Disclaimer
Grand Chase, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 2 : Immortal Soul [part 3]
.
"Jadi?"
"Aku memutuskan, aku ingin bertemu dengan keluarga terakhir yang kumiliki."
Sambil berjalan mereka membicarakkan soal kedua cicit dari cicit dan cicitnya Sieghart. Ia pernah bertemu mereka sekali saat mereka masih dalam gendongan kedua orang tuanya di sebuah rumah sakit. Saat itu mereka belum diberi nama hingga ia tidak tahu harus bagaimana untuk menemukan mereka. Ketika ia hendak berkunjung, setidaknya melihat dari kejauhan. Yang ia lihat justru puing-puing bangunan yang hangus. Orang-orang sekitar bilang rumah itu kebakaran 14 tahun yang lalu. Sang pemilik rumah pindah entah kemana.
"Kalau begitu sejarahnya, aku tahu tempat mendapat informasi paling cepat." Rufus memimpin keduanya menuju tempat yang dimaksud.
.
BRAK!
Suara dari pintu naas yang ditendang oleh pemuda itu mengagetkan nyaris semua orang yang ada.
"Heh.. Jarang sekali kau menginjakkan kaki kemari, biasanya aku harus mengantarkan dokumen ke rumahmu" Sindir seorang pemuda berambut soft lavender dari balik meja resepsionis. Rufus mendekati pemuda itu lalu berbisik.
"14 03 26." Katanya cukup pelan untuk didengar oleh hanya keduanya.
"Baiklah, ini tiket aksesmu. Selamat bersenang-senang." Pemuda itu memberinya sebuah kunci dan cengiran khasnya. Rufus langsung mengambilnya kemudian menyuruh Zero dan Sieghart menunggu di ruang tunggu.
.
Rufus memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan brankas dan lemari file. Ia mencari lemari brankas berlabel huruf "S" kemudian mulai mencari dari dokumen yang paling tua.
"Ada yang bisa kubantu?" Rufus menoleh, menemukan seorang gadis berambut biru dengan dua mata yang berbeda warna menatapnya penasaran dari balik kacamata. Karena kaget ia nyaris jatuh terjengkang ke belakang.
"Siapa kau?"
"Maaf kalau aku mengejutkanmu. Namaku Mari Ming Onette, baru bergabung dengan divisi dokumentasi 2 hari yang lalu." Ujarnya datar.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kau baru?"
"Rufus Wilde dari divisi penyelidikan dan aku memang jarang mengerjakan pekerjaanku di kantor." Mari menganggukkan kepalanya, tanda kalau ia mengerti.
"Sebutkan apa yang kau cari, aku akan menemukannya untukmu." Awalnya Rufus ragu, mana mungkin baru bergabung selama 2 hari sudah mengetahui seluruh isi dokumen. Tapi akhirnya ia sebutkan juga. Bukankah lebih cepat lebih baik?
"Kasus kebakaran yang menimpa keluarga Sieghart 14 tahun lalu."
Gadis yang tingginya tak lebih dari hidung pemuda itu terdiam sesaat dengan posisi berpikir. Kemudian mulai berjalan dan mengisyaratkan agar pemuda itu mengikutinya. Mereka berjalan menuju rak paling ujung, "Unsolved Case" tertulis pada rak tersebut. Hanya dengan sekali melihat, gadis heterochromia itu langsung menemukan dokumen yang dicari.
"Ini." Ujarnya datar sambil memberikan map tebal yang diambilnya pada pemuda itu.
"Terima akan mengembalikkannya besok." Ketika berbalik ia mendapati 4 bilah pisau melayang. Ujung mata pisaunya menghadap tepat ke arahnya.
"Maaf tapi aku tak mengizinkanmu, restricted file hanya boleh dibaca disini." Tambah gadis itu yang sedang mengadahkan tangannya untuk mengendalikan pisau-pisau mecha.
.
Ia mengambil tempat di meja dekat pintu masuk kemudian membongkar map tadi. Didalamnya berisi beberapa artikel, petunjuk, barang bukti dan foto-foto lokasi. Data dalam arsip lumayan lengkap mulai dari profil penghuni, alamat rumah hingga reka kejadian. Ketika ia merasa cukup mendapatkan informasi, ia mulai membereskan kertas yang berserakan. Tiba-tiba sebuah kaset tak sengaja jatuh ketika ia membalikkan map. Judul dari kaset itu "info saksi mata", membuatnya penasaran. Ia meminta izin pada gadis penjaga arsip untuk memutarnya, dan beruntungnya ia, gadis itu mengizinkan. Mari mengantarkan tape radio ke dalam ruangan itu, memasukkan kaset lalu menekan tombol segitiga.
.
"Seberapa banyak yang anda ketahui soal kejadian ini?"
"Saya tidak yakin soal apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba saja api muncul dari dalam rumah."
"Apa ada seorang yang anda curigai sebagai pelakunya?"
"Seingat saya, sehari sebelumnya ada seorang anak kecil bertamu di rumah mereka. Namun anak itu tampaknya sama sekali tidak berbahaya."
...hening...
"Nona, bisa tolong ceritakan kronologi kejadiannya?"
"Anak itu datang.. dia mengaku berasal dari keluarga jauh.. pendiam dan penurut.. api biru ditangannya.. tidak.. dia membakar ibu.. TIDAAK!" Suara seorang gadis.
"Seseorang tenangkan dia!"
..suara derap langkah kaki..
..hening..
.
Tubuhnya terasa panas dingin setelah mendengar kata "api biru". Peluh mengalir dari pelipisnya meskipun ruangan bersuhu rendah. Mari yang berada tidak jauh hanya diam memperhatikan.
.
"Nak, tolong ceritakan apa yang terjadi saat itu."
"Anak itu datang dari kerabat jauh.. tadinya dia terlihat baik.. tapi.. keesokan harinya kami menemukan ayah dan ibu terbakar hangus.. dengan tanpa rasa bersalah dia mengakui kalau dia pelakunya sambil bermain dengan api biru ditangannya.. pembohong.. aku akan membunuhnya.. AKU AKAN MEMBUNUHNYA!" Suara anak laki-laki.
..suara kayu jatuh, hancur, pisau..
..hening..
.
"Aku prihatin." Tiba-tiba Mari membuka suara.
"Keadaan mental mereka sangat labil. Tapi untungnya sekarang tidak lagi."
"Kau tahu dimana mereka sekarang?"
"Tidak. Tapi mereka sering membicarakannya. Jika kau bertanya pada supervisor mungkin kau akan mendapatkan jawabannya."
Rufus mengangguk, membereskan semuanya dan mengembalikkannya pada gadis itu. Ia pun keluar lalu mengajak kedua kliennya menuju sebuah ruangan yang berplakat manager didepannya. Ia mengetuknya sekali, dua kali. Seorang didalam menjawab dengan menyuruh mereka masuk.
"Ah? Tumben sekali kau datang. Ada angin apa?" Tanya lelaki berambut blonde jabrik dari balik tumpukan kertas yang menggunung.
"Bestair, aku mau bertanya lokasi keberadaan 2 anak yang mengalami insiden kebakaran ganjil 14 tahun lalu." Kata Rufus tanpa basa basi.
"Keluarga Sieghart maksudmu?" Tanya lelaki itu memastikan. Sieghart langsung menjawab dengan antusias.
"Ya, dimana mereka?"
"Dan kau, ada hubungan apa dengan mereka?" Tanyanya lagi.
"Ah.. itu.." Sieghart pun bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan dia bilang kalau dia adalah kakek buyutnya. Pasti dia akan dikirim ke RSJ terdekat saat itu juga.
"Dia sepupunya." Rufus cepat-cepat menimpali, berharap sang supervisor tidak menyadari kalau mereka berbohong.
"Hm... Baiklah.."
Lelaki itu menjelaskan semuanya, mulai dari keluarga yang mengadopsi mereka hingga sekolah yang mereka datangi setiap hari. Setelah mendapat cukup informasi mereka segera berangkat menuju kota Ernasis. Beruntungnya, mereka tiba tepat saat bel pulang sekolah berbunyi. Tak lama menunggu keluarlah seorang gadis berambut merah panjang yang diikat ponytail dan anak laki-laki berambut merah pendek yang membawa pedang kayu.
"Itu mereka." Zero menunjuk kedua remaja yang dimaksud.
"Elesis dan Elsword Sieghart.. akhirnya aku menemukan kalian. Kalian sudah tumbuh menjadi anak-anak yang hebat." Sieghart tersenyum memandang dari kejauhan.
"Jadi, kau siap untuk menyeberang?" Tanya Rufus kemudian.
"Sebentar.. Kalian lihat itu? Pemuda berambut biru yang berjalan disamping Elesis." Sieghart menunjuk seorang pemuda berambut biru cobalt panjang dikuncir ponytail. Pemuda itu berjalan disamping mereka sambil ikut bercakap-cakap, tapi anehnya tak ada satupun dari mereka yang menanggapi pemuda itu.
"Kasihan sekali pemuda itu diacuhkan oleh cicit-cicitku."
"Mereka mengacuhkannya.. karena mereka tidak dapat melihat roh." Zero menambahkan dengan nada sedatar triplek lagi.
.
Sieghart : cicit-cicitku sayang.. aku merindukan kalian.. *buagh*
Elesis + Elsword : kakek berisik.. ==
Author : Ayo, saatnya Re:review!
Sieghart : Untuk Chalice07.. Hei, jangan seenaknya memukuliku! *timpuk pakai soluna* dan aku tidak tertarik dengan sesama lelaki.. =A=
Author : Untuk Eureca-Cross.. kalo boleh jujur sih author sendiri juga paling demen sama prolognya *gumprang*
Rufus : Apa maksudmu dengan "wajahnya kalau sedang kesakitan pasti manis" *aura iblis + siap bawa soul arbiter untuk meratakan Eureca*
Neva : Sudah.. hemat peluru.. peluru sekarang mahal, ingat?
Rufus : . . . . tch..
Elesis : Next episode : Attached Soul [part 1]
