Disclaimer
Grand Chase, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
Refference : Supernatural series
.

-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 5 : Clueless Soul [part 1]

.

"Ada apa ketua?"

"Gadis bodoh ini mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri ke bus kita." Ujar Elesis sambil menunjuk gadis disebelahnya dengan jempol. Teman-temannya melongoh karena mereka tidak melihat orang lain selain supir bus.

"Err.. Ketua.. Gadis mana yang kau maksud?" Seorang memberanikan diri bertanya.

"Si pirang ini!" Sekali lagi Elesis menunjuk gadis itu.

"Tapi ketua, kami tidak melihat siapa-siapa." Belum sempat Elesis memprotes lagi sang kakek mengalihkan topik pembicaraan.

"Oke semuanya, sebentar lagi kalian akan tiba di sekolah. Persiapkan barang bawaan kalian, jangan sampai ada yang tertinggal." Mereka pun segera mengecek barang bawaan masing-masing.

"Tidak apa-apa. Hampir semua orang menganggapku tidak ada, aku sudah terbiasa koq." Gadis itu menenangkan Elesis.

"Kau bisa duduk di kursi belakang, ada hal yang harus kami bicarakan terlebih dahulu." Pinta Rufus padanya.

Gadis itu mengangguk lalu menuruti. Sementara ia menunggu di belakang Rufus dan Sieghart menjelaskan pada Elesis apa yang sebenarnya terjadi. Sekali Elesis menatap kearahnya, sang gadis melihatnya lalu tersenyum sambil melambaikan tangan.

"Jadi dia itu roh?"

"Benar. Kau dapat melihatnya karena suster Lime sudah membuka mata batinmu kemarin, ingat?" Sang kakek mengingatkan.

"Kalau dia roh, berarti yang mengejarnya adalah.."

"Grimm Reaper, malaikat kematian." Jawab Rufus singkat.

"Pertama-tama kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik semua kejadian ini."

"Ya, seperti biasa."

.

Setibanya mereka di sekolah semua berajak ke rumah masing-masing, terkecuali untuk Sieghart dan Elesis yang mampir ke rumah sang detektif bersama dengan roh tadi. Di teras lagi-lagi mereka bertemu dengan roh pengelana yang dikenal sebagai Zero sedang duduk sambil membersihkan pedangnya. Saat pemuda itu mengangkat wajahnya, menatap mereka dari balik shades kuningnya sang gadis tiba-tiba saja bersembunyi dibalik punggung sang detektif.

"Kau kembali lagi?" Zero menghentikan aktifitasnya lalu berdiri menghadapi mereka.

"Aku sudah menunggumu selama 2 hari. Dan aku membawa misi lain yang mungkin akan menguntungkanmu kali ini." Ia melihat sepasang mata emerald mengintip dari pundak pemuda yang diajaknya bicara.

"Kau sedang apa?" Tanyanya pada roh itu.

"Ah? Eh.. Aku tidak apa-apa."

.

Mereka duduk di ruang tamu, dan entah karena dapat wangsit darimana Elesis membuatkan teh hangat untuk semua. Zero berterimakasih namun tak menyentuhnya sama sekali, mengingat roh tidak dapat makan atau minum hidangan dari dunia orang hidup. Berbeda dengan roh gadis tadi yang tetap saja menerima dan meminumnya, alhasil separuh isi cangkir yang ditelannya membasahi sofa dan lantai. Semua yang melihatnya diam saja karena gadis itu tampaknya sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja diperbuatnya.

'Sepertinya aku harus mengirimkan sofaku untuk dicucikan lagi.' Catatnya dalam pikiran.

"Namaku Elesis Sieghart." Elesis membuka pembicaraan. Ia segera meletakkan cangkirnya kembali.

"Oh! Aku lupa memperkenalkan diri, benar-benar tidak sopan, maaf. Namaku Lire Eryuell. Terimakasih kalian sudah menolongku semalam." Ujarnya sambil tersenyum.

"Aku Ercnard Sieghart, kakeknya Ele.. OUCH!" Rintihnya karena perutnya disiku oleh gadis yang dimaksud.

"Rufus." Katanya singkat dan datar.

"Zero.. Zephyrum.." Tambahnya tak kalah datar.

"Senang bertemu kalian semua."

"Kau tinggal dimana? Biar kami antar." Saran Elesis. Sang gadis terdiam sejenak untuk berpikir, namun kemudian ia menggelengkan kepala.

"Aku tidak ingat."

"Kalau begitu, sementara kau tinggal saja denganku."

"Terima kasih, maaf merepotkan." Mereka pun berpamitan untuk pulang ke rumah Elesis. Tak lama setelahnya Rufus berbisik pada sieghart.

"Sebaiknya kau awasi mereka, siapa tahu reaper semalam bergerak mengincarnya lagi." Sieghart menggangguk kemudian segera berlari menyusul mereka. Sekarang hanya tinggal Zero yang masih diam sambil sesekali membaca dokumen yang sedaritadi dipegangnya.

"Jadi, kau ingin menawariku apa tadi?" Tanya sang detektif. Zero mendongakkan wajahnya sebentar lalu membalik dokumen yang dibukanya. Tepat di halaman itu terpampang foto seorang gadis berambut pirang, sangat mirip.. ralat ..foto itu memanglah foto Lire.

"Lire Eryuell. 19 tahun. 12 Mei 18xx – 19 April 18xx. Penyebab kematian : tusukan di jantung dan beberapa tusukan lain di sekujur tubuh. Lokasi kejadian : tepi hutan Eden..." Gumamnya selagi membaca dokumen tersebut, kemudian ia mulai menganalisa foto TKP.

"Kasus pembunuhan rupanya."

"Ya, tapi yang membuat yang diatas menurunkan misi ini adalah, hilangnya salah satu penjemput roh yang ditugaskan menjemputnya saat itu hingga sekarang." Sela Zero.

"Penjemput roh? Reaper maksudmu?"

"Itu nama yang dikenal di dunia manusia, tapi sebenarnya mereka tidak diperkenankan mencabut nyawa. Mereka hanya menjemput dan mengantarkan jiwa manusia yang sudah meninggal untuk diadili."

Rufus mengangguk lalu meletakkan dokumennya di atas meja. Ia meminta Zero menunggu di ruang tamu selagi ia melakukan rutinitas pagi yang sempat tertunda. Setelah sarapan dan persiapan lainnya mereka berangkat menuju kantor tempat Rufus bekerja. Terkejut ia melihat gadis berambut violet duduk di kursi resepsionis dan bukannya pemuda psycho berambut lavender yang biasanya.

"Ada yang bisa kubantu?" Tanya gadis yang bisa dibilang pendek untuk gadis seusianya.

"Akses ke ruang dokumen." Kata Rufus singkat.

"Maaf, ruang dokumen hanya boleh dimasuki oleh kru kepolisian saja." Ia menghela nafas kemudian menunjukkan badge miliknya.

"Apa ini bukti yang cukup?" Gadis itu menatap tak percaya. Ia tak pernah melihatnya barang sekali saja tapi ia bisa menunjukkan bukti yang sangat kuat kalau dia adalah anggota.

"Badge itu kan.. Kau.. Tapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."

"Aku dari divisi investigasi dan memang aku jarang berada di kantor. Lagipula kau ini siapa? Dimana Azin?"

"Arme Glenstid.. Aku baru sebulan di sini. Azin tidak masuk karena sedang tidak enak badan."

Setelah insiden kecil di depan akhirnya ia mendapat kunci masuk ke ruang arsip. Kali ini ia mengizinkan Zero ikut bersamanya ke dalam ruangan yang dingin dipenuhi oleh lemari besi.

"Ah, kau datang hari ini." Kata si penjaga ruang arsip bernada monoton. Ia tak beranjak sedikitpun dari meja besar yang dipenuhi oleh buku, map dan kertas.

"Aku ingin melihat dokumen kematian seorang bernama Lire Eryuell." Ungkap sang detektif to the point.

Gadis itu menutup bukunya lalu berjalan di lorong antara lemari-lemari dokumen yang berbaris rapi. Sejenak ia berhenti untuk mengisyaratkan agar sang detektif mengikutinya. Mereka masuk ke kelompok "L" dan Mari mulai menggeledah salah satu lacinya. Setelah mendapatkan yang ia cari diberikannya map tersebut padanya. Rufus membuka dan membacanya, namun ada hal ganjil yang mengganjal dari semua keterangan yang ia dapatkan.

Lire Eryuell. 19 tahun. 12 Mei 18xx – 19 April 18xx. Penyebab kematian : tidak diketahui. Lokasi kejadian : tepi hutan Eden. Kemungkinan penyebab kematian adalah serangan jantung, namun riwayat kesehatannya yang terakhir menunjukkan tidak ada gejala kelainan maupun penyakit kronis yang diderita.

Ia melihat foto TKP dan terkejut. Diambilnya foto yang sebelumnya dan dibandingkan dengan foto tersebut. Berbeda.. sangat berbeda, terutama pada kondisi jenazah korban. Foto yang didapatnya dari arsip, korban sama sekali tak terlihat adanya luka luar yang serius sedangkan yang didapatnya dari dunia atas, tubuh korban sangat mengenaskan seperti dicincang oleh ribuan pisau.

'Ada yang tidak beres disini. Ini bukanlah kasus kecelakaan biasa.'

Zero diam saja setelah melihat semuanya. Ia berpikir lebih lanjut soal keterangan selebihnya yang seharusnya tidak boleh ia beberkan pada dunia hidup. Ia tahu kalau orang ini bukanlah sekedar manusia biasa yang tidak mengerti hal-hal spiritual diluar nalar dan logika tapi bagaimanapun ia ragu karena menyimpan rahasia ini adalah perintah.

Rufus mengembalikan dokumen yang dibawanya ke meja yang sekarang sedang dihuni oleh empunya yang masih sibuk membaca buku. Sang penjaga sendiri tak bergeming saat map itu membuat suara kecil saat menyentuh gunungan buku dibawahnya.

"Aku sudah selesai." Kata sang detektif lalu meninggalkan ruangan.

"Kukira senior sepertimu tahu kalau tidak boleh membawa orang lain selain staf ke ruangan ini. Berhubung temanmu tidak dapat berkomunikasi dengan sembarang orang, aku memaafkan kelalaianmu." Ujar Mari dengan nada datar. Keduanya membatu seketika mendengarnya.

"Kau melihatnya?" Tanya Rufus berusaha tetap tenang.

"Tidak. Tapi aku bisa merasakan kehadirannya.. teman rohmu itu." Jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari bukunya.

Tiba-tiba saja telepon di sakunya berdering. Ia membuka dan membaca caller IDnya : Sieghart. Ia menekan tombol hijau lalu ditempelkannya ke telinga.

"Ada apa?"

"Orang gila yang membawa sabit itu kembali. *CLANG!* Kami berada di daerah taman Gorgos cepatlah kemari!" Sambungan telepon pun terputus. Dari nada bicaranya sepertinya mereka terdesak jadi segera saja keduanya berangkat ke lokasi.

.

"BIRTH OF BLADE!" Sebuah pedang besar muncul dari dalam tanah. Sieghart segera mencabutnya untuk menangkis serangan sabit dari malaikat kematian berambut spikey magenta dan tanduk di kedua sisi kepalanya.
"Kita bertemu lagi, malaikat kematianku." Sieghart tersenyum mengejek.

"Tak kusangka bisa bertemu lagi dengan seorang yang pernah kujadikan abadi beberapa abad lalu." Sang reaper balik tersenyum licik. Sementara dari sudut matanya Elesis membawa target buruannya kabur. Ia melompat mundur lalu menghela nafas.

"Ah! Dia kabur lagi."

"Apa yang kau inginkan darinya?" Tanya Sieghart sembari menyandarkan pedangnya di bahu.

"Itu bukan urusanmu. Kalau kau menghalangiku aku akan menjatuhkanmu lebih dahulu."

"Ohoho.. dengan senang hati aku akan jadi lawanmu kawan."

Mereka berkelahi satu sama lain, bahkan sempat sang kakek sambil menelepon si detektif sambil menahan serangan lawannya.

"Memanggil bantuan? Heheh.. kemampuanmu aus termakan usia, he?" Sieghart hanya tersenyum.

"Tidak. Aku memanggilnya karena.." DOR! Sebulir timah panas menembus bahu sang reaper dari belakang.

"..dia punya urusan denganmu." Lanjutnya setelah melihat Rufus dan Zero berdiri tak jauh dibelakang lawan.

"Menembakku dengan Judgement, berani sekali kau! Peluru yang menghancurkan jiwa dan pemilik yang sama terkutuknya.. Rufus Wilde"

"Aku anggap itu sebagai pujian, Dio.. Soul Reaver dari Burning Canyon."

.

Author : Tarara.. cliffhanger.. #buagh

Lire : Kemunculan perdanaku dan Dio di fict ini.. :D

Sieghart : Sebagai anggota baru, bacakan re:review ya! *nyengir*

Dio : Untuk Kuro Rei-chan.. malaikat kematian itu aku.. *bangga*

Lire : Untuk Eureca-Cross.. err.. kurasa rambutku warna kuning pirang bukan perak.. ._.

Dio : Untuk awainotsubasa.. *mencium diri sendiri* Aku yakin sudah mandi dengan benar deh.. ==

Rufus : Mencariku? Aku sibuk di fict ini jadi tunggu episode depan. :|

Zero : Next Episode : Clueless Soul [part 2]