La Vie en Blanc et Noir

Disclaimer : I do not own Detective Conan/Case Closed all belong to Aoyama Ghoso

Canon Modified & OC


Chapter One


"Ku goreskan tinta putih ku tuk hapus hitam mu, tuk hapus kelam mu, tuk hapus sisi gelap mu. Sudikah kau?"

Aku bagaikan terbang di awan putih yang lembut

Putih..

Putih...

Putih...

Perlahan putih itu menjadi kelabu

Awan ku putih runtuh dan aku terjatuh

Sayapku putih rapuh di telan awan kelabu kian gelap

Gelap menjadi kelam

Bagaikan malam gelap tanpa bintang

Hitam pekat..

Putihku hilang

Bagaikan siang berganti malam

.

.

.

Seperti itulah ia mengenal sosoknya yang dingin, angkuh, dan penuh rasa sarkastik yang selalu di ucapkannya.

Tak bisa ia pungkiri itu, kecantikannya bagaikan rembulan namun sikapnya tak lebih seperti halnya hitam pekat bagai malam yang kelam.

Atau mungkin tidak seburuk itu?


Saat mereka bertemu, gadis itu memandangnya dengan tatapan yang dingin dan tajam. Terasa seperti menusuk punggungnya dengan keingintahuan yang penuh rasa curiga. Seakan dirinya adalah sebuah ancaman yang besar untuk gadis itu.

Entah itu benar adanya atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

Saat itu juga, pemuda itu menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. Kepada sosok gadis kecil berambut cokelat-kemerahan yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya diatas meja.

Shinichi yang berjalan di samping pemuda itu, juga ikut menghentikan langkah kakinya. Ia memandangnya dengan heran.

" Sedang apa kau berdiam diri disitu? " Pemuda itu menunduk ke bawah, kearah lawan bicaranya.

" Ah tidak. bukan apa-apa. Aku hanya merasakan ada bahaya. Seperti bayangan hitam dingin yang siap menikamku dari belakang. " Pemuda itu tertawa kecil saat mengatakan itu pada Shinichi, yang sekarang ini tengah memasang wajah bosannya.

" Apa-apaan kau ini Ryou-san. Bayangan hitam? Dingin? " Shinichi kembali melangkahkan kakinya dan pemuda yang di panggil Ryou itu mengikuti di belakangnya.

" Kau terlalu banyak membaca cerita misteri saat penerbangan. "

" Yeah mungkin saja. " Ryou menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. " Siapa gadis kecil itu? Jangan katakan padaku, kalau dia? " Tanyanya lagi dan duduk disalah satu sofa diruang tamu Professor Agasa.

Shinichi masih tetap berdiri dengan menempatkan kedua tangan dalam saku celananya.

" Ya kau benar. Dia adalah orang yang menciptakan obat yang telah membuat tubuhku mengecil seperti sekarang ini. " Shinichi menghela napasnya.

" Dan sekarang ini aku harus melindunginya. Karena nyawanya terancam dibunuh oleh organisasi berjubah hitam itu. " Lanjut Shinichi.

" Jadi dia orangnya. Yeah kalau begitu, kau harus melindunginya. Kalau dia sampai tertangkap oleh organisasi itu dan dibunuh, kau akan terus terperangkap dalam tubuh itu selamanya. "

Shinichi memasang wajah serius dengan menempatkan sebelah tangannya dengan ibu jari dan telunjuknya di dagu. Ia terlihat berpikir keras.

" Kau benar. Tapi bagaimanapun aku harus bisa menangkap mereka! Saat ini aku bekerja sama dengan FBI dan CIA dan juga identitas ku sebagai Shinichi Kudo harus tetap di rahasiakan. Agar orang-orang terdekat ku tidak berada dalam bahaya. "

Shinichi duduk di sofa bersebrangan dengan Ryou.

" Omong-omong mengapa kau kembali ke Tokyo? "

" Aku mengkhawatirkan mu bodoh! "

Shinichi sekali lagi menghela napasny dalam dan menghenyakkan dirinya di sofa. Ia memijit kening dan membuka kaca matanya lelah.

" Kau tak seharusnya mengkhawatirkan aku. Justru sekarang aku yang menjadi khawatir. Nama mu bisa saja masuk dalam daftar incaran mereka. "

Ryou tersenyum getir menanggapinya.

" Bakashin! Memangnya kau pikir bisa melawan mereka sendirian? "

" Aku kan sudah bilang, kalau aku bekerjasama dengan FBI dan CIA kau tau! Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan ak—

" Bagaimanapun juga aku akan tetap khawatir! " Ryou melipat tangannya di dada dan berusaha terlihat tenang.

" Dengar yah Kudo, kau sudah ku anggap seperti adik ku sendiri. Tentu saja aku tidak akan membiarkan adik ku melawan penjahat sendirian. " Shinichi memasang wajah bosan meyebalkannya.

" Lagi pula, jika dua pemikiran Sherlock Holmes dan Hercule Poirot abad ini disatukan, bukankah kita akan menjadi tak terbantahkan? "

" BARO! "

" Aku tidak menerima satupun penyangkalan dari mu Bakashin! Lagi pula, terakhir kali ku ingat saat kau berkunjung ke London, kau masih belum bisa menandingi kecepatan dan ketepatan analisis ku. " Ryou tersenyum sinis kepada Shinichi.

" Yang benar saja. Itu karena kau lebih dulu memiliki bukti yang lebih banyak dari ku. Lagi pula kau sudah mengetahui seluk beluk tempat kejadian itu. "

Shinichi membuang muka dengan tampang angkuh menyebalkan.

" Yeah aku memang masih selalu berada satu tingkat di atas mu Shin-chan! "

.

.

.

Pagi itu Ryou sedang menghabiskan waktu bersantainya di balkon Apartemen sambil menyeruput kopinya perlahan.

Bosan. Itulah yang dirasakannya.

Ia juga berpikir, mungkin seharusnya ia tinggal di rumah Shinichi Kudo. Lagi pula rumah Shinichi tidak ada yang menempati, karena Shinichi tinggal bersama Ran di kantor detektif Kogoro Mouri sebagai Conan Edogawa.

Sedangkan rumah Shinichi hanya di tempati oleh seorang mahasiswa bernama, Subaru Okiya yang menumpang untuk sementara. Karena Apartemennya terbakar dan ia tidak memiliki tempat tinggal.

Ryou mengerutkan keningnya dan kembali berpikir. Bukanlah suatu hal yang bagus, untuk tinggal satu atap dengan orang asing. Lagi pula dia seorang laki-laki. Apa kata orang nanti? Mungkin saja mereka akan berpikir yang bukan-bukan.

Sesuatu yang menjijikan.

Sepertinya Ryou lebih memilih untuk tetap tinggal disini. Di Apartemen mewah yang sengaja di beli oleh orang tuanya untuk di jadikan tempat tinggal, jika saja sewaktu-waktu mereka berkunjung ke Jepang. The House Apartement yang terletak di Minami-Azabu district ini tidak terlalu buruk. Bahkan Apartement ini sangat bagus dan mewah. Ryou akan menikmatinya.

Ryou mengecek ponselnya. Ada pesan teks masuk yang ternyata dari Ran.

From: Ran Mouri

Apakah kita jadi bertemu hari ini Ryou-san? Aku sudah bilang pada Sonoko dan dia sangat antusias.

Ryou memang berencana untuk bertemu dengan Ran dan Sonoko hari ini. Karena selain Shinichi, Ran dan Sonoko juga merupakan teman baiknya sewaktu kecil dulu.

To: Ran Mouri

Senang mendengarnya! Bagaimana kalau aku menjemput kalian di SMA Teitan?

Pukul berapa pelajaran kalian usai?

Ryou menyeruput kopinya lagi, setelah beberapa saat ia sudah mendapat pesan balasan dari Ran.

From: Ran Mouri

Apa tidak apa kau menjemput kami? Kami baru selesai pelajaran jam 16:00 PM.

To: Ran Mouri

Tak usah sungkan. Kalau begitu pukul 16:00 PM aku sudah akan berada disana.

Well ada urusan lain yang harus ku kerjakan. Akan ku kabari lagi nanti.

Ryou menyudahi percakapan pesan teksnya dengan Ran. Ia menaruh ponsel nya di samping macbooknya. Mata biru gelapnya terpaku pada layar macbooknya yang terdapat data base seseorang, yang kemarin lusa di kirimkan oleh pimpinan organisasi rahasia tempatnya bernaung.

Sebenarnya, kedatangan Ryou ke Jepang bukan tanpa alasan. Ryou bekerja di bawah naungan organisasi rahasia pemberantas kriminalitas dan kejahatan yang bertentangan dengan salah satu organisasi berkelas yang di kenal dengan nama Black Organisation.

Visi dan Misi organisasi tempat Ryou bernaung adalah untuk menghancurkan Black Organisation. Organisasi rahasianya itu juga bekerjasama dengan SIS dan CIA. Organisasi tempat Ryou bernaung di kenal dengan singkatan nama W-O-A dan pimpinannya di ketahui bernama Dice.

Ryou di tugaskan untuk memata-matai Black Organisation, dan misi utamanya adalah melindungi Shinichi Kudo dan seseorang yang di sebut The Golden Key.

Foto dalam data base itu terbuka. Terlihat jelas nampak seorang gadis bersetelan blazer forensik, bermata biru-kehijauan dan berambut coklat-kemerahan.

" We will meet again so soon The Golden Key. " Ryou tersenyum puas pada foto itu.

.

.

.

Sore itu di SMA Teitan sudah terlihat sepi oleh siswa-siswinya. Karena waktu pun sudah lewat dari jam pulang sekolah. Ran Mouri dan Sonoko Suzuki sedang berdiri di gerbang pintu sekolah mereka. Ran berkali-kali mengecek pesan di ponselnya dan Sonoko sedari tadi tiada hentinya menggerutu dengan wajah kesal.

" Hei Ran ini sudah lewat setengah jam kan? " Sonoko melirik arlojinya.

" Ya benar. Kita tunggu sebentar lagi ya Sonoko. Mungkin sebentar lagi Ryou-san akan datang. " Jawab Ran berusaha membujuk Sonoko sahabatnya itu.

Ran sendiri juga terlihat gelisah. Ia berkali-kali melihat ponselnya. Berharap ada telepon atau pesan balasan dari Ryou.

" Apakah kau sudah menelponnya? Coba kau telepon dia lagi Ran! "

" Aku sudah menelponnya. Tapi hanya mesin penjawab telepon yang menjawab. "

Sonoko masih terus menggerutu dan Ran berusaha terus menenangkan dan membujuknya.

" Laki-laki macam apa membiarkan sorang wanita menunggu! "

" Sabar Sonoko. Kita tunggu sebentar lagi, kalau dalam 10 menit Ryou-san belum juga datang, kita pulang ok? " Bujuk Ran.

" Tidak mau! Aku pulang sekarang! "

Sonoko bergegas pergi dan Ran berusaha mencegahnya.

" Jangan begitu dong Sonoko. Aku mohon! " Sonoko menghentikan langkahnya dan menatap Ran dengan tatapan bosan.

" Baiklah Ran! Lima menit! Kalau dia belum juga datang ki..ta—

Belum selesai Sonoko melanjutkan perkataannya. Sebuah mobil venquish berwarna putih berhenti tepat di depan mereka. Ran dan Sonoko keduanya terdiam sesaat setelah pengemudi venquish itu keluar dari mobilnya dan bergegas menghampiri mereka.

Seseorang itu adalah pemuda tampan dengan messy blonde hair. Pemuda itu mengenakan sweater vest berwarna navy dengan kemeja putih lengan panjang yang di gelung setengah lengan, sehingga memperlihatkan jam tangan mewah berwarna silver yang di pakai pada pergelangan tangan kanannya dan celana panjang berwarna tan serta sepatu kulit coklat.

That guy looks so neat!

" Maaf ya. Aku sungguh minta maaf. " Ucap pemuda itu saat sudah berada di hadapan Ran dan Sonoko. " Aku tidak sengaja bertemu dengan teman lama ku dan kami malah keasyikan ngobrol. Maaf sudah membuat gadis manis seperti kalian menunggu terlalu lama. " Lanjut pemuda itu tampak menyesal.

Ran dan Sonoko masih terdiam dan tak berkedip memerhatikan pemuda tampan di hadapan mereka.

Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya terlihat bingung. " Err aku— Maaf aku tidak salah orang kan? " Tanyanya. " Kalian berdua Ran Mouri dan Sonoko Suzuki benar? "

" Yah aku Sonoko Suzuki. "

"Aku Ran Mouri. "

Ran dan Sonoko menjawabnya dengan terpesona dan masih terus menatap pemuda itu tanpa berkedip.

Pemuda itu tersenyum ramah yang justru membuat Ran dan Sonoko merona. Bahkan Sonoko sampai tak sadar kalau sekarang ini ia malah mengedipkan matanya terlalu banyak. Sedangkan Ran menaruh kedua tangan di pipinya dan sedikit memiringkan kepalanya menatap pemuda itu.

" Kalian baik-baik saja? " Pemuda itu terlihat bingung

Sonoko menghampiri pemuda itu dan menggenggam tangannya.

" Oh Tuan yang tampan! Aku sangat baik sekali. Bagaimana kau bisa tau nama kami? "

Ran masih belum sadar dari keterpesonaannya.

" Tentu saja aku mengenal kalian. Kalian adik kelas ku dan juga teman baik ku sewaktu kecil. "

Ran dan Sonoko masih terpesona dan sesaat terdiam, lalu keduanya sadar dan berteriak bersamaan.

" EHH? RYOU-SAN? "

" APA? KENZO-KUN? "

.

.

.

Ai Haibara menatap Conan dengan kesal selama perjalanan pulang mereka. Ayumi, Genta dan Mitsuhiko sampai tidak berani mendekatinya. Karena mereka tau. Lebih baik diam dan pura-pura tidak terjadi apa-apa kalau Ai Haibara sedang bad mood.

Mereka berpisah di persimpangan jalan. Tinggalah mereka berdua, Haibara dan Conan. Aura tidak mengenakkan semakin dirasakan oleh Conan. Dalam kepalanya ia berusaha untuk mencari alasan untuk menghindar dari Haibara.

" Err Haibara aku sudah—

" Sudah apa? Kau harus ikut pulang bersama ku kerumah profesor! " Titahnya tak terbantahkan dengan wajah bosan.

" Tapi aku sudah ada—

" Kau dengar kata ku barusan kan? " Aura menyeramkan kini semakin melingkupinya. " Banyak hal yang ingin ku tanyakan tentang teman mu yang terlalu banyak tahu itu! " Conan hanya bisa bergidik menelan ludah ke tenggorokannya.

" Kau mengerti kan Kudo-kun? " Ia terpaksa mengiyakan perkataan Haibara dan mengikutinya berjalan kerumah Professor Agasa.

.

.

.

" Jadi Kenzo-kun, sampai kapan kau akan berada di Tokyo? " Tanya Sonoko antusias.

Ryou berdehem pelan dan mengelap mulutnya dengan serbet putih yang ada diatas meja.

" Aku baru saja sampai kemarin lusa, dan kau sudah menanyakan kapan aku pulang? "

" Ah tidak— bukan seperti itu. " Sonoko cepat menyangkalnya.

Ryou tertawa pelan. " Hnn entahlah? Mungkin akan cukup lama. "

" Lalu bagaimana dengan sekolah mu Ryou-san? " Tanya Ran sambil sesekali menyuap ice cream vanilanya.

" Aku sedang mengambil cuti kuliah. "

" Heh? Cuti kuliah? Bukankah kau seharusnya masih kelas 3 SMA? Kau satu tahun diatas kami kan? " Tanya Sonoko.

Ryou baru saja mengaduk coffee lattenya. " Yah aku memang seharusnya masih kelas 3 SMA. Tapi karena aku mendapat akselerasi, sekarang ini aku sedang menjalani semester 3 ku di Universitas Bournemouth. " Ryou meminum coffee lattenya dengan tenang.

" Jadi begitu yah. " Jawab Ran, sementara Sonoko hanya menganggukkan kepalanya.

" Lalu jurusan apa yang kau ambil? " Tanya Ran.

" Aku mengambil Psikologi. Karena aku ingin mempertajam sel kelabu dalam otak ku. Agar seperti Hercule Poirot. " Ryou tertawa pelan.

" Ternyata kau sama saja dengan suaminya Ran! "

" Suami? " Ryou menaikkan sebelah alisnya.

" Iya siapa lagi kalau bukan si detektif angkuh itu. Iya kan Ran? Dia suamimu kan? " Goda Sonoko.

Ran menyangkalnya dengan wajah memerah. " Ryou-san, jangan dengarkan apa yang dikatakan Sonoko. Dia hanya mengada-ngada. "

" Aku dan Shinichi si maniak Holmes itu hanya teman. " Lanjut Ran.

Ryou tersenyum menanggapinya dan kembali meminum coffee lattenya lagi.

" Kalau pun kalian pacaran dan menjadi suami dan istri suatu hari nanti. Aku akan ikut senang. " Ucap Ryou. " Aku merestui hubungan kalian berdua. Bukan begitu Sonoko? "

Sonoko menganggukkan kepalanya dengan sendok yang masih ada di mulutnya.

" Aku dan Shinichi hanya teman kok. Sudah ah jangan menggoda ku seperti itu. " Bantah Ran dan wajahnya memerah karena malu.

" Jika kau menikah dengan Shinichi nanti, aku Sonoko Suzuki yang akan jadi pendamping mempelai wanitanya. " Sonoko terlihat antusias dengan matanya berbinar membayangkan pernikahan Ran dan Shinichi.

" Lalu aku akan bersenang hati menjadi pendamping sang mempelai pria. " Ryou mengedipkan sebelah matanya.

" Ah sudah dong jangan menggoda aku terus. Ryou-san juga malah ikut-ikutan. "

Ryou dan Sonoko tertawa bersama di sela gerutuan Ran dengan wajahnya yang bersemu merah.

.

.

.

Conan yang sedang di introgasi oleh Ai Haibara beberapa kali mendengus kesal. Ia juga berkali-kali meminta bantuan Professor Agasa untuk membantunya agar bisa terbebas dari Ai Haibara.

" Kan sudah ku bilang, dia teman baik ku sewaktu kecil. " Jawab Conan malas.

" Lalu bagaimana dia bisa mengetahui identitas mu sebagai Shinichi Kudo? Dan bukan Cuma itu! Ia juga mengetahui identitasku sebagai Sherry. " Ai Haibara berkacak pinggang dan tak melepaskan tatapan tajamnya pada Conan, seperti halnya seekor burung elang yang takkan membiarkan mangsanya lepas dari pengawasannya.

" Aku tidak tau soal itu. " Conan berusaha untuk tidak menatap Haibara.

" Bagaimana mungkin kau tidak tau? Bahkan ia juga mengetahui tentang obat Apotoxin 4869 dan juga tentang organisasi hitam. " Ai Haibara masih terus mengajukan pertanyaan pada Conan.

" Ryou-san mungkin mengetahuinya dari orang tuaku. " Jawab Conan dengan santai. " Sudah yah Haibara, sampai kapan kau akan terus menanyakan pertanyaan yang sama padaku. " Lanjut Conan.

" Sampai kau berkata jujur. Apa tujuan mu meberitahukan semua ini padanya? " Ai Haibara masih terus mendesak Conan agar berkata jujur.

" Aku sudah mengatakan yang sebenarnya pada mu. Hey Profesor bantu aku dong! "

" Aku bahkan tidak tau apa yang sedang kalian bicarakan? " Professor Agasa mengaruk belakang kepalanya dan tertawa.

" Kau belum menyadarinya Prof? Padahal kemarin dia datang kemari— ah benar juga, kemarin kau sedang tidak berada di rumah. "

" Kau kan tau daya ingat ku sangat buruk. Tetapi apapun itu, sudahlah Ai-kun. " Profesor Agasa berusaha menenangkan Ai Haibara.

" Semakin banyak orang yang tau akan hal ini, maka akan jadi semakin buruk. Bagaimana jika ia membocorkannya pada orang lain? "

" Ia tidak akan melakukan hal itu. Tenang saja kau tak perlu khawatir. "

" Kalau dia sampai terlibat dengan organisasi itu, dia juga akan jadi incaran mereka. Organisasi juga tidak akan segan-segan membunuhnya. Kau tau itukan? " Keras Ai Haibara.

Conan mendengus lagi untuk yang kesekian kalinya. " Tentu saja ia tidak bodoh untuk melibatkan dirinya dengan organisasi itu. " Conan memasukan kedua tanganya di saku celananya.

" Aku sangat mengenalnya. Dia adalah seseorang yang penuh antisipasi dan memiliki perhitungan yang matang. Daripada itu, bukankah lebih baik kau mengenalnya juga? Daripada kau terus-terusan curiga padanya. Cobalah berteman dengannya. " Conan berusaha menanggapinya dengan setenang mungkin.

" Mengapa aku harus berteman dengan teman mu itu? "

" Bukankah kau terus memerhatikannya sejak pertama kali bertemu dengannya, pada saat ia membantu memecahkan kasus di Restoran waktu itu? " Conan tersenyum sinis pada Ai Haibara.

Ai Haibara menghela napasnya. " Bodoh! Aku memerhatikannya karena aku curiga padanya. "

" Benarkah? Sama halnya dengan sersan Sato juga inspektur Megure serta semua orang yang ada disana. Kau juga terpesona padanya kan? " Conan tersenyum penuh kemenangan.

" Ah! Kalian sedang membicarakan pemuda misterius yang membantu menyelesaikan kasus di restoran itu ya? " Professor Agasa terlihat antusias. " Aku pun terkesan. Karena dia berhasil memecahkan kasus itu dengan cepat. Dalam 30 menit kasus itu sudah terpecahkan. " Profesor Agasa menambahkan.

" Yah dia membuat semua orang bungkam dengan analisa sel-sel kelabunya. Setiap perkataannya tak bisa disangkal dan tak terbantahkan. " Conan tersenyum lebar.

" Dia hebat bukan? Seperti Hercule Poirot. " Conan masih terus tersenyum sementara Ai Haibara memutar kedua bola matanya.

" Kau tak perlu mencemaskan hal itu Haibara. Karena dia adalah kakak ku! " Conan bergegas pergi melangkahkan kakinya. " Baiklah Professor Agasa aku pulang dulu. Sampai nanti! "


Hai aku newbie mohon bantuannya yah ^^

Adia ucapkan terimakasih untuk readers yang sudah mau membaca fic ini..

Fic ini akan lebih berfokus pada OC Ryou-sama dan my Black Princess Shiho Miyano ofcourse! ^^

Sekali lagi mohon bantuannya! Masukkan,kritikkan membangun ^^

.

REVIEW PLEASEEE

.