Disclaimer
Grand Chase, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
Refference : +Anima, autorized by Natsumi Mukai
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 4 : Animal Soul [part 3]
.
"Cepat cepat!" Elesis mengarahkan semua murid kembali ke dalam bus hingga tersisa dirinya dan sang kakek.
"Kalian pergilah duluan ke tempat aman, aku akan mencari dua orang itu." Sieghart berlari memasuki hutan sebelum cucunya mengatakan sepatah katapun.
.
"Apa kubilang? Tidak ada mahluk buas apapun yang berani melawan kita." Ujar seorang paruh baya bertubuh kekar dengan pistol mekanik di tangan. Dihadapannya seekor macan tewas bersimbah darah.
"Dan kalau ada pun.. BANG! ..Aku akan menghabisinya." Ujar seorang yang lain.
Mereka berjalan menuju sebuah danau yang dipenuhi oleh teratai dan lily yang masih kuncup. Sudah pasti bunga lily itulah yg menjadi incaran mereka. Bunga yang seharga dengan sebuah mobil mewah membuat siapapun tergiur.
"Kita kaya bos!" Mereka mulai memetiknya tanpa peduli bunga tersebut siap untuk mekar atau tidak. Ditengah asiknya terbayang uang yang akan mereka dapatkan, suara lolongan serigala terdengar cukup keras di telinga mereka.
"B-b-bos.." Mereka melihat sosok hewan berbulu tebal mirip anjing yang berdiri dengan dua kaki di sela pepohonan. Spontan mereka melepaskan tembakan yang menarik perhatian sang detektif yang sedaritadi mencari keberadaan sang werewolf. Sieghart yang juga mendengarnya langsung berlari menuju sumber suara.
"Tembak!" Suara tembakan terdengar ke seluruh penjuru hutan hingga burung-burung beterbangan dari sarangnya, menghalangi pengelihatan mereka dari serigala jadi-jadian yang menghindari peluru dengan melompat diantara pepohonan.
"Bodoh! Kemana kau membidik?" Bos mereka memarahi karena tembakan mereka tak satupun yang mengenai mahluk itu. Werewolf berbulu orange tersebut langsung menyambar seorang penembak kemudian dilemparkannya ke dalam danau. Menghindari pukulan pistol ia langsung mencakar yang lain, menggigit dan mengahantamkan mereka ke pohon atau batu. Sekarang tinggal bos yang ketakutan dan werewolf orange yang bulu-bulunya mulai memercikkan api.
"Hei, Rufus kaukah i..." Tiba-tiba Sieghart melompat keluar dari dalam hutan di saat yang tidak tepat. Bos dari para pemburu liar tadi melarikan diri ketika sang serigala tak sedang mengawasinya, namun di depan sana ia dihadapkan dengan sang detektif dalam posisi siap menembak,.
"Jangan bergerak." Ancamnya. Pria tersebut tak mempedulikannya dan terus berlari. Ia bermaksud untuk menjatuhkan sang detektif dan menjadikannya sandra sementara.
"Keras kepala." Cepat-cepat ia memasukkan kembali kedua pistolnya, merunduk dan berputar menendang betis pria itu dari belakang hingga jatuh terjengkal. Diinjaknya tubuh pria tersebut dengan kakinya kemudian menunjukkan sebuah badge berlapis perak dari dalam saku coatnya.
"Kau ditahan atas kasus perusakan cagar alam, perburuan liar dan penyerangan terhadap warga sipil."
.
Para pemburu liar pun diserahkan kepada polisi hutan setempat untuk proses hukum lebih lanjut. Elesis dan rombongannya yang datang lebih dahulu untuk melapor masih bersama dengan para polisi. Sementara itu, Rufus, Sieghart, dan Ryan duduk di tepi hutan untuk membicarakan masalah yang lain. Lebih tepatnya untuk membicarakan soal kemampuan transformasi pemuda berambut orange itu.
"Jadi kalian jauh-jauh kemari untuk mengetahui soal keganjilan ini?" Ryan tampak terkejut mendengar adanya orang yang mau mendengar kisahnya. Kisah yang dilaluinya selama bertahun-tahun tanpa ada seorang pun yang tahu, kini ia bertemu dua orang yang ingin mengerti apa yang pernah dilaluinya.
.
..flashback around 50 years ago..
"Waah!" Seorang anak berumur sekitar 7 tahun berambut orange sambil berlarian di hutan yang dipenuhi flora cantik menawan.
"Indah bukan?" Tanya seorang wanita muda berambut orange panjang dikuncir ponytail dengan pakaian ekspedisi di belakang.
"Luar biasa!" Teriak anak itu girang.
"Mulai sekarang mama akan melakukan banyak penelitian di sini. Jadi kita bisa tinggal untuk waktu yang lama. Kau mau kan?"
"Tentu saja! Kalau aku sudah besar nanti aku ingin menjadi ekologist seperti mama." Anak itu menepuk dadanya dengan bangga. Sang ibu tersenyum melihat semangat putranya tercinta. Dalam hati ia teringat akan mendiang suaminya yang juga seorang ekologist, bahkan yang terbaik di negeri mereka. Ia pasti bangga.
"Mama.. apa nama tempat ini?" Tanya sang anak membuyarkan lamunan bundanya.
"Tempat ini belum memiliki nama. Apa kau punya saran?"
"Mmm..." Gumamnya sambil berpikir.
"Aku pernah dengar dalam dongeng ada taman surga yang sangat indah bernama Eden. Bagaimana kalau kita namai Eden saja?" Wanita itu terkekeh kemudian membelai kepala anaknya.
"Baiklah.. Mulai sekarang tempat ini akan bernama Eden."
.
"Argh!"
"Tenanglah. Pasti ada jalan koq."
"Tidakkah kau lihat katak super kecil itu? Kita tidak punya kesempatan."
Mereka berlalu-lalang dengan bingung dan putus asa. Anak yang kini telah berusia 11 tahun itu tak mengerti apa yang mereka permasalahkan tapi ia yakin kalau apa yang ditemukannya beberapa hari yang lalu mungkin bisa membantu. Perlahan ia mendekati ibunya.
"Mama! Coba lihat apa yang kutemukan semalam." Ujar anak itu lalu menunjukkan setangkai lily putih bercorak merah muda yang sedaritadi disembunyikan dibalik punggungnya.
"Cantik sekali. Argus.. coba lihat ini.." Pria yang sedang frustasi tadi langsung terbelalak melihat apa yang ada di tangan sang anak.
"I-ini kan.. Dimana kau menemukannya?"
"Akan kutunjukkan!"
Malam itu seluruh anggota ekspedisi bersama-sama menyusuri hutan untuk menemukan bunga lili yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Mereka melewati pepohonan yang begitu gelap karena rimbun hingga ke tempat yang cukup menerima cahaya bulan. Sebuah danau yang ditumbuhi oleh bunga teratai dan lily serta ribuan kunang-kunang beterbangan bagai percikan kembang api. Semua kecuali anak itu tercengang akan keindahannya. Mereka mulai memotret, mengambil sampel dan berbagai macam hal lainnya.
"Lilium Stargazer. Kukira sudah lama punah, tak kusangka aku bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Ujar salah satu dari mereka.
"Dengan ini kita pasti bisa memenangkan kompetisi." Mereka bersuka ria bersama semalaman di taman kecil tersebut.
Keesokan harinya, sang wanita muda ditemani rekan-rekannya baru saja kembali dari kota sambil bercanda ria. Piala dalam genggaman mereka menjadi bukti akan kesuksesan kompetisi dalam mengeksplorasi daerah yang belum terjamah. Anak berambut orange yang sedang menyiram pot di tepi jendela rumah pohon melihat mereka di kejauhan. Ia pun segera meletakkan penyiram yang dibawanya lalu berlari turun untuk menyambut mereka.
.
DOR!
Suara tembakan memecahkan keheningan malam. Semua orang terbangun karenanya dan segera mengambil perlengkapan mereka, termasuk senjata. Semenjak presentasi penemuan mereka akan lili langka yang lalu banyak sekali orang yang datang untuk mengeksploitasi keindahannya. Mereka mendapat kabar dari pihak berwenang kalau mereka harus berhati-hati akan adanya pemburu liar yang mengincar. Sekarang disinilah mereka, berusaha mengusir pemburu-pemburu liar yang datang merusak Eden. Jasad hewan berserakan, cabang pohon dan rerumputan terpotong tak karuan.
"Peringatan! Ini wilayah yang dilindungi! Segera tinggalkan tempat ini!" Teriak teman ibunya menggunakan alat pengeras suara.
Para pemburu semakin hari semakin nekad. Malam itu mereka bergerak dalam jumlah yang banyak, memojokkan dan membunuh sebagian peneliti yang berada di rumah pohon kemudian dibakar. Akibatnya hutan yang dulunya indah sekarang terlahap oleh api yang menari dalam gelapnya malam.
"Ryan, lari!" Suruh sang wanita muda pada anaknya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu disini." Jawab anak itu menolak. Melihat kondisi ibunya yang terluka parah ia tahu tidak mungkin selamat tapi.. ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Dengar, kau menyukai tempat ini kan? Mama dan paman-paman semua juga. Karena itu..Tetaplah hidup untuk melindunginya." Ia tak dapat membendung lagi air mata yang ditahannya sampai sekarang.
"LARI!" Ia pun lari meninggalkan ibunya jauh ke dalam hutan yang terbakar.
.
Di dalam hutan ia menemukan mayat seekor serigala dewasa yang tubuhnya nyaris hangus terbakar. Ia mengorbankan dirinya demi melindungi seekor anak serigala yang ada dibawahnya. Serigala kecil itu terus menerus menggoyangkan tubuh pelindungnya, berharap serigala tersebut masih hidup. Ketika itu Ryan mendengar suara retakan dari atas. Sebuah cabang yang terbakar roboh, beruntung ia berhasil menarik dirinya dan anak serigala itu sebelum tertimpa.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya pada serigala kecil yang ketakutan di tangannya.
Angin berhembus kencang dari belakangnya membawa lidah-lidah api menjadi bentuk seekor serigala dihadapannya. Ia kaget sekaligus heran. Ini kali pertamanya ia melihat fenomena alam seperti ini.
"Izinkan aku meminjam ragamu." Pinta serigala api itu.
"Apa?"Anak itu menatap tak percaya.
"Aku ingin membalas perbuatan para bedebah yang menghancurkan keluarga dan tempat tinggalku. Tidakkah kau mengharapkan yang sama?"
"Baiklah. Aku mengerti."
Sosok serigala api itu langsung mengitari tubuhnya, merasuk dan mengubah wujud sang anak menjadi seekor serigala berbulu orange menyala dengan api. Ryan dalam wujud serigala menghabisi kawanan pemburu liar tanpa ampun. Potongan tubuh manusia berserakan seperti boneka yang tersebar di segala penjuru.
'Kau membunuh mereka.' Jiwa anak itu panik bercampur horor.
'Setelah apa yang telah mereka perbuat, mereka tidak pantas untuk hidup.' Geram jiwa serigala api.
'Tapi..'
'Mari kita bersama melindungi tempat ini dari tangan kotor manusia.' Ia.. lebih tepatnya roh serigala yang mengontrol tubuhnya melolong penuh kemenangan.
..flashback end..
.
"Sejak saat itulah aku menjaga hutan ini dari siapapun atau apapun yang berniat merusaknya. Awalnya dialah yang mengendalikanku, aku tidak dapat berbuat apa-apa ketika ia menyerang tim pencari yang datang untuk mengevakuasi. Namun sekarang aku sudah bisa mengendalikan transformasi dan emosinya, aku tak akan mengizinkannya berlaku seenaknya."
"Kalau begitu ceritanya.." Rufus bangkit berdiri. "Aku tak perlu berbuat apapun."
"Eeeh..? Kau tak akan melakukan tindakan exorsisme atau semacamnya?" Tanya Sieghart penuh harap.
"Dia sendiri yang mengizinkan roh itu merasuki tubuhnya. Tanpa adanya perlawanan dari jiwa pemilik raga yang asli, ritual pengusiran roh hanya akan menguras tenaga sia-sia."
'Selain itu, besar kemungkinannya ritual tersebut akan balik menyerangku.'
"Hei, apa kalian sudah selesai? Kami mau pulang." Panggil Elesis dari luar bus.
"Tunggu kami!" Sieghart berlari mendahului. Rufus dan Ryan menyusul setelahnya.
"Kau tidak ikut, Ryan?" Tanya seorang murid pada pemuda itu.
"Aku senang bisa bertemu kalian walau hanya sebentar, tapi disinilah rumahku. Aku akan tetap tinggal disini." Jawabnya disertai cengiran khas.
Mereka pun berangkat pulang, sesekali melambaikan tangan pada pemuda werewolf yang hanya diketahui oleh sang detektif dan kakek.
"Bye!"
"Kalau ada waktu mampir ya!" Teriak Ryan dari tepi hutan.
'Pemuda itu..' -serigala api-
'Aku tahu.. Tapi.. Dia itu orang yang baik.' -Ryan-
.
"Hei.. Rufus.." Panggil Sieghart berbisik karena para murid tertidur.
"Hng?"
"Kalau aku tidak salah ingat kejadian yang diceritakannya itu berkisar 50 tahun lalu, tapi dia masih terlihat seperti anak remaja."
"Kau tak melihat dirimu yang berusia 6 abad dengan wajah berumur 20 tahunan?" Sieghart menggaruk kepalanya.
"Aku kan terkena kutukan abadi. Mau berapa lamapun aku hidup aku tak akan pernah menua."
"Hal yang sama terjadi padanya. Menjalin kerjasama dengan roh hewan adalah cara kuno untuk melantik seseorang menjadi penjaga alam. Otomatis mereka akan berubah menyerupai hewan entah itu wajah atau bagian tubuh yang lain, tapi yang paling utama adalah telinga. Dan mereka akan memiliki umur yang panjang juga penuaan yang melambat."
"Ah iya, telinga anak itu runcing sepertimu."
"Dalam dongeng kita menyebut mereka ras Elf, tapi aku bukanlah salah satu dari mereka."
"Kau memiliki ciri-ciri yang sama.. Kalau bukan Elf lalu kau ini apa?"
Sebelum menjawab tiba-tiba bus berhenti mendadak, mengagetkan semua murid dan menjatuhkan beberapa yang sedang tidur dari kursinya. Elesis mendatangi supir dan bertanya.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" Sang supir menunjuk kedepan. Seorang gadis berambut pirang panjang menghentikan bus dengan merentangkan tangan di tengah jalan. Gadis itu mendekati bus lalu menggedor-gedor pintu. Sang supir membukakan pintu agar gadis yang terlihat panik itu masuk.
"Tolong. Seseorang berusaha membunuhku dengan sabit besarnya."
Mereka melihat sekeliling tapi tidak ada apa-apa. Tiba-tiba saja sebilah pisau melengkung yang besar menancap dari atap bus. Sontak saja mereka berteriak ketakutan.
"Tancap gas!" Suruh Elesis pada sang supir yang langsung saja menginjak gas.
Pisau sabit itu terlepas dari atap bus. Mengira siapapun itu sudah pergi, ternyata tidak. Sekali lagi sabit menancap masuk ke dalam. Rufus langsung mengambil pistolnya lalu ditembakkan ke langit-langit. Terdengar gaduh di atap bus kemudian dari belakang terlihat seseorang jatuh ke jalan dan tidak bangkit kembali.
'Tadi itu.. malaikat kematian?'
Setelah bus melaju jauh, sosok yang terjatuh tadi bangkit sambil menyentuh pundaknya yang luka tergores peluru.
"Jiwa yang kotor.. Rufus Wilde.. kita bertemu lagi."
.
Author : Lalalala~ case 4 closed dan case 5 dimulai..
Arme : Kau bilang akan menyelesaikan bagianku! DX
Author : Gomene Arme.. Ru sedang tidak ada curahan ide.. T_T
Arme : Mou.. XI
Author : Re:review kali ini eksklusif dibawakan oleh Ryan~
Ryan : Aku? Pertama untuk Eureka-Cross.. Tidak, author mengarang semuanya, tidak ada riset apapun selain menghabiskan waktu merampok kereta ME301.. -_-
Ryan : Lalu untuk Kuro Rei-chan.. Ha'i ganbarimasho! ^^
Ryan : Terakhir untuk Shirokawa Hazuki.. Hueee.. jangan ingatkan aku soal itu lagi.. TAT
Author : Oh well.. Next episode : Clueless Soul [part 1]
