Disclaimer
Grand Chase, All related logo and characters are trademark of KOG studio.
Refference : Supernatural series
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 5 : Clueless Soul [part 3]
.
"Jadi.. kita akan menemui siapapun itu yang mengendalikan ruang dan waktu?" Tanya Rufus selagi berjalan bersama rombongan yang dipimpin oleh sang reaper, Dio.
"Ya, dialah yang memiliki rekaman kejadian di alam yang hidup. Dan aku yakin dia juga memiliki rekaman di waktu itu."
Mereka berjalan di sebuah tempat yang gelap. Tanah yang mereka pijak berwarna merah bata. Langit diatas berwarna hitam tak berbintang dengan awan berwarna merah darah. Inilah Elyos, dunia tempat para reaper tinggal. Dio memimpin rombongan melewati kota menuju sebuah istana megah dari batuan hitam yang dijaga oleh mahluk holografik di setiap sisi.
Sementara itu di dunia kehidupan, Elsword sedang membantu mencuci piring bersama Elesis yang masih menggerutu karena menjadi satu-satunya yang tidak boleh ikut ke Elyos. Elsword yang tadi mendengar semua cerita dari ruang sebelah yang juga adalah kamarnya berusaha menenangkan Elesis.
"Sudahlah. Mereka tak mengizinkanmu ikut kan untuk keselamatanmu juga."
"Tidak ramah terhadap mahluk yang hidup apanya? Pak tua dan detektif itu saja boleh ikut." Rutuknya sebal.
"Kakek kan sudah pernah meninggal sebelumnya.. meski aku sendiri masih heran bagaimana dia hidup lagi. Kalau kakak detektif.. mungkin saja dia juga sama dengan kakek." Elesis nyaris menjatuhkan piring yang sedang dicucinya.
"Hah?"
"Tidakkah kau ingat kata paman bertanduk itu 'Seratus tahun setelah menitipkan Judgement'? Bukankah itu berarti ia berumur lebih dari seratus tahun?" Elesis terdiam mendengar kesimpulan yang dibuat adiknya ini masuk akal dan lagi, kenapa ia tak menyadarinya sejak awal? Ia juga kembali teringat akan jawaban sang detektif saat acara berkemah bersama beberapa hari yang lalu.
'219 tahun.
'Bercanda, umurku masih 20 tahun.'
Apakah itu sebuah kebetulan? Atau memang benar adanya bahwa dia bukanlah manusia biasa seperti Sieghart?
.
Pasukan holografik penjaga istana menyilangkan tombak di depan pintu masuk ketika mereka hendak masuk. Dio menyatakan tujuan mereka datang lalu mereka mengantarkan rombongan menuju ruangan singasana dimana duduklah seorang asmodian berambut hitam keunguan, bermata emas, stigmata di dahi, mengenakan celana pendek dan rompi tak berlengan duduk menyilangkan kaki sambil bermain dengan kubus yang melayang-layang di tangannya.
"Wah, lihat siapa yang datang. Burning Canyon dan serombongan mahluk dari dimensi lain." Ia beranjak dari kursinya lalu melayang mengitari mereka.
"Aku benci mengatakan ini, tapi kami butuh bantuanmu, Veigas." Ujar Dio dingin. Asmodian itu menatapnya seperti anak kecil yang meminta permen pada orang tuanya namun berbanding terbalik dengan senyuman licik yang tersungging di bibirnya.
"Haruskah aku memenuhi permintaanmu?"
"Jika kau ingin senjata terkutuk yang dicuri itu kembali, sebaiknya kau bekerja sama." Raut wajah sang reaper tak berubah seolah ia tak peduli akan kedua hal yang menjadi tanggung jawabnya.
"Kumohon. Aku harus tahu siapa pelakunya." Veigas menatap roh gadis berambut pirang yang menatapnya penuh harapan. Ia melayang mundur lalu duduk menyilangkan kaki di udara.
"Hm.. Baiklah kalau kau bersikeras, tapi kuperingatkan padamu nona kau tidak akan suka dengan apa yang kau lihat nanti." Ia melayang menuju pintu.
Mengerti maksud dari kata-kata Veigas barusan mereka pun bersama-sama mengikutinya melewati koridor lalu memasuki ruangan besar menjulang ke langit seperti perpustakaan besar. Ruangan itu berisikan rak-rak raksasa dengan miliaran kotak rekaman video berjajar rapi didalamnya. Terlihat adanya aktifitas bertukar tempat dengan sendirinya, melayang diantara rak yang satu dengan yang lain. Dio dan Zero terlihat tak tertarik, Rufus terlihat tak peduli, hanya Sieghart dan Lire yang takjub akan aktifitas tak biasa itu. Veigas melayang ke depan salah satu rak kemudian mengarahkan telunjuknya ke atas, beberapa kotak video keluar dengan sendirinya dari rak lalu melayang ke tangan sang asmodian.
"Lire Eryuell.. nah ini dia."
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya gadis itu.
"Mataku dapat melihat identitas siapapun yang kulihat." Ia menyeringai sembari mengembalikan kotak rekaman yang lain ke tempatnya. Dibukanya kotak itu menampakkan jajaran orb seukuran kelereng berwarna hijau neon dengan angka-angka dibawahnya. Veigas mengambil orb yang memiliki angka yang tertua dari yang lain kemudian memasukkannya ke dalam kubus yang dibawanya sedaritadi. Tak lama kemudian layar proyeksi muncul diatas kubus tersebut memutar sebuah video yang menampakkan seorang gadis berambut karamel di sisi lain meja sebuah kafe tersenyum ke kamera.
"Tunggu dulu, itu kan bukan..." Sieghart tak menyelesaikan kata-katanya ketika Dio mengisyaratkannya untuk diam.
"Myrielle.." Gumam Lire saat memandang gadis dalam video. Air mata lolos dari sudut matanya.
.
"Kau mau kan?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, sebaiknya kita bersiap-siap."
Gadis yang tersorot kamera tersebut berdiri, kemudian beranjak pergi diikuti oleh kamera di mereka sampai di halte kamera bergerak memasuki bus, kemudian berbalik pada gadis tadi sebelum kemudian bus bergerak meninggalkan halte.
Sejauh ini mereka mengetahui satu hal, bahwa mereka sedang menonton dari sudut pandang Lire. Dalam video ini penontonlah yang berperan sebagai Lire.
Sejauh ini semua baik-baik saja. Pesta, dansa, jamuan, canda tawa. Sepulang dari pesta itulah semuanya terjadi. Karena hari sudah larut dan ia tak mau membuat kakaknya khawatir, Lire mengambil jalan pintas melalui jalan gelap di tepi hutan Eden. Tiba-tiba saja sesuatu tertabrak sisi samping mobil yang dikemudikannya. Tak berpikir panjang lagi ia keluar untuk menolong yang ditabraknya, namun ia tak dapat menemukan sosok siapapun itu. Sedetik kemudian kamera menyorot ke tanah dimana sebuah pedang menusuk keluar dari tubuhnya, darah bercucuran menodai bumi, lalu video terpotong sampai di situ.
.
"Pelakunya sama sekali tak terekam." Komentar Zero ketika Veigas mengembalikan orb kembali ke tempatnya.
"Video yang kumiliki hanya sebatas ketika orang itu hidup hingga mati. Selebihnya itu bukan urusanku lagi." Jawab sang asmodian kemudian mentelekinesis kembali kotak rekaman ke lokasinya semula.
"Ada yang dapat kau ingat?" Tanya Rufus pada Lire yang masih terpaku dengan mata terbuka lebar.
Pikirannya masih memproses segumpalan data yang diinput ke dalam memorinya barusan. Perlahan ia mendapatkan kilasan memori kejadian sebelum dan sesudah apa yang dilihatnya dari dalam video. Kepingan-kepingan puzzle pun terangkai kembali menjadi satu memori utuh yang tayang didalam pikirannya seolah semuanya kembali terulang secara nyata. Setiap tusukan yang menyengat di sekujur tubuhnya meskipun ia sudah tak lagi dalam tubuh duniawi yang dapat merasakan sakit.
"Hentikan..." Rintihnya sambil memeluk dirinya sendiri.
"Ah.. sepertinya ingatannya sudah kembali.. dalam jumlah besar." Komentar Veigas menonton dengan santai. Dio hanya melihat tanpa ekspresi.
Darah.. Darah dimana-mana.. Ditubuhnya, ditangannya.. di tubuh, tangan dan pedang seorang di depan sana. Dia memakai pakaian berwarna biru. Rambutnya entah itu memang merah atau putih yang ternoda dengan darah. Sekilas ia melihat pantulan azure yang kusam dari matanya. Tak sanggup lagi menerima ia pun jatuh pingsan. Rufus yang berada paling dekat sigap menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
"Menerima semuanya sekaligus, pasti otaknya meluap sekarang." Kekeh Veigas masih dalam posisinya duduk di udara.
"Dia tidak akan sadar untuk beberapa hari setelah itu semuanya akan kembali seperti sediakala." Lanjutnya.
Karena urusan mereka sudah selesai maka mereka pun berpamitan untuk kembali ke dunia yang hidup. Tak lupa Veigas berpesan agar Dio menepati janjinya untuk mendapatkan kembali Infernal yang dicuri itu.
.
Elesis dan Elsword terbangun ketika hawa dingin tiba-tiba menyapu kulit mereka. Benar saja sebuah portal dimensi terbuka dan teman-teman mereka keluar dari dalamnya. Lire yang masih tak sadarkan diri dalam gendongan sang kakek diturunkannya ke atas kasur terdekat. Sebelum Elesis menghujani mereka dengan pertanyaan, Sieghart sudah lebih dulu menjelaskan panjang lebar.
Dua hari berlalu sejak malam itu dan Lire masih belum sadar juga. Rufus berinisiatif membawa suster Lime untuk membantu dengan doa dan berkatnya.. tentu saja setelah dirinya dan Dio keluar lebih dahulu. Satu jam setelah didoakan gadis itu pun terbangun, menopang kepalanya yang pusing sambil berusaha duduk. Dilihatnya Elesis tertidur dengan bersandar di tepi ranjangnya. Perlahan ia mengusap kepalanya dan membuatnya terbangun.
"Uh..? Lire.. LIRE?!" Teriaknya histeris sambil memeluk roh dihadapannya.
"Ouf.. Hai Elesis.."
Tak lama kemudian yang lain datang karena mendengar jeritan Elesis yang terdengar hingga keluar rumah. Terlihat Lire tersenyum ceria dan bahagia tak seperti saat mereka pertama bertemu dengannya. Melihat teman-temannya datang, ia berdiri kemudian mengucapkan terimakasih karena mereka sudah membantunya mendapatkan kembali ingatannya. Sekarang saatnya ia membalas kebaikan mereka dengan memberitahu siapa yang telah membunuhnya.
"Dia tinggi, matanya biru laut kusam, dia membawa semacam pedang, pakaiannya didominasi oleh warna biru, rambutnya.. aku tidak terlalu yakin apakah itu merah atau putih tapi.. dari postur tubuhnya sepertinya dia laki-laki." Deskripsinya sejelas mungkin.
"Bagaimana dengan wajahnya?" Tanya Rufus. Lire menggelengkan kepala.
"Aku melihatnya ketika ia membelakangiku. Kebetulan saat itu ia sempat melirik ke belakang sebelum pergi sehingga aku dapat melihat warna iris matanya."
"Setidaknya kita tahu kalau dialah yang kita cari. Lebih baik daripada tidak mendapat satupun petunjuk." Komentar Zero datar.
Karena semua sudah jelas, tidak ada lagi tanggungan yang tertinggal di dunia ini, maka suster Lime siap untuk memberikan ritual pengantar. Namun Lire menolak dengan alasan ia ingin bertemu dengan keluarganya untuk yang terakhir kali. Mereka pun bersama-sama mendatangi sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Seorang pria paruh baya membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Lire Eryuell ya.. Seingatku dia adalah adik dari kakekku yang meninggal di usia 19 tahun. Kakek Ladmir sering sekali menceritakan tentang beliau saat saya masih kecil." Ceritanya sambil tertawa kecil.
"Lalu kalian ini kenapa menanyakan tentang dirinya?" Tanyanya kemudian.
"Kau tak akan percaya jika kami bilang kalau kami kesini mengantarkannya, Lire, kemari untuk menjenguk keluarganya yang sekarang." Kata Sieghart meyakinkan. Pria itu tersenyum.
"Saya percaya koq. Keluarga kami memang memiliki ikatan spiritual yang kuat. Sekarang pun saya bisa merasakan kehadiran salah satu anggota keluarga diantara kita."
"Jadi ini.. cucu dari kakakku." Gumam Lire
"Sayang.. siapa yang datang itu?" Seorang wanita dengan perut buncit, sepertinya tengah hamil 5 sampai 7 bulan menghampiri dari ruangan lain.
"Mereka hanya menanyakan alamat koq sayang. Seharusnya kau tak perlu keluar dari kamar, ingat kata dokter kan?" Wanita itu tersenyum pada para tamu kemudian diantarkan kembali ke dalam kamar oleh mereka berpamitan dan meminta maaf karena mengganggu datang larut malam, mereka pun keluar dari kediaman Eryuell.
"Kau sudah siap?"
"Hatiku sudah tenang, sudah saatnya aku berpulang. Terima kasih semuanya."
Dio yang mendengar ini pun ikut beranjak dari tempatnya bersandar di dinding. Ia menggandeng tangan gadis itu, mengepakkan sayap lebarnya dan membawa mereka terbang jauh ke langit.
'Kakak.. tunggu aku ya..'
.
Rufus mengadahkan tangannya, serpihan cahaya berkumpul ditangannya membentuk sebuah bola api biru. Ia menatap kedalam bara api tersebut, terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Kau merindukannya?" Suara sang suster mengagetkannya untuk sekian kalinya.
"Hnn..mungkin." Jawabnya sambil mengepalkan tangannya yang berisikan api biru tadi hingga padam. Dipandangnya ke arah lain, Elesis berusaha menahan tangis sementara Sieghart menepuk kepala gadis itu agar ia berhenti berpura-pura tangguh menahan emosinya.
"Semoga arwahnya diterima di negeri atas." Lime membuat tanda salib.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam rumah. Tanpa basa-basi lagi mereka mendobrak pintu masuk untuk mendapati kedua pemilik rumah terkapar bersimbah darah dengan pedang yang masih tertancap di perut si wanita, dan seorang yang memegang pedang itu sama persis dengan ciri-ciri yang disebutkan Lire sebelumnya. Tinggi berambut putih, mata biru kusam, pakaian biru dan bercak darah disekujur tubuhnya. Tatapannya yang kosong membuat Rufus teringat kembali akan hari itu, undead yang dibangkitkan dengan cara tabu itu.
"Siapa kau?" Spontan kedua kata itu lolos dari mulut sang detektif.
"Ini peringatan bagi kalian yang berusaha menghalangi rencana master. Camkan itu baik-baik." Pemuda berambut putih semu lavender panjang itu mencabut pedangnya lalu melarikan diri.
"Tunggu!" Teriak Rufus dan Sieghart nyaris bersamaan kemudian mengejar pemuda undead tadi, namun mereka kehilangan jejak setelah keluar melalui pintu belakang.
"Sial! Kita kehilangannya." Rutuk sang kakek.
'Kemanapun kau pergi, aku pasti akan menemukanmu dan merebut kembali jiwa yang kau ambil dariku.'
.
Ru : Case 5 closed.. Re:reviewnya please..
Lire : Untuk Kuro Rei-chan.. Eto.. aku kan memang dari awal berperan sebagai yang sudah mati. :/
Dio : Untuk Eureka-Cross.. Sengaja atau tidak memang aku peduli? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya.
Zero : Mungkin ini tak terlalu mencolok tapi mereka yang pernah berinteraksi dengan roh cukup lama dapat merasakan perbedaan aura antara manusia dan mahluk lain atau bahkan roh lain, hal ini terlihat dari pertama di Wandering Soul, Attached Soul dan Animal Soul.
Veigas : Dan hei.. aku di sini.. tapi sayang tebakanmu meleset, yang muncul hanya aku dan Adel Frost bukan Edel.
Sieghart : Untuk Satsuki Kobayakaya.. Ouch, untuk apa kau memukulku? ==
Rufus : Aku tidak bisa bernafas..
Dio : Jangan salahkan aku, salahkan yang buat cerita tuh.. DX
Lass : Oh ini? *tunjuk tangan yang bergaris coklat* aku lupa pakai sunblock waktu diajak Arme ke pantai.-_-
Adel : Next chapter : Empty Soul [part 1]
