Disclaimer
Grand Chase, All related logo and characters are trademark of KOG studio.
Refference : The Conjuring
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 6 : Empty Soul [part 2]
.
"Kau pulang Jinny~" Sambut sang boneka dari sudut jendela.
"Aku pulang." Balasnya dengan senyuman. Senyuman palsu yang akan digunakannya untuk mengais informasi pada boneka ini nantinya.
Setelah makan malam ia kembali ke kamarnya untuk belajar. Amy lagi-lagi menggangunya dengan bertanya banyak hal berturut-turut. Jin ingin sekali membungkamnya tapi demi lancarnya misi ia berusaha menahan diri.
"Amy.. Aku sedang belajar. Tunggu aku selesai dulu, nanti aku akan bermain denganmu, ok?" Ia memperkirakan kalau boneka itu akan marah, namun reaksinya benar-benar diluar dugaan. Dilihatnya Amy melayang lalu duduk di tepi kasurnya tanpa sepatah katapun. Tiga jam kemudian Jin menutup dan membereskan buku-bukunya untuk dibawa besok.
"Kau sudah selesai, Jinny?" Tanya Amy setelah selama tiga jam membisu. Jin menganggukkan kepala kemudian duduk disampingnya.
"Karena kau berkelakuan baik hari ini, aku akan memberimu hadiah."
"Benarkah?!" Jin membuka laci meja dan mengambil sepasang karet rambut dengan bunga putih kecil sebagai hiasannya. Ia juga memakaikannya untuk mengganti ikat rambut Amy yang sudah usang.
"Nah, kalau begini kan cantik." 'eh?' Tanpa sadar ia berkata demikian. Ia tak tahu juga kenapa kata-kata itu keluar dari mulutnya. Beberapa detik berlalu dengan kesunyian yang canggung, Jin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Err.. Amy?"
"Ya?"
"Aku kan sudah pernah menceritakan tentang diriku padamu, sekarang ceritakan padaku tentang dirimu. Kau mau kan?" Pintanya sebisa mungkin menahan gugup.
"Namaku Amy Aruha, aku yakin kau mengenal nama itu kan?" Jin mengangguk.
"Sejak kecil aku dilatih untuk menjadi aktris profesional. Akting, menari, menyanyi itulah makananku sehari-hari. Di sekolah pun nilai akademikku sangat parah, hanya kesenian saja yang mendongkrak jenjang kelasku. Aku tidak pernah punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebaya karena banyaknya les yang harus kuhadiri, namun ada seorang murid transfer mendatangi mejaku sepulang sekolah hanya untuk mengajakku bermain keluar. Awalnya aku menolak tapi akhirnya aku menyerah. Hari itu, untuk pertama kalinya aku merasa bebas seperti anak-anak pada umumnya." Ia menunduk.
"Hari itu juga, untuk pertama kalinya aku membolos les seusai sekolah. Sepulangnya bermain aku langsung dimarahi habis-habisan, dan tepat dua hari kemudian aku terpaksa pidah kota. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku terus tumbuh dengan talenta yang terukir padaku hingga menjadi artis hebat yang memiliki jutaan idola."
'Sekarang saatnya!' Batin Jin memulai rencana.
"Boleh aku tahu kantor agensimu?" Amy memutar kepalanya menghadap lelaki itu.
"Untuk apa?"
"Aku ingin ikut audisi. Menurutmu apa aku pantas jadi dancer? Gerakanku lumayan lincah lho." Jawabnya mencari alasan. Sang boneka terkekeh.
"Mungkin~"
"Yosh! Kalau begitu aku kesana besok!" Jin mengayunkan tinjunya ke atas penuh semangat.
"Tapi kuperingatkan padamu sebelumnya. Jadi artis itu tidak menyenangkan."
.
Keesokan harinya sepulang sekolah Jin dan Elesis keluar gedung sekolah bersama Elsword yang mengunyah sepotong sandwich. Di depan pintu gerbang bersandar seorang yang mengenakan coat merah marun. Rambut cokelat ikal itu.. tidak lain adalah detektif seram kemarin.
"Kalian lama sekali." Ujarnya beberapa meter sebelum mereka sampai di gerbang. Jin mendekatkan mulutnya ke telinga Elesis lalu berbisik.
"Bagaimana dia bisa tahu? Dia kan membelakangi kita." Elesis hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Pemuda itu berbalik menghadap mereka dengan tatapan dan aura yang tak jauh berbeda dari sebelumnya. Tak disangka seorang lagi dengan coat hitam dan beberapa garis hijau lumut muncul dari balik tembok. Tak lupa dengan shade kuning yang terus melekat di wajahnya meskipun cuaca sedang mendung, namun sepertinya ia tak memiliki masalah pengelihatan.
"Kau datang juga Zero?" Elesis menyapa, pemuda itu mengangguk, Elsword acuh-acuh saja, sedangkan Jin benar-benar terlihat seperti orang bingung.
"Kau tak dapat melihatnya, tidak usah panik." Ujar Elsword, kemudian melahap potongan terakhir sandwichnya dan melempar bungkusnya ke tempat sampah terdekat.
"Aku pulang duluan ya." Ia berlalu meninggalkan keempatnya dengan tangan terlipat dibelakang kepala.
Setelah kepergian Elsword, Jin menceritakan informasi yang ia gali dari boneka Amy semalam. Mereka memutuskan untuk mendatangi agensi tempat Amy bekerja di daerah Samsara district. Gedung tinggi mencakar langit bercat biru muda dan putih lengkap dengan baner bertuliskan "Frost Talent Agency" sekarang berada di hadapan mereka. Di dalamnya seorang wanita berambut kuning keemasan menyambut dari balik meja resepsionis.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sopan dan formal.
"Kami ingin bertemu seorang yang pernah menjadi manager Amy Aruha." Kata Rufus sesopan mungkin.
"Apa kalian sudah membuat janji?" Tanya resepsionis itu lagi.
"Belum."
"Kalau begitu maaf, beliau tidak bisa ditemui bila tidak ada janji meeting sebelumnya."
"Tapi.." Jin bersikeras, hampir saja mengebrak meja.
"Sekali lagi maaf." Wanita itu menunduk.
"Ada apa ini, Lita?" Wanita lain baru saja keluar dari lift. Rambut mengombak berwarna putih keunguan dengan mata biru laut dan lipstick pink tipis di bibirnya menghampiri. Sayang mata indah itu hanya sebelah saja, mata kirinya tertutup oleh perban.
"Ah! Nona Edel.. mereka bersikeras ingin bertemu anda tanpa membuat janji terlebih dahulu." Edel memincingkan mata.
"Apa kepentingan kalian datang kemari?"
"Ini soal Amy." Jawab Jin balik menatap tajam. Ekspresi Edel berubah terkejut namun sesaat kemudian terlihat sedih.
"Mari ke ruanganku." Ujarnya berjalan kembali ke lift.
"Eh? Tapi nona kan ada meeting 5 menit lagi." Lita memperingatkan.
"Batalkan." Jawab wanita itu singkat sebelum pintu lift menutup.
.
Mereka duduk di sofa sebuah ruangan yang cukup luas, jendela besar dibelakang meja kerja dan juga dapur kecil. Edel menyuguhkan secangkir es sirup sebelum duduk bersama mereka.
"Aku hanya akan bertanya dua , seberapa dekat hubungan kalian? Kau dan Amy." Tanya Rufus memulai introgasi. Edel menurunkan gelas yang sedang dipakainya.
"Amy.. Aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku sendiri." Ia menatap permukaan air sirup dalam gelasnya. "Sejak ia kabur dari rumah, tak memiliki siapa-siapa lagi sama seperti diriku. Aku pun mengangkatnya sebagai adik." Tambahnya. Elesis menatap gelasnya, larut dalam ingatannya tentang keluarganya yang telah lama pergi. Ia tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang ia kasihi, apalagi sampai dua kali. Ia tak sanggup membayangkan.
"Kalau begitu sebelum ke pertanyaan selanjutnya, kuberitahu satu hal terlebih dahulu." Edel mendongak menatap mata scarlet dengan satu matanya.
"Amy sekarang berada di rumah anak ini." Ujarnya sambil menunjuk Jin. Lelaki yang dimaksud mengangguk. Edel memincingkan mata.
"Jangan bergurau! Amy sudah dikuburkan, aku melihat dan menyentuh sendiri jasadnya. Menghidupkan orang yang sudah mati itu ta.. tidak mungkin." Koreksinya. Meski ia menutupi telinga sang detektif tak semudah itu dikelabuhi. Rufus tahu pasti apa yang akan dikatakan wanita dihadapannya tadi.
"Meski kubilang 'Amy' yang kumaksud bukan tubuh melainkan roh." Lanjut sang detektif. Jin merogoh saku celananya lalu menunjukkan foto dirinya dan boneka Amy yang diambil semalam.
"Ia bersemayam dalam boneka ini."
"Ini!" Edel langsung menyambar foto tersebut.
"Anda tahu sesuatu?" Tanya Jin kemudian.
"Prototype 'Play With Amy' yang rencananya akan diproduksi dua bulan lagi. Karena model asli telah tiada kami membatalkan peluncurannya dan bermaksud menguburkannya bersama jasad Amy. Boneka ini hilang dari pihak desainer ketika sekertarisku datang untuk mengambilnya.. Tak kusangka pencurinya adalah Amy sendiri." Jin menatap lirih, Elesis menatap keluar jendela, Zero dan Rufus tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Pertanyaan terakhir, apa Amy memiliki keinginan mendalam yang belum tercapai?" Tanya sang detektif to-the-point. Edel menatap mereka sesaat, beranjak menuju meja kerjanya membuka laci dan mengambil sebuah kotak perhiasan kemudian kembali duduk di posisinya semula.
"Ia pernah sekali memberitahuku kalau ia sedang mencari seseorang. Teman masa kecil dari kota asalnya dulu. Ia tidak ingat nama maupun wajahnya namun ia masih mengingat sedikit ciri-ciri fisik dari orang itu. Dan ia juga percaya kalau ia memiliki foto kenangan bersama didalam liontin ini." Ia membuka kotak perhiasan tersebut. Sebuah kalung perak dengan liontin tempat foto berbentuk hati dan gembok kecil dibagian bawahnya.
"Ia ingin membukanya tapi ia tak memiliki kunci dari gembok ini. Mudah saja bagiku memotongkannya ke ahli kunci, namun ia melarangku. Katanya ia tak mau kenangan satu-satunya yang berharga baginya rusak hanya karena keingintahuannya." Sesaat Jin memandang gembok kecil itu.
'..Tolong kau jaga kunci ini untukku..'
"Boleh aku pinjam sebentar?" Edel memberikannya pada Jin. Ia memperhatikan lubang gembok kecil itu lalu menggulung lengan blazer seragamnya. Sebuah gelang sederhana yang terbuat dari seutas benang nilon hitam dengan kunci kecil sebagai hiasan dilepasnya. Dimasukkannya kunci kecil itu ke lubang gembok lalu diputar dan KLIK! Gembok itu terbuka.
"Kau.."
"Nona Edel. Aruha itu bukan marga aslinya, kan?" Jin membuka liontin yang berisikan foto dirinya dan Amy sewaktu sekolah dasar. Edel memalingkan wajahnya.
"Benar. Nama aslinya adalah... Amy Plie..."
"Sudah kuduga." Ia meletakkan liontin tersebut terbuka diatas meja.
"Aku juga mencari Amy selama lima tahun belakangan ini. Pernah sekali di konsernya kupikir dia orangnya karena sangat mirip, tapi.."
'Tunggu!'
'Ya?'
'Boleh aku tahu nama lengkapmu?'
'Nama? Aku Amy Aruha~'
'Eh? Jadi nama margamu Aruha?'
'Yup~'
'Oh, maaf. Kupikir kau seorang yang sedang kucari. Kalian begitu mirip.'
'Tidak apa-apa.'
"Boleh kubawa kalung ini?" Edel mengangguk.
"Tunjukkan pada Amy kalau kaulah orang yang dicarinya. Kuharap setelah keinginannya terkabul, ia dapat beristirahat dengan tenang." Jin mengangguk lalu mengajak Elesis dan Rufus pulang.
"Kalian tunggu di lobby. Ada hal lain yang ingin kupastikan." Suruh sang detektif. Jin dan Elesis meninggalkan ruangan bersama Zero yang juga mengikuti di belakang. Dalam ruangan itu hanya mereka berdua sekarang, saling menatap dingin.
"Kau melakukannya kan?" Tanya Rufus dengan nada datar.
"Melakukan apa?"
"Aku tahu kalau kau tahu maksudku."
"Aku tak mengerti."
"Membangkitkan kembali yang telah mati."
"Sudah kubilang membangkitkan orang mati itu mustahil."
"Sebelumnya kau tidak mengatakan bahwa itu mustahil, tapi tabu. Benar?" Edel mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Kau juga menyadari orang keempat dalam rombongan kami. Benar?" Edel menutup matanya kemudian melepas perban yang menutupi mata kiri dan telinganya. Telinga yang meruncing, mata kirinya berhiaskan bekas luka sobek.
"Ya. Pemuda berambut keabu-abuan memakai shade kuning." Ia membuka matanya kembali. Sebelah biru laut cemerlang dan satu lagi biru kusam tak bercahaya.
"Kau benar. Aku melakukannya. Ritual tabu itu. Tapi darimana kau tahu ada hal semacam.." Rufus mengingkirkan rambut coklat yang menutupi telinga runcingnya.
"Tch! Ternyata ada korban lain." Ia mendecih kesal.
"Apa yang kau harapkan? Menjadi korban terakhir? Setiap harinya pasti ada seorang yang meninggal di permukaan bumi ini."
"Aku bersumpah akan menghentikan semua ini." Ia mengepalkan sebelah tangan sementara yang satu lagi menutupi matanya. "Kedengarannya memang gila tapi.. apa ada cara mengembalikan mataku seperti semula?" Rufus ragu akan memberitahu kebenaran atau tidak, tapi orang macam Edel pasti nekat melakukan apa saja demi mencapai keinginan dan dia tidak mau itu. Setelah beberapa saat dalam keheningan ia melinting lengan kiri coat yang dipakainya.
"Lengan bionik." Ia menunjukkan garis dan lingkaran seperti tatoo berwarna biru muda menghiasi lengan hingga punggung tangannya.
"Apa aku bisa mendapat mata bionik?" Tanyanya lagi penuh harapan.
"Bisa. Tapi aku tak akan mengizinkanmu." Raut wajah Edel menggelap.
"Tanpa pengelihatan yang benar aku tidak akan bisa menggunakan rapier. Tanpa rapier aku tidak bisa melawannya."Ia bersikeras.
"Jawabanku tetap tidak." 'Meskipun memasangnya dengan blue flame terlemah pun bisa menghanguskan jiwa yang diinangnya. Jika tubuhnya yang sudah menjadi demon ditambah kehilangan kontrol blue flame yang mengkonsumsi jiwa manusianya.. dia akan menjadi demon sepenuhnya.'
'Aku beruntung masih bisa mempertahankannya sampai sekarang. Tapi mengingat aku sudah ditolak mentah-mentah oleh barrier suci waktu itu.. kurasa waktuku juga tidak akan lama lagi.' Kejadian ketika ia terpental karena menabrak dinding tak terlihat waktu lalu terbesit dalam benaknya.
"Kenapa?! Bukankah mati sekarang maupun besok atau lusa sama saja kalau aku akan tetap jatuh ke neraka nantinya." Wanita itu mulai sebal dengan orang ini.
"Kenapa kau tidak mengerti juga? Aku membawa topik ini karena aku tidak mau siapapun melakukan hal yang sama denganku! Membeli anggota tubuh bionik sama saja kau menjual jiwamu pada iblis!" Edel tersentak mendengar penjelasan kasar pemuda dihadapannya.
"Kau masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang kau perbuat, meski itu hanya dapat meringankan beban hukumanmu dibawah sana nanti. Tidak denganku.. aku.." Rufus menundukkan kepala hingga wajahnya tertutup oleh bayang-bayang rambutnya.
"Aku tidak akan pernah bisa kembali ke jalan terang." Lanjutnya dengan nada lebih rendah. Ini kali pertamanya melihat pemuda itu memperlihatkan sedikit emosi, namun ia tak bisa mengenali pasti antara sedih, marah, kecewa, atau apapun itu.
"Jangan sia-siakan hidupmu." Ujarnya untuk terakhir kali, lalu mengundurkan diri dari ruangan.
"Tunggu.." Ia berhenti sebelum memutar gagang pintu.
"Tolong.. bebaskan mereka semua dari necromancer itu. Hanya kau yang bisa kuharapkan.."
.
"Mereka lama sekali sih." Elesis mengecek jam dinding untuk yang ke sekian kalinya.
Tak lama kemudian Rufus keluar dari ruangan dan mengantar mereka pulang. Dalam perjalanan Rufus memperingatkan agar Jin tidak mengatakan atau melakukan hal yang macam-macam selain memberitahu Amy akan hubungan mereka sebelum ia kembali. Menggingat kelakuan brutal yang dapat dilakukan oleh boneka itu, ia butuh bantuan seorang religius untuk berjaga-jaga.
.
Author : Sampai di sini dulu..
Rufus : Aku merasa OOC di sini.. ==u
Zero : Saatnya re:review..
Amy : Untuk Kuro Rei-chan.. Tidak tidak~ Aku menggerakkan bonekanya seperti boneka kayu dengan benang bukan merasukinya..
Rufus : Untuk Eureca-Cross... Hmm, benar juga..
Elesis : Maksudmu? *muncul urat di jidat*
Jin : Untuk Akuma No Kishi (Akushi).. Ley belum muncul kalau Arme sudah lewat.. :3
Edel : Hoo, ternyata silent reader.. terimakasih sudah mampir mereview. :)
Amy : Untuk Usuna.. Etoo.. bukannya aku mau begitu sih.. tuntutan karir.. *tunjukin naskah* :P
Lime : Next Eps : Empty Soul [part 3]
