Disclaimer
Grand Chase, All related logo and characters are trademark of KOG studio.
Refference : Supernatural series

.

-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 5 : Clueless Soul [part 2]

.

"Setidaknya kita aman untuk sekarang."

Elesis mengintip sang kakek, reaper, detektif dan pengelana yang sedang bertatap muka di kejauhan dari balik tempat persembunyiannya. Ia berbalik mendapati Lire yang berjongkok sambil meremas rambutnya dan bergumam sendiri. Ia terus menerus berkata "Aku belum mau mati" dengan wajah ketakutan.

"Lire!" Elesis menggoncang tubuh gadis itu dengan kuat hingga ia tersadar dari fantasinya.

"E-Elesis.." Ia mulai menenangkan diri dengan mengambil nafas dalam.

"Maaf, aku.. trauma setiap kali melihat pedang panjang." Akunya jujur. Elesis menaikkan sebelah alis.

"Jadi itu kenapa kau bersembunyi ketika melihat Zero di teras rumah tadi?" Lire mengangguk.

.

Rufus, Sieghart, Zero dan Dio masih berdiri di tempat, saling melempar pandang satu sama lain.

"Apa kau masih akan tetap.."

"Menangkap roh itu? Tentu saja, lagipula itu bagian dari tugasku." Putus sang reaper.

"Kalau begitu, kau harus melewatiku dulu." Sang detektif mengacungkan pistolnya, sudah terbidik dan siap menembak.

"Dan aku." Sieghart mengacungkan pedangnya, siap menyerang.

"Aku tidak ikut." Zero mengangkat tangan. Mereka menatapnya sejenak lalu kembali saling melempar deathglare.

Sieghart maju terlebih dahulu dengan pedang di tangan. Dio mengumpulkan energi kegelapan lalu dilemparnya menjadi bola-bola energi. Sieghart menebas salah satunya tapi justru meledak ketika tersentuh metal pedangnya, ia pun terlempar jauh dari arena.

"Whoa?! Apa itu tadi?" Ia menggunakan soluna untuk membantunya berdiri.

Sementara itu Rufus dengan mudah menghancurkannya dengan sekali tembak. Asap ledakan mengepul menghalangi pandangan. Mata sang reaper melihat ke kanan dan kekiri, menunggu untuk lawan datang menyerang. Dari arah belakang sang detektif menembus tebalnya debu dengan belati di tangan kirinya. Secepat ia datang secepat itu pula sang reaper membalikkan tubuhnya dan menahan serangan dengan sabitnya. Mereka bertemu pandang, scarlet dan magenta menyala dalam tebalanya asap. Bersama-sama melompat menjauh saat asap mulai menipis. Belum sempat menganalisa situasi Sieghart sudah berada di sampingnya dan mengayunkan soluna padanya. Sekali lagi ia menggunakan sabitnya untuk menahan serangan.

"Aku tak akan membiarkanmu mencabut jiwa gadis itu." Dio mengangkat sebelah alis.

"Mencabut jiwa? Apa maksudmu?"

"Huh?" Sieghart terbengong-bengong mendengar jawaban Dio bernada seolah dia tidak tahu apa yang dimaksud olehnya. Mereka mengambil jarak lalu menarik senjata masing-masing. Dio menghela nafas.

"Sepertinya kalian salah mengira. Aku memang akan menangkapnya tapi bukan berarti membawanya paksa ke tempat pengadilan, itu berakibat buruk bagi jiwa itu sendiri." Ia menjelaskan.

"Tugasku yang utama adalah menangkap pelakunya. Aku menduga kalau siapapun itu adalah orang yang sama dengan pencuri pedang Infernal dari dunia bawah. Tapi gadis itu selalu saja melarikan diri dariku seperti dikejar oleh hewan buas yang hendak memangsanya." Ia mencibir saat mengucapkan kalimat terakhir. Rufus dan Sieghart berpiikir 'Siapa yang gak takut melihat malaikat menyeramkan sepertimu?!'. Dalam hati Rufus merasa beruntung karena dia tak memiliki tanduk dan taring seperti kaum Asmodian, para reaper.

.

"Elesis! Kau bisa keluar sekarang!" Teriak Sieghart sampai ke telinga sang cucu.

Elesis pun mengajak Lire keluar dari persembunyian untuk bergabung kembali dengan yang lain. Alangkah terkejutnya mereka karena sang reaper ada bersama mereka sambil menyilangkan lengan didepan dada. Lire spontan sembunyi di belakang Elesis ketika melihat sabit dan dua pedang ada diantara mereka.

"Kenapa mahluk itu masih di sini?" Tanya Elesis sambil menunjuk Dio dengan jari telunjuk.

"Ceritanya panjang." Jawab kakeknya singkat. Elesis menatapnya curiga. Dio tak menunjukkan adanya perubahan ekspresi.

"Tolong singkirkan senjata kalian lebih dahulu! Dia tak suka melihatnya." Perintah Elesis sambil menunjuk Lire.

Sieghart menancapkan kembali soluna ke tanah lalu tertelan begitu saja. Dio menyimpannya di dimensi lain. Zero tak berbuat apa-apa karena ia tak punya tempat penyimpanan alternatif.

"Aku tak bisa menyingkirkannya, tapi aku janji akan menjaga jarak darimu." Kata Zero datar.

.

Kali ini mereka berkumpul di rumah Elesis. Ketika mereka sampai Elsword menyambut di teras rumah. Mereka menghabiskan waktu hingga malam tiba dan memastikan Lire sudah tidur baru mereka melakukan diskusi.

"Aku baru tahu roh butuh tidur." Elesis mengangkat sebelah alis.

"Sebenarnya roh tidak butuh tidur karena tidur itu sendiri adalah saat dimana manusia menjadi roh sepenuhnya. Tapi dalam kasus ini berbeda." Zero menatap Dio, berharap ia menjelaskan semuanya. Dio memtuar mata kemudian duduk sambil meletakkan kakinya ditepi meja.

"Aku hanya menjelaskan satu kali jadi dengarkan baik-baik." Ia mengambil nafas panjang.

"Di dunia tempat kami tinggal tersimpan 3 senjata terkutuk yang tersegel di tempat yang dijaga ketat oleh pasukan elit. Yang pertama adalah Judgement, pistol yang dititipkan padamu sejak hari itu." Ia menunjuk Rufus.

"Yang kedua adalah Seal. Dan yang ketiga adalah Infernal. Seratus tahun setelah kami menitipkan Judgement padamu seseorang menerobos penjagaan, membunuh semua pasukan lalu mencuri Infernal dari ruang segel. Dari salah seorang yang sekarat kami mendapat info bahwa penyerang masih berusia antara 13-15 tahun berkulit putih, berambut putih dan bermata biru laut kusam." Rufus terbelalak mendengar ciri-ciri barusan.

'Tidak. Belum tentu dia orangnya. Aku tidak boleh gegabah.'

"Infernal memiliki kemampuan untuk membunuh raga tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Dan sepertinya si pencuri menggunakannya untuk melakukan serangkaian pembunuhan. Gadis itu salah satunya, tapi aku heran kenapa ia selalu menghapus ingatan roh korbannya sehingga kami kesulitan untuk membawa mereka ke tempat penyucian. Menganggapnya sebagai ancaman terhadap keseimbangan spiritual, dunia atas menurunkan perintah untuk merebut kembali Infernal dengan cara apapun." Dio merogoh saku rompinya lalu menyebar foto yang diambilnya ke atas meja. Semua mata tertuju pada lembaran kertas berisi gambar wajah manusia.

"Semua itu adalah daftar korban pembunuhan yang harus ditemukan, dan dari semuanya hanya gadis itu yang dapat dilacak tekanan rohnya. Dengan kata lain.."

"Entah jiwa mereka dikurung atau dilenyapkan." Tanpa sengaja Rufus menggumamkan isi pikirannya keluar. Dio melempar deathglare pada sang detektif.

"Jangan menyela saat aku bicara." Hardiknya. Sesaat kemudian kembali menjelaskan.

"Ingatannya adalah satu-satunya kunci untuk mengetahui dan melacak keberadaan tersangka. Kita harus mencari cara agar dia bisa segera mengingat semuanya."

"Itu sama saja kau membuatnya terbunuh dua kali secara mental." Komentar Zero datar.

"Lebih baik daripada lebih banyak lagi korban."

"Hei.. Kau tidak boleh seenaknya begitu.." Sieghart turut menentang keputusan sang reaper. Tiba-tiba sebuah telapak tangan berhenti didepannya. Rufus yang menjadi pelakunya memberi isyarat agar sang kakek tidak membantah lebih jauh.

"Dengar kalian semua. Ini mungkin akan sulit diterima, tapi memang begini adanya." Semua terkecuali Dio dan Zero mendengarkan dengan seksama.

"Seseorang tengah membangun kekuatan untuk menghapuskan peradaban manusia dari muka bumi. Menyeret jiwa-jiwa yang telah meninggal untuk dijadikan pion baginya. Aku tidak terlalu yakin tapi kurasa dia dan anakbuahnyalah dalang dari semua kasus spiritual selama ini. Jika hal ini terus dibiarkan dapat berakibat benturan antar dimensi dan terjadilah yang manusia sebut sebagai 'akhir zaman'."

PRANG! Suara benda pecah terdengar dari luar ruangan. Mereka bersiap dengan senjata di tangan, perlahan mendekati pintu kemudian Sieghart secepat kilat membuka dan mengayunkan tongkat besi gantungan jaket keluar. Gadis berambut pirang terduduk di lantai karena kaget tiba-tiba ditodong, disampingnya ada serpihan kaca vas yang berserakan.

"Lire?!" Sang kakek menurunkan senjatanya, begitu juga dengan yang lain.

"Tolong bantu aku mengingatnya." Ia menatap mereka penuh dengan kemauan.

"Jika kau menguping sedaritadi, kau pasti sudah tahu kau ini apa dan seperti apa rasanya mengingat memori itu." Ia mengangguk.

"Tidak apa-apa. Sebagai keinginan terakhirku, biarkan aku memberi harapan bagi dunia ini. Aku akan mengingat siapa pelakunya."

.

Author : Aye! Part 2 selesai.. ayo re:review~

Lass : Untuk Kuro Rei-chan.. Kau mencariku? Nanti ya di Case 8.. :)

Elesis : Untuk Usuna.. Nanti pasti diupdet koq.. :D

Sieghart : Untuk Satsuki Kobayakawa.. KAU KAN! Siapa ya? #gubragh

Rufus : Hoo, jadi q demon favorit nih.. *smirk* ..Prolognya memang ambil dari DGm, itu kenapa dinamai fict adaptasi Kau bisa lihat referensi cerita tiap chapter lewat disclaimer.

Arme : Huee.. punyaku gak dilanjut-lanjutin mulu.. TAT

Author : *pasang headphone sambil main Elsword*

Zero : . . . . . Next Eps : Clueless Soul [part 3]