Disclaimer
Grand Chase, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
Reference story : D-Gray-man eps 1– "The Black Clergyman" by Hoshino Katsura
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 2 : Immortal Soul [part 2]
.
"Uhm.."
Lelaki berambut hitam itu berbalik untuk mendapati seorang pemuda bershade kuning yang terlihat gugup sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk.
"Dengar ya, aku tidak tertarik dengan sesama pria." Komentarnya dengan PD.
"Bukan itu. Uh.. Apa kau Ercnard Sieghart?" Tanya pemuda itu ragu-ragu.
"Ya. Darimana kau mengenalku?" Ia memincingkan mata dengan curiga. Zero jadi merinding dibuatnya.
"Kami mendapat pesan dari penjaga dunia atas untuk mencarimu.. Ercnard.." Dari belakang seorang pemuda lainnya berambut cokelat menghampiri.
"Panggil aku Sieghart." Perintahnya dengan tampang siapa-lagi-ini.
"Ya terserah." Jawabnya acuh.
"Kalian siapa dan apa mau kalian denganku?" Sieghart menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Namaku Zero Zephyrum, roh pengelana sekaligus pembawa pesan dari dunia atas." Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Dia Rufus Wilde, aku kurang tahu menahu soal dia, tapi dia akan membantuku dalam berurusan denganmu." Tambahnya sambil menunjuk Rufus.
"Jadi kalian mau mengambil jiwaku, he?" Sieghart yang tadinya bertampang santai langsung berubah serius.
"Aku menolak! Kalau kalian memaksa.. aku akan melawan.." Ia mengambil pose bertarung kemudian mensummon sebuah pedang besar dari dalam tanah. Namun belum sempat ia bergerak sebuah pistol teracung didepan wajahnya.
"Jangan coba-coba atau rohmu akan kulenyapkan." Ancam sang pemilik pistol yang tak lain adalah Rufus.
"Coba saja.."
Ia menghilang lalu muncul kembali di belakang. Namun Rufus juga tak mau kalah ia berguling ke samping dan melontarkan beberapa peluru. Semua peluru sukses ditangkis oleh pedang berpermukaan luas di genggaman Sieghart. Orang-orang panik akan kericuhan yang tiba-tiba terjadi dan aparat keamanan lansung melaju ke tempat kejadian. Mereka terus saling mengadu kemampuan sampai akhirnya .
"CUKUP!" Sebuah pedang bergerigi dengan bobot lebih dari 1 ton menancap kuat di tanah untuk memukul mundur keduanya dengan tekanan baliknya. Keduanya menatap sang pemilik pedang yang menatap balik dengan tatapan dingin.
"Kalian menarik perhatian ribuan manusia."
.
Mereka akhirnya berbicara dengan kepala dingin di sebuah kedai es krim tak jauh dari lokasi pertempuran. Sementara para polisi masih memutar otak dengan keras soal apa yang terjadi dan apa penyebabnya, terutama retakan besar tempat mendaratnya pedang besar Zero.
"Oh, kukira kalian mau menarik paksa jiwaku." Sieghart nyengir kuda, Zero menghela nafas sementara Rufus memasukkan sesendok es ke dalam mulutnya.
"Aku hanya diminta untuk melihat keadaanmu setelah kau tak lagi memberi kabar lagi ke dunia atas selama 600 tahun." Tambah Zero datar.
"Tch.. para Highlander memang banyak maunya." Omelnya sambil memakan sesendok es dari gelasnya.
"Apa yang membuatmu menyangkal kematianmu sampai melewati batas?" Tanya Rufus masih dengan sendok es didalam mulutnya. Sieghart menaikkan satu alis kemudian tertawa garing.
"Heheh.. kau ini bicara apa?"
"Aku tahu segalanya.. Semua rahasia kehidupan dan kematian. Tolong katakan padaku yang sejujurnya." Sendok yang tadinya menggantung di mulutnya kini terhujam keras ke dalam gundukan es. Kilatan mata merah itu seakan membakar nyali siapapun yang ditatapnya menjadi abu.
Sieghart menghela nafas lalu memulai kisahnya.. 600 tahun yang lalu.. kerajaan Serdin..
.
(Sieghart's POV)
-:-First Denial-:-
Hari itu tidaklah ada sesuatu yang spesial
Tidak ada misi. Tidak ada keributan
Hanya atmosfir kedamaian yang menyelimuti kota
Hangat sinar matahari mengembalikan semangat setiap orang
.
Tidak ada yang tahu rencana yang diatas terhadap kami
Manusia hanya dapat berpasrah ketika ajal menjemput
Setidaknya itu yang kutahu selama ini
Sebelum aku mengalaminya sendiri
.
Saat itu aku tengah mengawal sang ratu yang baru kembali dari negara tetangga
Tiba-tiba salah satu kuda pengawal kerajaan mengamuk
Ia menjatuhkan penunggangnya dan lari menuju kereta sang Ratu
Tentu saja, sebagai salah satu ksatria kebanggaan negara
Aku tidak boleh tinggal diam
.
Aku meminjam kuda dari pengawal lain
Mengejar kemudian melompat ke atasnya dan berusaha menenangkannya
Tapi semuanya tak berjalan semulus yang kukira
Hewan itu memberontak dari genggamanku pada tali kekangnya
Menggangkat kedua kaki depannya tinggi hingga aku terjatuh dari punggungnya
Kemudian ia menendangku dengan kedua kaki belakangnya
Seolah tak puas, dihantamkannya kedua kaki depannya padaku berkali-kali
Aku hanya bisa tersungkur menahan rasa sakit yang terus datang
Tak lama hewan itu berhasil dijinakkan
Namun suara panggilan mereka adalah hal terakhir yang kudengar
.
"Kau pulang cukup cepat.." Aku mendengar seseorang berbicara
Namun aku tak dapat milihat sosoknya.
"Apa kau ingin disini atau kembali?" Tanya suara itu kembali
"Aku ingin kembali. Masih banyak hal yang belum kucapai."
.
-:-Second Denial-:-
Orang-orang bilang keajaiban telah datang padaku
Dokter berkata kalau aku tak mungkin selamat
Tapi disinilah aku sekarang
Sehat tanpa kekurangan suatu apapun
.
Beberapa tahun setelah insiden tersebut
Akhirnya aku menemukan belahan hatiku
Kami melakukan perjanjian suci didepan pendeta
Dengan cincin emas berukir nama kami berdua
.
Sekali lagi, takdir mempermainkanku
Ditengah-tengah pemberkatan tali lampu gantung diatas kepala kami retas
Lampu beserta penyangga berdiameter 200 cm pun jatuh
Aku menyadari bahaya lebih awal
Aku mendorongnya menjauh dari jangkauan
Sehingga aku satu-satunya korban dalam kecelakaan
.
"Sudah kembali rupanya." Suara itu lagi
"Kau sudah mencapai apa yang kau impikan."
"Apa kau siap untuk meninggalkan dunia?" Tanyanya untuk kedua kalinya.
"Tunggu, aku masih belum menepati janjiku untuk membahagiakannya."
.
-:-Third Denial-:-
Banyak orang percaya bahwa aku diberkahi keajaiban
Sudah 2 kali ini aku selamat dari kecelakaan fatal
Sekarang aku disini
Bersama istri dan anak-anakku
Hidup bahagia seperti yang seharusnya
.
Baiklah tidak benar-benar seperti yang kami impikan
Suatu hari, sekelompok menjarah nekad masuk ke rumah kami
Mereka mengancam akan membunuh kami jika kami berbuat macam-macam
Aku tidak boleh membiarkannya
Aku secepat mungkin mempersenjatai diri dengan pedang pajangan di dinding terdekat
Aku menyuruh keluargaku untuk lari
Sementara aku disini melawan mereka seorang diri
.
"Akhirnya, aku sudah lama menunggu." Suara itu lagi
Kali ini aku bisa melihat samar-samar wujud dari sang pemilik suara
Seorang tinggi dan membawa sabit besar
Dewa kematian kah?
"Apa kau masih ingin menyangkal kematianmu?"
"Masih ada anak dan istri yang membutuhkanku."
"Berhentilah mempermainkan hidupku!" Jawabku sedikit marah.
Tanpa sadar aku telah membuatnya murka
"Kau telah menunda kematianmu 2 kali dan sekarang kau mau mengulanginya lagi?!"
"Baiklah jika itu maumu."
"Kau tidak akan mati untuk selama-lamanya."
Bayangan itu mendorongku jatuh dari awan menggunakan sabitnya
.
-:-Immortality-:-
Aku pun selamat dari insiden itu
Kami hidup damai selama bertahun-tahun
Tapi orang-orang mulai curiga
Akan fisikku yang tidak menua
Akhirnya aku berpamitan kepada istri dan anak-anakku
Aku akan menjalankan misi di tempat yang jauh untuk waktu yang lama
.
Bohong
Aku tidak dalam misi
Aku meninggalkan mereka
Aku memalsukan kematianku dan menghilang dari masyarakat
.
Aku hidup lebih dari cukup untuk melihat dunia
Aku hidup lebih dari cukup untuk melihat teman dan keluarga
Meninggalkanku satu per satu
.
Aku ingin bertemu mereka
Aku tidak bisa
Mau beribu kali berusaha bunuh diri dengan beribu cara
Aku tidak akan pernah mati
(End of POV)
.
..if a soul denied their death more than 3 times..
..they gifted an eternal curse..
..they will never die..
.
Mereka terdiam mendengar kisahnya.
'Dirinya tak jauh berbeda dengan diriku.'
"Aku ada cara untuk memulangkanmu." Sieghart menatap pemuda dihadapannya dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
"Benarkah?"
"Hanya jika kau mau bekerja sama." Tambahnya.
"Tunggu Rufus, Aku tidak mendapat perintah untuk.." Kata-kata Zero langsung dipotongnya.
"Aku yang akan menanggung resikonya." Tanpa mengalihkan pandangan dari Sieghart yang sedang berjoged ria, lalu dilemparnya buku menu terdekat ke kepala lelaki itu.
"Hentikan itu! Memalukan untuk seorang berusia 600 tahun!" Urat siku-siku muncul dikepalanya. Sieghart pun langsung duduk manis seperti anak TK.
"Jadi apa yang harus kulakukan agar dapat kembali?"
"Kau harus menentukan keinginan terakhirmu di dunia."
.
Author : part 2 selesai juga..
Neva : malang nasibmu kakek... *hug* TAT
Sieg : *nyengir* 'Asik.. :D'
Author : Re:review please~
Zero : Shirokawa Hazuki... eh, kau tak ingin melihatku lagi? *pundung*
Sieghart : untuk Eureka-Cross... Soal itu lihat aja chapter depan.. :3
Author : Next episode : Immortal Soul [part 3]
