"Pergi kau boneka setan!"

Seorang remaja berteriak ditengah derasnya hujan lalu melempar boneka cantik seukuran bayi ke kotak sampah kemudian berlari pulang. Derap langkahnya disertai desiran air dan detak jantung tak karuan membuat suasana menjadi tegang. Akhirnya ia sampai di rumah dan mengunci pintu, teman satu kosnya mengintip dari balik pintu kamarnya.

"Sepertinya kita berhasil." Ujar pemuda yang masih terengah-engah mencari oksigen setelah berlari beberapa blok dari kosnya.

"Kuharap begitu." Tambah pemuda yang satu lagi sambil menghela nafas.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu yang basah karena disandari oleh pemuda yang memakai jas hujan tadi. Pintu depan.. Tamukah? Selarut ini? Pemuda itu membuka pintu untuk mendapati tidak ada siapapun dibaliknya, namun ketika ia menengok ke bawah ada secarik kertas yang bertuliskan 'merindukanku?' menggunakan crayon warna merah. Sekali lagi terdengar ketukan di pintu, kali ini berasal dari pintu ruang kebersihan. Pemuda yang ada di belakangnya perlahan menyentuh gagang pintu dan membukanya, terkisap akan keberadaan boneka berparas cantik, berambut pink yang diikat twintail, bermata manik karamel dan senyuman yang bagi mereka menakutkan.

..You can run, but you can't hide..

.

Disclaimer
Grand Chase, All related logo and characters are trademark of KOG studio.
Refference : The Conjuring

.

-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 6 : Empty Soul [part 1]

.

Bel pulang sekolah berbunyi, Elesis dengan gembiranya berlari meninggalkan ruangan kelas. Di pekarangan terlihat Elsword sudah menunggu dengan muka masam karena kakak tercintanya terlambat lagi. Elesis meminta maaf sambil tertawa kecil, Elsword pun menghela nafas. Tiga bulan telah berlalu sejak kejadian di kediaman Eryuell yang sempat membuat Elesis shock hingga enggan makan 4 hari lamanya.

"Eh.. bokutou kakak dimana?" Tanya Elsword setelah mereka sudah berjalan setengah perjalanan menuju rumah. Alarm di kepala sang kakak langsung berdering mendengar kata bokutou, ia ingat dengan sangat jelas kalau ia meletakkannya di belakang kelas dan tidak mengambilnya sewaktu pulang. Ia pun memutuskan untuk kembali mengambilnya sementara sang adik disuruhnya pulang lebih dahulu. Sesampainya di depan kelas ia melihat masih ada seorang murid di dalam. Ia mengenalnya, lelaki dengan rambut merah itu. Tanpa ragu ia menggeser pintu kelas lalu berteriak.

"Yo, Jin! Kau belum pulang?" Lelaki itu terlonjak kaget, kemudian tersenyum ramah ketika melihat sobatnya dari klub kendo yang telah menyapanya.

"Yo, Elesis! Aku masih mengerjakan tugas, deadline nih. Kau sendiri tidak pulang?" Tanyanya balik selagi menutup buku yang tadi ditulisinya.

"Tadinya sih sudah pulang, tapi karena bokutou'ku tertinggal jadi.." Jin tertawa, Elesis mencibir.

"Kau ini pelupa sekali."

"Berisik, uh." Jin mulai mengemasi buku-bukunya lalu mendekati Elesis.

"Ayo kuantar pulang." Elesis langsung berbalik membelakanginya.

"Aku bisa pulang sendiri."

"Hari sudah mulai gelap, gak baik kalau cowo membiarkan cewe pulang sendirian kan?" Di telinga Elesis kata-kata itu tak jauh berbeda dengan apa yang biasa dikatakan oleh Ronan dulu.
'Sebagai laki-laki sejati aku harus mengantarkanmu pulang dengan selamat.'

"Bagaimana dengan tugasmu?"

"Aku bisa menyelesaikannya di rumah."

"Ya sudahlah." Akhirnya ia menerima tawaran lelaki itu.

Mereka berjalan beriringan menyusuri jalanan yang disinari cahaya kuning jingga dari matahari yang mulai terbenam. Lampu jalan juga sudah mulai dinyalakan. Sesampainya di penyeberangan rel kereta Jin tiba-tiba berhenti, Elesis yang menyadarinya pun turut berhenti. Lelaki itu tengah memperhatikan sebuah boneka gadis cilik berambut pink dikuncir twintail yang tengah duduk tak terusik diatas tempat sampah.

"Hei, Elesis coba lihat ini!" Serunya seraya merengkuh boneka itu dari tempatnya.

"Hmph. Tak kusangka kau menyukai boneka." Jin menggelengkan kepala.

"Bukan begitu. Dia mirip dengan artis yang meninggal kecelakaan dua bulan lalu, tidakkah kau menyadarinya?" Elesis memincingkan mata sesaat kemudian menggelengkan kepala.

"Aku tidak terlalu mengikuti berita soal artis-artis." Jin menentengnya dengan satu tangan lalu kembali berjalan menemani Elesis pulang.

"Mau kau apakan boneka itu?" Tanya Elesis penasaran.

"Kau ingat, dulu aku pernah cerita soal teman masa kecilku yang kucari-cari sampai sekarang dan aku juga sempat mengira artis itulah orangnya?" Elesis mengangguk.

"Aku akan menyimpannya sebagai pengingat agar aku tidak lupa untuk terus mencari." Jin mengepalkan tangannya dengan mata berkobar api semangat.

Mereka tiba di sebuah perempatan jalan, Elesis berbelok ke kiri sementara Jin masih beberapa blok di depan. Mereka pun berpisah setelah mengucapkan salam perpisahan untuk hari ini. Entah kenapa Elesis merasakan sesuatu yang mengganjal sejak mereka berjalan bersama dengan boneka itu. Berharap itu bukanlah suatu hal yang serius, ia pun berlari pulang.

.

"Pagi!" Seru Jin penuh semangat di depan pintu kelas.

Beberapa murid menyapanya selamat pagi saat ia berjalan melewati mereka menuju tempat duduk Elesis di ujung belakang. Terlihat gadis itu terlelap dengan wajah beradu meja dan buku yang mulai basah dibawahnya.

"Elesis, ini kan masih pagi masa sudah loyo begitu?" Ledeknya selagi mencubit pipi gadis itu hingga terbangun. Ia menguap lalu mengucek matanya.

"Oh, ternyata kau Jin. Ada apa?" Tanyanya cuek.

"Boneka yang kemarin itu canggih sekali. Bisa bergerak dan merespon pertanyaan, bahkan bisa diajak bermain. Aku heran kenapa pemilik lama membuangnya." Elesis kembali menguap.

"Boneka itu mungkin bukanlah sembarang boneka. Sebaiknya kau berhati-hati." Ujarnya tanpa sadar mengutarakan isi pikiran.

"Apa kau bilang?"

"Huh? Memang aku bilang apa?" Mereka saling memandang dengan tatapan yang sama bingungnya. Ketika itu guru mata pelajaran pertama datang, seluruh murid pun segera berhamburan menuju kursi masing-masing.

.

Sesuai dugaan, keadaan Jin semakin lesu seakan tidak mendapat cukup istirahat. Kantung mata dan wajah kusut menggambarkan semuanya dengan sangat jelas. Boneka itu mengambil waktunya semakin banyak setiap harinya, entah dengan mengajaknya bermain, mengobrol, mengganggu dengan suara-suara pada malam hari bahkan pernah sekali boneka itu marah dan menghancurkan seisi kamarnya karena menolak diajak bermain.

"Kalau begitu buang saja boneka itu!" Suruh salah satu teman seperguruannya.

"Aku sudah mencobanya, tapi dia terus kembali dan merusak beberapa barang dikamarku sebagai balasan karena telah membuangnya." Gumamnya. Ia meringkuk di sudut ruangan untuk beristirahat sejenak. Teman-temannya khawatir akan kondisinya yang tidak sehat dan prestasinya yang menurun.

"Kalau kau tak bisa membuangnya, kita usir roh yang menghantuinya." Semua mata tertuju pada Elesis yang berdiri sambil mengayun-ayunkan bokutounya di samping pintu masuk ruang klub aikido.

"Memang benar boneka itu mungkin dihantui, tapi bagaimana caranya mengusir roh didalamnya?" Tanya salah satu dari mereka. Elesis tersenyum.

"Aku tahu seseorang yang dapat memberi solusi untuk masalah ini."

.

Mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang terlihat tak berpenghuni. Jin menatap Elesis dengan tatapan -kau-yakin-ini-tempatnya?- namun Elesis tak menghiraukan dan segera mengetuk pintu. Tak mendapat jawaban dari pemilik rumah ia pun membuka pintu depan yang ternyata tak terkunci.

"Hei, kurasa siapapun itu sedang tidak ada di rumah." Bisik Jin pada gadis disampingnya.

"Justru dia jarang keluar rumah makanya aku berani masuk." Jawab Elesis lalu membuka pintu satu per satu.

"Oi! Kau dirumah kan?!" Panggilnya.

"Coba lihat itu." Bisik Jin menunjuk pada sebuah pintu yang terbuka sedikit, cahaya biru menyeruak dari celah yang terbentuk. Mereka mendekat untuk mencari tahu apa yang ada dibalik pintu tersebut. Mengintip ke dalamnya mereka disambut oleh puluhan lilin yang berjajar rapi hingga menjulang ke langit-langit. Api biru bertengger di sumbu setiap lilin kecuali dua yang berada di ujung paling atas. Tiba-tiba pintu tertutup keras membuat keduanya terkejut sekaligus panik karena sekarang berhadapan dengan pemuda yang menatap mereka tajam dengan mata merahnya.

"Sepertinya ada yang perlu diajari tata krama disini." Seringainya memamerkan gigi taring yang cukup runcing untuk ukuran manusia. Jin mulai berkeringat dingin, jemarinya menarik lengan baju Elesis bermaksud mengajaknya pergi. Gadis itu tak bergeming sedikitpun, justru ia mendorong sang martial artist mendekat selangkah pada pemuda dihadapan mereka.

"Dia punya kasus untukmu."

.

Masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, Jin sekarang duduk di sofa ruang tamu dengan Elesis disampingnya. Pemuda yang sempat dianggapnya menyeramkan ternyata tidak seburuk perkiraannya, bahkan menyuguhkan secangkir teh hangat meskipun ia bilang tidak mau.

"Kasus apa yang akan kita bicarakan?" Tanyanya langsung pada kedua remaja dihadapannya.

"Pertama-tama aku ingin mengenalkanmu pada sahabatku, Jin." Elesis menunjuk Jin.

"Jin, kenalkan.. Rufus Wilde, dia ahlinya dalam urusan aktifitas paranormal." Elesis balik menunjuk pemuda itu.

"Salam kenal." Jin mengangguk.

"Sama denganmu." Jawab Rufus datar.

"Nah, sekarang ceritakan semua pengalaman yang kau alami mengenai boneka itu." Suruh Elesis sambil menyeruput tehnya.

.

..flashback.. the day when he pick up the doll..

"Aku pulang!"

"Darimana saja kau? Jam segini baru pulang." Jin menggaruk kepala.

"Maaf bu, aku mengerjakan tugas dan mengantarkan Elesis dulu." Jawabnya sejujurnya. Wanita itu tersenyum.

"Lain kali kalau pulang malam bilang ya, ibu khawatir tahu." Lelaki itu mengangguk lalu berlari ke kamarnya untuk mandi.

Selagi mengguyur diri dalam derasnya suara shower sayup-sayup ia mendengar lantunan lagu dari luar. Ia mengenal lagu ini, lagu yang sempat populer dinyanyikan oleh artis itu. Tapi darimana? Ia tak menghidupkan radio atau televisi. Ia juga tidak menggunakan lagu itu sebagai nada dering panggilan teleponnya. Segera ia mengenakan pakaiannya lalu membuka pintu kamar mandi. Televisi dan radio sama sekali tak menyala tapi lagu itu masih terdengar, kali ini lebih jelas. Ia mengikuti arah suara tersebut berasal, semakin dekat dan jelas lantunan lirik lagunya hingga ia berhenti tepat didepan wajah boneka yang diletakkannya di atas kursi.

'Lagu itu berasal dari boneka ini.' Batinnya seraya mengangkat boneka itu dari tempatnya. Tiba-tiba saja lagu berhenti melantun. Jin mengira baterai boneka itu habis, namun kali ini boneka tersebut justru bertanya.

"Hai, Namaku Amy.. maukah kau menjadi temanku?" Ujar boneka tersebut.

"Namaku Jin, tentu aku mau jadi temanmu." Jawabnya dengan senyuman. Setelah itu mereka mengobrol, bercanda dan tertawa bersama seakan sedang melakukan aktifitas layaknya dua orang sahabat.

"Kita akan jadi teman selamanya kan?" Tanya boneka itu lagi.

"Tentu."

.

Sejak itu ia menganggapnya sebagai boneka cerdas, atau dengan kata lain sebuah robot intelegen yang dapat berkomunikasi secara nyata. Mereka bermain bersama selama setiap hari. Semakin hari boneka tersebut semakin tidak bisa diajak kompromi. Ia mengganggunya saat belajar dan tidur. Memintanya untuk terus bermain menemaninya. Tak berapa lama kemudian ia sadar bahwa ada satu hal janggal yang selama ini tidak disadarinya. Ia tak mernah mengisi ulang atau mengganti baterai boneka itu dengan yang baru. Suatu malam ia tak mendengar ocehan sang boneka ketika ia pulang. Mengira baterai sudah habis ia pun mencari kotak tempat memasang baterai pada boneka tersebut. Tak berapa lama kemudian ia menemukannya di punggung boneka lalu membukanya. Kosong. Tidak ada sekeping baterai pun didalamnya, lalu bagaimana boneka itu bisa..

"Terkejut, eh? Jinny~" Kata boneka itu sambil menengokkan wajahnya untuk menatap pemiliknya.

"Bagaimana kau bisa hidup tanpa baterai?" Tanyanya masih shock. Seandainya boneka tersebut bisa berekspresi mungkin ia sudah menunjukkan seringainya sekarang.

"Karena.. aku adalah boneka yang hidup dengan jiwa." Jin menatapnya horor.

"Dan kau sudah berjanji untuk berteman denganku selamanya, jadi aku tidak akan pergi dari sisimu untuk selamanya. Bukankah itu bagus, Jinny~?"

.. flashback end..

.

"Aku sudah mencoba untuk membuangnya, tapi ia terus kembali seperti bumerang. Merusak beberapa barang di kamarku bahkan pernah sekali melukaiku dengan menancapkan stapler ke jari tanganku. Katanya sebagai balasan karena aku berani membuangnya." Jelasnya panjang lebar.

"Dari awal aku melihat boneka itu aku sudah merasakan aura yang tidak menyenangkan darinya. Betapa bodohnya aku tak mempercayai perasaanku saat itu." Tambah Elesis sambil meremas rok sekolahnya.

"Itu bukan salahmu." Jin menepuk punggung gadis disampingnya untuk menenangkan.

Rufus yang sedaritadi mendengarkan dengan seksama tanpa komenter sedikitpun mencapai satu kesimpulan : Jiwa yang telah jatuh dalam kegelapan.

"Jadi bisakah kau menghentikan perilaku buruknya?" Tanya Jin.

"Tidak bisa." Jawab sang detektif singkat.

"Kalau begitu, bagaimana kalau mengusir roh yang merasukinya?" Kali ini Elesis yang bertanya.

"Boneka itu hanya media komunikasinya, kita dapat menggunakannya juga sebagai perantara untuk exorsisme. Walaupun begitu aku tak menganjurkannya." Jawabnya lagi dengan datar. Melihat wajah keduanya yang menginginkan penjelasan lebih lanjut ia pun menambahkan.

"Exorsisme dilakukan terhadap roh yang mengganggu kehidupan dan 80% kemungkinan membuatnya marah. Jika roh tersebut lepas kendali dapat membahayakan mahluk hidup apapun yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu lebih baik kita mencari tahu apa yang membebaninya sehingga terjebak di dunia hidup dan membantunya untuk menyelesaikannya, sama seperti kasus Ronan dan Lire." Jelasnya lebih detail.

"Dengan perilakunya yang seperti itu, ini pasti akan sulit." Elesis memijit keningnya yang berdenyut karena terlalu keras berpikir.

"Tepat sekali. Dalam hal itu temanmu adalah juru kuncinya. Tanyakan identitasnya selengkap mungkin tapi jangan sampai ia menyadari kalau kita sedang mengincarnya." Jin mengangguk.

Mereka beranjak pulang setelah mengucapkan terima kasih. Rufus menatap kepergian mereka dari depan pintu. Matahari senja menyinari figurnya.

"Sepertinya dia sudah pulih." Ujar roh pengelana yang entah sejak kapan bersandar di dinding di sampingnya.

"Ya."

"Dan sepertinya kau tak akan terlalu memerlukan ini." Roh pengelana tersebut menyodorkan map hitam padanya, tak seperti biasanya yang berwarna putih.

'Kasus baru, eh?' Ia membuka dan membaca isinya. Sebuah foto gadis berambut pink panjang dan bermata hazel-caramel disertai profile singkat.

Amy Aruha, 14 tahun, 2 Desember xxxx – 13 November xxxx
Penyebab meninggal : Kecelakaan lalu lintas

.

Author : Case 6 dimulai..

Elesis : Juga... Keikutsertaan Jin dan kepala labu dalam kasus perdananya..

Amy : Hei! DX

Jin : Osu! Saatnya re:review.. :)

Sighart : Aku gak dapat peran.. *sigh* ..Untuk Satsuki Kobayakawa.. Iya iya.. aku ingat koq.. :I

Rufus : *sweatdrop* aku gak imut.. ==u

Dio : Berhenti menertawakanku! DX

Lass : Hmm.. beberapa hari yang lalu, kata Arme jangan ajak siapa-siapa jadi gak ada yang ku ajak. *datarface*

Adel : Untuk Eureca-Cross.. Bisa apa ya? Aku bisa buka dimensi ke Elyos.

Lass : Case 8.. Kita lihat saja nanti. *smirk*

Zero : Next Eps : Empty Soul [part 2]