Disclaimer
Grand Chase and Elsword, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 3 : Attached Soul [part 2]
.
Ronan menatap keheranan dengan grup berisikan orang-orang atau lebih tepatnya mahluk-mahluk aneh. Seorang yang abadi sekaligus kakek buyut Elesis, roh halus, dan seorang lagi yang ia sendiri ragu apakah dia manusia atau bukan. Pasalnya telinga runcing itu biasanya dimiliki oleh para peri dalam dongeng yang dulu sering diceritakan oleh ibunya sebelum tidur. Apakah dia ini peri? Tapi wajah seramnya sama sekali tidak cocok untuk menjadi peri.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Rufus mulai tidak nyaman dengan tatapan Ronan yang tertuju padanya selama beberapa saat.
"Uhm.. tidak.. aku hanya ingin tahu apakah kau ini.."
"Manusia? Tentu saja." Potongnya dengan cepat.
Karena hari sudah mulai larut mereka memutuskan untuk menginap di penginapan terdekat. Menyewa kamar dengan 2 tempat tidur dan fasilitas sederhana untuk satu malam. Jika kalian bertanya kenapa hanya 2 kasur, karena para roh, Zero dan Ronan, tidak membutuhkan aktifitas bernama tidur. Mereka memilih untuk bercakap-cakap sepanjang malam.
.
"Jadi rencana kita hari ini untuk membuat Elesis dan Elsword percaya akan keberadaan Ronan. Kalian sudah siap?" Kata Rufus memulai konferensi tak bermeja pagi itu.
"Siaghart, tugasmu untuk membujuk mereka agar bersedia melakukan pembukaan mata batin."
"Roger!" Sieghart memberi hormat tentara.
"Ronan, buat sebanyak-banyaknya tanda agar mereka menyadari kehadiranmu."
"Baiklah." Ronan mengangguk.
"Lalu Zero..."
"..."
"Tetap seperti itu saja."
Beres merundingkan strategi mereka pun mulai menjalankan rencana. Elesis dan Elsword, seperti rutinitas murid pada umumnya tentu saja berangkat ke sekolah. Saat itulah mereka melihat Sieghart bersandar pada dinding tak jauh di depan.
"Bukankah itu orang aneh yang kemarin?" Tanya Elsword pada kakaknya.
"Ya, sepertinya kau benar."
Mereka berhenti ketika Sieghart menghadang mereka seperti sehari sebelumnya. Kali ini Elsword hendak menyingkirkannya dengan bokutou yang dibawanya, tapi Sieghart lebih dulu menghindar.
"Hee.. apa maumu om?" Tanya Elsword dengan nada kurang sopan, namun Sieghart tak mempermasalahkannya.
"Kalian sadar tidak? Kalian sedang diikuti oleh roh."
"..." Sunyi.
"Orang yang aneh." Mereka melewatinya begitu saja. Sieghart segera mengejar mereka, menyamakan langkah dengan kedua cicit tercintanya.
"Serius! Ada roh remaja laki-laki berambut biru ponytail sedang mengikuti kalian!" Deg! Keduanya mematung saat itu juga. Satu-satunya orang dengan rambut biru ponytail yang mereka kenal hanya Ronan, teman masa kecil mereka di dojo dulu. Tapi mereka tidak bisa percaya begitu saja, mereka yakin positif Ronan masih hidup di kediamannya yang mewah.
"Kau pikir kami akan mempercayaimu?" Tukas Elesis dingin.
"Ya, kami bahkan tak mengenalmu." Tambah Elsword. Keduanya berlari secepatnya bersama memasuki area sekolah, tentu saja Sieghart yang tak berkepentingan dilarang masuk.
"Sekarang hanya kau yang bisa menyelesaikannya ponytail." Ujar Sieghart dari depan gerbang sekolah.
.
Elesis dan Elsword berpencar ke gedung terpisah. Elsword di SMP dan Elesis di SMA. Elesis bertemu dengan teman-temannya yang mayoritas anak laki-laki di loker sepatu. Mereka berbincang-bincang selagi mengganti sepatu mereka dengan sepatu dalam sekolah. Alangkah terkejutnya Elesis mendapati sebuah foto jatuh ketika ia membuka loker, apalagi dalam foto tersebut ada dirinya, Elsword dan Ronan. Ia tak merasa pernah menyimpan foto semacam itu, semuanya sudah terbakar habis bersama dengan kenangannya dan keluarga.
"Wah, itu kau Elesis, adikmu dan.. yang satu lagi sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat." Tanya salah seorang temannya yang berambut merah.
"Namanya Ronan." Jawabnya.
"Ah! Aku ingat sekarang! Ronan Erudon anak kedua dari pimpinan Albatros Corporation yang meninggal setahun yang lalu itu ya?" Seketika foto tersebut jatuh dari tangan Elesis.
"Elesis? Kau baik-baik saja?" Tanyanya cemas melihat kondisi kawannya yang tiba-tiba syok berat.
"Bohong.. Itu bohong kan?" Ia berusaha memastikan.
Kawannya itu mengajaknya ke perpustakaan sekolah. Disana ia menggunakan fasilitas internet untuk mencari artikel koran itu. Benar adanya berita itu sekarang ada di depan mata. Elesis hanya bisa diam. Air mata tak terbendung lagi mengalir dari sudut matanya. Kawannya itu berinisiatif menenangkan dengan memeluk gadis berambut api disampingnya, tapi sebuah benda tiba-tiba saja menghantam kepala anak itu.
"Ouch!" Rintihnya.
"Kau kenapa Jin?" Tanya Elesis yang sudah mulai lebih tenang.
"Rasanya tadi ada yang melemparku dengan sesuatu."
"Kau bercanda ya? Di ruangan ini kan hanya ada kita dan pustakawan saja."
Jin mengambil sebuah benda logam berantai berwarna emas tergeletak diatas lantai. Kalung emas dengan liontin frame photo. Ketika dibuka ada foto seorang gadis berambut violet dan anak lelaki berambut silver. Elesis tahu betul kalau kalung itu kalung milik Ronan, tapi darimana datangnya benda itu? Mungkinkah apa kata orang asing pagi tadi benar adanya?
"Kau terlihat pucat."
"Err.. Aku tidak apa-apa.. kalung itu milikku, pasti aku menjatuhkannya tadi." Jin pun mengembalikan kalung yang diakui sebagai milik kawannya itu.
Selama sesi pembelajaran di sekolah pun pikiran Elesis tak bisa konsentrasi. Ia mulai merasakan adanya seseorang yang memperhatikannya tapi ia tak dapat menemukan siapa. Setiap kali ia menoleh tidak ada seorang pun yang sedang melihat ke arahnya. Serasa seperti diterror oleh mahluk yang tak kasat mata ia mulai paranoid sendiri. Ia pun mulai berpikir kalau orang aneh tadi pagi memberinya kutukan dan sebagainya.
.
Sepulang sekolah lagi-lagi mereka bertemu dengan lelaki asing itu.
"Kau lagi." Keluh Elsword.
"Aku hanya ingin mengingatkan kalian kalau ada roh yang.."
"Aku tahu.." Potong Elesis.
"Sungguh?" Kata Sieghart penuh harap.
"Pasti kau yang mengirim roh itu untuk mengikuti dan menerorku kan?" Elsword terkejut mendengar pernyataan kakaknya.
"Benarkah itu aneki?"
"Ya. Hantu itu menggangguku sepanjang hari." Sieghart melirik Ronan yang sekarang berada di sebelahnya.
"Apa? Aku kan berusaha menarik perhatiannya." Kata Ronan dengan innocent.
"Begini saja. Jika kalian ingin melihat sosok roh itu aku bisa membantu kalian." Sieghart mulai menjalankan misinya yang sebenarnya.
"Tidak perlu. Singkirkan saja dari kami itu sudah cukup." Seketika hancurlah perasaan yang ditimbunnya selama ini. Melihat Elesis mengusirnya begitu saja.
"Ekh! Tapi.." Ronan menahan langkah Sieghart.
"Mereka tak menginginkanku. Sudah lupakan saja."
"Kau bilang kan..." Ronan menggeleng.
"Aku sudah cukup lama berada di dunia ini untuk menatapnya setiap hari. Tidak apa-apa, aku akan menyeberang nanti malam. Meskipun tanpa perpisahan dengannya."
Sieghart menatap senyum pemuda itu kemudian pada kedua cicitnya yang sudah berjalan cukup jauh. Senyum pemuda itu terlihat sangat terpaksa. Ia tahu kalau pemuda itu tersakiti dan berusaha tegar, tapi jika ini terus dibiarkan jiwanya akan sama seperti dirinya. Terombang-ambing antara ada dan tiada. Dengan itu ia berlari sekuat tenaga, secepat yang ia bisa untuk mengejar mereka.
"Kau masih belum menyerah juga." Komentar Elsword melihat orang asing itu datang terengah-engah.
"Kalian yakin tak ingin melihatnya, Ronan Erudon, untuk terakhir kali?" Elesis terhenyak mendengar nama itu. Nama milik seorang yang dulu pernah mengisi sebagian dari dirinya yang kosong.
"Darimana kau tahu nama itu?"
"Aku sempat berbicara padanya saat kalian meninggalkanku di depan gerbang sekolah tadi. Ia sudah tak bertempat di dunia ini lagi, jiwanya harus segera menyeberang. Jika kalian masih ingin bertemu dengannya ikutlah denganku." Ia mengulurkan tangannya.
.
"Kau yakin?" Tanya Rufus ragu.
"Ya." Jawab Ronan singkat. Zero menggelengkan kepala, tanda kalau dia tidak setuju. Mereka langsung berangkat tapi derap kaki seseorang di belakang membuat mereka berhenti.
"Oi! Tunggu!" Tiga orang, Sieghart, Elesis dan Elsword berlari menyusul mereka.
"Kalian.. Berubah pikiran.." Ronan tersenyum senang dapat melihat Elesis lagi.
"Ya, mereka ingin melihatmu lagi." Ujar Sieghart ditengah-tangah nafasnya.
Mereka berenam berangkat menuju sebuah kapel tua diujung jalan. Mereka masuk ke dalam ruang ibadah dengan banyak kursi menghadap ke altar. Rufus mengajak mereka masuk ke pasturan melalui pintu di samping altar. Sieghart, Elesis, Elasword, Zero dan Ronan sudah masuk. Ketika giliran Rufus, ia seperti menabrak dinding tak terlihat hingga terpental ke belakang.
"Huh? Kau kenapa?" Tanya Zero.
"Aku akan menyusul kalian." Rufus berjalan keluar kapel melalui pintu samping.
'Tch.. tubuh ini sudah tidak layak lagi. Aku tak boleh berlama-lama di sini.' Batinnya selagi ia masuk ke dalam pasturan melalui pintu belakang.
.
Tak lama mereka menunggu seorang gadis berambut hijau limau dan berbaju suster datang membawa lilin di tangan kirinya.
"Kenapa kau datang malam-malam begini?" Tanyanya sebelum melihat lebih banyak orang dari yang diduganya.
"Oh maaf, kukira dia datang sendirian." Ia menatap Rufus yang entah sedang memandang apa di luar jendela sana.
"Perkenalkan namaku Sieghart, dan mereka kedua cicitku." Sieghat memperkenalkan.
"Namaku Lime Serenity, suster yang menjaga kapel ini." Gadis itu tersenyum.
"Suster, aku ingin bisa melihat roh." Pinta Elesis tanpa basa-basi.
"Kau tahu konsekuensinya, jika membuka mata batin kau mungkin akan melihat sesuatu diluar nalar kehidupan." Gadis itu mengingatkan. Elesis mengangguk.
Elesis dimintanya untuk duduk dengan mata terpejam. Lime mengambil sebaskom air kemudian memanjatkan doa. Ia mengambil saputangan lalu dicelupkannya ke dalam air suci dan digunakannya untuk membasuh mata, kemudian telinga dan juga tangan gadis itu sebanyak tiga kali.
"Elesis."
Gadis itu membuka mata, melihat grup kecil mereka bertambah sebanyak 2 orang. Seorang berambut keabu-abuan dengan shade kuning dan seorang lagi berambut biru ponytail. Matanya terbelalak melihat pemuda gagah yang pernah dikenalnya sebagai Ronan.
"Ronan.." Air mata meloloskan diri sekali lagi dari sudut matanya. Tak berkata apa-apa lagi ia berlari memeluknya.
"Aku senang bisa melihatmu lagi, meski dalam keadaan seperti ini." Katanya sambil terisak.
"Aku juga senang bisa berbicara denganmu lagi setelah sekian lama aku selalu mengikutimu." WHACK! Jitakan penuh cinta mendarat di kepalanya.
"Jadi benar kata orang asing ini kalau kau menguntit kemanapun aku pergi." Ronan memegangi kepalanya sementara Elesis berusaha meredam amarahnya. Sieghart memberikan peace sign sambil nyengir.
Mereka berbincang-bincang cukup lama hingga jam menunjukkan pukul 10 malam.
"Karena keinginanku sudah terpenuhi, sekarang aku bisa pulang dengan tenang."
"Kau sudah akan pergi?" Elesis merasa berat untuk kehilangannya lagi.
"Dunia ini bukan lagi tempatku." Ia membelai rambut Elesis dan juga Elsword. Saat itulah Elsword baru merasakan kehadirannya.
Lime mengangguk. Ia membacakan doa untuk mengantarkan keberangkatan Ronan. Perlahan-lahan tubuhnya mulai menghilang menjadi butiran cahaya. Ia menghadiahkan kecupan di dahi Elesis untuk yang terakhir kalinya sebelum dirinya menghilang sepenuhnya.
"Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Sampai jumpa." Butiran-butiran cahaya melayang tinggi.
"Aku menyayangimu." Butiran cahaya mulai menghilang, juga eksistensi dari pemuda itu.
.
Setelah semuanya selesai, Sieghart mengantarkan Elesis dan Elsword pulang agar orang tua angkat mereka tidak marah karena pulang larut malam dengan alasan mereka mengikuti pelajaran tambahan dengannya. Zero juga pamit untuk melapor ke dunia atas. Mungkin saja ia dapat bertemu dengan pemuda itu lagi.
Rufus masih berdiri di luar kapel. Sekali lagi ia mengadahkan tangannya ke depan. Kerlap-kerlip cahaya berkumpul di tangannya menjadi kobaran api biru.
"Kau masih tekun mencari material untuk membeli jalanmu ke surga rupanya." Rufus berbalik mendapati Lime berdiri tak jauh di belakangnya.
"Hmph! Meskipun penukaran ini berhasil aku tidak akan pergi sebelum merebut kembali jiwa adikku dari 'orang itu'."
.
Ru : Yosh! Case 3 closed~
Neva : Re:review please.. :D
Sieghart : Untuk Shirokawa Hazuki.. Emang sakit banget, tapi.. "berubah 360 derajat" berarti sama saja kembali ke titik awal dong? ==u
Ru : Yang satu ini balasan langsung dari saia.. Untuk Eureca-Cross.. Ya, Ru memang sedang mengerjakan sedikit bagian dari "Magician & Thief" bersamaan dengan seri ini, akhirnya jadi terbawa suasana dan yah bisa kau lihat sendiri hasilnya.. berantakan sekali..
lalu untuk pertanyaan:
1. Zero di sini adalah roh, bisa dibilang roh manusia hasil rekayasa genetik.
2. Soal status genetik Rufus nanti ada sendiri di chapter depan.
3. Flashback sepertinya sudah tertera "... tahun yang lalu" yang berarti menggunakan sudut pandang orang ke 3. Yap, kesalahan yang pertama.
4. nah untuk waktunya, ternyata seteah Ru baca kembali memang Ru salah memberi tanggal. Kesalahan yang ke-2.
Oke, itu saja.. semua kesalahan Ru perbaiki sekaligus saat chapter ini relase.. terimakasih sudah mengingatkan..
Zero : next episode : Animal Soul [part 1]
