Disclaimer
Grand Chase, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
Refference : +Anima, autorized by Natsumi Mukai
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 4 : Animal Soul [part 2]
.
"Baiklah murid-murid sekalian. Hari ini kami akan mengajari kalian cara berburu yang baik dan benar."
"Kami? Seharusnya kau yang mengajari mereka. Kenapa aku ikut juga?!" Rufus melempar deathglare pada kakek moyang muda yang dengan innocentnya mengajak-(baca: memaksa)-nya ikut dalam sesi outbond ini.
"Aku akan mengajari mereka dengan cara lama, dan kau.. sebagai pengguna benda modern itu ajari mereka cara berburu jaman sekarang." Sieghart menyiku lengannya pelan sambil melirik pistol yang tersimpan aman dalam holster di pinggang sang detektif.
"Berburu dengan senjata api itu ilegal." Jawab Rufus mencari alasan.
"Kita kesini juga sebagai penumpang gelap." Balas Sieghart tak mau kalah. Mereka pun berdebat sampai sang ketua menjitak keduanya tepat di puncak kepala, tumor komik tumbuh diatasnya.
"Ingat umur dong, seperti anak-anak saja kalian ini." Elesis menghela nafas.
.
Pelajaran pertama : Membaca jejak
Mereka menyebar untuk menemukan tanda-tanda alam, terutama jejak kaki. Sieghart menjelaskan bahwa jejak kaki hewan memiliki perbedaan. Untuk hewan mamalia herbivora memiliki jejak berbentuk bulat lonjong dan rata sedangkan karnivora memiliki tapak bulat dikelilingi oleh bulatan-bulatan yang lebih kecil. Untuk unggas berbentuk seperti tumpukan tongkat dan untuk reptil berbentuk tapak tangan seperti manusia. Setelah itu Rufus menjelaskan soal dimensi dan jumlah. Semakin banyak jumlah jejak kaki maka semakin banyak individu dalam populasi mereka. Semakin dalam maka semakin berat bobot hewan tersebut. Dan semakin panjang gesekan terhadap tanah disekitarnya menandakan seberapa cepat mereka bergerak. Tak lama kemudian mereka menemukan jejak rata yang cukup besar.
"Sepertinya mangsa akan cukup untuk makan malam kita hari ini, ayo kita tangkap!" Seru Sieghart sembari berlari ke arah hewan itu berada, diikuti oleh murid-murid yang lain.
"Tunggu! Kalian tidak mungkin bisa.." Benar saja, setelah Rufus memperingatkan sang kakek dan murid-murid langsung berlari melewatinya diikuti oleh sekawanan badak mengamuk dari kejauhan. Tanpa berpikir panjang lagi Rufus pun berlari mengejar kakek pengacau itu.
"Seharusnya kau memperingatkan lebih awal!" Teriaknya sambil masih terus berlari.
"Kau saja yang terlalu gegabah!"
.
Pelajaran kedua : Mengejar mangsa
Rufus -lagi- menjelaskan cara memburu mangsa yang efektif, tidak seperti Sieghart yang langsung asal serbu saja, mereka akan menggunakan kamuflase dan pisau atau tombak. Berbaur dengan alam atau lebih tepatnya menggunakan cabang-cabang pohon di seluruh tubuh mereka berhasil memojokkan seekor rusa dalam sebuah kawanan. Ia menjelaskan kalau mereka hanya bisa menangkap satu dari sekian banyak jadi mereka harus fokus pada satu ekor saja. Setelah memutuskan yang mana yang akan ditangkap mereka pun memulai perburuan. Pengecoh melompat keluar dari balik semak mengagetkan kawanan rusa tersebut hingga lari menjauhi mereka, kemudian dari samping kiri dan kanan keluar para penyergap dengan pisau di tangan. Panik, rusa itu mengangkat kaki depannya sebagai perlawanan.
"Awas!" Anggota yang lain keluar dengan jaring tambang yang lebar untuk menjerat dan akhirnya tumbanglah rusa tersebut. Mereka bersorak sorai.
"Masih belum." Kata Sieghart membuat para murid langsung diam.
.
Pelajaran ketiga : Memasang perangkap
Kali ini Sieghart menjelaskan cara memasang perangkap untuk hewan darat. Pertama yang harus mereka lakukan adalah mengumpulkan umpan. Mereka harus tahu jenis makanan apa yang disukai target. Untuk menangkap musang mereka mengumpulkan buah arbei yang kemudian ditaruh pada sistem perangkap yang terhubung dengan jaring yang ditutupi dengan dedaunan. Sementara mereka menunggu perangkap bekerja mereka beranjak pada pelajaran berikutnya.
.
Pelajaran keempat : Menangkap Ikan
Untuk hewan air seperti ikan mereka harus tenang dan sabar. Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk menangkap ikan, memancing, menyergap dan menjala. Dibutuhkan kesabaran kalau menggunakan teknik yang pertama dan kedua, kalau yang ketiga sih sebentar juga dapat banyak. Sebagian besar murid menyukai cara ketiga karena praktis. Rufus menggunakan cara kedua yang lebih menantang sedangkan Sieghart.. tentu saja cara pertama yang memungkinkannya menunggu sambil tidur.
SNAP! Klinting!
Tiba-tiba mereka mendengar suara lonceng yang dipasangkan pada perangkap sebelumnya yang menandakan bahwa mereka telah menangkap sesuatu. Segera mereka berbondong-bondong berlari menuju letak perangkap dipasang. Mereka berhenti beberapa meter dari jaring yang menggantung dengan seorang pemuda berambut orange dan seekor rakun sedang memakan buah arbei yang terperangkap bersamanya. Ketika melihat orang-orang dibawah sana ia hanya nyengir lebar sambil berkata..
"Kalian mau? Enak loh~"
.
"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan di sini?" Sieghart memotong tali dan menurunkan pemuda itu dari atas pohon. Masih memakan buah berinya ia memperkenalkan diri.
"Namaku Ryan Woodsguard dan aku disini karena... aku memang tinggal di sini. Salam kenal." Semua memasang tampang kaget mendengar pemuda itu tinggal di hutan seperti ini.
"Jadi kau tinggal di gua atau semacamnya?" Tanya salah satu murid. Setelah menelan buah terakhirnya ia menjawab..
"Tidak aku tinggal di rumah pohon koq. Tinggal di gua itu tidak sehat tau." Ia menjilat jarinya yang berlumuran sari buah beri hingga bersih sebelum melanjutkan.
"Sudah lama aku tak melihat ada manusia di sekitar sini. Kalian sedang apa?" Tanyanya dengan wajah ceria. Saling memandang salah satu dari mereka menjawab.
"Berkemah untuk beberapa hari."
"Wah, sepertinya asik, boleh aku ikut?" Tanya pemuda itu penuh semangat. Mendengar pemuda setengah tarzan itu ingin ikut mereka pun mengizinkan dengan harapan ia mau memberi tips dalam berburu nantinya.
Mereka bersama-sama berjalan sambil berbincang-bincang menuju perkemahan. Rufus dan Sieghart berjalan paling belakang sambil membawa buruan mereka yang tertinggal. Rufus menatap pemuda bernama Ryan dengan seksama sambil memikul jala penuh ikan. Sieghart yang melihat perilaku sang detektif langsung tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres.
.
"HUEEE! IKAN! RUSA! KENAPA KALIAN MEMBUNUHNYA!" Diluar dugaan, pemuda alam itu menangis menjerit-jerit melihat keluarganya (para hewan) dijadikan sup dan bakaran.
"Oi tenanglah! Memangnya kau makan apa setiap harinya?" Tanya salah satu murid yang menahan pemuda tersebut agar tidak mengubur santapan mereka.
"Tentu saja sayur dan buah." Hancurlah harapan mereka untuk mendapatkan tips berburu dari penduduk lokal ini.
Setelah beberapa saat menenangkandan menyingkirkan semua daging dari hadapannya mereka pun bercerita dalam remangnya cahaya api unggun. Lagi-lagi Sieghart mendapati sang detektif menatap pemuda itu tajam.
"Apa kau merasakannya? Aura aneh itu?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari target.
"Ya, aku merasakan kehadiaran yang bukan manusia disekitarnya. Apakah mungkin?"
"Mungkin."
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, para murid pun segera beranjak tidur. Namun tidak dengan seorang yang masih terjaga di dalam tenda, mengawasi setiap suara yang dapat didengarnya. Benar saja tepat pukul 12 malam kemudian terdengar suara senapan dan lolongan serigala membuat semua orang berlari keluar tenda.
'Sekarang saatnya.'
"Apa itu tadi?" Elesis masih dengan gaun tidurnya membawa bokutou dalam posisi siaga melindungi yang lain.
"Pemburu liar. Mereka datang kembali." Ujar salah satu murid yang teringat cerita sang ketua.
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi dari sini sebelum mereka mengetahui keberadaan kita." Elesis segera mengomando seluruh murid untuk membongkar tenda dan bersiap pulang. Sementara Sieghart terlihat kebingungan ditengah lalu-lalang siswa yang berlarian membawa perlengkapan.
"Apa yang sedang kau lakukan pak tua?"
"Apa dari kalian ada yang melihat Rufus?" Tanyanya pada siapa saja.
"Kalau dipikir-pikir tarzan bernama Ryan tadi juga tidak kelihatan semenjak kita bubar tadi." Tambah seorang murid yang masih membawa tiang-tiang tenda.
.
Ternyata Rufus memergoki Ryan berlari menuju hutan ketika suara tembakan terdengar, maka ia mengikutinya. Sayangnya ia kehilangan sosok pemuda itu dalam gelapnya hutan.
'Sial.' Rutuknya sambil mengepalkan tangan.
Teringat akan pelajaran berburu tadi ia mencari jejak yang diduganya adalah milik pemuda tersebut. Mulanya berbentuk garis-garis gelombang pada sepatu, lama-lama berubah menjadi telapak kaki manusia, kemudian menjadi telapak kaki hewan sejenis kucing atau anjing dan menghilang di balik semak. Satu bukti yang sudah pasti.
"Target Locked. Tunjukkan padaku wujudmu yang sebenarnya.. werewolf." Bisiknya pelan dengan seringai menakutkan.
.
Ryan : T-tarzan? Sembarangan kau author! DX
Arme : Hei author, kukira kau berjanji padaku untuk menyelesaikan bagianku.. :I
Author : Santai saja Arme.. hanya butuh beberapa ide pertarungan dan milikmu selesai.. :D *mengabaikan Ryan*
Ryan : Jangan abaikan aku! *mencak-mencak gaje*
Arme : Benarkah? *blink-blink*
Author : Ya, sekarang bantu re:review dulu oke?
Arme : HA'I!.. Untuk Kuro Rei-chan.. Kurasa siapapun tahu siapa serigala itu.. :3
Sieghart : Untuk Shirokawa Hazuki.. Kau lama-lama membuatku kesal juga.. *bersihin Soluna abiz buat ngebantai* ..tapi emang benar aku sayang cucuku ini.. *peluk Elesis*
Elesis : Menjauh dariku pak tua! *tendang Sieghart jauh-jauh*
Ryan : Untuk Eureca-Cross.. Iya tuh, tapi kali ini aku benar-benar melakukan penampakan secara utuh.
Rufus : Kata-katamu terdengar seperti hantu saja.. ==
Zero : Semua char.. mungkin ya atau tidak.. nanti lihat situasi dulu..
Ryan : Okay, Next episode : Animal Soul [part 3] =w=v
