La Vie en Blanch et Noir
Disclaimer : I do not own Detective Conan/Case Closed all belong to Aoyama Ghoso
Canon Modified & OC
Chapter Two
Seorang pemuda misterius dengan suit abu-abu tengah mengintrogasi ketiga orang tersangka pembunuhan di sebuah restoran. Pembawaan dan gesture pemuda misterius itu begitu tenang, namun tatapannya tajam mengintimidasi. Inspektur Megure serta Sersan Sato dan Takagi entah bagaimana hanya terdiam memerhatikan pemuda misterius yang tengah mengintrogasi ketiga tersangka. Pemuda misterius itu melirik kearah Conan Edogawa, seorang anak laki-laki berkacamata yang sedari tadi mundar-mandir di lokasi kejadian dengan tertarik. Ia mengucapkan terima kasih kepada ketiga orang tersangka yang baru saja di introgasinya, lalu ia berjalan menghampiri Conan.
" Apa kau sudah menemukan semua bukti-buktinya? " Conan yang saat itu terlihat sedang berpikir keras terkejut.
Pemuda misterius itu tersenyum miring pada Conan. Sementara Conan yang baru saja tersadar dari keterkejutannya, terlihat menjadi salah tingkah. Pemuda misterius itu membuka kacamata Oakley yang bertengger di hidungnya dan memasukkannya pada saku suit abu-abu di dadanya.
" Sel-sel kelabu di kepala ku telah mencapai 99% dan akan menjadi 100% dengan bukti yang kau dapatkan." Conan balik memberikan senyum miring pada pemuda misterius itu dan tanpa basa-basi ia membisikkan sesuatu ke telinga si pemuda misterius.
Pemuda misterius itu membuka dan memutar topi fedora berwarna abu-abu berpita hitam ditengahnya itu, diberikannya pada Conan. " Hey Holmes, kau tidak keberatan kan? Kalau aku Poirot yang mengungkap kasus ini."
Conan memakai topi fedora si pemuda misterius. " Simpan keangkuhan mu itu sampai kau mengungkap siapa pelakunya." Conan kembali tersenyum.
Ai Haibara diam-diam memerhatikan mereka dengan tatapan tajam menyelidik. Rasa ingin tahu terlihat jelas di wajahnya. Saat pemuda misterius itu pergi ia segera menghampiri Conan.
" Siapa pria berpakaian rapi itu? " Tanyanya.
" Seseorang yang kelebihan sel kelabu dalam otaknya. " Conan hanya melirik Ai Haibara yang menautkan alisnya.
" Kasus ini tidak perlu berlarut-larut terlalu lama lagi Inspektur. "
Inspektur Megure mengalihkan pandangannya pada si pemuda misterius. " Apa maksudmu? Apa kau sudah tau siapa pelakunya? "
" Kita sudah melakukan percobaan yang kau suruh barusan, dengan menyuruh para tersangka mencoba miso asin dan pedas itu. Dan kau lihat sendiri kan? Tidak ada diantara mereka bertiga yang berdialek kansai, seperti yang dikatakan saudari Nami yang mendengar percakapan korban dengan si pelaku yang berdialek kansai. " Sela Sersan Miwako Sato.
Pemuda misterius itu kembali tersenyum. " Itu benar. Karena memang tidak ada diantara mereka bertiga yang berdialek kansai. Karena mereka bertiga memang bukan pelakunya. "
" Eh? Lalu siapa pelakunya? "
" Pelakunya adalah— Anda Nagato-san. " Pemuda misterius itu menunjuk ke arah Nagato, salah seorang pelayan restoran yang tengah berdiri kaku di belakang meja kasir.
" Bagaimana aku bisa melakukan itu? Aku bahkan tidak mengenalnya. Aku tidak mempunyai motif apapun untuk melakukannya. Lagipula aku lah yang menemukan mayatnya setelah mendengar wanita itu berteriak. " Tuturnya membela diri.
" Hmm motif yah? Semua motif mu tertulis jelas disini. " Pemuda misterius itu mengeluarkan buku catatan kecil berwarna hitam dari dalam sakunya.
Nagato membelalakkan matanya melihat buku catatan di tangan si pemuda misterius.
" Ada apa Nagato-san? Kau terlihat terkejut. " Pemuda misterius itu memasukkan buku catatan ke dalam sebuah plastik bening dan memberikannya pada sersan Takagi. " Bisa tolong kau periksa itu? Untuk memastikan apakah terdapat sidik jari korban dan juga tentunya sidik jari milik anda Nagato-san. "
" Tunggu sebentar. Sebelumnya milik siapa buku catatan itu? "
" Buku catatan itu adalah milik korban, Inspektur. Anak laki-laki berkacamata itu yang menemukannya. " Pemuda itu tersenyum pada Conan.
" Conan-kun? Benar kau yang menemukannya? " Tanya Inspektur Megure.
Conan menganggukkan kepalanya. " Um! Benar Inspektur. Aku yang menemukannya. Di ruang rahasia di toilet pria. "
" Ruang rahasia? " Tanya Sersan Sato.
" Benar sekali. Kau bisa meminta tim mu untuk memeriksanya. "
" Segera periksa lagi toilet pria! " Perintah Inspektur Megure.
" Selagi menunggu tim anda memeriksa. Aku akan memberitahukan kalau tuduhan ku pada Nagato-san, bukanlah tanpa dasar. Aku sudah mencurigai Nagato-san ketika ia membenarkan perkataanku. Saat aku mengatakan 'dialog Kansai' menjadi 'dialek Kansai'. Mengapa demikian? Karena hanya orang Kansai lah yang menyebut 'dialog Kansai' dengan 'dialek Kansai'. Bukankah begitu Nagato-san? "
Pemuda itu menempatkan kedua tangan pada saku celananya. " Nagato-san, anda bahkan telah mengetahui kesalahan anda sendiri, ketika anda menyadari bahwa 'karai' dalam dialek Kansai memiliki arti yang berbeda dengan 'karai' dalam dialog Tokyo. Saat aku meminta pelayan mengambilkan miso untuk di cicipi oleh ketiga tersangka, Sasaki-san yang menolak mencicipi miso itu mengatakan kalau ia alergi terhadap masakan pedas. Namun karena anda Nagato-san berdialek Kansai, maka dari itu anda mengira 'karai' yang dimaksud memiliki arti 'asin' dan anda mengatakan pada Sasaki-san, kalau miso itu tidak pedas. Lalu di toilet pria, terdapat sebuah pintu di ujung ruangan yang mengarah ke basement. Itu adalah trik anda untuk dapat keluar-masuk toilet tanpa terlihat oleh orang dalam Restoran. Bukan begitu Nagato-san? " Nagato menundukkan kepalanya.
" Dalam tempat sampah basement juga ditemukan sebuah sapu tangan yang telah di beri obat bius yang anda gunakan untuk membuat korban pingsan. Lalu setelah itu anda memasukkan permen beracun ke dalam mulut korban. Anak laki-laki berkacamata itu sudah memberikannya pada tim forensic. Aku yakin sidik jari pada sapu tangan itu sama dengan sidik jari pada sumpit yang anda gunakan untuk memakan kare di ruang basement itu."
"K-kau—
" Anda membunuh korban dengan cara yang sama dengan kematian adik anda. Anda mengira korban lah yang sengaja meracuni adik anda. "
" Yah aku melakukan itu! Karena ia membunuh Hachiko! Adik ku, keluarga ku satu-satunya! "
" Nagato-san— Bukan korban yang meracuni adik anda. Tetapi adik anda sendirilah yang memakan permen beracun itu. Korban datang kesini untuk menyampaikan rasa bela sungkawa dan hendak mengucapkan permintaan maafnya pada anda. Korban pun juga sangat mencintai adik anda dan sangat merasa kehilangan. "
" Tidak! Kau salah! Orang itu dia—
" Aku mengatakan yang sebenarnya pada anda! Semuanya ada di buku catatan milik korban. Anda mungkin hanya membaca catatan yang ditulis oleh korban mengenai kematian adik anda. Tapi anda tidak menyadarinya, kalau di dalam buku catatan itu juga terdapat surat perpisahan yang di tulis sendiri oleh adik anda, yang di tujukan kepada anda. Selain untuk meminta maaf, korban datang kesini juga untuk memberikan surat itu pada anda. Maaf karena aku lancang membacanya. Dalam surat itu tertulis alasan adik anda bunuh diri dengan menelan permen beracun. Karena ia sudah tidak tahan dengan penyakit kanker yang di deritanya. Dokter juga sudah memfonis umurnya tidak akan lama lagi. "
Tubuh Nagato bergetar, ia sudah tak kuat menahan air mata keluar dari pelupuk matanya. Tangannya memukul-mukul lantai menyesali perbuatannya.
Kasus itu pun akhirnya terselesaikan!
" Terimakasih telah menjaga topi ku Holmes! "
" Kurasa tingkah mu sebagai Poirot itu berlebihan. " Ai Haibara tak lekat memandangi Conan dan pemuda misterius itu.
Inspektur Megure menghampiri si pemuda misterius. Ia mengucapkan terima kasih dan menanyakan namanya.
" Bukan masalah. Aku hanya pencinta novel misteri yang kebetulan lewat. " Jawab pemuda misterius itu lalu pergi begitu saja.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang di mobil vw Profesor Agasa, grup Detektif Cilik masih membicarakan si pemuda misterius. Ai Haibara pun masih sangat penasaran, ia berkali-kali bertanya pada Conan tentang siapa pemuda itu sebenarnya. Ai merasa kalau Conan mengenal pemuda misterius itu dan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tetapi bukannya memberitahu, Conan malah meledek Ai.
" Apa kau terpesona padanya? " Ai segera menyangkalnya dan memasang wajah malasnya. Ia memilih untuk menahan rasa ingin tahunya.
" Aku seperti pernah bertemu dengan pemuda itu. " Ucap professor Agasa mengerutkan dahinya.
" Kau mungkin juga mengenalnya dengan baik Prof. " Jawab Conan dan Ai meliriknya dengan tatapan tajam yang penuh rasa ingin tahu. Tapi ia berusha bersikap tak peduli.
.
.
.
Ai Haibara sedang bad mood. Ia masih kesal setiap kali memikirkan pemuda bernama Ryou Kenzo. Si pemuda misterius di restoran, yang ternyata adalah teman Shinichi Kudo sewaktu kecil dan sudah di anggapnya sebagai kakak sendiri. Ai masih merasa kalau Kudo dan Professor menyembunyikan sesuatu darinya. Bagaimana ia tidak kesal? Kudo memberitahu identitasnya begitu saja dengan gamblang kalau dirinya adalah mantan organisasi hitam pada temannya itu.
" Bagaimana mungkin dia bisa memberitahukan semua hal itu dengan mudahnya pada orang baru? " Pikir Ai. " Walaupun yah— mereka sudah berteman sejak kecil dan ia sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri. Tapi tetap saja! Kudo seharusnya tidak menganggap remeh organisasi. Temannya itu bisa terlibat dalam bahaya! "
Pikiran Ai kusut. Ia berusaha tidak peduli tapi ia tidak bisa. Ia berjalan dengan cepat mendahului Kudo dan yang lainnya. Saat ia berjalan, ia tidak sengaja menabrak seseorang dan ia terjatuh.
Ai meringis mengelus bokongnya. " Are you okay Miss? " Orang itu mengulurkan tangannya pada Ai untuk membantunya berdiri.
Ai mengangkat wajahnya dan ia sedikit terkejut saat mengetahui kalau ternyata orang itu adalah Ryou Kenzo. Ai hanya terdiam dan pipinya memerah saat Ryou menundukkan kepala dan tersenyum padanya.
" Wahh kakak kan yang kemarin lusa memecahkan kasus di restoran!"
Dengan senyum di wajahnya, Ryou berusaha bersikap ramah pada anak-anak. Ai masih terdiam.
" Konichiwa! Kalian pasti teman-temanya Conan-kun. " Senyum tidak hilang dari wajah Ryou.
" Iya kami grup Detektif Cilik lho! " Kata Genta.
Ryou membuka sunglassnya dan menggantungkannya pada white t-shirtnya. Ai Haibara masih terdiam dan sesekali melirik Ryou dengan pipi merona. Alhasil ia hanya menundukkan wajahnya karena ia tidak ingin seseorang mendapatinya tengah merona. Ai sendiri pun tidak mengetahui apa yang menyebabkannya merona seperti itu.
" Cool! Apa kalian baru pulang sekolah? " Ryou masih bersikap ramah dan terlihat antusias.
" Ya kami baru pulang. Onii-san sendiri sedang apa disini? " Tanya Mistsuhiko.
" Oh aku baru membeli tiramisu cake ini. " Ryou menunjukkan tiramisu cake yang baru di belinya.
" Wah asyik! Mau ada tamu di rumah ya? Okaa-san biasanya membeli kue kalau ada tamu yang akan berkunjung kerumah. " Ai yang tadinya hanya terdiam sekarang justru menatap Ryou dengan tatapan menyeledik. Seakan seperti mode super hati-hatinya telah kembali.
" Atau kau berencana berkunjung ke rumah seseorang? " Kata Genta.
" Yup kalian benar. Aku ingin berkunjung ke rumah teman ku. Rumahnya di Blok 2 No 21. Kota Beika. " Shinichi memasang tampang idiotnya pada Ryou.
" Bukan kah itu rumah yang di sebelah Professor? Yang sekarang ini di tinggali kak Subaru?" Jawab Mitsuhiko.
" Ah ya bicara tentang Professor. Saat di restoran kalian bersama dengan Profesor Agasa kan? Dulu aku juga sering berkunjung ke rumahnya, bersama teman ku yang tinggal tepat di samping rumah Professor Agasa. " Ryou tertawa kecil dan melirik Shinichi.
" Shinichi-niichan sepertinya tidak ada di rumah. Dia sedang menjalankan kasus sulit. " Jawab Shinichi.
" Hmm aneh ya. Barusan di email dia mengatakan kalau sore ini aku bisa berkunjung ke rumahnya. "
" Mungkin Shinichi-niichan lupa hehe. " Shinichi masih memasang wajah idiotnya.
Ryou terlihat menahan tawanya. " Ah baiklah kalau begitu Conan-kun. Kau mungkin benar, bakashin itu pasti lupa kalau ia sudah memiliki janji dengan kawan lamanya. Tapi dia malah bermain dengan Varmint. " Ryou membungkuk dan mengacak-ngacak rambut Shinichi.
Ai menyipitkan matanya. Sekarang ini ia malah terlihat malas dan memasang wajah bosannya.
" Tapi tak masalah. Aku bisa berkunjung lain kali. Apakah Professor ada dirumah? Aku sudah terlanjur membeli cake? " Ryou mengangkat cake di tangannya dengan wajah kecewa.
" Kebetulan kami juga ingin ke rumah Profesor. " Kata Ayumi.
" Benarkah? Bagaimana kalau aku antar dengan mobil ku? Kalian bisa tunggu disini. Aku memarkir mobil ku tidak jauh dari sini."
Ayumi, Mitsuhiko dan Genta menjawabnya bersamaan. " Baikkk. "
" Tidak heran kalian berteman. Kalian sama angkuhnya. " Kata Ai pada Shinichi sarkastik.
" Haha kau kan belum mengenalnya dengan baik. " Shinichi membela Ryou dan memasang wajah malasnya pada Ai
" Dia menyebut anak-anak ini 'Anak Nakal' "
" Ah! Dia hanya becanda. Ryou-san mungkin menyindirku. " Ai hanya menguap menyeka mulutnya dengan tangan menanggapi Shinichi.
Tidak lama kemudian, Ryou datang dengan venquish putihnya.
" Heyy kids! Ayo masuk! "
" Wahhh mobilnya bagus! " Kata Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta bersamaan.
" Sepertinya teman mu adalah varmint yang kaya!" Ai kembali dengan perkataan sarkastiknya.
" Venquish di jepang? Kau benar-benar ingin menarik perhatian yah. " Kata Shinichi saat masuk dan duduk di kursi depan di samping Ryou.
" Maaf saja. Aku bukan Holmes yang senang berjalan kaki. " Ryou tersenyum lebar. Di saat yang bersamaan grup Detektif Cilik tengah membuat ulah.
" Wahhh terbuka! "
" Hey— Hati-hati kalian bisa terjatuh. " Ryou terlihat cemas saat melihat Genta yang sedang membuka atap mobil dan berdiri di kursi jok.
" Kau yang mengajak varmints ini kan? Jadi maklum saja mereka kan masih anak-anak. " Ai mengatakannya sarkastik.
" You right Miss! " Ryou melirik Ai dari kaca spionnya dan menyunggingkan senyum di wajahnya. " Anak-anak lebih baik kalian duduk dan berpegangan yang erat. Karena aku akan menunjukkan kebolehanku menyetir! "
.
.
.
Sesampainya dirumah Professor Agasa. Ayumi, Mitsuhiko, Genta mendorong dan menarik-narik Ryou untuk segera masuk kedalam.
Panggil Ayumi, Mitsuhiko, Genta bersamaan. " Professor! "
" Akhirnya kalian datang. Aku sudah menyiapkan games barunya! "
" Ya kami sudah tidak sabar untuk mencobanya. " Kata Genta.
" Ah! kau bukannya pemuda yang kemarin lusa membantu memecahkan kasus di Retoran? "
" Kemarin aku juga kesini tapi kau tidak ada Prof. Aku hanya bertemu dengan Shin— Conan-kun. " Ryou tertawa kecil dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
" Ah ya maafkan aku. Aku kemarin sedang keluar rumah. Eh? Apa yang kau lakukan kemarin di rumah ku bersama Shin— Conan-kun? "
" Oe mengapa kalian jadi memanggilku Shin-conan-_- " Ucap Shinichi dalam hati dan memasang wajah idiotnya memandang Professor Agasa dan Ryou bergantian.
" Kau masih belum mengingat aku Prof? " Ryou pura-pura tersinggung.
Professor Agasa tertawa. " Hehe maaf. Aku memang merasa pernah bertemu dengan mu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya. "
" Dulu kau pernah membuatkan aku dan Shinichi walkie talkie. Kau ingat sesuatu? "
" Hmm.. Walkie talkie yah? " Professor Agasa terlihat berpikir. " Ah! Mungkinkah? Kau? Kenzo-kun! Kau terlihat berbeda. Dulu itu rambutmu sedikit panjang dengan poni yang hampir menutupi matamu. "
" Oh itu— Maksud mu seperti ini? " Ryou mengacak-ngacak rambutnya yang tersisir rapi kebelakang dan mengibaskannya seperti gaya seorang model profesional. Rambut pirangnya jatuh dengan sempurna! Messy-hairnya membuat Ryou terlihat semakin tampan.
Shinichi kembali memasang tampang idiotnya. Ayumi, Mitsuhiko, Genta dan Professor Agasa justru malah memasang sparkling eyes mereka dan Ai satu-satunya yang masih terlihat cool dengan berusaha untuk tidak peduli.
" Apa untungnya tebar pesona pada anak kecil dan kakek tua? " Ryou cuek saja menanggapi Ai.
" Ah Prof, kebetulan aku membawa cake. Tadinya aku ingin berkunjung ke rumah Shinichi, tapi Conan-kun bilang dia masih menangani kasus sulit dan tidak dirumah. "
" Ya Shinichi memang belum pulang. " Professor Agasa melirik Shinichi dan memaksakan tawanya.
Mereka duduk di sofa sementara Mitsuhiko dan Genta bersemangat mencoba game baru yang dibuat Profesor.
" Ai-kun bisa tolong aku untuk menyajikan cake ini di piring. "
" Yeah~ Baiklah~ "
Ryou menhenyakkan dirinya ke sofa. " Banyak hal tak terduga yang terjadi yah! "
" Bukankah itu karena kau terlalu lama tinggal di negara orang_- " Jawab Shinichi.
" Itu tidak sepenuhnya bisa dikatakan tinggal di negara orang. Dad memang orang berkebangsaan Inggris. Yah walaupun ia lahir di Rusia. "
" Terima kasih Ai-kun! " Ai kembali bersama Ayumi. Menaruh tiramisu cakenya serta jus jeruk diatas meja. Ai duduk di samping Professor dan sibuk dengan majalahnya.
" Aku hampir lupa memperkenalkan diri pada kalian. Maaf ya anak-anak. "
" Ahhh perkenalannya nanti saja. Aku jadi lapar melihat cakenya. " Kata Genta.
" Ah yah sepertinya enak! " Kata Professor Agasa.
" Ingat yah Prof! Tidak boleh banyak-banyak! " Ucap Ai dari balik majalahnya.
" Senangnya dapat perhatian. Selama ini kau kan selalu tinggal sendirian Prof. " komentar Ryou sambil menuang jus jeruk kedalam gelasnya.
" Yah tapi sayangnya Professor jadi tidak bisa memakan Junkfood kesukaannya terlalu banyak lagi. " Cibir Shinichi.
Ai menurunkan majalah dari wajahnya. " Apa yang kalian keluhkan? Itukan demi kesehatan Professor sendiri yang semakin tua_- Benarkan Prof? "
" Hehe iya terima kasih karena sudah selalu mengingatkan ku Ai-kun. "
" Wahh enak sekali! " Wajah Ayumi tampak ceria.
" Benar! Enakkk! " Begitu halnya dengan Mitsuhiko.
Genta mengatakannya dengan wajah belepotan krim. " Hei oniisan sering-sering mampir dan bawa seperti ini yah!"
" Syukurlah kalau kalian suka. Omong-omong nama ku Ryou Kenzo. Yoroshiku! "
" Nama Ayumi, Ayumi Yoshida! "
" Aku Mitsuhiko Tsuburaya! "
" Aku Gwentwah Kyowjwimah! " Ryou menaikkan sebelah alisnya dan tertawa.
" Kojima-kun! Kau seharusnya menghabiskan makanan yang ada di mulutmu itu sebelum bicara! " Protes Ai dan Ryou masih tertawa.
" Gomen.. Gomen! Nama ku Genta Kojima! "
" Pasti menyenangkan kalau bisa kembali menjadi anak-anak. "
" Sebaiknya kau memikirkan perkataan mu itu lagi dengan baik. " Jawab Ai dari balik majalahnya.
Shinichi menatap Ai dengan wajah idiotnya dan Ryou justru malah tertawa geli saat memandang Shinichi dan Ai secara bergantian.
Ai menurunkan majalah dari wajahnya lagi. " Aku serius! Aku tidak keberatan untuk membuatkan mu obat agar kau bisa kembali jadi anak kecil jika kau mau! "
Ryou masih tertawa. " Ai-chan kau bisa membuat obat untuk membuat orang dewasa menjadi anak kecil? " Tanya Ayumi sambil memegang gelas berisi jus jeruknya.
" Heh? " Ai menatap Ayumi terkejut.
" Ah tentu saja, Haibara hanya becanda Ayumi-chan hehe. " Sambar Shinichi.
" Ya mana mungkin aku bisa membuatnya. " Ai pura-pura tertawa dan Ryou masih saja tertawa geli sambil menggelengkan kepalanya.
" Ryou-niisan kau sepertinya gembira sekali_- " Tegur Shinichi.
" Seriously! Teman mu itu lucu sekali! " Ryou berdehem sementara wajah Ai memerah karena kesal. " Ai-Chan jangan marah pada ku, Okay? Aku hanya becanda. Tentunya aku tidak berharap setelah ini kau akan memasukkan obat aneh dalam makanan atau minuman ku yang bisa mengubahku menjadi anak-anak lagi. No way! absolutely not! Aku sudah cukup bahagia dengan masa kanak-kanak ku. " Ryou tersenyum pada Ai dan dibalas dengan tatapan —Aku-tidak-segan-memberikanmu-obat-APTX4869-kalau-kau-berani-macam-macam— Ryou yang masih tersenyum pada Ai mengalihkan pandangannya dengan canggung.
" Hhah lucu sekali. Lagi pula sangat tidak mungkin seseorang dapat membuat obat seperti itu. " Ucap Mitsuhiko.
" Um! Itu mungkin hanya ada di film-film. " Ayumi mengangguk setuju.
Ryou menahan tawanya dan tak berani menatap gadis kecil yang dudu berseberangan dengannya itu. Shinichi dan Profesor Agasa berusaha tertawa. Ai Haibara mengalihkan pandangannya pada majalahnya lagi. Genta masih sibuk makan!
" Hey Shinichi. " Bisik Ryou. " Dia tidak akan benar-benar membuat obat itu untuk ku kan? "
" Eh? " Sekarang ini justru malah Shinichi yang tertawa geli.
" Conan kau kenapa? " Tanya Ayumi.
" Ah tidak apa. Aku hanya.. Ahah.. Tidak habis pikir membayangkan hal itu benar-benar terjadi hhaha! "
" Apa yang terjadi? "
" Bukan apa-apa Ayumi-chan hahah! "
Ryou terlihat cemberut.
Ryou berpikir, menyeramkan juga membayangkan tubuhnya menyusut seperti Shinichi. Membuat tubuh orang dewasa menyusut merupakan suatu hal yang tidak mungkin dan tidak masuk akal. Tapi semua itu nyata. Semua itu bukan mustahil. Gadis kecil yang sedang duduk berseberangan dengannya itu, entah bagaimana behasil membuat obat yang bisa menyusutkan tubuh orang dewasa menjadi anak kecil. Sungguh di luar nalar. Tidak heran dia pasti seorang jenius yang hebat. Ryou melirik Ai lagi dan memandanginya yang sedang sibuk dengan majalahnya. Tanpa sadar Ai juga meliriknya sehingga mereka tidak sengaja saling bertatapan. Ryou segera mengalihkan pandangannya, ia segera ikut menanggapi lelucon yang sedang di buat Genta.
.
.
.
Hujan turun rintik-rintik pagi itu. Grup Detektif Cilik minus Ayumi sedang berdiri di persimpangan jalan menuju sekolah.
Mitsuhiko melirik jam di ponselnya lagi. " Sudah jam 7, Ayumi-chan tidak biasanya belum datang. "
" Kau benar. Biasanya kan Ayumi yang semangat datang pagi. " Sahut Genta.
" Mungkin Ayumi-chan kesiangan. " Jawab Shinichi sambil menatap layar ponselnya.
Ai menaikkan sebelah alisnya melihat Shinichi yang memasukkan ponsel ke sakunya sambil senyum-senyum.
" Pasti kau baru mendapat pesan teks dari kakak tersayang mu itu. Makanya kau senyum-senyum. " Ucap Ai dengan wajah bosannya.
" Itu bukan dari Ran. "
" Lalu? "
" Teman-teman! " Ayumi berlari dan berhenti dengan napas trsengal. " Maaf yah! Ayumi kesiangan! "
" Tidak apa Ayumi-chan, kita juga masih belum terlambat. "
" Maaf ya Mitsuhiko-kun, semuanya. Alarm Ayumi mati dan kalau saja Okaa-san tidak membangunkan Ayumi, Ayumi pasti masih tidur. "
" Yosh! Kalau begitu ayo kita berangkat! " Ucap Genta bersemangat.
Ai menarik tas Shinichi agar ia sedikit menghentikan langkahnya dan berjalan di sampingnya. " Ada apa sih Haibara? "
" Kau belum menjawab pertanyaan ku barusan. "
" Memangnya barusan kau menanyakan apa? "
Shinichi membuka ponselnya lagi dan dia tertawa geli dan membuat Ayumi, Mitsuhiko, dan Genta juga berbalik menatapnya.
" Apa yang lucu Conan? " Tanya Genta.
" Tidak bukan apa-apa! Ayo cepat jalannya kita bisa terlambat. "
" Huh dasar Conan. Kalau ada sesuatu yang menyenangkan bagi-bagi dong. "
Shinichi kembali memasang wajah bosannya. " Aku hanya membaca cerita lucu di artikel. Tidak terlalu menarik, kurasa kalian juga tidak akan suka. " Shinichi kembali memasukkan ponselnya. " Sudahlah ayo! "
Ai menghimpit Shinichi. " Aku tau itu bukan cerita lucu di artikel. Dan aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi! " Shinichi memasang tampang idiotnya.
" Mengapa kau begitu penasaran? "
" Entahlah? Aku memiliki perasaan buruk untuk itu. " Aura tidak mengenakkan melingkupi Ai saat ia mendelik kearah Shinichi. " Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan? Atau jangan-jangan kau sedang membicarakan aku dengan seseorang. "
Shinichi bergidik. " Darimana kau tau? "
" Apa?! Jadi benar, kau sedang membicarakan ku! "
" Tidak bukan! Tidak seperti yang kau pikirkan. Pesan itu dari Ryou-san. "
" Oh pantas saja! " Ai melipat kedua tangannya di dada. " Awas yah kalau kau sampai mengatakan yang tidak-tidak tentang ku padanya. "
" Aku juga tidak tertarik. " Ai kembali mendelik pada Shinichi. " Ryou-san meminta ku mengatakan padamu, untuk tidak membuat obat itu. Ryou-san benar-benar khawatir kalau kau akan membuat obat itu untuknya. " Ai yang sebelumnya memasang wajah malasnya kini malah tertawa.
" Ai-chan tertawa. " Bisik Ayumi pada Mitsuhiko dan Genta.
Mereka pun berhenti dan berbalik untuk yang kedua kalinya, menatap Shinichi dan Ai penasaran. " Sebenarnya apasih yang sedang kalian bicarakan dan tertawakan? " Tanya Mitsuhiko.
" Bukan apa-apa Tsuburaya-kun. Hanya cerita lucu di artikel yang tidak terlalu menarik. " Ai masih tersenyum.
" Aku jadi penasaran cerita seperti apa yang ada di artikel itu? " Sahut Genta.
" Ayumi juga penasaran. "
" Sungguh bukan apa-apa. Ayo kita akan terlambat. " Ai menarik lengan Ayumi di ikuti oleh Mitsuhiko dan Genta, Shinichi hanya menatap mereka dengan tampang idiotnya lagi.
.
.
.
Seorang gadis berambut brunette panjang berombak, sekali lagi menggebrak meja kantor polisi di depannya. Ia ditahan karena membuat dua orang pria masuk rumah sakit. Iris hazelnut yang hampir selaras dengan brunette hairnya berkilat penuh keyakinan. Ia menaruh lengannya yang di borgol diatas meja dengan cukup keras.
" Sudah ku bilang, kalau aku ini korban! " Gadis itu mengerucutkan bibirnya yang di poles oleh lipstick berwarna hitam. " Dengar yah ibu polwan! Mereka itu mencoba untuk bersikap kurang ajar pada ku. Jelas saja aku melakukan pembelaan diri. "
" Tapi kau tidak seharusnya membuat mereka sampai babak belur dan tidak sadarkan diri sampai dilarikan ke rumah sakit begitu. " Gadis itu melengos. " Dan alasan ku menahan mu bukan hanya itu. Aku masih menahan mu disini karena kau tidak memiliki kartu identitas. Ketara sekali kalau kau bukan orang Jepang. Kau juga tidak memiliki passport dan visa. " Gadis itu memutar bola matanya.
" Aku bukannya tidak memiliki kartu identitas, passport dan visa. Tapi semua itu ada di koper yang dibawa oleh kakak ku! "
Gadis itu hendak berdiri tapi polwan yang sekarang berdiri di belakang gadis itu menahan pundaknya agar gadis itu tetap duduk. " Duduk saja dengan santai. "
" Kau menyebalkan sekali ibu polwan! " Cibir gadis itu.
" Aku ini masih muda tau! Jangan panggil aku ibu-ibu_- " Polwan itu mencengkram pundak gadis itu.
" Aw! Itu sakit ibu polwan! Aku bisa menuntut mu dengan tuduhan menganiaya tahanan yang tidak bersalah! "
" Sudah ku bilang jangan panggil aku ibu-ibu! " Tanduk seakan keluar dari kepala polwan itu yang sekarang duduk di depan gadis itu.
Gadis itu bergidik ngeri. " Okay! Okay! tante polwan! "
" Aku juga bukan tante-tante T_T " Air mata mengalir deras di kedua pipi polwan itu.
Gadis itu memutar kedua bola matanya. " Huh! Allright! Allright! Kakak polwan yang cantik! Bisa kah kau tolong mengambilkan ponsel di saku jeans ku? " Polwan itu mengangkat wajahnya pada gadis itu. " Aku ingin menelepon teman ku yang berada di Jepang. Aku yakin dia bisa membantuku. "
" Mengapa kau tidak menghubungi kakak mu saja? " Polwan itu berdiri dan mengahmpiri gadis itu dan merogoh saku jeansnya.
" Kakak ku yang ceroboh itu lupa membawa ponselnya. " Polwan itu memberikan ponselnya pada gadis itu.
Gadis itu mengetik pesan teks dengan cepat yang membuat polwan itu membelalakkan matanya. Ia menghela napasnya lega dan menaruh ponselnya diatas meja. Beberapa detik kemudian ponselnya berdering.
" Akhirnya! " Gadis itu segera mengangkat teleponnya. " KENZO-KUNNNN! HUAAA! " Polwan itu mengerutkan dahinya melirik gadis itu.
" Tolong akuuu Kenzooo! Hiks! Aku di tahan di kantor polisi! Aku berpisah dengan Kai dan sekarang aku tidak tau dia dimana? Hiks! " Teman yang di telepon oleh gadis itu ternyata adalah Ryou Kenzo.
" Tante polwan yang menahan ku mengira aku penjahat! Dia mengancam akan mengusirku dari Jepang karena aku tidak punya kartu identitas, passport juga visa! Hiks! " Ryou di sebrang sana berusaha menjauhkan ponsel dari telinganya. " Padahal.. Padahal.. Hiks! Semua itu ada di koper yang di bawa oleh Kai! Tas dan dompet ku juga ada bersama Kai! Tapi tante polwan itu tidak percaya pada ku! Huaa! "
" Er Rys! Bisakah kau tenang dan mengecilkan suara mu sedikit? " Sahut Ryou di sebrang sana.
" Pokoknya.. Pokoknya.. Kau harus cepat datang kesini! Aku takut Kenzooo! Huaa! "
Ryou menjauhkan lagi ponsel dari telinganya. " Aku segera kesana, Okay? Tenangkan dirimu! "
" Okay! Hiks! I'll be wait! Be quick Kenzo! Hiks! "
" Yeah I'll be right there as soon as possible! "
Beep!
Gadis bernama Rys itu tersenyum lebar ke arah polwan itu.
" Sepertinya kau berbakat jadi seorang aktris opera sabun. " Sindir si polwan.
" Thankyou! Tapi aku tidak tertarik menjadi seorang super star! "
.
.
.
Hiiiiiiiiii
Long time no see :')
Adia berharap bisa update rutin tapi ternyata sulit banget yah *sigh!
Kesibukan Adia di dunia nyata, benar-benar membuat Adia tidak punya waktu banyak meluangkan waktu untuk menulis. Karena Adia di dunia nyata juga disibukkan untuk menulis cerita-cerita lain untuk sederetan tugas kampus (entah itu script short movie, talkshow, membuat cerpen, atau sekedar meresensi novel dan film) Terlebih lagi di semester depan Adia sudah memulai praktika terpadu, Adia di tuntut membuat konsep cerita yang lebih mendalam untuk short movie tugas praktika. Anyway penulisan script dan novel atau ff itu sangat berbeda yah.. hmm-_- ketara sekali di chapter ini Adia justru lebih banyak menggunakan dialog ketimbang paragraf panjang. Adia sekali lagi minta maaf, kalau Chapter ini tidak bisa memuaskan readers sekalian :(
Ah yah.. terima kasih yang sudah mengirimkan pm, favorite, follow dan review untuk LVEBEN!
Adia sangat menghargainya!
A&Q
Hi Betelgeuse Bellatrix ^^ OOT! Adia suka bangett sama Bella btw hehe.. She's the one of my fave villains in HP!
Ryou Kenzo garysue? Hmmmm untuk Adia, nobodys perfect! Di dunia ini atau pun di dunia fanfic ^^ Karena LVEBEN juga baru berjalan 2 chapter-_- rasanya masih belum bisa menyatakan kalau Ryou Kenzo itu garysue..
.
Hi Guest ^^
Trimz sudah mau mengikuti LVEBEN..
Ps: Cek my story yah.. Adia mempublish cerita baru! Cerita berjudul "The Another Nana" ini kental dengan dramanya. Untuk readers yang suka dengan cerita percintaan yang di bumbui dengan musik. "The Another Nana" dirasa sangat pas!
.
-REVIEW PLEASEEE-
.
