Disclaimer
Grand Chase and Elsword, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
.

-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 3 : Attached Soul [part 1]

.

Kedua kakak beradik rambut merah berhenti berjalan ketika seorang berambut hitam yang umurnya berkisar 23 tahun menghalangi jalan mereka.

"Maaf, kami mau lewat." Ujar gadis berambut merah sesopan mungkin.

"Cicitku~!" Seru pemuda itu mendramatisir plus background berkelap-kelip sembari merentangkan tangannya untuk memeluk keduanya. Sebuah tonjokan keras mendarat diwajahnya dilanjutkan dengan sudukan gagang bokutou di perutnya.

"Sadarlah orang aneh!" Teriak keduanya lengkap dengan urat siku-siku di kepala.

Selagi pemuda itu meredam sakitnya di pinggir jalan keduanya melewatinya begitu saja. Sieghart yang masih setengah membuka mata melihat pemuda berambut biru cobalt tadi meminta maaf padanya kemudian menyusul cicitnya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Zero sambil berjongkok didepan Sieghart.

"Aku tidak apa-apa. Tch, pukulan mereka kuat juga."

"Karena mereka pemegang medali emas kejuaraan kendo nasional." Rufus menghela nafas.

Sieghart mengumpulkan kembali keberaniannya lalu mengajak Rufus dan Zero mengejar cicit tercinta dan roh asing yang mengikuti.

.

Dari kejauhan mereka melihat Elesis dan Elsword masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup bagus sementara roh pemuda itu tetap berdiri di depan gerbang. Ia menatap ke jendela lantai atas yang bisa dilihatnya adalah kamar Elesis. Ia terus berdiri di sana hingga Elesis menutup tirai jendela, ia pun menghela nafas panjang.

"Kau sudah selesai dengan sesi stalkingmu?" Tanya sebuah suara dari belakangnya hingga membuat pemuda itu terkejut bukan main. Ia berbalik dan bertatap muka langsung dengan pemuda yang dihajar oleh kedua kakak beradik tadi sore.

"Ah? A-aku tidak sedang menguntit." Pemuda itu melambaikan kedua tangannya di depan sambil menggelengkan kepala. Sieghart mengeluarkan aura hitam khas miliknya hingga membuat pemuda itu merinding.

"Aku yakin betul kau mengikuti cicit-cicitku sejak mereka pulang dari sekolah." Sebagian wajah bagian atas Sieghart tertutup bayangan agar terkesan seram, tapi sebuah jitakan menggagalkan niatnya.

"Hey! Tadi itu buat apa?" Protesnya pada pemuda berambut cokelat sambil memegangi kepalanya yang tumbuh sebuah tumor komik.

"Kau menakut-nakuti target kita." Ujar pemuda itu datar.

Sementara Sieghart dan Rufus beradu argumen pemuda berambut biru itu sibuk melerai mereka. Zero menyentuh pundaknya dan menggelengkan kepala, tanda agar pemuda itu membiarkan keduanya seperti itu.

"Namaku Zero. Kau?"

"Ronan Erudon, dari Albatros Corporation." Ia tersenyum ramah.

"Senang berkenalan." Ia menunjuk si rambut hitam lalu menyebut 'Sieghart' kemudian si rambut coklat 'Rufus'. Ronan mengangguk.

"Apa mereka selalu begitu?"

"Tidak juga."

Beberapa saat kemudian mereka berkumpul untuk membicarakan hal yang seharusnya mereka bahas daritadi. Sebelumnya Ronan memperkenalkan diri secara formal lagi baru kemudian menceritakan kisahnya.

.

-flashback...14 years earlier-

"Hehe.. aku mendapatkannya!"

"Hei, kembalikan!"

Seorang anak berambut biru cobalt dengan ponytail kecil tengah melompat-lompat untuk mendapatkan kembali kalung miliknya. Kalung berharga dengan foto seorang gadis berambut biru violet dan anak lelaki berambut silver.

"Segitu berharganyakah kalung lusuh ini bagimu hei bocah bangsawan." Ejek anak lelaki yang lebih besar bersama teman-temannya.

"Aku akan berikan uang yang aku bawa tapi kembalikan kalung itu!" Teriaknya putus asa lalu mengeluarkan seluruh uang saku yang dibawanya.

Salah satu dari mereka mengambil dan menghitung lalu dilemparkannya kembali ke wajah lelaki kecil itu.

"Kalung ini berharga 3 kali lipat dari uang itu. Pergilah bocah sebelum kami berubah pikiran." Geng kecil itu pergi dengan membawa frame necklace emas hasil rampasan sambil tertawa-tawa.

Anak bangsawan itu tidak terima. Ia mengepalkan tangannya lalu mengacungkannya ke depan seperti tengah melempar sesuatu. Partikel-partikel cahaya dengan cepat berkumpul membentuk anak panah yang kemudian melesat ke kelompok penjarah cilik tadi.

"RAGNA BOLT!" Panah cahaya sukses membuat ketua kelompok mereka tersungkur.

"Ketua!" Teriak anggota yang lain sambil membantu sang ketua berdiri.

"Kembalikan kalungku!" Ujar anak itu lagi.

"Kurang ajar. Ayo kita beri pelajaran pada anak ini." Kata sang ketua dengan wajah sedikit memar setelah mencium tanah.

Mereka beramai-ramai menghajar anak malang tadi. Dihujaninya dengan pukulan dan tendangan, tapi ia tak menyerah. Ia yakin ia pasti bisa merebut miliknya kembali.

"Hei kalian!" Geng terkejut mendengar seorang berusaha mengalihkan perhatian mereka. Seorang anak kecil yang bahkan lebih muda dari sang bangsawan cilik dengan rambut merah jabrik dan sweater yang sama merahnya dan celana pendek warna cream.

"Beraninya beramai-ramai. Pengecut!" Uh'oh dia benar-benar tahu caranya membuat orang naik pitam.

"Jangan ikut campur bocah." Satu dari mereka menyerang, tapi anak itu dapat menghindar kemudian memukul belakang kepala penyerang dengan gagang bokutou yang sedaritadi dibawanya hingga pingsan.

"Siapa lagi yang mau melawanku?" Tantang anak itu sambil mengacungkan bokutounya ke depan. Dua lagi maju menyerang dan keduanya dikalahkan.

Mereka pun beramai-ramai mengeroyok anak berpedang kayu tadi. Karena kalah jumlah ia hanya berhasil melumpuhkan satu dan sisanya menghajarnya habis-habisan. Tak disangka satu buah bokutou lagi tiba-tiba muncul dan menghajar mereka tanpa ampun. Tidak ada satupun yang selamat dari ayunan gadis berambut merah panjang yang mirip dengan anak sebelumnya. Bangsawan muda itu melihat dengan kagum. Gadis berambut merah membara bagaikan api tengah berdansa dihadapannya, kuat dan elegan.

"Tch.. mundur semua!" Mereka melarikan diri, namun sebelum sang ketua sempat melangkahkan kaki gadis itu membantingnya lalu mengarahkan ujung bokutou miliknya ke leher anak itu.

"Kurasa kau perlu mengembalikan sesuatu yang bukan milikmu." Mengerti maksud gadis itu, ia segera melempar kalung emas ke pemiliknya dan kabur dari tempat itu.

.

"Aku senang kakak datang men.." Hadiah berupa timpukan bokutou di kepala anak laki-laki berambut merah dari gadis berambut sama merahnya.

"Kau ini, selalu saja membuat dirimu terlibat banyak masalah." Omel gadis itu padanya.

"Aku kan hanya mau membantu anak ini." Keluhnya sambil menarik lengan anak berambut biru ponytail yang kebingungan, masih membawa kalungnya dalam genggaman. Gadis itu menghela nafas.

"Sudahlah Elsword, yang sudah berlalu biarkanlah." Kemudian kedua mata crimson beralih pada anak biru.

"Dan kau adalah?" Merasa diajak bicara ia pun membuka suara.

"Ah? Aku.. Namaku Ronan Erudon. Terimakasih sudah membantuku mendapatkan kembali kalungku." Ia tersenyum ramah.

"Aku Elesis.. Elesis Sieghart. Dan ini adikku Elsword Sieghart. Kami senang bisa membantumu." Ia balas tersenyum. Ronan kecil hanya bisa terpana karena pesona gadis manis nan sadis itu.

"Hei!"

"Huh? Maaf.." Ronan tersipu malu karena melamun didepan orang lain.

"Elsword, ayo kita pulang." Ajak Elesis pada adiknya. Sebelum mereka benar-benar pergi anak itu memanggil lagi.

"Ano.." Elesis dan Elsword berbalik.

"Aku ingin bisa berpedang seperti kalian, tolong latih aku!" Pintanya dengan lantang sambil mengambil posisi hormat menyembah.

"Ekh?" Pekik keduanya melihat anak itu bersujud.

"Aku suka semangatmu." Elesis tersenyum lalu menyuruhnya berdiri.

"Ayah kami mengajar di dojo 2 blok dari sini. Datanglah besok jam 2 siang, bilang padanya kalau kau adalah temanku. Dia akan mengerti." Kata Elsword. Kemudian mereka beranjak pergi.

"Oh, Jangan lupa.. Obati lukamu kalau sudah pulang ya." Tambah Elesis sebelum sosok mereka menghilang oleh cahaya matahari sore yang menyilaukan.

.

Keesokan harinya Ronan kecil sungguh datang ke dojo mereka. Ia langsung diterima setelah sang pelatih, Elsculd Sieghart, melihat potensi dan semangat yang dimilikinya. Mereka berlatih bersama setiap hari dalam 1 bulan. Hasilnya cukup memuaskan dan ia bangga akan hal itu. Ketika dojo mengadakan latih tanding diluar dugaan, Ronan kecil tak hanya menggunakan pedang tapi juga sihir. Meskipun akhirnya ia didiskualifikasi karena hal itu sang pelatih melihat jalur lain yang bisa ditempuh olehnya, yaitu campuran antara seni berpedang dan sihir. Selama latihan khusus untuknya itu, Elesis dan Elsword turut mengawasi dari tepi arena latihan. Seselesainya latihan Elsword dengan yakin mengajukan diri untuk turut serta dalam kelas ini. Ronan dan Elsword sering berlatih bersama hingga mereka mendapatkan julukan Magic Knight dan Rune Slayer.

Sebagai pewaris darah penyihir dan bangsawan tidak seharusnya ia mengambil jalur lain selain menjadi pengguna sihir murni, karena itu selama ini ia menyelinap keluar untuk berlatih pedang. Semua berjalan dengan lancar hingga suatu hari dirinya tertangkap basah ketika akan pergi tanpa pamit. Akibatnya ia tidak diizinkan keluar rumah. Sekolah pun menyewa tutor homeschooling. Ia seperti dipenjara dalam rumahnya sendiri, dan ia tidak suka itu. Hari-hari terasa sepi tanpa kehadiran teman-temannya terutama kedua kakak beradik itu.

Paginya ketika bangun, Ronan berjalan lunglai menuju dapur. Ia mengambil air dalam gelas untuk minum. Ketika itulah ia mencuri dengar dari televisi di ruang keluarga akan kebakaran yang terjadi malam hari tadi di kediaman keluarga Sieghart. Seketika gelas yang dibawanya jatuh hingga pecah berkeping-keping.

"Ronan, kaukah itu?" Panggil ayahnya yang sedang menonton. Tanpa menjawab ataupun membersihkan kaca yang berserakan ia melesat menuju pintu luar.

"Kau! Hentikan dia!" Teriaknya pada sekuriti pintu depan untuk menghentikan anaknya yang hendak kabur.

Dengan lincahnya ia berhasil meloloskan diri, terimakasih untuk latihan fisik di dojo selama ini. Sesampainya di tujuan ia terbelalak mendapati rumah yang telah hangus dengan garis polisi membentang disekitarnya.

"ELESIS! ELSWORD! PAMAN ELSCULD!" Teriaknya keras-keras. Orang-orang pun menahannya yang berusaha menerobos ke puing-puing rumah hingga para bodyguard menangkap dan membawanya paksa kembali ke rumah.

.

11 tahun kemudian, Ronan kembali menjalansi sekolah pada umumnya. Ia tumbuh menjadi idola para gadis di sekolahnya. Selain wajahnya yang terbilang tampan ia juga pintar dalam akademik dan menjabat menjadi ketua kendo sekolah. Dengan semua yang ia punya sekarang hanya satu yang kurang, Elesis. Sejak pertama mereka bertemu di gang kumuh itu ia jatuh hati dan sampai sekarang pun masih. Setiap hari sepulang sekolah ia menyisihkan waktu untuk mencarinya, mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi akan keberadaan pujaan hatinya. Suatu saat ia tak sengaja melihat mereka, Elesis dan Elsword, di kejauhan ketika pulang dari sekolah. Senang karena akhirnya mereka bisa bertemu kembali, ia lari mengejar tanpa melihat keadaan. BRAK! Ia tak sempat mencerna apa yang terjadi, pandangannya kelam seketika itu juga.

Ia terbangun ketika banyak orang disekitarnya dengan pakaian hitam sedang menangis. Ia juga dapat mengenali beberapa dari mereka adalah teman sekolah, kerabat dan tetangga.

"Ada apa ini?" Tidak ada yang menjawab.

"Ayah? Ibu? Teman-teman?" Tidak ada yang menggubris.

Saat itulah ia sadar. Tubuh duniawinya yang terbaring tenang di tengah-tengah mereka. Satu hal yang harus ia terima sekarang.

"TIDAK!" Ia sudah tiada.

-flashback end-

.

"Jadi.. *sob* ..kau masih di dunia orang hidup.. *sob* ..karena perasaanmu yang belum tersampaikan? Aku jadi terharu.." Sieghart menangis sambil memeluk pemuda bernama Ronan itu erat-erat.

"Ugh.. tolong.. kau mencekikku.." Rontanya.

"Kau kan roh, hal itu tidak akan membunuhmu." Komentar Rufus datar.

"Oh iya ya." Ronan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Sebagai kakek dari kakek-kakeknya, aku memberimu restu untuk meminang cicitku." Sieghart menepuk-nepuk punggung pemuda itu. Seketika darah mengalir deras ke wajahnya.

"M-meminang?" Wajah Ronan sudah semerah kepiting rabus.

"Roh tidak bisa menikahi manusia, begitu pula sebaliknya." Rufus memutar matanya, sebal karena ucapan sieghart yang asal ceplos seenaknya.

"Alaa.. aku tahu kau iri." Hadiah jitakan mendarat di kepala Sieghart karena kata-katanya barusan.

"Kau tidak keberatan kan kalau kami membantumu?" Tanya Zero selagi Rufus sedang menyiksa sang immortal di belakang.

"Tidak. Aku senang ada yang mau membantu." Ia tersenyum. Sesaat kemudian Ia teringat untuk mengutarakan rasa penasaran yang diredamnya sejak awal mereka berbicara.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa melihatku?"

"Kau tahu, orang yang pernah melihat kematian orang lain punya kemampuan untuk melihat roh? Kurasa itu berlaku untuk Rufus. Sieghart pernah mengalami kematian sebayak 3 kali, itu sudah sangat jelas. Kalau aku sendiri juga roh, sama sepertimu." Jelas Zero panjang lebar.

"EEHH?!"

.

Sireghart : Kenapa? Kenapa cuma Ronan yang masa lalunya diceritakan dengan detail?! DX

Ronan : Hehehe.. *garuk kepala lagi*

Neva : Yosh! sebelum ditutup, re:review dulu! *dorong Rufus ke depan*

Rufus : Kenapa selalu aku yang membaca ini.. *sigh* ..Untuk Eureca-Cross.. aku benar-benar akan.. *mengacungkan eyetooth*

Neva : Wa?! *tarik Rufus pergi sebelum membunuh salah satu reader* Sieghart-san tolong gantikan..

Sieghart : Untuk LitaRicaChan.. Mereka kan memang cicitku.. :3

Elesis & Elsword : *menghajar Sieghart*

Ronan : next episode : Attached Soul [part 2]