Disclaimare
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Warning
OOC, Typo, Genderbend, M untuk bahasa vulgar
Genre
Crime, Sci-fi, Family, Friendship, Romance
Pairing
NaruFemSasu
***jeda***
Naruto : untuk 'dia' dan ketika sedang telepon
Naruto : untuk bahasa asing
'Naruto' : untuk bicara dalam hati
***mulai***
Matahari berganti shift dengan bulan. Bentuk bulan kali ini adalah busur setengah lingkaran. Bulan memang selalu berganti-ganti rupa. Ibarat manusia yang tidak berpendirian. Kadang lingkaran penuh, kadang busur setengah lingkaran, kadang berbentuk sabit, dan kadang menghilang entah kemana. Namun apapun bentuk bulan, ia tetap pemegang singgasana dewi malam. Meskipun ditelan kegelapan, kecantikannya tak akan goyah. Ribuan bintang pun tak dapat menandinginya.
Itachi Uchiha berhenti sejenak sambil memandangi bulan. Ia baru saja pulang dari Maji Burger. Setelah latihan berat, Deidara langsung terkena penyakit lelah, letih, lesu, lemas, lunglai, alias sudah tidak bertenaga. Merasa kasihan dengan kondisi Deidara yang mengenaskan, Itachi pun mentraktir Deidara di Maji Burger. Namun ketika di Maji Burger keganjilan terjadi. Harga burger yang dibayar tidak sesuai dengan jumlah burger yang di beli. Bahkan tiga kali lipat lebih banyak dari jumlah burger yang di beli.
Setelah ditelusuri ternyata ulah si kembar Zetsu. Seenaknya saja mereka membeli banyak burger dan melimpahkan tagihan pembayarannya pada Itachi. Kalau bukan karena si kembar Zetsu yang langsung kabur setelah membeli, serta pramusaji yang menatap Itachi seakan berkata 'tidak bayar cuci piring', sudah dicekik si kembar Zetsu oleh Itachi.
"Hei, aku sudah mentraktir kalian, jadi aku mau meminta sesuatu dari kalian," ujar Itachi tiba-tiba setelah berhenti mendadak hanya untuk memandangi bulan.
Kerutan kening langsung menempel pada Deidara, Kuro Zetsu dan Shiro Zetsu. Rupa-rupanya si kembar Zetsu hanya kabur ke luar Maji Burger dan menunggu di depan pintu geser otomatis Maji Burger. Lalu menyusul Itachi dan Deidara yang sudah berada dijalanan menuju markas.
"Itachi kau ikhlas tidak sih mentraktir kami un?" tanya Deidara.
"Tidak, makanya aku mau meminta sesuatu dari kalian."
"Cih, dasar pelit un. Ya sudah kau ingin minta apa un? Tapi jangan minta ganti bayar burger-burger ini loh un."
"Tenang saja, itu gratis untuk kalian." Membuat wajah cerah terpancar pada Deidara dan si kembar Zetsu.
"Aku hanya ingin meminta alamat email Amaru," tambah Itachi.
Muka Deidara dan si kembar Zetsu langsung menyebalkan dimata Itachi. Seringgaian lebar langsung terpancar di wajah Deidara dan si kembar Zetsu. Rasanya Itachi jadi ingin menebas Deidara dan Zetsu dengan pedang Ashura dan Indra miliknya.
"Heh, kenapa tiba-tiba? Jangan-jangan kau suka Amaru yah~" goda Deidara dan disambut tawa oleh si kembar Zetsu. Ternyata benar ketiga orang ini butuh kasih sayang dari pedang Ashura dan Indra milik Itachi.
"Jika kalian tidak ingin membantuku ya sudah, aku bisa memintanya pada Yahiko atau Danchou," ujar Itachi yang langsung beranjak pergi dari tempat mereka berpijak. Namun dengan cepat Deidara memegang pergelangan tangan kanan Itachi.
"Jangan ngambek gitu dong un. Soalnya aneh sekali Pangeran berwajah teplon dari Akatsuki, meminta alamat email anggota Akatsuki yang tak kalah cantiknya dengan Konan-san un," pungkas Deidara.
"Deidara, biar bagaimana Itachi juga pemuda normal. Apalagi Amaru itu cantik dan jago masak. Kudengar dia ahli dalam bidang mikrobiologi, karena kemampuan uniknya itu ia diperbolehkan masuk oleh Danchou," ujar Shiro Zetsu. Itachi hanya memutar bola matanya mendengar godaan-godaan dari Deidara dan si kembar Zetsu.
"Ya sudah mana!"
"Ck, jatuh cinta memang bisa membuatmu jadi tukang paksa, ya sudah sini handphone-mu un," pinta Deidara. Itachi merogoh kantong celana aladin warna hitam disisi kanan pinggangnya. Mengeluarkan handphone lipat warna hitam setelah ketemu dan menyerahkannya pada Deidara.
Deidara yang sedang memegang handphone lipat dengan gantungan bola basket miliknya, menerima handphone Itachi dengan tangan kirinya. Lalu memasukan alamat email milik Amaru, ke kontak email Itachi, yang didapat dari daftar alamat email di kontak email handphone Deidara . Setelah selesai handphone lipat warna hitam itu dikembalikan pada Itachi.
"Kalau sudah jadian traktir aku Burger lagi ya un," pinta Deidara.
"Kami juga," tambah si kembar Zetsu yang berbicara bersamaan.
"Terserah," jawab Itachi membuat Deidara dan si kembar Zetsu bersorak mendengarnya.
***nyanyanyanyanyanyanyanya***
Rumah Sakit Konoha, tepatnya di ruang bawah tanah terdapat kamar nomor nol. Di dalam kamar tersebut terbaring seorang pemuda berambut pirang, yang tangan kirinya terpasang infus. Tangan kanannya diperban. Pemuda pirang itu memakai seragam rumah sakit berwarna hijau.
Pemuda bernama Naruto itu sudah pingsan selama tiga hari, dan akhirnya terbangun. Hal pertama yang dilihatnya adalah ruangan ini serba putih. Sebenarnya yang putih hanya dinding, langit-langit, lantai, kasur, bantal dan selimut. Pintu dicat warna abu-abu dan tidak ada jendela karena percuma ini di ruang bawah tanah. Namun ada ventilasi di atas pintu.
Meja kecil di samping tempat tidur Naruto juga di cat abu-abu. Meja kecil itu memiliki tiga laci. Lampu yang dipakai ruangan ini juga warna putih. Di atas meja kecil terdapat keranjang warna hijau yang di dalamnya berisi apel dan pisau bergagang hitam.
Di samping keranjang ada teko dari plastik warna abu-abu bermotif bunga mawar, dengan tutup warna hijau. Tiba-tiba pintu yang terletak sepuluh ubin dari tempat tidur Naruto berderit, lalu terbuka. Naruto menoleh ke arah pintu. Melihat seorang pemuda berambut oranye dengan banyak tindik di wajah.
Pemuda berpakaian kemeja oranye motif bunga matahari dan celana putih pendek di atas lutut. Kedua tangan di masukkan ke dalam kantong celananya. Pemuda itu adalah Yahiko. Dia mengeluarkan salah satu tangannya. Jari tangan tersebut membentuk angka dua dan ditempel ke kening. Lalu digerakan menunjuk ke arah Naruto dengan mulut sambil berkata.
"Yo!" sapa Yahiko.
"Sudah bangun, putri tidur." Naruto memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan konyol teman sekaligus kakak baginya.
Yahiko tidak langsung menghampiri tempat tidur Naruto. Melainkan ke pojok ruangan dimana terdapat kursi berkaki besi dan kepalanya dari kayu berbentuk bulat. Kursi itu diangkat dengan satu tangan. Lalu di taruh di sebelah meja kecil. Yahiko langsung duduk dan sebelah tangannya mengambil apel dan pisau. Lalu mengupasnya.
"Bahu dan Kakiku sakit, apa patah tulang?" tanya Naruto, kepalanya menoleh ke arah Yahiko yang sibuk mengupas kulit apel.
"Iya, dan akan sembuh jika kau beristirahat selama sebulan. Begitulah yang dikatakan Orochimaru," jawab Yahiko yang telah selesai mengupas kulit apel. Cepat sekali. Tangan Yahiko memang terampil.
Yahiko membuka laci atas dan mengambil piring kecil yang ada di dalamnya. Lalu memotong apel itu menjadi enam bagian. Yahiko mengambil garpu dari dalam laci atas meja kecil yang belum ditutup, sekalian menutup laci tersebut. Lalu menusuk potongan apel dan menyodorkannya pada Naruto. Naruto menggeleng lemah menjawabnya.
"Lama sekali," keluh Naruto setelah mendengar jawaban dari Yahiko.
"Tenang saja aku sudah memanggil Konan dan Amaru. Kau tahu kan Amaru ahli di bidang mikrobiologi. Jadi pasti dia bisa menyembuhkanmu dengan cepat," ujar Yahiko seraya menikmati apel-apel yang ditolak Naruto.
Naruto terdiam mendengarnya. Hanya suara Yahiko menggigit apel dan mengunyahnya. Serta jam dinding lima belas ubin dari depan tempat tidur Naruto yang berdetak. Jam dinding itu memiliki pinggiran berwarna hijau tua.
Wajah jamnya warna putih dengan angka-angka berbentuk romawi. Hanya saja cuma angka dua belas, tiga, sembilan dan enam yang muncul. Di tengah wajah jam ada gambar simbol Konoha yang seperti mata, dengan tengahnya melingkar-lingkar seperti obat nyamuk.
Di samping jam ada kalender A3. Kalender itu dibagi dua, atas bergambar tempat-tempat wisata Konoha dan bawah tanggal, bulan dan tahun. Saat ini kalendernya menunjuk bulan maret dan april. Kalau Naruto tak salah ingat, sekarang bulan april artinya di luar sana sedang musim semi.
"Tunggu, kau bilang tadi Orochimaru? Jadi sekarang kita ada di Konoha?" tanya Naruto dan Yahiko hanya mengangguk menjawabnya karena dia sedang sibuk mengunyah apel.
"Kenapa kau membawaku ke tempat berbahaya ini?" tanya Naruto lagi dengan saphire yang memandang tajam pada Yahiko.
"Terpaksa. Kau tahu kan karena ulahmu yang ngotot ingin melihat keadaan kekasihmu, Kakashi jadi mendatang Toneri, belum lagi Kazekage bersama dengan kedua anak buahnya Ino dan Shikamaru juga mengincarmu, makanya aku membawamu kesini ketimbang membawamu ke rumah sakit Suna," jawab Yahiko yang tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Naruto.
"Aku tahu ini adalah salahku. Tapi kenapa harus di Konoha? Kenapa bukan kembali ke Tokyo!"
"Kau butuh perawatan secepatnya, jarak Konoha -Suna hanya seharian menggunakan mobil. Sedangkan jarak Tokyo-Suna bisa sampai dua hari dengan menggunakan mobil. Lagipula di sini ada Orochimaru yang bisa mengobatimu. Kenyataannya dia tidak ahli dalam ilmu pertulangan manusia. Hanya bisa melakukan pertolongan pertama, makanya aku panggil Amaru kemari."
"Setidaknya setelah aku mendapatkan pertolongan pertama, kau bisa membawaku kembali ke Tokyo, tidak harus Konan dan Amaru yang menyusul kemari."
"Tadinya aku juga mau seperti itu. Namun sepertinya sejak Itachi membunuh semua klan Inuzuka, penjagaan Konoha semakin ketat. CCTV dipasang di tiap sudut jalan dan di semua fasilitas umum. Petugas imigrasi juga semakin memperketat penjagaannya dengan memasang banyak WTMD* dan HHMD* bahkan selain detektor logam, mereka juga mempunyai detektor untuk benda cair, gas, bahan organik dan anorganik. Anbu dua puluh empat jam berjaga dan berpatroli. Kudengar mereka juga menambah personel Anbu. Melakukan penyamaran pun tidak bisa. Anbu dan petugas imigrasi akan mencubit wajah para turis, supaya tahu mereka sedang menyamar atau tidak."
"Sebentar... jika memang Konoha semakin ketat, lalu bagaimana aku dan kau masuk kesini? Bagaimana pula Konan dan Amaru bisa datang ke Konoha?" tanya Naruto bertubi-tubi.
"Masalah itu... aku terpaksa meminta bantuan dia." Mendengar jawaban Yahiko, Naruto jadi merasa tubuhnya tambah lemas.
"Kau tahu kan dia itu orang penting, yang tidak boleh sembarangan diperiksa."
Ya Naruto sangat tahu betapa berpengaruhnya dia pada dunia tempat tinggalnya.
"Hanya saja ada syaratnya, kau harus membantu Mei Terumi membunuh Mizukage Yondaime, lalu menimpahkan kesalahan pembunuhan tersebut pada Raikage."
"Mei Terumi?" tanya Naruto dengan kening berkerut, mendengar nama itu mendadak disebut-sebut Yahiko.
"Iya, Konan bilang Mei Terumi adalah wanita malang yang terkena hasutan dia. Identitasmu pun dibocorkan olehnya pada Mei Terumi."
Akhirnya pertanyaan kenapa Mei Terumi bisa mengetahui bahwa Menma adalah Naruto alias Boruto sudah terjawab. Harusnya Naruto tahu dalang dari semua ini adalah dia.
"Memang apa yang dikatakan olehnya?" tanya Naruto lagi.
"Kirigakure negara yang dipimpin Mizukage berbentuk kerajaan. Setiap lima puluh tahun sekali sang Mizukage akan mewariskan tahta kepada penerusnya. Mei Terumi seharusnya menjadi generasi keempat. Namun Mizukage Generasi ketiga dikudeta oleh anak dari selir sang Mizukage - Yagura. Mizukage tewas bersama ratu dan anak kandungnya. Namun ternyata Mei Terumi masih hidup, sebagai artis multitalenta dan sekarang sebagai produser sekaligus sutradara. Seminggu sebelum pelelangan, Mei Terumi bertemu dia. Lalu dia pun menghasut Mei Terumi dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya," terang Yahiko yang sedang minum dari gelas yang di ambil dari laci kedua dan air putih dari teko.
"Informasi ini tidak ada yang tahu karena sangat tertutup. Rakyat Kirigakure pun tidak tahu mengenai kebusukan kerajaan. Hanya Konan intelegent kita yang bisa mendapatkan informasi ini," tambah Yahiko setelah selesai menegak air putihnya.
"Apa tujuan dia ingin membuat kekacauan lagi?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Kau tahu bagaimana sifatnya. Dia sama seperti Konan, intelegent yang berbakat, ketika ia mengetahui rahasia tergelap Kirigakure, ia langsung merencanakan semua ini. Dia juga tahu, saat ini Kirigakure dan Kumogakure negara yang dipimpin Raikage, sedang bersitegang karena masalah sengketa tanah. Jika Mizukage Yondaime mati dan kau menimpakan kesalahan pada Raikage otomatis ketegangan ini akan menjadi lautan api. Apalagi sejak Yaguramemerintah, Kirigakure sudah berubah jauh. Sistem perbudakan sudah tidak ada lagi di Kirigakure. Yagura membebaskannya, memberikan pelatihan supaya bisa bertahan di dunia luar, menambah lapangan pekerjaan disektor perikanan karena wilayah Kirigakure berupa perairan. Lalu bagi bangsawan dan pengusaha dengan pendapatan diatas lima juta yen dikenakan pajak. Pajak itu pun untuk menambah fasilitas umum dan perawatannya. Kalau Raja seperti itu mati, entah apa yang terjadi pada rakyatnya."
Naruto terdiam sambil memijat kening setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Yahiko. Sementara Yahiko kembali mengupas apelnya. Sepertinya Yahiko lapar sekali sampai nambah lagi apelnya.
"Aku tak ingin mengikuti alurnya," ungkap Naruto tiba-tiba, setelah beberapa menit hening dan hanya terdengar suara kunyahan dan gigitan apel Yahiko.
"Jangan macam-macam! Dia adalah pemimpin bayangan Akatsuki. Kau bisa mendapatkan masalah jika menentangnya. Kau itu cuma beruntung bisa keluar dari Amegakure, dan mengganti pekerjaan Akatsuki dari teroris menjadi perampok. Tapi asal kau tahu meskipun dia setuju, dia tidak akan pernah melepaskanmu. Dia hanya bosan dan ingin membuat kekacauan dengan cara yang berbeda. Lalu kau datang memberikan ide. Makanya dia setuju. Dia selalu mengawasimu Naruto!" ungkap Yahiko berhenti memakan apelnya, sudah tak berselera setelah mendengar jawaban dari Naruto yang terdengar nekat di telinganya.
"Aku membentuk Akatsuki menjadi perampok untuk mendapatkan uang yang banyak supaya bisa membeli Amegakure darinya. Jika aku mengikuti alurnya lalu ketahuan, tujuanku tidak akan pernah tercapai!"
Yahiko bangkit dari kursinya dan mencengkram kerah seragam rumah sakit Naruto. Matanya menatap tajam pada pemuda di bawahnya.
"Asal kau tahu saja Naruto, semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak langsung membunuh Itachi dan Sasuke. Jika kau membunuh mereka kita tidak akan kehilangan Sasori dan berlama-lama berurusan dengan Mei Terumi. Setelah selesai membunuh Hinata, Itachi, Sakura dan Sasuke, kita bisa kabur lagi dan merampok kembali ke tempat lainnya. Seperti itulah cara kerja kelompok kita, merampok, membunuh tanpa meninggalkan jejak. Bahkan Lucifer tak perlu bangkit jika kau membunuh Sasuke! Semua ini tidak akan terjadi kalau kau tidak membunuh mereka, dan jika Deidara, Kakuzu, Hidan, dan Zetsu bersaudara tahu Lucifer adalah Sasuke, dan kau tidak membunuhnya, apa jadinya Akatsuki nanti!" teriak Yahiko.
"Aku tahu aku salah. Aku akan menebus kesalahanku, jadi kau tenang saja," jawab Naruto tak berpengaruh dengan teriakan Yahiko.
"Omong kosong. Jangan bertingkah seperti orang baik. Kau itu orang jahat!"
"Siapa yang bertingkah sok baik. Aku hanya ingin menjadi manusia. Untuk itulah kita - Akatsuki ingin membeli Amegakure, tinggal disana dan hidup damai selayaknya manusia biasa. Kau juga menginginkan hal itu bukan? Hidup bebas seperti manusia."
Yahiko melepas cengkramannya pada kerah Naruto. Lalu kembali duduk ke kursinya. Tubuhnya membungkuk. Kepalanya menunduk. Matanya menatap ubin putih. Kedua jari-jari tangannya saling ditautkan. Lengan dibawah siku ditaruh di atas celana pendeknya.
"Jika menjadi manusia harus mengorbankan nyawa teman, lebih baik tidak usah jadi manusia saja," ungkap Yahiko. Naruto terdiam mendengarkan.
"Pein, alasanku tidak membunuh Itachi karena tidak ingin membunuh teman. Aku tidak membunuh Sasuke, karena permintaan dari Itachi, temanku. Beda cerita kalau dia sudah keluar dari Akatsuki."
"Baiklah aku mengerti, yang tidak kumengerti Itachi adalah mata-mata, kenapa kau tidak mengeluarkannya dari Akatsuki lalu bunuh dia, beres bukan?"
"Jangan bilang kau berpura-pura tidak melihat perbuatannya selama ini. Aku tahu kau juga menyadarinya," tambah Yahiko. Naruto terdiam tidak menjawab. Bosan dengan pembicaraan ini. Ia beranjak dari kursinya. Hendak mencari rokok. Mungkin bisa mengurangi stressnya.
"Aku tidak membunuh mereka berdua, karena keduanya adalah adik dan kakak sahabatku. Kau benar Yahiko, semua salahku..." ungkap Naruto yang akhirnya berkata jujur dan membuat langkah kaki Yahiko terhenti di depan pintu.
"Ya aku tahu. Lakukan sesukamu Naruto, karena sekarang pimpinan Akatsuki, jangan melakukan kesalahan lagi. Atau kau yang akan aku bunuh..." setelah itu Yahiko pergi meninggalkan Naruto sendirian.
***nyanyanyanyanyanya***
Kedai Kopi adalah pilihan Sasuke untuk melakukan pertemuan dengan Mei Terumi. Bersama dengan Rin yang menemaninya. Sasuke mengenakan blouse lengan pendek berwarna cokelat muda. Blouse-nya memiliki kerah bergelombang bagaikan ombak berwarna dark blue. Celana yang sasuke kenakan adalah jeans biru yang dipenuhi robekan di sana-sini. Ia memakai sepatu kets dengan warna dasar hitam dan bermotif bunga. Sepatu kets itu bertali warna putih. Rambutnya seperti biasa hanya digulung-gulung lalu dijepit. Sasuke juga mengenakan kaca mata hitam, untuk menyamarkan profesinya sebagai artis muda.
Sementara Rin memakai kaos oblong merah maroon dan celana pendek di atas lutut warna putih. Sepatu kets putih bermotif bunga. Mereka duduk di meja berbentuk lingkaran, ditengahnya ada payung besar berwarna biru laut. Kedai kopi ini tidak berada di dalam ruangan. Tapi diluar ruangan. Barista-nya juga meracik kopi di luar ruangan.
Mejanya hanya disediakan lima karena tempatnya kecil. Satu meja ada empat kursi dengan sandaran. Ada iringan musik biola juga yang berdiri di samping meja barista meracik kopi. Lima menit kemudian datang Mei Terumi mengenakan kemeja tanpa lengan warna merah jambu dan rok bergelombang selutut berwarna abu-abu dengan motif bunga-bunga. Rambut cokelat sengaja digerai. Tas kecil warna hitam tersampir di bahu kanan. Jam tangan di tangan kiri. Sepatu hak tidak tinggi, tidak rendah, standar, warna merah jambu.
Mei Terumi langsung duduk di antara Rin dan Sasuke. Rin memanggil maid. Lalu memesan makanan. Sasuke memesan espresso, Rin dan Mei Terumi memesan frappe. Bedanya Rin memesan frappe* dengan topping kacang mede dan Mei Terumi memesan frappe dengan topping keju. Mereka juga memesan kue kebanggaan kedai ini, creme brulee*, namun untuk Sasuke dia meminta yang tidak terlalu manis.
"Apa yang ingin kau bicarakan Sasu-chan? Bukankah sudah kuinfokan pada manajemenmu, kalau film ini ditunda sampai masalah Menma mereda?" tanya Terumi tanpa basa-basi.
"Aku ingin tahu banyak tentang Menma," jawab Sasuke tanpa basa-basi pula.
"Kau menyukai Menma?"
"Ya," jawab Sasuke berbohong, namun demi kepentingannya ia harus berbohong.
"Kau tahu Menma sudah pernah 'tidur' denganku."
Maid menginterupsi. Membawa pesanan Rin, Sasuke dan Mei Terumi. Perkataan Mei Terumi membuat Sasuke merasa terganggu. Padahal ia tidak punya perasaan pada Menma. Sedangkan Rin terlihat sweatdroop mendengar Mei Terumi begitu blak-blakan soal Menma.
"Jadi mungkin kau bisa berhenti menyukai Menma, Sasu-chan," ujar Mei Terumi mulai menikmati frappe dingin miliknya.
"Kurasa itu tidak bisa," jawab Sasuke tanpa melihat Mei Terumi. Lebih memilih menatap creme brulee-nya. Mei Terumi tersenyum mendengar reaksi Sasuke. Sementara Rin memilih diam menikmati hidangan yang dipesannya.
Hening diantara mereka. Masing-masing menikmati hidangan. Hanya alunan Yah Tempered Clavier terdengar, dilantunkan oleh sang violin di kedai yang mulai ramai dengan para muda-mudi.
"Bagaimana Menma dimatamu, Terumi-san?" tanya Sasuke memecah keheningan.
"Aku tidak tahu. Dia misterius dan tak bisa ditebak. Tapi aktingnya dalam film ini, kadang biasa, kadang bagus. Namun dikehidupan nyata dia seperti aktor terhebat. Matanya kosong dan dingin. Tapi seperti fokus akan satu hal dan dia selalu lembut ketika bercinta denganku," jelas Mei Terumi. Rin hampir tersedak mendengar jawaban dari Mei Terumi. Sementara Sasuke merona tipis mendengar jawaban yang blak-blakan.
"Lalu bagaimana menurutmu Sasuke, tentang dia?"
Diam sejenak lalu akhirnya Sasuke berkata.
"Sama sepertimu Terumi-san, dia tak terduga, kadang baik, kadang jahat. Entah yang mana aku tidak tahu..."
"Menurutku dia orang baik. Pria yang memperlakukan wanita dengan lembut saat bercinta artinya orang baik," ungkap Mei Terumi setengah bercanda. Rin terbatuk-batuk mendengarnya. Sasuke hanya datar meresponnya.
"Tapi aku serius kau harus berhenti menyukai Menma, ini demi kebaikanmu sendiri Sasu-chan. Aku merasa orang baik sepertimu tidak pantas dengan Menma..."
"Apakah Menma jahat?"
"Bagiku dia baik, namun akan lebih baik kau tidak menyukainya..."
***nyanyanyanyanyanya***
Shower mengalir ke seluruh tubuhnya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki Sasuke. Menghapus sabun dan sampo yang menempel pada badan dan rambutnya. Sasuke masih tidak mendapatkan apapun setelah percakapannya dengan Mei Terumi. Namun Mei Terumi begitu ngotot tidak memperbolehkan dirinya menyukai Naruto.
Sejujurnya dia juga tidak suka dengan Naruto. Tapi mendengar Mei Terumi pernah bercinta dengannya, ada gejolak aneh di perutnya. Seakan diaduk-aduk.
Keran ditutup. Air shower pun berhenti mengalir. Ia membuka hordeng abu-abu. Mengambil handuk pakaian. Handuk warna biru tua. Lalu mengikat talinya diperut supaya tubuh telanjangnya tidak kelihatan. Mengambil handuk putih kecil. Lalu menggosok-gosok handuk tersebut pada rambutnya yang basah.
Setelah itu keluar dari kamar mandi. Menuju lemari dan mencari piyamanya. Beberapa menit kemudian tubuhnya sudah berbalut piyama. Kepalanya yang basah ditutupi handuk. Ia melihat handphone lipat warna hitam kebiruan miliknya bergetar di atas queen bed.
Ia melihat puluhan panggilan dari handphone-nya. Saat dibuka nomor tidak diketahui.Kening Sasuke berkerut heran. Handphone-nya bergetar lagi, setelah tadi berhenti. Mungkin karena Sasuke sadarnya lama, maka saat handphone lipatnya diambil, langsung mati. Cepat-cepat Sasuke mengangkatnya.
"Ya, siapa?"
"Naruto, masih ingat kan?" jawaban si pemanggil membuat kedua onyx Sasuke terbelalak lebar.
"Kau masih hidup?"
"Kejam sekali, kau menyumpahiku. Begini-begini aku pimpinan Akatsuki, mana mungkin aku mati semudah itu."
Entah mengapa Sasuke bernafas lega mendengarnya. Tapi langsung ditepisnya perasaan itu.
"Bagaimana kau tahu nomorku?"
"Dari Terumi-san."
"Baiklah lalu apa maumu?"
"Kau sudah kembali galak seperti biasa. Kau tahu aku lebih suka kau yang seperti ini ketimbang saat kau mencoba bunuh diri..."
Sasuke menjatuhkan diri di atas queen bed berseprai warna putih dengan selimut merah maroon.
"Tak perlu berbelit-belit apa maumu?"
"Tidak ada, hanya ingin menelepon."
Sasuke mengutuk ketidakjelasan orang ini. Tapi kenapa ia tidak bertanya pada orangnya langsung? Kenapa harus berbelit-belit bertanya pada Mei Terumi.
"Hei, kenapa kau membunuh kakakku?"
"..."
"Kau sudah tahu yah? Pasti dari Toneri..."
"Jawab saja pertanyaanku!"
"Aku membunuh Shisui karena ia sudah tak ingin hidup lagi."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti! Apa kakakku ingin bunuh diri?" tanya Sasuke bertubi-tubi dengan kening berkerut bingung.
"Pokoknya dia sudah tidak mau hidup lagi, seperti saat kau ingin bunuh diri, makanya aku membunuhnya."
Apa Shisui mengalami perasaan yang sama dengan dirinya? Saat membunuh merasa bersalah, sampai ingin mati rasanya.
"Sudah yah, aku harus istirahat, karena aku baru saja diobati anak buahku..."
"Tunggu aku masih ingin..."
"Selamat malam..."
Telepon itu terputus. Membuat Sasuke kesal, karena Naruto seenaknya menghentikan pembicaraan. Tapi...
'Kakak apa kau pernah membunuh? Apa kau menyesal? Karena itukah kau ingin mati? Hingga ia menggantikan posisi shinigami untukmu..." ungkap Sasuke dalam hati.
***TBC***
varsyi dobe: karena shisui kakak yang baik hati dan tidak sombong
Hwang635: gak pa pa
namikazehyunli: diusahakan semoga bisa #jitak
itsxoxodiyo: sudah dilanjut
Realpush Neo: sudah dinext
nusantaraadip: sudah
Rais666: satan
Catatan:
WTMD dan HHMD ini metal detektor
Yah Tempered Clavier diciptakan johann sebastian bach
Frappe es kopi dari yunani
Creme brulee kue lumpurnya Perancis
