat kedatangan Shikamaru, pria berambut oranye melempar bom asap, dan Boruto serta teman-temannya pun pergi dari tempat tersebut.
Shikamaru tidak mengejar. Melainkan memeriksa mayat tersebut. Jika memang benar mayat ini adalah anggota Akatsuki, kenapa dia bisa mati? Siapa perempuan berambut hitam yang bertarung dengan pria ini?
Shikamaru pun menyuruh Anbu Suna membereskan mayat ini untuk di autopsi ke tempat Ino. Bisa dibilang Ino juga memiliki kemampuan dibidang kedokteran. Ino dan Shikamaru pun menyelidiki siapa pria ini? Bagaimana bisa ia mati? Apa ia anggota Akatsuki? Lalu siapa yang bertarung dengan pria ini?
Hingga akhirnya tiga minggu pun berlalu. Semua berkas itu sudah berada di tangan Kazekage dan langsung dibacanya.
"Tidak kusangka, jadi dia Akasuna Sasori cucu dari Akasuna Chiyo yang pernah ditugaskan menjadi kapten Anbu Sunagakure, enam puluh tahun yang lalu," ujar Gaara setelah membaca berkasnya.
"Mendokusai, tato kalajengking di pinggangnya, menunjukan bahwa dia dari klan Akasuna," jawab Shikamaru.
"Akasuna Chiyo sudah meninggal karena sakit setahun yang lalu. Ia meninggal dengan keadaan tidak punya keluarga. Kedua anaknya yang juga merupakan Anbu Suna, mati karena hidden war. Ia memiliki dua cucu, Akasuna Sasori dan Akasuna Amaru. Namun keberadaan mereka tidak diketahui semenjak kematian orang tua mereka," tambah Ino. Gaara menopang kepalanya dengan bersandar pada tautan jari-jarinya
"Lalu apa dia benar-benar anggota Akatsuki?" tanya Gaara.
"Senjata yang dipakai Akasuna Sasori adalah benang yang tipis dan tajam. Senjata itu ditemukan di dalam pakaiannya. Senjata itu juga senjata yang sama, yang menyerang warga Suna. Artinya dia adalah anggota Akatsuki," jawab Ino.
"Jadi anggota Akatsuki berasal dari negara ini. Ini adalah aib. Jika sampai negara lain, entah apa yang akan terjadi. Tutupi semua informasi ini, jangan sampai ada yang tahu. Lalu cari tahu keberadaan Akasuna Amaru. Apakah dia masih hidup atau tidak, korek informasi darinya tentang Akasuna Sasori, mungkin bisa membantu keberadaan Akatsuki," perintah Gaara.
"Baik," jawab Ino dan Shikamaru bersamaan.
Nyanyanyanyanyanya
Itu adalah kamar yang luas. Dengan queen bed dan bernuansa serba biru. Kamarnya menghadap danau besar, yang merupakan sumber dari Oasis terbesar di seluruh dunia, Sunagakure. Di atas queen bed, Sasuke duduk menyender pada kepala tempat tidurnya. Kepalanya dipenuhi pertanyaan.
Kenapa Toneri ada di hotel ini?
Apa dia ingin menangkap Naruto?
Apa tujuan Toneri dan Kakashi?
Yang paling penting bagaimana caranya mengatakan pada Kakashi kalau ia telah membunuh salah satu dari anggota Akatsuki?
Apa nanti ia akan dipenjara?
Jujur saja Sasuke tidak mengerti kenapa ia bisa membunuh anggota Akatsuki. Ia hanyalah gadis biasa. Dia tidak bisa beladiri. Dia hanya mengandalkan otak jeniusnya. Dia mungkin ahli menyamar dan menghack komputer, namun tidak punya kemampuan untuk menjadi pembunuh. Lagipula membunuh adalah hal yang paling dibencinya...
Tapi sekarang ia malah menjadi pembunuh...
Artinya ia tak beda jauh dengan Naruto...
Sasuke terdiam. Jam di dinding pun ikut terdiam. Sementara Kakashi dan Toneri sibuk menikmati kopi yang dihidangkan room service.
Ah yah bicara soal Naruto, kenapa dia bisa tahu Sasuke ada di Hotel Suna dan mendadak menolongnya saat Sasuke hendak bunuh diri? Apa tujuan Naruto? Kenapa Naruto menolongnya yang merupakan saksi hidup semua perbuatan pemuda tersebut?
Sasuke tak paham. Sejeniusnya apapun dia, tetap tak bisa menjawab pertanyaan yang menari-menari di dalam kepalanya. Tapi mungkin mula-mula ia akan berkata jujur, meskipun sulit.
"Kakashi aku...akatsuki..." ternyata memang sulit, dinding berwarna biru laut dikamar itu pun turut prihatin.
"Saya mengundang Toneri-san ke tempat ini, karena saya mendapat informasi kalau pemimpin Akatsuki ada di sini," ujar Kakashi yang sepertinya mencoba mengalihkan pembicaraan, untuk menenangkan pikiran-pikiran Sasuke.
"Ya dan sialnya dia malah melompat, ck," gerutu Toneri dan menggigit canele-nya dengan kasar. Sasuke terdiam tidak menjawab ataupun menanggapi. Pikirannya masih terfokus pada bagaimana caranya berkata jujur.
"Saya juga mau mengatakan bukan Konoha saja yang mengincar Akatsuki, sejak kejadian dua minggu yang lalu, Kazekage juga menargetkan Akatsuki. Kudengar Leviathan dan Belpeghor sudah mulai bergerak untuk mencari keberadaan Akatsuki," tambah Kakashi. Sasuke masih terdiam dan tidak menanggapi.
"Sejak kejadian pembunuhan klan Inuzuka, Hokage sebenarnya langsung memanggil Toneri-san yang sebelumnya ada di HI, hal ini karena para bangsawan di Konoha murka karena kematian penerus klan Hyuuga yaitu Hinata Hyuuga dan penerus klan Inuzuka, Hana Inuzuka," terang Kakashi dan tentu saja masih ditanggapi dengan kediaman Sasuke.
Kakashi menghela nafas. Sepertinya Sasuke butuh waktu, karena masih shock dengan kejadian bunuh diri tadi. Kakashi berdiri dari sofa berwarna putih dan mengajak Toneri keluar dari kamar, karena hal tersebut akhirnya Sasuke buka suara.
"Aku telah membunuh anggota Akatsuki..." ungkap Sasuke jujur dengan tangan meremas selimut biru navy yang membalut badan bawahnya. Kakashi dan Toneri diam mendengarkan.
"Waktu itu aku sangat marah dengan kelakuan Akatsuki. Anak-anak, wanita dan para orang tua yang tak bersalah dibunuh mereka dengan mudah. Mereka tak menghargai sebuah nyawa dan aku... aku tak beda jauh dengan mereka... aku jijik pada diriku sendiri... merah pada tanganku tak bisa hilang..." bibir digigit hingga berdarah, selimut menjadi korban remasan tangan Sasuke. Kakashi, Toneri dan dinding kamar hanya diam membisu.
"Aku sama seperti mereka...mengingat hal itu ingin mati rasanya... tapi dia malah mencegahku bunuh diri... dia yang kubenci malah menyelamatkanku... aku tak mengerti... apa yang harus kulakukan?" bibir bawahnya berdarah. Onyxnya terlihat marah terhadap dirinya sendiri.
"Atau lebih baik kau bunuh aku saja Kakashi, ya bunuh aku. Kau adalah mantan Anbu. Sekarang aku adalah penjahat. Jadi bunuh aku Kakashi. BUNUH AKU!" teriak Sasuke.
Bekas cangkir kopi Kakashi dan Toneri gemetar ketakutan karena teriakan Sasuke. Bagi Sasuke semua nyawa makhluk hidup itu penting. Hal ini menjadikannya benci pada pembunuh dan orang yang suka bunuh diri. Sebab mereka tidak menghargai nyawa.
Sasuke kecil terlahir dengan mata yang buta dan jantung yang lemah. Tiap hari Sasuke bolak-balik rumah sakit, dan ia sudah tak asing lagi mendengar kata kematian. Entah itu karena kematian karena sakit, kecelakaan, pembunuhan atau bunuh diri. Namun yang membuat Sasuke sangat menghargai sebuah nyawa adalah karena keluarga dan sahabat yang ditinggalkan menangis. Mendengar tangisan orang-orang di rumah sakit, membuat Sasuke turut sedih. Padahal Sasuke tidak mengenal mereka.
Menurut dokter, Sasuke terlahir dengan rasa empati yang sangat tinggi. Ia akan sedih jika ada orang mati, dan sangat membenci orang yang tidak menghargai nyawa. Tapi sekarang ia malah membunuh anggota Akatsuki, lucu sekali bukan?
"Boruto juga sama sepertimu," perkataan Toneri yang tiba-tiba membuat alis Kakashi naik ke atas. Selimut yang jadi korban remasan Sasuke juga mulai bernafas lega, karena cengkraman tangan Sasuke melemah.
"Aku dulu temannya. Dia itu tidak suka membunuh. Namun pekerjaan kami tak jauh-jauh dari membunuh. Dia selalu muntah-muntah setelah selesai membunuh. Bahkan yang paling parah dia melukai diri sendiri setelah selesai membunuh. Self Injury. Dia bilang untuk menghukum dirinya sendiri setelah jadi pembunuh. Dia juga phobia dengan darah dan membuatnya harus mengkonsumsi obat-obatan. Saat ada orang yang ingin bunuh diri, Boruto selalu langsung mencekiknya dan selalu bilang kalau ingin mati, mati saja. Dan akhirnya orang yang ingin bunuh diri, tidak jadi bunuh diri, karena lebih takut dengan Boruto. Seperti dirimu tadi bukan..."
Apa? Apa itu benar sifat asli pimpinan Akatsuki? Sasuke bertanya-tanya dalam hati.
"Sesungguhnya dia tak cocok jadi Seven Deathly Sins ataupun Akatsuki. Dia sama dengan dirimu..." tambah Toneri.
"Tapi dia tetaplah penjahat. Dia telah membunuh temanku Shisui dan kekasihku Hinata. Aku tak akan memaafkannya. Aku akan menghancurkan Akatsuki dan juga dirinya. Itulah mengapa aku setuju dengan permintaan Hokage dan datang kemari. Hokage bilang kau ingin mengumpulkan Seven Deathly Sins untuk menolong kakakmu. Aku akan membantumu sekaligus membalaskan dendamku! Jadi Sasu-chan apa yang telah kau lakukan itu sudah benar. Nyawa itu dibayar dengan nyawa!"
Sasuke bisa melihat kemarahan dan kesedihan diwajah Toneri waktu menceritakan kakaknya Shisui dan juga Hinata. Tunggu sebentar?!
Shisui kakaknya dibunuh Naruto? Hokage bilang Shisui mati karena insiden valentine berdarah lima tahun yang lalu? Tapi...
"Apa maksudmu Toneri-san? Insiden valentine berdarah adalah ulah Boruto?" tanya Kakashi yang juga terkejut dengan pernyataan Toneri.
"Iya, aku, Shikamaru, Ino, Mitsuki dan Tobirama melihat sendiri, Boruto yang membunuh Shisui!"
Tak hanya Sasuke dan Kakashi yang terkejut, tapi dinding motif awan berwarna biru laut di kamar ini pun turut terkejut.
"Sasu-chan kau punya kekuatan yang sama dengan milik Shisui. Itu namanya Sharingan. Inti kekuatannya dari mata. Matamu bisa melihat karena donor dari Shisui. Sehingga kekuatan Shisui juga mengalir ke tubuhmu. Kau sekarang adalah Lucifer. Pemimpin Seven Deathly Sins, atasanku. Jadi maukah kau meminjamkan kekuatanmu untuk menghancurkan Akatsuki bersama denganku? Jika kau masih belum mahir. Maka aku akan mengajarkanmu."
Ini semua terlalu tiba-tiba. Mendengar sifat asli dari Naruto. Kakaknya yang dibunuh Naruto. Kekuatannya yang muncul karena donor mata dari kakaknya. Dan sekarang ia direkrut jadi bos Seven Deathly Sins.
Apa dia harus menerima tawaran Toneri?
Apa dia harus membalas dendam kematian kakaknya seperti Toneri?
Ia juga sedih dengan apa yang di dengarnya. Ia juga marah dengan apa yang diperbuat Naruto. Namun ia merasa tak pantas menghukum Naruto, karena ia telah membunuh anggotanya Naruto.
Ia tak tahu siapa Naruto? Seperti apa Naruto? Kenapa Naruto tetap membunuh walaupun tidak suka? Kenapa Naruto membunuh Shisui? Kenapa Naruto mencegahnya bunuh diri? Ia tak bisa memutuskannya sekarang. Setidaknya sampai ia tahu semua kebenarannya. Baru ia bisa memutuskannya.
"Ijinkan aku memikirkannya dulu. Terlalu banyak informasi yang kudapatkan. Sekarang bisakah kalian keluar. Aku ingin sendiri. Untuk beberapa hari ke depan aku hanya ingin ditemani Rin saja. Jadi maaf Kakashi, sampaikan maafku juga dengan Neji..."
Sasuke merasa ini jawaban terbaik dan Kakashi mengerti. Pria itu mengangguk dan mengajak Toneri keluar dari kamar Sasuke.
Sekarang ia sendiri. Kakinya ia tekuk dan lututnya dipeluk. Selimut biru navy terangkat dan merosot, waktu Sasuke menekuk lututnya. Wajahnya ia tenggelamkan dikedua lututnya. Rambutnya jatuh terurai membelai betisnya. Air mata mengalir jatuh membasahi piyamanya.
Entah mengapa Sasuke merasa, lebih baik ia tidak tahu apa-apa. Hidupnya dulu tidak terasa menyakitkan seperti ini.
Sasuke kecil dikelilingi orang yang disayangi. Meskipun kakaknya meninggal dan mendonorkan mata serta jantung untuknya, Sasuke masih bisa bangkit, karena orang-orang yang disayanginya. Sekarang Sakura telah pergi... Itachi juga tak tahu dimana... Orang tuanya juga sibuk... Ia sendirian dan mengetahui kenyataan yang sebenarnya...
Rasanya menyakitkan dan lebih menyakitkan lagi ia tak tahu harus bagaimana...
Perabotan dikamar itu hanya memandanginya dengan wajah prihatin...
Nyanyanyanyanyanya
Rambut hitam panjang sepunggungnya disisir rapi oleh Rin. Dari cermin dihadapan ia dan Rin, gadis berambut cokelat itu bisa melihat kantung dan bengkak dimata dia. Pasti ia habis menangis pikir Rin. Namun Rin tak bertanya kenapa ia menangis. Bukan tugas Rin juga dan lebih baik menunggu ia bercerita.
Sekarang penampilannya sudah lebih baik, setelah Rin menyisir rambutnya. Meskipun matanya masih berkantung dan bengkak. Wajahnya juga pucat dan agak kurusan, setidaknya rambutnya sudah rapi. Mungkin Rin harus menggunakan make up untuk menutupi kantung-kantung diwajahnya. Namun ia menolak, seperti ini saja sudah cukup, begitu katanya.
Rin mengerti dan berjalan menuju queen bed tempat ia tidur. Duduk menunggunya, yang kini sedang mengganti piyamanya dengan blouse putih kemerahan dan jeans navy blue. Rambut yang terurai dipunggungnya digulung-gulung lalu dijepit di belakang. Lalu mengambil tas dark blue yang disampirkan pada bahu kanannya.
"Apa kau mau pulang Ojou-sama?" tanya Rin.
"Iya," jawab Sasuke singkat.
"Bagaimana dengan pertemuan Kazekage?" tanya Rin lagi. Benar, mereka datang ke Sunagakure untuk bertemu dengan Kazekage, tepatnya bawahan Kazekage, dosa iri dan dosa malas.
"Aku pikir, sebaiknya aku memulainya dengan mencari tahu siapa musuh sebenarnya. Setelah itu aku baru bisa melangkah, akan kemana dan apa yang harus kulakukan..."
"Hae, saat kau pingsan beberapa minggu yang lalu, kemudian kau bermimpi buruk terus, lalu kudengar kau mau bunuh diri dari Kakashi, aku tidak mengerti. Bahkan Kakashi dan Neji juga diam. Sekarang kau pergi dan tidak mengatakan apapun. Aku tahu, aku hanya bodyguard disini, tapi setidaknya tolong jelaskan sedikit apa yang terjadi?" pinta Rin setelah menghela nafas.
"Maaf..." Rin menghela nafas lagi. Mungkin bukan waktunya Rin tahu. Jadi lagi-lagi dia hanya menunggu sampai mereka siap untuk bicara. Lagipula ia tidak suka melihat wajah sedih dari Sasuke. Rin lebih suka melihat wajah sombong dari Sasuke. Itu lebih baik.
"Baiklah Ojou-sama aku mengerti, lalu anda mau kemana setelah ini?"
"Aku mau ke Tokyo, kau bisa antarkanku?" jawab Sasuke seraya meminta diantarkan oleh Rin.
"Tentu saja Ojou-sama, saya siap melaksanakan perintah," jawab Rin.
"Tapi jangan ajak Kakashi dan Neji. Kau saja."
"Baiklah, tapi anda mau apa di Tokyo?" tanya Rin dengan alis yang terangkat mendengar permintaan dari Sasuke.
"Aku mau bertemu Terumi-san," jawab Sasuke dan membuat kening Rin berkerut heran.
Nyanyanyanyanya
Matahari sore mengubah warna langit menjadi jingga. Itachi kini sedang asyik makan soba sambil mengawasi Deidara yang sedang mengayun pedang. Hal ini membuat Deidara terus menggerutu dalam hati, kesal dengan pelatih kejam yang enak-enak makan soba, sedangkan muridnya harus menganyun pedang hingga seribu kali. Tidak lihat perutnya juga lapar dan keringatnya bercucuran. Namun Itachi sama sekali tidak peduli dan malah menikmati soba-nya sendirian.
Tak hanya Itachi yang membuat Deidara menggerutu kesal, tapi si kembar Zetsu yang bertugas mengawasi tindak tanduk Itachi juga membuatnya kesal. Hal ini karena Zetsu bersaudara malah asyik menikmati kaki gori tanpa memperdulikan Deidara yang sedang berlatih keras. Kalau bukan perintah dari Danchou, ketiga orang ini sudah Deidara bom, karena berani bersenang-senang di atas penderitaannya.
"Itachi-san ini minumannya," ujar seorang gadis yang terlihat seumuran dengan pimpinan Akatsuki. Rambutnya merah dan rambutnya dikepang satu, lalu ditutupi dengan slayer biru bagian atasnya. Menaruh segelas air putih untuk Itachi.
Gadis ini adalah Amaru. Dia adalah adik Sasori. Setelah kematian Sasori, Naruto pimpinan Akatsuki, memerintahkan Deidara dan Yahiko untuk menemui Amaru yang tinggal di Shibuya sebuah kota yang tak jauh dari Konoha. Sasori memang punya adik dan ia tinggal terpisah dengan adiknya, semenjak masuk Akatsuki. Hal ini dilakukan Sasori supaya adiknya tumbuh menjadi gadis yang normal.
Namun saat kematian Sasori, Amaru ngotot ingin masuk anggota Akatsuki. Entah apa yang diinginkan gadis itu, tapi karena kemampuan unik Amaru, akhirnya ia diijinkan masuk oleh Naruto. Hanya saja sampai detik ini Amaru belum diberi misi. Bosan ia pun menjadi koki dadakan untuk anggota Akatsuki lainnya.
"Oi Amaru buatkan aku makanan, aku lapar juga!" perintah Deidara.
"Eh... yah maksudku nanti saja kalau aku sudah selesai latihan," ujar Deidara lagi, setelah mendapatkan tatapan tajam dari Itachi yang seolah mengatakan 'selesaikan latihanmu baru makan!'
Lalu setelah menatap tajam Deidara, tatapan Itachi beralih ke Amaru dengan pandangan melembut, membuat wajah gadis berambut merah itu merona tipis.
"Terima kasih Akasuna-san."
"Panggil aku Amaru saja, Itachi-san, seperti aku memanggilmu dengan nama kecilmu."
"Baiklah Amaru-san. Ehm, lebih baik kau duduk di sana saja dulu, karena latihan Deidara masih lama. Baru setelah ia selesai, kau bisa membuatkannya makanan," pinta Itachi dan membuat Amaru terkekeh mendengarnya. Berbanding terbalik dengan Deidara yang mendengus mendengar Itachi yang kejam membiarkannya kelaparan.
"Kau terlalu keras pada Deidara-san, Itachi-san," ungkap Amaru yang mendudukan dirinya di samping Itachi.
"Kalau tidak keras, dia tak akan bisa menjadi kuat."
"Jadi kau serius melatih Deidara? Aku pikir kau tidak akan serius, mengingat kau adalah mata-mata Konoha," celetuk Kuro Zetsu yang tampak menikmati kaki gori buatan Amaru, ketika mendengar pembicaraan Amaru dan Itachi.
"Jangan seperti itu Kuro. Dia tentu saja serius, karena jika tidak, identitasnya akan ketahuan," tambah Shiro Zetsu. Kata-kata Shiro sama tajamnya dengan kakak kembarnya. Sementara Amaru hanya mendengarkan dengan pandangan bingung mendengar kata-kata Zetsu bersaudara dan Itachi ia terlihat tak peduli. Ia sudah terbiasa dicurigai, namun selama ini identitasnya belum ketahuan, atau memang mereka tahu tapi diam saja. Sampai detik ini Itachi masih menyelidikinya.
"Amaru, kau di sini? Bisa ikut denganku, aku membutuhkan kemampuanmu," ujar Konan mendadak muncul dari belakang Itachi, Amaru dan Zetsu bersaudara. Semua menoleh ke belakang, minus Deidara yang menghentikan kegiatannya mengayun pedang, saat melihat kedatangan Konan.
"Ada apa Konan-san?" tanya Amaru yang berdiri mensejajarkan tingginya dengan Konan.
"Naruto berbuat nekat, sekarang dia ada di Konoha, nanti kau juga akan tahu," jawab Konan dan Amaru mengangguk menuruti perintah gadis berambut biru itu. Lalu mereka pun pergi meninggalkan Deidara, Zetsu bersaudara dan Itachi, ke tempat pimpinan Akatsuki.
'Naruto di Konoha? Ini kesempatan bagus untuk menangkapnya. Tapi bagaimana caranya aku memberikan informasi penting ini pada Hokage, sedangkan aku sendiri masih kesulitan mengatasi Zetsu bersaudara,' ujar Itachi dalam hati, namun wajahnya masih dibuat sedatar jalanan, sehingga tak ada yang tahu isi hatinya saat ini. Lalu kemudian onyx Itachi menatap rambut merah Amaru yang semakin menjauh dan hatinya pun menyeringgai.
'Kurasa aku bisa memanfaatkan gadis itu,' ujar Itachi lagi dan tentu saja dalam hati.
TBC
Karena Boruto ini adalah Naruto, jadi Seven Deathly Sins bakal manggil Naruto, Boruto dan anggota Akatsuki manggilnya Naruto.
Sasuke manggilnya Naruto aja, Kakashi dan Hokage manggilnya Boruto tapi lama-lama jadi Naruto, yah semakin banyaknya chap, Boruto gak bakal dipake jadi pakenya Naruto
Untuk sekarang mungkin ada Naruto ada Boruto, sama Menma, Menma kalau lagi nyamar and ketemu Mei terumi aja.
Oke balasan Review:
Guest 1: ini sudah dinext
Guest 2: iya udah dikomfirm di chap ini
Guest 3: yap Shisui itu Lucifer
Qren: nanti deh, soalnya untuk sekarang susah kayaknya deh
varsyi dobe: tega amet, yah liat nanti deh
Ahliebcaesar341: makan dong, iya minato ngorbanin anaknya sendiri tuh, parah deh #jitak
Hwang635: tulisan reviewnya bikin aku pusing lihatnya #jitak, iya saya juga gak nyangka
haruna aoi: masa? Typo kali yah, maaf yah, naruto tetep pada pendiriannya #jitak
catatan:
canele itu kue dari paris
queen bed itu tempat tidur yang gak besar, gak kecil yang sedang-sedang saja
kaki gori itu es serut
