Disclaimer
Grand Chase, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
Adaption story : Bakemonogatari eps 2– "Mayoi Snail" by Nisio Isin and Vofan
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 1 : Wandering Soul [part 3]
.
"Kau terlambat." Omelnya.
"Maaf." Jawabnya datar. Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya yang tertutup surai kelabu.
"Sudahlah, ayo lanjutkan pencarian." Rufus bangkit dari kursi taman yang sejak tadi didudukinya selagi menunggu roh pengelana tersebut kemudian kembali menyusuri jalanan yang sama seperti kemarin. Roh itu, Zero, mengikutinya tak jauh dibelakang.
Kali ini mereka menandai setiap jalan yang telah mereka lalui dengan memberi coretan kapur diatas aspal. Tapi tetap saja. Lagi-lagi mereka selalu melalui jalanan yang sudah ditandai tersebut.
"Ini sia-sia.. kita hanya berputar-putar ditempat yang sama." Kata Zero datar, namun dari ekspresinya dibalik shades kuning yang dikenakannya terlihat kalau ia putus asa.
'Kalau ia sudah berputus asa maka ini tidak akan berhasil.'
"Apa kau tahu seperti apa bangunannya?"
"Aku.. tidak ingat.."
"Apa kau ingat seperti apa lingkungan sekitarnya?"
"Aku tidak ingat." Menghela nafas Rufus pun melontarkan pertanyaan terakhir.
"Kalau boleh kutahu, siapa orang yang tinggal di sana?" Tanya Rufus sambil terus berjalan tanpa peduli arah tujuan mereka. Zero terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Seseorang bernama Oz." Jawabnya singkat.
"Oz Pone Max Reinhart" Tambahnya.
KLIK.. Seakan sebuah tombol ditekan dalam pikirannya. Nama itu terdengar tak asing. Pemuda berambut cokelat itu merasa pernah mendengarnya di suatu tempat. Tapi dimana?
"Kenapa kau tiba-tiba saja berhenti?" Tanya Zero bingung melihat pemuda berambut cokelat ikal didepannya berhenti mendadak.
"Kita kembali." Rufus langsung berbalik arah.
"Eh? Tapi kan.."
"Kita kembali, sekarang!" Perintahnya tegas. Zero hanya bisa pasrah mengikuti.
.
'Oz Pone Max Reinhart..' Ujarnya dalam hati selagi mengutak-atik benda kotak yang dikenalnya sebagai laptop. Ia mencari informasi melalui internet tentang seorang yang bernama Oz dan.. bingo.. Ia menemukannya di sebuah artikel koran lama sekitar 30 tahun yang lalu.
EKSPERIMEN MEMATIKAN DEMI KEMAJUAN TEKNOLOGI
Oz, begitulah ia dikenal oleh sesama profesor alkemia. Profesor yang sudah cukup berumur ini masih melakukan berbagai macam eksperimen berbahaya di laboratorium pribadinya. "Ini semua demi kamajuan dan kesejahteraan di masa depan, saya harus bisa menuangkan apa yang saya ketahui demi dunia yang lebih baik." Begitulah kata beliau ketika diwawancarai...
'Artikel ini tidak terlalu berguna..' Batinnya kemudian menggeledah arsip-arsip lain. Kali ini ia menemukan artikel koran yang lain.
LABORATORIUM MELEDAK, 3 PROFESOR TEWAS
Diduga telah mempraktekkan biokemia, 3 orang profesor ditemukan tewas di tempat kejadian. Saksi mata mengakui telah mendengar suara gaduh beberapa saat sebelum laboratorium di jalan xxxxxxx blok x, no xx meledak. Sisa-sisa formula yang mereka gunakan diketahui mengandung sejenis metana dan uranium. Sampai saat ini masih belum diketahui penyebab pasti ledakan yang telah merengut nyawa 3 orang profesor ternama itu.
'Alamat laboratorium itu.. sama persis dengan alamat yang diberikan olehnya..' Ia memperhatikan dengan seksama foto-foto yang ada, terutama foto reruntuhan yang menjadi latar belakangnya.
'Begitu rupanya.. aku sudah mengerti sekarang'
.
..wahai siput yang tersesat..
..kemanapun engkau pergi..
..selama kau tidak tahu pasti tempat yang dituju..
..kau tidak akan pernah sampai ke tujuan..
.
Zero terkejut ketika ia mendengar pintu dibanting di belakangnya. Ia tengah duduk menunggu Rufus di halaman depan rumahnya sambil membaca sebuah buku yang entah didapatnya darimana.
"Aku sudah menemukannya. Aku akan mengantarkanmu kesana, tapi kau harus menceritakan padaku tentang semuanya." Zero hanya menatapnya sesaat.. kemudian mengangguk.
.
Mereka berlari melalui tempat yang sama, namun kali ini Rufus tidak mengandalkan pengelihatannya pada jalan disekeliling. Ia menggunakan aura pada foto yang dilihatnya tadi sebagai pemandu. Mereka terus berlari hingga jauh ke pinggiran hutan. Disana mereka dapat menemukan reruntuhan bangunan kayu yang masih terdapat sisa-sisa bekas terbakar dengan sebuah pedang bergerigi tajam tertancap disela-sela timbunan kayu yang hancur. Ia berjalan menerobos tumpukan kayu yang berantakan. Perlahan-lahan seluruh ingatannya mulai kembali.
"Master.. aku pulang.." Ujarnya ketika menyentuh bulatan kristal di pangkal pedang tersebut.
Tiba-tiba sekeliling mereka terdistorsi menjadi video memorial 30 tahun yang lalu.
.
(little Zero's POV)
'Aku dulu hanyalah sebuah tubuh tanpa nyawa'
'Sebelum master Oz menggunakanku sebagai media biokimia'
'Keberhasilannya menghidupkanku menggencarkan dunia'
'Aku adalah orang pertama'
'Yang tercipta oleh manusia'
.
'Ketika itu master mengajariku segalanya'
'Berjalan, berlari, menulis, membaca'
'Ingin sekali saja ia mengizinkanku memanggilnya papa'
.
'Suatu hari, master menunjukkan padaku sebuah pedang dengan bola kristal di pangkalnya'
'Katanya Ia akan mencoba mentransfer nyawa ke dalam pedang tersebut'
'Namun yang terjadi justru sebaliknya'
'Roh yang hendak digunakannya mengamuk'
'Menghancurkan wadah ramuan biokimia yang dibuatnya hingga tumpah'
'Cairan tersebut masuk ke dalam zat lain yang seharusnya tidak boleh dicampurkan'
'Kemudian terjadilah ledakan fatal yang menghanguskan tempat tinggal kami'
'Aku berhasil selamat karena master menghadiahiku dengan tubuh kebal terhadap luka'
'Sedangkan mereka, tak ada seorangpun yang selamat'
.
'Semenjak kepergian master aku ditampung di laboratorium negara'
'Karena tidak ada data milik master yang masih tersisa'
'Mereka menggunakanku sebagai obyek penelitian'
'Demi mengetahui rahasia biokimia yang master lakukan padaku'
'Tanpa ragu mereka membedahku'
'Hanya karena aku kebal terhadap luka bukan berarti aku tidak merasakan sakit'
.
'Beberapa tahun berlalu'
'Akhirnya aku memutuskan untuk kabur dari neraka itu'
'Mereka mengejarku'
'Aku berlari sampai ke atap'
'Mereka memojokkanku'
'Aku tak punya pilihan lain'
'Akupun melompat dari atas sana'
'Master.. aku ingin bertemu denganmu'
'Kemudian semuanya menjadi gelap'
(End of POV)
.
Semua kembali normal. Video flashback telah lenyap begitu pula dengan roh pengelana yang tadi bersamanya. Ribuan cahaya seperti kunang-kunang beterbangan, mengantarkan jiwa kembali ke tempat yang seharusnya.
"Selamat jalan.. Zero.." Ia menatap langit berbintang dengan satu bintang yang menyala paling terang menjadi pusat perhatiannya.
'Satu lagi roh telah kembali.' Rufus mengadahkan tangannya. Serpihan cahaya berkumpul ke tangannya kemudian berubah menjadi api berwarna biru.
'Kau... dan aku pun juga.. pasti..'
.
Author : yak, case 1 closed.. :D
Neva : selamat anda berhasil! *siap cupmie* :3
Author : eits, perayaannya nanti.. baca re:review dulu..
Neva : *pout* iya iya.. buat Baka Mamarthy.. terima kasih sudah membaca cerita singkat gak jelas ini.. #dilempar mouse sama author
Author : Rufus, baca yang satu lagi..
Rufus : aku lagi? *sigh* ..LitaRicaChan.. Soal itu masih dirahasiakan..
Neva : nah sekarang boleh perayaan kan? *nyeruput mie*
Rufus : *no comment* ==
Author : Next episode : Immortal Soul [part 1]
